<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Khotbah Minggu Ini</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/category/khotbah-minggu-ini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Situs referensi pelayanan dan kehidupan Kristen.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 22:26:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Yohanes 20:24-29 &#8211; Bukti Iman</title>
		<link>http://pargodungan.org/yohanes-2024-29-bukti-iman/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/yohanes-2024-29-bukti-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Mar 2013 13:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=2103</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun kesaksian dua orang biasanya sudah layak dipercaya (Yohanes 8:17), namun tidak bagi Tomas. Tomas bukan tipe orang yang mudah percaya atas sepotong informasi yang diterimanya sekalipun ada 10 orang yang menyaksikannya . Ia memerlukan verifikasi lebih lanjut atas informasi tersebut. Tomas bukan tidak yakin pada kredibilitas teman-temannya. Ia hanya ingin memiliki pengalaman yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun kesaksian dua orang biasanya sudah layak dipercaya (Yohanes 8:17), namun tidak bagi Tomas. Tomas bukan tipe orang yang mudah percaya atas sepotong informasi yang diterimanya sekalipun ada 10 orang yang menyaksikannya . Ia memerlukan verifikasi lebih lanjut atas informasi tersebut. </p>
<p>Tomas bukan tidak yakin pada kredibilitas teman-temannya. Ia hanya ingin memiliki pengalaman yang sama dengan mereka &#8211; menyaksikan langsung kehadiran Tuhan yang telah bangkit itu. Teman-teman Tomas sudah menyaksikan kehadiran Yesus. Sayang, tidak sekalipun Tomas mengalaminya karena sedang tidak hadir pada kesempatan itu (Yohanes 20:24). Juga, Tomas tidak berdiri sendirian pada posisinya. Toh, teman-temannya itu juga pernah tidak percaya pada kesaksian para perempuan yang telah menyaksikan kuburan yang kosong (Lukas 24:11). </p>
<p>Tuhan akhirnya merespon kebutuhan khusus Tomas akan pembuktian. Yesus datang ke hadapannya dengan kondisi yang memang sudah dibayangkannya. Tomas dapat melihat bekas paku itu, ia mencucukkan tangannya ke lobang di tangannya. Ia mencucukkan jarinya ke lambung Yesus, dan akhirnya menjadi pecaya.</p>
<p><img style="margin: 0px 5px 5px 0px; display: inline; float: left" align="left" src="http://2.bp.blogspot.com/-b2iWwRQsNbo/T4pRHwyTsxI/AAAAAAAAAh8/u71IfQ60A6I/s1600/thomas_caravaggio.jpg" width="200" height="165" />Seandainya boleh untuk berkhayal, saya juga ingin mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan yang telah bangkit seperti yang dialami Tomas dan murid-murid Yesus yang lain. Barangkali, iman saya akan menjadi jauh lebih teguh jika berhadapan langsung denganNya. Alangkah bedanya jika saya tidak hanya mendengar, tetapi juga dapat mengalaminya sendiri. Saya akan sangat berbahagia (Matius 13:16). Barangkali saja&#8230;</p>
<p>Namun, pertumbuhan iman &#8211; dan sebaliknya mengerdilnya iman &#8211; Anda dan saya sebenarnya tidak boleh tergantung pada penglihatan. Sebab banyak juga yang sudah melihat namun tetap tidak percaya pada kebangkitan Yesus Kristus. Bukankah imam-imam kepala telah mengetahui tentang kuburan yang kosong? Dan bukankah mereka malah menyuap para penjaga untuk memberikan kesaksian palsu? &quot;Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur,&quot; perintah mereka pada para penjaga (Matius 28:13). </p>
<p>Dan entahlah! </p>
<p>Barangkali jika saya telah menyaksikan langsung dan mengatakan pada Anda bahwa saya telah melihat fisik Yesus yang bangkit dari kubur, apakah Anda akan meyakininya? Atau apakah Anda menganggap saya sedang mengkhayal, sedang bermimpi, atau… GILA!!! Atau apakah Anda justru mengulangi lagi kata-kata Petrus, &quot;Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.&quot;</p>
<p>Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Karena imanlah Anda percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia ini, sekalipun Anda tidak melihat proses penciptaanNya. Tanpa iman, tak mungkin Anda berkenan pada Allah. Itulah sebabnya mengapa imam-imam kepala tidak percaya pada apa yang mereka lihat. Mereka tidak memiliki iman khusus pada Tuhan kita Yesus Kristus. Tapi saat Anda percaya akan kebangkitan Yesus Kristus, Anda tidak perlu melihat atau membuktikannya. Sebab iman itu sendiri adalah buktinya. Iman para murid-murid Yesus dan para orang percaya lainnya menjadi bukti bagi kita.</p>
<p>&quot;Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya,&quot; kata Tuhan kita (Yohanes 20:24-29). Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/yohanes-2024-29-bukti-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu XXIV setelah Trinitatis: Ibrani 10:19-25&#8211;Bagaimana Cara Memulai dan Menjalani Kehidupan Baru?</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xxiv-setelah-trinitatis-ibrani-1019-25bagaimana-cara-memulai-dan-menjalani-kehidupan-baru/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xxiv-setelah-trinitatis-ibrani-1019-25bagaimana-cara-memulai-dan-menjalani-kehidupan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 18:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=2014</guid>
		<description><![CDATA[Masihkah Anda mengingat dosa-dosa yang pernah Anda lakukan di masa lalu? Apakah Anda kadang-kadang merasa bersalah dan tidak layak karena dosa yang Anda lakukan beberapa tahun yang lalu? Anda memang sudah mengakuinya dan mohon ampunan Allah, tetapi mengapa ingatan itu masih saja menghantui Anda? Atau, pernahkah Anda merasakan hal-hal ini: Mengapa sepertinya sisa-sisa dosa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masihkah Anda mengingat dosa-dosa yang pernah Anda lakukan di masa lalu? Apakah Anda kadang-kadang merasa bersalah dan tidak layak karena dosa yang Anda lakukan beberapa tahun yang lalu? Anda memang sudah mengakuinya dan mohon ampunan Allah, tetapi mengapa ingatan itu masih saja menghantui Anda?</p>
<p>Atau, pernahkah Anda merasakan hal-hal ini:</p>
<p>Mengapa sepertinya sisa-sisa dosa saya seolah tidak dapat lekang dari tubuh saya? Walaupun saya sudah sungguh-sungguh meminta ampun, mengapa rasa takut masih tetap menghantui saya? Mengapa saya tetap merasa tidak layak dihadapan Allah? Mengapa saya tetap merasa akan dapat hukuman Allah?</p>
<p>Anda tidak sendirian. Saya bersama Anda. Tidak ada satupun manusia yang tidak pernah tidak melakukan dosa dalam hidupnya. Bahkan Rasul Paulus pun pernah melakukan dosa-dosa dalam masa hidupnya sebelum mengenal Kristus. Ia sendiri mengakui dirinya sebagai orang yang paling berdosa (1 Timoteus 1:15).</p>
<p>Namun, perasaan bersalah merupakan tipu daya iblis bagi kita. Iblis akan selalu berkata pada Anda dan saya: “Kamu tidak layak! Bukankah kamu pernah melakukan dosa ini dan dosa itu?” Atau, ia akan menipu kita dengan mengatakan, “Sebesar apa pun usahamu, itu tidak akan dapat menutupi bahwa kamu adalah seorang pendosa!”</p>
<p>Jika kita selalu terperdaya oleh tipuan murahan Iblis seperti ini, maka batin kita tidak akan pernah merasakan kedamaian. Bahkan, kita pun tidak akan pernah dapat menjalani kehidupan baru kita jika menuruti kata-kata iblis itu. Akibatnya, iblis berhasil merusak hati kita dengan tipu muslihatnya.</p>
<p>Apa yang harus kita pegang agar kita dapat terlepas dari tipu daya iblis yang demikian?</p>
<p>Untuk dapat terbebas dari rasa bersalah, maka Anda dan saya perlu juga ikut mengampuni diri sendiri. Mengampuni diri sendiri artinya yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah akan melupakan dosa-dosa yang kita lakukan di masa lalu. Allah sendiri mengatakan, “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.&#8221; (Ibrani 10:17).</p>
<p>Manusia tidak dapat memulai kehidupan yang baru tanpa terlebih dahulu mengalami pengampunan dosa dari Allah. Kematian Yesus Kristus, AnakNya di kayu salib, adalah jalan pengampunan Allah bagi Anda dan saya. Oleh karena penebusan Kristus itu (yang merupakan pengantara antara kita dengan Allah), maka kita memiliki keberanian untuk menghadap Allah. Jika Yesus Kristus tidak melakukannya, maka tidak mungkin ada harapan bagi Anda dan saya.</p>
<p><img style="background-image: none; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; padding-top: 0px; border: 0px;" title="" src="http://lifesuccessnotes.files.wordpress.com/2008/08/forgiven.jpg" alt="Khotbah Minggu XXIV setelah Trinitatis: Ibrani 10:19-25–Bagaimana Cara Memulai dan Menjalani Kehidupan Baru" border="0" /></p>
<p>Oleh karena itu, jika Anda sudah meminta pengampunan dosa dengan kesungguhan hati, saya berkata pada Anda, “Tuhan mau mengampuni Anda.”</p>
<p>Tetapi (ada tapinya), tinggalkanlah semua dosa-dosa itu, dan jalanilah kehidupan yang baru, yang Allah sediakan bagi Anda.</p>
<p>Bagaimana cara memulai dan menjalani kehidupan baru? Dalam pokok <a href="http://pargodungan.org/tag/khotbah-minggu">khotbah minggu</a> ini (<strong>Ibrani 10:19-25</strong>), Paulus kepada orang Ibrani secara tidak langsung memberikan beberapa hal yang bisa kita jadikan pedoman untuk menjalani kehidupan baru:</p>
<p>1. Tetaplah berdiam di hadirat Allah (Ibrani 10:22a)</p>
<p>Jangan biarkan sedetik pun dalam kehidupan Anda lepas dari hadapan Allah. Dengan hati yang tulus ikhlas, hiduplah dalam naungan rahmatNya di dalam Roh Kudus. Jalani kehidupan dengan sukacita dengan genggaman tanganNya. Buatlah Anda selalu <em>online</em> denganNya setiap saat. Jangan hanya handphone atau komputer Anda saja yang selalu online. Anda pun harus selalu terhubung dengan Tuhan. Hayatilah kehadiran Allah dalam hidup Anda dengan doa dan nyanyian pujian.</p>
<p>2. Pupuklah iman Anda (Ibrani 10:22b-23)</p>
<p>Hati Anda telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat. Tubuh Anda telah dibasuh dengan air baptisan yang murni. Oleh karena itu, pupuklah iman Anda terus-menerus. Airi hidup Anda dengan air kehidupan yang dari Allah, yaitu FirmanNya. Iman bukanlah suatu sifat atau karakter tertentu. Iman adalah bekal bagi kehidupan Anda, yang bisa habis jika Anda tidak menyediakan dan mempersiapkannya. Perbanyaklah bekal iman Anda melalui pembacaan Kitab Suci.</p>
<p>3. Jangan tinggalkan gereja (Ibrani 10:25a)</p>
<p>Mungkin di dalam gereja itu, Anda menemukan bahwa ternyata tidak semua dari antara mereka yang sempurna dalam iman. Pendeta sekali pun tidak akan sempurna dalam iman. Tapi yakinlah, bahwa siapa pun mereka selalu berusaha untuk sempurna dalam iman. Oleh karena itu, persekutuan di dalam gereja tetap menjadi kebutuhan utama bagi orang-orang yang mau hidup baru. Sebab di dalamnya, Anda dan saya dapat berbagi iman. Dan di dalamnya Anda dan saya mendapat anugerah rohani yang lebih besar.</p>
<p>4. Ambil bagian dalam pelayanan bagi Allah (Ibrani 10:24b)</p>
<p>Anda tidak harus menjadi pendeta seperti saya (tapi jika Allah menghendaki, hal itu dapat terjadi). Yang penting, untuk menghidupi kehidupan yang baru, jangan ragu untuk ikut melayani Allah, bagaimanapun caranya. Anda punya talenta yang dapat dibagikan. Dedikasikanlah itu untuk kepentingan Allah. Jika Anda belum dapat memastikan apa yang dapat Anda lakukan untuk keperluan Allah, berdiskusilah dengan saudara seiman.</p>
<p>5. Jangan malu untuk bersaksi (Ibrani 10:24a; 25b)</p>
<p>Kesaksian adalah bagian dari kehidupan orang yang lahir baru. Doronglah orang lain untuk bertumbuh dalam imannya. Nasihatilah orang lain dengan kesaksian Anda. Jika Allah telah mengampuni Anda dan saya, Ia juga ingin memakai Anda dan saya sebagai saksiNya bagi orang-orang yangg belum menerima pengampunan Allah.</p>
<p>Demikian, dari semua yang saya sampaikan ini menjadi jelas bahwa Allah mau mengampuni dosa Anda dan saya di dalam Yesus Kristus. Dan Ia menginginkan kita untuk hidup di dalam naunganNya melalui Roh Kudus. Dan Ia juga juga menginginkan kita untuk menjadi tangan, mulut, dan kakiNya untuk kepentinganNya. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xxiv-setelah-trinitatis-ibrani-1019-25bagaimana-cara-memulai-dan-menjalani-kehidupan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu XVIII setelah Trinitatis: Ibrani 2:5-12 &#8211; Jemaat yang Bersaksi</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xviii-setelah-trinitatis-ibrani-2-5-12-jemaat-yang-bersaksi/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xviii-setelah-trinitatis-ibrani-2-5-12-jemaat-yang-bersaksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2012 12:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Robert Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1945</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan mempercayakan dunia bukan kepada malaikat, tetapi kepada manusia/Gereja. Gereja bertugas menyaksikan Yesus. Yesus yang bagaimana yang mesti diberitakan oleh Gereja? Ada beberapa: Dia bermahkotakan kemuliaan dan kehormatan, untuk sesaat direndahkan, lebih rendah dari malaikat, menderita dan mati untuk menyelamatkan manusia. Dia adalah Raja! segala sesuatu tunduk kepadaNya, tidak terkecuali, meskipun saat ini belum nampak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan mempercayakan dunia bukan kepada malaikat, tetapi kepada manusia/Gereja. Gereja bertugas menyaksikan Yesus. Yesus yang bagaimana yang mesti diberitakan oleh Gereja? Ada beberapa: Dia bermahkotakan kemuliaan dan kehormatan, untuk sesaat direndahkan, lebih rendah dari malaikat, menderita dan mati untuk menyelamatkan manusia. Dia adalah Raja! segala sesuatu tunduk kepadaNya, tidak terkecuali, meskipun saat ini belum nampak. Dia adalah imam yang sempurna: segala sesuatu dijadikan dan membawa banyak orang kepada keselamatan melalui penderitaan. Dia adalah sahabat yang setia: tidak malu menyebut orang percaya/jemaat saudaraNya.</p>
<p>Itulah sebgian inti dari kesaksian Gereja. Keluarga adalah gereja kecil yang telah dipersatukan. Tugasnya: sesuai amanat Tuhan menyampaikan berita keselamatan kepada istri/perempuan dan anak supaya ikut menjadi pewaris kerajaan sorga, bukan untuk diceraikan atau diusir. Karena tindakan itu membuat dirinya dibenci Tuhan (Mal 2:16) dan mbuat Yesus marah.</p>
<p>Apa saja yang lebih banyak disaksikan orang atau keluarga Anda saat ini? Loyalitas sudah berubah jadi loyolitas. Ketidak setiaan aparat negara membuat pulau-pulau di Indonesia ini akan habis terjual, kata seorang negarawan. Anak istri tergadai gara-gara tidak setia. </p>
<p>Tuhan mempercayakan dunia kepada gerejaNya, semua warga jemaat ikut untuk melaksanakan amanat Tuhan Yesus terutama dengan persahabatan. Tuhan memberkati anak-anak, supaya menjadi berkat. Kiranya kepala keluarga jadi pemersatu bukan pemberi surat cerai, apapun alasannya! Demikian juga dengan para pemimpin di dunia ini. Kita semua bagaikan surat Kristus yang dapat dilayangkan kepada orang lain dan juga dapat dibaca orang. Semoga mereka dapat mengenal dan membaca kasih Kristus melalui eksistensi kita kapan saja dan dimana saja. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xviii-setelah-trinitatis-ibrani-2-5-12-jemaat-yang-bersaksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu XIII Setelah Trinitatis: Yakobus 1: 17-27 &#8211; Dengarkan dan Lakukanlah Firman Tuhan</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xiii-setelah-trinitatis-yakobus-1-17-27-dengarkan-dan-lakukanlah-firman-tuhan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xiii-setelah-trinitatis-yakobus-1-17-27-dengarkan-dan-lakukanlah-firman-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 05:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Halomoan Erikson Hutagaol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Yakobus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1872</guid>
		<description><![CDATA[Ada istilah yang berkata, “mendengar tapi tidak memperhatikan”. Bisa digambarkan, dalam keadaan yang seperti ini, kita seperti sedang berada dalam sekumpulan orang yang saling bicara, kita mendengar, tapi karena kita tidak acuh, maka semua yang dibicarakan orang-orang disekitar kita tidak menjadi perhatian kita. Dalam kehidupan orang Kristen juga ternyata berlaku hal yang seperti itu. Kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada istilah yang berkata, <em>“mendengar tapi tidak memperhatikan”</em>. Bisa digambarkan, dalam keadaan yang seperti ini, kita seperti sedang berada dalam sekumpulan orang yang saling bicara, kita mendengar, tapi karena kita tidak acuh, maka semua yang dibicarakan orang-orang disekitar kita tidak menjadi perhatian kita. Dalam kehidupan orang Kristen juga ternyata berlaku hal yang seperti itu. Kita mungkin adalah orang yang rajin ke gereja, rajin mendengar firman Tuhan, tapi kita bukan orang yang rajin melakukan firman Tuhan. Kita lebih sibuk dalam urusan pribadi kita, yang justru terkadang bertentangan dengan firman Tuhan yang kita dengar. Akhirnya banyak orang Kristen cenderung menjadi orang  yang suka mendengar firman Tuhan, tapi tidak suka melakukan firman itu dalam kehidupannya. Yang paling parah lagi, banyak orang Kristen yang rajin memberitakan kebenaran Firman Tuhan, tapi bukan orang yang setia melakukan firman itu sendiri.</p>
<p>Dalam Firman Tuhan yang menyapa kita minggu ini, kita di arahkan menjadi orang yang setia mendengar Firman Tuhan, tetapi juga yang tak kalah penting adalah, setia melakukan dan hidup di dalam firman itu sendiri.</p>
<p>Yang harus dilakukan adalah dimulai dengan SETIA! Setia mendengar, setia melakukan! “<em>Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”(ayat 22).</em> Hanya dengan kesetiaan dalam kedua hal itulah kita akan menjadi orang yang merdeka akan kebenaran firman Tuhan. Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita siap menjadi pendengar dan pelaku yang setia? Harus siap! Itulah jawaban kita dalam rangka menyambut sukacita hidup yang Tuhan anugerahkan buat kita? Apakah kita mau melakukannya? Nah, ini baru tantangan buat kita! Semakin banyak dari antara orang Kristen yang sibuk dengan urusan masing-masing, pikiran masing-masing, dan ini terkadang membuat kita tidak lagi mengingat, bahwa ketika kita mamu mengatasi masalah kita, ketika kita mampu keluar dari pergumulan kita, itu bukan hanya karena diri kita atau pikiran kita sendiri, melainkan karena Tuhan masih menyertai kita! Kita menjadi orang sukses, orang berhasil, itu juga karena pertolongan Tuhan! Lalu kenapa kita masih enggan mengakui, bahwa sesungguhnya kita bukan siapa-siapa tanpa Tuhan di dalam hidup kita? Oleh karena itu, mari! Kita jadikan hidup kita lebih berarti di hadapan Allah.</p>
<p>Kita di berikan dua telinga, dan 1 mulut. Tuhan bukan tanpa alasan ketika menganugerahkan itu pada kita, Tuhan pasti punya maksud untuk itu! Ya! Allah ingin, kita lebih banyak mendengar, serta lebih sedikit bicara. Dengan demikian kita juga diarahkan untuk lebih banyak memperhatikan, meenungkan dan untuk kemudian melakukan kehendak Allah dalam hidup kita. Kesetiaan akan kehendak Allah akan menumbuhkan kasih dalam kehidupan kita. Di dalam kasihlah kita mau bertumbuh sebagai pelaku firman yang sesungguhnya, disaat kita mengasihi saudara kita, saat itu kita sedang menunjukkan kesetiaan kita kepada Allah. Selamat menjadi pendengar yang setia akan Firman Tuhan. Selamat menjadi pelaku Firman Tuhan yang setia. Amen. <em>(HEH)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xiii-setelah-trinitatis-yakobus-1-17-27-dengarkan-dan-lakukanlah-firman-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu XII setelah Trinitatis: Tuhanlah Sumber Perlindungan  Mazmur 34: 15-22</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xii-setelah-trinitatis-tuhanlah-sumber-perlindungan-mazmur-34-15-22/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xii-setelah-trinitatis-tuhanlah-sumber-perlindungan-mazmur-34-15-22/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2012 07:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Halomoan Erikson Hutagaol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Mazmur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Dalam setiap kesempatan, kita sering berkata, “Tuhanlah perlindunganku”. Kalimat ini di satu sisi mau menunjukkan keyakinan dari dalam diri seseorang bahwa Tuhanlah sumber perlindungannya. Dari sisi yang berbeda, kita juga dapat melihat kalimat ini sebagai permohonan, agar Tuhan senantiasa melindungi kita dalam berbagai persoalan dan pergumulan yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan ini. Demikian hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam setiap kesempatan, kita sering berkata, “Tuhanlah perlindunganku”. Kalimat ini di satu sisi mau menunjukkan keyakinan dari dalam diri seseorang bahwa Tuhanlah sumber perlindungannya. Dari sisi yang berbeda, kita juga dapat melihat kalimat ini sebagai permohonan, agar Tuhan senantiasa melindungi kita dalam berbagai persoalan dan pergumulan yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan ini.</p>
<p>Demikian hal dengan dengan penulis Mazmur 34 ini. Dia ingin menggambarkan bagaimana Tuhan melindungi dirinya dari berbagai bahaya dan ancaman dalam hidupnya. Imannya ingin bersaksi, Tuhanlah sumber perlindungannya! Dalam berbagai tantangan dan ancaman, pemazmur juga berseru, agar Tuhan melindunginya senantiasa. Dan ketika Allah menunjukkan kuasa perlindunganNya bagi orang percaya yang berseru kepadaNya, apa yang mau menjadi respon kita? Pemazmur berseru, <em>“jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!”</em> (ayat 15). Hidup dalam kebenaran dan kedamaian yang berasal dari Tuhan! Itulah yang harus menjadi jawaban setiap orang percaya atas anugerah perlindungan dari Allah. Mengapa itu harus dilakukan? Sebab sesungguhnya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, entah dalam situasi yang bagaimanapun dalam hidup kita, Tuhan selalu hadir! Dalam susah, Tuhan menopang kita, dalam kesesakan Tuhan melegakan kita, dalam teriak minta tolong, Tuhan menjawab kita, dalam sukacita, Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur, dalam segala hal, Tuhan hadir!</p>
<p>Dalam kehidupan dewasa ini, kita punya banyak musuh! Kita bermusuh dengan kekecewaan, kita bermusuh dengan kesedihan, kita bermusuh dengan kesusahan, kita bermusuh dengan keputusasaan dan masih banyak lagi. oleh sebab itu, siapa yang mampu mengalahkan semua musuh kita itu? Hanya dalam naungan kekuatan yang berasal dari Tuhanlah kita mampu mengalahkannya! Itulah dasar mengapa kita harus hidup dalam kebenaran yang telah Allah nyatakan di dalam Yesus Kristus Tuhan kita. Dialah senjata pemberian Allah bagi kita orang percaya. Oleh karena itu Paulus juga mengatakan, kenakanlah perlengkapan senjata Allah (Efesus 6: 10-20) dan semua itu hanya kita peroleh dalam iman kita kepada Kristus Sang Juru Selamat kita. Yakinkan dirimu, bahwa Tuhan ada bersamamu dalam setiap langkah dalam kehidupanmu! Yakinkan imanmu, bahwa Kristus berkuasa menopangmu! Selamat menerima perlindungan Tuhan dalam hidup kita. Amen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-xii-setelah-trinitatis-tuhanlah-sumber-perlindungan-mazmur-34-15-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu X setelah Trinitatis: Siapa yang Masuk Surga? &#8211; Matius 7:15-23</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-trinitatis-siapa-yang-masuk-surgamatius-715-23/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-trinitatis-siapa-yang-masuk-surgamatius-715-23/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2012 01:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[setelah Trinitatis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-trinitatis-siapa-yang-masuk-surgamatius-715-23/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau menonton televisi, barangkali Anda pernah melihat bagaimana seorang fans saat mengelu-elukan idolanya. Ada fans yang mengejar-ngejar sambil berteriak memanggil nama, “Justin, Justin!”; ada yang fans yang menangis tersedu-sedu karena menyaksikan idolanya secara langsung; ada fans yang bergaya bak idolanya sebagai protes karena konser idolanya tidak jadi digelar di Indonesia. Pokoknya masing-masing fans punya gaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" border="0" align="left" src="http://www.preceptaustin.org/Sermon%20on%20the%20mount%20by%20Bloch.jpg" width="150" height="160" />Kalau menonton televisi, barangkali Anda pernah melihat bagaimana seorang fans saat mengelu-elukan idolanya. Ada fans yang mengejar-ngejar sambil berteriak memanggil nama, “Justin, Justin!”; ada yang fans yang menangis tersedu-sedu karena menyaksikan idolanya secara langsung; ada fans yang bergaya bak idolanya sebagai protes karena konser idolanya tidak jadi digelar di Indonesia. Pokoknya masing-masing fans punya gaya sendiri saat menunjukkan ‘kegilaannya’ pada sang <i>idol</i>. </p>
<p>Tapi, Anda sendiri bisa menduga bahwa sang idola tidak mungkin mengenal satu-persatu fansnya. Meskipun mereka sudah rela panas-panasan mengantri untuk bertemu atau meminta foto dan tandatangannya, ia barangkali tidak ingat pernah member tandatangan atau berfoto dengan sang fans. Meskipun barangkali sang fans mampu menyebut nama lengkap dan dapat membeberkan segala hal tentang idolanya dengan akurat; sayangnya sang idola belum tentu menganggap itu sebagai sesuatu yang ‘wah’. Dan meskipun sang fans telah rela menghabiskan uang, waktu dan perhatiannya demi sang idola, belum tentu sang idola itu menganggapnya sebagai sesuatu yang layak dihargai. Sayang seribu kali sayang!</p>
<p>***</p>
<p>Deskripsi di atas barangkali dapat membantu kita memahami saat Yesus mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga!” Ya! Seringsekali orang memperlakukan Yesus bak seorang fans memperlakukan idolanya. Seseorang dapat mengetahui dan membeberkan segala hal tentang Yesus dengan luar biasa baik. Seseorang dapat berkhotbah dan memberitakan injil tentang Yesus Kristus secara menakjubkan. Seseorang dapat mengusir setan dan menaklukkan ‘kuasa-kuasa kegelapan’ layaknya Tuhan Yesus sendiri yang melakukannya. Akan tetapi, meskipun ia dapat melakukannya, Yesus Kristus sendiri tidak berkenan atas seluruh ‘pengorbanan’ yang telah dilakukannya. Mengapa? Karena ia memperlakukan Yesus sebagai idola, bukan sebagai muridNya. </p>
<p>Banyak orang yang bertindak dalam nama Yesus Kristus, tetapi tidak banyak yang hidup sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Misalnya saja Marjoe Gortner. Ia adalah seorang anak pewarta Injil yang telah memulai karirnya di usia empat tahun. Ketika memasuki usia akil balik, Marjoe mulai mencari nafkah sebagai pewarta Injil yang berkhotbah di tenda-tenda. Ia menjadikan ribuan orang beriman dan meraup jutaan dolar. Akhirnya, di usia dua puluh delapan tahun ia mengaku kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak mempercayai sedikit pun dari semuanya itu dan memutuskan untuk berhenti. </p>
<p>Dalam sebuah film dokumenter, Marjoe Gortner ditampilkan saat sedang berbicara dalam bahasa roh, menitikkan air mata buaya, memohon dana, mengkhotbahkan api dan belerang, memberikan undangan, dan memimpin mereka-mereka yang baru beriman dalam doa pengakuan dosa; lalu di belakang panggung ia tampak tertawa, menghitung uang persembahan, dan menjelaskan ke kamera, setiap trik yang digunakannya dalam pelayanannya itu. Ia melakukannya seperti Val Valentino saat sedang membongkar dan mempertunjukkan bagaimana rahasia sulap yang dilakukannya. </p>
<p>***</p>
<p>Firman Allah dalam Matius 7:15-23 ini mengarahkan Anda dan saya untuk memperhatikan beberapa hal: </p>
<p>Pertama, hanya orang yang melakukan kehendak Bapa-lah yang layak masuk ke dalam kerajaan sorga. Ia dapat mengenal isi hati dan tingkah-laku manusia. Ia dapat mengenal tipu-muslihat yang dilakukan seseorang terhadap diriNya. Meskipun manusia dapat dibohongi oleh orang-orang seperti ini, tetapi Allah tidak akan meluputkan dia. Dengan hal ini, Anda dan saya diajak untuk tetap setia dan selalu berkenan untuk mengikuti jalan Allah, bukan kehendak Anda atau saya sendiri. </p>
<p>Kedua, kita diajak untuk memperhatikan setiap pengajar sesat yang berusaha menjauhkan kita dari pengenalan akan Allah yang sesungguhnya. Bagaimanapun juga, Yesus menolong kita untuk mengenali tipu daya dari para penyesat ini. Yesus berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal dia” (Matius 7:16). Kualitas sebuah buah tidak hanya kelihatan dari betapa rimbunnya daun pohonnya. Kualitas buah juga tidak hanya kelihatan dari seberapa kokoh dan tinggi batangnya. Kualitas sebuah buah ketahuan dari rasanya. Maka, lihatlah seseorang dari perbuatan dan tingkah lakunya. Maka kita akan dilepaskan dari tipu daya penyesat yang akan menjauhkan kita dari Allah. </p>
<p>Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-trinitatis-siapa-yang-masuk-surgamatius-715-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu IX setelah Trinitatis: Mengisi Kehidupan Rohani &#8211; Yohanes 6:24-35</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ix-setelah-trinitatis-mengisi-kehidupan-rohani-yohanes-624-35/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ix-setelah-trinitatis-mengisi-kehidupan-rohani-yohanes-624-35/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2012 03:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[setelah Trinitatis]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ix-setelah-trinitatis-mengisi-kehidupan-rohani-yohanes-624-35/</guid>
		<description><![CDATA[Sering sekali orang menganggap bahwa kehidupan itu hanya soal usaha untuk bertahan hidup. Tidak heran, banyak orang yang mendedikasikan kehidupannya hanya untuk memperoleh kesejahteraan. “Jika saya sejahtera – atau lebih baik lagi menjadi orang kaya – maka saya dan keluarga saya akan dapat bertahan hidup di dunia yang sulit ini,” demikian sering kita dengar. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Khotbah Minggu IX setelah Trinitatis: Mengisi Kehidupan Rohani - Yohanes 6:24-35" href="http://pargodungan.org" rel="nofollow"><img style="margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; float: left" title="" alt="Khotbah Minggu IX setelah Trinitatis: Mengisi Kehidupan Rohani - Yohanes 6:24-35" align="left" src="http://just4kidsmagazine.com/40dayslent/graphics/jesus_feeds_5000.jpg" width="165" height="200" /></a>Sering sekali orang menganggap bahwa kehidupan itu hanya soal usaha untuk bertahan hidup. Tidak heran, banyak orang yang mendedikasikan kehidupannya hanya untuk memperoleh kesejahteraan. “Jika saya sejahtera – atau lebih baik lagi menjadi orang kaya – maka saya dan keluarga saya akan dapat bertahan hidup di dunia yang sulit ini,” demikian sering kita dengar. Dengan pemahaman yang demikian, kehidupan direduksi menjadi hanya sebatas mencari kemudahan dalam hidup dan menemukan jaminan atas kebutuhan lahiriah.</p>
<p>Orang-orang yang mencari Yesus sampai ke Kapernaum ini juga punya pola pikir yang demikian. Mereka mencari Yesus karena mengira bahwa Yesus dapat menjamin kehidupan lahiriah mereka. Ini didasarkan pada keyakinan bahwa jika Mesias sudah datang, maka mereka akan diberikan lagi Manna setiap hari sebagaimana yang dialami nenek moyang mereka di padang gurun. Mereka sudah pernah melihat Yesus memberi makan lebih dari 5000 orang. Dan orang-orang ini juga berharap dapat memperolehnya setiap hari. Mereka ingin mendapatkan jaminan dan kemudahan yang sama setiap hari. </p>
<p>Akan tetapi, Firman Allah pada minggu ini mengarahkan kita pada satu segi lain yang tidak boleh kita lupakan. Kehidupan itu bukan hanya soal jasmani, akan tetapi juga soal rohani. Betapa sering orang berusaha mati-matian untuk mengisi perut namun melupakan kehidupan kerohaniannya. Itu sebabnya dengan terus terang Yesus berkata pada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Yesus tahu (dan merasa kasihan juga), karena mereka mencariNya hanya demi memenuhi kebutuhan lahiriah mereka. </p>
<p>Seorang penulis bernama George Orwell pernah mengatakan, “Saya teringat akan suatu trik yang agak kejam yang pernah saya mainkan terhadap seekor serangga. Ia sedang menyedot selai di piring saya, dan saya potong dia menjadi dua. Ia tidak memperhatikannya, terus saja menikmati makanannya, sementara dari tubuhnya yang terbelah itu mengalir selai. Baru setelah ia berusaha terbang kembali lah ia sadar akan hal mengerikan yang telah terjadi kepadanya. Demikian pulalah halnya dengan manusia modern. Yang telah terpotong adalah jiwanya.” Maksudnya, manusia modern cenderung terhipnotis oleh usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya. Namun, bagitu asyiknya mereka dalam usahanya sampai tidak sadar bahwa mereka telah melupakan satu hal yang sangat penting dalam hidupnya. Apa itu? Yesus menjawab kita: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.&quot;</p>
<p>Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita memperlakukan Yesus saat ini dalam kehidupan kita? Apakah kita mencariNya karena berharap Allah dapat memperkaya kita secara finansial? Apakah kita mencariNya karena menginginkan hal-hal yang tidak rohaniah? &quot;Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi,” ucap Yesus. Carilah Tuhan untuk mengisi kehidupan rohani Anda. Jangan biarkan saldo kerohanian Anda kosong melompong, sehingga Anda miskin secara rohaniah. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ix-setelah-trinitatis-mengisi-kehidupan-rohani-yohanes-624-35/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu VIII Setelah Trinitatis: Allah Menyediakan Kebutuhan Kita &#8211; 2 Raja-raja 4:42-44</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-viii-setelah-trinitatis-allah-menyediakan-kebutuhan-kita-2-raja-raja-442-44/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-viii-setelah-trinitatis-allah-menyediakan-kebutuhan-kita-2-raja-raja-442-44/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 02:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Menyediakan]]></category>
		<category><![CDATA[setelah Trinitatis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-viii-setelah-trinitatis-allah-menyediakan-kebutuhan-kita-2-raja-raja-442-44/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Anda tahu George Müller. Ia adalah seorang penginjil Kristen dan menjadi pemimpin atas panti asuhan yang didirikannya di Inggris. Sesuatu yang menarik dari orang ini adalah: ia tidak pernah meminta bantuan kepada siapa pun untuk membiayai panti asuhan yang didirikannya itu. Müller selalu berserah dan memanjatkan doa pada Allah saja. Alkisah, pada suatu pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin Anda tahu George Müller. Ia adalah seorang penginjil Kristen dan menjadi pemimpin atas panti asuhan yang didirikannya di Inggris. Sesuatu yang menarik dari orang ini adalah: ia tidak pernah meminta bantuan kepada siapa pun untuk membiayai panti asuhan yang didirikannya itu. Müller selalu berserah dan memanjatkan doa pada Allah saja.</p>
<p><img align="left" style="margin: 5px 5px 5px 0px; display: inline; float: left;" src="http://www.workersforjesus.com/elijah_being_feed_by_ravens.jpg" alt="Khotbah Minggu VIII Setelah Trinitatis: Allah Menyediakan Kebutuhan - 2 Raja-raja 4:42-44" width="160" height="200" /></p>
<p>Alkisah, pada suatu pagi anak-anak panti asuhan sudah berpakaian rapi dan bersiap hendak ke sekolah. Tapi celakanya, ibu asrama mengatakan tidak ada makanan bagi anak-anak itu. George pun menyuruh 300 anak ke ruang makan. Ia pun berdoa dan mengucap syukur pada Allah kemudian menunggu. George tahu Tuhan akan menyediakan makanan untuk anak-anak seperti yang selalu dilakukannya. Dalam beberapa menit, seorang tukang roti mengetuk pintu&#8230; </p>
<p>&#8220;Tuan Müller,&#8221; katanya, &#8220;tadi malam aku tidak bisa tidur. Entah bagaimana aku tahu bahwa Anda akan membutuhkan roti pagi ini. Aku pun bangun dan memanggang tiga takaran besar untuk Anda. Aku akan membawanya masuk.&#8221;</p>
<p>Segera, terdengar juga ketukan di pintu. Yang mengetuk adalah tukang susu. Ternyata gerobak yang membawa susunya telah pecah di depan panti asuhan. Susu tersebut pasti akan rusak ketika gerobak itu selesai diperbaiki. Maka tukang susu pun mengatakan pada George bahwa ia bisa menggunakan beberapa susu gratis. George pun tersenyum ketika pengantar susu tersebut memberikan sepuluh kaleng besar susu yang hanya cukup untuk 300 anak. Itulah jumlah yang mereka perlukan. </p>
<p>Müller menyimpan catatan doa-doanya, dan catatan doanya diisi lebih dari 3.000 halaman. Catatan itu menunjukkan bahwa ada lebih dari 30.000 doa dijawab.</p>
<p>Demikian, Anda dan saya bisa saja merasa khawatir akan kelangsungan pelayanan kita pada orang banyak. Akan ada yang bertanya, bagaimana mungkin dana sesedikit ini cukup untuk pelayanan? Tidak jarang pula terdengar orang bertanya, &#8220;Darmana kita dapat uang untuk menjalanankan program pelayanan ini nantinya?&#8221;</p>
<p>Akan tetapi, seperti yang Allah lakukan pada Elisa, Allah juga akan menyediakan apa yang kurang dalam kehidupan kita. Yesus Kristus sendiri mengatakan, &#8220;Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya&#8221; (Matius 6:8). Demikianlah, bahwa ketika kita mengalami pergumulan, maka terlebih dulu kita di ajak untuk lebih dulu berserah kepada Allah. Setelah itu, biarkan Allah menuntun kita dengan caranya. Pasti sekali bahwa Ia akan menjawab doa orang percaya, dan kita akan puas dengan jawaban yang diberikannya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-viii-setelah-trinitatis-allah-menyediakan-kebutuhan-kita-2-raja-raja-442-44/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

 Served from: pargodungan.org @ 2013-05-24 08:02:29 by W3 Total Cache -->