<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/author/rpp-lumbantobing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Situs referensi pelayanan dan kehidupan Kristen.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 15:49:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu Septuagesima: Kekuatan dan Semangat dari Allah &#8211; Yesaya 40:21-31</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-septuagesima-kekuatan-dan-semangat-dari-allah-yesaya-4021-31/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-septuagesima-kekuatan-dan-semangat-dari-allah-yesaya-4021-31/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 15:06:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu Septuagesima]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Yesaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-septuagesima-kekuatan-dan-semangat-dari-allah-yesaya-4021-31/</guid>
		<description><![CDATA[Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22) Setiap orang memiliki alasan saat hendak atau saat sedang melakukan sesuatu. Ada motif yang menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Bahkan, kualitas hasil pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasinya. Namun, ada kalanya seseorang kehilangan motivasi dan semangat ketika hendak melakukan sesuatu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22)</em></p>
<p><img title="khotbah minggu sexagesima yesaya 40 21-31" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="244" alt="khotbah minggu sexagesima yesaya 40 21-31" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2012/01/khotbahminggusexagesimayesaya402131.jpg" width="169" align="left" border="0" /> Setiap orang memiliki alasan saat hendak atau saat sedang melakukan sesuatu. Ada motif yang menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Bahkan, kualitas hasil pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasinya. </p>
<p>Namun, ada kalanya seseorang kehilangan motivasi dan semangat ketika hendak melakukan sesuatu. Pernahkah Anda kehilangan motivasi dan semangat Anda? Anda yang mulanya menggebu-gebu mengerjakan suatu hal &#8211; ternyata setelah beberapa waktu &#8211; akhirnya kehilangan minat untuk melanjutkan atau menyelesaikan pekerjaan tersebut; pernahkah Anda mengalaminya?&#160; </p>
<p> <span id="more-1665"></span>
<p>* * *</p>
<p>Penyebab hilangnya semangat dan motivasi dalam diri seseorang bisa bermacam-macam. Ada orang yang kehilangan semangat karena banyaknya masalah yang dihadapinya. Ada orang yang vitalitasnya menurun karena banyaknya kesibukan yang membebaninya. Ada orang yang semangatnya menurun karena masalah disorientasi atas tujuan hidupnya. Ada pula orang yang kehilangan semangat karena merasa tidak ada yang mendukung dirinya saat melakukan suatu pekerjaan. </p>
<p>Kehilangan motivasi dan semangat pernah di alami bangsa Israel setelah mereka dibuang. Mereka ragu atas diri mereka sendiri sebagai bangsa pilihan Allah. Apa sebabnya? Yerusalem sudah porak-poranda; Israel dibuang dan pembuangan itu berlangsung sangat lama. Mereka juga mengalami kehidupan yang sulit di Babel. Bangsa Israel menganggap bahwa Allah telah melupakan mereka dan akan membiarkan mereka hancur. (Yesaya 40:27; 49:14). </p>
<p>Itu sebabnya dalam khotbah minggu ini (<strong>Yesaya 40:21-31</strong>), Yesaya dengan keras bertanya dengan gaya retoris sampai tiga kali: tidakkah kamu tahu; tidakkah kamu dengar; tidakkah kamu mengerti &#8211; kepada bangsa Israel. Dalam pertanyaan ini kelihatan bahwa Yesaya seolah kecewa melihat orang Israel yang semangatnya sudah menurun.</p>
<p>* * * </p>
<p>Mengalami masalah seperti ini (kehilangan semangat) sesungguhnya sangat berbahaya. Bangsa kita ini juga sedang berada dalam situasi serupa. Kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin negara sudah berkurang. Tindak kejahatan semakin bertambah. Keadilan tidak bisa ditegakkan. Akibatnya masyarakat menjadi pesimis atas nasib bangsa ini. Masyarakat kehilangan semangat dan vitalitasnya untuk membangun dirinya. Sehingga tidak heran, seorang pengamat pernah mengatakan, “Seharusnya Bangsa Indonesia sudah collapse saat ini.” Jika sebuah bangsa kehilangan semangat dan vitalitasnya, bangsa tersebut bisa punah. </p>
<p>Nah, jika itu mungkin terjadi pada sebuah bangsa, maka bagaimana jika itu Anda alami sendiri? Mudah-mudahan tidak turut punah, seperti kata Ayub, “Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan” (Ayub 17:1). </p>
<p>* * *</p>
<p>Pada dasarnya Allah menghendaki bahwa kehidupan Kristen itu sebagai kehidupan yang penuh gairah dan bersemangat. Semangat yang ada dalam diri orang Kristen berasal dari Roh Kudus. Ialah causa yang menggerakkan orang-orang Kristen untuk berbuat hal-hal benar dan besar dalam kehidupan. </p>
<p>Melalui Firman Allah ini, Tuhan mengatakan kepada Anda dan saya bahwa segala kendala yang kita hadapi dalam hidup tidak boleh membuat kita takut, lemah, dan kehilangan keberanian kita. Kekuasaan orang lain yang berusaha membatasi ruang gerak kita tidak boleh membuat kita <em>minder </em>atau tawar hati. Tapi hendaklah kita mengikuti kata Paulus, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Tentu, Allahlah yang menguatkan kita dalam setiap keluh kesah kita. </p>
<p>Tuhan tidak pernah tersembunyi dan meninggalkan Anda dari setiap pergumulan yang Anda hadapi. Ini adalah kesaksian Yesaya. Allah tidak pernah menjadi lelah dan menjadi lesu melihat kelemahan yang ada dalam diri kita. “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29). </p>
<p>Allah berkuasa untuk menaklukkan segala kekuasaan yang menghalangi kita untuk melakukan kebaikan yang terbaik dalam kehidupan kita. Ia mampu menjauhkan kita dari segala usaha jahat yang melemahkan jiwa kita. Oleh sebab itu, ketika Anda kehilangan gairah dalam hidup Anda untuk melakukan yang terbaik, nantikanlah Tuhan, sebab Anda akan mendapat kekuatan baru (Yesaya 40:31).&#160; </p>
<p>Janji yang sangat indah, bukan?</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-trinitas-1-%e2%80%93-ini-aku-utuslah-aku-yesaya-61-13/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Trinitas 1 – Ini Aku, Utuslah Aku &#8211; Yesaya 6:1-13'>Khotbah Minggu Trinitas 1 – Ini Aku, Utuslah Aku &#8211; Yesaya 6:1-13</a> <small>Yesus Kristus telah memenuhi janjinya untuk mengutus Roh Penghibur. Kini...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/jangan-cobai-tuhan-allah-mu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Reminiscere: Jangan cobai Tuhan, Allah-mu &#8211; Matius 12:38-42'>Khotbah Minggu Reminiscere: Jangan cobai Tuhan, Allah-mu &#8211; Matius 12:38-42</a> <small>Masih ingat cerita tentang Iblis yang mencobai Tuhan Yesus tak...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-memperingati-wafatnya-yesus-kristus-yesus-mati-untuk-anda-lalu-apa-yesaya-5213-5312/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Memperingati Wafatnya Yesus Kristus: Yesus Mati untuk Anda, lalu Apa? &#8211; Yesaya 52:13-53:12'>Khotbah Memperingati Wafatnya Yesus Kristus: Yesus Mati untuk Anda, lalu Apa? &#8211; Yesaya 52:13-53:12</a> <small>Mungkin Anda pernah menonton Passion of the Christ. Film ini...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-1-setelah-trinitatis-mengasihi-dengan-sempurna-1-yohanes-416b-21/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu 1 Setelah Trinitatis: Mengasihi dengan Sempurna &#8211; 1 Yohanes 4:16b-21'>Khotbah Minggu 1 Setelah Trinitatis: Mengasihi dengan Sempurna &#8211; 1 Yohanes 4:16b-21</a> <small>Mengasihi! Perintah utama bagi manusia adalah mengasihi Allah dan mengasihi...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-pentakosta-roh-kudus-naungi-jugalah-kami-pada-saat-ini-%e2%80%93-kisah-para-rasul-21-8/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Pentakosta: Roh Kudus, Naungi jugalah kami pada saat ini! – Kisah Para Rasul 2:1-8'>Khotbah Minggu Pentakosta: Roh Kudus, Naungi jugalah kami pada saat ini! – Kisah Para Rasul 2:1-8</a> <small>Setelah Yesus Kristus naik ke surga, para murid memutuskan untuk...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-septuagesima-kekuatan-dan-semangat-dari-allah-yesaya-4021-31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Ayat Liturgi Natal &#8211; Kristus Memberi Harapan Pasti</title>
		<link>http://pargodungan.org/contoh-ayat-liturgi-natal-kristus-memberi-harapan-pasti/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/contoh-ayat-liturgi-natal-kristus-memberi-harapan-pasti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 01:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perayaan Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.pargodungan.org/?p=1536</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu ada pembaca pargodungan yang bertanya tentang contoh liturgi natal untuk tema Kristus memberi harapan pasti. Nah, di sini saya akan membagikan contoh ayat liturgi berkaitan dengan tema tersebut yang sudah disusun oleh tim. Thema: Kristus Memberi HARAPAN PASTI (Yesaya 9:5-6) Sub Thema: Dengan pengharapan dari Kristus, marilah kita menjadi berkat bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu ada pembaca pargodungan yang bertanya tentang contoh liturgi natal untuk tema Kristus memberi harapan pasti. Nah, di sini saya akan membagikan contoh ayat liturgi berkaitan dengan tema tersebut yang sudah disusun oleh tim.</p>
<p>Thema: Kristus Memberi HARAPAN PASTI (Yesaya 9:5-6)<br />
Sub Thema: Dengan pengharapan dari Kristus, marilah kita menjadi berkat bagi sesama dengan saling berbagi.</p>
<p>LITURGI I<br />
Narrator: Allah menciptakan manusia sesuai dengan rupa-Nya. Tetapi dalam diri mereka banyak bertumbuh pikiran-pikiran yang jahat, mengikuti kehendaknya sendiri dan mengikuti nafsu badaniahnya. Itulah yang membuat manusia tersesat dan jatuh ke dalam dosa: tidak mengindahkan hukum Allah, Bapa yang Maha Pengasih.<br />
1. Kej 1:1-2<br />
2. Kej 1:3-4<br />
3. Kej 1:27<br />
4. Kej 1:31<br />
5. Pkh 7:29<br />
6. Maz 53:4<br />
7. Yer 17:9<br />
8. Rom 3:23<br />
9. Rom 5:12<br />
10. Kej 3:16-17</p>
<p>LITURGI II<br />
Narrator:<br />
Dua ribu tahun yang lampau Mesias lahir di Betlehem. Dialah yang menaklukkan iblis musuh kita. Dialah yang akan meremukkan kepala sang penyesat agar kita tidak lagi diperdaya oleh nafsu badani dan kehendak yang jahat itu. Itulah sebabnya Tuhan datang ke dunia ini untuk mendamaikan kita dengan Allah Bapa.<br />
1. Kej 3:15<br />
2. 1 Kor 1:30<br />
3. Kol 1:16-17<br />
4. 2 Kor 5:17<br />
5. 2 Kor 5:18<br />
6. 2 Kor 5:19<br />
7. 2 Kor 5:21<br />
8. Yes 60:1<br />
9. Yes 60:2<br />
10. Yes 60:3</p>
<p>LITURGI III<br />
Narrator: Maka bersukacitalah menyambut Tuhan kita, terimalah kasihNya, sumber keselamatan kita.<br />
1. Maz 24:7<br />
2. Maz 24:8<br />
3. Maz 24:9<br />
4. Maz 24:10<br />
5. Mik 5:1<br />
6. Zak 9:9<br />
7. Yes 9:1<br />
8. Yes 9:2<br />
9. Yes 9:3<br />
10. Yes 9:4</p>
<p>LITURGI IV<br />
Narrator:<br />
1. Luk 2:1-2<br />
2. Luk 2:3<br />
3. Luk 2:4-5<br />
4. Luk 2:6-7<br />
Semua liturgis menyanyikan &#8220;Malam Kudus&#8221; sambil menyalakan lilin natal.<br />
5. Luk 2:8<br />
6. Luk 2:9<br />
7. Luk 2:10<br />
8. Luk 2:11<br />
9. Luk 2:12<br />
10. Luk 2:13<br />
11. Semua liturgis: Luk 2:14</p>
<p>LITURGI V<br />
Narrator: Kristus telah lahir. Sambutlah Dia dengan sukacita. Songsonglah Dia. Persembahkanlah persembahan yang terbaik bagi Dia sang penebus.<br />
1. Luk 2:15<br />
2. Luk 2:16<br />
3. Luk 2:17<br />
4. Luk 2:18<br />
5. Luk 2:19<br />
6. Luk 2:20<br />
7. Mat 2:1-2<br />
8. Mat 2:3+7<br />
9. Mat 2:8-9<br />
10. Mat 2:10-11</p>
<p>LITURGI VI<br />
Deklamasi Tema  Yes 5-6</p>
<p>LITURGI VII<br />
Narrator: Berharaplah kepada Kristus, jangan ragu dan jangan mau lagi goyah. Berikan dirimu menjadi berkat bagi sesama sebagai tanda sukacitamu atas natal. Milikilah kasih, yang terbesar itu dan berbagilah dengan sesamamu manusia..<br />
1. 1 Kor 13:1<br />
2. 1 Kor 13:2<br />
3. 1 Kor 13:3<br />
4. 1 Kor 13:4<br />
5. 1 Kor 13:5<br />
6. 1 Kor 13:6-7<br />
7. 1 Kor 13:8<br />
8. 1 Kor 13:9-10<br />
9. 1 Kor 13:11-12a<br />
10. 1 Kor 13:12b-13</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/cara-memilih-ayat-liturgi-natal-contoh-kumpulan-ayat-natal/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cara Memilih Ayat Liturgi Natal &#038; Contoh Kumpulan Ayat Natal'>Cara Memilih Ayat Liturgi Natal &#038; Contoh Kumpulan Ayat Natal</a> <small>Awalnya, di Gereja HKBP saat ibadah perayaan Natal (tanggal 25...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/sekelumit-mengenai-ujung-tahun-gerejawi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sekelumit Mengenai Ujung Tahun Liturgi'>Sekelumit Mengenai Ujung Tahun Liturgi</a> <small>Pernah saudara/i mendengar Minggu peringatan terhadap orang meninggal? Bagi saudara/i...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/kumpulan-liturgi-natal-ragam-bahasa-daerah-bahasa-suku-indonesia-dan-bahasa-internasional-luar-negeri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kumpulan Liturgi Natal Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia dan Bahasa Internasional (Luar Negeri)'>Kumpulan Liturgi Natal Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia dan Bahasa Internasional (Luar Negeri)</a> <small>Dalam rangka menyambut hari natal, teman-teman tentu ada yang jadi...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/tips-dan-ide-kreatif-dekorasi-natal-di-rumah-anda/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips dan Ide Kreatif Dekorasi Natal di Rumah Anda'>Tips dan Ide Kreatif Dekorasi Natal di Rumah Anda</a> <small>Saat menyambut natal, tentu sudah jadi budaya untuk menghias dan...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/download-kumpulan-ayat-ayat-emas-alkitab-gratis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Download Kumpulan Ayat-ayat Emas Alkitab Gratis'>Download Kumpulan Ayat-ayat Emas Alkitab Gratis</a> <small>Setelah kerja 2 hari lamanya, akhirnya kumpulan ayat-ayat Alkitab selesai...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/contoh-ayat-liturgi-natal-kristus-memberi-harapan-pasti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Memilih Ayat Liturgi Natal &amp; Contoh Kumpulan Ayat Natal</title>
		<link>http://pargodungan.org/cara-memilih-ayat-liturgi-natal-contoh-kumpulan-ayat-natal/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/cara-memilih-ayat-liturgi-natal-contoh-kumpulan-ayat-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 05:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perayaan Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Liturgi Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.pargodungan.org/?p=1524</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya, di Gereja HKBP saat ibadah perayaan Natal (tanggal 25 dan 26 Desember) anak-anak ditugaskan menjadi liturgis untuk mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah di hapal sebelumnya. Namun pada perkembangan berikutnya bukan hanya anak-anak, tetapi pemuda dan orangtua pun diikutsertakan ambil bagian menjadi liturgis untuk mengucapkan &#8220;liturgi natal&#8221;. Nah, kemarin ada seseorang yang mengirimkan email kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya, di Gereja HKBP saat ibadah perayaan Natal (tanggal 25 dan 26 Desember) anak-anak ditugaskan menjadi liturgis untuk mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah di hapal sebelumnya. Namun pada perkembangan berikutnya bukan hanya anak-anak, tetapi pemuda dan orangtua pun diikutsertakan ambil bagian menjadi liturgis untuk mengucapkan &#8220;liturgi natal&#8221;. </p>
<p>Nah, kemarin ada seseorang yang mengirimkan email kepada kami lewat halaman kontak. Isi emailnya menanyakan contoh-contoh ayat Alkitab yang bisa dipakai untuk Natal. Well, terimakasih atas email kiriman tersebut. Di sini saya akan mencoba memberikan jawabannya dan sekaligus berbagi dengan seluruh pengunjung pargodungan yang barangkali juga memiliki pertanyaan yang sama. </p>
<p>Namun di sini bukan hanya contoh yang akan saya sampaikan. Sangat berguna jika Anda juga mengetahui bagaimana cara untuk memilih teks Alkitab yang dapat dipakai untuk liturgi natal.</p>
<p>Langsung saja. Pada saat ibadah natal,  kumpulan ayat-ayat liturgi natal selalu di bagi ke dalam beberapa kelompok tertentu.  Kelompok ayat-ayat Alkitab itu yaitu: </p>
<p>1. Berita Penciptaan<br />
2. Kejatuhan Manusia ke dalam dosa<br />
3. Janji kedatangan Mesias<br />
4. Kelahiran Juruselamat<br />
5. Ucapan Syukur atas Keselamatan</p>
<p>Berdasarkan urutan pengelompokan seperti itu, Anda dapat dengan mudah mencari ayat-ayat yang pas, cocok dan sesuai dengan jumlah peserta liturgi natal (liturgis). Sekali lagi begini, cara memilih ayat liturgi, terlebih dahulu bacalah ayat-ayat Alkitab yang mungkin baik untuk dijadikan liturgi. Setelah itu, tempatkanlah ayat-ayat yang sudah dipilih ke dalam beberapa kelompok tadi menurut jumlah ayat per kelompok yang Anda butuhkan.</p>
<p>Namun, seandainya pun jumlah liturgis untuk tiap kelompok sangat banyak (misalkan lebih dari 10 orang), Anda dapat memotong ayat-ayat yang panjang menjadi beberapa bagian sehingga jumlah yang harus dicapai dapat terpenuhi semua. Misalnya, Zakharia 10:6. Ayat tersebut dapat diperkecil menjadi dua bagian karena memiliki anak kalimat yang cukup panjang. Jika sudah dibagi, hasilnya menjadi:</p>
<p>Zakharia 10:6a, &#8220;Aku akan membuat kuat kaum Yehuda, dan Aku menyelamatkan keturunan Yusuf. Aku akan membawa mereka kembali, sebab Aku menyayangi mereka.&#8221;<br />
Sedangkan bagian Zakharia 10:6b, &#8220;Dan keadaan mereka seakan-akan tidak pernah ditolak oleh Aku, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka, dan Aku akan menjawab mereka.&#8221; </p>
<p>Setelah ayat-ayat liturgi dipilih, agar memiliki satu kesatuan dengan tema perayaan natal yang sudah ditetapkan maka Anda cukup menyusun dan merangkai kata-kata pengantar (prolog) untuk setiap bagian kelompok yang saya sebutkan tadi. Di sini saya tidak akan membahas cara menyusun prolog secara mendalam karena butuh pemikiran dan pertimbangan yang mendalam (ceileh!). Tapi yang penting dari setiap prolog liturgi adalah &#8220;kemampuannya untuk membimbing atau mengantar jemaat memahami ayat-ayat Alkitab yang akan diucapkan para liturgis sesuai dengan tema perayaan natalnya.&#8221; Ayat-ayat Alkitab pun dapat dijadikan sebagai prolog. Namun, jika Anda kesulitan pada bagian ini, silahkan hubungi kami lewat halaman kontak dan sebutkan tema dan sub tema perayaan natal Anda. Tapi, meski kami berusaha membalas email Anda secepat mungkin, saya tetap merekomendasikan Pendeta di Gereja Anda untuk membimbing Anda.  </p>
<p>Sekarang, kita akan melihat contoh ayat liturgi natal yang dapat Anda gunakan dalam ibadah natal sesuai dengan urutan kelompoknya. </p>
<p>1. Berita Penciptaan<br />
Kejadian 1:1-31; Kejadian 2:4-7; Kejadian 2:1-3; Mazmur 33:4-9; Mazmur 66:3-4; Mazmur 95:4-5; Mazmur 104:24; Mazmur 111:3+7; Yeremia 10:6+12</p>
<p>2. Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa<br />
Kejadian 3:1-24, Kejadian 6:5-7; Kejadian 6:11-12; </p>
<p>3. Janji Kedatangan Juruselamat (Mesias)<br />
Mazmur 24:7-10; Yesaya 7:14; Yesaya 9:5-6; Yesaya 11:1-2; Yesaya 32:1; Yesaya 40:3-4; Yesaya 40:9; Yesaya 42:1; Yesaya 62:10; Zefanya 3:14; Zakharia 9:9; Yeremia 23:5; Mika 5:1<br />
Lukas 1:68-79; </p>
<p>4. Kelahiran Juruselamat<br />
Lukas 2:11; Lukas 2:14; Matius 1:18-25; Matius 2:1-12; Lukas 1:26-38; Galatia 4:4; </p>
<p>5. Ucapan Syukur atas Keselamatan<br />
Mazmur 103:1-2; Mazmur 104:1-4;<br />
Matius 4:15-16; Lukas 1:46-55; Lukas 1:68-75; Lukas 2:14; Lukas 2:30-32; </p>
<p>Demikian contoh sederhana kumpulan ayat liturgi natal yang untuk sementara bisa Anda pakai sebagai acuan. Selamat mencoba!</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/contoh-ayat-liturgi-natal-kristus-memberi-harapan-pasti/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Contoh Ayat Liturgi Natal &#8211; Kristus Memberi Harapan Pasti'>Contoh Ayat Liturgi Natal &#8211; Kristus Memberi Harapan Pasti</a> <small>Beberapa hari yang lalu ada pembaca pargodungan yang bertanya tentang...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/kumpulan-liturgi-natal-ragam-bahasa-daerah-bahasa-suku-indonesia-dan-bahasa-internasional-luar-negeri/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kumpulan Liturgi Natal Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia dan Bahasa Internasional (Luar Negeri)'>Kumpulan Liturgi Natal Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia dan Bahasa Internasional (Luar Negeri)</a> <small>Dalam rangka menyambut hari natal, teman-teman tentu ada yang jadi...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/kumpulan-partitur-lagu-natal-satb/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kumpulan partitur lagu natal untuk koor/paduan suara SATB'>Kumpulan partitur lagu natal untuk koor/paduan suara SATB</a> <small>Acara natal tidak jarang akan diisi oleh koor yang bernuansa...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/download-kumpulan-ayat-ayat-emas-alkitab-gratis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Download Kumpulan Ayat-ayat Emas Alkitab Gratis'>Download Kumpulan Ayat-ayat Emas Alkitab Gratis</a> <small>Setelah kerja 2 hari lamanya, akhirnya kumpulan ayat-ayat Alkitab selesai...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/pohon-natal-boneka-raksasa-dari-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pohon Natal Boneka Raksasa dari Solo'>Pohon Natal Boneka Raksasa dari Solo</a> <small>Jika orang Jepang membuat pohon natal emas, orang Indonesia tidak...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/cara-memilih-ayat-liturgi-natal-contoh-kumpulan-ayat-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruhut Parmahanion Paminsangion (RPP) HKBP Bahasa Batak</title>
		<link>http://pargodungan.org/ruhut-parmahanion-paminsangion-rpp-hkbp-bahasa-batak/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/ruhut-parmahanion-paminsangion-rpp-hkbp-bahasa-batak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 09:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gereja HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[RPP HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Siasat Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan: Dokumen yang Anda baca ini adalah buku aturan penggembalaan dan siasat yang dipergunakan dalam bahasa Batak. Dokumen ini berasal dari terbitan situs resmi gereja HKBP yang sempat dipublikasikan untuk umum. Selamat Memakai! HATA HUHUASI Nunga mamungka sian taon 1952 naung adong Ruhut Paminsangon di HKBP jala laos i dope na itapanghe na saleleng on. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2008/09/altar-hkbp-pearaja.JPG" alt="RPP HKBP Bahasa Batak" /></p>
<p>Keterangan: Dokumen yang Anda baca ini adalah buku aturan penggembalaan dan siasat yang dipergunakan dalam bahasa Batak. Dokumen ini berasal dari terbitan situs resmi gereja HKBP yang sempat dipublikasikan untuk umum. Selamat Memakai! </p>
<h3>HATA HUHUASI</h3>
<p>Nunga  mamungka sian taon 1952 naung adong  Ruhut Paminsangon di HKBP jala laos i dope na itapanghe na saleleng on.  Alai di angka tingki na parpudi on tahilala do naung  ringkot padasipon Ruhut Paminsangon i mardomu tu tingki/zaman, asa  umampit panghobasionta di ragam ni angka pangalaho na taadopi  nuaeng dahot tu tingki na naeng ro, hombar tu panatapan ni Hurianta.</p>
<p>Ala ni i ma diputushon Sinode Godang taon  1984, asa dipabangkit sada Komisi Ruhut Paminsangon laho manangkasi dohot padasiphon Ruhut Paminsangon i. Saut do dipabangkit  Komisi i na tinolopan ni Parhalado Pusat. Jala dipillit do na gabe anggota Komisi, sian unsur Praeses, Pandita, Guru Huria,  Bibelvrouw nang sian Sintua na di kota dohot na di desa.</p>
<p>Ndada na  manguba hita di Ruhut Paminsangon ni  Huria i, alai na padasiphon do jala paampithon hombar tu pamingkirion ni  Huria i. Asa nang panguhalan manang bahanbahan tusi  binuat do i sian: Buku Ruhut Paminsangon naung adong hian, Konsep Ruhut  Paminsangon 1976 dahot Haputusan Seminar Hukum Siasat  Gereja-gereja di Sumatera Utara 1982, Aturan dahot Peraturan ni HKBP  1982-1992, Usulusul sian Ressort na pinapungu di Sinode  Godang taon 1984, Usulusul sian Rapot Pandita Distrik tu Rapot Pandita  taon 1983 dahot taon 1985; dung i muse hasil panangkasion  na pinatupa ni anggota Komisi di opat inganan i ma di Sibolga,  Sidikalang, Medan dahot Jakarta.</p>
<p>Asing ni i, pinapungu do muse usulusul na ro  sian Komisi sandiri songon i dahot panimbangion sian Konfessi HKBP.</p>
<p>Dung tinangkasan angka bahan i, satolop do  Komisi laho paunehon goar ni &#8220;Ruhut Paminsangon di HKBP&#8221; gabe &#8220;Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon di HKBP&#8221;, hombar tu usul di  Sinode Godang taon 1984.</p>
<p>Sangkap  disi i ma,  asa hombar ulaon parmahanion i tu ruhutruhut ni paminsangon di bagasan  Huria ni Tuhanta. Asa marhite sian bahanbahan i ma Komisi  patomutomuhon rumusan na imbaru. Laos pinaandar dope muse hasil rumusan i  tu manang piga Distrik, isara tu Distrik Sumatera Timur  dohot tu Distrik Medan-Aceh laho rnangido tanggapan.</p>
<p>Dung i dipapungu jala dipadomu Komisi ma  angka pingkiran i muse di rapotna na parpudi ari 16-17 Januari 1987 di STT HKBP Pematangsiantar.</p>
<p>Di Sinode Godang HKBP Januari/Pebruari 1987  dijalo do Konsep on, sitotophononhon di Rapot Pandita Hatopan 1987. Laho padasiphon naskah konsep i diboan ma tu Rapot Pandita  HKBP sasadistrik bulan Agustus/September 1987, Rapot Praeses tanggal 8-11 September 1987 di Tarutung. Dung pinatomutomu saluhut  angka pingkiran i, dipatupa ma Konsep Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon di HKBP jala diboan ma tu Rapot Pandita tanggal 9-14  Nopember 1987.</p>
<p>Mansai  arga do pingkiran na pinatujolo ni  parrapot na marhaujungan tu sada ni roha mamutushon Konsep Ruhut  Pormahanion dahot Paminsangon di HKBP huhut manjalosa sah berlaku  di sandok HKBP dung diedit muse.</p>
<p>Asa on ma hasil parpudi sian angka proses  naung tinaringotan i huhut naung dijalo sah berlaku di HKBP.</p>
<p>Sai Tuhanta Jesus Kristus, ulu ni Huria i,  Ibana ma mangurupi hita manghangoluhon dohot mandalanhon Ruhut Parmahanion dahot Paminsangon di Huria Kristen Batak Protestan.</p>
<p><strong>Ephorus HKBP, Sipoholon, 9-14 Nopember 1987.</strong></p>
<h3> I.          PANGANTUSION  TARINGOT  TU RUHUT PARMAHANION DOHOT PAMINSANGON </h3>
<p><strong>Patujolo</strong></p>
<p>Pinuji ma  Debata Jahowa na tongtong marmahani  bangsoNa sian ari pamilliton najolo i sahat ro di sadari on. Ibana do na  mamillit jala manongos AnakNa Jesus Kristus, Parmahan na  denggan i (Joh. 10: 11).</p>
<p>Ro do  Ibana tu portibi on songon Parmahan,  ditanda do ganup soara ni na pinarmahanNa. Ibana do Parmahan na denggan.  Diseahon do hosaNa humophop angka birubiruNa. Dijaga do  hita sian ragam ni angka huaso na songon rumang ni babiat panoro na  naeng mamolgak hita gabe sirang sian Parmahan na denggan i.</p>
<p>Dijaga jala diramoti do HuriaNa na marragam i  songon i do nang hita di na rap mardalan dohot bangsonta Indonesia mandompakhon zaman na lam tu majuna rap dohot parungkilonna.  Sandok sasada Ibana do Parmahan na denggan na tuk padamehon, paluahon dohot pasadahon hita.</p>
<p>Torop do dipabangkit Ibana angka naposoNa  songon parmahan di tongatonganta, alai sai adong do i na so haposan.</p>
<p>Alai anggo Tuhanta Jesus diboan do hangoluan  na gok pasupasu di angka na pinarmahanna, jala ditulak do angka parmahan na so haposan nang na mamboan poda haliluon.</p>
<p>Ibana do nampuna  hita, dagingta dohot tondinta, ro di sandok artanta nang parsaoranta di parhusoran ni tingki i ma zaman na lam tu majuna. Ndang  loasonna hita mago molo tongtong tajugulhon umbege, mananda huhut mangihuthon soaraNa dohot dalanNa.</p>
<p>Ala  ni i gabe  margogo ma hita marpanindangion na mangolu maradophon angka huaso na  adong di tongatonga ni parsaoranta na marragam i di portibi  on, songon i nang maralohon angka debata sileban.</p>
<p>Ai hot do  pandohan ni Tuhan Jesus nang tu  hita sahat ro di sadari on na mandok: &#8220;Ditangihon angka birubirungKu do  soarangKu jala hutanda do nasida, diihuthon nasida do Ahu.  Gabe hulehon tu nasida hangoluan salelenglelengna; ndang be mago nasida  salelenglelengna jala ndang tarrampas manang ise nasida  sian tanganku&#8221; (Joh. 10: 27 &#8211; 28).</p>
<p>Ala ni i do diparmahani jala dipinsang Ibana  hita molo manimbil hita sian Hata dohot dalanNa.</p>
<p>Ai dilehon do patikNa tu hita na mamboan  ngolu na gok pasupasu asa tapangke i di bagasan holong maradophon dongan jolma.</p>
<p>Asa ingkon badia do angka na porsea i, ala  badia do Debata na manjou jolma tu harajaonNa (3 Musa 19: 2; Jes. 6: 3; Mat. 5: 48; 1 Pet. 1: 15 &#8211; 16). Ala ni i ma ingkon  sipasidingon ni na porsea i do dirina nang parsaoranna sian dosa dohot ulaon ni sibolis (1 Pet. 2: 1 &#8211; 2).</p>
<p>Tama do  ingkon unduk hita manjalo parmahanion  dohot paminsangon ni Huria i, ai tarajumi do. Debata sandiri na patauhon  hita marhite Hata dohot patikNa i, asa tau hita jongjong  songon halak na niasianNa jala na pinarbadiaan ni mudar ni Jesus naung  manobus hita gabe jolma na imbaru (2 Kor. 5:17), hubut  patorashon haporseaonta so hasurahan paima ro Ibana paduahalihon (1 Tes.  5: 23).</p>
<p>Asa ingkon rajuman do ia ulaon parmahanion  dohot paminsangon na pinatupa ni huria i, songon ulaula dohot dalan ni Debata do i laho pauliulihon huriaNa di portibi on (Mat.  18:15 &#8211; 18; 1 Kor. 14:26).</p>
<p><strong>1. Lapatan ni Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon</strong></p>
<p>Ia ruhut  parmahanion dohot paminsangon i, i  ma ruhut sidalanhononhon laho marmahani dohot maminsang na maralo tu  habadiaon ni huria i. Ingkon badia do huria i di portibi on,  ala ni i sialoon ni huria i do nasa dosa na niula ni ruasna unang gabe  pargasipan di huria i. Ai marhite Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon i togutoguon ma angka pardosa anggiat dipauba rohana gabe  mangolu ibana muse (Hes. 33: 11; 1 Kor. 5: 5).</p>
<p>Asa ia  sangkap ni Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon, i ma laho manogunogu dohot pauliulihon huria i. Dibahen i  ganup halak na padalanhonsa naeng manghangoluhon holong ni  roha, unang ma songon panguhum sambing ibana dirajumi, alai songon  parmahan do tahe na mangaramoti tondi ro di ngolu ni na  pinarmahanna (Hes. 3: 20; Mat. 16: 19).</p>
<p>Hombar tusi, adong  tolu pangalaho siingoton ni huria laho mandalanhon Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon tu pangalaosi:</p>
<p>a.         Manogunogu ruas ni huria asa marsihohot di holong ni Kristus Jesus.</p>
<p>b.         Manjaga asa polin huhut unang rarat dosa i di tongatongana. Ai marhite sian pinsangpinsang i naeng dipanghilalahon pardosa  i rimas ni Debata paboa na so jadi pasombuon parjahat i mian di bagasan hajahatonna.</p>
<p>c.         Marhite jamita, poda, tangiang dohot parmahanion do palumbaon halak na naeng mardosa asa dipasiding dosa i huhut dijamothon  dirina.</p>
<p>Asa magopo do nasa  paminsangon parhuriaon ia so nionjar ni holong ni roha nasida maminsang. Ai ndada na manorui umbahen dipinsang nasida alai na  mangurupi jala mangajari do. Anggiat marhite paminsangon i gabe mangolu tondi nang parsaoranna.</p>
<p><strong>2. Na mandalanhon Ruhut Parmahanion dahot  Paminsangon</strong></p>
<p>Huria do  na marmahani dohot na maminsang  angka pangalaosi marhite angka parhalado ni huria niuluhon ni pandita  manang wakilna. Ndada holan parhalado disi rajuman na  maminsang nasida alai tung sandok huria i do. Dibahen i tama do saluhut  nasida manjaga asa unang masa pangalaosion di huria. Ala  ni i ingkon saluhut do nasida patut palumbahon na naeng mardosa i.</p>
<p>Ndang sai  tarbahen sandok huria i marpungu,  sae ma holan angka na pinajolo ni huria i, i ma angka parhalado ni  huria. Di rapotnasida ma dipamanat ia adong sitangkasan manang  sipinsangon sian angka dongan na mangalaosi.</p>
<p>Ia i  ditotophon rapot i, i do putusna. Dung  putus panimbangon taringot tu paminsangon sibahenon tu parsala,  dipingkiri rapot i ma dalan pasingothon ibana huhut manangianghon  ibana. Ai umbahen dipinsang ibana asa saut do ibana malua sian  pangalaosion manang dosana gabe mangolu muse. Naeng ma botoon ni  parsala, sandok huria i do na patupahon paminsangon ala ni pambahenanna,  ndang roharoha ni parhalado na maminsang ibana.</p>
<p>Ndang  tagamon so unduk rohana, jala mabiar  huhut maila ibana, molo dihilala sandok huria i do na maminsang ibana.  Ndang jadi ginjang roha ni na maminsang, alai naeng ma  mardongan tangiang rapot i padalanhon pinsangpinsang tu pangalaosi i, ai  rap jolma na gale do hita hinaliangan ni dosa. Holan ala  asi ni roha ni Debata sambing do na mangaramoti hita, umbahen so madabu  hita tu dosa.</p>
<p><strong>3. Na hona Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon</strong></p>
<p>Sipinsangon  ni huria do angka nangalaosi,  partohonan manang ruas ni huria, i ma parpangalaho na maralo tu Hata ni  Debata na mangulahon dosa na patar manang na buni. Ia dosa  na patar i ma songon naung dipaandar di bagian III, IV, V, VI ni buku  on.</p>
<p>Alai maol  do botoon taringot tu dosa na buni.  Masuk tuson do angka hasalaan na manggagat songon burbur, gabe songon  tasik ni bosi na maol longkangan, na pola tahe sai diampini  halak hasalaan i.</p>
<p>Mansai  jorbut do panghorhon ni dosa na buni,  pola dipartahanhon jala dihalomohon halak laho mangulahonsa ai gabe  utang i dihilala rohana molo so diulahon hasalaan i. Sipata do  angka halak sisongon on martopenghon kebudayaan manang ekonomi laho  mangulahonsa, ai sai adong do hagogoon na manait rohana, gabe  lam madabu jala mago ma haporseaon dohot ngolu partondion dohot ngolu  parhuriaonna. Debata do na manguhumi pangalaosion na buni.</p>
<p><strong>4. Siingoton ni na mandalanhon Ruhut  Parmahanion dohot Paminsangon</strong></p>
<ol type="a">
<li>Ia angka na    mandalanhon Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon, naeng ma na mangalehon tingkina dohot rohana songon parmahan na pauliulihon    tondi ni pangalaosi i unang ma songon panguhum.</li>
<li>Ndang sintong pardalan ni Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon, ia    pintor dihudus mandabu paminsangon so jolo ditopot jala ditangkasi hasalaan i (hurang hatorangan na tangkas/bukti).</li>
</ol>
<p>Unang  ma  dipaujung paminsangon i marhite na holan sahali marrapot, alai naeng ma  dua tolu hali. Molo maol dihatai, unang tompu, ai dokdok  do ulaon manguhumi.</p>
<p>Asa tagan so diputushon dope  paminsangon i, naeng ma jolo tangkas dapot hatorangan pambahenan ni pangalaosi i ro di alana umbahen dilaosi ibana patik ni  Debata. Jumolo ma begeon hatorangan i sian pangalaosi i sandiri, ndang sian halak na asing.</p>
<ol type="a">
<li>Unang ma masidokdoki didalanhon paminsangon i. Unang mamilimili    manang marnida bohi laho padalanhonsa.</li>
<li>Unang ma dipangke (diperalat) Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon    i laho pasombu tagas mamaloshon manang paduruhon dongan, tarlobi molo adong parsalisian dohot hamaolon di huria.</li>
<li>Ingkon di bagasan holong ni roha ma angka na    mandalanhon Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon i.</li>
</ol>
<p><strong>5. Ruhut ni paminsangon</strong></p>
<p>Naeng do mansai jamot patulushon paminsangion  asa tongtong marsaringar tondi parmahanion nang panogunoguon i, ndada naeng patubuhon hansit ni roha, baliksa asa ditundalhon  hasalaanna, jala asa lam marsangap Debata siala hamubaon ni rohana i.</p>
<p>Nang pe  dos sude dosa, ndang adong na metmet  dohot na balga, alai marningot tondi parmahanion dohot panogunoguon na  adong di Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon, nunga porlu  adong bahenon tirket ni paminsangon i.</p>
<p>Deba dosa  pangalaosion nunga tuk pinsangon  holan marhite sipasingot di jolo ni parhalado, deba marrumang uhuman na  adong hatontuanna (hukuman bersyarat), jala na umborat  ndang tarjua so pabalion sian huria. Marhite i diondolhon disi tujuan  manang fungsi parmahanion, pangajarion dohot panogunoguon ni  Ruhut Paminsangon di huria i.</p>
<p><strong>6. Siingaton ni huria maradophon na hona  pinsang, tagan di bagasan ruhut paminsangon</strong></p>
<p>Tongtong  do sihobasan ni huria panghobasion  parmahanion tu angka na hona pinsang, ai ndang lomo roha ni Debata mida  hamatean ni parjahat. (Hes. 33:11). Ndang jolma  sapalsapal/na so marguna, jala ndang songon musu nasida rajumon. Diingot  Pandita, Guru, Sintua, Evangelis, Parjamita Ina, Diakones  dohot natorop ma manangianghonsa, ai ingkon ingoton do, umbahen  dipinsang huria ibana, anggiat mulak nian ibana sian haliluonna.  Ala ni i sitopoton do ibana, sipaingoton nang pe jogal rohana. Ingkon  naeng hilalaonna holong ni roha ni parmahan i di ibana,  anggiat olo gabe dauk rohana. Naeng do mulak parjahat i tinalahon ni  holong ni roha. Manang beha pe uhum dihonahon tu parsala,  jadi do ibana marminggu, siarahononhon do tahe, anggiat unang  ditadinghon parmingguon i. Ai beha ma ibana mulak ia so jolo  ditangihon Hata ni Debata.</p>
<p>Alai tutu  di balian ni huria do ibana rajumon  (l Kor. 5:11; 2 Tess. 3:6; Tit. 3:10). Naeng do dipanghilalahon huria i  tu parsala i asa ditanda ibana hahuranganna paboa na so  haposan ibana, ndang sitangihononhon dope hatana di huria. Saleleng  adong dope ruas ni huria di bagasan paminsangon, songon utang  ma i di na sahuria i. Ndang jadi mansohot nasida mangalului dalan  manogunogu na lilu asa mulak tu hasintongan.</p>
<p>Taringot tu na hona Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon:</p>
<p>a. Naeng ma jolo adong boaboa.</p>
<p>b. Molo parhalado do na mangalaosi i, naeng ma  botoon ni Praeses na masa i.</p>
<p>Nasa Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon na  pinadalan ni huria tu sasahalak ruas ni huria, sisuraton do i tu notulen dohot tu buku Parmahanion dohot Paminsangon.</p>
<p><strong>7. Panjangkonon ni huria di parsala na naeng  mulak</strong></p>
<p>Rade do  tongtong huria i manjangkon haroro ni  parsala na naeng mulak i, ai marhite i lam moru ma utang ni na sahuria i  maradophon Parmahan Na Sumurung i, i ma Tuhan i. Parbue  ni tangiang dohot ulaon ni huria do na pinataridahon ni sangkap ni  parsala na naeng mulak i, ala naung marpanghorhon i tu diri ni  parsala i.</p>
<p>Dapothonon  ni parsala na naeng mulak i ma  pangula ni huria dalan pabotohon sangkapna naeng mulak. Urupan ni  pangula ni huria ma ibana laho manurathon pangidoanna i, asa  adong siboanon tu rapot ni parhalado na niuluhon ni pandita manang  wakilna. Dung denggan ditimbangi rapot pangidoanna i, paboaon  ma i muse tu ibana, asa rade ibana umbege hata ni tingting panjangkonon  di bagasan parmingguon.</p>
<p>Sihobasan  ni guru huria dohot pandita ma  ulaon panjangkonon i di tongatonga ni huria, di jolo ni Parmahan na  Sumurung i. Ai nunga saut be parsaoran na ginohan ni holong ni  roha ni Debata na patut sihalashononhon songon ari na balga, ari  pardamean di sandok huria i.</p>
<p>Taringot  tu panjangkonon di halak na matemate  ne: Boi do jangkonon mulak tu huria halak na hona pinsang naung matemate  ne, molo dipatuduhon unduk nang hamubaon ni rohana dung  ditangkasi pandita hinasintongna. Jala na boi do pasahaton tu nasida  Ulaon na Badia; songon i nang molo monding nasida, boi do  antoan ni huria hombar tu panangkasion ni panditana.</p>
<p>Taringot  tu panjangkonon di parhalado ni  huria: Molo hona Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon sasahalak;  partohonan di huria. alai nunga dipauba rohana jala dijangkon  huria i parsitutuon dohot hatauonna, boi do nasida sumuang manjalo dohot  mangulahon Tohonanna muse molo so pola mambahen gasip tu  huria i.</p>
<h3> II.          PARTORDINGNA LAHO MANDALANHON RUHUT PARMAHANION DOHOT PAMINSANGON</h3>
<p><strong>1. Pangalaho ni parmahanion dohot paminsangon i</strong></p>
<p>Tangkas do  diajari Tuhan Jesus siseanNa  taringot tu parmahanion i, ai didok do di Joh. 21:17 tu si Petrus:  “Parmahani ma angka birubirungKu”. Jala di Mat. 18: 15 &#8211; 17  didok: &#8220;Molo mardosa donganmi, topot jala ajari ibana. holan hamu padua.  Molo ditangihon ho, dapot ho do ibana gabe donganmu muse.  Alai anggo so ditangihon ho, arahon ma donganmu sada manang dua, asa  hinatindangkon ni dua manang tolu halak nasa hata. Alai molo  so ditangihon nang nasida, paboa ma tu na sahuria i. Molo so ditangihon  nang huria i, etong ma ibana songon parbegu&#8221;.</p>
<p>Ala ni i tagan so saut dope mardosa  sasahalak, patut do mardalan parmahanion asa unang masa nian na bali manang haruar sian huria i.</p>
<p>Ala  marsibalgai do panghorhon ni sala manang  dosa i, naeng ma manat angka parhalado manimbangi asa unang masa uhum na  borat tu parsala na ummetmet, hape numeang tu parsala na  umbalga.</p>
<p>Ai  ragam do dosa i.  Adong do i dosa na so tinuntun, dosa ala na tarpaksa, dosa ala ni na  ginintalan, dosa na tarsor, adong muse dosa naung sinangkapan  hian, nang na tinuntun pe.</p>
<p>Anggo  panghorhon ni dosa manang pangalaosion  i, manorusi do i sahat tu harohaon ni jolma (kejiwaan), parsaoran di  masyarakat, songon i nang tu sundut na mangihut nang tu sude  jolma pe. Dilehon Tuhan Jesus do huaso tu angka siseanna i manesa dohot  pahothon dosa ni angka pardosa marguru tu dosanasida be  (Mat. 16:19; 18:18; Joh. 20:23). Alai sijangkonon do mulak pardosa tu  tongatonga ni Huria marhitehite na papatarhon hasesaan ni  dosana di Huria i.</p>
<p>Balga do  asi ni roha ni Tuhan Jesus  manjangkon pardosa na manolsoli rohana; alai laos balga do uhum nang  rimas ni Debata dompak halak na jogal roha dohot pangansi.  Molo dihaburjuhon Huria i maminsang angka pangalaosi, lam ias ma  parsaoran i, gabe denggan pangalahona, tau sitiopon ni angka na  so tang dope haporseaonna. Badia ma Huria i nang idaon ni angka parugamo  na asing molo dipadao pangalaho ni angka siparsala i.  Alai molo dipasombu do, ramun ma Huria ni halak Kristen di roha ni angka  parbegu nang parugamo na asing.</p>
<p>Asa na ringkot do uhum parhuriaon, ai  pangajarion do i mangaramoti dongan, huhut manonggoti parsala di salana dohot manogunogu nasida mulak tu Debata.</p>
<p>Sitogutoguon  do ruas laho mananda  hahuranganna, manang dosana na buni, manang dosa hasianna (dosa na so  tartinggalhonsa). Hata ni Debata do na boi maminsang dohot  manogunogu ibana asa margogo manadinghon dosa i, so pola ala pinadapot  ni Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon. Boi do hita so  dapot ni aturan ni jolma, alai patar do ianggo di jolo ni Debata.</p>
<p>Hinorhon ni i naeng ma ganup hita mangoloi  Debata, asa unang manghorhon mara di tondinta, di ngolunta, di keluarganta nang di parsaoran masyarakat, ai taboto do ndang  hagabusan hita Debata.</p>
<p><strong>2. Tanggatangga siingoton laho mandalanhon  Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon</strong></p>
<p>Taringot  tu tirket ni pangalaosion: adong na  dipaingot, adong do na dischorsing, adong do nang na dipecat.  Mangihuthon Buku na Badia i, adong do 5 (lima) tangga siingoton ni  huria laho mandalanhon Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon.</p>
<p><strong>a. Panogunoguon/panorangion tu Huria.</strong></p>
<p>Porlu do bahenonta panorangion di  pangantusion ni lapatan dohot tujuan ni Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon.</p>
<p>Asa molo  madabu uhum, unang dirajumi ruas i  songon paksaan dohot uhuman sambing, alai tanggungjawab ni sandok ruas  do mangargahon dohot padalanhon Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon i. Ingkon dihilala ganup ruas ni Huria do, ia Ruhut  Parmahanion dohot Paminsangon i dalan ni Huria i do i mangaramoti,  marmahani, papitahon Huria i dohot manogunogu ganup halak tu ngolu na  Kristen na marojahan tu Hata ni Debata (2 Tim. 3: 5; Kol.3:  16-17).</p>
<p>Denggan do sude ruas ni Huria mangantusi jala  umboto Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon i marhitehite boaboa, ai naeng ganup nasida rade manjalo ruhut na mangonai tu nasida  manghorhon tu hamubaon ni roha.</p>
<p>Naeng  do ganup ruas  ni Huria umboto jala mangantusi lapatan ni Patik ni Debata, lumobi  pangajarion di angka na naeng manghatindanghon haporseaonna. Ai  tung so denggan do madabu pinsangpinsang tu sada ruas ni Huria hape na  so diboto do na sala pambahenanna i.</p>
<p>Ala ni i patut do:</p>
<p>1.      Togutoguon  do ruas ni Huria i tu habuluson mulaulaon (2 Tes. 3:12) jala unang diula ulaon na maralo tu Hata ni Debata.</p>
<p>2.      Togutoguon   do ruas ni Huria asa nasa pambahenanna bahen hasangapon dohot pujipujian  tu Debata, isarana marhite tumpakna, peleanna, guguanna  tu Huria dohot parsaoranna tu masyarakat na humaliangsa. Angka ulaon  sisongon i do mambahen angur hakristenon gabe tartogu ganup  halak laho pasangap Debata (1 Kor. 10:31; Rom 14:18).</p>
<p>3.      Nang   parhalado ni Huria pe patut do togutoguon umboto Aturan ni Huria,  Konfessi nang Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon ni Huria asa  unang adong na sala padalanhonsa.</p>
<p><strong>b. Sijagahononhon</strong></p>
<p>Sijagahononhon  do: Angka pingkiran dohot  sangkap na paholang hita sian Debata dohot sian Hata na Badia i, angka  na naeng manirang hita sian Huria dohot angka roha na  manegai/mangalo dos ni roha (Rapot) ni huria i. Molo adong pangalaho na  masa di masyarakat umum na maralo tu Patik dohot  haporseaon ni Huria, manang hagogoon na naeng manuruk tu tongatonga ni  Huria, isarana, hamajuon saonari marhite hasipelebeguon na  modern, na mamboan pelean parsantabian (sesajen), mambahen  parsaoran/panghataion dohot angka na monding, ulaon pesta adat na  nirajuman pangalapan tua na so mardomu tu parbue ni haporseaon, hamoraon  dohot hasangapon tu diri na so marojahan tu Hata ni  Debata, songon i nang na mambahen Almanak gabe parhalaan, pengguguran  kandungan dengan sengaja, kumpul kebo, korupsi, pinda ndang  mamboan surat parhuriaonna dohot angka na mangulahon tortor  hasipelebeguon dohot angka na suman tusi (Epesus 5:1 1).</p>
<p>Sisosohononhon  do tu natoras ni dakdanak na  pasikolahon ianakhonna tu parsikolaan ni parugamo na asing asa  dijamothon nasida di sikola i unang gabe lipe (muba) haporseaonna.</p>
<p><strong>c. Sipasingothononhon</strong></p>
<p>Di Mat.  18:15 &#8211; 17, torang do didok Tuhan  Jesus tu angka siseanNa, asa tangkas dipaingot jala diajari halak na  marsala i marhite na manopot sahali ro di dua hali, asa unang  ditorushon dalanna na sala i. Asa ndang manigor padalanon paminsangon  (hukum percobaan) tu halak i so jolo ditopot. Tagan so saut  dope mardosa na naeng mardosa i, molo binege baritana, tinopot ma ibana  jala pinodaan. Godang do halak na olo manangihon  lumbalumba gabe ndang saut nasida mardosa. Molo manigor madabu uhum tu  sada halak so jolo pinalumba ibana, sala do Huria i disi,  jala dihasogohon Debata do sisongon i. Molo so ditangihon soara ni na  palumba ibana, jinou ma ibana tu jolo ni Pandita asa  dipaingot. Molo ndang ditangihon be, diarahon Pandita i ma dua nari  donganna pasingothon ibana. Molo tong jogal rohana manulak  hata sipaingot i, niarahon ma ibana tu jolo ni rapot Parhalado, asa disi  pinaboa tu ibana uhum na tama. Ia manigor unduk rohana  manopoti hasalaanna jala ditundalhon, hata sipaingot na tu ibana di jolo  ni rapot i, i nama hasaeanna.</p>
<p><strong>d. Paminsangion (masa ujian, percobaan,  schors)</strong></p>
<p>Andorang so pinadalan paminsangion i sipatupaon  ma:</p>
<p>d.1. Sipaingoton do na marsala i 2 (dua) ro di  3 (tolu) hali paboahon hasalaanna.</p>
<p>d.2. Boanon ma ibana tu Rapot Parhalado na  niuluhon ni Pandita Ressort manang wakilna.</p>
<p>d.3. Bahenon ma surat resmi sian Huria tu  ibana.</p>
<p>d.4. Tingtinghononhon ma di Huria.</p>
<p>Siramothononhon do di Rapot Parhalado, sotung  maposihu uhum i gabe mandele ibana; manang maneanghu gabe langgus rohana. Ala ni i ingkon jamot do panimbangion i. Molo so  tarpaujung be, diboan ma hata i tu Rapot/Sinode Ressort.</p>
<p><strong>e. Pabalihon parsala sian Huria</strong></p>
<p>Ia uhum tu  na so olo tumadinghon  pangalaosionna manang dosana, i ma sipabalion sian Huria manang sadia  leleng. Lapatanna: ndang taruli be ibana di angka arta ni  Debata, ndang jadi marulaon na badia. Molo satahi amanta i dohot inanta i  di hasalaan i, ndang dongan Kristen be nasida rajumon,  ndang tardidi dakdanakna, ndang lehonon suratsurat hatorangan tu nasida.  Ndang haposan, ndang dohot ibana marsoara di parpunguan  ni halak Kristen, ndang jaloon guguan Huria sian ibana.</p>
<p>Dohonon ni  Pandita i ma tu ibana, na so  tarbahen sesa dosana. Sitingtingon do di gareja nasa sipabalion  (partohonan manang ruas), bahen lumbalumba tu Huria i jala  sunggulsunggul, anggiat unang masa be pangalaho sisongon i. Ndang jadi  dandoon parsala i songon ruhut harajaon, unang dirimpu  halak, tarsesa dosa bahenon ni hepeng. Ndang pola sipaluon giringgiring  laho pabalihon pardosa i songon tu na mate. Ala nunga  disoadahon halak on be hakristenonna di hata nang di ulaon, nang di  pambahenan, jala ndang parduli di pinsangpinsang, etongon ma  halak on songon parbegu, pabalion ma nasida sian Huria.</p>
<p><strong>3. Na padalanhon Ruhut Parmahanion dohot  Paminsangon i</strong></p>
<p>a         Molo ruas do na marsala i, Rapot Parhalado do mambahen paminsangon i tinolopan ni Pandita.</p>
<p>b         Molo partohonan do na marsala i, Rapot ni donganna satohonan do mambahen paminsangon i:</p>
<p>b.1. Tu Sintua, donganna Sintua na sahuria i do manimbangi niuluhon  ni Pandita.</p>
<p>b.2. Tu Diakones, donganna Diakones ma manimbangisa niuluhon ni  Praeses.</p>
<p>b.3. Tu Guru Huria, angka donganna Guru sa-Distrik niuluhon ni  Praeses do mambuat haputusan.</p>
<p>b.4. Tu Parjamita Ina (Bibelvrouw), donganna Bibelvrouw sa-distrik  niuluhon ni Praeses do mambuat haputusan.</p>
<p>b.5. Tu Evangelist, donganna Evangelist ma manimbangi niuluhon ni  Praesesna.</p>
<p>b.6. Tu Partohonan Pandita songon on ma:</p>
<p>b.6.1. Hasalaan na mardomu tu  administrasi, Pucuk Pimpinan ma padalanhon paminsangon i.</p>
<p>b.6.2. Molo hasalaan na mardomu tu tohonan do, Rapot Pandita  sa-Distrik na niuluhon ni Praeses niadopan ni Ketua Rapot Pandita do manimbangisa.</p>
<p>b.6.3  Molo na  mardomu tu poda haporseaon do, Rapot Pandita Hadomuan ma manimbangi dohot padalanhon paminsangon i.</p>
<h3>III. RUMANG NI PANGALAOSION NA MARALO TU PATIK NI DEBATA</h3>
<p>Marhite panandaonta di Patik ni Debata di  bagasan Buku na Badia i dohot Konfessi ni Hurianta lam nalnal do idaonta angka rumangrumang ni dosa sipasidingon (paheba 2 Musa  20; 5 Musa 5; Mat. 5 &#8211; 7).</p>
<p><strong>1. Mangonai tu Patik Parjolo dohot Paduahon  (Pangoloion di Debata).</strong></p>
<p>a.      Mambahen butti tu haumana (mamele boras pati ni hauma/keramatna),  manjujur ari, mangupa tondi, pasigathon rasian ni  tanganna tu datu, manungkun parsorion tu ahli nujum, umpeop ulos ni  tondi, umpeop Piso manang hujur ni begu, mangondaondai,  manahui tua sian na mate, porsea di tona ni natuatua na maralo tu Hata  ni Debata, padalanhon juhut tata andorang so borhat bangke  ni na mate tu kuburan (begu ni na mate i do dirajumi na manggalang).  Martonggo di tingki mangarapot, marhajinjang paulak jual tu  jabu tingki matean, papurpur sapata di parmonding ni halak na punu (na  so mardakdanak baoa) manang na mate ponggol (so sanga  sohot) dohot tortor na marlaok hasipelebeguon.</p>
<p>b.      Na manortori, na manulangi manang manganapurani holiholi na  niongkal, na mangalap tondi ni na marsahit (di tingki  tarsonggot, tinggal ninna tondina di inganan i), na mardebata idup, na  marsomba tu tunggal panaluan dohot pohung, begu, na palaho  parsili dohot sipaimbar, na mansaem (mambahen saem, asa intap ni i), na  pauli parpagaran, na marsanti, na marmanuk di ampang (na  manungkun dia ma na naeng masa tu ngoluna), patupa partahanan ni daging  (alemu), mandabu aji, na mandohoti ulaon hasipelebeguon,  na mangapus hoda, na marbonang manalu, mamiahi hoda, marmiak manuk, na  mangalahat horbo na marojahan tu haporseaon hasipelebeguon,  mangallang babi pangambat, babi panungkol, pamispison, dohot angka na  suman tusi. Suang songon i molo gabe ruas ni partei manang  aliran ni sisoadahon Debata.</p>
<p>c.      Na marsomba tu mulajadi na bolon, debata asiasi, debata Batara Guru, marsomba tu soripada, debata mangala bulan, i ma na  marurat di ugamo hasipelebeguon.</p>
<p>d.      Na mardebata arta (isara ni: mammonisme, materialisme, konsumerisme, kapitalisme) na maralo tu Hata ni Debata, songon i  nang angka rumang ni &#8220;parbinotoan&#8221; na marojahan tu hasipelebeguon, nang rasialisme, sekularisme, panatisme na maralo tu Hata ni  Debata.</p>
<p><strong>2. Mangonai tu Patik Patoluhon (Manggoari  Debata).</strong></p>
<p>I  ma na  mamurai manang margapgap manang manolonnolon manang marujarujaran na roa  marhite goar ni Debata. Songon i na mansoadahon ugamo di  tongatonga ni parugamo na asing. Jala ingkon tangkas do hita martangiang  di bagasan goar ni Tuhanta Jesus Kristus Ulu ni Huria i.</p>
<p><strong>3. Mangonai tu Patik Paopathon (Pabadiahon  ari Minggu).</strong></p>
<p>I ma na losok  marminggu, mangula manang papinjamhon artana pola  sundat marminggu, na paloashon bidat (parhaporseaon na asing sian HKBP)  marjamita di jabuna (asing ala paradaton), mangadati di  ari Minggu, parhalado na padalanhon haputusan so tinolopan ni Pandita  Ressort manang wakilna, Rapot ni Parhalado manang ruas na  manimbil sian aturan/paraturan ni HKBP, na manggaori parmingguan,  mangulahon ulaon sakramen sian na so pandita, na paloashon bidat  marjamita di huria.</p>
<p>Na  so  manggarar guguan na tama di Huria, na so olo padidihon anakhonna, na  manjalo pandidion paduahalihon (baptisan ulang), na so  marsuru dakdanakna tu parguruan laho manghatindanghon haporseaon, na  mansoadahon ugamona di jolo ni halak, na manginsahi parminggu  dohot na marulaon na badia. Songon i do nang partohonan na sala  mangulahon tohonanna. Ganup halak na mangulahon ragam ni na sala  i, sitimbangan ni Rapot Parhalado do i.</p>
<p><strong>4. Mangonai tu Patik Palimahon (Pasangaphon  natoras ).</strong></p>
<p>Angka na so pasangaphon natorasna:</p>
<p>a.    I ma na pahatahatahon manang manihasnihasi natorasna, na mangogai natoras, na so mardongan pangoloion, na mamboan parkaro  manang parsalisianna tu jolo ni na so porsea, isara ni parbadaan ni ruas ni Huria sama nasida, tarmasuk ma i na marsaripe na  panirangnirangon, na marhu ni roha mida natuatua.</p>
<p>b.    Na mamurai natorasna, na mangonai tangan tu natorasna. na palaholahohon natorasna. Ndang olo marmudumuduhon ala naung  matua, na mangarampas ugasan ni inana panoroni.</p>
<p><strong>5. Na mangonai tu Patik Paonomhon  (pamunuon).</strong></p>
<p>a.    I ma na mangarsalu donganna manang mambahen tihasna, mamunghuli donganna jolma, parmabuk/sisobur tuak, alkohol. sigadis  narkotika. morpin dohot ganja, pasiaksiakhon na tinompa (pinahan nang angka binatangbinatang).</p>
<p>b.    Na mamusa donganna. na manggadami, mangardomi, mandormai donganna, paborhaton pangulubalang dohot paihutihut donganna tu  ulaon sisongon i nang angka na maniop rasun.</p>
<p>c.    Na maningkot dohot abortus provocatus (pengguguran kandungan).</p>
<p><strong>6. Mangonai tu Patik Papituhon  (pangalangkupon).</strong></p>
<p>a.    Marroharoha (sangkap na roa) tu halak na asing.</p>
<p>b.    Na tois marabit; na gere/gemor mangkuling. Parhata <a href="http://barangsi.na/" target="_blank">barangsi.na</a> girgir manonton film porno (sisungguli hagiot ni daging).</p>
<p>c.    Na mangabing, na paabinghonsa. germo dohot boruboru si babi  jalang (WTS). na marlangka pilit. na marsiduadua. na palahohon  jolmana, na mahilolong, ro di angka na mangurupi di ulaon na jat i.  Songon i muse na homo sex (parmainanon ni baoa tu baoa) dohot  lesbian (parmainanon ni boruboru tu boruboru). hahisapon dohot nasa  ulaon hailaon (Rom 1: 24-27).</p>
<p><strong>7. Mangonai tu Patik Paualuhon (panangkoon  ).</strong></p>
<p>a.    I ma na mamogo tongosan, pardasing na mangansi, pangemur, pancopet, na matorbanghu pabungahon hepengna, ijon, silansumhon  boniaga (digadis na so boniagana), panangko, terpidana, korupsi.</p>
<p>b.    Na somal manangko, manjalo na tinangko, mamogo hepeng ni halak, na satahi dohot panangko, mangangati, pandobo, panodong,  pambongkar, pamorus (sitangko haminjon &#8211; pambarobo &#8211; sitangko suansuanan).</p>
<p>c.    Penyanderaan/penculikan.</p>
<p><strong>8. Mangonai tu Patik Pasiahon (sitindangi  gabus).</strong></p>
<p>I ma na marhata tundal dohot  manghatindanghon na so tutu di jolo ni jolma, papeolhon uhum, manolon na so tutu, na mambahen surat agong (surat kaleng).</p>
<p><strong>9. Mangonai tu  Patik Pasampuluhon (panghaliangion ni roha di arta dohot jolma).</strong></p>
<p>a.    Ima na mamolamola naposo ni dongan, na marmitmit/marmihimmihim.</p>
<p>b.    Manghaliangi ugasan ni dongan, lumobi ugasan ni na metmet, na pogos manang na mabalu, mamolamola dongan saripe ni dongan,  mangalehon pokok tu parjuji manang manjabuisa, na paorot tuhe ni parbalohan dohot talutuk.</p>
<p>Pangalaosion  na gabe gasip di Huria, ingkon tangkas do timbangon ni  Rapot Parhalado, ai asingasing be do roha ni pangalaosi i. Tupa do masa  pangalaosion i ala ni tois ni rohana, alai adong do i ala  tarsor ibana.</p>
<p>Ingkon sasoara sandok parhalado maminsang angka parjahat sisongon i,  unang rarat hajahaton i. Ramun do barita ni hakristenon molo dipaula so diida Huria i dosa na masa.</p>
<h3> IV. ANGKA RUMANG NI PANGUNJUNAN NA BOI PAHOLANG NGOLU SIAN HAKRISTENON</h3>
<p><strong>1. Parbagason.</strong></p>
<p>Dung  ditompa iolma i, didok Ibana ma: &#8220;Ndang  jadi punjung jolma i; Hubahen ma di ibana sada pangurupina bahen  donganna&#8221; (1 Musa 2:18). Angkup ni i didok Tuhan Jesus do di Mat.  5:32: &#8220;Ganup na palahohon na niolina, ia so ala ni na marmainan, na  palangkuphonsa do. Pangalangkup do nang na mambuat na sirang  i&#8221;. Antong na pinadomu ni Debata, ndang jadi sirangon ni jolma. Hombar  tu ruhut habadiaon dohot partanggungjawaban di parsaripeon  ni hita halak Kristen, diaturhon hurianta ma :</p>
<p>a.          Molo naeng mamungka pardongan saripeon, ingkon jolo tuk do umur ni baoa i 19 (sampulu sia) taon, jala boruboru i 16  (sampulu onom) taon. Hombar do i tu na niaturhon ni pamarenta Republik Indonesia di Undang-Undang Perkawinan. Molo asing sian  hatontuan i (isara ni umur, tingki, panolopion ni natoras dohot pangalaho na asing), holan Praeses di Distrik i do na boi  mangalehon dispensasi.</p>
<p>b.          Sipatupaon do parmahanion, patoranghon lapatan dohot tanggungjawab di parsaripeon ni halak Kristen tu pangoli dohot oroanna  andorang so tingki pamasumasuon parbagason i.</p>
<p>c.          Ndang hatolopan parsaripeon di ruhut hakristenon :</p>
<p>c.1.  Di sada halak  baoa dohot inana panoroni.</p>
<p>c.2. Sahalak baoa dohot ibotona, nang dohot boru ni namboruna  tangkas, nang mariboto sian inang na marpariban tangkas.</p>
<p>c.3. Na ginoar dua pungga saparihotan, mandok dua baoa na  martinodohon mangoli tu dua boruboru na  martinodohon.</p>
<p>d.          Dung dipatupa partumpolon di bagas huria manang di kantor huria  manang di gareja (di adopan ni keluarga na solhot dohot  sintuana) ingkon jolo ditingtinghon do dua hali ari Minggu, i pe asa  manjalo pasupasu parbagason. Molo ingkon sahali tingting ala  ni alasan na mamaksa, ingkon sian Pandita Ressort do jaloon panolopion  (dispensasi) tusi. Nang pamasumasuon di ari Minggu ingkon  sian panolopion ni Pandita Ressort do i, ala naung tangkas dipamanat  nasida sialana.</p>
<p>e.          Pandita do na pasahathon pamasumasuon tu na marbagas di gareja.  (molo ingko di pasupasu di huta, dipasahat Pandita i ma  ulaon i tu Guru Huria manang tu Sintua). Ianggo catatan sipil urusan ni  pamarenta do i. Alai ingkon paingoton ni Huna do. sotung  tarlalap na naeng marbagas i, ndang pasurathon parsaripeon nasida tu  catatan sipil. Ala ni i, 4 (opat) ari dung tingting  paduahalihon, i pe asa patupaon pamasumasuon di na naeng marbagas i.  Alai na boi do Praeses manimbangi, molo ingkon humatop sian  i.</p>
<p>f.            Tarpatupa do pamasumasuon di gareja tu na maiturun/mangalua molo:</p>
<p>f.1. Adong surat sian Pandita, paboa naung jolo sian panangkasion ni  Pandita pangaluaon i, paboa na so adong ulaon nasida na maralo tu Huria dohot adat.</p>
<p>f.2.   Adong surat panolopion sian paranak dohot parboru, manang  sian pangamai (wali).</p>
<p>f.3. Ditangkasi Pandita i ma sipasupasuon i. Tung sura ndang  panolopi natoras manang pangamai (wali) pe, ianggo dung tuk umur ni baoa i nang boruboru i duapulusada taon be, boi do nasida  pasupasuon (patudos tu Undang-Undang  Perkawinan R.I. No. 1/74).</p>
<p>g.    Ndang jadi mambuat boru sahalak baoa na pasiranghon, saleleng  somuli dope tungganeboruna hian. Tarpasahat do tu ibana pasupasu parbagason, manang molo lias ibana sian hasalaan siala ni  parsirangon i, manang molo naung sidung uhum parhuriaon. Suang songon i do nang tu boruboru na sirang.</p>
<p>h.     Sipabalion do sian Huria halak parsiduadua. Molo dung sirang  tungganeboruna parpudi jala muli muse tu na asing jaloon ma halak i  marguru manopoti, asa dijangkon mulak tu Huria. Ianggo ina na  tinindian dohot tubuna hot do parhuriaonna, molo so parolopi di sangkap  ni ama i laho marsiduadua. Dung muli panindi i tu halak na  asing, jala holan sasadasa niolina, boi ma nasida jaloon marguru  panopoti.</p>
<p>i.     Ingkon jolo marujung do parguruan ni halak na manopoti sala  jala dijangkon mulak, asa boi antoan ni Huria i nasida songon na tama tu ruas ni Huria. Molo adong pangalaho na so tinagam  (mendadak) isara ni parsahiton, une ma dihatai parhalado i asa boi ditontuhon pangantoion ni Huria tu nasida.</p>
<p>j      Ndang haoloan Huria mangantoi parbagason ni sahalak ama na  mabalu, ia so jolo salpu 6 (onom) bulan dung monding hinabaluhonna. Suang songon i nang tu ina na mabalu sataon ma anggo tu  nasida. Alai molo ala na adong do dakdanak na tading di lampin (marumur di toru ni dua taon), Praeses do na boi mangalehon  panimbangion (dispensasi); alai partoru ma dung salpu tolu bulan.</p>
<p>k.    Sipinsangon do parsaripeon roharoha na digoari kumpul kebo  manang samen-leven, nang na ginoaran kawin kontrak pe.</p>
<p>l.      Sitingtinghonon do na so etongon be ruas ni Hurianta halak  namarsaripe di balian ni Huria, na marsaripe holan marhite catatan  sipil, manang ala na parugamo na asing pe hamulianna, manang  niolina umbahen diulahon songon i (ida 1 Kor. 7:12 &#8211; 13 + 39). Alai  tarjalo do nasida mulak tu Huria dung jolo ditolopi rapot ni  parhalado jala dung marguru manopoti.</p>
<p>m.   Sipinsangon do parsaripeon na holan manjalo pasupasu raja.</p>
<p>n.    Tarpatupa do pandidion tu anak na niain, dung adong keputusan  sian pengadilan negeri siala anak na niain (anak angkat) i.</p>
<p>o.    Sipabalion do halak na mangoloi sirang parsaripeonna tung pena  sirang sian pengadilan, ia so sinirang ni hamatean manang ala parmainanon.</p>
<p>p.    Boi ma pasahaton pandidion na badia tu tubu ni panindi, dung  sidung mandohoti parguruan manghatindanghon haporseaon.</p>
<p>q.    Boi do pasahaton pasupasu parsaripeon, molo masihaholongan  anak/boru ni Huria i dohot boru/anak na ro sian na asing, molo olo parugamo na asing i gabe Kristen marhitehite na manjalo  pandidion na badia. Alai ingkon tanda tangananna do parjanjian, paboa na rade ibana manorushon parguruanna, dung sidung  pamasumasuon i.</p>
<p>r.     Sitiroan, sitogutoguon, siramothonon jala sipinsangon ni  Huria do unang masa homo sex dohot lesbian.</p>
<p>s.    Sitogutoguon do ruas ni Huria i, jala gomos paboaon tu nasida,  paboa na rap marhak do anak dohot boru di arta warisan tinadinghon ni natorasna (Gal. 3: 28).</p>
<p>t.     Molo naung jumolo ama monding maninggalhon ina na maranak  marboru, unang ma dibagibagi arta warisan molo metmet dope angka dakdanak i. Alai na boi do lehonon ni ina i panjaean ni angka  gellengna na magodang hombar tu ringkotna.</p>
<p>u.    Molo jumolo ama manadinghon ina na so maranak so marboru,  marhak do ina i mamangke arta warisan i, saleleng diinganhon jabuna jala ndang muli tu halak na asing (hak mewarisi bersyarat).</p>
<p>v.     Bayi tabung na sian boni ni amanta dohot inanta i (inseminasi  homogen) boi do manjalo pandidion na badia. Molo ndang sian boni ni amanta dohot inanta i, dakdanak i ma muse mamboan dirina tu  Huria dung magodang ibana. Sipinsangon do na olo manjalo hajajadi ni bayi tabung di keluargana, na so hadomuan ni boni ni ama  dohot ina na marsaripe i.</p>
<p>w.    Sada halak na hona Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon, holan  sasadasa do na hona disi, ndang hona niolina/sinondukna manang ianakhonna ianggo so dohot nasida mangalaosi.</p>
<p>Molo burju ama manang ina na so satahi dohot donganna saripe  naung manimbil i, boi do didion posoposona, boi do manghatindanghon haporseaon ianakhonna, boi do pasupasuon anak manang boruna.</p>
<p><strong>2. Ari parsorang  ni dakdanak dohot pandidion.</strong></p>
<p>a.         Siparmahanon ni Parhalado do asa unang masa ruhut ni  hasipelebeguon di tingki parsorang ni dakdanak. Unang ma masa  pamolati, pagar, salaon, manjujur purba, pangulpuhon, pangarundingon di  partopap ni posoposo dohot rumang ni juji uju manganggapi.</p>
<p>b.         Sipasahaton do dakdanak i tu Debata marhite pandidion na badia, hatop intap ni na boi. Ndang jadi pestapesta manang ulaon  adat manundatisa.</p>
<p>c.         Hona uhum huria do na marsaripe, molo sorang anak nasida baoa di toru ni sia bulan, jala boruboru di toru ni ualu bulan  dung manjalo pasupasu parbagason. Asing ma molo adong Surat Hatorangan sian Dokter (prematur).</p>
<p><strong>3. Parguru Manghatindanghon Haporseaon.</strong></p>
<p>Ingkon   tangkas do panghobasion ni Parhalado ni Huria i di parguruan ni angka na  naeng manghatindanghon haporseaon. Unang ma so tanak  parbinotoan, hatauon dohot pangantusionnasida di Hata ni Debata na  tarsurat di Padan na Robi, Padan na Imbaru nang Katekhismus pe.</p>
<p>Nunga adong Buku Pedoman tu na naeng  manghatindanghon haporseaon di HKBP. I ma dipangke.</p>
<p><strong>4. Di tingki na matean.</strong></p>
<p>Naeng ma  tangkas parmahanion ni Parhalado ni Huria i, manogunogu  jolma tu panghirimon di haheheon ni angka na mate, ala hamonangan ni  Kristus i, ganup adong na matean. Marhite i do hita marmahani  ruas i, unang tartait tu angka ruhut ni hasipelebeguon. Tapasunggulhon  ma nang lapatan ni parningotan di angka na monding :</p>
<ol type="a">
<li>Ganup jolma do ingkon mate.</li>
<li>Di banuaginjang do sambulo ni tondinta.</li>
<li>Haporseaon na togu do na tau manghirim i.</li>
<li>Nunga talu hamatean marhite haheheon ni    Kristus Jesus Tuhanta i.</li>
</ol>
<p>Asa on ma angka siingoton uju matean:</p>
<p><strong>A. Na so jadi :</strong></p>
<p>1.    Padalan juhut tata andorang so borhat tu udean, uju monding  natuatua.</p>
<p>2.    Patupahon juhut purpur sapata di parmonding ni sahalak na so  maranak dohot so marboru, manang di parmonding ni anak sasada na so sanga marhasohotan.</p>
<p>3.    Mambahen sira tu batang ni na mate dohot na mangalangkai  bangke ni na mate i.</p>
<p>Ai nunga ditaluhon Tuhanta hamatean marhite haheheonNa i.  Ndang be tagamon biar dohot songgotsonggot sian na mate i.</p>
<p>4.    Mangagendai na mate maningkot, ia so ala sahit jiwa manang ala  na solpoton. Siapulan do ianggo sisolhot ni naung mate i.</p>
<p><strong>B. Na jadi :</strong></p>
<p>1.    Na jadi do patupaon pembakaran mayat (kremasi) di angka  keadaan na terpaksa, isarana ala maol ni tano kuburan dohot alasan na asing dope pinasahat ni suhut. Alai dijamothon Huria i ma  unang masa ruhut hasipelebeguon, songon i di na mangongkal holi.</p>
<p>2.    Jadi do boanon tu gareja angka ruas ni Huria na monding, angka  na burju marminggu dohot marulaon na badia tagan di ngoluna, dung jolo ditolopi parhalado ia adong pangidoan ni keluarga.</p>
<p>3.    Ia  adong na monding, alai ndang dapot bangkena, jala nunga  saep roha naung tutu do monding ibana, hombar tu pangalaho ni na masa i,  boi do pamasaon kebaktian mardongan agenda, asa tarapul  na matean i, jala mangolu di nasida panghirimon na manongtong i.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C. Sitiroan :</strong></p>
<p>1. Sitiroan do ruas ni Huria na matean, asa unang be masa disi nasa  ruhut ni hasipelebeguon, songon na tama di angka naung hinamonanghon ni Kristus.</p>
<p>2. Sitiroan  do ruas ni Huria di tingki na paias kuburan dohot uju  ziarah, asa tongtong ingot, na marojahan do hamamatena tu hamatean dohot  haheheon ni Kristus, naung manaluhon hamatean ni jolma.  Ala ni i unang be masa disi :</p>
<p>2.1.        Na martonatona.</p>
<p>2.2.        Na marsuap; asing ma molo holan laho paiashon ilu.</p>
<p>2.3.        Na mamboan sipanganon hasoloan ni na mate i tagan di ngoluna.</p>
<p>3. Asa sitiroan do molo adong na pamasa sijagaron, sanggul marata  uju monding natuatua. Unang masa disi ulaon hasipelebeguon, alai ulaon kebudayaan ma i huhut naeng hatindanghononhon, Debata do  naung pasahathon pasupasu naung jinalo ni pinompar ni natuatua i tagan di ngoluna, nang marhite pasupasu na pinangidona sian  Debata Jahowa tu pangapudian ni angka pomparanna. Holan Debata Jahowa do tahe na tuk pasauthon pasupasu i laho ruar nang laho  bongot pe, songon na hinatindanghon ni si Musa i (5 Musa 28:5 &#8211; 6). I ma na ingkon torang tarida/tarbege di na masa ulaon i.</p>
<p>4. Sitiroan do, unang ma sai diharingkothon ruas ni Huria i na  pajongjong tugu, ala ndang denggan panghorhonna :</p>
<p>4.1. Tu ngolu haporseaon.</p>
<p>4.2. Tu ngolu ekonomi.</p>
<p>4.3. Tu ngolu parsaoran siala toal.</p>
<p>Tumagon ma tapauli tugu na mangolu isara pajongjong parsikolaan,  gareja, koperasi sarikat tolong menolong, beasiswa dohot na suman tusi.</p>
<p>Alai molo  tung ingkon masa ma na pajongjong tugu ala porlu patuduhon  hasadaon ni ompu, jumolo ma tarida hasadaon di bagasan Kristus paboahon  na rumar do tanoman i ala naung hehe Tuhan jala paheheonNa  hita sian na mate.</p>
<p>I ma tahe  ruhutruhut na umarga di hasadaon ni sude marga, houm dohot  bangso pe, songon hasadaon ni pamatang ni Kristus i di portibi on di  bagasan HuriaNa i. Ia dibagi pe burukburuk ni na mate, ndada  na gabe i pasingkop lungun ni roha. Panghirimon di ari ni Tuhan i do na  tarbahen pasingkop lungun na di bagasan rohanta i, di na  rap manomunomu hita di ari ni Tuhan i (1 Tes. 4: 13-18).</p>
<p><strong>5. Mangongkal holi</strong></p>
<p>a. Haoloan do mangongkal holi molo ala  ni :</p>
<p>a.1. Kuburan na sega.</p>
<p>a.2. Kuburan na nieak ni dalan, manang aek magodang, tanah longsor,  parhutaan, pembangunan, industri, na pasadahon simin, na pasadahon saringsaring tu simin na imbaru.</p>
<p>a.3. Na pasadahon kuburan ala mate di luat na dao.</p>
<p>b. Molo tung  adong angka na naeng pasadahon saringsaring (holiholi)  ingkon radot ma parhalado ni Huria maniroi, asa unang masa disi ruhut ni  hasipelebeguon songon na manortori holiholi, manulangi,  na mangandungi, pamasuk holiholi tu ulos, tu pinggan dohot ampang,  manganapurani, songon i nang pamasuk batang ni pisang tu  pangongkalan ni holiholi i domu tu ruhut hasipelebeguon.</p>
<p>c.  Naeng ma  parbinoto parhalado ni Huria, molo masa na mangongkal  holi, laos songon i manimpan holiholi i paima dipamasuk tu ingananna.  Molo dao inganan i, gabe tu gareja ma i disimpan. Molo ulaon  sadari, jalo ma sian kuburan na leleng tu kuburan na imbaru. Ndang  sipatupaon be maragenda disi. Ndang jadi ditortorhon  saringsaring, jala unang ma diiringi gondang manang musik laho  pamasukhon tu inganan na imbaru.</p>
<p><strong>6. Gondang.</strong></p>
<p>a.   Sitogutoguon do ruas ni Huria tu pangantusion na marojahan tu  hamamate dohot haheheon ni Kristus, songon tanda ni panghirimon, haluaon  dohot hamonangan di angka na porsea maralohon sidangolon,  sibaran ro di hamatean.</p>
<p>b. Ala boi do ro angka pangunjunan di na pamasa gondang, isara ni na  siarsiaran, songon hataridaan ni haporseaon na hurang, gabe sitiroan ni parhalado ni Huria do ganup na pamasa gondang.</p>
<p>Ganup gondang naeng ma dimatamatai jala ingkon dipaujung di  bagasan tangiang.</p>
<p>c.  Sipamanaton jala sijagahonon do asa unang masa nang na manjujur  ari, mamele sombaon, ugasan homitan dohot pasipasi ni hasipelebeguon na asing.</p>
<p>d. Hatolopan Huria do gondang di tingki na matean, alai ndang jadi  masa disi ondaonda hasipelebeguon, jala ingkon jolo tangkasan ni parhalado taringot tu ruhut ni gondang i.</p>
<p><strong>V. DEBA PANGALAHO SIALOON DOHOT  SIPASIDINGON UNANG HASURAHAN</strong></p>
<p><strong>1. J uj i.</strong></p>
<p>Ia juji i ma meammeam, lalaplalap na pasuda  tingki dohot hepeng, na manegai harohaon, rumatangga dohot ulaon. Sipasingoton do nasa na mangulahon juji dohot na manjabuisa.  Alai molo so tarpasingot be, pinsangon ma Lam marnipis do haporseaon bahenon ni juji, ala marojahan tu nasib dohot sibaran do  halak na mangulahon sisongon i.</p>
<p>Hinaroa ni  parjujion, i ma na sai holan  mangalului pangomoan, alai rugi halak dibahen, mate ma harohaon dohot  panghilalaan na marsiurupan. Siluluan do pangomoan na  tingkos i marhite haporseaon di ulaonniba (Luk. 19:1-7), huhut ingkon  adong roha na marpanarihon di dongan jolma (1 Kor. 12:14 &#8211;  16).</p>
<p><strong>2. P a m u n u.</strong></p>
<p>Sitingtingon do bali sian Huria angka ruas  sibunu jolma dung adong tangkas haputusan ni pengadilan jala diparhatutu na binahenna i tu parhalado. Alai diingot Huria i ma  huhut manangianghon asa disolsoli parulanna i gabe muba rohana jala unang madabu tu pandelean.</p>
<p>Na boi do jaloon nasida mulak tu huria molo  dung torang panolsolion dohot hamubaon ni rohana mangihuthon panimbangion ni parhalado nang pe di bagasan hurungan ibana.</p>
<p><strong>3. Parmabuk  dohot parganja.</strong></p>
<p>Sipasingoton  jala sipinsangon do parmabuk  dohot parganja, narkotik, morpin dohot angka na suman tusi. Sisosoan do  dohot natorasna dohot keluargana laho marmahani dohot  mangubatisa. Manghorhon mara na balga do molo masa parmabuhon (1 Tim.  3:3) dohot parganjaon. Torus do angka halak sisongon i gabe  hatagian, ormus, ndang boi sonang rohana, ndang diantusi be mulaulaon,  ai nunga disegai dirina. Ndang hot be panatapanna, tunduk  ma ngoluna tu halilian ni rohana sandiri, boban ra dokdok nama  mandondoni rohana jala lupa di uhum hasintongan (Poda 31: 4—6).</p>
<p>Sipabalion do ruas naung tangkas tarboto  sigadis ganja, narkotik, morpin, dohot angka na suman tusi, dung adong keputusan ni pengadilan negeri.</p>
<h3> VI. HAJONGJONGAN MARADOPHON PARUGAMO NA ASING DOHOT HURIA NA MAMULIK DOHOT BIDAT</h3>
<p>1.    Siradotan ni Huria do manjaga kerukunan antar umat beragama,  maradophon parugamo na asing di bagasan negaranta na berdasarkan Pancasila.</p>
<p>Marhite i boi sumonang hita manghobasi ulaon Huria dohot  manghatindanghon haporseaonta. Dipatandahon i do huhut na adong jaminan kebebasan beragama dohot jaminan keagamaan di negaranta.</p>
<p>Siingotonta do, asa boi tongtong jumpang ngolu ni Huria na  marpanindangion di tonga ni negara.</p>
<p>2.    Ndang  jadi lapathononhon hata &#8220;kerukunan umat beragama&#8221; tu  pangantusion &#8220;dos do sude ugamo i&#8221;. Ai tong do marsihohot hita di  haporseaonta, holan di bagasan Jesus jala marhite Ibana haluaon,  hasintongan dohot hatutuon i (Ulaon 4: 12; 1 Kor. 3: 11; Joh. 14: 6).</p>
<p>3.     Siingotonta do hajongjonganta di angka upacara nasional, paboa  na halak Kristen do hita, na tongtong marsihohot di bagasan pangoloion  tu Kristus Raja ni angka raja jala Tuhan ni angka tuan (Rom  13: 17; 1 Tim. 2: 2; Ulaon 5: 29; Pangk. 19:16). Asa di na martangiang  hita, i ma tangiang ni sada ruas ni Huria di sada negara na  mangokui ugamo Kristen, songon sada ugamo na niokuan ni negara  Pancasila. Jala ingkon tangkas do hita martangiang di bagasan Goar  ni Jesus Kristus, Ulu ni Huria i.</p>
<p>4.    Sitingtinghonon do na so ruas be ianakhon ni Huria na “kawin  kontrak” dohot na holan &#8220;kawin catatan sipil&#8221; dohot boru manang anak sian parugamo na asing, ala ndang pangantoi Huria di  parbagasonna i (1 Kor. 7:12-13 + 39). Alai tarjalo do nasida mulak tu Huria dung adong pangidoanna tu parhalado jala dung jolo  marguru.</p>
<p>5.    Huria na mamulik do etongon punguan na manimbil sian HKBP,  saleleng so diokui HKBP nasida songon sada huria.</p>
<p>Tarjalo do masuk tu Hurianta ruas ni huria na so maralo  haporseaonna tu haporseaonta, marhite na mamboan surat hatorangan.</p>
<p>6.    Ala holan mangondolhon sabagian poda na dapot di Bibel i do  angka bidat, sipinsangon do ruas ni Huria na laho mangihuthon bidat i. Ala ni i do ndang diokui HKBP hajongjongan ni bidat di  ngolu haporseaon.</p>
<h3>VII. PANIMPULI</h3>
<p>Asa naeng tongtong mangolu di Huria i roha na  marmahani, songon tangkas ni pamodaion di angka na olo tu hadaulaton tu Debata, ingkon songon i ma tangkas ni paminsangion di  angka na so olo tu hangoluan, asa unang adong na mago, ala so ada sipaingot, jala unang marsapata nasida tu Huria i.</p>
<p>Dipabangkit  do angka partohonan di Huria i  laho mangulahonsa songon parmahan, ndada songon panguhum sambing.  Diingot ma Hata na tarsurat i : “Ia ho anak ni jolma ! Nunga  hupabangkit ho bahen siparmahan halak Israel, dibahen i sai tangihon ma  hata na ruar sian pamanganku, angka sipatolhasonmu palumba  nasida sian ahu. Molo hudok tu parjahat i : ingkon mate ho, hape ndang  dipalumba ho ibana, jala ndang diapoi ho ibana tumundalhon  dalanna na jahat i, asa dapotan hangoluan ibana nian; sai na mate do  nian parjahat i di bagasan hajahatonna, alai sian tanganmi do  partungguhononku mudarna. Alai anggo dipalumba ho do parjahat i, hape  ndang olo ibana tumadingkon hajahatonna i dohot dalanna na  jahat i, mate di bagasan hajahatonna ma ibana, alai malua do anggo  tondim”. (Hesekiel 3: 17—l9).</p>
<p>Huhut  tapahusorhusor na nidok ni Tuhanta  Jesus, ai nunga dipasahat anakhinsu ni banuaginjang tu HuriaNa i, asa  dipabali angka na so olo paubahon rohana, ai ninna do :  &#8220;Hulehon pe tu ho anakhinsu ni harajaon banuaginjang i : Nasa na  niihotanmi di tano on, na tarihot ma i nang di banuaginjang; jala  nasa na pinaluam i di tano on, malua ma i nang di banuaginjang&#8221; (Mat.  16:19). Didok Tuhan Jesus dope : Jalo hamu ma Tondi Parbadia  ! Molo disesa hamu dosa ni manang ise, naung sesa ma i; molo dipahot  hamu dosa ni manang ise, hot do i”. (Joh. 20: 22b—23).</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/umpama-batak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Umpama Batak'>Umpama Batak</a> <small>Umpama adalah seni berkomunikasi Suku Batak. Di bawah ini ada...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/bahan-sermon-minggu-hkbp-allah-yang-memampukan-menolong-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Allah yang Memampukan'>Allah yang Memampukan</a> <small>Sermon - Tafsiran teks untuk Minggu XIX Dung Trinitatis tanggal...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/presiden-sby-disambut-tortor-batak-dalam-puncak-jubileum-150-tahun-hkbp/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Presiden SBY Disambut Tortor Batak dalam Puncak Jubileum 150 Tahun HKBP'>Presiden SBY Disambut Tortor Batak dalam Puncak Jubileum 150 Tahun HKBP</a> <small>Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Perayaan Jubileum 150 Tahun Huria...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/agenda-hkbp-bahasa-indonesia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Agenda HKBP Bahasa Indonesia'>Agenda HKBP Bahasa Indonesia</a> <small>Keterangan: Dokumen yang Anda baca ini adalah isi Agenda HKBP...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/mengapa-rpp-hkbp-begitu-menakutkan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengapa RPP HKBP begitu menakutkan?'>Mengapa RPP HKBP begitu menakutkan?</a> <small>Sudah jadi rahasia umum kalau warga jemaat (HKBP) memiliki rasa...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/ruhut-parmahanion-paminsangion-rpp-hkbp-bahasa-batak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Ibadah Minggu HKBP: Sejarah, Teologi dan Pemakaiannya</title>
		<link>http://pargodungan.org/makna-tata-ibadah-minggu-hkbp-sejarah-teologi-pemakaian/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/makna-tata-ibadah-minggu-hkbp-sejarah-teologi-pemakaian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 08:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gereja HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1503</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan: Karangan yang berusaha menjelaskan sejarah dan makna teologis tata ibadah minggu yang digunakan di seluruh gereja HKBP ini adalah karya Pdt. Dr. J. R. Hutauruk, yang rasanya sangat berguna untuk menambah pemahaman kita perihal ibadah minggu di HKBP. Karangan ini sudah diterbitkan dalam buku INTEGRITAS SEORANG HAMBA:Buku Pengucapan Syukur 65 Tahun Pdt. M. V. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hkbpmeraksamarinda.files.wordpress.com/2010/06/hkbpsamarinda2.jpg" alt="Sejarah Teologi Makna Tata Ibadah Minggu HKBP" /></p>
<p>Keterangan: Karangan yang berusaha menjelaskan sejarah dan makna teologis tata ibadah minggu yang digunakan di seluruh gereja HKBP ini adalah karya Pdt. Dr. J. R. Hutauruk, yang rasanya sangat berguna untuk menambah pemahaman kita perihal ibadah minggu di HKBP. Karangan ini sudah diterbitkan dalam buku INTEGRITAS SEORANG HAMBA:Buku Pengucapan Syukur 65 Tahun Pdt. M. V. Simanjuntak, BA (editor: Pahala Jannes Simanjuntak, Nekson M Simanjuntak, Thomson P Sinaga dan Dr. Deonald Sinaga). Terimakasih untuk Bapak Pdt. Nekson M Simanjuntak dan Pdt. Heince Simanjuntak yang memberikan softcopy di sebuah forum untuk dapat kita pakai bersama.</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Gereja yang hidup adalah gereja yang beribadah; ibadah kepada Tuhan Allah Tritunggal dan ibadah kepada sesama melalui tindakan-tindakan nyata. Saya rasa ungkapan singkat ini dapat diterima oleh umum, oleh mereka yang melakukan ibadah baik pada hari-hari yang ditentukan oleh Gereja sepanjang abad maupun pada hari-hari biasa melalui hidup seharian, melalui kegiatan-kegiatan pribadi maupun kelompok.</p>
<p>Di bawah ini akan dicoba menguraikan seperti apa tata ibadah hari Minggu yang sejak dulu hingga sekarang dilakukan di tengah-tengah jemaat HKBP. Hal-hal apa yang sejak awal sangat fundamental yang membuat tata ibadah itu dianggap injili. Pencarian akan hal-hal yang fundamental ini sangat dibutuhkan saat gereja-gereja arus utama kini sedang mencari berbagai bentuk baru sebagai upaya untuk merespons perubahan minat warga jemaat untuk mengikuti tata ibadah yang lebih santai, lebih banyak memberikan kesempatan untuk luapan emosi dan gerak tubuh yang lebih bebas serta ingin menerima secara nyata penyembuhan pribadi yang sedang dilanda rasa kekosongan, terasing dan dibebani masa lalunya yang gelap, dll. Menurut para ahli ilmu kemanusiaan, hasrat seperti itu adalah bagian dari hidup post-modern, hidup di era globalisasi, di mana manusia merasa kebebasan tanpa batas untuk mengaktualisasikan dirinya; bahwa dirinya menjadi pusat segalanya, dan karena itu dia tidak lagi membutuhkan rambu-rambu kehidupan, karena apa yang dia rasa sangat indah dan sangat enak memuaskan kehausannya, itulah yang jadi impiannya. Manusia post-modern berpusat pada seleranya, dan itulah kebebasannya. Pemahaman demikian,menurut para ahli teologi juga mempengaruhi banyak gereja-gereja elektronik yang dapat memproduksikan tata ibadah yang serba waah…, penuh dengan suara musik eletronik dan cahaya lampu yang mengangkat rasa ke dunia nikmat rohani, serta suara sang pengkhotbah yang gemuruh menggetarkan hati dan pikiran para pengunjung kebaktian demikian. Keadaan demikian tidak lepas dari perhatian kita kalau kita berupaya menggali kembali hal-hal yang fundamental buat sebuah tata ibadah yang injili itu.</p>
<p>   <strong> 1. Beberapa istilah asing dalam Tata Ibadah ( HKBP ).</strong></p>
<p>1.1. Agenda: dari bahasa Latin yang artinya dalam bahasa Inggris menunjukkan sebuah daftar tentang halhal yang akan dikerjakan; kemudian kata itu digunanakan oleh gereja-gereja berbahasa Jerman “Agende” atau “Kirchenagende”,yaitu sebuah buku yang mengumpulkan tata ibadah yang dipakai oleh gereja ,a.l. kebaktian minggu biasa, kebaktian dengan perjamuan kudus, dengan babtisan, naik sidi, pemberkatan nikah, penguburan, ordinasi ( die Ordination zum Predigtamt), dll. Padanannya sebelum masa Reformasi, a.l. “Agenda missarum” ( perayaan messe ), “agenda mortuorum” ( perayaan mengenang para orang mati ), dll. Kumpulan Tata Ibadah HKBP dikenal dengan nama “Agende” ( dulu ) atau “Agenda” ( kini ) sesuai dengan pemakaian kata itu oleh gereja-gereja asal para misionaris yang bekerja di Tanah Batak ( 1861 – 1940 ). 1.2. Liturgi: dari bahasa Yunani “leiturgia” ( leos = rakyat, ergon = kerja ): kerja bakti yg dilakukan warga kota setempat; pajak yg dibayar oleh warga negara; ibadah dlm kuil; dlm PB: ibadah atau kebaktian kepada Tuhan ( Kis.13:2 ); mata acara suatu ibadah, termasuk juga kaidah, system atau aturannya.</p>
<p>1.3. Cultus ( bhs Latin ) sebagai padanan kata “latreia” dlm PB ( bhs.Yunani ) atau dlm bhs Jerman “Gottesdienst” ( ibadah pada Allah ); mencerminkan prinsip reformatories M.Luther yg merujuk pada ibadah seutuhnya oleh manusia terhadap Allah, termasuk tampilan luarnya, sehingga ibadah itu bukan buatan tangan manusia seolah-olah manusia dapat merebut kedudukan Allah yg bebas mendirikan ibadah ( tata ) untuk Allah sendiri.</p>
<p>1.4. Votum ( bhs Latin : keinginan); janji; keputusan; pengesahan; dukungan suara; penyataan Allah bhw Ia ada dan bersedia menerima orang yang ingin bertemu dengan Allah; unsur yang mengawali ibadah gereja; kebaktian dimulai oleh Allah yg berjanji, yg menyatakan diri berada.</p>
<p>1.5. Introitus ( bhs Latin: pengantar masuk suatu prosesi ); ayat introitus : sebuah nats Alkitab yg merujuk pd tahun gerejawi yg berlaku pd hari minggu tertentu, yg berfungsi sebagai panggilan beribadah. Dll.</p>
<p><strong>2. Dasar-dasar teologis tata ibadah hari Minggu HKBP.</strong></p>
<p>2.1. Latar belakang histories: uraian tentang dasar teologis tata ibadah HKBP seharusnya diawali dengan paparan dari segi historisnya, artinya memberi penjelasan kapan lahir, bagaimana lahirnya serta mengapa dilahirkan sebuah dokumen yang namanya Liturgi ( tata ibadah ) HKBP. Karena keterbatasan waktu untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber untuk itu, jalan ini tidak mungkin ditempuh secara tuntas, namun garis-garis besarnya harus dilakukan pada saat ini. Kita dapat menduga bahwa sejak awal pekabaran Injil di Tanah Batak ( 1860-an ) keinginan untuk pengadaan sebuah liturgi atau tata ibadah Minggu dan peristiwa-pristiwa gerejawi lainnya sudah menggema dan upaya untuk itu sudah dilakukan. Ini nampak dari laporan-laporan para misionaris, seperti yang nampak dari laporan kegiatan Pekabaran Injil di lembah Silindung ( Batak – Toba ) oleh ketiga misionaris setempat, yaitu I.L.Nommensen, P.H.Johannsen dan A.Mohri.[2] Mungkin mereka di tempat pelayanan masing-masing telah membuat gagasan-gagasan awal untuk menciptakan tata ibadah Minggu, ibadah baptisan, perjamuan kudus, peneguhan sidi, pernikahan, dll. Dan mungkin ini semuanya telah bermuara pada sebuah buku Agenda, dan besar kemungkinan Agenda edisi pertama ialah Agenda 1904, dilengkapi dengan pedoman pemakaiannya, yang diterbitkan pada tahun 1906 dalam bahasa Jerman dan untuk edisi Batak ( Toba ) tahun 1907. Agenda 1904 dan buku pedoman tersebut menjadi acuan bagi paparan kita dalam mencari dasar-dasar teologis dan praktis sebuah Agenda HKBP serta menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan revisi Agenda HKBP untuk masa mendatang.[3]</p>
<p>2.2. Tanpa mengurangi bobot paparan ini, kita memberi perhatian yang lebih banyak pada sebuah ceramah tentang ibadah HKBP, yang disampaikan oleh Misionaris F.Tiemeyer [4] pada Konferensi tahunan para misionaris Jerman ( RMG ) tahun 1936 di Padangsidempuan, 72 tahun lampau.[5]. Jadi kita tidak melakukan pemantauan pemakaian Agenda 1904 secara kronologis ( 1904 – 1936 ). Tetapi kita berasumsi bahwa Agenda 1904 masih dipakai oleh jemaat-jemaat pada tahun 1936., bahkan sampai tahun 1939, karena Agenda 1939 adalah edisi kedua dari Agenda HKBP.[6] Konferensi para misionaris RMG 1936 sedang membicarakan konsep baru dari Agenda HKBP dan mencari apa-apa saja yang harus ditambah atau dikurangi dari Agenda yang lama ( 1904 ). Tetapi F.Tiemeyer tidak bermaksud memasuki tugas revisi tersebut; bagi beliau yang lebih utama ialah untuk mengkaji kembali apa sebenarnya dasar teologis dari sebuah liturgy ( tata ibadah gereja ) yang evangelis ( istilah hyang lebih popular ialah “injili” ), atau dengan kata lain apa saja yang paling fundamental dari sebuah agenda gerejawi yang berdasarkan teologi reformatories M.Luther atau J.Calvin maupun para reformator lainnya. Dasar teologis yang sangat fundamental menurut beliau ialah bahwa karya Tuhan Allah sendiri yang selalu mendominasi sebuah tata ibadah yang otentik sebagaimana ditemukan kembali oleh para reformator M. Luther dan J. Calvin. Beliau mengedepankan pendirian beliau yang mengatakan bahwa upaya mencari makna dan hakekat sebuah “tata ibadah evangelis” ( “evangelische Gottesdienst” ) atau istilah yang lebih dikenal dengan kata “ibadah injili” ( untuk selanjutnya kita memakai istilah ini ) ialah memperlihatkan aksi jemaat yang menunjukkan kepatuhannya terhadap Allah yang hidup itu. Karena arti tata ibadah yang paling mendasar ialah perbuatan / tindakan Allah bersama jemaatNya ( umatNya ). TeguranNya dan pemberianNya, dan bukan kedatangan ( kehadiran ) kita dan itu terjadi selalu dalam sikap pertobatan dan iman. Di mana terjadi sebuah ibadah gerejawi ( “Gottesdienst” = ibadah Allah ), entah itu tarjadi dalam khotbah, sakramen atau liturgy, di sana selalu terjadi dalam nama Allah Tritunggal. Allah muncul di atas pentas. Allah bertindak, berbicara dan menghibur. Allah menghukum dan menghajar. Allah menegur dan mengampuni. Tetapi kalau kita mengatakan Allah, itu berarti bahwa kita tidak mengatakan manusia sekalipun yang nampak ialah manusia sendiri. Manusia yang nampak bekerja dalam sebuah ibadah, tetapi Allahlah yang hidup dan kudus itulah yang bertindak. F.Tiemeyer masih melanjutkan paparannya tentang hal-hal yang fundamental itu, di mana beliau mengatakan, bahwa dalam hal ini kita harus mengatakan, bahwa tidak ada perbedaan antara pendeta ( pengkhotbah = “Prediger” ) dan liturgis. Di sini pendeta dan liturgis sebagai manusia biasa tidak bakal melewati batas antara Allah dan manusia. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia dan tidak bakal membagikan kemuliaan-Nya dengan siapapun dari antara manusia, termasuk bagi manusia yang melayankan ibadah gerejawi itu ( liturgis atau pendeta ). Di sini terjadi suatu ketegangan ( teologis-liturgis ) didalam proses peribadahan injili itu ( “Spannung des evangelischen Gottesdienstes” ). Ketegangan itulah yang harus dicermati oleh setiap liturgi dan agenda gerejawi, termasuk liturgy dan agenda HKBP. Setiap upaya untuk membicarakan sebuah liturgy / agenda gerejawi, hendaknya berawal dari perhatian akan ketegangan teologis – liturgis ini, ketegangan antara Allah dan manusia, ketegangan yang harus dipelihara atau jangan terjadi pelanggaran batas antara Allah dan manusia.</p>
<p>2.3. Sekilas pemantauan historis berbagai tata ibadah gerejawi yang pernah dipakai oleh Gereja – gereja sepanjang abad, telah dilakukan oleh F.Tiemeyer dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya gereja sepanjang abad itu selalu jatuh bangun dalam mempertahankan hal-hal yang fundamental dari sebuah tata ibadah seperti beliau kedepankan tadi, yaitu yang paling utama ialah tindakan Allah, Allah yang bertindak, Allah yang hadir dan manusia merespons kehadiran Allah yang mulia dan agung itu. Dalam lima periode, beliau melihat gereja-gereja itu jatuh bangun dalam mempergumulkan ke-injil-an dari tata ibadah kristiani itu. Beliau mengibaratkan perjalanan dari tata ibadah injili itu telah melalui lima stasi / persinggahannya secara histories: Yerusalem, Roma, Wittenberg dan Geneva, kemudian zaman pasca-reformasi, rasionalisme dan kultur protestantisme Eropa ( dunia Barat ).</p>
<p>Zaman Israel . Pada setasi pertama di Yerusalem nampak, bahwa ibadah pada bait suci memperlihatkan kehadiran Allah yang hidup itu. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Israel selalu nampak bahwa sebuah tempat tertentu ( sebuah kemah nomadis, tabut pada zaman perjalanan di gurun pasir atau sebuah tempat yang menetap pada zaman sebelum dan sesudah pembuangan ), fenomenanya tetap sama, yaitu “Allah hadir, mari kita sujud di hadapan-Nya!”, demikian yang terjadi pada awalnya. Ketika batas antara Allah dan manusia dilewati, maka para imam Israel atas kekuatan / kekuasaan jabatannya, mereka telah membangun ibadah untuk Allah, dan pada saat itulah menghilang kehadiran Allah. Kehadiran Allah telah menghilang, dan sebagai gantinya ialah ibadah ( “Gottesdienst” ) tanpa Allah. Kemudian utusan Allah yaitu Kristus datang memasuki sejarah bangsa Israel. Firman Allah menjadi daging. Tetapi Kristus tidak diterima, manusia ingin menguasai Allah dalam bait suci. Kristus menjatuhkan hukuman. Bait Suci di Yerusalem musnah, tinggal puing-puing. Demikian F.Tiemeyer menggambarkan perubahan makna ibadah di Yerusalem, yang tadinya berpusat pada kehadiran Allah, tetapi oleh kehadiran para imam Israel tempat Allah telah direbut oleh para imam. Imam jadi pusat ibadah.</p>
<p>Zaman Kekristenan. Zaman Israel digantikan oleh zaman Kekristenan. F.Tiemeyer merujuk ke nats Alkitab Mat. 7, yang untuk beliau nats ini menunjukkan karakteristik dari pemberitaan Yesus : “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” ( 7:29 ). Demikian beliau mengutipnya serta menambahkan, bahwa Yesus menerima kewibawaan / kuasa dari Allah; Yesus bukan mengandalkan wibawa / kuasa sendiri. Kini Allah kembali hadir dan bertindak dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus. Kehadiran Allah dipertegas lagi oleh nats Alkitab Luk.4: 21 :” Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya’”. Dan pada akhir hidup-Nya, demikian Tiemeyer – Yesus mendirikan Perjamuan Kudus ( “Abendmahl” ) sebagai ibadah. Rasul Paulus melanjutkan ibadah yang mengedepankan kehadiran Allah dalam ibadah Perjamuan Kudus: “ dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: &#8220;Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! ( 1 Kor. 11:24 ) Inilah menurut beliau bentuk yang sangat sederhana yang dilayankan oleh Yesus, yaitu makan ( roti ) dan minum ( anggur ); bentuk yang sangat sederhana ini dipakai oleh Yesus untuk mencerminkan kebesaran dan kehadiran Allah yang berbuat itu. Inilah suatu ketegangan yang indah, yang nampak dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus: ketegangan antara unsur ( roti dan anggur ) yang bersifat sementara itu dan dalam bentuknya yang sederhana itu ( kata-kata yang biasa tanpa seremoni ) dengan kemuliaan yang abadi dari Tuhan Allah yang hidup itu. Namun ketegangan ini akhirnya sirna oleh ulah manusia yang tidak sabar dan rindu akan kehadiran Tuhan Allah. Lagi-lagi terjadi penyimpangan oleh ulah dan perbuatan para pejabat gerejawi abad ke-2. Kehadiran Allah dalam ibadah telah digantikan oleh kegiatan seremonial para pejabat gerejawi itu. Kehadiran Allah dalam Perjamuan Kudus telah digantikan oleh unsur-unsur yang diilahikan [7] ( roti dan anggur ; “die vergotteten Elemente Brot und Wein”). Artinya, kini yang bertindak ialah manusia bukan lagi Allah. Imam maju ke depan dan mengorganisasi ibadah itu, menguasainya, bertindak dan memutuskan melalui seremonial yang saleh. Dalam hal ini, Tiemeyer menyimpulkan bahwa kini yang terjadi ialah: Ibadah – tanpa Allah ( “Gottesdienst – ohne Gott” ).</p>
<p>Zaman Romawi. Pusat ibadah Gereja Katolik Roma ialah Missa, yang pada hakekatnya adalah Perjamuan Kudus. Dalam Missa ,menurut pemahaman beliau, Allah telah dimaterialisasikan ( “Gott ist dinglich geworden” ) dalam sebuah peti sakral yang dikenal dengan nama Hostie ( tempat roti yang sudah berubah jadi tubuh Kristus ). Melalui pelayanan ritus seorang imam, maka roti dan anggur itu telah diilahikan ( “vergotten” ). Ketegangan antara Allah dan manusia telah dihancurkan. Gereja yang merayakan itu memiliki, berkuasa atas Allah dalam peti sacral hostie. Kristus telah hadir dalam peti tersebut. Gereja telah menguasai Allah. Gereja telah berkuasa atas Allah, bukan lagi sebaliknya Allah menguasai Gereja. Kejatuhan dalam dosa telah kembali terjadi di tempat kudus. Sekali lagi terjadilah : Kebaktian – tanpa Allah.</p>
<p>Zaman Reformasi abad ke-16. Menurut pemahaman Tiemeyer, tujuan para reformator ( M.Luther, J.Calvin, dll. ) bukanlah mereformasi kehidupan kultis gereja , sekalipun mereka menilai Messe itu sebagai suatu pengilahian ( “Abgotterei” ) dan oleh karenanya perlu ditiadakan. Bagi kedua reformator, Luther dan Calvin, adalah suatu hal yang sangat mendasar, bahwa tindakan Allah sendiri yang terjadi dalam sebuah ibadah dan hendaknya jangan ada yang merampok kemuliaan Allah dalam tempat suci. Ketegangan antara Allah dan manusia harus ditegakkan kembali: “Allah tidak bertempat tinggal di rumah bait suci buatan manusia” ( Kis.17 : 24 ), demikian beliau mengutip nas Alkitab. Dalam ibadah itu harus nyata adanya perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia, dan keduanya jangan dicampuradukkan, melainkan dalam ibadah itu harus nampak kekuatan dan anugerah Allah, bahwa Dia yang kudus itu mendekatkan diri kepada orang-orang berdosa dan Dia memang membutuhkan orang-orang berdosa dalam pelayanannya masing-masing. Dengan demikian Allah yang kembali hadir dalam ibadah sebagai Hakim dan juga sebagai Juru Selamat. Suara Allah yang mengatakan Tidak pada tindakan-tindakan penuh dosa kembali terdengar nyaring dalam ibadah, tetapi juga suaraNya yang mengatakan Ya berlaku bagi orang berdosa. Bagaimana caranya hal sedemikian rupa dapat terjadi dalam ibadah injili buat para reformator itu? Beliau mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi hanya melalui firman Allah dan bukan melalui Messe. Sekali lagi beliau mengulangi, bahwa melalui Messe, dalam roti dan anggur yang telah diilahikan itu, Gereja telah menampilkan diri sebagai pemilik, sebagai yang mempunyai. Tetapi firman Allah itu tak akan pernah dapat dimiliki atau dikuasai oleh siapapun, melainkan firman Allah itu mengajar supaya sabar dan berpengharapan. Beliau mengutip nas Alkitab Rom 8: 24 :” Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya.” ( “Wir leben im Glauben und nicht im Schauen” = Kita hidup dalam iman dan bukan dalam melihat dengan organ mata ). Menurut beliau, semua reformator sependapat akan arti dan makna sebuah ibadah yang injili / evangelis itu. Mereka beda hanya dalam menentukan bentuk luarnya. Perbedaan antara Luther, Calvin dan Zwingli hanya dalam bentuk luarnya, bukan secara kualitatif tetapi hanya secara kuantitatif. [8]</p>
<p>Luther berpijak pada tradisi lama yaitu liturgi Messe ketika dia memperkenalkan tata ibadahnya, yaitu Messe Jerman ( “Deutsche Messe” = Messe berbahasa Jerman bukan lagi berbahasa Latin ). Tetapi bagi Luther Messe Jerman ini tidak dianggap bersifat hukum / aturan ibadah yang harus dipatuhi atau dilaksakan. Rujukan beliau untuk itu ialah kata pengantar buku Messe Jerman itu ( hal 227 cetakan I ).</p>
<p>Menurut F.Tiemeyer ada perbedaan antara kosep liturgy antara M.Luther dan J. Calvin. Menurut beliau Calvin mengambil pijakannya dari tradisi alkitabiah. Dalam hal ini, beliau tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa karakteristika dari tata ibadah calivinis adalah kebeningannya ( “Nuechternheit” ). Beliau mengetahui, bahwa ketika Calvin melayani di Strassburg beliau sudah mengenal sebuah buku nyanyian yang dikenal dengan nama Nyanyian Mazmur, dan buku nyanyian ini beliu perkenalkan kepada jemaatnya di Geneva sebagai “Nyanyian rakyat” ( Volksgesang ). Buku liturgi karangan Calvin tahun 1545 memanfaatkan Nyanyian Mazmur tersebut. Penilaian akan sebuah tata ibadah yang bening atau cerah, menurut Tiemeyer lebih tepat diberikan pada Zwingli yang menyusun sebuah tata ibadah yang berpusat pada firman Allah dan bukan pada nyanyian. Tetapi perdebatan ini diakhiri beliau dengan kutiban dari nas Alkitab dari 2 Kor. 4: 7: “ Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Aspek kuantitatif dari sebuah tata ibadah adalah relative dan tidak mengurangi esensinya atau istilah yang beliau pakai “kualitasnya” sebuah tata ibadah.</p>
<p>Zaman pasca-reformasi. Menurut beliau terjadi juga penyimpangan dalam Gereja zaman pasca-reformasi di kalangan Gereja reformasi. Aliran Ortodoksi telah menjadikan tata ibadah itu sebagai suatu pemberitaan ajaran ( “Lehrverkuendigung” ). Firman Allah telah menjadi buku hukum / aturan ( “Gesetzbuch” ). Dan isinya telah disimpan dalam sebuah lemari buatan roh manusia. Tetapi, demikian beliau, Roh Allah tidak identik dengan roh manusia. Roh Allah berembus ke mana Dia inginkan. Roh Allah tidak mau berkompromi dengan roh manusia sekalipun ajaran yang benar itu dibutuhkan.</p>
<p>Aliran Ortodoksi ketika itu berseberangan dengan aliran Pietisme. Struktur pemikiran pietisme ialah “Mistik dan Injil”. Berangkat dari pemikiran inilah maka kaum Pietisme selalu menekankan kehidupan ( “Leben” ) dan tidak ajaran ( “Lehre”). Dan sikapnya terhadap Gereja resmi ( arus utama ) tidaklah besahabat, malahan anti-gereja, demikian beliau. Yang diutamakan bukan ajaran ortodoksi, tetapi kehidupan jiwa-jiwa dalam hubungan pribadi yang sangat hangat dan emosional dengan Allah, dengan kata-kata yang membelai seperti : “‘Yesus sang bayi yang cantik, buah hati yang setia.’” ( “’lieben Jesulein’, dem ‘treuen Herzlein’” ). Kembali beliau jumpai di sini suatu pencampuradukan perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia. Dosa dirasakan sangat menekan dan ini terjadi secara mistis. Dalam hal ini kebenaran hanya oleh iman sudah sangat menurun. Yang menjadi pergumulan pokok dalam kehidupan ini ialah bagiamana seseorang dapat meraih kekudusan / kesalehan. Dalam hal ini beliau mengatakan, bahwa yang terjadi di sini ialah bahwa manusialah yang mengambil prakarsa dan yang ingin memisahkan diri dari “’Dunia, Gereja dan Dosa’”, tetapi hasilnya ialah bahwa manusia tetap tinggal sebagai orang yang ditipu oleh dosa. Demikian penyimpangan yang terjadi dalam aliran atau kaum Pietisme.</p>
<p>Tetapi bukan hanya dalam gerakan kegerejaan, seperti dalam Pietisme itu terjadi penyimpangan; penyimpangan terjadi juga akibat aliran atau semangat Rasionalisme dan Kulturprotestantisme, sebagaimana masih menguasai pemikiran dan pola pikir manusia Barat sezaman para misionaris Jerman yang melayani di Tanah Batak. Atas kenyataan itu Tiemeyer merasa tidak perlu membahasnya secara menditel, karena masih bagian pergumulan masa kininya mereka yang mengadakan Konferensi 1936 itu. Beliau hanya ingin mengangkat yang paling pokok dari kedua aliran itu yang mempengaruhi pola pikir dan sikap menggereja atau beragama ketika itu. Misalnya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebaikan ( Tugend ), kesejahteraan ( Wohlfahrt ), solidaritas persaudaraan ( Bruederlichkeit ) dianggap sebagai ibadah – pengganti / ibadah – serap ( Ersatz-Gottesdienst ) manusia Barat saat itu, yang memang adalah anggota Gereja di Jerman saat itu. Dan sejak Schleiermacher ( seorang tokoh teolog abad ke-19 di Jerman ), demikian beliau, terjadilah pemutarbalikan: Allah yang bertindak bersama jemaat telah digeser oleh perbuatan jemaat yang sedang dipentaskan bersama Allah. Asumsi beliau yang beliau sampaikan ke tengah konferensi itu ialah: pola pikir Schleiermacher sangat menguasai diskusi tentang tata ibadah dan sedang mempengaruhi pola pikir teologis para pendeta di Jerman termasuk para misionaris Jerman di Tanah Batak, artinya juga mereka yang sedang mendiskusikan pembaharuan tata ibadah untuk Gereja Batak HKBP. Alasan beliau berbicara demikian ialah bahwa lahirnya Agenda Union yang lama ( die alte Unionsagende buat Gereja Senegeri Prusia atau lazim disebut Gereja Evangelis Union ) sangat banyak dipengaruhi oleh Teologi Schleiermacher, yang berpusat pada perasaan manusia yang sangat bergantung pada suatu kekuasaan diatasnya atau diluarnya ( “das schlechthinnige Abhaengigkeitsgefuehl” ). Dan menurut beliau, Agenda Union itulah yang dipakai saat menyusun tata ibadah Gereja Batak ( HKBP ) edisi pertama. Kapan edisi pertama dari Agenda HKBP diterbitkan, mencarinya masih tugas kita bersama.</p>
<p>Tiemeyer mengakhiri uraian histories itu dengan mengajukan dua hal yang perlu diperhatikan saat membicarakan revisi Agenda HKBP. Pertama bentuk apapun nanti yang dihasilkan oleh konferensi, maka yang penting ialah mempertahankan roh sejati dari tata ibadah Injili ( Evangelis ). Kedua harus jelas bahwa siapapun tidak memiliki wewenang seolah-olah dapat memiliki atau mengendalikan Allah, sebaliknya haruslah dikedepankan Allah yang bertindak dan kita manusia bukanlah orang yang benar tetapi yang dibenarkan melalui anugerahNya.</p>
<p>2.4. Kesimpulan: Dari uraian histories yang dilakukan oleh F.Tiemeyer sebagai salah seorang misionaris generasi akhir para misionaris Jerman ( RMG ) di Tanah Batak, dapat diambil kesimpulan tentang dasar-dasar teologis dari sebuah ibadah yang injili, dan asumsi kita bahwa dasar – dasar teologis tersebut dapat jadi acuan masa kini untuk melakukan revisi tata ibadah HKBP untuk masa kini dan ke depan.</p>
<p>Pertama, dalam ibadah itu haruslah nampak bahwa Allah yang hadir dan bertindak: mengundang, mengajar, menegur, menasihati, menguatkan, menerima pujian dan pengakuan dosa dan memberikan janji penghapusan dosa , memberikan berkat-Nya dan akan mendampingi anggota jemaat pada kehidupan seharian mereka hingga mereka kembali ke pangkuanNya di sorga.</p>
<p>Kedua, dengan demikian, setiap orang harus menjaga supaya jangan terjadi “pengilahian” ( “Vergoetterei”, atau “vergoettete Elemente”) dalam ibadah itu. Artinya Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia; ketegangan antara hakekat Allah dan hakekat manusia harus tetap dijaga dalam ibadah injili, jangan terjadi penggeseran batas antara Tuhan Allah yang Mahakuasa dan manusia ciptaan Allah itu; itulah ketegangan yang indah yang nampak dalam ibadah injili; pengilahian atau pemberhalaan dari sarana-sarana lainnya yang dipakai dalam ibadah itu ( termasuk air baptis, roti dan anggur ketika perjamuan malam / “kudus”. Allah Tritunggal tidak bakal membagikan kemuliaan-Nya, keliahian-Nya kepada manusia tanpa pandang bulu ( termasuk pada pendeta atau liturgis lainnya ). Demikian jauhnya [9] jarak antara Allah dan manusia, sehingga Allah sendiri yang sanggup untuk menjembataninya, bukan upaya manusia melalui kebaikan moral atau pun upaya lainnya. Yang harus dijauhkan ialah: “ibadah &#8211; tanpa Allah”, demikian semboyan Tiemeyer.</p>
<p>Ketiga, ibadah itu bukan melulu hanya suatu pemberitaan ajaran dan firman Allah itu jangan dijadikan menjadi suatu buku hokum atau aturan ( aliran Ortodoksi ); Roh Allah berembus kemana Dia inginkan, dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun dalam ibadah injili.</p>
<p>Keempat, ibadah injili bukan suatu ibadah mistis, yang menekankan perasaan saleh dan kudus yang ingin memisahkan diri dari dunia “fana” dan penuh “dosa” ini; bukan suatu ibadah yang terlalu berlebihan menekankan pertobatan moral &#8211; individualistis, seperti beliau temukan melalui pertanyaan-pertanyaan dalam ibadah baptisan, naik sidi dan perjamuan kudus; ibadah injili bukan sebatas mencari kekudusan pribadi dan pirbadi yang saleh ( Pietisme ), tetapi ibadah yang mengandalkan hanya anugerah Tuhan Allah.</p>
<p>Kelima, ibadah injili tidak dapat digantikan oleh sebuah ibadah “serap” ( “Ersatz-Gottesdienst” ) yang berpusat pada pengalaman rohani manusia ( pietisme ), atau pada nilai-nilai manusia sekuler ( rasionalisme ) seperti kebaikan, kesejahteraan dan rasa persaudaraan kemanusiaan melulu. Ibadah injili tetap mewaspadai setiap pergeseran pola pikir dan tingkah laku manusia demi menjaga keinjilan ibadah tersebut.</p>
<p>Keenam, dalam ibadah injili, bukan orang per orang yang hadir tetapi jemaat sebagai persekutuan orang-orang percaya atau tubuh Kristus. Mereka datang secara pribadi atau keluarga, dan begitu mereka duduk, mereka adalah persekutuan jemaat yang secara kreatif ingin menerima undangan kehadiran dan tindakan Allah; jemaat yang bernyanyi, berdoa, mengaku dosa, menerima janji penghapusan dosa, menerima anugerah melalui khitbah, baptisan, perjamuan malam ( “kudus” ) atau acara ibadah lainnya.</p>
<p>Ketujuh, seluruh hidup ini adalah ibadah, artinya mengasihi Allah dan sekaligus mengassihi sesama, melayani Tuhan dan melayani sesama</p>
<p>2.3. Dasar teologis tata ibadah Minggu HKBP menurut F.Tiemeyer.</p>
<p>Untuk menjadikan dasar teologis tata ibadah Minggu HKBP, F.Tiemeyer mengambil alih dasar teologis tata ibadah injili sebagaimana beliau temukan dalam sejarah tata ibadah &#8211; tata ibadah terdahulu dalam lima zaman yang beliau paparkan di atas, mulai dari zaman umat Yahudi hingga zaman pasca-Reformasi. Kesimpulan beliau ialah bahwa tata ibadah Injili selalu mengedepankan tindakan Allah bersama jemaat-Nya. Itulah yang diisyaratkan ibadah yang diawali oleh rumusan “’Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’” ( Votum ). Ibadah Injili bukan dibuka oleh sebuah nyanyian ( oleh jemaat ). Ini mau menjelaskan , bahwa manusia ( dalam hal ini liturgis ) bukan bertindak atas kekuatan atau wibawa jemaat atau pribadi sendiri tetapi atas penugasan Allah yang berindak itu. Dan makna serta arti sebuah nyanyian yang dinyanyikan bersama oleh jemaat dan pendeta ( liturgis ) hendaknya mengisyaratkan pernyataan bersama akan kehadiran Allah dan kerelaan jemaat untuk sujud dan berdoa di hadapan Allah. Suara Allah yang gemuruh hendaknya bergaung untuk menyadarkan manusia supaya rela melepaskan diri dari roh yang selalu ingin menguasai ( Allah ). Suara Allah seperti itu pernah didengar oleh Musa saat dia menggembalakan ternak mertuanya Yetro : “’Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.’” ( Kel. 3:5 ). Kutipan ini mau mengingatkan setiap orang yang mau menyusun atau membaharui tata ibadah ( HKBP ) agar selalu mewaspadai bahwa pengaruh kehadiran Allah selalu membangkitkan rasa kagum dan gentar ( “Erschrecken”, harafiah “terkejut”), penyesalan ( Reue ) dan pertobatan ( Busse ). Itulah sebabnya dalam ibadah nampak unsur pengakuan dosa dari pihak jemaat ( bersama liturgis ). Baik liturgis maupun jemaat sama-sama pihak yang berdosa di hadapan Allah. Ketergerakan hati dan pikiran mengaku dosa mendorong manusia untuk rindu menerima pengampunan dosa melalui janji anugerah melalui pembacaan firman Allah ( yang dikutib dari Alkitab ). Setiap orang akan tergerak hatinya mengatakan: “ya Tuhan Yesus, seandainya Engkau tidak ada dekatku, apalah saya ini!” Pengakuan dosa dan pengampunan dosa tersebut dilanjutkan oleh sebuah doa jemaat. Doa tersebut akan mengantar pengkhotbah yang akan memberitakan firman Tuhan, artinya pengkhotbah bertindak sebagai mulut Allah pada hal dia juga adalah orang berdosa ; dan itulah sebabnya jemaat mendoakan pengkhotbah dan jemaat itu sendiri, agar Allah sendiri yang akan membuka hati, mulut dan telinga mereka untuk memahami dan menerima firman Tuhan. Doa ini dilanjutkan dengan sebuah nyanyian khusus untuk menghantar khotbah yang akan segera disampaikan oleh pengkhotbah. Melalui khotbah Allah berbicara kepada jemaat yang datang dalam sikap penyesalan dan rasa serba kekurangan. Allah datang melalui firman yang disampaikan melalui khotbah. Allah menyampaikan pengampunan dosa terhadap jemaat yang berhimpun itu. Allah menyampaikan seluruh kekayaan anugerahnya kepada jemaat. Ini pula yang diisyaratkan salam anugerah dari pengkhotbah. Inti sari dari khotbah ialah: firman Allah selalu punya kekuatan untuk mengikat ( bindend ) dan membebaskan ( loesend ). Jemaat terikat untuk tetap setia terhadap tuntutan Allah: “engkau adalah milik-Ku!”. Allah membebaskan orang-orang yang telah menyesali dosa-dosanya: ”’pergilah dalam damai, imanmu telah menolong engkau!’”. Kemudian pengkhotbah dan jemaat mengucapkan doa ucapan terimakasih kepada Allah yang mencurahkan anugerahnya yang melimpah itu dan ini diakhiri dengan sebuah nyanyian. Memang anugerah Allah tidak akan berkesudahan. Setiap hari kasih karunianya selalu baru. Dalam situasi yang demikian, jemaat bangkit berdiri untuk mengucapkan Pengakuan Percaya ( Kredo = Aku percaya ). Artinya, melalui firman Allah yang disampaikan melalui khotbah, jemaat dipanggil kembali untuk mengucapkan pengakuan umat Allah sepanjang abad kepada Allah bersama-sama dengan seluruh umat Allah di dunia ini, baik jemaat terdahulu, maupun jemaat terkini dan jemaat yang akan datang. Bersama-sama dengan umat Allah sepanjang zaman, jemaat yang berkumpul itu patut mengucapkan kembali Pengakuan Percaya yang universal itu. Menurut Tiemeyer, di sini yang berbicara bukan perasaan ( Gefuehl ) yang sangat subjektif itu, tetapi Pengakuan sekalipun dengan kata-kata yang diulangi dan dengan pikiran yang cerah. Kemudian jemaat bernyanyi. Melalui nyanyian itu, jemaat diingatkan akan tanggungjawab jemaat terhadap kehidupan orang-orang yang berkekurangan, terhadap tanggungjawab jemaat terhadap tugas pelayanan Allah di seluruh dunia ( diakonia ). Itulah alasannya maka jemaat mengumpulkan persembahan ( “Kollekte” ) sesudah selesai khotbah. Kemudian dilanjutkan dengan doa penutup. Jemaat menyampaikan doa pujian dan terimaksih atas perbuatan Tuhan Allah di dalam dan melalui firman-Nya dan kepedulian Allah kepada Gereja-Nya dalam segala kekuatan dan kekurangannya, dan atas kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada jemaat-Nya untuk menyampaikan persembahannya ke hadapan takhta Tuhan Allah yang mulia itu; dan ini semuanya permohonan itu dirangkum dalam doa “Bapa kami”. Dan di dalam berkat Allah dan janji perlindungan-Nya bagi jemaat yang selalu menghadapi berbagai cobaan, serta diakhiri nyanyian permohonan : Sai tiop ma tanganhu ( “So nimm denn meine Haende” ), maka jemaat kembali ke dunia sehari-hari, menjalani kehidupan sehariannya, dan di sana akan mempelajari, bahwa seluruh hidup ini adalah sebuah ibadah kepada Tuhan Allah ( “Gottesdienst” ), bahwa hidup kita seutuhnya adalah sebuah pertobatan.</p>
<p>2.4. Rangkuman: Semua yang beliau paparkan di atas itu didorong oleh kemauan dan komitmen bukan untuk mengejar sebuah bentuk atau bahkan sebuah bentuk baru tata ibadah, tetapi lebih banyak didorong oleh minat dan kerinduan supaya tata ibadah tetap berazaskan tindakan Tuhan Allah, kehadiran Tuhan Allah ditengah-tengah jemaat yang beribadah itu. Beliau mengulangi lagi bahwa Yesus tetap berada di dalam bait suci Israel , tetapi kemudian meruntuhkannya. Martin Luther telah mengambil alih bentuk liturgi Messe yang lama ( Gereja Katolik Roma ), tetapi kemudian merombaknya untuk Gereja Reformasi. Beliau mengutib ungkapan reformatoris ini :”’Roh itulah yang menghidupi’”. Kemudian kutiban ini dilanjutkan oleh kalimat yang dialektis, bahwa kita masih hidup dalam daging dan dalam sebuah bentuk yang nyata, dan oleh karena itulah dalam bentuk yang bersifat sementara itu, kita wajib mencari sebuah bentuk ( tata ibadah ), yang dalam bentuk yang fana itu kita akan menyimpan isi yang mendekati kepenuhan yang diharapkan. Demikian F.Tiemeyer mengakhiri paparannya tahun 1936.</p>
<p>2.5. Kesimpulan: dari paparan di atas dapat diambil beberapa asumsi bahwa: (1) mata acara pengakuan percaya itu lebih baik ditempatkan sesudah mata acara khotbah; (2) meniadakan mata acara pembacaan dasa titah dan juga pertanyaan-pertanyaan dalam ibadah baptisan dan perjamuan kudus, supaya makna injil yang mengikat dan membebaskan itu jangan dikaburkan; karena manusia adalah manusia yang bebas dan sekaligis terikat oleh dan karena injil ( Paulus dan M.Luther ); (3) jemaat menyanyikan sebuah nyanyian permohonan ( “Sai tiop ma tanganhu” ) sesudah menerima berkat Tuhan melalui liturgis; (4) akan nampak nanti bahwa apa yang diinginkan oleh F.Tiemeyer belum menjadi keinginan umum para misionaris, karena usulannya tidak nampak dalam tata ibadah berikutnya, a.l. tata ibadah 1998, yang masih mengikuti susunan mata acara ibadah 1904.</p>
<p>Di bawah ini akan direkam susunan mata acara dalam tata ibadah 1904, yang masih menjadi acuan bagi ceramah F.Tiemeyer 1936 itu.</p>
<p>2.6. Urutan mata acara ibadah HKBP dalam Agenda Edisi 1904 dan Edisi 1998.</p>
<p>Uraian teologis di atas telah sekaligus memperkenalkan urutan mata acara ibadah yang diinginkan oleh F.Tiemeyer. Dan keinginan beliau tidak jauh dari susunan mata acara ibadah HKBP, yang menurut Edisi 1904 dikenal dengan nama “Agende” ( HKBP ).[10] Urutan mata acara ibadah tersebut disusun ( dalam 23 mata acara ) mencerminkan keinginan beliau:</p>
<p>1. Marende.</p>
<p>2. Pasu – pasu ( = Votum ! ).</p>
<p>3. Manjaha sada ayat na tongon tu ganup Minggu manang ari pesta sian bag.IIA.</p>
<p>4. Martangiang ( sian bag.IID ); Huria mandok: Amen!</p>
<p>5. Pandita mandok: Didongani Debata ma hamu!; Huria mandok: Amen! Tangihon hamu ma patik ni Debata: ( manang singungkun angka patik tu na torop I ).</p>
<p>6. Huria mandok di ujung : “Ale Tuhan Debata! Sai pargogoi ma hami, mangulahon na hombar tu patikmi!” Amen!</p>
<p>7. Marende huria: “O Jesus Panondang di portibi on” ( No.24 )[11]; manang No.21,3: “Paian Panondangmu ale Panondang i. Ambati ma na lilu di hasiangan i.”; manang ayat ni Ende na asing pinillit, jadi do.</p>
<p>8. Panopotion di dosa: Tatopoti ma dosanta! ( Dijaha tangiang on,manang sada na asing taringot tu panopotion, na tarsurat di bag. II B ). [12]</p>
<p>9. Pandita mandok: Bege hamu ma baga-baga ni Debata,taringot tu hasesaan ni dosa: “Molo tatopoti angka dosanta, haposan do Ibana jala bonar, manesa dosanta jala paiashon hita sian saluhutna hadeduhon i.” Manag hata baga-baga nasing na tarsurat di bag.II C.</p>
<p>10. Huria marende: “Amen, Amen, Amen na tutu do I, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana salelengna I, Lehonon ni Jesus haposanta i!” [13]</p>
<p>11. Pandita mandok: Tabege ma hata ni Debata turpuk ni ari Minggu on: ( jahaon sian Evangelium manang sian Epistel manang sian Padan na Robi, na so sipajojoron di na sadari I di parjamitaan ).</p>
<p>12. Pandita mandok : Martua do angka na tumangihon hata ni Debata, jala na umpeopsa. Amen!</p>
<p>13. Huria mandok : “Hatami ale Tuhanhu, arta na ummarga I etc.”</p>
<p>14. Pandita mandok : Tahatindanghon ma hata haporseaonta I, ( rapmandok Pandita dohot huria ): ….</p>
<p>15. Huria marende : “Na martungkot sere au etc.” ( No.168 )[14]; manang “Ojahan on do ingananhu” etc ( No. 155,6 ); manang “Pos ma ho rohanghu di Debata” etc ( No. 166 )[15] ; mamang :”Jahowa do haposanghi na, na mangapoi rohanghu” etc ( No. 148 )[16]; manang : “Loas hutiop Jesushi” etc ( No. 172, 4 ).[17]</p>
<p>16. Pandita ro tu parjamitaan, dohononna ma :”Dame ni Debata, na sumurung sian saluhut roha, I ma mangaramoti angka ate-atemuna dohot rohamuna, marhute-hite Jesus Kristus. Amen!</p>
<p>17. Marjamita. Dung sun marjamita, martangiang sian roha.</p>
<p>18. Tingting. Tiningtinghon angka sitingtinghononhon di huria.</p>
<p>19. Huria marende. ( Andorang marende mardalan durung-durung / persembahan ).</p>
<p>20. Pandita ro tu jolo ni langgatan, martangiang : Dijaha ma sada tangiang, na tongon tu minggu manang pesta ( ida di bag.II E di buku on ). Udutna luhut</p>
<p>21. huria mandok: “Ale Amanami na di banua ginjang ….Amen!</p>
<p>22. Pasu-pasu: “Dipasu-pasu jala diramoti ….” Manang : “Didongani asi ni roha ni Tuhanta Jesus Kristus ….”</p>
<p>23. Laho haruar: marende angka anak dohot boru sikola, sada ende na pinillit hian.</p>
<p>2.7. Penjelasan: Melihat susunan mata acara ibadah ( Agenda Edisi 1904 ) tersebut di atas, jika dibandingkan dengan susunan mata acara ibadah dalam Agenda edisi terkini ( misalnya Edisi 1998 ), maka beberapa diantaranya punya tempat yang tetap, tetapi ada pula yang sudah bergeser, ada penambahan, pengurangan, bahkan ada pula penghapusan. Sampai kapan tata ibadah 1904 digunakan sebagai pedoman resmi untuk memimpin ibadah minggu, belum dapat dipastikan. Mungkin tidak lama sesudah Konferensi 1936. Indikasi untuk itu dapat digunakan data-data dari sebuah buku catatan kuliah seorang siswa Sekolah Pendeta, Gomar Sihombing di Seminari Sipoholon, yang mencatat susunan tata ibadah Jumat Agung, Tahun Baru, Kenaikan, Natal dll untuk tahun 1933 dan 1934. Mata acara “Tingting” masih ditempatkan sesudah mata acara khotbah. [18]</p>
<p>Pertama, dalam satuan Votum: dalam Agenda 1904 ( nomor 1 – 5 ), mata acara no. 4 dan 5 sudah ditiadakan dalam Agenda 1998; mungkin sebagai gantinya dalam Agenda 1998 ialah mata acara no 3 di mana jemaat menyambut votum ( dan introitus ) dengan menyanyian Haleluya 3 kali.</p>
<p>Kedua, mata acara tentang pembacaan Hukum Taurat ( Dasa Titah ) berada dalam posisi yang sama dalam kedua Agenda, di mana tempatnya sesudah satuan mata acara yang termasuk bagian votum dan introitus ( Agenda 1904 dalam nomor 5-6 ) sedang dalam Agenda 1998 dalam nomor 6-7 ). Sebagai catatan tambahan: mata acara ini tidak disinggung oleh F.Tiemeyer dalam paparannya tahun 1936 itu. Mungkin perlu juga mencari alasan mengapa beliau tidak membuat refleksi teologis – praktisnya. Apakah ada keinginan untuk menghilangkannya dari mata acara ibadah? Cuma ada juga perubahan dalam mata acara ( no. 8 ) menyanyi dalam Agenda 1904, di mana beberapa nyanyian tertentu sudah dipilih untuk menyambut Hukum Taurat Tuhan, sedangkan dalam Agenda 1998 nyanyian tersebut dapat dipilih sesuai dengan fungsinya.</p>
<p>Ketiga, satuan mata acara berikut ialah tentang pengakuan dosa serta janji penghapusan dosa ( Agenda 1904, mata acara nomor 9-11 dan Agenda 1998,mata acara 9-11 ). Dalam kedua Agenda tersebut mata acara ini ditempatkan sesudah mendengar Hukum Taurat. Namun dalam mata acara tentang janji penghapusan dosa, Agenda 1904 telah menyusun doa tertentu :”Molo itatopoti angka dosanta …!” Doa ini dapat juga diganti oleh salah satu doa yang tersedia dalam bagian II.C. Doa tersebut sudah dihilangkan dalam Agenda 1998. Perubahan lain yang terjadi diantara kedua Agenda tersebut ialah dalam hal menyanyikan nyanyian menyambut mata acara pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa. Agenda 1904 ( mata acara nomor 11 ) mencantumkan nyanyian tertentu yaitu :”Amen, Amen, Amen, na tutu do I, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana, salelengna I, Lehonon ni Jesus, haposanta i!” [19] Agenda 1998 tidak membatasinya, artinya bisa diambil nyanyian yang sesuai dengan mata acara tersebut.</p>
<p>Keempat, satuan tentang pembacaan firman Allah ( Epistel ) ditempatkan sesudah pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa dalam kedua Agenda tersebut ( Agenda 1904 dalam mata acara nomor 12-14, dan dalam Agenda 1998 dalam mata acara nomor 12-13 ). Dalam Agenda 1904, jemaat menyambut pembacaan firman dengan nyanyian yang sudah ditentukan dalam Agenda, yaitu: ”Hatami ale Tuhanku, arta na ummarga etc.” [20] Agenda 1998 tidak membatasinya.</p>
<p>Kelima, satuan mata acara berikut untuk kedua Agenda ialah jemaat mengucapkan Pengakuan Percaya Rasuli ( Agenda 1904,nomor 15-16 dan Agenda 1998,nomor 14 ). Tetapi Agenda 1998 telah menambahkan kalimat ajakan liturgis untuk pengucapan secara bersama melalui kalimat berikut : “…..songon na hinatindanghon ni donganta sahaporseaon di sandok portibi on. Rap ma hita mandok: .…” Agenda 1904 menyebutkan beberapa nyanyian ( 5 nynyian ) untuk menguatkan pengakuan percaya jemaat tersebut, dan Agenda 1998 tidak membatasinya.</p>
<p>Keenam, ada perbedaan yang signifikan dalam mata acara berikutnya. Agenda 1904 ( mata acara nomor 17-19 ) menempatkan mata acara untuk khotbah yang didahului oleh doa peneguhan akan janji Allah yang telah memberikan damai sejahteraNya dan akan memberikan-Nya lagi melalui firman Allah yang dikhotbahkan oleh pengkhotbah. Sesudah khotbah, jemaat mendengar “Tingting” ( warta jemaat: mata acara nomor 19 ); kemudian dilanjutkan dengan nyanyian menyambut khotbah dan tingting, dan pada saat bernyanyi jemaat mengumpulkan persembahan ( “durung-durung” )[21]. Dapat dicatat, bahwa persembahan dilakukan satu kali, dan dalam Agenda 1998 sebanyak dua kali.Dan akhir-akhir ini persembahan sudah dilakukan tiga kali ( tiga kantongan persembahan ). Agenda 1998 menempatkan mata acara tentang “Tingting” ( mata acara nomor 15 ) sesudah mata acara Pengkuan Iman Percaya, kemudian menyanyi sebagai penghantar khotbah ( mata acara nomor 17 ) sambil jemaat mengumpulkan persembahan ( dengan dua kantongan : mata acara nomor 16 ). Khotbah disambut oleh jemaat dengan menyanyi; dan tanpa dicantumkan dalam mata acara 18, jemaat juga mengumpulkan persembahan kedua kali ( dengan satu kantongan ).</p>
<p>Dengan demikian nampak adanya pergeseran tempat dari mata acara “Tingting”: Agenda 1904 menempatkannya sesudah khotbah, sedang Agenda 1998 menempatkanannya sebelum khotbah. Melalui penempatan ini, nampak bahwa Agenda 1904 lebih dekat kepada susunan mata acara ibadah dari Agenda Gereja Injili Union ( Die Evangelische Kirche Der Union di Prusia, Jerman ).[22]</p>
<p>Ketujuh, mata acara ibadah diakhiri dengan doa penutup dan berkat oleh Pendeta yang berkhotbah, namun caranya berbeda-beda. Dalam Agenda 1904 liturgis mengambil sebuah doa yang dapat dipilih dari bagian II E, kemudian mengundang jemaat bersama-sama mengucapkan doa “Bapa Kami..!”, kemudian ditutup dengan pengucapan Berkat ( mata acara 21-22 ), dan jemaat mendengar sebuah nyanyian dari para anak-anak sekolah Dasar ( mata acara 23 ). Dalam Agenda 1998, Pendeta / Liturgis membacakan doa persembahan ( mata acara nomor 19 a ), kemudian membacakan “Doa Bapa Kami” ( mata acara 19b ), dan bagian terakhir dari Doa tersebut dinyanyikan oleh jemaat : “Karena Engkau yang punya kerajaan …” ( mata acara nomor 20 ), dan diakhiri dengan ucapan Berkat ( mata acara nomor 21 ) serta disambut oleh jemaat dengan menyanyikan “Amin, Amin, Amin!” ( mata acara nomor 22 ). Dalam mata acara untuk hari-hari raya gerejawi tertentu ( Paskah dll ), diucapkan juga sebuah doa khusus untuk itu yang diambil dari Agenda bagian II E ), dan tempatnya sebelum pengucapan Doa Bapa Kami.</p>
<p>Kedelapan, dalam Agenda 1904 ada tata ibadah Minggu yang khusus untuk jemaat muda yang dipimpin oleh seorang Guru Jemaat ( Guru ).[23] Ada beberapa mata acara yang ditiadakan, yaitu mata acara tentang votum dan introitus, pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa, serta doa yang menghantar Doa Bapa Kami, demikian juga pengucapan Berkat. Besar kemungkinan alasannya ialah bahwa mata acara tersebut hanya dapat dilayankan oleh Pendeta sebagai liturgis. Namun nampak bahwa penghapusan ini sudah mengurangi esensi teologis dari mata acara ibadah itu, dan hal ini tidak disinggung oleh F.Tiemeyer dalam paparannya di atas. Artinya yang dihilangkan itu tidak lagi dihargai sebagai bagian yang esensial dari sebuah ibadah injili. Dalam Agenda 1998, susunan tata ibadah untuk jemaat muda sudah ditiadakan. Namun dalam Agenda 1998, masih ada sisa pemahaman tentang perbedaan pelayanan ibadah oleh pendeta dan non-pendeta. Ini nampak dalam sapaan yang berbeda antara pendeta dan non-pendeta dalam pemberian berkat, antara kata “engkau” / “ho” untuk pendeta sebagai liturgis dan “kita” / “hita” untuk yang non-pendeta ( Guru atau Sintua, atau Diakones atau Bibelvrouw) . Ada baiknya pembedaan ini dipikirkan, apakah pembedaan itu bisa dibenarkan dari sudut teologi Martin Luther, yang menghilangkan pembedaan antara klerus / imam dan non-klerus. Fungsi imam dalam Perjanjian Lama sudah digenapi oleh jabatan rajani setiap orang Kristen dan khususnya oleh ketiga jabatn Yesus Kristus yang sudah bangkit itu.</p>
<p>2.8. Urutan mata acara menurut Justin Sihombing.</p>
<p>Masih ada penjelasan tentang susunan mata acara tata ibadah minggu yang harus diperhatikan, yakni dari kalangan para pendeta HKBP masa kepemimpinan para misionaris RMG dan pada awal masa kemandirian HKBP ( sejak 10-11 Juli 1940 ). Diantara mereka ialah Pdt. M. Pakpahan dan Pdt. Dr.Justin Sihombing, Ephorus Emeritus kedua dari kalangan pendeta HKBP ( 1942-1962 ). Pada kesempatan ini cukup kalau diambil pikiran dan penjelasan dari Justin Sihombing, yang dalam usia lanjut masih menuliskan sebuah buku tentang khotbah dan tata ibadah HKBP tahun 1963. [24] Beliau melihat bahwa sedikitnya ada empat hal yang mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah tata ibadah Minggu.</p>
<p>Pertama, tata ibadah itu harus mencerminkan makna dan arti dari persekutuan kristiani, yakni “parsaoran ni Debata dohot huria-Na dohot parsaoran ni huria dohot Debata.” [25] Artinya, persekutuan Allah dengan gereja-Nya dan persekutuan gereja dengan Allah.” Segala sesuatu yang tidak mendukung unsur hakiki, hendaknya dijauhkan, sebaliknya segala sesuatu yang mendukungnya hendaknya diupayakan. Lebih jauh lagi, beliau menekankan bahwa persektuan gereja dengan Allah, bukanlah persekutuan seseorang dengan Allah, karena itu apa yang hanya menguntungkan orang per-orang hendaknya jangan dilakukan dalam ibadah itu, tetapi segala sesuatu yang terjadi dalam ibadah, hendaknya berkaitan dengan kepentingan “hatopan” ( umum / public ). Beliau sangat mengedepankan arti dan makna sebuah “huria”, sebuah Gereja, persekutuan orang-orang percaya; Gereja yang aktif, bukan individunya orang – perorang. Ketika pemberitaan firman diberikan melalui khotbah, maka yang menjawab bukan individu, tetapi jemaat sekalipun bukan dengan suara yang kedengaran, tetapi melalui suara hati para pendengar khotbah itu. Beliau menjelaskan makna yang terdalam dari persekutuan itu dengan menerapkannya akan arti sebuah nyanyian atau paduan suara dalam ibadah. Beliau mengatakan, bahwa “rapna” i do pangkal manang ojahan ni parendeon di bagasan parpunguan Kristen, ndada holan ende ni angka koor. Ai ndada holan na marende na arga, alai na rap marende I do. .. ai ia merande pe angka koor ala na dipasahat huria I do tu nasida…. Ingkon domu do parendeonnasida tu pangkilaan ni huria na mangutus nasida taringot tu ganjang ni ende, loguna dohot hata ni ende i. Asa ndang na bebas nasida mambahen lomo-lomona. ” Misalnya, dalam sebuah doa, kata yang digunakan ialah kata “kami”, bukan “saya”</p>
<p>Kedua, adapun caranya Allah bersekutu dengan gereja /jemaat-Nya ialah melalui manusia yang Allah utus bagi jemaat itu. Dan cara yang dipakai oleh utusan Allah hanya satu, yakni melalui pemberitaan firman itu ( “marhite sian na mangkatahon hata I sambing. ) Masih ada pendukungnya, yakni berupa symbol untuk lebih menekankan arti dan makna firman itu sendiri. Pada saat melayankan kedua sakramen, di sana muncul juga bebagai bahasa simbolis / kiasan atau gerakan simbolis, misalnya pada saat memercikkan air baptisan dan mempersiapkan tanda-tanda nyata perjamuan kudus dalam rupa roti dan anggur, atau pada saat liturgis mengangkat kedua tangannya saat menyampaikan berkat Tuhan Allah; juga pada saat jemaat berdiri. Semuanya itu punya muatan simbolis. Beliau menekankan, bahwa muatan-muatan simbolis itu bukan untuk mensahkan apa yang dilayankan itu, hanya sebagai alat menolong penghayatan atau penerimaan sakramen itu.</p>
<p>Ketiga, dia yang berbicara ditengah-tengah persekutuan yang beribadah itu bertindak sebagai wakil jemaat untuk berbicara kepada Tuhan Allah melalui doa, atau sebagai wakil Allah menyapa jemaat itu melalui khotbah . Dan menurut beliau, mereka yang bertindak sebagai wakil Allah dan juga sebagai wakil jemaat, tidak perlu harus seorang pendeta atau guru , tetapi dia harus yang diangkat ( “pinabangkit” ) oleh jemaat itu; artinya, dia yang diberi oleh jemaat wewenang dan tugas untuk melakukannya. Seseorang tidak berhak mengangkat dirinya untuk berdiri di depan jemaat sebagai wakil Allah dan sekaligus sebagai wakil jemaat. Allah itu adalah Allah yang cinta keteraturan.</p>
<p>Keempat ( terakhir ), segala sesuatu yang terjadi dalam ibadah harus sesuai dengan kehadiran atau keberadaan ( “haadongon” ) Allah dalam persekutuan itu. Jemaat harus merasakan bahwa Allah hadir dari awal hingga akhir ibadah, bahwa jemaat itu bersekutu di hadapan Allah. Untuk itu,hedaknya diupayakan supaya ibadah itu dapat berjalan dalam suasana keteduhan, jangan ada orang yang keluar masuk tempat ibadah, atau jangan ada orang yang keluar sebelum ibadah ditutup.</p>
<p>Beliau dalam memberikan penjelasan dan arti dari setiap mata acara ibadah [26], beliau mengacu pada susunan mata acara ibadah dalam Agenda HKBP terakhir ( misalnya edisi 1998). Muatan teologis dari penjelasan-penjelasan yang diberikan J.Sihombing hampir sama dengan apa yang diberikan F.Tiemeyer, bedanya hanya bahwa J.Sihombing tidak meberikan pemikiran atau refleksi yang kritis terhadap beberapa mata acara ibadah itu, seperti yang dilakukan oleh F.Tiemeyer. J.Sihombing lebih focus pada upaya mengingatkan jemaat khususnya para liturgis / pengkhotbah, supaya tata ibadah itu dipakai secara sungguh-sungguh dan menjauhkan sikap membaca tanpa menghayatinya, atau sikap acak-acakan. Misalnya, ketika jemaat bernyanyi, hendaklah jemaat merasakan bahwa melalui nyanyian itu jemaat ingin berbicara dengan Allah. Mustahil jemaat berbicara dengan Allah dengan suara yang dilagukan secara tidak baik; makanya setiap anggota jemaat harus mengetahui melodi dari nyanyian dalam Buku Ende HKBP, karena itulah harta yang sangat berharga. Atau, ketika liturgis menyampaikan votum, “patut tarsunggul di bagasan rohana nang di roha ni huria i, angka na binahen ni Debata Ama na tarsurat di Padan na Robi sahat ro di nuaeng.” Artinya, mendengar nama Allah Tritunggal itu, maka liturgis dan jemaat terus merasakan dalam batin mereka alangkah besarnya dan banyaknya tindakan Allah demi keselamatan umat-Nya sepanjang zaman.</p>
<p><strong>3. Beberapa masalah teologis dan praktis yang masih tersisa.</strong></p>
<p>3.1. Beberapa masalah teologis dan praktis yang diliput dari paparan-paparan diatas, menjadi tugas Gereja masa kini. Di bawah ini akan disebut beberapa yang paling penting.</p>
<p>Pertama, adanya kecenderungan kearah pemahaman yang bersifat individualistis dan moralistis tentang “pengakuan dosa” dan tentang “Hukum Taurat” , seperti tercermin dalam doa-doa. Pertanyaan yang mungkin diajukan ialah, di mana akarnya mengapa demikian? Apakah karena pengaruh kehidupan yang “pietistic” abad-abad ke-18 dan ke-19, sekalipun F.Tiemeyer ingin menghindar dari bahaya Pietisme itu? Apakah ketegangan ( dialektis ) dari Injil dan Taurat masih tercermin dalam keseluruhan mata acara ibadah itu? Apakah tata ibadah hari Minggu (HKBP ) terlampau “cerah” ( “nuechtern” ) seperti dituduhkan pada J.Calvin &#8211; menurut pantauan Tiemeyer. Bagaimana caranya menerapkan apa yang diharapkan Tiemeyer, supaya firman Allah yang dikhotbahkan itu benar-benar “mengikat” dan sekaligus “membebaskan”? Inilah beberapa pertanyaan teologis dan praktis yang dituntut oleh refleksi akan dasar-dasar teologis dari tata ibadah edisi dulu ( 1904 ) dan kini ( 1998 ). Suatu masalah yang sulit untuk dikritik oleh F.Tiemeyer yaitu tentang ajaran-ajaran katekisasi yang berpusat pada upaya untuk merubah pikiran, karakter dan mental orang-orang Kristen ( Batak ) yang masih kuat dikuasai oleh hidup “kekafiran” yang memang mereka sudah tinggalkan secara formal melalui berbagai ibadah, baptisan kudus dan perjamuan kudus, dan melalui penggerejaan seluruh penggalan kehidupan mereka mulai lahir hingga kematian, sebagaimana tercermin dalam berbagai tata ibadah dalam Agenda 1904. Prioritas utama bagi setiap misionar ialah bagaimana supaya hidup setiap orang Kristen itu dapat digarami dan disinari oleh Injil dari dalam diri mereka masing-masing. Dengan tujuan merubah kehidupan dari dalam, dan bukan hanya dari luarnya. Dan mungkin semangat pietisme dari Eropa menjadi dambaan para misionaris, namun hanya dari segi pertobatan secara individualistik tanpa ada kepedulian pada dunia sekitar yang dilanda banyak masalah sosial dan ketidakadilan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sangat pribadi yang tercantum dalam tata ibadah baptisan, perjamuan kudus, dan juga pembacaan Hukum Taurat setiap Minggu mengisyaratkan tujuan penginjilan yang moralistik – individualistik itu. F.Tiemeyer tidak mengajukan pemikiran yang kritis tentang hal ini, tetapi sudah mengajukan dasar-dasar teologis yang bukan piestistik moralistik, tetapi mengedepankan Injil yang mengikat dan sekaligus membebaskan itu, seperti beliau canangkan dalam ceramahnya 1936 itu. Tetapi beliau secara tidak langsung sudah merindukan adanya revisi tata ibadah yang lebih mengacu pada dasar-dasar teologis dan praktis yang lebih reformatories, bukan yang tetap melekat pada semangat penginjilan yang pietistik – moralistis, yang cenderung sangat menekankan Hukum ketimbang Injil. Asumsi kita ialah bahwa situasi jemaat-jemaat HKBP 2008 sudah berbeda dengan situasi jemaat-jemaat 1936. HKBP 1936 merayakan 75 tahun HKBP, dan HKBP 2011 akan merayakan 150 tahun pengkristenan dan sekaligus merayakan hari jadi HKBP yang ke-150 tahun pada tanggal 7 Oktober 2011. Tata ibadah mendatang harus memperlihatkan semangat yang lebih mencerminkan kuasa Injil ketimbang kuasa Hukum, karena RohTuhan berembus kemana Roh itu inginkan.</p>
<p>Kedua, adanya kecenderungan untuk menyesuaikan cara pemakaian tata ibadah yang cenderung ingin memenuhi kebutuhan ( “selera” ) jemaat yang menginginkan sebuah ibadah yang lebih menyentuh budaya hidup yang didominasi pesta budaya / adat Batak, yang dinikmati bukan oleh pikiran tetapi oleh hati yang merasa. Diskusi kea rah ini sudah pernah disinggung oleh Rapat / Konferensi para misionaris Jerman tahun 1925 di Sipoholon.[27] Antara lain disebutkan, bahwa dalam Konferensi tersebut muncul beberapa pikiran kritis: supaya diadakan beberapa model tata ibadah ( liturgy ), menghias dinding gereja dengan beragai gambar-gambar dari cerita Alkitab, supaya memperbanyak nyanyian gereja , membuat tata ibadah di mana porsi khotbah dikurangi,dan mengedepankan aspek merayakan dalam ibadah, bentuk gedung gereja yang lebih megah, membuatkan ibadah gerejawi buat perayaan musim panen dan musim menanam. Inilah beberapa usul perbaikan tahun 1925. Dan usul perbaikan tahun 2008 ini akan memperhitungkan kritik jemaat terhadap tata ibadah hari Minggu HKBP serta upaya HKBP untuk menyambut keinginan jemaat akan sebuah tata ibadah yang lebih santai, lebih dekat pada persaan hati ketimbang pada pikiran. Berapa jauh Gereja dapat dan harus memasuki jiwa mistik dan misteri yang dijiwai oleh manusia Indonesia? Aspek mistik dan misteri ini diduga bakal semakin kuat oleh karena pengaruh ibadah / kultus Islam di Indonesia dan juga oleh pengaruh tata ibadah Kristen Kharismatik. Mungkin khotbah dan pengajaran yang disajikan itu terlampau didominasi oleh pikiran yang dingin dan kurang mempedulikan emosi ( “Gemuet” ) para pendengarnya, sebagaimana diungkapkan oleh sebagian anggota jemaat gereja-gereja arus utama tarmasuk HKBP. Demikian beberapa pemikiran yang disampaikan, yang perlu dikaji ulang pada kesempatan ini. Pikiran kritis tahun 1936 dan tahun 2008 ini dapat menjadi kekuatan bagi para pelayan HKBP dalam membentuk beberapa bentuk tata ibadah hari minggu tetapi selalu menghargai hal-hal yang fundamental bagi sebuah tata ibadah injili. Hal ini akan dilihat lebih dalam paparan berikutnya.</p>
<p>Ketiga, Pertanyaan yang menyoroti cara-cara pemakaian yang tidak lagi mendukung hakekat injili dari ibadah Minggu, seperti terjadi tahun 1936 itu, semakin mengemuka dan semakin nyaring pada zaman, di mana kita hidup, terutama sejak gerakan Kristen Kharismatik memasuki kehidupan beribadah anggota-anggota jemaat dari gereja-gereja arus utama di Indonesia sejak tahun 1970-an. Memudarnya keheningan yang berpusat pada kehadiran Tuhan Allah yang bertindak dan respon manusia yang berdosa sekaligus diampuni dosanya, manusia yang bebas oleh Injil dan sekaligus terikat oleh tuntutan Hukum Allah ( Taurat ). Penyebabnya, a.l. banyaknya paduan suara yang mempersembahkan lagu-lagu pujian yang tidak mendukung mata acara ibadah, warta jemaat yang terlampau bertele-tele, kesiapan para liturgis untuk membacakan sekaligus menghayati mata acara ibadah, banyaknya pengumpulan dana melalui kantong-kantong persembahan, khotbah yang kurang focus dan terlampau dogmatis, praktek lelang yang melelahkan dan menonjolkan kompetisi antara yang melakukan lelang, dll. Pertanyaan yang harus dijawab ialah, bagaimana caranya mengembalikan keheningan itu, keteraturan, kehadiran Allah yang bertindak, pelayanan Yesus Kristus yang tidak suka dilayani, gerakan Roh Kudus yang seperti angin, yang tidak bisa dikendalikan upaya manusia secara ritus atau mistis, sehingga mata acara ibadah itu mengalir seperti air yang menyejukkan pikiran dan hati para pengunjung ibadah, sehingga mereka benar-benar bertemu dengan Tuhan Allah yang mengundang mereka memasuki rumah Allah? Bagaimana membentuk sebuah tata ibadah yang mencerminkan keseimbangan antara makanan pikiran ( dogmatis / teologis ) dan makanan hati / emosi, keseimbangan antara yang cerah dan yang emosional – selebritis, keseimbangan antara yang penuh keheningan dan yang bersemangat perayaan penuh suka cita? Bentuk tata ibadah yang tetap hikmat dan mulia masih diinginkan oleh sebagian anggota jemaat gereja arus utama termasuk HKBP. Inilah seperangkat pertanyaan yang bersifat teologis dan praktis. Hadirnya kelompok-kelompok paduan suara dalam ibadah minggu hendaknya mendukung dasar-dasar teologis dari sebuah ibadah injili itu, bukan sebaliknya mengaburkannya, demikian juga mata acara lainnya, seperti isi warta jemaat.</p>
<p>Keempat, perlunya mencermati pertanyaan-pertanyaan kritis tahun 1936 yang dikemukakan oleh F.Tiemeyer sebagai suatu cara memperkaya diskusi tahun 2008 ini. Beliau mengangkat pertanyaan-pertanyaan kritis yang beliau ajukan pada pemahaman akan bagian-bagian liturgy lainnya, yang tak terpisahkan dari liturgy ibadah hari Minggu dan hari-hari raya kegerejaan lainnya menurut kalender gerejawi sepanjang abad itu. Beliau menyoroti keabsahan teologis dan praktis dari ibadah yang menyangkut: ibadah naik sidi, baptisan, pemberkatan nikah, perjamuan kudus, pemakaman, pengucilan, dan ordinasi pendeta.[28] Pada kesempatan ini akan diambil sorotan beliau tentang naik sidi, baptisan dan perjamuan kudus. Ketiga ibadah itu tidak lepas dari ibadah hari Minggu, karena ketiganya dilakukan pada hari Minggu atau hari-hari perayaan kalendaris gerejawi, dan urutannya sesudah mata acara khotbah dan pengumpulan persembahan. Menurut beliau, terjadi berbagai penyimpangan dalam melakukan ketiga ragam ibadah diatas. Dalam ketiganya ada isi mata acara yang telah mengaburkan hakekat injili dari sebuah tata ibadah yang injili.</p>
<p>A).Dalam ibadah naik sidi, menurut beliau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh calon konfirmanden itu telah memaksa mereka untuk berjanji ( “marpadan” ) mengiyakan dan melakukan apa-apa yang mustahil dilakukan tanpa salah sebagai manusia biasa, yaitu: mengakui firman Allah yang mereka pelajari sebagai jalan ke kehidupan ( pertanyaan I ), percaya kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus ( pertanyaan II ), bersedia berperilaku sesuai dengan iman ( haporseaon ) yang telah diakukan ( pertanyaan III ), bersedia menjauh dari segala macam dosa dan segala macam hal yang bertentangan dengan firman Allah, sampai akhir hayat ( pertanyaan IV ); bersedia menghadiri ibadah hari Minggu untuk mendengarkan firman Allah, dan juga bersedia setiap hari berdoa kepada `Allah ( V ); dan terakhir, bersedia mengikuti perjamuan kudus sebagai jalan untuk menguatkan iman ( VI ). Beliau mempertanyakan apakah layak Gereja itu seolah-olah punya hak dalam nama Allah untuk mendorong ( memaksa ) mereka berjanji di hadapan Allah dan jemaat, bahwa mereka tidak akan melepaskan diri dari Yesus sumber kehidupan itu ( “’Nada ra be morot au sian Jesus hangoluan’” ).[29]</p>
<p>Penjelasan kritis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut beliau secara teologis tidak dapat dibenarkan, sebab adalah keyakinan umum bahwa manusia itu selalu cenderung untuk melarikan diri dari hadapan Allah. Kemudian, bagi F.Tiemeyer tidaklah benar secara teologis untuk mengundang mereka yang baru naik sidi itu untuk melakukan perjamuan kudus. Karena di situ ada unsur pemaksaan. Usul beliau ialah, supaya menghilangkan ke-enam pertanyaan itu, pertanyaan sehubungan dengan pengikatan janji itu. Mata acara pengakuan iman percaya sangatlah tepat untuk dipertahankan dan dilaksanakan. Sebagai ganti dari keenam pertanyaan yang bermuatan pemaksaan kehendak terhadap calon naik sidi, ini lebih baik diganti dengan himbauan atau bimbingan berdasarkan firman Allah. Kemudian, supaya acara perjamuan kudus dipisahkan dari acara naik sidi, dan dengan demikian keinginan yang tulus dari setiap anggota jemaat untuk mengikuti atau tidak mengikuti menjadi prioritas utama. Tentang keinginan supaya usia memasuki pelajaran naik sidi itu di geser ke tingkat usia yang lebih dewasa, hal ini sebaiknya dipikirkan secara psikologis – religi, tetapi kalau jawabannya dari segi teologi ialah, bahwa Roh itu bergerak kemana Dia inginkan. Dan sebagaimana beliau asumsikan, bahwa perubahan usia memasuki naik sidi itu dikaitkan dengan tujuan “lahir kembali” ( Neugeburt ), pada hal tentang lahir kembali itu tidak pernah bergantung pada usia seseorang.</p>
<p>B). Tentang ibadah baptisan, beliau mengedepankan pikiran beliau, bahwa dalam baptisan itu, Allah telah melakukan sebuah awal yang baru. Allah yang bertindak, bukan manusia. Bukan dengan cara magis, tetapi melalui firman yang anugerah itu. Dalam baptisan anak-anaklah memang paling nyata bahwa Allah yang bertindak, bukan manusia bersama Allah. Beliau memberikan alasan teologisnya, bahwa jauh sebelum manusia tahu secara sadar akan yang baik dan yang jahat, jauh sebelum kita manusia dapat memutuskan sesuatu untuk kita, kepada kita sudah jatuh sebuah keputusan melalui sebuah akta yang nampak, di dalam nama Allah. Dengan alasan demikian, beliau mengatakan bahwa anak baptisan itu melalui akta baptisan telah menerima secara utuh keselamatan dari Allah.</p>
<p>3.2. Usul perbaikan: Berdasarkan pemikiran teologis di atas, beliau melihat ada yang harus diperbaiki dalam rumusan-rumusan kata-kata resmi ( liturgy ) dalam mata acara baptisan itu. Beliau mempertanyakan, apakah bisa dipertanggungjawabkan ( teologis ), kalau para orang tua anak baptisan mengucapkan pengakuan percaya mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka? Apakah hal ini mengisyaratkan, bahwa manusia dapat membuat keputusan sendiri atas kekuatannya sendiri. Dan mengapa Gereja menginjinkan para calon baptisan atau orang tua para calon baptisan ( anak-anak ) lebih dulu mengucapkan pengakuan percaya mereka? Apakah baptisan itu bergantung pada ( kemampuan ) iman manusia? Apakah kita tidak tahu, demikian beliau, bahwa baptisan hanya terjadi di atas dasar firman Allah, atas dasar perintah Kristus? Karena tanpa firman itu, air baptisan tetap air, dan tidak bakal ada baptisan, demikian beliau mengutipnya dari seorang teolog sezamannya. Dan terakhir, beliau memberi komentar atas kelemahan dari pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh para orangtua anak baptisan. Ketiga pertanyaan itu tidak memberi ruang untuk memikirkan hubungan antara pertobatan ( Busse ) dan baptisan, yang dikedepankan ialah hubungan antara baptisan dan pengajaran ( Schulunterricht ), antara baptisan dan perilaku yang terpuji ( guten Wandel ) [30]</p>
<p>C.) Sorotan berikut ialah tentang dasar teologis dan cara merayakan perjamuan kudus seperti tertuang dalam Agenda 1904.[31] F.Tiemeyer memperkenalkan posisi teologis beliau, bahwa “perjamuan kudus menggambarkan kehadiran yang hidup dari Allah yang dinyatakan dalam Kristus ( die lebendige Gegenwart des in Christus geoffenbartes Gottes ). Di sini nampaklah cinta kasihNya ( seine Liebe ). Pemberian-Nya ( Sein Geben ). Ajakan-Nya ( Sein Werben ). Simpati-Nya kepada kita ( Seine Hingabe an uns ). Singkatnya EUXARISTI.” Beliau menambahkan lagi bahwa, perjamuan kudus adalah akta yang sesungguhnya, yang mendasar dalam mendirikan jemaat-Nya.</p>
<p>3.3. Penjelasan kritis: Berangkat dari pemahaman di atas, beliau melihat bahwa tugas yang paling sulit untuk para misionaris RMG / HKBP ialah membaharui tata ibadah perayaan perjamuan kudus yang sejak 1860-an telah dirayakan oleh jemaat-jemaat di HKBP. Namanya saja yaitu “ulaon na badia” ( karya yang kudus ) telah menciptakan pemahaman tentang perbuatan baik dari pihak manusia. Beliau menilai bahwa di sini sudah terjadi kesalahpahaman tentang perayaan perjamuan kudus. Kelima pertanyaan yang mau dijawab oleh jemaat sangat jelas mengedepankan kemauan baik ( guten Willen ) manusia, dan baru pada tempat yang kedua muncul kasih Allah dan kepedulian Allah Bapa didalam Anaknya Yesus Kristus. Beliau menekankan, bahwa upaya-upaya pertobatan kita manusia tidak akan memampukan kita menerima sakramen itu, melainkan hanya iman: “’diberikan dan dicurahkan bagimu’”. Beliau ingin kembali pada pemahaman jemaat mula-mula, di mana nampak unsur perayaan, bukan kelayakan manusia menerima atau belum layak menerimanya. Unsur perayaan itu sedemikian berharga, yang padananya ialah perayaan hari kematian dan pemakaman orang-orang percaya. Kekayaan karya perbuatan Allah dalam perjamuan kudus ( Abendmahl = perjamuan malam ) telah tertutupi dalam “ulaon na badia” ( karya kudus manusia ). Untuk itu beliau masih mengutip pandangan seorang teolog sezamannya, bahwa perjamuan malam itu adalah jaminan realitas Gereja dalam dunia kematian kita dan kepastian harapan akan hari, di mana kerinduan jemaat pengantin laki-laki digenapi oleh jamuan malam domba.</p>
<p><strong>4. Dasar-dasar teologis dan praktis ibadah menurut para pemerhati ibadah kristiani masa kini.<br />
</strong><br />
Di bawah ini akan diperkenalkan berbagai opsi tentang ibadah yang sejati, yang injili sebagaimana dilihat oleh para pemerhati dari bidang Teologia. Tujuannya ialah bukan untuk membuat sebuah perbandingan , tetapi untuk semakin memantapkan pemahaman teologis dan praktis sebagaimana diharapkan oleh F.Tiemeyer , yang mewakili suara para pelaku pengadaan buku Agenda HKBP. Dengan demikian kita pun tertolong untuk menggunakannya sebagai bahan acuan dan referensi untuk merevisi tata ibadah HKBP. Sepintas terkesan bagi kita, alangkah dekatnya pendekatan dan pemahaman dari para generasi misionaris Jerman tersebut dengan opsi-opsi yang disajikan oleh para pemerhati kini. Baik pikiran “lama” maupun pikiran “baru” tersebut cenderung untuk mendorong kita untuk memikirkan ulang dasar-dasar teologis dan praktis serta bentuk dari tata ibadah HKBP untuk masa depan.</p>
<p>4.1. Andar Ismail. Beliau membuat opsi yang sangat jelas dan sederhana, yaitu adanya tiga kaidah ibadah yang injili: (1) Kaidah keutuhan. Keutuhan semua mata acara ibadah mulai dari awal hingga yang akhir. Artinya, hakikat bagian awal ibadah adalah undangan pihak Tuhan Allah dan kedatangan pihak jemaat atau umat. Bagian awal ini dicerminkan oleh pujian, penyesalan, perendahan diri, pengakuan dosa, permohonan, dan pemberitaan anugerah. Kemudian sapaan Allah adalah bagian yang kedua, dicerminkan oleh: pembacaan Alkitab, khotbah, dan sakramen. Dan akhirnya ditampilkan bagian yang terakhir, yang dicerminkan oleh: pengakuan iman, persembahan, dan doa syafaat. Dengan menampilkan sebuah ibadah yang utuh, maka setiap anggota jemaat akan diberi kesempatan untuk menempuh perjalanan rohani / spiritual bersama dari jemaat /umat yang berkumpul itu. Asumsi kita, paparan F.Tiemeyer akan mendudukung usulan ini, yaitu menampilkan keutuhan dari semua mata acara ibadah injili itu, sekalipun urutan mata acara itu menampilkan perbedaan. Opsi Tiemeyer dan opsi Ismail sama-sama tidak menampilkan mata acara pembacaan Hukum Taurat; artinya penampilan Hukum Taurat dalam tata ibadah HKBP edisi 1998 tidak dipengaruhi oleh opsi kedua tokoh ini. Tata ibadah 1904 menempatkan mata acara pengakuan iman sebelum mata acara khotbah, sedang Tiemeyer dan Ismail menempatkannya sesudah khotbah; apa pun alasan masing-masing, kalau secara teologis – praktis alasan-alasan tersebut tidak bakal bertentangan, tergantung pada penekanan dari hakikat Hukum Taurat itu sendiri, karena Hukum Taurat merangkum Hukum Kasih, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, jadi bukan menonjolkan muatan yang berlebih-lebihan akan tuntutan kehidupan moralistis-individualistis, yang cenderung menggambarkan dunia gelap yang penuh kuasa iblis yang harus dijauhkan oleh setiap orang percaya. Dengan kalimat Tiemeyer, Gereja harus mempertahankan adanya ketenangan indah / dialektis antara keterikatan dan kebebasan yang bersumber dari firman Allah yang dibaca dan dikhotbahkan itu. (2). Kaidah timbal-balik. Artinya, ibadah yang menampilkan adanya irama gilir-ganti, timbal-balik atau sahut menyahut. Ini nampak dalam mata acara votum: Allah menyatakan kehadiran-Nya, yang segera disambut oleh jemaat / umat; pembacaan Alkitab atau khotbah yang melambangkan firman Allah, yang segera disambut jemaat / umat dengan sikap bersaat teduh. Dengan kata lain, Allah menyapa dan jemaat menjawab. Atau jemaat bicara dan Than menjawab. Ketika jemaat berdoa, nampak bahwa jemaat bicara dan Allah mendengar, sekaligus berbisik kepada jemaat dan jemaat berdiam diri mendengar bisikan Allah. Dalam kaidah timbal-balik itu jemaat menampakkan diri sebagai subjek yang aktif, bukan pasif, sebagaimana diduga oleh sebagian orang. Tata ibadah HKBP 1904 dan 1998 menampakkan kaidah timbale-balik tersebut, sekalipun sering dikaburkan oleh banyaknya paduan suara yang memuji Tuhan bersama-sama dengan jemaat. Apa fungsi sebuah nyanyian paduan suara itu, seharusnya Gereja harus memberikan penjelasan teologis – himnologis kepada setiap paduan suara itu, yang memang adalah sebuah kekayaan rohani bagi setiap jemaat yang beribadah. (3). Kaidah keseimbangan. Dalam ibadah terjadi peristiwa di mana dua pihak yang berinteraksi, keduanya dalam tataran yang sama, “tidak ada pihak yang lebih dominan dari yang lain ”, demikian Ismail. Maksudnya ialah supaya jangan kita misalnya terus menyanyi tanpa hentinya, atau supaya setiap doa jangan berkepanjangan atau supaya khotbah jangan mendominasi panjangnya kebaktian. Menjaga keseimbangan mata acara dalam sebuah ibadah haruslah dijaga, supaya tercipta apa yang didambakan oleh Rasul Paulus untuk jemaat Alkitab saat Paulus melakukan kata bimbingannya supaya ibadah itu “harus berlangsung dengan sopan dan teratur”. ( 1 Kor. 14:30 ).[32] Kaidah ketiga ini pun sangat membantu gagasan merevisi tata ibadah HKBP yang sering tidak lagi mencerminkan kaidah keseimbangan ini. Kaidah keseimbangan menjadi salah satu faktor penentu dalam membuat sebuah ibadah yang injili di tengah-tengah jemaat HKBP.</p>
<p>4.2. John Stott. Beliau mendahulukan pemikirannya tentang kewajiban manusia yang utama dan terutama, yaitu kewajiban kepada Tuhan dan bukan kewajiban kepada sesama. Tidak semua orang Kristen adalah penginjil, tetapi semua mereka adalah pendoa, orang yang beribadah, baik secara pribadi maupun secara publik. Dan ibadah kepada Tuhan adalah kekal dan seluruh hidup kita adalah ibadah, artinya melayani Tuhan dengan seluruh hidup kita. Dan definisi alkitabiah yang paling tepat untuk pemahaman demikian, mungkin demikian beliau berasumsi ialah dengan mengutip Maz. 105:3, bahwa beribadah adalah “’bermegah dalam namaNya yang Kudus.’” [33] Di dalam nats ini terbungkus dengan rapi nama Allah yang kudus itu, artinya berbeda dengan dan mengatasi semua nama lain di dunia dan di surga, atau di mana saja yang dapat dibayangkan manusia. Begitu kita menatap sejenak kekudusan nama-Nya yang agung, kita melihat betapa tepatnya “’memuliakan’” atau bermegah di dalamnya, tidak ada pilihan lain hanya sujud di hadapan-Nya. Sudah selayaknyalah kita manusia bergabung dengan seluruh ciptaan Allah untuk memuliakan-Nya, karena Dialah Pencipta dan Penebus kita ( Wahyu 5:9-14). Sudah selayaknyalah kita manusia dengan seluruh ciptaan-Nya “’bersujud menyembah kepada tumpuan kaki-Nya’” ( Maz.99:5).</p>
<p>Berangkat dari definisi alkitabiah di atas, maka ada empat ciri utama bagi sebuah ibadah yang sejati, yaitu: (1) “ibadah sejati adalah ibadah alkitabiah, artinya ibadah itu merupakan tanggapan terhadap pewahyuan alkitabiah.” [34] Itu berarti bahwa pembacaan firman Allah dan khotbah bukanlah mata acara sampingan atau barang asing, tetapi justru merupakan mata acara yang hakiki. Adalah suatu hal yang wajar, ketika nats dibacakan dan khotbah disampaikan, maka jemaat akan sibuk membuka halaman Alkitab untuk menemukan dan mengikuti nats yang sedang dikhotbahkan. Ibadah yang sejati harus memberi kesempatan bagi jemaat untuk merespons, menanggapi firman Allah yang dibaca dan dikhotbahkan itu, dan oleh karena itu maka para pengkhotbah harus mempersiapkan khotbahnya dengan sempurna.</p>
<p>(2) “ibadah sejati adalah ibadah jemaat kolektif.” Artinya, ibadah yang menyenangkan Tuhan dipersembahkan bersama-sama oleh jemaat / umat-Nya, yang berkumpul untuk melakukannya. Lebih jauh lagi, Stott mengusulkan supaya ibadah jemaat local itu “seharusnya mengungkapkan cirri internasional dan intercultural tubuh Kristus.” [35] Saran beliau bagi jemaat-jemaat local yang homogen seperti HKBP ialah supaya gereja-gereja yang homogen itu sadar bahwa “setiap gereja satuan homogen harus mengambil langkah aktif untuk memperluas persekutuannya, agar dapat menampakkan secara kelihatan kesatuan dan keragaman gereja.” [36] Dalam pemahaman demikianlah, maka dapat ditambahkan, bahwa sudah sewajarnya gereja-gereja anggota PGI menyambut baik upaya PGI untuk merayakan sebuah hari Minggu dengan memakai tata ibadah dari salah satu anggota gereja-gereja PGI.</p>
<p>(3) “ibadah sejati adalah ibadah rohani.” Ciri ketiga ini mau mengingatkan gereja supaya jangan mudah jatuh pada formalisme dan kemunafikan ibadah orang Israel . Gereja-gereja sepanjang abad sering jatuh pada formalisme dan kemunafikan itu. Ini nampak misalnya dalam ibadah yang hanyalah ritus tanpa realitas, bentuk tanpa kuasa, berjalan begitu saja, mekanis, asal jadi, kesenangan tanpa rasa takut akan Tuhan, agama tanpa Allah. [37]Kritik ini senada dengan kritik yang disampaikan oleh F.Tiemeyer 72 tahun lalu ( 1936 ) dengan ucapan yang selalu beliau ulangi : “ibadah – tanpa Allah” ( “Gottesdienst – ohne Gott “ ). Stott sangat menggarisbawahi bahasa alkitabiah “takut akan Tuhan”. [38] Kata kunci ini menyimpan makna yang terdalam akan kerinduan manusia untuk menggapai yang transenden, sebagamana dirindukan oleh Gereja maupun gerakan-gerekan baru kekristenan, seperti gerakan New Age, gerakan yang mencampurbaukan berbagai macam kepercayaan – agama dan sains, fisika dan metafisika, panteisme purba dan optimisme evolusioner, astrologi, spiritisme, reinkarnasi, ekologi dan pengbatan alternative; gerakan yang sadar akan keterbatasan materialisme, yang tak dapat memuaskan roh manusia. Menghadapi kerinduan manusia modern dan post-modern ini, Stott mengharapkan supaya Gereja dapat menawarkan ibadah rohani, yang dapat mengungkapkan unsur “misteri”, seperti “rasa tenang yang sejati”, atau dalam bahasa alkitabiah “takut akan Tuhan”. Beliau tidak dapat mengharapkan banyak dari kaum injili yang mengutamakan pengabaran Injil sebagai spesialisasi mereka. Kaum Injili, demikian beliau, “hanya punya sedikit rasa tentang kebesaran dan keagungan Allah yang Mahakuasa. … tidak bersujud di-hadapan-Nya dengan kagum dan gentar.” [39] Kritik ini menjadi tantangan bagi gereja-gereja arus utama, termasuk HKBP, supaya berhasil menampilkan sikap rohani, sikap “rasa takut keada Allah yang Mahakuasa” itu.</p>
<p>Masih banyak buku-buku yang dapat dipakai untuk diskusi selanjutnya tentang dasar-dasar teologis sebuah tata ibadah, tetapi kedua buku di atas pun sudah memadai untuk memberikan orientasi ke masa kini dan masa mendatang. [40]</p>
<p><strong>5. Revisi: Saran dan Usul.</strong></p>
<p>Pertama, tata ibadah HKBP yang dipakai sejak awal pertumbuhan dan perkembangan jemaat-jemaat yang berasal dari hasil pekabaran Injil Jerman ( RMG ) sejak 1860-an sudah menjadi bagian hidup bahkan menjadi identitas teologis dan praktis dari HKBP. Sumbangan para misionaris angkatan pertama seperti I.L.Nommensen, P.H.Johannsen dan A.Mohri nampak dari isi laporan kerja mereka ke Kantor Pusat RMG di Jerman, demikian pula pemikiran dan keputusan yang mereka ambil dalam Konferensi tahunan mereka di Tanah Batak. Tata ibadah itu sudah pernah mengalami revisi seperti diindikasikan oleh ceramah F.Tiemeyer 1936; sebuah ceramah yang didiskusikan diantara kurun waktu antara Agenda edisi 1904 dan Agenda edisi kini ( misalnya cetakan 1998 ). Sayang kita belum sempat memasuki diskusi mereka dalam Konferensi tahun 1936 itu. Besar kemungkinan tata ibadah itu pernah mengalami revisi atau perubahan yang dibutuhkan sesuai pertumbuhan dan perkembangan jemaat-jemaat pemakainya.</p>
<p>Dalam kedua tata ibadah itu ditemukan susunan mata acara yang berbeda, namun dalam ceramah F.Tiemeyer 1936 atau dalam buku Justin Sihombing 1963 tidak ditemukan alasan-alasan mengapa terjadi perbedaan itu. F.Tiemeyer memberikan uraian yang kritis teologis dan praktis, serta memberi beberapa usul perbaikannya. Justin Sihombing memberikan penjelasan yang mendukungnya, dan memberi berbagai saran bagiamna memakainya secara cermat penuh komitmen, supaya selalu mendukung hal-hal yang fundamental dari tata ibadah itu. Karena tuntutan perubahan yang berkelanjutan, maka sudah sewajarnya tata ibadah kini harus mengalami revisi, supaya gereja HKBP menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka, sebagaimana dijanjikan oleh HKBP sejak tahun 2002, sejak Tata Gereja 2002 disahkan oleh Sinode Godang HKBP 2002.</p>
<p>Kedua, hal-hal yang fundamental yang dirindukan oleh para pendahulu kita, dalam hal ini F.Tiemeyer dan J.Sihombing, serta para pemikir teologi masa kini, hendaknya menjadi acuan bagi revisi tersebut. Hal-hal yang fundamental itu, a.l. (1) otoritas Tuhan Allah yang tidak bisa dikurangi oleh otoritas siapapun ( kata kunci F.Tiemeyer: menghindarkan supaya jangan terjadi : “ibadah – tanpa Allah” ( “Gottesdienst – ohne Gott” ); ( 2 ) berpusat pada firman Allah yang dibaca, dikhotbahkan dan diterima melalui kedua sakramen; (3) berangkat dari “imamat am orang-orang percaya” – seorang liturgis ( pendeta atau partohonan lainnya ) adalah sama di hadapan Allah dan dihadapan jemaat yang berkumpul; (4) kasih dan anugerah Allah yang mengalir dari mata acara pertama hingga mata acara terakhir, karenanya seorang pun tidak dapat mengandalkan kebolehannya / perbuatannya yang baik; (5) nyanyian pujian, paduan suara, dan musik instrumen adalah sarana untuk menyampaikan isi alkitabiah, bukan isi emosional kemanusiaan atau penampilan selebriti oknum-oknum yang membawa mata acara ibadah; (6) seluruh hidup ini adalah ibadah, baik ibadah dalam gedong gereja maupun di luar gedung gereja, yaitu di rumah dan di tempat kerja sebagai ibadah moral ( kesucian hidup ) yang peduli melawan ketidakadilan sosial, kemiskinan dan kebodohan; (7) menyentuh secara utuh hidup ini, yaitu baik pikiran, hati dan perasaan, tanpa jatuh pada sikap yang merugikan akal budi manusia yang selalu mencerahkan itu, tidak jatuh pada ekstase, mistisisme atau aliran New Age; (8) ibadah yang menjaga keutuhan, keseimbangan dan komunikasi timbal-balik; (9) ibadah yang lebih mencerminkan kuasa Injil yang mengikat dan membebaskan ketimbang kuasa Hukum yang menghakimi.</p>
<p>Ketiga, berdasarkan hal-hal yang fundamental di atas, maka ada beberapa unsur yang perlu direvisi, a.l. daftar pertanyaan yang ditujukan kepada orang yang mau dibaptis, yang akan mengikuti janji sidi, perjamuan kudus, calon suami – isteri pada acara pemberkatan nikah, agar dengan demikian nampak kuasa Injil yang mengikat dan sekaligus membebaskan itu dan sekaligus menampakkan keceriaan, sukacita dan bukan beban yang sangat menekan bersangkutan. Hal serupa hendaknya dipikirkan dalam bidang siasat gereja.</p>
<p>Keempat, tentang perbedaan susunan mata acara ibadah dalam kedua Agenda HKBP ( 1904 dan 1998 ), bisa tetap dipertahankan sebagaimana susunannya dalam Agenda 1998 atau kembali pada susunan dalam Agenda 1904 , tanpa mengurangi arti dan makna hal-hal yang fundamental dalam sebuah tata ibadah injili, misalnya dalam penempatan “tingting” ( warta jemaat ) sesudah ( 1904 ) atau sebelum ( 1998 ) khotbah. J. Sihombing memberikan alasan teologis buat penempatan “tingting” sebelum khotbah. [41]</p>
<p>Kelima, mata acara tentang Dasatitah dapat juga dipertahankan, tanpa jatuh pada sikap yang berlebihan akan fungsi Hukum yang sering dipakai untuk memisahkan mereka yang melanggar hukum gereja dari mereka yang tidak melanggarnya atau meeka yang tidak ketahuan melanggarnya, misalnya dalam pemberlakuan hukum “siasat gereja” HKBP. Atau penekanan yang berlebihan supaya manusia itu menampilkan pola hidup yang sangat moralistik dan sekaligus a-sosial, seolah-olah manusia dianggap bukan lagi makhluk sosial. Mata acara ini juga sudah hadir dalam tata ibadah sejak abad-abad pertengahan.[42] Dan sehubungan dengan fungsi siasat gereja itu yang sangat sarat dengan muatan hukum yang berangkat dari sikap “hitam – putih”, yang dikenakan pada seseorang, maka dalam rangka revisi Agenda HKBP, sudah sewajarnya juga kehadiran siasat gereja ini dipikir ulang, apakah masih relevan secara teologis dan praksis bagi gereja yang hidup dalam era post-modern ini. Perbuatan tentang “dosa struktural” ( social ) tidak masuk dalam perhatian hukum gereja seperti tercermin dalam siasat gereja itu.</p>
<p>Keenam, upaya merevisi tata ibadah HKBP, rupanya sama dengan upaya mencari teologia jemaat sebagai suatu kekuatan atau kelemahan dalam dirinya sebagai bagian dari Gereja Tuhan di dunia ini. Artinya, HKBP pada usia menjelang 150 tahun ( 1861 – 2011 ) patut berupaya untuk merumuskan kembali teologia apa yang harus mendasarinya, merumuskan identitas dan jati dirinya yang terbuka untuk pembaharuan, supaya HKBP menjadi sebuah gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka sesuai dengan visi dan misinya. Salah satu hal yang perlu diingat dan tak dapat ditawar-tawar dalam merumuskan identitas HKBP menurut Ephorus Ds.Dr. T.S. Sihombing dalam Barita Jujur Taon HKBP beliau di Sinode Agung HKBP 1972 ialah pengakuan akan landasannya tentang “’hubungan dengan Allah’” ( “pardomuan dohot Debata” ).[43] Artinya, HKBP harus menanyakan dirinya tentang relasinya denganTuhan Allah, sebagaimana disaksikan oleh HKBP dalam Konfesinya, karena identitas HKBP tercermin dalam Konfesinya yang dirumuskan sendiri tahun 1950. Merevisi tata ibadah HKBP dengan demikian adalah bagian dari upaya berteologia di kalangan HKBP bersama-sama dengan gereja-gereja yang sama-sama pewaris tradisi yang ditanamkan para misionaris Jerman ( RMG ) beserta para pelayan pribumi dan para tokoh gereja 147 tahun lampau di Tanah Batak yang plural itu.</p>
<p>Ketujuh, kekuatan dari Kristen Kharismatik, sebagaimana disadari oleh banyak pemikir teolog, misalnya Wilfred J. Samuel [44] , sebaiknya digunakan sehingga ibadah injili itu mencerminkan keceriaan dan sukacita, namun menjauhkan dominasi pengalaman manusia itu sendiri, karena itu akan mengaburkan dasar-dasar teologis seperti dicatat di atas. Bagi ibadah “alternative”, atau “ibadah khusus” atau apa saja namanya, yang diutamakan ialah “mengenal Yesus lebih banyak”, bukan “mengalami Yesus lebih banyak.” [45]Mungkin gereja-gereja arus utama sudah dalam arah yang tepat, ketika mereka menciptakan bentuk-bentuk ibadah yang agak longgar, yang kuran terstruktur, sehingga mereka lebih mampu “unutk mengalami kehadiran dan pemeliharaan Allah.” [46] Mungkin gereja-gereja arus utama harus memberikan peluang misalnya bagi kaum muda untuk melakukan sebuah “ibadah alternativ”[47], di mana pengunjung ibadah itu dapat berbagi pengalaman iman mereka sambil melakukan gerakan-gerakan yang lebih bebas ( tepuk tangan, menyanyikan lagu-lagu pop rohani, diiringi dengan band dan kelompok singersehingga mereka tidak “lari” ke gereja lain. Dan dalam ibadah seperti itu tidak perlu menghilangkan votum dan salam, pengakuan dosa serta janji penghapusan dosa. Yang perlu dihinarkan yakni supaya pengejaran pengalaman religius itu tidak sampai menghilangkan pikiran yang kognitif dan terkendali, artinya jangan sampai pada hal-hal yang bersifat ilusi / kepalsuan.</p>
<p>Penutup. Kiranya paparan di atas tentang sejarah singkat tata ibadah HKBP dalam upaya mencari hal-hal yang fundamental buat sebuah tata ibadah yang injili ini dapat menumbuhkan semangat melayani bagi sahabat kita Pendeta M.V.Simanjuntak dengan pola purna-pelayanannya &#8211; pasca usia 65 tahun &#8211; di ladang Tuhan HKBP dan gereja-gereja tetangga serta masyarakat dan bangsa. Karena pelayanan itu bukan sebatas usia 65 tahun, dinas penuh waktu, tetapi melampau masa tersebut seumur hidup. Selamat memasuki masa purna pelayanan bagi Pendeta M.V.Simanjuntak beserta keluarga. “… marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah…. ( Ibr. 12:28 ) Seumur hidup!</p>
<p><em>Medan, Juni 2008</p>
<p>Pdt. J. R. Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP)</em></p>
<p><strong>Kepustakaan</strong>:</p>
<p>    Abineno, J.L.Ch., Unsur-Unsur Liturgi Yang Dipakai Oleh Gereja-Gereja Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2000.<br />
    Agende ( 1904 ), dicetak oleh Percetakan Mission ( RMG ), Siantar – Toba, 1904.<br />
    Agende Fuer Die Evangelische Kirche Der Union . I.Band Die Gemeindegottesdienste. Luther-Verlag, Witten , 1969.<br />
    Agenda Di Huria Kristen Batak Protestant, Percetakan HKBP Pematangsiantar, 1998.<br />
    Hutauruk, J.R., Menata Rumah Allah. Kumpulan Tata Gereja HKBP, Kantor Pusat HKBP, 2001.<br />
    Ismail,A., Selamat Berbakti. 33 Renungan Tentang Ibadah, BPK Gunung Mulia,2003.<br />
    Nommensen, I.L., Aus Huta Dam rim Bataklande, dalam: Berichte der RMG ( Ber.RMG ), No 7 ( Juli ) 1874, hal.193-206.<br />
    Nommensen, I.L., Berita tentang usaha Pekebaran Injil di Siloindung tahun 1866, dalam :”Ber.RMG”, No.6 ( Juni ) 1867, hal.167-182 ( terjemahan dari laporan dlm bhs Jerman, tahun 1984 ).<br />
    Samuel, W.J., Kristen Kharismatik. Refleksi atas Berbagai Kecenderungan Pasca-Kharismatik, BPK Gunung Mulia, 2006.<br />
    Schreiner, L., Nommensen in Selbstzeugnissen, Ammersberg bei Hamburg , 1996.<br />
    Sihombing, Justin, Homiletik ( Poda Parjamitaon ) dohot Deba Hatorangan Na Mardomu Tu Agenda, 2000.<br />
    Sihombing, Gomar, sebuah buku catatan mata kuliah Sekolah Pendeta di Seminari Sipoholon, t.t.<br />
    Sihombing, T.S., Barita Jujur Taon HKBP 1970-1972 ( Berita Perjalanan HKBP 1970-1972 ). Identitas Ni HKBP. Sinode Godang HKBP 29 Oktober 1972 &#8211; 4 Nopember 1972 di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar, Percetakan HKBP, 1972<br />
    Stott, J., The Living Church . Menanggapi Pesan Kitab Suci Yang Bersifat Tetap Dalam Budaya Yang Berubah, BPK Gunung Mulia, 2007.<br />
    Van Kooij, R.A. &#038; Tsalatsa, Y.A., Bermain Dengan Api. Relasi Antara Gereja-gereja Mainstream Dan Kalangan Kharismatik Pentakosta, BPK Gunung Mulia, 2007.<br />
    Van Olst, E.H., Alkitab Dan Liturgi, BPK Gunung Mulia, 2001.<br />
    White, F.W., Pengantar Ibadah Kristen, BPK Gunung Mulia, 2002.</p>
<p><strong>Endnotes</strong>:</p>
<p>[1] Tulisan ini adalah revisi dari makalah yang pernah didiskusikan pada seminar sehari tata ibadah HKBP oleh ketiga distrik HKBP yang berpusat di Jakarta , yaitu pada tgl 2 Juni 2008.</p>
<p>[2] I.L. Nommensen, Missionsarbeit in Silindung, dalam : “Berichte der RMG”, Juni 1866, hal.167-182 ; I.L. Nommensen, Aus Huta Dame im Bataklande, dalam: “Berichte der RMG”, Juli 1874, hal.193-206; dll. Lihat juga buku J.R.Hutauruk, Menata Rumah Allah. Kumpulan tata gereja HKBP, Kantor Pusat HKBP, 2001, hal.10-11, bahwa urutan mata acara ibadah Minggu : pembacaan dasa titah – pengakuan dosa – janji pengampunan dosa, sudah sejak dini dilakukan.</p>
<p>[3] “Agenda”, Nirongkom di Pangarongkomon Mission di Narumonda, Sianta – Toba, 1904, selanjutnya dikutib dengan singkatan: Agenda, Edisi 1904. Buku pedoman yang dimaksud ialah “Aturan ni Ruhut di angka huria na di tongatonga ni Halak Batak.”, Nirongkom di Panagarongkoman Mission di Si Antar – Toba, 1907, hal.1-35; buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai terjemahan sementara oleh para mahasiswa STT – HKBP yang mengikuti mata kuliah sejarah gereja tahun 1980-an.</p>
<p>[4] Sesudah pasca Perang Dunia Kedua 1940-an, beliau kembali ke Indonesia sebagai dosen di Fakultas Teologia HKBP Nommensen di Pematangsiantar ( 1953 – 1958 ). Beliau terpaksa kembali ke Jerman karena penyakit yang beliau derita.</p>
<p>[5] Referat gehalten auf der Konfenrenz Rh.Missionare Sumatra 1936 von Missionar F.Tiemeryer, Padangsidempuan. Thema: Die liturgische Frage im evangelischen Gottesdoenst ( Unter besondererBeruecksichtigung der Agende der Batakkirche ), dlm: Arsip VEM: F/b 2,3.</p>
<p>[6] Sayangnya naskah Agenda 1939 secara keseluruhan belum dapat kita temukan , hanya beberapa bagiannya.</p>
<p>[7] Kadang-kadang kita cenderung menerjemahkannya dengan kata “pemberhalaan”, tetapi dengan alasan tertentu bukan kata itu yang kita pilih melainkan kata “pengilahian”. Hal ini perlu dikaji elbih mendalam.</p>
<p>[8] Para misionaris RMG yang punya latarbelakang tardisi kegerejaan yang majemuk itu ( Lutheran, Calvinis / Reform dan Uni ( gabungan dari yang Lutheran dan Reform ) secara sadar dari awalnya selalu mengdepankan kemajemukan untuk menghindarkan sikap konfesionalistis, yang tidak mendukung upaya penyebaran Injil di Tanah Batak. Dan sikap ini pula yang nampak dalam sebuah tulisan I.L.Nommensen mungkin tahun 1876, ketika beliau memberikan sebuah ceramah dengan judul “Mari berkhotbah”. Lihat buku dari L.Schreiner ( edit. ), Nommensen in Selbstzeugnissen , Hamburg , 1996, hal.69-87; khusus tentang perbedaan-perbedaan konfesional dan tata ibadah, hal. 76-78. Untuk rujukan selanjutnya : “Khotbah ILNommensen 1878” ILNommensen mengambil sikap tengah, yang ingin mendamaikan semua unsur-unsur konfeional itu menjadi suatu harmoni ajaran yang dapat mendukung jalannya Injil di Tanah Batak, yang butuh akan suatu tata ibadah yang utuh menyatukan ( “eine einheitliche Gottesdienstordnung” ). Dan menurut beliau pola pikir ini sepadan dengan pola pikir Batak sebagaimana tercermin dalam sebuah umpama Batak :”hata mamunjung, hata lalaen, hata torop , ( lobu ) singkam ni hata.” Lihat, hal. 16.</p>
<p>[9] Mungkin beliau dipengaruhi oleh teologi Karl Barth; ini perlu menjadi bahan penelitian di bidang sejarah dogmatika atau Dogma. Bandingkan dengan uraian tentang “penyataan eksklusif” oleh Dieter Becker, Pedoman Dogmatika. Suatu Kompendium Singkat, BPKGunung Mulia, 2001, hal. 36-37.</p>
<p>[10] Agenda 1904 , I. “Porturena di porjamitaan, jumpa ari Minggu”. A. “Di angka huria naung leleng” ( hal. 3-6 ); B. “Di angka huria na imbaru, na niradotan ni angka Guru” ( hal. 7-8 ).</p>
<p>[11] Nomor ini adalah nomor Buku Logu ( BL ) dari Buku Ende HKBP; nomor BL sudah berubah, sehingga nomor 24 sudah menjadi nomor 143 dalam BL yang dipakai HKBP kini.</p>
<p>[12] Isi doa yang sudah ditiadakan dari Agenda yang kini dipakai oleh HKBP ialah :” Angkup ni i, sai dongani ma hami, ingani ma rohanami marhite-hite Tondimi, asa lam ture roha dohot parangenami tu joloan on, asa unang be hualo hami roham na denggan jala na badia i, asa sonang hami saleleng di tano on, sonang dohot sogot di lambungmi, dung ro panjoum di hami. Amen!</p>
<p>[13] Ada baiknya dicari apakah nyanyian ini ada tercantum dalam Buku Ende HKBP.</p>
<p>[14] Serupa dengan nomor BL kini.</p>
<p>[15] BL no. 289.</p>
<p>[16] BL no 173.</p>
<p>[17] Masih perlu dicari apakah nyanyian ini masih tercantum dalam Buku Ende HKBP kini.</p>
<p>[18] Buku Catatan kuliah Gomar Sihombing ( tanpa tahun ), hal. 117- 121. Judul bab mata pelajaran: “Mansam ni liturgy” dalam hal. 94-110; sayang lembaran ini hilang, sehingga yang tersisa mulai hal. 111</p>
<p>[19] Ada baiknya mencari lagunya dan tempatnya dalam Buku Ende HKBP.</p>
<p>[20] Lihat Buku Ende HKBP nomor 25 atau BL no.181. Nomor ini tidak disebut oleh Agenda 1904.</p>
<p>[21] Menurut Tata Ibadah 1907 disebutkan bahwa pengumpulan persembahan dapat diadakan sebelum atau sesudah khotbah. Lihat dalam “Tata Gereja 1907”, hal. 2. Naskah ini adalah naskah terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh J.R.Hutauruk dengan bantuan para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Sejarah Gereja Lokal di STT-HKBP. Aslinya ada dalam bahasa Batak ( edisi 1907 ) dan bahasa Jerman ( edisi 1906 ).</p>
<p>[22] Lihat “Agende Fuer Die Evangelische Kirche Der Union”, I.Band, Berlin 1969, hal.123.</p>
<p>[23] Agenda 1904, hal.7-8 :”Di angka huria na imbaru, na niradotan ni Guru.”</p>
<p>[24] J.Sihombing, Homiletik ( Poda Parjamitaon ) Dohot Deba Hatorangan Na Mardomu Tu Agenda, Penerbit HKBP, edisi 2000 ( edisi I 1963 ), hal.42-67.</p>
<p>[25] J.Sihombing, hal. 53; kutipan-kutipan berikutnya diambil dari hal. Ini dan dari halaman-halaman berikutnya.</p>
<p>[26] J.Sihombing, hal.57-65.</p>
<p>[27] “Protokol der Jahreskonferenz Rheinischer Missionare in den Bataklanden Sipoholon vom 9. bis 16. Juni 1925, dalam Arsip VEM F/b 1,7, hal. 3.</p>
<p>[28] F.Tiemeyer, hal.4-7; urutan di atas sesuai dengan urutan pemaparan beliau, jadi dimulai dengan sorotan tentang ibadah hari Minggu, lalu dilanutkan ke ibadah naik sidi dan seterusnya.</p>
<p>[29] Tiemeyer, hal.4 ( Fol. 4 ).</p>
<p>[30] Agenda 1904, hal.9.</p>
<p>[31] Agenda 1904, hal. 20-21 ( “Patujolo ni ulaon na badia” ); hal.22-24 ( “Marulaon na badia rap dohot patujolona” ); dan hal.25-27 ( “Parpadanan ( portollasan ) na badia” ). Beliau menyoroti bagian perjamuan kudus beserta persiapan pendahuluannya.</p>
<p>[32] Andar Ismail, Selamat Berbakti, BPK Gunung Mulia, 2003, hal. 32-34.</p>
<p>[33] John Stott, The Living Church . Menanggapi Pesan Suci yang Bersifat Tetap dalam Budaya yang Berubah, BPK Gunung Mulia, 2008, hal. 20; untuk rujukan selanjutnya dari hal.19-32.</p>
<p>[34] John Stott,hal. 20.</p>
<p>[35] Hal.25.</p>
<p>[36] Hal.26.</p>
<p>[37] Stott, hal.27.</p>
<p>[38] Stott, hal. 29.</p>
<p>[39] Stott, hal. 30.</p>
<p>[40] Antara lain : James F.White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK Gunung Mulia,2002,khususnya tentang “Pelayanan Firman” ( atau ibadah ), hal.139-165; E.H. van Olst, Alkitab Dan Liturgi, BPK Gunung Mulia,2001, khususnya tentang “Pendekatan Dari Reformasi”, hal.91-95, dan tentang “Reorientasi”, hal.95-102; Rijnardus A. van Kooij &#038; Yama’ah Tsalatsa A., Bermain Dengan Api. Relasi Antara Gereja-gereja Mainstream dan Kalangan Kharismatik dan Pentakosta, BPK Gunung Mulia, 2007; Wilfried J. Samuel, Kristen Kharismatik. Refleksi atas Berbagai Kecenderungan Pasca-Kharismatik, BPK Gunung Mulia, 2006. Selanjutnya dikutib dengan singkatan W.J.Samuel.</p>
<p>[41] J.Sihombing, hal.63. Mata acara tingting adalah diantara dua bagian besar tata ibadah itu, sehingga jemaat seolah-olah berhenti sejenak, dan setelah tingting baru masuk bagian kedua yang diawali dengan khotbah, di mana apa yang diberitakan oleh khotbah hendaknya jangan lagi diganggu oleh sebuah mata acara lain. Lihat, hal. yang sama.</p>
<p>[42] Lihat misalnya dalam buku J.L.Ch.Abineno, Unsur-unsur Liturgia Yang Dipakai Oleh Gereja-Gereja Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2000, hal.16-30. Menurut beliau urutan : dasafirman – pengakuan dosa – pemberitaan anugerah berasal dari Micron, di mana dasafirman itu berfungsi sebagai cermin, yang menyatakan kepada manusia “’betapa besar dan betapa sringnya kita menjadka Tuhan Allah murka oleh dosa-dosa kita.’” Urutan yang dipakai oleh Calivin: pengakuan dosa – pemberitaan anugerah – dasafirman, di mana dasafirman itu menempati tempat Gloria besar dan mempunyai fungsi sebagai puji-pujian.Lihat hal.29. Kalau Kuyper, demikian Abineno,menempatkannya sesudah khotbah dan kalau tentang fungsinya, Kuyper mengambil opsi dari Calvin. Lihat, hal.30. Abineno sendiri lebih suka mengambil opsi dari Calvin,baik susunannya maupun artinya, dan ini telah dipraktekkan oleh GPIB. Lihat, hal.31.</p>
<p>[43] Sihombing, T.S., Barita Jujur Taon HKBP 1970-1972: Identitas Ni HKBP. Sinode Godang HKBP 29 Oktober – 4 Nopember 1972 di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar, 1972, hal.7-8.</p>
<p>[44] W. J.Samuel, hal 108-138.</p>
<p>[45] W.J. Samuel, hal.114.</p>
<p>[46] W.J.Samuel, hal.113.</p>
<p>[47] Van Kooij cs, hal.194.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/makna-tata-ibadah-minggu-hkbp/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Makna Tata Ibadah Minggu HKBP'>Makna Tata Ibadah Minggu HKBP</a> <small>Editor: Berikut ini adalah penjelasan tentang tata ibadah minggu di...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/sejarah-berdirinya-gereja-hkbp-nazareth-sipintuangin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sejarah Berdirinya Gereja HKBP Nazareth Sipintuangin'>Sejarah Berdirinya Gereja HKBP Nazareth Sipintuangin</a> <small>Pada awalnya warga jemaat HKBP Nazareth Sipintuangin[1] merupakan jemaat dari...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/ompu-i-ephorus-hkbp-pdt-dr-bonar-napitupulu-dalam-album-gohi-au-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan'>Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan</a> <small>Tulisan ini adalah prolog yang disampaikan oleh Ompu I Ephorus...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/download-gratis-agenda-hkbp-digital/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Download Gratis Agenda HKBP Digital'>Download Gratis Agenda HKBP Digital</a> <small>Ebook yang akan Anda download ini adalah buah dari pengalaman...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/usul-untuk-hkbppembentukan-kepala-perwakilan-hkbp-tingkat-propinsi-kabupaten-kota-indonesia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Usul untuk HKBP! Pembentukan Kepala Perwakilan HKBP tingkat Provinsi, Kabupaten- Kota di Seluruh Indonesia'>Usul untuk HKBP! Pembentukan Kepala Perwakilan HKBP tingkat Provinsi, Kabupaten- Kota di Seluruh Indonesia</a> <small>Catatan dari Parhobas: Kontributor artikel yang Anda baca ini adalah...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/makna-tata-ibadah-minggu-hkbp-sejarah-teologi-pemakaian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Persiapan untuk Mengajar Sidi (Menyaksikan Iman)</title>
		<link>http://pargodungan.org/tips-persiapan-untuk-mengajar-sidi-menyaksikan-iman-2/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/tips-persiapan-untuk-mengajar-sidi-menyaksikan-iman-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gereja HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar Sidi]]></category>
		<category><![CDATA[Menyaksikan Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.pargodungan.org/?p=1476</guid>
		<description><![CDATA[Agar sukses mengajar anak-anak pelajar sidi, tentu sebagai guru Anda perlu mempersiapkan diri. Keberhasilan pengajaran Anda sangat tergantung pada bagaimana cara Anda mempersiapkan diri. Anda tentu tidak mau murid-murid tahu bahwa Anda kurang persiapan bukan? Nah, mungkin tips-tips berikut ini berguna bagi Anda yang mau mengajar sidi: 1. Meski Anda adalah seorang guru, tentu Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agar sukses mengajar anak-anak pelajar sidi, tentu sebagai guru Anda perlu mempersiapkan diri. Keberhasilan pengajaran Anda sangat tergantung pada bagaimana cara Anda mempersiapkan diri. Anda tentu tidak mau murid-murid tahu bahwa Anda kurang persiapan bukan? </p>
<p>Nah, mungkin tips-tips berikut ini berguna bagi Anda yang mau mengajar sidi: </p>
<p>1. Meski Anda adalah seorang guru, tentu Anda perlu mempelajari  materi yang akan Anda ajarkan nantinya. Maka, jangan bosan membaca buku pengajaran Anda. Luangkan waktu Anda sebanyak mungkin. Kalau sempat, pakailah waktu lima sampai tiga hari untuk mempelajari bahan pengajaran Anda. </p>
<p>2. Selain itu, Anda dapat mengulang kembali (repetisi) pelajaran yang sudah Anda ajarkan. Juga tidak ada salahnya membaca pelajaran selanjutnya yang akan Anda ajarkan. Ini sangat berguna bagi Anda dalam membangun komunikasi dengan murid Anda. </p>
<p>3. Sempatkan diri Anda untuk merenungkan ayat-ayat yang berhubungan dengan pokok yang akan Anda ajarkan. Jika Anda melakukannya, Anda akan dapat menerangkannya lebih jelas dan mendalam pada anak murid Anda. </p>
<p>4. Persiapkan tugas/PR dan ayat hapalan yang harus diselesaikan murid Anda sebelum mengajar. Ini bertujuan agar Anda tidak bingung mencari-cari PR yang berguna untuk memperdalam pengetahuan murid Anda. </p>
<p>5. Jika Anda menghidupi dan menghayati pokok pelajaran yang akan Anda sampaikan, Anda akan mampu menarik perhatian murid dan mampu menggugah hati mereka. Maka penghayatan Anda pada pokok pengajaran akan sangat penting.</p>
<p>6. Sangat baik jika Anda membuat jurnal (catatan) pengajaran Anda. Jurnal atau catatan pengajaran yang ditulis tangan atau di ketik pakai komputer bermanfaat agar Anda punya petunjuk arah saat mengajar. Bagaimana cara membuat jurnal pengajaran sidi? Kita akan membahasnya lain kali. </p>
<p>7. Tetaplah berdoa kepada Allah agar Ia menyiapkan diri Anda. Kita hendak mengajar anak agar mengarahkan hatinya pada Allah. Lalu, mengapa kita tidak lebih dulu mengarahkan hati pada Allah? </p>
<p>Demikian sedikit tips untuk para pengajar murid sidi (menyaksikan iman). Semoga bermanfaat. </p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/apa-sih-tujuan-pengajaran-sidi-menyaksikan-iman-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Apa Sih Tujuan Pengajaran Sidi (Menyaksikan Iman)?'>Apa Sih Tujuan Pengajaran Sidi (Menyaksikan Iman)?</a> <small>Tujuan mengajari anak dalam Menyaksikan Iman sebenarnya bukan agar si...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/tips-persiapan-untuk-mengajar-sidi-menyaksikan-iman-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah Beserta Kita: Respon HKBP atas Kondisi Sosial Politik di Indonesia Periode 1890-1965</title>
		<link>http://pargodungan.org/allah-beserta-kita-respon-hkbp-atas-kondisi-sosial-politik-di-indonesia-periode-1890-1965/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/allah-beserta-kita-respon-hkbp-atas-kondisi-sosial-politik-di-indonesia-periode-1890-1965/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Immanuel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.pargodungan.org/?p=1470</guid>
		<description><![CDATA[Hadir lagi sebuah buku baru karangan pendeta HKBP yang diterbitkan oleh Gunung Mulia (BPK) berjudul &#8220;Allah Beserta Kita: Respon HKBP atas Kondisi Sosial Politik di Indonesia Periode 1890-1965.&#8221; Buku karangan Pdt. Rachman Tua Munthe, M.Th ini pada awalnya adalah tesis yang disusunnya pada saat studi Magister Teologi di Sekolah Tinggi Teologi di bawah bimbingan Pdt. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadir lagi sebuah buku baru karangan pendeta HKBP yang diterbitkan oleh Gunung Mulia (BPK) berjudul &#8220;Allah Beserta Kita: Respon HKBP atas Kondisi Sosial Politik di Indonesia Periode 1890-1965.&#8221; Buku karangan Pdt. Rachman Tua Munthe, M.Th ini pada awalnya adalah tesis yang disusunnya pada saat studi Magister Teologi di Sekolah Tinggi Teologi di bawah bimbingan Pdt. Dr. J. R. Hutauruk (selesai tahun 1991). Judul tesisnya waktu itu adalah &#8220;Sejarah Sosial Politik di Indonesia dan Respon HKBP terhadapnya, Terutama Melalui Sinode Godang dan Majalah Immanuel 1890-1965.&#8221;</p>
<p>Sebagaimana disebutkannya dalam prakata buku ini, </p>
<p>&#8220;Tulisan ini mencoba memaparkan sejarah sosial politik di Indonesia dan respon HKBP terhadapnya. Tulisan ini bertolak dari hipotesis, jika gereja dapat bersifat kritis, positif dan realistis terhadap negara dan pemerintah, maka keterbukaan akan terjadi dan gereja melalui publikasinya dapat juga secara terbuka menyajikan sikap dan pandangannya terhadap pemerintah dan negara. HKBP terutama setelah Indonesia merdeka merupakan mitra pemerintah dalam membangun bangsa dan negara Indonesia yang menuju masyarakat adil dan makmur, terutama dalam memberikan landasan moral, etis dan spiritual. Bertolak dari hipotesis ini, buku ini mencoba menguraikan kehadiran HKBP di bumi Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, dan partisipasi HKBP di tengah-tengah Republik Indonesia yang memperjuangkan dan mengisi kemerdekaannya hingga kurun waktu 20 tahun setelah Indonesia merdeka.&#8221; </p>
<p>Yang menarik dari studi ini adalah ternyata partisipasi politis gereja HKBP terhadap pemerintah yang lebih nyata barulah setelah pendudukan Jepang di Indonesia. Dari studi ini diketahui bahwa pemberitaan HKBP melalui Immanuel mengenai sikapnya terhadap pemerintah tergantung pada siapa pemimpin majalah tersebut. Pada saat Immanuel dikelola oleh Zending RMG, Immanuel tidak menanggapi isu-isu di bidang sosial politik. Pihak zending rupanya sangat berhati-hati memelihara hubungan baiknya dengan pemerintah Hindia Belanda. Namun, sejak tahun 1950 situasi mulai berubah. Majalah Immanuel mulai &#8216;berani&#8217; menunjukkan sikap sosial politik HKBP terhadap pemerintah. </p>
<p>Well, buku setebal 200 halaman ini baik digunakan untuk menambah wawasan dan referensi Anda tentang masalah sosial politik dalam sejarah Indonesia maupun dalam sejarah gereja HKBP. Jika Anda tertarik memilikinya silahkan hubungi toko buku terdekat di kota Anda. </p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/usul-untuk-hkbppembentukan-kepala-perwakilan-hkbp-tingkat-propinsi-kabupaten-kota-indonesia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Usul untuk HKBP! Pembentukan Kepala Perwakilan HKBP tingkat Provinsi, Kabupaten- Kota di Seluruh Indonesia'>Usul untuk HKBP! Pembentukan Kepala Perwakilan HKBP tingkat Provinsi, Kabupaten- Kota di Seluruh Indonesia</a> <small>Catatan dari Parhobas: Kontributor artikel yang Anda baca ini adalah...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/agenda-hkbp-bahasa-indonesia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Agenda HKBP Bahasa Indonesia'>Agenda HKBP Bahasa Indonesia</a> <small>Keterangan: Dokumen yang Anda baca ini adalah isi Agenda HKBP...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/hkbp-mendukung-bentuk-protap-melalui-pesan-rapat-pendeta-hkbp-2009/' rel='bookmark' title='Permanent Link: HKBP Mendukung Bentuk Protap melalui Pesan Rapat Pendeta HKBP 2009'>HKBP Mendukung Bentuk Protap melalui Pesan Rapat Pendeta HKBP 2009</a> <small>Tona Rapot Pandita HKBP tahun 2009 ini harus menjadi perhatian...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/8-cara-gereja-hkbp-dan-warganya-melayani-dalam-bentuk-informasi-digital/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 8 Cara Gereja HKBP dan Warganya Melayani dalam Bentuk Informasi Digital'>8 Cara Gereja HKBP dan Warganya Melayani dalam Bentuk Informasi Digital</a> <small>Gereja HKBP, Oktober tahun ini akan merayakan umurnya yang ke-150...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/allah-beserta-kita-respon-hkbp-atas-kondisi-sosial-politik-di-indonesia-periode-1890-1965/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Liturgi Natal Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia dan Bahasa Internasional (Luar Negeri)</title>
		<link>http://pargodungan.org/kumpulan-liturgi-natal-ragam-bahasa-daerah-bahasa-suku-indonesia-dan-bahasa-internasional-luar-negeri/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/kumpulan-liturgi-natal-ragam-bahasa-daerah-bahasa-suku-indonesia-dan-bahasa-internasional-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 04:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perayaan Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Liturgi Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Liturgi Ragam Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://m.pargodungan.org/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka menyambut hari natal, teman-teman tentu ada yang jadi anggota panitia natal. Nah, kalau Anda ingin membuat liturgi natal dalam ragam bahasa daerah atau bahasa luar negeri, di sini ada kumpulan liturgi ragam bahasa yang kamu butuhkan (yang dikumpulkan dari berbagai sumber). Disini yang diterjemahkan adalah isi dari Kitab Yohanes 3:16. Kalau Anda butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://gambarfototerbaru.tk/wp-content/uploads/2011/06/Gambar-Pakaian-Adat-Indonesia-300x213.jpg" alt="Liturgi Natal Ragam Bahasa Suku dan Bahasa Internasional" /></p>
<p>Dalam rangka menyambut hari natal, teman-teman tentu ada yang jadi anggota panitia natal. Nah, kalau Anda ingin membuat liturgi natal dalam ragam bahasa daerah atau bahasa luar negeri, di sini ada kumpulan liturgi ragam bahasa yang kamu butuhkan (yang dikumpulkan dari berbagai sumber). Disini yang diterjemahkan adalah isi dari Kitab Yohanes 3:16. Kalau Anda butuh terjemahan lainnya silahkan hubungi dari halaman kontak. Tapi kalau Anda punya liturgi ragam bahasa yang lain, jangan sungkan berbagi dari kolom komentar. </p>
<p>Liturgi Ragam Bahasa Daerah (Bahasa Suku) Indonesia</p>
<p>1. Bahasa Palembang<br />
K*erNO b*esak nian kasih-Nyo pado dunio, laju di*enJUKk*e-Nyo buDAK lanang siKOK-siKOK-Nyo, s*ehinggo siapo ba^e yang p*ecayo pada-Nyo idak binaso,tapi idup s*epanjangan.</p>
<p>2. Bahasa Minangkabau<br />
Karano baitu gadang kasiah Allah pado dunia-ko, sahinggo Tuhan alah mangaruniakan AnakNya nan tungga itu, supayo satiok urang nan picayo kapadoNyo indak binaso, malainkan baroleh iduik nan kaka. </p>
<p>3. Bahasa Karo (Batak)<br />
Sabap bege pengkelengi Dibata doni enda, maka ibereikenna Anakna si tonggal, gelah ola bene ise pe si tek ibas ia, tapi dat kegeluhen si rasa lalap. </p>
<p>4. Bahasa Simalungun (Batak)<br />
Ai sonon do parholong in atei ni Naibata bani dunia on, pala do anakni sisada- sada ai iberehon ase ulang magou sagala na porsaya Bani. </p>
<p>5. Bahasa Sunda<br />
Sabab dunya teh pohara nya diasihna ku Allah, nepi ka Putra TunggalNa oge dipasrahkeun, supaya sing saha anu percaya ke Anjeunna ulah nepi ka cilaka, sabalikna bisa tinemu jeung hirup abadi. </p>
<p>6. Bahasa Jawa<br />
Awitdene Gusti Allah anggone ngasihi marang jagad iku nganti masrahake Kang Putra ontang-anting, supaya saben wong kang pracaya marang Panjenengane aja nganti nemu karusakan, nanging nduwenana urip langgeng. </p>
<p>7. Bahasa Madura<br />
Karana bariya kataresna´anna Allah ka alam dunnya, kangse marengngagi Pottrana se settong, sopaja sepat oreng se parcaja ka Salerana ta´ nemmowa calaka, tape andi´a odi´ se langgeng. </p>
<p>8. Bahasa Ngayu (Dayak) Karana kalote kapaham Hatalla jari sinta kalunen, sampai ie jari manenga Anake ije tonggal, mangat gagenep oloh, ijo percaya buang ie, dia binasa, tapi mandino pambelom ije katatahi. </p>
<p>9. Bahasa Dayak Laut Allah Taala rindu ka mensia, datai ka iya mri Anak tunggal iya ngambi ka samoa orang ti arap ka iya enda lalu mati, utang bulih idup meruan. </p>
<p>10. Bahasa Mori (Sulteng)<br />
Nde kanandiomo Dopehohawao Oee Ala wawontolino andio, ka Doweeakono Anado anu asa-asa, kasi dontetadi luwudo mia, anu mpe´ala-ala Ira, tendeano ka domehaweo tuwua, anu nahina tampulaano </p>
<p>11. Bahasa Timor<br />
Fun Usif Neno nek pah pinan onnane talan te In anfe In An mone fua mese, he nati ale sekau le nekan nateb neo In, kais namle´u, mes napeni honis nabal- bal. </p>
<p>12. Bahasa Namau (IrJa) Uku Eloi pani va´au umu-awkanave kapoi, Una naumuki Mere U awkunave, a<br />
´a kavakava ane u pirimaroakona u imunavaia, a opai rokoa u miane-iai. </p>
<p>13. Bahasa Dani Barat (IrJa)<br />
Ai Ala nen yt aakvmy abok ynabuwa lombok mbareegerak me, kit kiniki noba panggombvnuk, abet nombakwy kiinok, lek eerogo pinagarak lek mondok-mondok kineenik logobagip ndvk, at apvt ambolom ndarak an aret nappani wagagerak. </p>
<p>14. Bahasa Rejang (Bengkulu)<br />
Karn0 awei0 lay kasia allah tang duni0 y0 sehingg0 si bik anak ne yang tunggea supay0 tip tun Yg percay0 ngensi c0a binas0 melainkan buliak hidup yang ke kea. </p>
<p>Liturgi Ragam Bahasa Internasional (Luar Negeri)</p>
<p>1. Bahasa Afrika<br />
&#8220;Want so lief het God die wereld gehad, dat Hy sy eniggebore Seun gegee het, sodat elkeen wat in Hom glo, nie verlore mag gaan nie, maar die ewige lewe kan he.&#8221; </p>
<p>2. Bahasa Belanda<br />
&#8220;Want alzo lief heeft God de wereld gehad, dat Hij zijn eniggeboren Zoon gegeven heeft, opdat een ieder, die in Hem gelooft, niet verloren ga, maar eeuwig leven hebbe.&#8221; </p>
<p>3. Bahasa Finisia<br />
&#8220;Silla niin on Jumala maailmaa rakastanut, etta han antoi ainokaisen Poikansa, ettei yksikaan, joka haneen uskoo, hukkuisi, vaan hanella olisi iankaikkinen elama.&#8221; </p>
<p>4. Bahasa Perancis<br />
&#8220;Car Dieu a tant aime le monde quÕil a donne son Fils unique, afin que quiconque croit en lui ne perisse point, mais quÕil ait la vie eternelle.&#8221; </p>
<p>5. Bahasa Jerman<br />
&#8220;Denn also hat Gott die Welt geliebt, da er seinen eingebornen Sohn gab, auf da alle, die an ihn glauben, night verloren werden, sondern das ewige Leben haben.&#8221; </p>
<p>6. Bahasa Italia<br />
&#8220;Poiche Iddio ha tanto amato il mondo, che ha dato il suo unigenito Figliuolo, affinche chiunque crede in lui non perisca, ma abbia vita eterna.&#8221; </p>
<p>7. Bahasa Polandia<br />
&#8220;Poniewaz Bog tak swiat kochal, ze dal swego syna jedynego, aby kto wierzy w Niego nie zginal, lecz zyl wiecznie.&#8221; </p>
<p>8. Bahasa Portugal<br />
&#8220;Porque Deus amou o mundo de tal maneira, que deu o seu Filho unigenito, para que todo aquele que nele cre nao pereca, mas tenha a vida eterna </p>
<p>9. Bahasa Spanyol<br />
&#8220;Porque de tal manera amo Dios al mundo, que ha dado a su Hijo unigenito, para que todo aquel que en el cree, no se pierda, mas tenga vida eterna.&#8221; </p>
<p>10. Bahasa Swahili<br />
&#8220;Kwa maana jinsi hii Mungu aliupenda ulimwengu, hata akamtoa Mwanawe pekee, ili kila mtu amwaminiye asipotee; bali awe na uzima wa milele.&#8221; </p>
<p>11. Bahasa Swedia<br />
&#8220;Ty sa alskade Gud varlden, att han utgav sin enfodde Son, pa det att var och en som tror pa honom skall icke forgas, utan hava evigt liv.&#8221; </p>
<p>12. Bahasa Vietnam<br />
&#8220;Vi Durc Chua Tro&#8217;i thu&#8217;o ng-yeu the-gian den noi da ban Con doc-sanh cua Ngai, hau cho he ai tin Con ay khong bi hu-mat, nhu&#8217;ng du&#8217;o'c su song do&#8217;i do&#8217;i.&#8221;</p>
<p>13. Bahasa Latin<br />
&#8220;sic enim dilexit Deus mundum ut Filium suum unigenitum daret ut omnis qui credit in eum non pereat sed habeat vitam aeternam&#8221;</p>
<p>14. Bahasa Albania<br />
&#8220;Sepse Perëndia e deshi aq botën, sa dha Birin e tij të vetëmlindurin, që, kushdo që beson në të, të mos humbasë, por të ketë jetë të përjetshme.&#8221;</p>
<p>15. Bahasa Yunani<br />
&#8220;outOs gar EgapEsen o theos ton kosmon Oste ton uion ton monogenE edOken ina pas o pisteuOn eis auton mE apolEtai all echE zOEn aiOnion&#8221;</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/cara-memilih-ayat-liturgi-natal-contoh-kumpulan-ayat-natal/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cara Memilih Ayat Liturgi Natal &#038; Contoh Kumpulan Ayat Natal'>Cara Memilih Ayat Liturgi Natal &#038; Contoh Kumpulan Ayat Natal</a> <small>Awalnya, di Gereja HKBP saat ibadah perayaan Natal (tanggal 25...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/contoh-ayat-liturgi-natal-kristus-memberi-harapan-pasti/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Contoh Ayat Liturgi Natal &#8211; Kristus Memberi Harapan Pasti'>Contoh Ayat Liturgi Natal &#8211; Kristus Memberi Harapan Pasti</a> <small>Beberapa hari yang lalu ada pembaca pargodungan yang bertanya tentang...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/kumpulan-partitur-lagu-natal-satb/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kumpulan partitur lagu natal untuk koor/paduan suara SATB'>Kumpulan partitur lagu natal untuk koor/paduan suara SATB</a> <small>Acara natal tidak jarang akan diisi oleh koor yang bernuansa...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/agenda-hkbp-bahasa-indonesia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Agenda HKBP Bahasa Indonesia'>Agenda HKBP Bahasa Indonesia</a> <small>Keterangan: Dokumen yang Anda baca ini adalah isi Agenda HKBP...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/migrasi-orang-tapanuli-ke-daerah-simalungun-dan-implikasinya-terhadap-kehadiran-injil-di-wilayah-simalungun/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun'>Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun</a> <small>I. PENDAHULUAN Pada masa ini warga Batak Tapanuli suda hampir...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/kumpulan-liturgi-natal-ragam-bahasa-daerah-bahasa-suku-indonesia-dan-bahasa-internasional-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

