Catatan Pendek Sejarah Kekristenan di Jepang

Ada dua alasan µ menyebabkan keluarnya edik perlawanan terhadap kekristenan. Pertama bersifat ideologis & kedua karena adanya masalah politik praktis. Kekristenan menawarkan bentuk alternatif gaya hidup, yakni suatu otoritas mandiri individu di luar tradisi Jepang & bakufu. Ini tidak dapat diterima oleh penguasa Jepang. Rezim mereka membutuhkan loyalitas penuh dari masing-masing penduduknya. Penganut agama Buddha diterima karena agama Buddha sudah ada sejak lama. Akan tetapi disamping itu selain karena memang pada saat itu agama Buddaha sangat lemah, ada juga pendapat bahwa Hideyoshi memandang penganut agama Buddha dapat dihancurkan dengan memanfaatkan tindakan-tindakan penindasan µ dilakukan oleh institusi keagamaannya. Oleh karena itu dia dapat memperalat institusi agama Buddha demi kehancurannya sendiri.

Keadaan Jepang sebelum Masuknya Kekristenan
Orang-orang Jepang mulai berkumpul, berburu & memancing dimulai kira-kira sebelum tahun 300 sM µ ketika itu dipimpin oleh Jomon. Sejak periode itu sampai kira-kira tahun 300 Masehi mereka kemudian mengenal metode bercocok tanam. Sebagai dampak atas perkembangan ini, berkembang jugalah sistem struktrur sosial kemasyarakatan di Jepang. Agama µ terdapat di Jepang adalah Agama Shinto. Agama Buddha sendiri diperkenalkan pada penduduk Jepang pada tahun 538 atau sekitar tahun 552 pada era kepemimpinan Asoka. Pada gilirannya, Buddha kemudian berkembang menjadi sekte-sekte Sekte Dojo (tahun 794-1185) & sekte Zen (tahun 1191).

Pada tahun 794 ibu kota pindah ke Heian (Kyoto). Keshogunan sendiri mulai berdiri tiga tahun setelah Tokugawa memenangkan perang Sekigahara pada tahun 1600. Keshogunan ini akan bertahan sampai tahun 1867. Dimasa itu juga berlaku kepemimpinan daimyo (yakni penguasa militer daerah setempat). Pada masa itu melalui agama Shinto penduduk Jepang mengetahui bahwa kaisar adalah perwakilan dewa matahari. Sehingga dengan melalui kecintaan terhadap pemerintah atau terhadap kaisarlah penduduk dapat memperoleh keselamatan.

Sebelum keluarnya edik penutupan negara terhadap pihak luar pada tahun 1633, Eropa telah menjalin hubungan perdagangan dengan Jepang. Dalam hal ini sedikit banyak, Jepang sudah memperoleh sejumlah produk-produk kebudayaan Eropa, misalnya adalah kacamata, jam, senjata api, & artileri.

Masuknya Kekristenan & Metode Penginjilan µ Dilakukan
Kekristenan pertama sekali diperkenalkan oleh misionaris Yesuit Spanyol µ bernama Franciscus Xaverius. Ia tiba pada tanggal 15 Agustus 1549 bersama dua orang misionaris Yesuit lainnya (Jpg: Iezusu Kai) & seorang Jepang µ bernama Anjiro µ bertugas sebagai penerjemah untuknya (bertemu dengannya di Malaka pada tahun 1547). Xaverius sampai di Kagoshima di pulau Kyushu atas izin dari Daimyo Satsuma µ bernama Shimazu. Dia menginjili & menyusun sebuah katekhismus kecil. Hasilnya ia mampu men-tobat-kan sekitar 100 orang menjadi Kristen.

Berdasarkan catatan Nippon Seikyo-shi (Sejarah Agama Barat di Jepang), Franciscus Xaverius dalam penginjilannya juga merawat orang-orang sakit (akan tetapi terbatas pada perawatan). Selama tinggal di Jepang beberapa tahun (dia meninggalkan Jepang ke India di akhir 1551) di kelihatannya memiliki motto “Sewaktu di Roma bertindaklah seperti µ dilakukan oleh penduduk Roma”. Sebagai akibatnya demi mengikuti selera penduduk Jepang, ia memasukkan sejumlah unsur Buddhisme & Shinto µ masuk dalam ibadah Kristen. Oleh karena Xaverius memahami bahwa Buddhisme Jepang adalah sekte monoteis (dewanya disebut sebagai Danichi), Xavier kemudian pergi memberitakan bahwa Danichi adalah Allah Kristen. Hal ini malah membingungkan masyarakat. Mereka menganggap bahwa kekristenan hanyalah salah satu sekte agama Buddha. Setelah mengetahui hal ini, dia kemudian turun ke jalan menentang orang-orang Buddha. Akan tetapi hal ini malah berakibat lain µ tidak diharapkannya. Permasalahan µ lebih parah terlihat ketika ia harus menghadapi sejumlah dosa µ dilihatnya dalam budaya Jepang. Salah satu dosanya adalah masalah sodomi.

Setelah Yesuit masuk, keadaan politis Jepang µ terpisah-pisah memberi kesempatan penyebaran agama ke berbagai daerah, secara khusus di Kyushu dimana Daimyo Kristen seperti Omura Sumitada dibaptis menjadi Kristen. Dalam hubungan dengan pekerjaan misionaris Yesuit µ secara politis sensitif, ordo Fransiskan mengadopsi sebuah pendekatan penginjilan µ lebih agresif. Akan tetapi kelihatannya ordo Yesuit & ordo Franciscan tidak menjalin kerjasama µ baik. Mereka masing-masing membawa kepentingannya sendiri. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh latar belakang negaranya masing-masing. Ordo Yesuit berasal dari Portugis & ordo Fransiskan dari Spanyol. Sehingga oleh karena begitu pentingnya perdagangan, menyebabkan timbulnya dua kelompok di dalam kekristenan Jepang. Yesuit melihat derajatnya lebih tinggi dari pada Fransiskan. Mereka hidup diantara kaum Daimyo & memfokuskan perhatiannya pada golongan atas masyarakat, penguasa kelompok samurai. Sementara di lain pihak, Fransiskan dengan rendah hati & kehidupan µ sederhana berusaha untuk mengusahakan pertobatan diantara golongan µ lebih rendah. Pada dasarnya hal ini membawa kehancuran pada keduanya.

Berbagai masalah lain juga muncul µ mengakibatkan terhalangnya perkembangan kekristenan ke dalam masyarakat Jepang. Penghalang utama terdapat pada masalah keuangan & kesalahpahaman etnis. Gereja tidak pernah secara penuh mendukung misi µ dilakukan oleh ordo Yesuit. Sehingga oleh karenanya mereka harus berusaha untuk menjalankan misi atas dasar usaha mereka secara mandiri. Dengan keadaan µ demikian ketika Valignano datang ke Jepang pada tahun 1579, ia menyadari bahwa misi akan sangat berkembang dengan mengirim sejumlah orang Kristen Jepang ke Roma. Selain untuk memperkenalkan Eropa kepada orang-orang Jepang dengan membawa empat orang anak-anak, ia ingin menunjukkan bagaimana hasil pekerjaan Ordo Yesuit (yang bekerja di Asia Timur) akan mengatasi berbagai kerugian µ ditimbulkan oleh Reformasi. Melaluinya Ia juga berharap agar paus mendukung monopoli Yesuit atas Jepang & memberikan bantuan bagi mereka.

Disamping usaha µ demikian, kaum Yesuit juga terpaksa bergabung dengan sejumlah usaha perdagangan. Akan tetapi usaha mereka ini justru menimbulkan kecurigaan pemerintah. Ordo Yesuit tidak pernah hadir secara aktif untuk menjalankan gereja & menyebarkan ajarannya. Mereka tidak mengajari penduduk µ telah menjadi Kristen untuk turut serta memberitakan Injil. Hal ini tidak mereka lakukan karena rasa tidak percaya terhadap orang-orang Jepang. Dengan keadaan µ demikian, maka hal ini menyebabkan dua hal, pertama jumlah mereka tidak bertambah banyak, & kedua hal itu menimbulkan kebencian orang-orang Jepang µ telah dibaptis.

Kaum Yesuit pada ketika itu, bagaimanapun juga terlibat dalam dunia politik. Mereka berusaha untuk mempengaruhi dunia perdagangan untuk keuntungan mereka sendiri, & bahkan berniat untuk memiliki kekuasaan di sana. Hal µ paling nyata adalah pengambil-alihan Nagasaki. Akan tetapi mereka tidak berkuasa disana lama-lama karena Hideyoshi memergoki mereka saat melakukan kegiatannya di Nagasaki. Contoh lain adalah pendekatan Yesuit pada kaisar untuk memperoleh kuasa untuk melawan Hindeyoshi. Semua tindakan ini dianggap subversif pada bakufu (pemerintah Jepang). & memang demikianlah kenyataannya. Ketika pada akhirnya Tokugawa menyatukan Jepang, satu dari tindakan utamanya adalah untuk mengusir orang-orang Kristen.

Selain apa µ telah disebutkan di atas, oleh karena masyarakat Jepang ketika itu terdesentralisasi, menyebabkan ordo Yesuit berada dalam posisi µ menguntungkan & juga sekaligus merugikan. Disatu sisi mereka harus memusatkan perhatiannya pada para daimyo µ tentunya tidak praktis. Akan tetapi di sisi lain ini juga menguntungkan. Sebab mereka dapat berpindah & mendapat perlindungan dari daimyo µ telah mereka injili ketika ada daimyo µ menolak mereka. Namun hal ini tidak berlangsung lama sejak Tokugawa menyatukan Jepang. Melalui kedudukannya ia dapat menelurkan satu keputusan untuk melakukan perlawanan dengan edik-ediknya.

Pertobatan para Daimyo
Daimyo Kristen juga turut secara aktif membantu misionaris Yesuit untuk mengusahakan pertobatan di daerahnya. Kadang melalui paksaan, intimidasi & pengrusakan simbol-simbol religius penduduk setempat & juga pengrusakan institusi-institusinya. Akan tetapi disamping usaha untuk menginjili, mereka juga harus tetap bertahan ketika Hideyoshi memberlakukan penutupan kekristenan di Jepang tahun 1578. Mereka bahkan sampai menghilang ketika rezim Tokugawa mulai melakukan pengejaran & pembantaian terhadap agama Kristen.

Secara umum motivasi pertobatan mereka ada bermacam-macam. Omura Sumitada (Don Batholomeo) penguasa daerah Sonogi di provinsi Hizen (sekarang bagian dari Nagasaki) tertarik menjadi Kristen tahun 1563 setelah Yesuit berjanji untuk menjamin bahwa kapal dagang Portugis akan datang ke daerah kekuasaannya. Dia kemudian memberikan daerah Nagasaki pada Yesuit tahun 1580. Otomo Sorin pemimpin di provinsi Bungo (sekarang bagian dari Oita) adalah penguasa Kyushu. Ia dibaptis pada tahun 1578 setelah sebelumnya berteman selama kurang lebih 27 tahun dengan para misionaris Yesuit. Sejumlah Daimyo menjadi Kristen melalui pengaruh pertemanan. Sebagai contoh Takayama Ukon (Don Justo) dibaptis tahun 1564 atas pengaruh Gamo Ujisato (Don Leao) & Ijisato membantu Ukoto untuk meyakinkan Kuroda Yoshitaka (Don Simeao). Tetapi para daimyo Kristen tidak pernah mengusahakan sebuah gerakan kesatuan, loyalitas iman ordo Yesuit telah salah sasaran. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka daripada kepentingan perkembangan gereja. Mereka masih mengutamakan statusnya sebagai daimyo daripada iman kristennya.

Pergumulan µ Dihadapi oleh Misionaris di Jepang

Masa Pemerintahan Toyotomi Hideyoshi

Oda Nobunaga, selama rezimnya sebagai pemimpin militer di Jepang di tahun 1570an & 1580an bertemu dengan usaha penginjilan µ dilakukan oleh Katolik. Harapannya untuk bersaing dengan saingannya µ beragama Buddha mendorongnya untuk membiarkan aktivitas misionaris Katolik di Jepang. Di Kyoto, ibukota Jepang selama abad ke-17, sejumlah orang telah dibabptiskan menjadi Kristen. Akan tetapi ketika kekuasaan beralih pada Toyotomi Hideyoshi (yang memimpin Jepang sejak tahun 1582 sampai 1598), sikap anti Eropa mulai muncul.

Pertama sekali Toyotomi Hideyoshi (dikenal sebagai Taikosuma) µ tinggal di Puri Osaka tidak terlalu ambil pusing dengan keberadaan misionaris Kristen. Akan tetapi masalah mulai muncul ketika kepulangannya dari Kyushu. Sebelumnya dia mengumumkan sebuah peringatan di Hakata (sekarang Fukuoka) pada tanggal 23 Juli 1587 untuk menentang penginjilan µ dilakukan melalui pemaksaan. Esok harinya ia mengeluarkan dekrit bahwa misionaris Yesuit (bateren) harus meninggalkan Jepang dalam 20 hari. Meskipun dalam masa itu sejumlah gereja dihancurkan, tidak ada misionaris µ meninggalkan Jepang secara permanen.

Masalah semakin runyam ketika pada tanggal 26 Agustus 1596 kapal perang San Felipe (Spanyol) berlayar dari Manila ke Acapulco & menyandar ke pantai Shukoku di sebelah tenggara kepulauan Jepang. Kapal tersebut berlabuh di pantai Urado di prefektur Tosa µ sekarang dikenal sebagai Kochi. Kapal-kapal mereka µ dilengkapi dengan persenjataan menimbulkan keraguan & menyebabkan Hideyoshi kehilangan kepercayaan atas Eropa. Hal ini dikarenakan ia mengetahui bahwa Philippina baru ditaklukkan oleh Spanyol. Hideyoshi yakin bahwa mereka tidak boleh dipercaya. Hal ini kemudian segera menimbulkan pertanyaan di kalangan penguasa Jepang. Barang muatannya diambil alih oleh shogun Hideyoshi untuk menghindari kemungkinan usaha Spanyol untuk menguasai Jepang.

Akan tetapi tidak cukup sampai di situ, untuk dalam usaha untuk segera menyelesaikan persoalan keamanan nasional tersebut ordo Fransiskan kemudian dituduh sebagai mata-mata Spanyol. Fransiskan menyangkal bahwa cerita itu tidak benar & menekankan bahwa hal itu adalah kebohongan µ dibuat oleh ordo Yesuit untuk menyingkirkan mereka. Pada akhirnya setelah peristiwa ini Hideyoshi memperbaharui lagi dekritnya atas misionaris Kristen. Dengan dekrit ini terbunuhlah 26 martir pada tanggal 5 Februari 1597. Toyotomi Hideyoshi memerintahkan Terazawa Hazaburo (saudara dari gubernur Nagasaki) membunuh mereka di bukit Nishizaka. Para tahanan dipaksa untuk melakukan perjalanan panjang selama musim dingin dari prefektur Tosa (Shikoku) ke Nagasaki (Kyushu) dimana mereka akan dibantai di depan umum. Bagi Terazawa sendiri, hal ini sangat berat mengingat bahwa salah satu misionaris µ akan dieksekusi adalah teman karibnya, yakni Paul Miki. Dua misionaris Yesuit lainnya µ bernama Pasuo & Rodriguez disuruh untuk memimpin ibadah eksekusi mereka. Jika diperinci, terdapat 9 orang misionaris & 17 orang Jepang (yang sudah menjadi Kristen) µ dibunuh ketika itu.

Hal-hal penting dari Edik µ dikeluarkan pada tahun 1635 yakni:
1. Orang-orang Jepang dibatasi oleh pemerintah sendiri. Sejumlah aturan ditentukan untuk mencegah mereka meninggalkan Jepang. & jika ada hal-hal demikian µ terjadi, mereka akan dihukum mati. Orang-orang Eropa µ masuk ke Jepang secara ilegal juga akan menghadapi hukuman mati.
2. Katolisisme berusaha dihancurkan. Orang-orang µ ditemukan mengikuti iman Kristen akan di interogasi & setiap orang µ menjalin hubungan dengan Katolisisme akan dihukum. Untuk menemukan orang-orang µ masih menjadi Kristen, penduduk diiming-imingi hadiah bagi orang-orang µ menemukannya. Tindakan pencegahan atas aktivitas misionaris juga ditekankan melalui edik tersebut; tidak ada misionaris µ diizinkan masuk, & jika ditemukan mereka akan dihukum.
3. Penutupan hubungan perdagangan & membatasi barang-barang perdagangan ditetapkan untuk membatasi pelabuhan-pelabuhan µ terbuka untuk perdagangan bagi pedagang µ telah diizinkan masuk. Hubungan dengan Portugis ditutup secara keseluruhan; pedagang-pedagang Cina & VOC dibatasi untuk hanya berdagang di Nagasaki.

Masa Pemerintahan Tokugawa Ieyesu

Pada tahun 1608, hubungan diplomatis antara Holland (Belanda) dengan Jepang dimulai. Kebijakan Jepang ketika itu selain untuk membatasi pekerjaan misionaris Kristen juga untuk memajukan perdagangan. Spanyol & Portugis dipaksa untuk meninggalkan pelabuhan masuk mereka (Dejima) di Nagasaki, karena mereka menyiarkan kekristenan di balik pelayanan kesehatan & juga mereka diisukan sedang berusaha untuk menguasai Jepang.

Perlu dicatat bahwa Tokugawa Ieyasu µ berkuasa pada tahun 1600 pada mulanya masih berniat untuk bersikap toleran terhadap kehadiran para misionaris. Hal ini disebabkan dia mengharapkan sejumlah keuntungan melalui perdagangan µ dijalin dengan Portugis. Akan tetapi kedatangan kaum protestan Belanda & para pedagang Inggris membuat dia bersikap lebih bebas untuk tidak bergantung pada pedagang Portugis. Akhirnya ia beralih haluan mengikuti pendahulunya menentang kekristenan. Pada tahun 1614 kemudian Tokugawa memerintaha para misionaris untuk meninggalkan Jepang, kebanyakan dari mereka diusir akan tetapi 40 diantaranya, termasuk penginjil keturunan Jepang tetap tinggal untuk melanjutkan pekerjaan mereka di bawah tanah.

Pada tahun 1612, Tokugawa Ieyesu menunjukkan arah anti Kristen setelah insiden µ terjadi di Madre de Deus. Alasan Keshogunan Tokugawa membuat kebijakan anti-kristen tampak secara kompleks dalam ‘Pengusiran terhadap Bateren’ µ disusun oleh Biksu Zen µ bernama Konchin Suden di Iegasu pada tanggal 1 Februari 1614.20 Kemudian Tokugawa Iemitsu mengeluarkan Edik Sakoku pada tahun 1635, µ merupakan edik ketiga µ dikeluarkan sejak tahun 1623 sampai tahun 1651. Dengan munculnya edik ini, ditutuplah Jepang atas hubungan dengan dunia luar. Ini adalah salah satu dari banyak keputusan µ ditulis oleh Iemitsu untuk menghilangkan pengaruh Katolik, & memaksakan aturan pemerintah. Edik ini ditulis pada dua pemimpin di Nagasaki, sebuah kota pelabuhan µ terletak di sebelah utara Jepang. Alasan utama µ kemudian membuat Jepang menutup hubungan mereka secara penuh adalah perhatian pemerintah untuk menerapkan kendali penuh atas rakyatnya. Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika ada interfensi dari agama Kristen µ pada saat itu sangat aggresif & tidak toleran terhadap masalah µ ada. Sebagai dampak dari keluarnya edik ini maka selama periode penyiksaan Iemetsu di tahun 1622, 51 orang Kristen dibunuh di Nagasaki. & dua tahun kemudian 50 orang dibakar hidup-hidup di Edo (sekarang Tokyo). Totalnya sebenarnya ada 3000 orang µ telah menjadi martir, jumlah ini belum termasuk pada orang-orang µ mati karena penderitaan µ mereka alami di penjara. & pada tahun 1633 sebanyak 30 misionaris dibunuh & pada tahun 1637 hanya 5 orang µ dapat hidup bebas.

Pada masa Restorasi Meiji

Selama 250 tahun pintu Jepang ditutup (sejak keluarnya edik Sakoku) sampai pada waktu Commodore Perry membawa empat kepal perang ke Shimoda pada tanggal 8 Juli 1853. Enam tahun kemudian westernisasi berlanjut dengan kedatangan 7 misionaris Protestan. Akan tetapi ternyata hal ini tidak langsung berdampak baik pada kekristenan. Pada awal restorasi µ dilakukan oleh Meiji pada tahun 1867, kebijakan anti-Kristen masih berlaku. Sayangnya pada waktu itu, golongan Kristen bawah tanah µ selama ini bertahan dalam masa pengejaran & pembantaian telah sempat ditemukan di Nagasaki. Mereka µ bertahan µ disebut sebagai Kakure Kiristan ditemukan selama empat kali sejak 1790 sampai 1865. Mereka kemudian dibantai & kejadian ini dikenal sebagai Urakami Kazure. Pembantaian ini lebih hebat & lebih besar daripada pembantaian µ telah pernah terjadi di jaman Tokugawa. Pada ketika ini dibunuh 3.384 orang µ masih tetap bertahan dalam kekristenan. Akan tetapi pembantaian ini berakhir setelah tahun 1873.

Penutup
Yang perlu dicatat dari orang-orang Jepang adalah toleransi mereka atas keberagamaan. Semua tindakan-tindakan pembunuhan mereka terhadap kekristenan hanyalah diakibatkan oleh masalah sosial & politik. Eksklusifisme kekristenan dengan sikapnya µ tidak toleran terhadap agama lain menimbulkan berbagai implikasi. Misionaris oleh karenanya dipandang sebagai katalis untuk kolonialisme Barat atas Jepang. Dasar µ lebih nyata adalah kekristenan dipandang sebagai penyebab tidak berfungsinya elemen-elemen masyarakat µ tentunya akan melemahkan kekuasaan mereka. Akhirnya, penekanan Kristen atas kesadaran individual dipandang sebagai subversif dalam masyarakat µ sungguh penting bersatu atas pengabdian tak bersyarat pada penguasa.

Dalam pandangan µ lebih populer, kekristenan masih dipandang sebagai ‘asing’. Para misionaris mengkotbahkan hal-hal µ baik akan tetapi tidak cocok bagi kebudayaan Jepang. Oleh karena hakikatnya µ ‘asing’ itu, agama tersebut dibantai ketika pemerintah harus menyatukan penduduk di bawah kesatuan nasional µ kuat (oleh Tokugawa).

Sejumlah aspek pengajaran Kristen µ secara mendalam sangat berbeda dengan pola pemikiran tradisional Jepang & penampilannya sebagai contoh adalah monoteisme lawan politeisme; konsep Allah µ transenden melawan imanensi dewa-dewa Jepang; & etika individual lawan etika µ berpusat pada kelompok. Tidak dapat dibantah bahwa kekristenan µ terorganisir dapat mengambil tempat sebagaimana µ diterima oleh Buddha (yang juga adalah agama impor). Dengan keadaan µ demikian dapat kita lihat bahwa keshogunan pada masa penginjilan di Jepang sangat ditakutkan oleh anggapan mereka µ melihat kekristenan sebagai jalan bagi negara asing untuk menaklukkan Jepang. Disamping itu ajaran Kristen mengenai kebebasan individual & etika bertentangan dengan kehendak keshogunan µ mengharapkan pengabdian mutlak penduduk atas kekuasaannya. Sebagai akibatnya, sekitar 280.000 orang telah disiksa & 3000-6000 orang dibunuh.

Ada dua sebab µ menyebabkan keluarnya edik perlawanan terhadap kekristenan. Pertama adalah bersifat ideologis & kedua adalah masalah politik praktis. Kekristenan menawarkan bentuk alternatif yakni suatu otoritas mandiri individu di luar tradisi Jepang & bakufu. Ini tidak dapat diterima oleh penguasa Jepang. Rezim mereka membutuhkan loyalitas penuh dari masing-masing penduduknya. Penganut agama Buddha dibiarkan adalah karena agama Buddha telah diterima sebagai agama Jepang, dengan melihat kenyataan bahwa dia sudah ada sejak lama. Akan tetapi disamping itu selain karena memang pada saat itu agama Buddaha sangat lemah, ada juga pendapat bahwa Hideyoshi memandang penganut agama Buddha dapat dihancurkan dengan memanfaatkan tindakan-tindakan penindasan µ dilakukan oleh institusi keagamaannya. Oleh karena itu dia dapat memperalat institusi agama Buddha untuk
kehancurannya sendiri.

Dari apa µ telah diuraikan tampaklah bagi kita bahwa ternyata pada dasarnya usaha penginjilan tidak mencapai hasil µ diharapkan. Pada kebalikannya justru karena metode µ tidak dijalankan sebagaimana mestinya & dikarenakan oleh berbagai faktor, kekristenan justru malah menjadi ‘bulan-bulanan’ pemerintah Jepang. Dalam hal ini, persoalan signifikan µ dapat kita lihat adalah bahwa usaha penginjilan gagal menyentuh lapisan paling atas masyarakat di Jepang ketika itu.

Usaha pendekatan µ dilakukan oleh misionaris Yesuit pada pihak penguasa lokal (daimyo) juga tidak memberikan dampak µ berarti bagi perkembangan kekristenan. Pada keadaan µ terlihat diatas, para daimyo justru tidak sepenuhnya memahami arti menjadi Kristen. Mereka tidak menyadari akan pentingnya penyebaran injil ke lapisan atas masyarakat. Adapun usaha µ mereka lakukan masihlah bersifat pemaksaan & tidak berdasarkan pertobatan µ sungguh.

Sebagai tambahan, penyebab gagalnya penginjilan µ dilakukan oleh pihak misionaris ke lingkungan istana adalah karena keadaan politik pemerintahan ketika itu tidak mendukung akan kemungkinan terjadinya komunikasi µ baik dengan kaisar. Hal ini dikarenakan ketika itu, Jepang masuk pada periode keshogunan dimana kaisar diperlakukan hanya sebagai simbol dari Jepang itu sendiri. Pemerintahan secara penuh diatur oleh shogun µ dapat dikatakan sebagai perdana menteri. Hal ini mau tidak mau menyebabkan terjadinya kemandekan usaha penginjilan di lingkungan atas.

Hal µ lebih penting lagi, µ menyebabkan tidak tersentuhnya lapisan atas adalah karena
besarnya rasa nasionalisme Jepang terhadap negaranya. Kemungkinan besar ini disebabkan oleh pengaruh agama mereka µ mengatakan bahwa dengan kecintaan & pengabdian kepada kaisarlah (negara) maka rakyat akan memperoleh keselamatan. Hal ini dikarenakan pada saat itu Shintoisme menekankan bahwa kaisar merupakan perwujudan dari dewa berfungsi untuk menyelamatkan manusia. Dengan keadaan nasionalisme µ kuat ini, oleh karena kekristenan telah terlebih dahulu memperoleh image µ buruk (melalui peristiwa kapal San Felipe) maka pihak shogun sendiri mulai antipati terhadap kekristenan. Sehingga oleh karena mereka dianggap sebagai mata-mata asing, maka tidak dapat dihindarkan bahwa shogun pun tidak dapat disentuh oleh usaha penginjilan.

Sekian