Bahan Sermon Khotbah Minggu XX Setelah Trinitatis Ev. Yosua 1:6-9
Pendahuluan
Di minggu yang lalu (Minggu XIX Setelah Trinitatis) kita telah menyaksikan bagaimana Allah meneguhkan Musa. Kali ini, kita melihat kembali bagaimana Allah juga meneguhkan pemimpin Israel lainnya. Kepemimpinan Musa harus segera digantikan karena ia telah meninggal (Yosua 1:2). Janji Allah kepada nenek moyang Israel untuk membawa Israel ke Tanah Perjanjian harus tetap digenapi. Sungguh, ini suatu tanda bahwa Allah bertindak di dalam sejarah. Ia tetap memimpin umatNya dan tidak membiarkan domba-dombaNya tercerai-berai.
Penjelasan Teks
Ayat 6 pasal ini menjelaskan secara defenitif pemilihan Allah atas Yosua. Kelihatan pula bahwa satu karakter yang harus ada di dalam diri pemimpin Israel adalah kekuatan dan keteguhan hati. Memang agak aneh! Seolah-olah Yosua sama sekali belum memiliki kekuatan dan keteguhan hati (sampai Allah berkata demikian). Tentu ada yang memiliki kecurigaan seperti ini. Secara prinsipil, Yosua sudah mengenal cara kepemimpinan Musa. Ini berarti Yosua sudah memiliki atau katakanlah, memahami cara memimpin. Tapi tidak cukup hanya itu saja. Membaca buku-buku tentang kepemimpinan bukanlah memimpin dalam arti yang sebenarnya! Lagipula, untuk memimpin Israel yang ‘bebal’ itu sangat sulit. Musa saja pernah merasakan ‘sial’ karenanya: akibat kelemahan hati Musa, ia tidak dapat memasuki Tanah Perjanjian (Bil 20:2-12). Kesalahan seperti itu tidak boleh diulangi Yosua kembali; itulah mengapa Allah mengatakan, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu”.
Pertanyaannya, terhadap apakah hati Yosua harus diteguhkan? Apa yang harus ia pegang teguh? Hanya satu. Yosua harus bertindak hati-hati, sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadanya oleh Musa. Ia tidak boleh menyimpang dari aturan itu (ayat 7). Ini menjelaskan bagaimana cara kita memimpin di dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang Kristen adalah pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Tetapi seseorang disebut sebagai seorang pemimpin yang kristiani, kalau ia menerapkan hukum itu dengan tegas (apapun yang ia pimpin). Sayangnya dalam kehidupan organisasi gereja, hal itu tidak begitu dijalankan. Terlalu banyak toleransi yang diberikan gembala (pemimpin jemaat/penetua) atas penyimpangan yang dilakukan ‘domba-dombanya’. Akibatnya, bukan kedamaian yang didapatkan, malah kekacauan! Pemimpin seperti ini tidak mendapatkan lagi keberuntungan kemanapun ia pergi (sebagaimana dijanjikan Allah). Manajemen kepemimpinan Kristen bukan hanya mempersoalkan cara memimpin. Lagipula, tuntutan firman Allah bukan soal membuat ‘domba-domba hitam’ merasa nyaman. Manajemen kepemimpinan Kristen mempersoalkan, apakah seorang pemimpin mampu teguh hati menjalankan firman Allah itu!
Ada satu lagi yang harus dimiliki seorang pemimpin yang kristen. Yang keluar dari mulutnya hanyalah Firman Allah – bukan repekan, bukan rengekan, bukan kutuk, dan bukan sumpah serapah. Tetapi jangan pula ini disalahmengerti. Itu bukan berarti seorang pemimpin tidak dapat berkata keras dan tegas. Firman Allah, jika memang itu harus disampaikan dengan lantang, biarlah itu terjadi. Seorang pemimpin juga harus memiliki disiplin pribadi dihadapan firman itu, baik siang maupun malam (ayat 8). Termasuk juga di dalamnya pagi, siang, sore, malam, dan tengah malam! Membaca firman Allah misalnya, tidak boleh menjadi kerjaan iseng-iseng. Kita harus mengkhususkan diri untuk pekerjaan tersebut. Apa faedahnya? Allah menjanjikan, jika kita benar-benar melakukannya, kita akan sampai pada akhir perjalanan. Kita akan tiba di puncak gunung dan merasakan kepuasan yang amat sangat. Jalan yang harus ditempuh oleh seorang pemimpin kristen adalah jalan yang diberikan Allah. Demikian pula, jika kita memperoleh kepuasan karena menjalankannya, itu karena Allah-lah yang memberikannya. Kadang ini sering disalah pahami. Orang Kristen kadang berkata: ‘Ah, aku telah berjalan di dalam terangmu ya Allah, tetapi apa yang kudapatkan? Hanya kesengsaraan yang kudapatkan ketika menjalankannya!” Bukan perjalanan itu yang memberikan kepuasan bagi kita; Kita tidak memetik buah yang ada dipinggir jalan itu; Kita hanya mendapatkan buah pada akhir perjalanan itu sendiri!
Hal terakhir yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Kristen adalah: ia mesti memiliki keyakinan dan keberanian di dalam dirinya. Semua pemimpin besar memiliki keyakinan dan keberanian yang besar. Sedikitpun ia tidak ragu berjalan di rute yang ditentukan atasnya. Inilah yang dituntut Allah ada di dalam diri Yosua (ayat 9a). Dan sama seperti Yosua, kita pun tidak boleh merasa kecut dan tawar hati. Tidak boleh merasa takut dan ngeri. Tetapi jangan pula ini dipahami seolah kita dapat bertindak asal-asalan. Kita tidak boleh bereksperimen (coba-coba) ketika menjalankan firman Allah. Dan tidak pula seperti pemerintah yang kadang membuat aturan dengan konsep ‘try and error’. Firman Allah tidak pernah gagal (kutipan) namun kita yang sering gegabah melakukannya. Keyakinan dan keberanian seorang pemimpin kristen bukan menyangkut tindakan coba-coba; Ia berbicara tentang sikap. Seorang pemimpin kristen memiliki sikap yang yakin dan berani karena ia punya satu hal dalam hidupnya, yang tidak dimiliki oleh pemimpin sekuler. Ia memiliki keyakinan pada penyertaan Allah. Dan ia memiliki keberanian yang lahir atas tuntunan Allah (ayat 9b). Itulah sebabnya tadi dikatakan, keyakinan dan keberanian bukan tindakan coba-coba.
Penutup
Mengenai keterangan di atas, kita dapat mengambil beberapa pokok pikiran menyangkut tema “Berteguh di dalam Firman Allah”:
- Kekuatan dan keteguhan hati harus menjadi modal utama yang ada di dalam diri orang Kristen. Pada dasarnya, manusia itu lemah. Ia tidak mampu melakukan apa-apa dari dalam dirinya. Oleh karena itu, ketika menjalankan firman Allah, kita harus tetap meminta kekuatan dan keteguhan hati dari Allah. Kita harus meminta agar Allah memelihara kedua hal itu di dalam diri kita.
- Keteguhan menjalankan firman Allah kelihatan dari cara kita menjalankan firman Allah itu. Orang yang teguh menjalankan firman tidak pernah mentolerir dirinya sendiri atau orang lain beranjak dari firman Allah. Hidupnya pun selalu berkaitan dengan firman Allah dan memiliki disiplin untuk merenungkan firman Allah.
- Utamanya, agar kita dapat berteguh di dalam menjalankan firman Allah, kita mesti menaruh keyakinan atas penyertaan Allah. Mengenai ini, rasa takut yang kadang akan kita alami memang lumrah dan dapat diterima akal. Tetapi sama masuk akal juga jika kita dapat memperoleh keberanian dan keyakinan itu kembali jika Allah beserta kita.





