Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah.
Mengapa aku menderita, ya Tuhan? Pertanyaan ini pernah saya bahas di web pargodungan ini. Tapi dalam renungan harian ini kita bukan mau mencari alasan mengapa kita menderita. Kita mau merenungkan, bagaimana cara memaknai penderitaan yang kita alami. Memang daripada tinggal mengeluh dalam penderitaan, marilah kita sempatkan juga untuk memaknai segala penderitaan dan kesusahan hidup kita.
Kisah penderitaan yang Ayub alami mungkin mewakili segala jenis penderitaan yang ada di bumi ini. Inilah yang Ayub alami: Usahanya bangkrut sampai mengalami kemiskinan akut karena dirampok orang; hatinya hancur karena anak-anaknya mati tanpa alasan yang jelas; dan tidak selesai di situ, ia juga harus mengidap penyakit parah yang pada jamannya mungkin sulit disembuhkan. Barangkali hanya satu ‘keuntungan’ yang Ayub miliki saat itu. Nafasnya masih ada dalam tubuhnya. Dan bagi Ayub sendiri bukanlah suatu keuntungan. Ia mengalami kekecewaan berat pada Allah. “Lebih baik aku binasa sebelum orang melihat aku”, kata Ayub pada Allah.
***
Jika membaca seluruh bagian kitab Ayub, sedikitnya Anda akan menemukan tiga makna yang dapat ditarik dari penderitaan yang kita alami di dunia ini:
1. Allah mengijinkan kita untuk menderita.
Sama seperti Ia berkenan pada kebahagiaan kita, Ia juga berkenan jika kita mengalami penderitaan. Allah bukan dewa kesuksesan. Tapi Allah bukan pula dewa kemelaratan. Bukankah AnakNya sendiri Ia ijinkan untuk menderita di dunia ini? Kita pun Ia ijinkan untuk menderita. Itu makanya, Ayub punya alasan mengatakan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
2. Allah tetap berpihak pada kita dalam penderitaan.
Sama seperti Ia berpihak pada kita saat mengalami kebahagiaan, Ia juga berpihak pada kita saat mengalami penderitaan. Allah turut berbahagia dalam kebahagiaan kita. Tapi Allah juga turut menderita dalam penderitaan kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita saat mengalami kejadian pahit di dunia ini. Itulah sebabnya sepahit apa pun hidup yang kita alami, hal itu tidak boleh membuat kita punya alasan untuk meninggalkan Allah. Allah sendiri tidak punya alasan untuk meninggalkan kita saat mengalami penderitaan.
3. Allah akan menunjukkan kuasaNya pada kita untuk memberikan keselamatan yang kita perlukan.
Semua penderitaan yang kita alami, bukanlah kisah kita. Kesusahan-kesusahan yang kita alami semata-mata bukan karena diri kita. Itu semua bukan tentang diri Anda, saya atau orang lain. Semua itu adalah tentang diri Allah.
Jika memang semua persoalan di dunia ini hanya persoalan Anda, maka cukuplah hanya Anda yang menanggungnya. Jika memang semua kesusahan ini hanya kesusahan saya, cukup hanya saya yang mengalaminya.
Tapi, sekali lagi, ini adalah kisah Allah. Penderitaan yang Israel alami itu bukan kisah orang Israel. Tapi itu adalah kisah penyelamatan yang Allah lakukan kepada bangsa Israel. Demikian juga penderitaan ini, bukanlah kisah Anda, saya atau orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Tapi kisah penyelamatan yang Allah perlu lakukan bagi hidup kita. Itulah yang jadi alasan mengapa kita berseru meminta pertolongan Allah.
Hanya dengan tiga makna itulah akhirnya, dengan kerendahan hati kita dapat mengatakan, El Shaday. Allah yang Maha Kuasa.
Sungguh, berbahagialah manusia yang ditegur Allah.
Doa: Allah Bapa Yang Maha Kuasa, sering aku merasa penderitaan yang kutanggung begitu berat. Aku tidak dapat menanggungnya karena aku tidak memberi kesempatan padaMu untuk menghibur atau menguatkanku. Ajarlah aku Bapa untuk setia padaMu dalam segala perkara, hingga Engkau akhirnya menunjukkan kekuasaan penyelamatanMu padaku. Amin.





