oleh: Reinhard PP Lumbantobing |
Khotbah Minggu Exaudi: Hakim-hakim 10:10-16 – Saat kita mengambil sebuah jeda – untuk sejenak merenungkan apa yang sedang dan telah kita alami, mungkin pernah terbersit dalam benak kita pertanyaan: “Mengapa semua hal ini mesti terjadi atas diriku?” Kita menatap semua yang telah kita lakukan selama ini, namun rupanya hanya terlihat kesia-siaan. Kita tidak memperoleh apa yang seharusnya kita peroleh. Sebagai kompensasi atas jerih payah yang telah kita lakukan, kita malah hanya menerima ketidakadilan sosial atau bahkan “kekerasan struktural”. Akibatnya, pertanyaan eksistensial yang semula kita ajukan tadi berakhir menjadi kemarahan. Marah atas perilaku orang-orang atas diri kita. Marah atas kejadian-kejadian buruk yang kita alami.
oleh: Reinhard PP Lumbantobing |
“Khotbah untuk memperingati kenaikan Tuhan Yesus Kristus bertemakan sukacita” Bersukacita. Kalender Gereja kita pada tanggal 13 Mei ini mengajak kita untuk bersukacita di dalam peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Saya kira, bukan kali ini saja, malahan orang Kristen sering diarahkan untuk selalu bersukacita. Misalnya saja Paulus. Dalam surat-surat kirimannya, kita akan menemukan sejumlah ajakan untuk senantiasa bersukacita (mis. Filp 4:4). Tentang ini, barangkali tepat jika sebut sukacita merupakan bagian dari identitas kehidupan orang Kristen.
oleh: Reinhard PP Lumbantobing |
Bilangan 14:11-20
Minggu Rogate
Alkisah, adalah seorang pangeran dari bangsa Troya yang jatuh cinta kepada Helen, istri raja Sparta yang bernama Menelaus. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Helen kelihatannya tertarik kepada Paris (sang pangeran), sehingga rela dibawa lari ke Troya. Kabar pun tersiar dan sampai ke telinga Agamemnon, raja Yunani yang notabene saudara dari Menelaus. Mendengar [...]