Amos: Panggilan dan Pelayanannya

June 6, 2009 by:

nabi amosPanggilan dan pelayanan adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Pemahaman mengenai panggilan dan pelayanan sangat luas. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Kitab Suci Perjanjian Baru banyak tokoh yang dapat dijadikan salah satu bahan refleksi untuk melihat, mengetahui dan memahami panggilan dan pelayanan itu. Dalam kesempatan ini, saya akan mengambil contoh nabi Amos untuk memahami panggilan dan pelayanan itu.

Nabi Amos berasal dari Tekoa, sebuah desa di daerah Yehuda, beberapa kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Menurut pasal 1:1 dan 7:14, Amos bekerja sebagai gembala dan petani yang memungut buah ara. Melalui pekerjaannya sebagai petani ia datang ke Israel menjadi seorang nabi. Oleh karena ia berasal dari desa, di mana setiap orang harus bekerja keras untuk memehuni kebutuhan hidup, menjadi menjijikkan baginya untuk melihat kehidupan yang penuh dengan kekayaan serta tanpa keadilan dari penduduk kerajaan Israel Utara. Amos bukan berasal dari sebuah keluarga nabi atau imam atau dapat dikatakan bahwa kenabiannya disebabkan oleh pemanggilan TuhanKhotbah 1 Raja-raja 19:9-18 | Aman Dalam Lindungan Tuhan. Baca ... ». Dengan rendah hati Amos menyatakan dirinya sebagai “seorang peternak domba dari Tekoa” (Am. 1:1), “seorang penggembala dan pengumpul buah ara” (Am. 7:14). Latar belakang pekerjaannya ini mempengaruhi ungkapan-ungkapan dalam kitabnya yang seringkali menyebutkan keakrabannya dengan padang penggembalaan dan dunia pertanian. Hanya semata-mata karena panggilan Tuhanlah, Amos meninggalkan pekerjaannya semula dan menjalankan tugas kenabiannya bagi umat Israel. Dalam konfliknya dengan imam Amazia, Amos sama sekali menolak anggapan Amazia bahwa ia adalah nabi profesional, yang bernubuat demi nafkah:

“Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan Tuhan berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umatKu Israel.” Am. 7:14-18

Panggilan kenabian dari Tuhan ini tak tertahankan olehnya. Amos masuk dalam situasi yang membuatnya tak kuasa menolak panggilan ini. Ia mengkiaskan hal ini dengan pengalamannya menggembala, ketika ia menghadapi singa yang tentu membuat setiap gembala diliputi ketakutan luar biasa.

“Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Am. 3:8

Kisah Amos merupakan salah satu bentuk pengalaman pemanggilan TUHAN (YHWH) (7:14) dan penglihatan keputusan yang diungkapkan Yahweh untuk perubahan dengan jalan-Nya kepada Israel dari sebuah kesabaran-Nya (Am. 7:1-8:3). Pemanggilan dan pewahyuan kepada Amos dari kehidupannya sehari-hari dan menempatkan tangisan kepada sebuah negeri, dengan istilah ‘celakalah’ masyarakat, kepercayaan/agama, dan pemerintahan di dalam nama Tuhan. Ia semata-mata hanya menjadi pesuruh. Amos hadir sebagai seorang nabi yang memberitahukan kehancuran Israel Utara bersama dengan seluruh isi istana raja (Am. 7:7-9). Kehancuran itu akan menjadi akhir dari kerajaan Israel Utara (Am. 8:2 bnd. 5:2) yang akan terjadi dalam bentuk kekalahan militer yang disusul oleh pembuangan seluruh penduduk negeri (Am. 4:2-4; 6:7-8). Pokok perhatian Amos ialah ketidakadilan. Amos mengatakan, bahwa bangsa Israel telah ‘menjual orang benar karena uang’ (Am. 2:6); aratinya di Israel telah terjadi jual-beli manusia, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak, untuk menjadi budak sebagai ganti pembayaran utang. Amos secara khusus menunjuk bahwa sistem keadilan telah hancur, sehingga melalui suap, sogok dan yang semacamnya serta sikap acuh-tak-acuh maka para orang kaya dan penguasa dapat memanipulasi hukum untuk kepentingan diri mereka sendiri, termasuk menindas rakyat miskin (Am. 5:10-11, 15). Bersamaan dengan itu, Amos juga melihat bahwa ibadah-ibadah Israel yang teratur ternyata merupakan tipuan yang tidak berguna (Am. 5:4-5; 21-24). Bahkan lebih buruk lagi, lembaga peribadahan itu sama-sekali menolak kemungkinan perbaikan, dan sebaliknya malah mendukung dan membenarkan sikap aman dan puas diri yang sedang berlangsung. Karakter dari Amos ditandai dengan beberapa catatan:

  1. Dia pemberani, tetapi keberaniannya itu bukanlah sikap acuh tak acuh. Keberaniannya merupakan suatu sifat yang asli, bukan suatu antusias, tetapi lahir dari dalam pikirannya.
  2. Dia akurat di dalam pengamatannya serta ilmiah di dalam pemikirannya. Ia mampu, tidak hanya untuk melihat fakta tetapi untuk menguraikannya. Itulah yang membuatnya mungkin untuk menguliskan perkataannya.
  3. Dia adalah seorang pengembara, tanpa sebuah ikatan kenegaraan, ikatan keluarga.
  4. Kerohaniannya keras, terkandung dalam kesetiaan kepada kebenaran, maka secara keseluruhan bertentangan kepada rutinitas taat pada aturan keagamaan yang mana, di dalam hal, mendasari pemujaan.

Pokok perhatian ataupun pemberitaan Amos sangat luas. YohanesRenungan Yohanes 1:45-46 | Natanael. Baca ... » Subagya merumuskan beberapa pokok pemberitaan kitab Amos, sebagai berikut:

  • Keadilan sosial: Amos memiliki kesadaran total bahwa ia semata-mata bicara atas nama Allah. Apa yang diucapkannya adalah pewartaan seorang utusan Allah. Sangat kerap dalam bukunya Amos menggarisbawahi apa yang dikatakannya dengan rumusan pengutusan ini, “Beginilah firman Tuhan”. Dalam urutan nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa yang memuncak dalam nubuat melawan Israel (Amos 1:3-2:16), nyatalah bahwa Israel dikecam dan diancam dengan hukuman karena kegagalan merekamempraktekkan keadilan bagi sesama bangsanya.
  • Allah hakim segala bangsa: Allah tidak tinggal diam ketika bangsa-bangsa itu melakukan kejahatan perang terhadap bangsa lain. Ia bertindak dengan menghukum mereka dalam bentuk api yang ke pemukiman mereka. Ukuran yang sama dipakai Allah untuk menghukum Israel, justru karena Israel mengikat perjanjian khusus dengan Allah, maka hukuman itu menjadi lebih serius. Ikatan kesetiaan kepada Yahwe ini harus diwujudkan dengan perlakuan yang benar kepada umatNya. Namun Israel justru tidak peduli akan hal ini dan malah memperlakukan saudara sebangsanya sendiri dengan buruk. Karena kejahatan moral inilah, Tuhan juga akan menghukum Israel. Konsep akan Tuhan sebagai hakim semua bangsa ini tersirat dari kesukaan Amos memanggil Tuhan sebagai “Allah semesta alam” (Am. 3:13; 4:13; 5:14.15.16.25; 6:8-14; 9:5). Ialah yang menciptakan alam semesta seisinya (Bdk. Am. 4:13) dan akan bertindak ketika ciptaanNya ini melakukan hal yang tidak berkenan kepadaNya.
  • Ibadat palsu: Sikap Amos terhadap ibadat terkesan sangat sinis dan negatif. Dalam Am. 4:4-5 nabi mengungkapkan sikapnya dengan nada sangat sarkastis: “Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat!” (Am. 4:4a.b.). Dalam nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa, kata “kejahatan” dipakai dalam konteks hubungan antar manusia. Kini kata “perbuatan jahat” dipakai dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan. Pada dasarnya keduanya merupakan ungkapan tidak taat manusia pada Tuhan. Setiap tindakan ibadat yang dilakukan oleh mereka yang kehidupan moralnya tidak bertanggungjawab, tidak bisa diterima. Sikap Amos sejajar dengan apa yang diwartakan YesayaKhotbah Yesaya 6:1-13 | Ini Aku, Utuslah Aku. Baca ... »: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” (Yes. 1:11). “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan …. “ (Yes. 1:16-17). Sikap tidak suka Tuhan pada kemeriahan dan kemewahan ibadat terungkap dalam Am. 5:21-27. Sangat menarik memperhatikan bagaimana Amos menampilkan sikap tidak suka Tuhan ini dengan gambaran antropologis, sebagaimana ditampilkan dalam tabel di bawah ini.
  • Hukuman TUHAN: Kelima penglihatan yang dialami Amos pun pada dasarnya mewahyukan hukuman yang ada di ambang pintu ini. Pada penglihatan pertama (belalang) Tuhan menggagalkan rencananya untuk menghukum (Am. 7:1-3), namun tidak dikatakan bahwa Ia mengampuni. Ampun tidak diberikan, karena umat tidak bertobat. Demikian juga hal yang sama terjadi pada penglihatan kedua (api, Am. 7:4-6). Pada penglihatan selanjutnya (tali timah, bakul berisi buah-buah musim panas, Tuhan yang berdiri dekat mezbah dan mengancam dengan hukuman) hukuman ini betul-betul definitif. Kata Tuhan: “Aku tidak akan memaafkannya lagi” (Am. 7:8; 8:2). Di sini kita melihat dua ciri khas peranan kenabian, yakni perantara doa bagi kepentingan umatnya dan utusan yang menyampaikan keputusan untuk segera menghukum. Peranan ganda selalu muncul dalam karya pewartaan nabi. Penglihatan pertama hingga keempat mempunyai kata pengantara yang sama: “Inilah yang diperlihatkan Tuhan Allah kepadaku” (Am. 7:1.4.7; 8:1), sementara pada penglihatan terakhir Amos telah mempunyai cukup kepekaan, sehingga katanya: “Kulihat Tuhan ….” (Am. 9:1).

Melalui panggilan dan pelayanan yang dilakukan oleh nabi Amos terlihat bahwa:

  1. Panggilan berasal dari Tuhan. Tuhan memanggil untuk menyatakan kehendak-Nya kepada manusia.
  2. Panggilan disambut dengan kemauan yang sungguh-sungguh serta bersedia diutus ke mana pun.
  3. Pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh melihat konteks masyarakat serta menuntut kepekaan terhadap hal yang sungguh-sungguh terjadi. Panggilan dan pelayanan sungguh-sungguh harus melihat konteks masyarakat, persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat serta upaya pemecahannya.
  4. Dalam panggilan dan pelayanan harus berani menyatakan apa yang benar dan salah di hadapan Tuhan, sebab pengutusan berasal dari Tuhan.
  5. Setiap manusia memiliki panggilannya sendiri. Artinya panggilan bukan hanya kepada mereka yang secara khusus menjadi pelayan di gereja secara struktural. Hal itu mengacu kepada nabi Amos yang dulunya hanyalah seorang gembala dan petani.
  6. Panggilan dan pelayanan adalah mandat ilahi yang dilakukan oleh manusia demi kemuliaan nama-Nya.

Demikianlah uraian singkat tentang kehidupan dan pelayanan nabi Amos. Semoga kita terinspirasi oleh pelayanannya. Amin.

Pdt. Leonardo Sinambela

Pendeta Leonardo R. Sinambela, adalah administrator dan juga sebagai penulis tetap. Saat ini Pendeta Leo sedang melanjutkan studi Magister Pendidikan Agama Kristen. Kategori tulisan utamanya adalah Khotbah Minggu. Anda juga akan menemukan beberapa postingannya tentang adat/budaya Batak serta sejarah gereja. Pendeta Leo adalah founder dari pargodungan.org bersama dengan pendeta Reinhard Lumbantobing. Slogan yang sering ia sebut adalah Memontomori (Ingatlah hari kematian-mu). Aneh ya? Agak ‘ngeri’ mendengarnya. Tapi itulah prinsip teologis yang ia hidupi untuk melayani sebagai pendeta.

Follow us

Christian Quotes

“A free theologian works in communication with other theologians...He waits for them and asks them to wait for him. Our sadly lacking yet indispensable theological co-operation depends directly or indirectly on whether or not we are wiling to wait for one another, perhaps lamenting, yet smiling with tears in our eyes.”  - Karl Barth