<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; HKBP</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/category/gereja-hkbp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Blog informasi dan referensi pelayanan warga gereja.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 11:16:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sedikit Catatan tentang Pargodungan</title>
		<link>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[I.L. Nommensen]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Pargodungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Pargodungan (bahasa Batak) berasal dari kata dasar godung yang berarti &#8220;lubang&#8221;. Kata ini secara harfiah berarti &#8220;lubang&#8221; yang dapat digunakan sebagai jebakan untuk menjerat binatang-binatang liar yang ada di hutan. Dan demikian, dengan prefiks dan sufik par-an (pargodungan) artinya menjadi wilayah sekitar lubang jebakan. Namun pada perkembangan berikutnya &#8211; dan sampai sekarang &#8211; maknanya justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pargodungan (bahasa Batak) berasal dari kata dasar <em>godung</em> yang berarti &#8220;lubang&#8221;. Kata ini secara harfiah berarti &#8220;lubang&#8221; yang dapat digunakan sebagai jebakan untuk menjerat binatang-binatang liar yang ada di hutan. Dan demikian, dengan prefiks dan sufik <em>par</em>-<em>an</em> (<em>pargodungan</em>) artinya menjadi wilayah sekitar lubang jebakan. Namun pada perkembangan berikutnya &#8211; dan sampai sekarang &#8211; maknanya justru menjadi jauh berbeda. Kata <em>pargodungan</em> dewasa ini dimengerti sebagai sebuah kompleks gereja, dimana ada gedung gereja dan beberapa bangunan/rumah yang ada disekitarnya.</p>
<h3>Pendirian Koloni Kristen Batak Mula-mula (Huta Dame)</h3>
<p>Dalam sejarah penginjilan di tanah Batak, ditemukan bahwa pergeseran makna istilah <em>pargodungan</em> ini paling tidak sudah dimulai sejak masa penginjilan (Missi Zending) yang dilakukan oleh Misionaris I.L. Nommensen terhadap orang-orang Batak Toba.</p>
<p>Pada masa awal pelayanannya di tanah Batak, pada tahun 1864 Nommensen membangun sebuah rumah bagi dirinya sendiri yang dimaksudkan sebagai pangkalan missi (zending). Akan tetapi tepat setelah Nommensen membaptiskan orang-orang Batak yang telah bertobat pada tanggal 27 Agustus 1865, dirasa perlu untuk mendirikan sebuah perkampungan orang Kristen. Hal ini dikarenakan orang-orang yang telah bertobat ini rupanya dikucilkan dari masyarakat Batak yang waktu itu masih menyembah dewa-dewa nenek moyang mereka. Alhasil, Nommensen mengobah pangkalan missi (zending) yang telah disebutkan sebelumnya menjadi sebuah kampung kecil, sekaligus dilengkapi dengan parit-parit kecil dan tembok tanah serta gerbang pintu masuk, seperti cara yang umum ketika itu dalam mendirikan sebuah perkampungan orang Batak. Di dalam perkampungan ini ada pula sebuah gedung gereja yang sederhana, gedung sekolah dan beberapa rumah lain.</p>
<p>Perkampungan baru itu dinamakan dengan Huta Dame (Kampung Perdamaian) yang sekarang ini berada dalam wilayah Saitnihuta, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut anaknya (J.T. Nommensen), penamaan sebagai Huta Dame oleh Nommensen ditujukan untuk mengingat pemeliharaan dan penyertaan Allah dan sekaligus sebagai harapan bahwa Tuhan akan membawa damai sejahteraNya ke tanah Batak. Dengan berdirinya Huta Dame, secara otomatis Nommensen menjadi &#8220;kepala kampung&#8221; yang dalam adat Batak adalah raja dan bertanggungjawab atas tingkah-laku penduduk kampungnya. Pada perkembangannya, ada sekitar 33 orang yang tinggal di koloni yang baru itu. Mereka layaknya sebuah &#8220;keluarga raksasa&#8221;, karena selalu mengadakan acara makan bersama-sama. Huta Dame inilah yang kemudian hari sering disebut sebagai <em>pargodungan</em>, sebuah daerah percontohan untuk komunitas Kristen.</p>
<h3>Visi Pelayanan Nommensen</h3>
<p>Paul B. Pedersen mengatakan bahwa sebenarnya penekanan penting yang dilakukan Nommensen dalam pelayanannya di tanah Batak adalah masalah-masalah sosial. Dalam pikiran Nommensen, hal-hal yang rohaniah dan hal-hal yang sosial memiliki hubungan erat yang tidak terpisahkan satu sama lain. Menurutnya, apabila berita rohaniah telah diterima, penduduk akan menjadi lebih sadar akan kesengsaraan sosial yang di dalamnya mereka hidup. Oleh sebab itu, di Huta Dame tadi ia juga mendirikan suatu pusat pengobatan dan juga merencanakan untuk mendirikan koloni-koloni zending di daerah tersebut, yang dapat berkecimpung dalam perusahaan-perusahaan dagang secara besar-besaran, dengan harapan agar dapat memperkenalkan teknik-teknik pertanian modern di dalamnya. Selain itu ia sering membayar tebusan untuk budak-budak yang akan dibunuh, meminjamkan uang dengan bunga rendah, menyembuhkan orang sakit dan terkenal karena kesediaannya menahan penghinaan dan malah menolong mereka yang menghinanya.</p>
<p>Dalam sepucuk surat ke Barmen (Jerman), Nommensen berbicara tentang suatu penglihatan yang ia dapat mengenai hari-depan masyarakat Kristen yang baru ini. Di dalam visi ini pulalah sebenarnya kita melihat fungsi, tujuan, dan motivasi yang mendasar atas berdirinya sebuah <em>pargodungan</em>:</p>
<blockquote><p>Dalam roh saya melihat tersebar di mana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda, yang berjalan ke gereja-gereja ini: di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat di mana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman rapih yang di dalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas dari orang-orang ini. Selanjutnya, saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru, orang-orang pribumi Sumatera, berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua.</p>
<p>Anda akan mengatakan bahwa saya seorang pemimpi, tetapi saya berkata: tidak! Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ii akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang saya dan mungkin membuat segala macam rencana untuk menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah laut dari pantainya, demikianlah mereka dapat mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemuliaanNya akan bersinar atas seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba.</p></blockquote>
<h3>Perkembangan Pargodungan</h3>
<p>Sebenarnya konsep pembangunan pargodungan Huta Dame tadi dan zending berbasis diakonia yang dilakukan Nommensen sudah ada sejak abad ke empat. Pendeta Bonar Lumbantobing menulis bahwa pada jaman itu di dalam kompleks perumahan mereka, para Bishop Gereja Mula-mula sudah mulai mendirikan rumah-rumah sakit, rumah-rumah penampungan para pengungsi, pemeliharaan dan pembelaan bagi para janda, panti-panti asuhan, penampungan bagi mereka yang mengalami gangguan mental, penampungan bagi para peziarah dan orang-orang yang dalam perjalanan, panti jompo pemeliharaan untuk yang berpenyakit kusta. Selain itu mereka juga berusaha untuk menegakkan hak-hak pekerja, penghapusan perbudakan dan dengan sendirinya memperbaiki sistim ekonomik agar lebih memihak pada yang lemah. Pada giliran lain muncullah sekolah-sekolah melalui biara-biara, pengembangan pertanian dan penemuan-penemuan ilmiah oleh para rahib dan pengembangan ilmu hingga berdirinya Universitas.</p>
<p>Bonar Lumbantobing juga mengatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kompleks gereja dibangun sedemikian rupa menjadi satu kesaksian akan suatu hidup yang komprehensip tanpa mengenal yang jasmani mau pun rohani. Sistim itulah yang disebut dengan &#8216;pargodungan&#8217;. Sistim pargodungan telah mencelikkan mata jemaat untuk pola hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam bidang ekonomi, kesehatan pendidikan dan persekutuan. Pada gilirannya sistim ekonomik seluruh masyarakat pun diubah. Hari pekan misalnya yang berlangsung sekali dalam 4 hari, membuat sistim ekonomi pasarnya tidak efisien. Memang ada keluhan para Missionaris bahwa dengan sistim pasar sekali empat hari akan membuat hari pasar pada saat tertentu jatuh pada hari Minggu. Namun bukan hanya alasan ini saja, tetapi untuk pengembangan ekonomi masyarakat, maka Missionaris menentukan agar hari pekan berlangsung sekali dalam satu Minggu saja.&#8221;</p>
<p>Demikianlah sekolah-sekolah berdiri, baik sekolah umum mau pun sekolah kejuruan untuk kaum perempuan mau pun laki-laki. Rumah sakit, penampungan yang berpenyakit kusta, orang buta, panti asuhan, pemeliharaan anak-anak yang ditinggal mati ibunya berjalan secara serentak. Selain itu penegakan hukum dijalankan sehingga berakhirlah permusuhan antar desa dan marga, berakhirlah penyiksaan karena terlilit hutang, terhapuslah perbudakan.</p>
<p>Dalam hidup berjemaat terdapat wujud yang luar biasa. Pada tahun 1899 berdirilah Yayasan Pekabaran Injil milik pribumi yang pertama dengan dana sendiri. Tanpa henti-hentinya mengalirlah persembahan-persambahan dari desa-desa melalui pesta-pesta Zending. Keuangan Yayasan ini pada saat tertentu malah melampaui keuangan Zending Barmen, hingga pada akhirnya Yayasan itu dilebur menjadi satu dengan Gereja HKBP. Terlihatlah di tengah-tengah kondisi ekonomik masyarakat pada saat itu, mereka mampu melalui persembahan itu untuk penginjilan.</p></blockquote>
<p>Dalam tata gereja HKBP tahun 1881 (Huria Kristen Batak Protestan) &#8211; gereja Batak yang merupakan buah dari penginjilan RMG yang mengutus Nommensen ke tanah Batak &#8211; dan tetap bertahan sampai sekarang dalam Agenda HKBP pada mulanya masih mencantumkan hal-hal yang dapat mendukung berdirinya konsep pembangunan <em>pargodungan</em>. Dan seiring dengan perkembangan jaman dan didukung oleh faktor-faktor yang berakibat seperti efek domino, konsep pelayanan gereja dalam wujud <em>pargodungan</em> sudah hampir dilupakan. Tata gereja HKBP yang disahkan pada tahun 2002 nyaris tidak lagi mengatur perihal konsep pargodungan secara mendetail. Dan pada pengamatan empiris, kelihatan sekali bahwa gereja sekarang ini mengalami &#8220;kemiskinan akut&#8221;, sehingga ia secara terpaksa (mungkin!) lebih memilih untuk membangun gedung-gedung serba guna untuk dapat disewakan kepada penyelenggara pesta pernikahan, misalnya. Cara lain untuk itu misalnya dengan menaruh deposit ke Bank dan menggunakan bunganya untuk kepentingan gereja. Ia tidak dapat lagi mengandalkan persembahan jemaat sebagai sumber dana pelayanan sehingga harus mencari sumber-sumber lain yang dapat secara otomatis menambah kas gereja.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika kita mengingat firman Yesus Kristus dalam Matius 5:13-14 perihal &#8220;garam dan terang dunia&#8221;, kita pun mengingat bahwa <em>pargodungan</em> memiliki fungsi yang demikian. Sebagai garam dan terang, ia adalah pelengkap kehidupan manusia. Sebagai pelengkap ia berperan untuk membantu mengatasi seluruh masalah yang dihadapi oleh manusia baik secara jasmani maupun rohani (meskipun kita tidak harus membedakannya). Pargodungan yang awalnya merupakan lubang penjerat binatang-binatang liar memang akhirnya &#8220;menjerat&#8221; orang-orang Batak untuk masuk ke dalam pelayanan Kristen. Bukan hanya sebuah lubang, malah menjadi benteng yang kokoh, dimana semua orang dapat melihat dan merasakan kekuatannya serta rela &#8220;bersintesis&#8221; ikut mengambil bagian di dalamnya. Di dalam <em>pargodungan</em> ini pula termaktub hampir seluruh esensi yang diharapkan dari sebuah kekristenan. Ia adalah wujud dari integrasi ketiga tugas panggilan gereja (Koinonia, Marturia, dan Diakonia), yang dicita-citakan, diharapkan, dan diusahakan oleh seluruh gereja di dunia ini. Karenanya, sebuah pertanyaan muncul dari uraian ini: Jika kita melihat kondisi gereja dewasa ini, bagaimana cara kita mengembalikan peranan gereja seperti sebagaimana mestinya? Kiranya Tuhan menyertai kita.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Hutauruk, J.R., <em>Menata Rumah Allah</em>, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan</p>
<p>Lumbantobing, Bonar, &#8220;Teologi Persembahan&#8221; dalam <em>Buku Panduan Rapat Pendeta 2009</em>, 2009, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan</p>
<p>Nommensen, J.T., <em>Ompoei Toean Ephorus Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen: Parsorionna Dohot Na Niuoelana</em>, Pearaja: Yayasan R.P.L. Tobing</p>
<p>Pedersen, Paul B., <em>Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-gereja Batak di Sumatera Utara</em>, 1975, Jakarta: Gunung Mulia</p>
<p>Warneck, J., <em>Kamus Batak Toba Indonesia</em>, (terj. P. Leo Joosten OFMCap), 2009, Medan: Bina Media Perintis</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pardonganon Mission Batak “PMB” (Sebuah Model Semangat Penginjilan di Tanah Batak)</title>
		<link>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 11:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[mission batak]]></category>
		<category><![CDATA[pardonganon mission batak]]></category>
		<category><![CDATA[PMB]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan penginjilan di daerah Tapanuli oleh RMG diawali sejak 07 Oktober 1861. Pada tanggal 07 Oktober 1861 empat orang pendeta, yakni: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt melakukan rapat untuk memulai pekerjaan penginjilan di Tapanuli. Mereka membagi wilayah pekerjaannya, di mana Pdt. Klammer ke wilayah Sipirok, Pdt. Betz ke Bungabondar, Pdt. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaan penginjilan di daerah Tapanuli oleh RMG diawali sejak 07 Oktober 1861. Pada tanggal 07 Oktober 1861 empat orang pendeta, yakni: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt melakukan rapat untuk memulai pekerjaan penginjilan di Tapanuli. Mereka membagi wilayah pekerjaannya, di mana Pdt. Klammer ke wilayah Sipirok, Pdt. Betz ke Bungabondar, Pdt. Heine dan Pdt. Van Asselt ke wilayah Pahae/Sarulla. Pada akhirnya tanggal tersebut ditetapkan menjadi hari berdirinya Huria Kristen Batak Protestan. Pekerjaan RMG di tanah Batak semakin dimantapkan dengan kehadiran Pdt. I.L. Nommensen. Sesuai dengan keputusan rapat para pendeta di Sipirok pada 07 Oktober 1862, Nommensen bekerja untuk daerah Parausorat, dengan alasan bahwa di wilayah tersebut, Islam telah mulai mengembangkan pengaruhnya. Namun pada tanggal 07 November 1863 Nommensen berangkat dari Parausorat menuju Silindung, di mana daerah tersebut pada akhirnya menjadi pusat pekerjaan RMG di Samosir. Keberhasilan misi yang dilakukan oleh Nommensen di daerah Silindung mulai terlihat ketika pada tanggal 27 Agustus 1865 sebanyak 4 orang dewasa dan 5 anak-anak dibaptis. Hal tersebut berlanjut hingga awal tahun 1866, di mana sebanyak 50 jiwa kembali dibaptis. Oleh karena semakin banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, pada tahun itu juga (16 Februari 1866) calon istri Nommensen dan Pdt. Johansen tiba di Sibolga untuk membantu pekerjaan yang dilakukan Nommensen di Silindung.</p>
<p>Perkembangan pekerjaan penginjilan di Tanah Batak semakin terlihat ketika Dr. A. Schreiber membuka Sekolah Guru di Parausorat pada tahun 1878 yang bertujuan untuk mendidik anak-anak orang Batak yang telah percaya kepada Kristus untuk menjadi guru yang akan membantu para pendeta RMG dalam pekerjaan pemberitaan.</p>
<p>Dalam masa yang cukup singkat, usaha yang dilakukan oleh pendeta-pendeta RMG di Tanah Batak dapat dikatakan cukup berhasil, sebab secara bertahap sejak tahun 1861 banyak daerah di Tapanuli bahkan ke daerah-daerah perantauan orang-orang Batak telah berdiri gereja-gereja Batak. Justin Sihombing menyebutkan dalam bukunya <strong>Sejarah ni Huria Kristen Batak Protestan</strong>, (Medan: Philemon &amp; Liberty, 1961), perkembangan tersebut melalui penggambaran berdirinya ressort-ressort dari  gereja-gereja itu, di antaranya:</p>
<p>Sipirok 1861, Bungabondar 1861, Parausorat 1862, Pangaloan 1862, Sigompulon 1862, Pansurnapitu 1867, Sipoholon 1870, Sibolga 1870, Aekpasir 1870, Simorangkir 1875, Bahalbatu 1876, Balige 1876, Sipahutar 1882, Lintongnihuta 1882, Muara 1883, Laguboti 1884, Hutabarat 1888, Sipiongot 1888, Sigumpar 1890, Narumonda 1890, Parsambilan 1890, Parparean 1890, Nainggolan 1893, pangombusan 1894, Janjimatogu 1894, Pangaribuan 1896, Silaitlait 1896, Simanosor Batangtoru 1897, Palipi 1898, Lumbannabolon 1899, Tampahan 1900, Butar 1900, Sitorang 1901, Lumban Lobu 1902, Silamosik 1902, Nahornop 1902, Paranginan 1903, Pematangraja 1903, Dolok Sanggul 1904, Bandar 1904, Parmonangan 1905, Sipiak 1905, Parsoburan 1906, Pematangsiantar 1907, Sidikalang 1908, Bonandolok 1909, Tukka 1909, Purbasaribu 1910, Pangururan 1911, Medan 1912, Ambarita 1914, dan Jakarta 1922.</p>
<p>Setelah kurang lebih 48 tahun sejak Injil diberitakan di tanah Batak, antusias orang-orang Batak yang telah menjadi Kristen sangat besar untuk ikut serta menyebarkan Injil ke daerah yang belum mengenal kekristenan. Kerinduan bersama untuk menyebarkan Injil itulah yang mendorong terbentuknya Pardonganon Mission Batak. Atas dasar kerinduan itu, pada tanggal 02 November 1899 oleh prakarsa Pdt. Henock Lumbantobing berdiri Zending Batak yang disebut Pardonganon Mission Batak “PMB” yang mana atas inisyatif Pdt. Henock Lumbantobing dan Pdt. Metzler, Pearaja dijadikan sebagai pusat Zending tersebut. Kata “Mission Batak” yang digunakan sebagai nama badan zending tersebut mengandung arti yang dalam bagi setiap orang Kristen pribumi, yang merasakan tanggungjawab atau kewajiban mutlak untuk mengeluarkan sesuatu dari miliknya kepadanya usaha zending pribumi tanpa menaruh rasa curiga kepada usaha zending luar negeri (Kongsi Barmen di tanah Batak sejak tahun 1861). Setelah pendirian badan zending tersebut, terdapat berbagai sikap yang antusias dan mendukung dari berbagai pihak, di antaranya:</p>
<p>1.  Sambutan dari Badan Zending “Kongsi Barmen” yang dengan gembira menyambut berdirinya badan zending tersebut. Menanggapi hal tersebut, Kongsi Barmen menganjurkan agar pada tahun pertama dan tahun kedua, Kongsi PMB agar mengumpulkan modal dan pada tahun ketiga melancarkan gerakan zending atas biaya sendiri. J.T.H. Panjaitan dalam bukunya , <strong>Panggilan dan Suruhan Allah: Risalah dan Kesan-kesan Serta Pandangan-Pandangan Mengenai Pekabaran Injil Huria Kristen Batak Protestan Untuk Peringatan 75 Tahun Pekabaran Injil HKBP (1899-1974)</strong>, (Pematangsiantar, Departemen Zending HKBP, 1974), menyebutkan dalam kesempatan itu, Kongsi Barmen juga setuju dengan program kerja yang dirumuskan Kongsi PMB, di antaranya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Untuk turut melancarkan usaha Zending di Pulau Samosir, Uluan, Pakpak/Dairi dan Simalungun.</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Membantu Kongsi Barmen untuk memberikan pelayanan yang cukup kepada jemaat-jemaat yang jauh terpencil dari tempat pendeta Eropa.</p>
<p style="padding-left: 30px;">- Membantu usaha sosial di antara masyarakat Kristen dan bukan Kristen, antara lain merawat orang-orang cacat.</p>
<p>2. Sambutan dari Konfrensi para pendeta pribumi dan pendeta Eropa, yang mana membuat suatu ceramah yang berjudul: “Apakah Yang Pokok Kita Gumuli Dalam Membina Guru Zending dan Pendeta Batak”? Dengan melihat peran serta pendidikan teologi dalam mendukung kesuksesan badan zending tersebut, konfrensi mengeluarkan suatu keputusan agar memindahkan seminari Pansurnapitu ke tempat yang lebih luas dan strategis, yang mana pilihan akhirnya jatuh ke daerah Sipoholon.</p>
<p>3. Sambutan para Raja dan Penatua Gereja di Silindung. Dalam satu pertemuan para raja dan penatua di Pearaja pada tanggal 10-11 Agustus 1900, gerakan zending PMB diperkenalkan kepada hadirin.</p>
<p>4. Sambutan umat Kristen di Balige. Umat Kristen Balige yang dari dekat menyaksikan konfrensi para pendeta Eropa dan pendeta Pribumi bergerak lebih jauh dalam mensukseskan usaha zending HKBP “PMB”. Pada tanggal 10 Oktober 1900 seluruh anggota jemaat HKBP Balige berkumpul untuk menghadiri Rapat Zending yang pertama kali berlangsung di Balige. Rapat berhasil memilih anggota jemaat untuk dilantik menjadi Evangelist di daerah Zending, yakni St. Petrus dari Parparean, St. Musa dan St. Laban Siahaan dari Lumban atas.</p>
<p>5. Sambutan umat Kristen di Angkola (Tapanuli Selatan). Daerah Angkola sebagai daerah jemaat HKBP pada bagian Selatan merasa kurang puas jika hanya mendengar kabar berdirinya zending HKBP. Jemaat mengundang pengurus zending HKBP agar datang berkunjung ke Angkola untuk memberi penjelasan selanjutnya tentang badan zending tersebut. Atas permintaan itu, Pdt. Henock Lumbantobing berkunjung ke daerah Angkola. Beliau mendapat sambutan yang baik, di mana jemaat turut mendoakan zending HKBP, menyumbangkan dana bahkan ada yang mendaftarkan diri menjadi anggota tetap dari badan zending tersebut.</p>
<p>Setelah Ephorus Pdt. I.L. Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, kepemimpinan gereja diserahkan kepada Pdt. Valentin Kessel sebagai pejabat ephorus hingga tahun 1920. Setelah Pdt. Johanes Warneck menjabat sebagai Ephorus terlihat suatu semangat untuk menghidupkan kembali semangat zending.  Pdt. Johanes Warneck berusaha supaya kekuatan zending pribumi diarahkan bukan melayani suatu daerah zending (daerah bukan Kristen) sebagaimana keadaan semula, tetapi melayani gereja secara keseluruhan; yang berarti bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan gereja dalam segala bidang.</p>
<p>Pada tanggal 16 Februari 1921, Pdt. Johanes Warneck berhasil membentuk suatu komisi (Pdt. Johanes Warneck, Pdt. Metzler, Pdt. Karl Lotz dan 5 dari Kristen Batak). Pada hari itu mereka meresmikan pergantian nama baru yaitu dengan nama Zending Batak, dengan makna/tujuan baru. Zending Batak adalah lembaga gerejani yang melibatkan diri dalam segala urusan gereja muda di Tanah Batak, antara lain: meningkatkan hidup gerejani, menutup kebutuhan belanja para pendeta pribumi, Guru Jemaat dan para Evangelist, yang bekerja di tengah-tengah masyarakat bukan Kristen di perantauan. Dengan bentuk baru ini maka nampak bahwa pimpinan dari Zending Batak langsung di tangan Ephorus.</p>
<p>Sesuai dengan fungsi baru dari Zending Batak yang harus melibatkan diri dalam segala bentuk kegiatan gerejani, maka Zending Batak pada tahun 1923 mendirikan perkampungan khusus kepada orang-orang buta yang diberi nama “Hepata”. Kegiatan di lapangan sosial ini memberi arti yang tidak ternilai serta pemahaman kepada warga jemaat bahwa orang buta dan lumpuh  adalah manusia ciptaan Tuhan yang butuh akan perbuatan kasih Tuhan. Melihat peranan Zending Batak yang membawa banyak berkat bagi banyak orang, rapat pendeta utusan tahun 1925 memutuskan:</p>
<p>1.	Pada pesta perayaan turunnya Roh Kudus di setiap kebaktian diadakan kollekte buat Zending Batak.</p>
<p>2.	Pada pesta Natal I diadakan kollekte buat Hepata.</p>
<p>Sebuah karya misi yang terlaksana dalam tubuh gereja Batak yang terlihat dalam PMB adalah sebuah bentuk misi yang transformatif. Misi pemberitaan akan Injil melalui para missionaris mendapat respon dari orang-orang Batak, mereka percaya dan dibaptis. Terang yang diberikan Injil menjadikan orang-orang Batak Kristen memiliki rasa ingin ikut serta dalam usaha pekabaran Injil tersebut. Inilah yang terjadi dalam Lembaga Pardonganon Mission Batak (PMB). Berkaitan dengan hal itu beberapa hal yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah:</p>
<p>1.	Kita harus mengakui bahwa jiwa Zending terwujud dalam hidup jemaat HKBP adalah atas usaha dari “Kongsi Batak”.</p>
<p>2.	Kita tidak akan melupakan perintis-perintis Zending HKBP, antara lain: Pdt. Henock Lumbantobing, St. Laban Siahaan, St. Petrus Sitorus, St. Musa Tampubolon sebagai perintis Injil ke Samosir, Uluan, Tigaras dan Bakkara. Juga rekan mereka dari pendeta utusan, antara lain: Pdt. Metler, Pdt. Pilgram, Pdt. I.L. Nommensen.</p>
<p>3.	Kita merasa betapa sulit bagi mereka merintis Zending HKBP dalam membangun anggota jemaat yang masih ‘remaja’ itu untuk memberi secara Kristen, yang berarti memberi secara sukarela buat Kerajaan Allah di tengah-tengah saudara sesukunya yang masih menganut kepercayaan animisme.</p>
<p>4.	Kita akui karya mereka telah memupuk rasa tanggung jawab bagi usaha yang bukan hanya di dalam jemaat itu sendiri, tetapi juga di luar kepentingan mereka sendiri.</p>
<p>5.	Rencana panjang yaitu mendirikan suatu gereja yang berdiri sendiri (manjunjung baringinna) tidak lepas dari saat permulaan Zending HKBP “PMB”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/pardonganon-mission-batak-%e2%80%9cpmb%e2%80%9d-sebuah-model-semangat-penginjilan-di-tanah-batak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HKBP Mendukung Bentuk Protap melalui Pesan Rapat Pendeta HKBP 2009</title>
		<link>http://pargodungan.org/hkbp-mendukung-bentuk-protap-melalui-pesan-rapat-pendeta-hkbp-2009/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/hkbp-mendukung-bentuk-protap-melalui-pesan-rapat-pendeta-hkbp-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 18:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Protap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Tona Rapot Pandita HKBP tahun 2009 ini harus menjadi perhatian publik. Rapat Pendeta HKBP kali ini akhirnya menunjukkan sikapnya terhadap situasi yang masih hangat saat ini. HKBP akhirnya mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://pargodungan.org/hkbp-mendukung-bentuk-protap-melalui-pesan-rapat-pendeta-hkbp-2009/" title="HKBP Mendukung Bentuk Protap melalui Pesan Rapat Pendeta HKBP 2009"><img src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/08/LOGO-HKBP-50x50.jpg" alt="" class="feed-image" /></a><p><img class="alignleft size-medium wp-image-403" title="LOGO HKBP" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/08/LOGO-HKBP-120x150.jpg" alt="LOGO HKBP" width="120" height="150" />Pesan Rapat Pendeta HKBP (Tona Rapot Pandita HKBP &#8211; TRP) merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh seluruh jemaat HKBP diseluruh penjuru bumi ini. TRP HKBP hanya muncul sekali dalam empat tahun, yakni ketika Rapat Pendeta HKBP telah selesai dilangsungkan. Pesan ini punya pengaruh penting bagi para pendeta dan jemaat HKBP sebab di dalamnya jalan dan arah perjalanan HKBP di hari yang akan datang akan kelihatan.</p>
<p>Tona Rapot Pandita HKBP tahun 2009 ini harus menjadi perhatian publik. Rapat Pendeta HKBP kali ini akhirnya menunjukkan sikapnya terhadap situasi yang masih hangat saat ini. <strong>HKBP akhirnya mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli</strong>.</p>
<p>Pernyataan sikap HKBP mengenai pembentukan Provinsi Tapanuli sudah lama ditunggu-tunggu, baik oleh para Pendeta HKBP maupun jemaat HKBP secara umum. Jangankan mereka, bahkan para pejuang Protap yang sekarang ditahan pun menunggu sikap yang tegas dari HKBP. Ini secara tersirat kelihatan melalui harapan GM Chandra Panggabean agar Ephorus HKBP berkenan mengunjungi dan memberikan penguatan dan penghiburan bagi para tahanan (ketika ditemui beberapa waktu lalu oleh perwakilan HKBP Distrik 23 Langkat dan BKAG Kota Binjai).</p>
<p>Adapun bunyi dukungan Tona Rapot Pandita HKBP tertanggal 7 Agustus 2009 atas pembentukan Provinsi Tapanuli, yang ditandatangani oleh Ephorus HKBP (Pdt. Dr. Bonar Napitupulu) dan Ketua Rapot Pandita HKBP 2005-2009 (Pdt. Dr. Jamilin Sirait) adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Marhite tangiang pangondianon, ditangianghon parrapot do asa saut Propinsi Tapanuli na boi gabe dalan na uli laho mamboan masyarakat Tapanuli tu parngoluan na lam maju dohot lam sejahtera. Songon i nang angka donganta na tongon di hurungan ala mamparjuanghon Propinsi Tapanuli di tingki on, asa margogo jala benget mangadopi sitaonon na ampe tu nasida.</p></blockquote>
<p>Dalam bahasa Indonesia:</p>
<blockquote><p>Melalui doa peneguhan, peserta rapat mendoakan agar Provinsi Tapanuli dapat terbentuk agar dapat menjadi jalan untuk membawa masyarakat Tapanuli ke dalam kehidupan yang lebih maju dan lebih sejahtera. Demikian juga terhadap teman-teman yang di penjara karena memperjuangkan Provinsi Tapanuli saat ini, agar semakin kuat dan sabar menghadapi penderitaan yang mereka alami.</p></blockquote>
<p>Pernyataan sikap seperti ini merupakan angin segar bagi seluruh warga jemaat, bagi seluruh pendeta HKBP, dan terutama bagi para pejuang pembentukan Provinsi Tapanuli. Ini merupakan momentum awal bagi seluruh masyarakat Tapanuli, khususnya bagi setiap warga gereja HKBP: <em>untuk dapat mendukung Provinsi Tapanuli baik secara moril maupun materiil, baik melalui doa maupun tindakan, baik secara langsung maupun tidak langsung</em>.</p>
<p><strong>Praeses HKBP Distrik 23 Langkat Menepati Janjinya</strong></p>
<p>Pernyataan sikap ini sebelumnya memang sudah diduga, mengingat bahwa Praeses HKBP Distrik 23 Langkat (Pdt. Saur L. Simanjuntak, S.Th) pernah menjanjikan kepada tahanan Protap untuk membawa pergumulan mereka ke Rapat Pendeta HKBP 3-7 Agustus 2009. Momen itu dipilih mengingat bahwa Rapat Pendeta HKBP merupakan salah satu perhelatan akbar di HKBP. Di dalam rapat inilah biasanya dibahas sikap dan arah pelayanan HKBP di tengah-tengah masyarakat di dunia.</p>
<p>Sesuai dengan janji itu, pada akhirnya kita dapat menemukan rumusan sikap para Pendeta HKBP terhadap masalah yang terjadi di tengah jemaat. Dan sebagai akibatnya, kita dapat menentukan sikap sebagai warga HKBP terhadap keadaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Majukan terus Tapanuli!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/hkbp-mendukung-bentuk-protap-melalui-pesan-rapat-pendeta-hkbp-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mantan Sekjen Nyaris Batal Jadi Ketua KRP HKBP</title>
		<link>http://pargodungan.org/mantan-sekjen-nyaris-batal-jadi-ketua-krp-hkbp/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/mantan-sekjen-nyaris-batal-jadi-ketua-krp-hkbp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 05:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Rapat Pendeta HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Sekjen HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[WTP Simarmata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin malam merupakan hari yang cukup melelahkan bagi seribuan pendeta HKBP. Malam itu, lebih kurang 1.111 pendeta HKBP melakukan pemilihan Ketua Rapat Pendeta HKBP (KRP-HKBP) yang baru. Ada beberapa nama bakal calon (balon) yang muncul, diantaranya Pdt. BM Siagian, Pdt. RJ Hutagaol, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, Pdt. Bonar Lumbantobing, Pdt. WTP Simarmata, Pdt.  Martonggo Sitinjak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Pdt. WTP Simarmata" src="http://2.bp.blogspot.com/_MjuiEhJV37M/SMj0DvYlhhI/AAAAAAAAASw/UF-5wgmA3V8/s320/wtps.jpg" alt="" width="189" height="213" />Kemarin malam merupakan hari yang cukup melelahkan bagi seribuan pendeta HKBP. Malam itu, lebih kurang 1.111 pendeta HKBP melakukan pemilihan Ketua Rapat Pendeta HKBP (KRP-HKBP) yang baru. Ada beberapa nama bakal calon (balon) yang muncul, diantaranya Pdt. BM Siagian, Pdt. RJ Hutagaol, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, Pdt. Bonar Lumbantobing, Pdt. WTP Simarmata, Pdt.  Martonggo Sitinjak, Pdt. Welman Tampubolon, Pdt. Amir Zaitun, Pdt. SMP Hutasoit, Pdt. COR Silaban, Pdt. MKH Sirait, Pdt.  Ladestam Sinaga, Pdt. STP Siahaan, Pdt. Sondang Hutahaean, Pdt. Binsar Nainggolan, Pdt. BDF Sidabutar, Pdt. JP Sibuea (seperti dilansir Batak Pos). Ketua KRP yang lama, Pdt. Dr. Jamilin Sirait yang memimpin rapat pemilihan tidak dicalonkan kembali karena telah menjabat sebagai salah satu kepala departemen di HKBP.</p>
<p>Setelah melalui proses pemilihan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mantan sekjen (Pdt. WTP Simarmata, MA) terpilih, mengalahkan pesaingnya yang lain. Hal yang patut disyukuri adalah, kelihatan bagaimana peserta rapat dapat mengikuti semua proses pemilihan yang panjang sejak pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB dengan lancar dan penuh <em>concern</em>.</p>
<p>Namun ada kejadian menarik yang terjadi pagi tadi. Sekira pukul 09.00 WIB, ketua KRP HKBP (Pdt. Dr. Jamilin Sirait) hampir terkejut melihat jumlah peserta rapat yang belum tiba semua di ruang sidang. Padahal agenda utama dalam sidang itu adalah rapat penetapan Ketua KRP HKBP yang baru terpilih. Melihat keadaan, beliau menyatakan bahwa rapat pengesahan KRP bisa batal kalau belum ada dua pertiga dari jumlah peserta rapat yang hadir.</p>
<p>Entah karena panik atau kuatir, sejumlah pendeta yang peduli segera menghubungi rekan-rekan pendeta lainnya yang belum hadir via SMS atau telepon. &#8220;Ro hamu bah, naeng ta mulai rapat penetapan&#8221;, seperti itulah ungkap salah seorang peserta rapat yang saya lihat. Usaha-usaha seperti ini patut diteladani, mengingat betapa pentingnya peran Ketua Rapat Pendeta di tubuh HKBP. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih setengah jam menunggu, ruang sidang sudah dipenuhi oleh peserta rapat.</p>
<p>Untuk itu, saya juga mengucapkan selamat atas Ketua KRP HKBP yang baru terpilih, Pdt. Willem TP Simarmata, M.A. Semoga tugas pelayanan yang baru ini dapat menjadi start awal untuk memperbaharui tugas pelayanan para pendeta di HKBP.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/mantan-sekjen-nyaris-batal-jadi-ketua-krp-hkbp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Turunkan Ephorus HKBP Kampungan Itu!</title>
		<link>http://pargodungan.org/turunkan-ephorus-hkbp-kampungan-itu/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/turunkan-ephorus-hkbp-kampungan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 10:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ephorus HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[GAMKI]]></category>
		<category><![CDATA[GMKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja ada kejadian menarik yang terjadi di Rapat Pendeta HKBP di Sipoholon hari ini. Sekumpulan demonstran yang mengaku sebagai perwakilan GMKI Tarutung mendatangi lokasi rapat di Seminarium Sipoholon, tepatnya di wilayah Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP. Tidak jelas maksud dan latar belakang kedatangan mereka, tapi dari pamflet dan slogan-slogan yang dibawa mereka, yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://pargodungan.org/turunkan-ephorus-hkbp-kampungan-itu/" title="Turunkan Ephorus HKBP Kampungan Itu!"><img src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/08/Ephorus-HKBP-50x50.jpg" alt="" class="feed-image" /></a><p><img class="alignleft size-medium wp-image-385" title="Ephorus HKBP" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/08/Ephorus-HKBP-100x150.jpg" alt="Ephorus HKBP" width="100" height="150" />Baru saja ada kejadian menarik yang terjadi di Rapat Pendeta HKBP di Sipoholon hari ini. Sekumpulan demonstran yang mengaku sebagai perwakilan GMKI Tarutung mendatangi lokasi rapat di Seminarium Sipoholon, tepatnya di wilayah Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP. Tidak jelas maksud dan latar belakang kedatangan mereka, tapi dari pamflet dan slogan-slogan yang dibawa mereka, yang paling menarik adalah tuntutan agar Ephorus HKBP turun dari jabatannya.</p>
<p>Ada tiga alasan mengapa Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu harus turun:</p>
<ol>
<li>Ephorus HKBP fe******</li>
<li>Ephorus HKBP ot*******</li>
<li><strong>Ephorus HKBP kampungan</strong></li>
</ol>
<p>Tentang ketiga alasan ini saya cuma bisa senyum-senyum. Ada-ada aja orang ini, pikirku dalam hati. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tuntutan agar menurunkan seseorang dari jabatannya sebenarnya adalah hal yang wajar. Itu merupakan bagian dari kebebasan berpendapat dan berkehendak. Namun kalau alasannya karena ephorusnya kampungan, tunggu dululah&#8230; Masa demonstrasi untuk menurunkan seseorang dari jabatannya hanya karena ia kampungan? Hanya karena ephorus tidak gaulkah maksud mereka? Atau udah habis kata-kata ya?</p>
<p>Secara pribadi, saya merasa Ephorus HKBP (Pdt. Dr. Bonar Napitupulu) itu adalah orang baik-baik. Selain sebagai seorang pendeta HKBP, secara umum kami mengenalnya sebagai orang yang mudah senyum dan punya selera humor yang baik. Itu masih dari satu segi karakter. Dari segi lainnya pun, sangat kental terasa bahwa ia punya spiritualitas yang baik pula. Wajahnya bercahaya bagaikan seorang santo, mengutip istilah yang dipakai teman, &#8220;memancarkan sahala ha ephoruson&#8221;.</p>
<p>Bagi saya ini adalah profil yang menunjukkan bahwa ephorus HKBP adalah seorang yang modern. Kepemimpinan yang modern adalah kepemimpinan yang terintegrasi dengan Spiritual Quotient. Seorang pemimpin HKBP bukan persoalan ia memiliki gelar Doktor Teologi atau lainnya. Bukan juga karena ia memiliki teman atau simpatisan yang banyak. Seorang ephorus harus memiliki spiritualitas yang baik, agar ia dapat menjadi teladan bagi semua pelayan. Ia adalah simbol dari seluruh pelayan dan jemaat HKBP di seluruh dunia dan karenanya menjadi simbol dari orang Kristen Batak.</p>
<p>Dari hampir seribu lima ratus pendeta HKBP, yang dipilih hanya satu orang yang betul-betul memenuhi syarat. Lalu apakah seluruh pendeta HKBP itu buta makanya milih pemimpin yang kampungan? Lagipula, kalau memang benar ephorus yang terpilih dituduh sebagai orang yang kampungan, berarti menuduh semua pendeta HKBP kampungan dong karena ga tau bedain mana yang kampungan dan yang modern. Kurang ajar bener tuh orang. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  (sesat pikirnya mulai muncul nih..) :-p</p>
<p>Oleh karena itu jika ada yang ingin menuntut agar ephorus HKBP turun dari jabatannya, siapapun ephorusnya, hati-hati dong. Masa seseorang harus turun dari jabatan hanya karena ia kampungan???? Argumentum ad hominem ga bisa dipakai untuk menurunkan ephorus HKBP!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/turunkan-ephorus-hkbp-kampungan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan</title>
		<link>http://pargodungan.org/ompu-i-ephorus-hkbp-pdt-dr-bonar-napitupulu-dalam-album-gohi-au-tuhan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/ompu-i-ephorus-hkbp-pdt-dr-bonar-napitupulu-dalam-album-gohi-au-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 02:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Bonar Napitupulu]]></category>
		<category><![CDATA[Ephorus HKBP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah prolog yang disampaikan oleh Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan:
Menyambut dan menuju Jubileum 150 Tahun HKBP pada tahun 2011, kami merumuskan gol HKBP, yaitu mengembalikan dan mengembangkan jati diri HKBP yang terumus dalam empat hal:
HKBP adalah HKBP, artinya HKBP tidak mau menjadi pengikut manusia, tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://pargodungan.org/ompu-i-ephorus-hkbp-pdt-dr-bonar-napitupulu-dalam-album-gohi-au-tuhan/" title="Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan"><img src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/05/ompui-ephorus-hkbp-bonar-napitupulu-33x50.jpg" alt="" class="feed-image" /></a><p><img class="alignleft size-medium wp-image-567" title="ompui-ephorus-hkbp-bonar-napitupulu" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/05/ompui-ephorus-hkbp-bonar-napitupulu-100x150.jpg" alt="ompui-ephorus-hkbp-bonar-napitupulu" width="100" height="150" />Tulisan ini adalah prolog yang disampaikan oleh Ompu I Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam Album Gohi Au Tuhan:</p>
<p>Menyambut dan menuju Jubileum 150 Tahun HKBP pada tahun 2011, kami merumuskan gol HKBP, yaitu mengembalikan dan mengembangkan jati diri HKBP yang terumus dalam empat hal:<br />
HKBP adalah HKBP, artinya HKBP tidak mau menjadi pengikut manusia, tetapi hendak mengembangkan diri sebagai pengikut Kristus yang setia sesuai dengan pemahamannya akan Alkitab; gereja yang tidak merindukan kenikmatan sesaat; gereja yang tidak menekankan tata ibadah yang tidak tertib. Tetapi, gereja yang merindukan firman Tuhan; merindukan kehidupan dan keselamatan dari Yesus Kristus dengan tata ibadah yang tertib, teratur dan sopan sesuai dengan 1 Korintus 14:33-40.<br />
HKBP ingin menjadi gereja yang melakukan pelayanan yang holistik; Mengembangkan kehidupan manusia secara utuh, rohani dan jasmani, yang mencakup kehidupan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.<br />
HKBP ingin menjadi gereja yang mempunyai tangan yang cukup panjang melayani seluruh anggota jemaatnya, dan mempunyai kaki yang cukup panjang untuk menjangkau banyak tempat untuk memberitakan injil menawarkan keselamatan yang dari Yesus Kristus, sehingga makin banyak orang yang terselamatkan.<br />
HKBP akan dibangun menjadi gereja yang kaya sebagai institusi, karena ia kaya sebagai gereja. Dengan menumbuhkan sense of belonging and sense of responsibility di dalam seluruh kehidupan jemaat HKBP.<br />
Untuk itulah dirumuskan pengembangan pelayanan di HKBP dengan menetapkan tahun 2008 sebagai tahun marturia yang menekankan pengembangan Pekabaran Injil dan ibadah yang baik, yang di dalamnya juga kualitas menyanyi.<br />
Kualitas menyanyi sangat penting bagi HKBP karena: Pertama, Firman Tuhan berkata dalam 1 Korintus 14:14-15, “Kalau aku berdoa dengan bahasa roh, berarti rohlah yang berdoa. Tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi apakah yang harus kubuat, aku akan berdoa dengan rohku tetapi aku juga akan berdoa dengan akal budiku. Aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Menyanyi dan memuji dengan akal budi berarti menyanyi dan memuji Tuhan dengan baik dan benar; Kedua, HKBP terkenal sebagai ‘the singing church’ (gereja yang menyanyi). Jati diri itu harus dipertahankan dan membina semua anggota jemaat menyanyi dengan baik dan benar.<br />
Kita harapkan dengan adanya rekaman ini, bisa mencapai tercapainya tujuan tersebut. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan! Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan dan untuk menyanyikan Mazmur bagi namaMu, ya Yang Maha Tinggi. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/ompu-i-ephorus-hkbp-pdt-dr-bonar-napitupulu-dalam-album-gohi-au-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa RPP HKBP begitu menakutkan?</title>
		<link>http://pargodungan.org/mengapa-rpp-hkbp-begitu-menakutkan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/mengapa-rpp-hkbp-begitu-menakutkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 16:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[RPP HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Siasat Gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/mengapa-rpp-hkbp-begitu-menakutkan/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah jadi rahasia umum kalau warga jemaat (HKBP) memiliki rasa takut kalau harus berurusan dengan RPP (Ruhut Parmahanion &#038; Paminsangon, yakni rumusan-rumusan yang mengatur siasat gereja). Mungkin mereka merasa bahwa terkena RPP adalah hal yang sangat memalukan. Itu adalah aib bagi keluarga. Bahkan, pengaruhnya dirasa lebih memalukan dari penjara sel.
Sampai sekarang, pandangan negatif terhadap RPP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah jadi rahasia umum kalau warga jemaat (HKBP) memiliki rasa takut kalau harus berurusan dengan RPP (Ruhut Parmahanion &#038; Paminsangon, yakni rumusan-rumusan yang mengatur siasat gereja). Mungkin mereka merasa bahwa terkena RPP adalah hal yang sangat memalukan. Itu adalah aib bagi keluarga. Bahkan, pengaruhnya dirasa lebih memalukan dari penjara sel.</p>
<p>Sampai sekarang, pandangan negatif terhadap RPP masih sangat terasa. Hanya untuk menghindarkan anggota keluarganya terkena RPP, seorang kepala keluarga sampai mau menutup-nutupi dosa anak-anak/keluarganya. Kalau perlu ia rela mengirim mereka keluar kota bahkan sampai keluar dari gereja (pindah ke gereja lain). Tapi apabila kelihatannya ia &#8216;berpengaruh&#8217; di gereja, ia akan mencoba menentang keputusan RPP tersebut mati-matian.</p>
<p>Kalau RPP HKBP dicermati, sebenarnya ia tidak perlu ditakuti. Hukum siasat gereja dibuat terutama untuk menjaga kekudusan umat secara utuh. Jemaat adalah kumpulan orang-orang kudus, oleh sebab itu, jika terjadi pelanggaran di dalamnya, sang pelanggar akan dipanggil keluar dari komunitas tersebut untuk mendapatkan &#8216;pelayanan khusus&#8217; dari gereja setelah terjadi pertobatan.</p>
<blockquote><p>Dalam hal ini pula perlu di ingat bahwa yang memutuskan RPP adalah jemaat (bukan hanya sekendak majelis).</p></blockquote>
<p>Lagipula, tidak ada niat jemaat untuk mempermalukan si pelanggar. Pelanggaran bukan terhadap aturan-aturan masyarakat di mana yang dituntut hanya rasa malu! Pelanggaran terjadi pada hukum Allah. Bukan rasa malu yang dituntut di dalamnya, melainkan pertobatan karena dosanya terhadap Allah.</p>
<p>Orang yang memilih meninggalkan jemaat dan pindah ke gereja lain mengira bahwa ia sedang lari dari hadapan jemaat. Padahal sebenarnya, ia sedang lari dari ketentuan Allah terhadap dirinya. Gereja lain mungkin dapat menerima dirinya, akan tetapi ia tidak boleh lupa bahwa Allah yang disembah tiap gereja tetap sama. Lalu, siapakah yang dapat lari dari hadapan Allah?</p>
<p>Oleh sebab itu, akan lebih baik jika RPP dijalani sebagai wujud tanggungjawab dan pra pertobatan atas kesalahan yang dilakukan. Itu akan mencerminkan kedewasaan imannya kepada Allah dan kepeduliannya pada kekudusan umat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/mengapa-rpp-hkbp-begitu-menakutkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika dokter melakukan pelecehan seksual pada calon pelayan</title>
		<link>http://pargodungan.org/ketika-dokter-melakukan-pelecehan-seksual-pada-calon-pelayan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/ketika-dokter-melakukan-pelecehan-seksual-pada-calon-pelayan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 02:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Pelecehan Seksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/ketika-dokter-melakukan-pelecehan-seksual-pada-calon-pelayan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Puluhan calon pelayan wanita HKBP dilecehkan oleh dokter RS HKBP Balige&#8221;. Inilah judul postingan yang sebenarnya saya inginkan. Betapa tidak, saya merasa kesal mengetahui bahwa para calon pelayan wanita yang menjalani test kesehatan mendapat perlakuan tidak etis oleh oknum dokter RS HKBP Balige. Informasi ini saya dapatkan  dari beberapa korban dan dari sejumlah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Puluhan calon pelayan wanita HKBP dilecehkan oleh dokter RS HKBP Balige&#8221;. Inilah judul postingan yang sebenarnya saya inginkan. Betapa tidak, saya merasa kesal mengetahui bahwa para calon pelayan wanita yang menjalani test kesehatan mendapat perlakuan tidak etis oleh oknum dokter RS HKBP Balige. Informasi ini saya dapatkan  dari beberapa korban dan dari sejumlah teman pria yang mengetahui kejadian ini dengan jelas. Tapi sebagai warga HKBP dan sekaligus juga sebagai calon pelayan HKBP, saya mengurungkan niat itu. Daripada hanya menyajikan sebuah berita yang hanya mendiskreditkan oknum dan pihak rumah sakit, lebih baik saya mengungkapkan solusinya juga di sini.</p>
<p>Menurut pengaduan mereka pada saya, dokter tersebut membuka baju dengan kasar dan meraba-meraba payudara mereka. Bahkan sang dokter (sebut saja  Anton) tidak memberitahu maksud dan tujuannya melakukan hal tersebut. Akibatnya mereka merasa trauma dan malu oleh kejadian tersebut. Mereka tidak mengira ini wajar dilakukan seorang dokter. Dan mengingat gelagat dan situasinya, test tersebut sudah mengindikasikan tindakan pelecehan seksual. Dugaan ini semakin kuat mengingat pada saat itu tidak ada kehadiran orang ketiga (mis. suster). Itulah sebabnya dokter tersebut merasa bebas melakukan apapun.</p>
<p><span id="more-276"></span>
<p>Kejadian ini sungguh memalukan. Apakah sang dokter mengira dia dapat berbuat semaunya karena kami membutuhkan hasil test tersebut? Apakah ia dapat berbuat apapun karena HKBP yang merekomendasikan dirinya sebagai pelaksana test? Yang pasti dokter yang satu ini harus diajukan ke polisi.</p>
<p>Siapakah yang bertanggungjawab atas kejadian ini? Menurut saya ada tiga. Pertama adalah pihak HKBP itu sendiri. Secara tidak langsung HKBP bertanggungjawab atas mimpi buruk yang dialami calon pelayannya. Secara tidak langsung HKBP telah merekomendasikan agar kami &#8216;diobok-obok&#8217; dokter tak bertanggungjawab. Hehehe.</p>
<p>Kedua, pihak RS HKBP Balige juga bertanggungjawab atas hal ini. Mereka menugaskan dokter pria untuk memeriksa payudara wanita. Padahal sudah jelas bahwa para calon pelayan tersebut tidak mempersiapkan payudaranya untuk diperiksa dokter pria. Juga mereka bertanggungjawab atas ketidak hadiran suster (pihak ketiga) untuk mengawasi pekerjaan sang dokter. Jika ada yang menyaksikan, tentu sang dokter tidak bisa macam-macam.
<p>Yang ketiga tentu saja sang dokter itu sendiri. Ia tidak menjalankan tugasnya secara profesional. Ia juga tidak menjalankan kode etik keprofesiannya dan memanfaatkan kepercayaan pasien untuk melampiaskan syahwatnya. Dengan begitu, ia juga telah melanggar UU no. 29 tahun 2004 tentang hak pasien (konsumen) untuk mendapatkan penjelasan atas apapun yang akan dilakukan terhadapnya. Jadi dengan kata lain, ia bisa dipenjara karena hal ini.</p>
<p>Lalu bagaimanakah solusinya? Saya kira yang perlu dan penting adalah pemahaman yang jelas atas hak dan kewajiban pasien. Agar ini tidak terjadi pada siapapun juga, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:</p>
<ol type="1">
<li>Pasien berhak mendapatkan informasi tentang apapun yang akan dilakukan terhadap dirinya. Apalagi menyangkut organ intim, sang dokter harus lebih hati-hati. Akan lebih baik kalau pihak rumah sakit yang mengumumkannya.</li>
<li>Seorang pasien berhak menolak tindakan apapun yang akan  dilakukan dokter. Namun kalau memang wajib dilakukan, lebih baik dokter perempuan yang melakukannya. Ingat, sang pasien berhak memilih dokter yang memeriksanya.</li>
<li>Harus ada pihak ketiga yang membantu dokter dan sekaligus jadi pengawas atas kinerjanya. Apalagi ini dilakukan dalam rangka testing, maka pihak yang netral dan obyektif sangat dibutuhkan.</li>
</ol>
<p>Saya kira ketiga hal ini sudah bisa jadi acuan untuk menghindari kejadian serupa. Jangan sampai calon pendeta yang melayani jemaat HKBP adalah korban trauma yah. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/ketika-dokter-melakukan-pelecehan-seksual-pada-calon-pelayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
