<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Leonardo Sinambela</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/author/leonardo-sinambela/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Blog informasi dan referensi pelayanan warga gereja.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 11:16:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pardonganon Mission Batak “PMB” (Sebuah Model Semangat Penginjilan di Tanah Batak)</title>
		<link>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[mission batak]]></category>
		<category><![CDATA[pardonganon mission batak]]></category>
		<category><![CDATA[PMB]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan penginjilan di daerah Tapanuli oleh RMG diawali sejak 07 Oktober 1861. Pada tanggal 07 Oktober 1861 empat orang pendeta, yakni: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt melakukan rapat untuk memulai pekerjaan penginjilan di Tapanuli. Mereka membagi wilayah pekerjaannya, di mana Pdt. Klammer ke wilayah Sipirok, Pdt. Betz ke Bungabondar, Pdt. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaan penginjilan di daerah Tapanuli oleh RMG diawali sejak 07 Oktober 1861. Pada tanggal 07 Oktober 1861 empat orang pendeta, yakni: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt melakukan rapat untuk memulai pekerjaan penginjilan di Tapanuli. Mereka membagi wilayah pekerjaannya, di mana Pdt. Klammer ke wilayah Sipirok, Pdt. Betz ke Bungabondar, Pdt. Heine dan Pdt. Van Asselt ke wilayah Pahae/Sarulla. Pada akhirnya tanggal tersebut ditetapkan menjadi hari berdirinya Huria Kristen Batak Protestan. Pekerjaan RMG di tanah Batak semakin dimantapkan dengan kehadiran Pdt. I.L. Nommensen. Sesuai dengan keputusan rapat para pendeta di Sipirok pada 07 Oktober 1862, Nommensen bekerja untuk daerah Parausorat, dengan alasan bahwa di wilayah tersebut, Islam telah mulai mengembangkan pengaruhnya. Namun pada tanggal 07 November 1863 Nommensen berangkat dari Parausorat menuju Silindung, di mana daerah tersebut pada akhirnya menjadi pusat pekerjaan RMG di Samosir. Keberhasilan misi yang dilakukan oleh Nommensen di daerah Silindung mulai terlihat ketika pada tanggal 27 Agustus 1865 sebanyak 4 orang dewasa dan 5 anak-anak dibaptis. Hal tersebut berlanjut hingga awal tahun 1866, di mana sebanyak 50 jiwa kembali dibaptis. Oleh karena semakin banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, pada tahun itu juga (16 Februari 1866) calon istri Nommensen dan Pdt. Johansen tiba di Sibolga untuk membantu pekerjaan yang dilakukan Nommensen di Silindung.</p>
<p>Perkembangan pekerjaan penginjilan di Tanah Batak semakin terlihat ketika Dr. A. Schreiber membuka Sekolah Guru di Parausorat pada tahun 1878 yang bertujuan untuk mendidik anak-anak orang Batak yang telah percaya kepada Kristus untuk menjadi guru yang akan membantu para pendeta RMG dalam pekerjaan pemberitaan.</p>
<p>Dalam masa yang cukup singkat, usaha yang dilakukan oleh pendeta-pendeta RMG di Tanah Batak dapat dikatakan cukup berhasil, sebab secara bertahap sejak tahun 1861 banyak daerah di Tapanuli bahkan ke daerah-daerah perantauan orang-orang Batak telah berdiri gereja-gereja Batak. Justin Sihombing menyebutkan dalam bukunya <strong>Sejarah ni Huria Kristen Batak Protestan</strong>, (Medan: Philemon &amp; Liberty, 1961), perkembangan tersebut melalui penggambaran berdirinya ressort-ressort dari  gereja-gereja itu, di antaranya:</p>
<p>Sipirok 1861, Bungabondar 1861, Parausorat 1862, Pangaloan 1862, Sigompulon 1862, Pansurnapitu 1867, Sipoholon 1870, Sibolga 1870, Aekpasir 1870, Simorangkir 1875, Bahalbatu 1876, Balige 1876, Sipahutar 1882, Lintongnihuta 1882, Muara 1883, Laguboti 1884, Hutabarat 1888, Sipiongot 1888, Sigumpar 1890, Narumonda 1890, Parsambilan 1890, Parparean 1890, Nainggolan 1893, pangombusan 1894, Janjimatogu 1894, Pangaribuan 1896, Silaitlait 1896, Simanosor Batangtoru 1897, Palipi 1898, Lumbannabolon 1899, Tampahan 1900, Butar 1900, Sitorang 1901, Lumban Lobu 1902, Silamosik 1902, Nahornop 1902, Paranginan 1903, Pematangraja 1903, Dolok Sanggul 1904, Bandar 1904, Parmonangan 1905, Sipiak 1905, Parsoburan 1906, Pematangsiantar 1907, Sidikalang 1908, Bonandolok 1909, Tukka 1909, Purbasaribu 1910, Pangururan 1911, Medan 1912, Ambarita 1914, dan Jakarta 1922.</p>
<p>Setelah kurang lebih 48 tahun sejak Injil diberitakan di tanah Batak, antusias orang-orang Batak yang telah menjadi Kristen sangat besar untuk ikut serta menyebarkan Injil ke daerah yang belum mengenal kekristenan. Kerinduan bersama untuk menyebarkan Injil itulah yang mendorong terbentuknya Pardonganon Mission Batak. Atas dasar kerinduan itu, pada tanggal 02 November 1899 oleh prakarsa Pdt. Henock Lumbantobing berdiri Zending Batak yang disebut Pardonganon Mission Batak “PMB” yang mana atas inisyatif Pdt. Henock Lumbantobing dan Pdt. Metzler, Pearaja dijadikan sebagai pusat Zending tersebut. Kata “Mission Batak” yang digunakan sebagai nama badan zending tersebut mengandung arti yang dalam bagi setiap orang Kristen pribumi, yang merasakan tanggungjawab atau kewajiban mutlak untuk mengeluarkan sesuatu dari miliknya kepadanya usaha zending pribumi tanpa menaruh rasa curiga kepada usaha zending luar negeri (Kongsi Barmen di tanah Batak sejak tahun 1861). Setelah pendirian badan zending tersebut, terdapat berbagai sikap yang antusias dan mendukung dari berbagai pihak, di antaranya:</p>
<p>1.  Sambutan dari Badan Zending “Kongsi Barmen” yang dengan gembira menyambut berdirinya badan zending tersebut. Menanggapi hal tersebut, Kongsi Barmen menganjurkan agar pada tahun pertama dan tahun kedua, Kongsi PMB agar mengumpulkan modal dan pada tahun ketiga melancarkan gerakan zending atas biaya sendiri. J.T.H. Panjaitan dalam bukunya , <strong>Panggilan dan Suruhan Allah: Risalah dan Kesan-kesan Serta Pandangan-Pandangan Mengenai Pekabaran Injil Huria Kristen Batak Protestan Untuk Peringatan 75 Tahun Pekabaran Injil HKBP (1899-1974)</strong>, (Pematangsiantar, Departemen Zending HKBP, 1974), menyebutkan dalam kesempatan itu, Kongsi Barmen juga setuju dengan program kerja yang dirumuskan Kongsi PMB, di antaranya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Untuk turut melancarkan usaha Zending di Pulau Samosir, Uluan, Pakpak/Dairi dan Simalungun.</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Membantu Kongsi Barmen untuk memberikan pelayanan yang cukup kepada jemaat-jemaat yang jauh terpencil dari tempat pendeta Eropa.</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Membantu usaha sosial di antara masyarakat Kristen dan bukan Kristen, antara lain merawat orang-orang cacat.</p>
<p>2. Sambutan dari Konfrensi para pendeta pribumi dan pendeta Eropa, yang mana membuat suatu ceramah yang berjudul: “Apakah Yang Pokok Kita Gumuli Dalam Membina Guru Zending dan Pendeta Batak”? Dengan melihat peran serta pendidikan teologi dalam mendukung kesuksesan badan zending tersebut, konfrensi mengeluarkan suatu keputusan agar memindahkan seminari Pansurnapitu ke tempat yang lebih luas dan strategis, yang mana pilihan akhirnya jatuh ke daerah Sipoholon.</p>
<p>3. Sambutan para Raja dan Penatua Gereja di Silindung. Dalam satu pertemuan para raja dan penatua di Pearaja pada tanggal 10-11 Agustus 1900, gerakan zending PMB diperkenalkan kepada hadirin.</p>
<p>4. Sambutan umat Kristen di Balige. Umat Kristen Balige yang dari dekat menyaksikan konfrensi para pendeta Eropa dan pendeta Pribumi bergerak lebih jauh dalam mensukseskan usaha zending HKBP “PMB”. Pada tanggal 10 Oktober 1900 seluruh anggota jemaat HKBP Balige berkumpul untuk menghadiri Rapat Zending yang pertama kali berlangsung di Balige. Rapat berhasil memilih anggota jemaat untuk dilantik menjadi Evangelist di daerah Zending, yakni St. Petrus dari Parparean, St. Musa dan St. Laban Siahaan dari Lumban atas.</p>
<p>5. Sambutan umat Kristen di Angkola (Tapanuli Selatan). Daerah Angkola sebagai daerah jemaat HKBP pada bagian Selatan merasa kurang puas jika hanya mendengar kabar berdirinya zending HKBP. Jemaat mengundang pengurus zending HKBP agar datang berkunjung ke Angkola untuk memberi penjelasan selanjutnya tentang badan zending tersebut. Atas permintaan itu, Pdt. Henock Lumbantobing berkunjung ke daerah Angkola. Beliau mendapat sambutan yang baik, di mana jemaat turut mendoakan zending HKBP, menyumbangkan dana bahkan ada yang mendaftarkan diri menjadi anggota tetap dari badan zending tersebut.</p>
<p>Setelah Ephorus Pdt. I.L. Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, kepemimpinan gereja diserahkan kepada Pdt. Valentin Kessel sebagai pejabat ephorus hingga tahun 1920. Setelah Pdt. Johanes Warneck menjabat sebagai Ephorus terlihat suatu semangat untuk menghidupkan kembali semangat zending.  Pdt. Johanes Warneck berusaha supaya kekuatan zending pribumi diarahkan bukan melayani suatu daerah zending (daerah bukan Kristen) sebagaimana keadaan semula, tetapi melayani gereja secara keseluruhan; yang berarti bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan gereja dalam segala bidang.</p>
<p>Pada tanggal 16 Februari 1921, Pdt. Johanes Warneck berhasil membentuk suatu komisi (Pdt. Johanes Warneck, Pdt. Metzler, Pdt. Karl Lotz dan 5 dari Kristen Batak). Pada hari itu mereka meresmikan pergantian nama baru yaitu dengan nama Zending Batak, dengan makna/tujuan baru. Zending Batak adalah lembaga gerejani yang melibatkan diri dalam segala urusan gereja muda di Tanah Batak, antara lain: meningkatkan hidup gerejani, menutup kebutuhan belanja para pendeta pribumi, Guru Jemaat dan para Evangelist, yang bekerja di tengah-tengah masyarakat bukan Kristen di perantauan. Dengan bentuk baru ini maka nampak bahwa pimpinan dari Zending Batak langsung di tangan Ephorus.</p>
<p>Sesuai dengan fungsi baru dari Zending Batak yang harus melibatkan diri dalam segala bentuk kegiatan gerejani, maka Zending Batak pada tahun 1923 mendirikan perkampungan khusus kepada orang-orang buta yang diberi nama “Hepata”. Kegiatan di lapangan sosial ini memberi arti yang tidak ternilai serta pemahaman kepada warga jemaat bahwa orang buta dan lumpuh  adalah manusia ciptaan Tuhan yang butuh akan perbuatan kasih Tuhan. Melihat peranan Zending Batak yang membawa banyak berkat bagi banyak orang, rapat pendeta utusan tahun 1925 memutuskan:</p>
<p>1.	Pada pesta perayaan turunnya Roh Kudus di setiap kebaktian diadakan kollekte buat Zending Batak.</p>
<p>2.	Pada pesta Natal I diadakan kollekte buat Hepata.</p>
<p>Sebuah karya misi yang terlaksana dalam tubuh gereja Batak yang terlihat dalam PMB adalah sebuah bentuk misi yang transformatif. Misi pemberitaan akan Injil melalui para missionaris mendapat respon dari orang-orang Batak, mereka percaya dan dibaptis. Terang yang diberikan Injil menjadikan orang-orang Batak Kristen memiliki rasa ingin ikut serta dalam usaha pekabaran Injil tersebut. Inilah yang terjadi dalam Lembaga Pardonganon Mission Batak (PMB). Berkaitan dengan hal itu beberapa hal yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah:</p>
<p>1.	Kita harus mengakui bahwa jiwa Zending terwujud dalam hidup jemaat HKBP adalah atas usaha dari “Kongsi Batak”.</p>
<p>2.	Kita tidak akan melupakan perintis-perintis Zending HKBP, antara lain: Pdt. Henock Lumbantobing, St. Laban Siahaan, St. Petrus Sitorus, St. Musa Tampubolon sebagai perintis Injil ke Samosir, Uluan, Tigaras dan Bakkara. Juga rekan mereka dari pendeta utusan, antara lain: Pdt. Metler, Pdt. Pilgram, Pdt. I.L. Nommensen.</p>
<p>3.	Kita merasa betapa sulit bagi mereka merintis Zending HKBP dalam membangun anggota jemaat yang masih ‘remaja’ itu untuk memberi secara Kristen, yang berarti memberi secara sukarela buat Kerajaan Allah di tengah-tengah saudara sesukunya yang masih menganut kepercayaan animisme.</p>
<p>4.	Kita akui karya mereka telah memupuk rasa tanggung jawab bagi usaha yang bukan hanya di dalam jemaat itu sendiri, tetapi juga di luar kepentingan mereka sendiri.</p>
<p>5.	Rencana panjang yaitu mendirikan suatu gereja yang berdiri sendiri (manjunjung baringinna) tidak lepas dari saat permulaan Zending HKBP “PMB”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi lain Dunia Pendidikan</title>
		<link>http://pargodungan.org/sisi-lain-dunia-pendidikan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/sisi-lain-dunia-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 11:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perguruan Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Perguruan tinggi sebagai puncak terakhir untuk menghasilkan manusia produktif di masa depan, dengan tidak mengesampingkan pendidikan dasar (SD, SLTP, SMU) memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal-hal menciptakan manusia yang berintegritas. Dapat disebutkan bahwa setidak-tidaknya perguruan tinggi memiliki andil yang besar dalam usaha memajukan bangsa ini dengan menghasilkan generasi muda yang tanggung. Hal itu tentu tidak akan terwujud ketika proses belajar mengajar terjadi dalam suasana yang semerawut sebagaimana telah disebutkan di atas. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia semakin marak berkembang. Hal ini di satu sisi sangat dibanggakan, sebab menunjukkan minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Berbagai perguruan tinggi menawarkan ragam keahlian khusus melalui fakultas dan jurusan yang ditawarkan. Setiap calon mahasiswa diyakinkan bahwa dengan mengikuti pendidikan pada universitas atau sekolah tinggi tertentu akan memiliki legalitas yang terpercaya untuk duduk dalam satu posisi di suatu lembaga nantinya. Sementara di sisi lain tercipta suatu pemahaman bahwa seseorang akan memiliki masa depan yang jelas dalam hal pekerjaan/profesi hanya dengan memasuki sebuah lembaga pendidikan yang telah disebutkan di atas. Kenyataan ini menimbulkan semacam arus yang sangat kuat dari lulusan SMU atau sederajat untuk dengan segera memasuki lembaga pendidikan universitas atau sekolah tinggi. Tentunya lembaga pendidikan milik negara menjadi prioritas utama. Hal ini menimbulkan simbiosis mutualisme di antara calon mahasiswa dengan lembaga pendidikan yang memberikan label studi persiapan atau semacam bimbingan belajar. Berbagai jenis bimbingan belajar didirikan dengan menawarkan kemampuannya dalam membimbing seseorang agar diterima pada universitas negeri. Walaupun demikian tidak sedikit yang memberikan kepercayaan kepada universitas swasta. Bahkan tercipta semacam kesan hebat jika seseorang mampu memasuki sebuah universitas swasta yang memiliki nama dari sudut biaya pendidikan dan fasilitas yang dimiliki.</p>
<p>Berbagai fakultas atau jurusan pendidikan memberikan ragam gelar kepada setiap lulusannya. Hal menjadikan banyaknya jenis gelar akademis dalam masyarakat. Setiap lulusan dengan gelar akademis tertentu secara otomatis mendapat legalitas untuk menduduki suatu jabatan dalam masyarakat walaupun tetap melalui proses seleksi tertentu. Katakanlah untuk menjadi seorang guru, seseorang harus terlebih dahulu mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri. Di sisi lain, tercipta kesan yang menunjukkan ‘hebat yang berlebihan’ kepada seseorang memiliki gelar akademis. Hal itu akan lebih dahsyat lagi jika gelar akademis yang dimiliki beragam atau hingga strata tertinggi (S3). Masyarakat seakan tidak mampu atau setidak-tidaknya memiliki antusias yang minim kepada seseorang dengan gelar akademis yang ‘rendah’ atau bahkan tidak memiliki gelar akademis untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Apakah hal itu berhubungan erat dengan kualitas atau hanya sebatas legalitas belaka? Pertanyaan ini tidak dengan segera kita jawab. Berbagai aspek perlu dicermati yang pada akhirnya secara tersirat akan menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p>Sebuah fenomena yang cukup mengancam dunia pendidikan akademis adalah praktik upaya melegalkan segala cara untuk dengan segera menyelesaikan program studi. Praktik yang dimaksud adalah kecurangan dalam pelaksanaan test/ujian tengah/akhir semester atau pun dalam penyelesaian tulisan ilmiah (misalnya skripsi). Apakah hal ini terbantahkan kalangan akademis? Saya tidak begitu yakin. Sebuah peristiwa yang cukup menggelikan sekaligus menyedihkan terjadi ketika sebuah test/ujian diadakan. Berbagai cara dilakukan agar dapat menyontek. Sebuah cara yang sangat sering dilakukan dan meninggalkan bukti yang jelas adalah dengan menulis berbagai prediksi jawaban di dinding ruang ujian atau pun bangku ujian. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya ruang kuliah atau pun bangku ujian itu setelah sekian lama menjadi sarana menyontek. Namun demikian tidak sedikit yang menggunakan potongan-potongan kertas yang telah ditulis dengan berbagai prediksi jawaban. Apa yang terjadi sewaktu ujian? Pengawas ujian mengawasi perserta ujian agar tidak ada seorang pun yang melakukan kecurangan. Namun hal lain juga terjadi, yakni peserta ujian mengawasi pengawas ujian agar mendapat kesempatan melihat jawaban yang telah dituliskan dalam potongan-potongan kertas, di dinding atau pun di bangku. Namun ada satu lagi fasilitas yang kini juga sering digunakan yakni telepon selular. Terhadap penyelesaian tulisan ilmiah dapat disebutkan demikian, bahwa mahasiswa memberikan tanggung jawab penyelesaian tulisan itu kepada orang lain dengan perjanjian bahwa mahasiswa yang bersangkutan memberikan imbalan atas tulisan ilmiah yang diselesaikan. Jasa penulisan tulisan ilmiah sedemikian rupa sangat sering terjadi.</p>
<p>Apakah hal-hal yang disebutkan di atas disadari oleh kaum akademis, dalam hal ini para pendidik (dosen)? Tentu ada yang menyadarinya. Tidak sedikit dosen yang tidak memberikan tugas khusus pengganti ujian atau pun ujian dengan mengizinkan membawa buku bacaan atau sejenisnya ketika ujian kepada mahasiswa untuk menghindari kecurangan. Namun apakah hal itu merupakan penyelesaian masalah yang tepat? Dapatkah kita berkata bahwa hal yang saya utarakan di sini bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan dan dicari solusinya? Saya berpikir bahwa perlu sebuah studi khusus mengenai aspek-aspek yang melatarbelakangi timbulnya niat di kalangan mahasiswa untuk melakukan model-model kecurangan seperti itu. Lebih dari itu, efek yang ditimbulkan dalam pembentukkan karakter manusia di masa depan.</p>
<p>Asumsi saya menyebutkan bahwa praktik kecurangan yang terjadi di perguruan tinggi berdampak besar bagi proses perjalanan bangsa ini di masa depan. Dapatkah kita katakan seseorang memiliki minat yang kuat kepada buku-buku bacaan ketika niat belajar minim dan hanya mengandalkan contekan pada setiap ujian? Bukankah hal itu secara tidak langsung menghasilan manusia dengan gelar akademis yang hebat namun tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Sikap yang ingin mudah/gampang dalam meraih sesuatu serta melegalkan segala cara di perguruan tinggi akan terbawa ketika memasuki sebuah wilayah baru, sebut saja perusahaan atau pemerintahan. Ada sebuah ancaman yang serius. Akan terjadi sebuah keinginan yang menggila. Keinginan yang menggila untuk meraih sesuatu secara cepat di kampus akan terbawa ketika seseorang itu telah menduduki suatu jabatan tertentu. Dalam hal kekayaan tentu saja keinginan yang seperti itu akan memberi peluang pada praktik korupsi, sebagaimana yang tengah marak di republik ini.</p>
<p>Perguruan tinggi sebagai puncak terakhir untuk menghasilkan manusia produktif di masa depan, dengan tidak mengesampingkan pendidikan dasar (SD, SLTP, SMU) memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal-hal menciptakan manusia yang berintegritas. Dapat disebutkan bahwa setidak-tidaknya perguruan tinggi memiliki andil yang besar dalam usaha memajukan bangsa ini dengan menghasilkan generasi muda yang tanggung. Hal itu tentu tidak akan terwujud ketika proses belajar mengajar terjadi dalam suasana yang semerawut sebagaimana telah disebutkan di atas. </p>
<p>Bagaimana pendapat anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/sisi-lain-dunia-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Gratis Ebook Beriman Tanpa Rasa Takut</title>
		<link>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-beriman-tanpa-rasa-takut/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-beriman-tanpa-rasa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 08:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah buku yang di tulis oleh perempuan Islam Amerika yang bernama Irshad Manji ini layak untuk dibaca. Dengan membaca buku ini kita akan memiliki pemahaman baru bagaimana seorang Perempuan Muslim Modern menyikapi berbagai persoalan yang terjadi pada dekade ini. Untuk mendownload bukunya silakan klik di sini.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-503" title="imgDVD" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/10/imgDVD-50x50.gif" alt="imgDVD" width="50" height="50" />Sebuah buku yang di tulis oleh perempuan Islam Amerika yang bernama Irshad Manji ini layak untuk dibaca. Dengan membaca buku ini kita akan memiliki pemahaman baru bagaimana seorang Perempuan Muslim Modern menyikapi berbagai persoalan yang terjadi pada dekade ini. Untuk mendownload bukunya silakan klik di <span style="color: #ff0000;"><a rel="nofollow" href="http://www.ziddu.com/download/6764426/berimantanparasatakut-Indonesian-Edition.pdf.html" target="_self">sini</a></span>.</p>
<p style="text-align: left;"></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-beriman-tanpa-rasa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amos: Panggilan dan Pelayanannya</title>
		<link>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 09:53:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Lama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Panggilan dan pelayanan adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Pemahaman mengenai panggilan dan pelayanan sangat luas. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak tokoh yang dapat dijadikan salah satu bahan refleksi untuk melihat, mengetahui dan memahami panggilan dan pelayanan itu. Dalam kesempatan ini, saya akan mengambil contoh nabi Amos untuk memahami panggilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Panggilan dan pelayanan adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Pemahaman mengenai panggilan dan pelayanan sangat luas. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak tokoh yang dapat dijadikan salah satu bahan refleksi untuk melihat, mengetahui dan memahami panggilan dan pelayanan itu. Dalam kesempatan ini, saya akan mengambil contoh nabi Amos untuk memahami panggilan dan pelayanan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Nabi Amos berasal dari Tekoa, sebuah desa di daerah Yehuda, beberapa kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Menurut pasal 1:1 dan 7:14, Amos bekerja sebagai gembala dan petani yang memungut buah ara.<a name="_ftnref3"></a> Melalui pekerjaannya sebagai petani ia datang ke Israel menjadi seorang nabi. Oleh karena ia berasal dari desa, di mana setiap orang harus bekerja keras untuk memehuni kebutuhan hidup, menjadi menjijikkan baginya untuk melihat kehidupan yang penuh dengan kekayaan serta tanpa keadilan dari penduduk kerajaan Israel Utara. Amos bukan berasal dari sebuah keluarga nabi atau imam atau dapat dikatakan bahwa kenabiannya disebabkan oleh pemanggilan Tuhan. Dengan rendah hati Amos menyatakan dirinya sebagai “seorang peternak domba dari Tekoa” (Am. 1:1), “seorang penggembala dan pengumpul buah ara” (Am. 7:14). Latar belakang pekerjaannya ini mempengaruhi ungkapan-ungkapan dalam kitabnya yang seringkali menyebutkan keakrabannya dengan padang penggembalaan dan dunia pertanian. Hanya semata-mata karena panggilan Tuhanlah, Amos meninggalkan pekerjaannya semula dan menjalankan tugas kenabiannya bagi umat Israel. Dalam konfliknya dengan imam Amazia, Amos sama sekali menolak anggapan Amazia bahwa ia adalah nabi profesional, yang bernubuat demi nafkah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 45.9pt 0.0001pt 45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">“Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan Tuhan berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umatKu Israel.&#8221; Am. 7:14-18</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 9pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Panggilan kenabian dari Tuhan ini tak tertahankan olehnya. Amos masuk dalam situasi yang membuatnya tak kuasa menolak panggilan ini. Ia mengkiaskan hal ini dengan pengalamannya menggembala, ketika ia menghadapi singa yang tentu membuat setiap gembala diliputi ketakutan luar biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 45.9pt 0.0001pt 45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Am. 3:8</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Kisah Amos merupakan salah satu bentuk pengalaman pemanggilan Yahweh (7:14) dan penglihatan keputusan yang diungkapkan Yahweh untuk perubahan dengan jalan-Nya kepada Israel dari sebuah kesabaran-Nya (Am. 7:1-8:3). Pemanggilan dan pewahyuan kepada Amos dari kehidupannya sehari-hari dan menempatkan tangisan kepada sebuah negeri, dengan istilah ‘celakalah’ masyarakat, kepercayaan/agama, dan pemerintahan di dalam nama Tuhan. Ia semata-mata hanya menjadi pesuruh.<a name="_ftnref5"></a> Amos hadir sebagai seorang nabi yang memberitahukan kehancuran Israel Utara bersama dengan seluruh isi istana raja (Am. 7:7-9). Kehancuran itu akan menjadi akhir dari kerajaan Israel Utara (Am. 8:2 bnd. 5:2) yang akan terjadi dalam bentuk kekalahan militer yang disusul oleh pembuangan seluruh penduduk negeri (Am. 4:2-4; 6:7-8).<a name="_ftnref6"></a> Pokok perhatian Amos ialah ketidakadilan. Amos mengatakan, bahwa bangsa Israel telah ‘menjual orang benar karena uang’ (Am. 2:6); aratinya di Israel telah terjadi jual-beli manusia, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak, untuk menjadi budak sebagai ganti pembayaran utang. Amos secara khusus menunjuk bahwa sistem keadilan telah hancur, sehingga melalui suap, sogok dan yang semacamnya serta sikap acuh-tak-acuh maka para orang kaya dan penguasa dapat memanipulasi hukum untuk kepentingan diri mereka sendiri, termasuk menindas rakyat miskin (Am. 5:10-11, 15). Bersamaan dengan itu, Amos juga melihat bahwa ibadah-ibadah Israel yang teratur ternyata merupakan tipuan yang tidak berguna (Am. 5:4-5; 21-24). Bahkan lebih buruk lagi, lembaga peribadahan itu sama-sekali menolak kemungkinan perbaikan, dan sebaliknya malah mendukung dan membenarkan sikap aman dan puas diri yang sedang berlangsung. Karakter dari Amos ditandai dengan beberapa catatan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">a. Dia pemberani, tetapi keberaniannya itu bukanlah sikap acuh tak acuh. Keberaniannya merupakan suatu sifat yang asli, bukan suatu antusias, tetapi lahir dari dalam pikirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">b. Dia akurat di dalam pengamatannya serta ilmiah di dalam pemikirannya. Ia mampu, tidak hanya untuk melihat fakta tetapi untuk menguraikannya. Itulah yang membuatnya mungkin untuk menguliskan perkataannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">c. Dia adalah seorang pengembara, tanpa sebuah ikatan kenegaraan, ikatan keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">d. Kerohaniannya keras, terkandung dalam kesetiaan kepada kebenaran, maka secara keseluruhan bertentangan kepada rutinitas taat pada aturan keagamaan yang mana, di dalam hal, mendasari pemujaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Georgia&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Pokok perhatian ataupun pemberitaan Amos sangat luas. Yohanes Subagya merumuskan beberapa pokok pemberitaan kitab Amos, sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 9pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">1. Keadilan sosial: Amos memiliki kesadaran total bahwa ia semata-mata bicara atas nama Allah. Apa yang diucapkannya adalah pewartaan seorang utusan Allah. Sangat kerap dalam bukunya Amos menggarisbawahi apa yang dikatakannya dengan rumusan pengutusan ini, “Beginilah firman Tuhan”. Dalam urutan nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa yang memuncak dalam nubuat melawan Israel (Amos 1:3-2:16), nyatalah bahwa Israel dikecam dan diancam dengan hukuman karena kegagalan merekamempraktekkan keadilan bagi sesama bangsanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 9pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">2. Allah hakim segala bangsa: Allah tidak tinggal diam ketika bangsa-bangsa itu melakukan kejahatan perang terhadap bangsa lain. Ia bertindak dengan menghukum mereka dalam bentuk api yang ke pemukiman mereka. Ukuran yang sama dipakai Allah untuk menghukum Israel, justru karena Israel mengikat perjanjian khusus dengan Allah, maka hukuman itu menjadi lebih serius. Ikatan kesetiaan kepada Yahwe ini harus diwujudkan dengan perlakuan yang benar kepada umatNya. Namun Israel justru tidak peduli akan hal ini dan malah memperlakukan saudara sebangsanya sendiri dengan buruk. Karena kejahatan moral inilah, Tuhan juga akan menghukum Israel. Konsep akan Tuhan sebagai hakim semua bangsa ini tersirat dari kesukaan Amos memanggil Tuhan sebagai “Allah semesta alam” (Am. 3:13; 4:13; 5:14.15.16.25; 6:8-14; 9:5). Ialah yang menciptakan alam semesta seisinya (Bdk. Am. 4:13) dan akan bertindak ketika ciptaanNya ini melakukan hal yang tidak berkenan kepadaNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 9pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">3. Ibadat palsu: Sikap Amos terhadap ibadat terkesan sangat sinis dan negatif. Dalam Am. 4:4-5 nabi mengungkapkan sikapnya dengan nada sangat sarkastis: “Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat!” (Am. 4:4a.b.). Dalam nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa, kata “kejahatan” dipakai dalam konteks hubungan antar manusia. Kini kata “perbuatan jahat” dipakai dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan. Pada dasarnya keduanya merupakan ungkapan tidak taat manusia pada Tuhan. Setiap tindakan ibadat yang dilakukan oleh mereka yang kehidupan moralnya tidak bertanggungjawab, tidak bisa diterima. Sikap Amos sejajar dengan apa yang diwartakan Yesaya: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” (Yes. 1:11). “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan &#8230;. “ (Yes. 1:16-17). Sikap tidak suka Tuhan pada kemeriahan dan kemewahan ibadat terungkap dalam Am. 5:21-27. Sangat menarik memperhatikan bagaimana Amos menampilkan sikap tidak suka Tuhan ini dengan gambaran antropologis, sebagaimana ditampilkan dalam tabel di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 9pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">4. Hukuman TUHAN: Kelima penglihatan yang dialami Amos pun pada dasarnya mewahyukan hukuman yang ada di ambang pintu ini. Pada penglihatan pertama (belalang) Tuhan menggagalkan rencananya untuk menghukum (Am. 7:1-3), namun tidak dikatakan bahwa Ia mengampuni. Ampun tidak diberikan, karena umat tidak bertobat. Demikian juga hal yang sama terjadi pada penglihatan kedua (api, Am. 7:4-6). Pada penglihatan selanjutnya (tali timah, bakul berisi buah-buah musim panas, Tuhan yang berdiri dekat mezbah dan mengancam dengan hukuman) hukuman ini betul-betul definitif. Kata Tuhan: “Aku tidak akan memaafkannya lagi” (Am. 7:8; 8:2). Di sini kita melihat dua ciri khas peranan kenabian, yakni perantara doa bagi kepentingan umatnya dan utusan yang menyampaikan keputusan untuk segera menghukum. Peranan ganda selalu muncul dalam karya pewartaan nabi. Penglihatan pertama hingga keempat mempunyai kata pengantara yang sama: “Inilah yang diperlihatkan Tuhan Allah kepadaku” (Am. 7:1.4.7; 8:1), sementara pada penglihatan terakhir Amos telah mempunyai cukup kepekaan, sehingga katanya: “Kulihat Tuhan &#8230;.” (Am. 9:1).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Melalui panggilan dan pelayanan yang dilakukan oleh nabi Amos terlihat bahwa:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Panggilan berasal dari Tuhan. Tuhan memanggil untuk      menyatakan kehendak-Nya kepada manusia.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Panggilan disambut dengan kemauan yang sungguh-sungguh serta      bersedia diutus ke mana pun.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh melihat konteks      masyarakat serta menuntut kepekaan terhadap hal yang sungguh-sungguh      terjadi. Panggilan dan pelayanan sungguh-sungguh harus melihat konteks      masyarakat, persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat serta upaya      pemecahannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Dalam panggilan dan pelayanan harus berani menyatakan apa      yang benar dan salah di hadapan Tuhan, sebab pengutusan berasal dari      Tuhan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Setiap manusia memiliki panggilannya sendiri. Artinya      panggilan bukan hanya kepada mereka yang secara khusus menjadi pelayan di      gereja secara struktural. Hal itu mengacu kepada nabi Amos yang dulunya      hanyalah seorang gembala dan petani.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;">Panggilan dan pelayanan adalah mandat ilahi yang dilakukan      oleh manusia demi kemuliaan nama-Nya. </span></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Download Gratis Ebook Konfessi HKBP Terbaru</title>
		<link>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-konfessi-hkbp/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-konfessi-hkbp/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 07:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Ebook Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Konfessi HKBP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saudara/i yang ingin mengetahu isi dari Konfessi HKBP terbaru, silakan klik disini!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saudara/i yang ingin mengetahu isi dari Konfessi HKBP terbaru, silakan <a rel="nofollow" href="http://www.ziddu.com/download/3696048/Konfesi.pdf.html">klik disini!</a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/download-gratis-ebook-konfessi-hkbp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Berdirinya Gereja HKBP Nazareth Sipintuangin</title>
		<link>http://pargodungan.org/sejarah-berdirinya-gereja-hkbp-nazareth-sipintuangin/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/sejarah-berdirinya-gereja-hkbp-nazareth-sipintuangin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 19:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya warga jemaat HKBP Nazareth Sipintuangin[1] merupakan jemaat dari HKBP Tigaras. Akan tetapi karena pada tahun 1990-an jalan kabupaten yang menghubungkan kota Pematang Siantar dengan Tigaras mengalami kerusakan yang sangat parah, sehingga angkutan umum dari Pematang Siantar-Tigaras sangat jarang. Hal tersebut mengakibatkan jemaat HKBP yang berdomisili di Sipintuangin kewalahan untuk mengikuti kebaktian Minggu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awalnya warga jemaat HKBP Nazareth Sipintuangin[1] merupakan jemaat dari HKBP Tigaras. Akan tetapi karena pada tahun 1990-an jalan kabupaten yang menghubungkan kota Pematang Siantar dengan Tigaras mengalami kerusakan yang sangat parah, sehingga angkutan umum dari Pematang Siantar-Tigaras sangat jarang. Hal tersebut mengakibatkan jemaat HKBP yang berdomisili di Sipintuangin kewalahan untuk mengikuti kebaktian Minggu di HKBP Tigaras, yang berjarak kira-kira 5 Km dari Sipintuangin, sebab kendaraan umum dari Pematang Siantar-Sipintuangin-Tigaras sangat jarang (hanya ada sekali dalam 2 jam). Oleh karena itu untuk mengikuti kebaktian Minggu di HKBP Tigaras, jemaat yang tinggal di Sipintuangin harus menempuh jalan sepanjang 5 Km dengan berjalan kaki.</p>
<p>Melihat kondisi yang demikian, pada tanggal 18 Pebruari 1992, warga jemaat HKBP yang bertempat tinggal di Sipintuangin mengadakan rapat di rumah St. M. Naibaho. Rapat tersebut berhasil memutuskan pelaksanaan kebaktian pada hari Minggu di Sipintuangin khususnya untuk anak-anak Sekolah Minggu. Pada tanggal 23 Pebruari 1992, dilaksanakan pertama kali ibadah untuk Sekolah Minggu di Sipintuangin yang bertempat di gedung Balai Pertemuan Kantor Camat Dolok Pardamean.</p>
<p>Kemudian pada tanggal 12 Aril 1992, beberapa warga jemaat mengadakan rapat di rumah St. M. Naibaho, pada saat itu keluarga St.G. Sitanggang memberikan tanah seluas 1600 M², untuk lokasi pembangunan gereja. Pada tanggal 21 Juni 1992, gereja HKBP berdiri di Sipintuangin dengan ukuran 7 x 14 M. Selanjutnya pada tanggal 22 Juni 1992 dilaksanakan pertama kali ibadah minggu di gereja tersebut yang dipimpin loleh Pdt. Antonius Simanjuntak (pengkhotbah) dan St.G.S. Tambunan (liturgis), dan hari juga itu dijadikan sebagai hari berdirinya HKBP Nazareth Sipintuangin. Pemberian nama Nazareth berhubungan dengan kota kecil di Galilea yang merupakan kota asal Yesus, dan Sipintuangin sejalan dengan nama kampung (huta) tempat berdirinya gereja tersebut.</p>
<p>Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas gereja HKBP Nazareth Sipintuangin telah berdiri pada tanggal 22 Juni 1992. Pada saat itu, anggota jemaat gereja ini berjumlah 20 KK dengan 2 orang penatua, yaitu St. J. Naibaho dan St. G.S. Tambunan sebagai uluan ni huria sampai saat ini. Dengan berbagai usaha dari segenap parhalado dan jemaat, pada tanggal 24 Oktober 1993, gereja HKBP Nazareth Sipintuangin manjae (mandiri) dari gereja HKBP Tigaras. Artinya gereja HKBP Nazareth Sipintuangin bukan lagi bagian dari gereja HKBP Tigaras, akan tetapi gereja ini telah mandiri dan resmi sebagai salah satu huria (pagaran) yang berada di Resort Simantin Distrik V Sumatera Timur. Pada tahun 2005 gereja HKBP Nazreth Sipintuangin menjadi salah satu huria (pagaran) dari HKBP Resort Marturia Tigaras.</p>
<p>[1] G.S. Tambunan, Sejarah Berdirinya HKBP Nazareth Sipintuangin, ditulis dalam rangka ulang tahun 2 windu HKBP Nazareth Sipintuangin, 2008, Stensilan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/sejarah-berdirinya-gereja-hkbp-nazareth-sipintuangin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MIGRASI ORANG TAPANULI KE DAERAH SIMALUNGUN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHADIRAN INJIL DI WILAYAH SIMALUNGUN</title>
		<link>http://pargodungan.org/migrasi-orang-tapanuli-ke-daerah-simalungun-dan-implikasinya-terhadap-kehadiran-injil-di-wilayah-simalungun/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/migrasi-orang-tapanuli-ke-daerah-simalungun-dan-implikasinya-terhadap-kehadiran-injil-di-wilayah-simalungun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 19:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Simalungun]]></category>
		<category><![CDATA[Tapanuli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/migrasi-orang-tapanuli-ke-daerah-simalungun-dan-implikasinya-terhadap-kehadiran-injil-di-wilayah-simalungun/</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN
Pada masa ini warga Batak Tapanuli suda hampir mendiami sebahagian besar wilayah Simalungun. Proses masuknya orang Batak Tapanuli ke wilayah ini juga telah terjadi puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang lewat. Migrasi itu terjadi didorong oleh berbagai factor yang timbul dari dalam diri mereka sendiri atau juga oleh pengaruh dari fihak lain seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I. PENDAHULUAN</p>
<p>Pada masa ini warga Batak Tapanuli suda hampir mendiami sebahagian besar wilayah Simalungun. Proses masuknya orang Batak Tapanuli ke wilayah ini juga telah terjadi puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang lewat. Migrasi itu terjadi didorong oleh berbagai factor yang timbul dari dalam diri mereka sendiri atau juga oleh pengaruh dari fihak lain seperti fihak colonial yang memaksa ataupun memanfaatkan mereka untuk tujuan-tujuan colonial sendiri dan juga oleh fihak missionar dalam rangka penyebaran injil yang mereka lakukan.</p>
<p>Proses migrasi itu juga tidak terjadi secara serempak. Tetapi mereka meninggalkan kampung halamannya secara bertahap. Untuk lebih jelasnya pada tulisan ini akan di uraikan beberapa hal yang mendorong penyebaran orang Batak (Toba) Tapanuli ke daerah Simalungun yakni :</p>
<p>I. Usaha penginjilan yang diusahakan oleh para missionar. Para missionar yang telah terlebih dahulu bekerja di wilayah Tapanuli berusaha juga untuk menyebarkan injil ke wilayah Simalungun dengan memanfaatkan tenaga putra daerah Tapanuli disamping tenaga para missonar dari Eropah.</p>
<p>II. Usaha fihak kolonial (Belanda) karena kebutuhan tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan (perkebunan) yang telah mereka buka</p>
<p>III. Usaha orang Tapanuli sendiri untuk mencari lapangan kerja baru karena factor keterbatasan lahan produktif di wilayah Toba dan sekaligus karena kesuburan alam wilayah Simalungun terutama untuk bercocok tanam.[1]</p>
<p>Ketiga faktor tersebut sangat dominant dalam upaya migrasi orang Tapanuli tersebut. Factor inilah kemudian yang melahirkan budaya dinamis bagi orang Tapanuli yakni merantau (mangaranto) dengan meninggalkan tanah kelahiran untuk pergi ke daerah lain.</p>
<p>Pendidikan barat yang mereka terima dari para missioner telah membuka mata mereka untuk lebih mengenal dunia luar yang sekaligus juga menuntun arah untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Selanjutnya anggota masyarakat yang mendapat pendidikan formal menjadi enggan bekerja sebagai petani dan beralih melakukan pekerjaan lain. Pada awalnya mereka sangat mengidamkan jabatan gerejawi karena memiliki prestise tersendiri. Contohnya Nahum Tampubolon yang dikenal dengan gelar Raja Patik Tampubolon yang bekerja sebagai guru yang oleh RMG mengutusnya sebagai guru pertama dan penginjil di antara Batak Simalungun di daerah Haranggaol-Purbasari dan juga pembicaraan Nommensen dengan raja-raja Simalungun mengenai pendirian Pos-pos PI dan sekolah-sekolah Zending pada tahun 1903.[2] Sedangkan yang tidak berpendidikan, terutama kaum tani , sejak permulaan abad ke-XX pindah secara berkelompok ke daerah potensial yang jarang penduduknya. Mereka membuka hutan dan mengolah rawa-rawa menjadi areal pertanian dan persawahan. Bersamaan dengan itu kaum terdidik mendapat pekerjaan di instansi pemerintahan colonial, perkebunan Barat, pertambangan, rumah sakit, bank, sekolah dll di luar Tapanuli Utara yang dengan itu mereka mendapat gaji dan pangkat yang sekaligus juga meraih status yang lebih tinggi.[3]</p>
<p>II. TANO PARSERAHAN SIMALUNGUN</p>
<p>Dengan tersebarnya berita keadaan Simalungun ke Tapanuli oleh para petugas mission, timbullah keberanian untuk melihat daerah itu. Ada yang naik sampan dari Balige menuju Sungkean terus ke Parapat dan dari Panahatan melewati hutan terus ke Tigadolok dan sampai ke Siantar. Kemudian sesampainya di daerah Siantar mereka membuka perkampungan. Untuk menambah tenaga dan mempertahankan diri dari serangan musuh, beberapa orang disuruh pulang dan sekaligus memberi kabar kepada keluarganya dan teman-teman sekampung agar mereka ikut dalam perjalanan berikutnya. Berita yang diwartakan mazalah gereja “Imanuel” juga turut mempengaruhi masyarakat Toba untuk minggat ke daerah Simalungun. Tidak heran sejak itu beberapa rombongan dengan menaiki sampan dan dengan berjalan kaki mereka dating menuju Siantar.[4] Cunningham memperkirakan bahwa sejak tahun 1900 beberapa orang Toba sudah masuk ke kerajaan Tanah Jawa Simalungun.[5]</p>
<p>Pada awalnya mereka membuka hutan dan mendirikan rumah-rumah darurat. Mereka pertama-tama membuka juma (lahan kering). Dengan semakin bertambahnya penduduk yang datang sekitar tahun 1903 &#8211; 1904, mereka kemudian membangun perkampungan di sekitar perladangannya. Beberapa kampung pertama yang mereka buka al: Sianjur, Banjarnahor, Sobu dan Tambunan, Gurgur dan Tombak Pulopulo. Di Sianjur penghuninya : Maliakhi Silalahi, di Banjarnahor: Benjamin Silalahi; di Tambunan ama ni Panal Tambunan, di Sobu: Esra Hutabarat. Penghulu di Gurgur adalah Garinus Simanjuntak dan di Tombak Pulopulo : Ishak Silalahi.[6]</p>
<p>   1. DAERAH BANDAR</p>
<p>Tahun 1904 di Pematang Bandar telah dimulai membuka persawahan yang diprakarsai oleh missioner : G. K. Simon. Pada awalnya proses membuka persawahan tersebut sangat sulit karena belum adanya irigasi pengairan. Itu sebabnya orang Batak Toba kurang berminat tinggal di daerah tersebut. Pada waktu itu juga semua penduduk disana sudah memeluk agama Islam, sehingga kehadiran mereka bersama dengan petugas mission seperti Pdt Jonas Siregar dan Pdt. Marthin Nainggolan kurang mendapat sambutan dari penduduk setempat. Hal itu dimulai sejak tahun 1850 sudah banyak orang Simalungun masuk Islam. Raja Siantar sendiri sudah masuk islam. [7]Oleh karena kenyatan tersebut maka Pdt. Jonas Siregar akhirnya pindah ke Batunaggar, Pdt. Marthin Nainggolan pindah ke Hataran Jawa. Sedangkan yang lainnya pindah ke Siantar dan Panai.</p>
<p>Di samping oleh dorongan dari diri sendiri, missioner Jerman juga mendukung perpindahan sebagian orang Batak Toba ke Simalungun dengan maksud untuk memberi contoh dalam bercocok tanamdi persawahan sekaligus untuk memberi teladan cara hidup orang kristiani. Pada tahun 1905 orang-orang dari Tapanuli semakin banyak yang pindah menuju Panai, Bandar dan Tanah Jawa.</p>
<p>Dengan keberhasilan pertanian orang Batak Toba tersebut maka pemerintah colonial melalui Kontrolir Batubara mengadakan perjanjian dengan Raja Bandar, agar orang Batak Toba diberi kesempatan untuk membuka persawahan di daerah tersebut. Itu sebabnya pada tahun 1906 disana sudah terdapat 94 0rang Kristen Batak yang terdiri dari 40 laki-laki dewasa, 11 perempuan dewasa dan 43 anak-anak dan mereka juga akhirnya bertempat tinggal disana. Mereka dating dari daerah Toba Holbung, Silindung dan Humbang. Bahkan juga pada tahun itu juga di Juma Saba telah diadakan kebaktian yang dipimpin oleh evangelis Theophilus Pasaribu. Demikian juga dari daerah Toba yang sama sudah banyak yang bertempat tinggal di daerah Panai (1907). Selain itu juga mereka ada yang menuju Siantar, Dolok Merlawan dan daerah lainnya di Simalungun.</p>
<p>   2. DAERAH TANAH JAWA</p>
<p>Sebaliknya dengan daerah Tanah Jawa, disana kedatangan mereka dihambat oleh fihak kontroleur . Hal ini ditandai dengan ditanda tanganinya perjanjian antara fihak kontroleur Belanda dengan tujuah raja Simalungun yang disebut “ Korte Verklaring” yang merupakan :</p>
<p>   1. Perjanjian akan pengakuan kedaulatan Belanda di daerah tersebut<br />
   2. Bahwa raja-raja tersebut tidak akan melakukan hubungan-hubungan politik dengan negeri-negeri asing<br />
   3. Setuju untuk mengikuti undang-undang dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah colonial. </p>
<p>Inilah awal dibukanya daerah perkebunan di daerah Simalungun yang sekaligus juga menjadi kesempatan bagi orang Toba terdidik mendapatkan pekerjaan di daerah itu.</p>
<p>Dalam kurun waktu tiga tahun, beberapa daerah di Simalungun telah di huni orang-orang Toba. Demikian juga jumlah anggota jemaat Kristen dan termasuk penduduk setempat. Pada tahun 1907 sudah terdapat 4 jemaat Kristen yakni Pematang Siantar yang berdiri tanggal 29 September 1907 dan pendetanya Pdt.E. D. Muller. Ompui Nommensen memimpin rapat di Laguboti tahun 1903 untuk memberitakan injil ke daerah Simalungun. Pada tahun 1904 ditetapkan Pdt G. Simon, Pdt. Jones Siregar dan Pdt Marthin Nainggolan di Pematang Bandar. Pada tanggal 29 September 1907 Pdt. E.G Muller ditetapkan di Pematang Siantar yang juga ditetapkan sebagai hari berdirina gereja ini. Anggota jemaat pada awalnya masih berasal dari Tapanuli, yang merantau ke daerah-daerah perkebunan. Baru dua keluarga yang berasal dari pribumi : Ogom Damanik (Abraham) dan Datok Damanik (Johanes) yang berasal dari Naga Huta. Pembangunan sekolah dan Rumah Sakit terjadi pada saat tuan Lotus dan L/ Bregenstroth.[8]</p>
<p>Juma Saba (Siantar Sawah dimana sekolah dan gereja darurat juga suda didirikan) dengan jumlah anggota 114 orang (45 KK di bawah pimpinan A. Lumban Tobing), Panai dan Bandar Meratur (280 orang).[9]</p>
<p>Dengan difokuskannya pembukaan lahan perkebunan oleh fihak colonial, persoalan pangan kemudian muncul karena terbatasnya sumber-sumber beras di daerah tertentu. Solusi dibuat dengan membuka lahan-lahan pertanian dan kemudian mengahdirkan orang-orang Batak Toba yang dikenal gigih dan ahli dalam bertani (pengolahan lahan basah).[10] Maka selanjutnya fihak Belanda kembali mengadakan perjanjian dengan fihak raja Siantar dan Raja Panai pada tahun 1908 dengan maksud agar orang-orang Toba kemudian di ijinkan untuk bertani di daerah tersebut. Dan selanjutnya menurut laporan Van Gelder bahwa pada tahun 1909 sebanyak 500 KK petani telah di tempatkan di Siantar, demikian juga di daerah Bah Korah I dan Bah Korah II. Sementara putra daerah Simalungun tidak begitu tertarik dengan pertanian dan lebih senang tinggal di daerah Simalungun atas.</p>
<p>Selanjutnya juga dengan pembukaan lahan perkebunan di daerah Tomuan, Pantoan dan Naga Huta semakin membuka peluang bagi orang-orang terdidik Toba untul berkerja di perkebunan tersebut. Sementara untuk mengusahakan swasembada pangan fihak Belanda justru memfasilitasi uasaha pertanian orang Toba tersebut dengan membuka irigasi seperti di Juma Saba telah dibangun tali air permanent pada tahun 1910. Pada saat inilah kemudian orang Toba semakin banyak yang dating ke Simalungun. Mereka ada yang bertempat tinggal di Simarimbun, Marihat dan daerah lainya.</p>
<p>   3. DAERAH BALATA</p>
<p>Sebelumnya daerah Balata kurang diminati kaum migrant dari Toba karena daerahnya bergelombang dan banyak ditumbuhi lalang dan juga keamanan kurang terjamin oleh para pengacau. Namun ketika Andreas Simangunsong menjabat sebagai Controle Mantri tahun 1910, ia menyarankan agar raja Jorlang Hataran : Rontahalam memperkenalkan diri dengan Ephorus HKBP, agar kerajaannya dikenal orang. Maka pada tahun 1911 orang Batak Toba yang berasal dari Humbang, Samosir dan Toba Holbung mulai tinggal di Balata.</p>
<p>Dengan berhasilnya swasembada pangan yang diterapkan fihak colonial, maka fihak Belanda kemudian membuat kebijakan dengan memberikan jabatan-jabata kepada orang Batak Toba yang berhasil membawa banyak orang Toba datang ke Simalungun. Contoh : yang berhasil membawa 5 KK akan diangkat menjadi kepala rodi, jabatan penghulu bila membawa 7 KK, dan bahkan menjadi Raja Ihutan bagi yang berhasil membawa 50 KK.</p>
<p>Tahun-tahun berikutnya semakin banyak orang Toba yang datang ke Simalungun. Bahkan pada tahun 1913 telah mencapai 6500 KK dengan luas persawahan 720 Ha dan rata-rata 1 Ha setiap KK. Dengan keberhasilan mendatangkan orang Batak Toba ke Simalungun, maka tahun 1914 pemerintah Belanda mengangkat Andreas Simangunsing menjadi Hoofd der Tobaneezen (Raja Ihutan).</p>
<p>Pembukaan jalan raya dari Balige, Porsea, Parapat dan terus ke Pematang Siantar tahun 1915 semakin membuka peluang masuknya migrant Toba ke Simalungun. Bahkan sampai ke Simalungun Bawah. Tahun 1915 mereka sudah berjumlah 8500 orang: 1901 orang di Juma Saba. Tanah Jawa sejak tahun 1917 telah dimasuki pendatang dari Toba Holbung, Silindung, Humbang dan juga dari Angkola. Bahkan tahun 1918 sudah mencapai 11.250 orang dengan luas persawahan 3700 Ha. Tahun 1919 sudah mencapai 12.840, tahun 1920 sudah mencapai 12.4% (21.823) orang dari seluruh penduduk Simalungun.</p>
<p>   4. DAERAH DOLOK ILIR</p>
<p>Pada tahun 1922 beberapa daerah seperti Dolok Merangir, Laras dan Dolok Ilir sudah di huni orang Toba. Bahkan pada tahun 1925 sudah terdapat sekitar 500 orang sebagai penduduk tetap di Dolok Ilir. Namun tahun 1926 sempat terjadi konflik antara Raja Simalungun dan para pendatang dari Toba karena masalah pajak bumi an masalah pengakuan atas kekuasaan raja-raja di Simalungun yang mengakibatkan 400 KK pindah ke Padang Bedagai-Deli Serdang. Namun sampai tahun 1930 orang Batak Toba sudah mencapai 45.603 yang dating dari daerah Toba Holbung, Silindung, Humbang, Samosir. Jelasnya dilihat dari daerah tujuan perpindahan orang Batak Toba maka Simalungun menjadi urutan teratas. Ini karena keuburan tanah Simalungun dan juga oleh karena telah dibukanya sekolah-sekolah yang diasuh oleh missioner Jerman dan tenaga-tenaga pendidik Batak Toba berdiri dimana-mana dan terbuka bagi siapa saja. Mereka pada umumnya bertani. Namun ada juga yang berkerja di perkebunan, rumah sakit, beberapa daerah telah mereka tempati seperti : Dlok Merangir, Dolok Ilir, Laras, Serbelawan, Bah Jambi, Bandar Betsy, Bangun, Bukit Meraja, Kerasaan, Bosar Maligas, Balimbingan, Pagar Jawa, Marihat, Bah Birong, Parmonangn, Bah Kapul, Mahonda, Marihat Ulu, Kasinder, Sidamanik, dll. Tahun 1937, mayoritas orang Toba yang tinggal di Panai berasal dari Samosir dan Toba Holbung. Selanjutnya pada tahun 1938 orang Batak Toba dan Orang Jawa menjadi penduduk yang dominant di wilayah Tanah Jawa dan Siantar. Sementara di 4 distrik : Tanah Jawa, Jorlang Hataran, Dolok Panribuan dan Siantar orang Btak Toba lebih dominant dari orang Simalungun yang berada di simalungun Bawah. Di daerah Bosar Maligas, Jorlang Hataran dan Bandar dominant orang Jawa.</p>
<p>   5. PERKEMBANGAN SELANJUTNYA USAHA PEKABARAN INJIL DI SIMALUNGUN</p>
<p>Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kehadiran usaha PI yang dilakukan oleh para missionar sebagai faktor hadirnya migrant Toba di Simalungun. Hal itu dimulai sejak missionaries H. Guilamo (1899) dan G. K. Simon (16 Maret 1903), Theis (2 September 1903 yang dianggap sebagai awalsejarah gereja Simalungun) datang melakukan usaha PI di Simalungun. [11] Pada waktu itu memang belum ada putra/i pribumi Simalungun yang masuk Kristen. Baru pada tanggal 29 September 1907 Tak dapat dipungkiri juga bahwa bahwa dinamika zaman juga turut berperan dalam mempengaruhi usaha PI di daerah ini. Pada mas pendudukan Jepang, usaha PI menghadapi hambatan, bahkan orang Kristen dipaksa untuk bekerja pada hari Minggu, sementara gedung-gedung gereja juga dijadikan menjadi gudang penyimpanan barang-barang colonial. Namun pada masa revolusi pada Maret 1946, terjadi perubahan sikap terhadap raja-raja Simalungun yang selama ini dianggap feudal menjadi sasran revolusi pada tanggal 3 Maret 1946. beberapa orang raja-raja Simalungun ditangkap dan di bunuh dibawah pimpinan Saragi Ras pimpinan Barisan Harimau Liar (BHL). Urbanus Pardede mengambil alih pemerintahan dari tangan Madja Purba. Keadan ini menjadi cambuk bagi raja-raja Raya, Panai, Purba untuk masuk agama Kristen. Tahun 1946 45 orang dari mereka di baptis. Dan mulai saat itu beberapa gereja berdiri seperti : Bah Jambi, Laras, Dolok Ilir, Balata, Bahal Gaja dan Panaborangan Tanah Jawa. Tahun 1955 di daerah Bandar sudah terdapat 450 KK penganut HKBP demikian juga dengan daerah lainnya. Pada tanggal 22 Januari 1953 jemaat Kristen Simalungun diberi otonom dengan Pdt. Wismark Saragih sebagai wakil Ephorus. Dan pendirian Universitas HKBP Nommensen tahun 1954 dan beberapa sekolah yang dikelola HKBP menambah arus perpindahan dari Toba ke Simalungun untuk study dan bekerja.</p>
<p>   6. KESIMPULAN</p>
<p>Jelasnya bahwa kehadiran kekristenan, pendidikan dan perkembangan komunikasi merupakan penyebab perubahan social di Simalungun. Orang China memegang sector perdganagn di kota-kota Simalungun Bawah, orang Batak Toba menjadi pegawai pemerintah, perkebunan, perdagangan dan pertanian, orang dari Tapanuli selatan sebagai pedagang, pegawai dan guru agama Islam. Inilah awal migrasinya berbagai suku bangsa ke wilayah Simalungun, terutama mingran orang Toba, yang sekaligus juga berimplikasi terhadap kehadiran injil di daerah Simalungun sendiri.</p>
<p>[1] O. H. S. Purba, Elvis F. Purba, Migrasi Batak Toba, Medan: Medan, 1988, 2</p>
<p>[2] Lothar Schreiner, Telah Ku Dengan Dari Ayahku”, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1978, 95</p>
<p>[3] O. H. S. Purba, Elvis F. Purba, Op.Cit., 2</p>
<p>[4] Ibid., 5</p>
<p>[5] Juandaha Raya P. dasuha, Marthin Lukito Sinaga, Sejarah Seratus Tahun PI Di Simalungun, Kolportase GKPS, Pematangsiantar, 2003, 79</p>
<p>[6] O. H. S. Purba, Elvis F. Purba, Op.Cit., 6</p>
<p>[7] Paul B. Pedersen, Darah Batak Dan Jiwa Protestan, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1975, 100</p>
<p>[8] Huria Na Marjubeleum 75 Taon, Immanuel No. 15/XI/1982,ben/rtm</p>
<p>[9] O. H. S. Purba, Elvis F. Purba, Op.Cit., 8</p>
<p>[10] Juandaha Raya P. dasuha, Marthin Lukito Sinaga, Op.Cit., 75 &#8211; 93</p>
<p>[11] Paul B. Pedersen, Op.Cit., 101</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/migrasi-orang-tapanuli-ke-daerah-simalungun-dan-implikasinya-terhadap-kehadiran-injil-di-wilayah-simalungun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
