<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Khotbah Minggu Ini</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/category/naskah-khotbah-evangelium-minggu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Blog informasi dan referensi pelayanan warga gereja.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 11:16:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Marah? Introspeksi Diri dan Bertobatlah!</title>
		<link>http://pargodungan.org/marah-introspeksi-diri-dan-bertobatlah/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/marah-introspeksi-diri-dan-bertobatlah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 20:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Introspeksi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Kehendak Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Struktural]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidakadilan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Marah terhadap Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengakuan Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/marah-introspeksi-diri-dan-bertobatlah/</guid>
		<description><![CDATA[Khotbah Minggu Exaudi: Hakim-hakim 10:10-16 - Saat kita mengambil sebuah jeda - untuk sejenak merenungkan apa yang sedang dan telah kita alami, mungkin pernah terbersit dalam benak kita pertanyaan: "Mengapa semua hal ini mesti terjadi atas diriku?" Kita menatap semua yang telah kita lakukan selama ini, namun rupanya hanya terlihat kesia-siaan. Kita tidak memperoleh apa yang seharusnya kita peroleh. Sebagai kompensasi atas jerih payah yang telah kita lakukan, kita malah hanya menerima ketidakadilan sosial atau bahkan "kekerasan struktural". Akibatnya, pertanyaan eksistensial yang semula kita ajukan tadi berakhir menjadi kemarahan. Marah atas perilaku orang-orang atas diri kita. Marah atas kejadian-kejadian buruk yang kita alami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Hakim-Hakim 10:10-16</strong></p>
<p align="center"><strong>Minggu Exaudi</strong></p>
<p>Saat kita mengambil sebuah jeda &#8211; untuk sejenak merenungkan apa yang sedang dan telah kita alami, mungkin pernah terbersit dalam benak kita pertanyaan: &#8220;Mengapa semua hal ini mesti terjadi atas diriku?&#8221; Kita menatap semua yang telah kita lakukan selama ini, namun rupanya hanya terlihat kesia-siaan. Kita tidak memperoleh apa yang seharusnya kita peroleh. Sebagai kompensasi atas jerih payah yang telah kita lakukan, kita malah hanya menerima ketidakadilan sosial atau bahkan &#8220;kekerasan struktural&#8221;. Akibatnya, pertanyaan eksistensial yang semula kita ajukan tadi berakhir menjadi kemarahan. Marah atas perilaku orang-orang atas diri kita. Marah atas kejadian-kejadian buruk yang kita alami.</p>
<p>Saudara-saudara, firman Allah pada hari minggu ini ingin menyapa kita yang pernah atau mungkin masih menyimpan pertanyaan atau juga sedang merasakan kemarahan. Jika kita mengingat khotbah minggu Rogate yang lalu &#8211; yang berjudul &#8220;Percayalah, Doamu akan Dikabulkan!&#8221; &#8211; ia berusaha mengingatkan bahwa doa yang disampaikan dengan dasar kepercayaan yang teguh pasti akan dikabulkan. Sebagai kesinambungannya, pasca kenaikan Tuhan Yesus Kristus, kita diajak untuk lebih berefleksi atas perjalanan hidup yang telah kita lalu: yang mungkin masih bertanya-tanya atau bahkan &#8220;menyangkal&#8221; janji Tuhan tentang kekuatan doa, atau bagi kita yang mungkin masih belum mampu &#8220;Bersukacita dalam Kenaikan Yesus Kristus&#8221;.</p>
<p>Ada sesuatu yang menarik tentang pertobatan Israel dalam teks yang kita baca ini. Pemimpin (hakim) mereka, Yair baru saja meninggal dunia. Dalam situasi yang tak menentu ini &#8211; saat terjadi kekosongan kekuasaan &#8211; akhirnya Israel terjebak kembali dalam dosa lama mereka. Mereka menyembah baal dan meninggalkan Tuhan (ayat 6). Namun ternyata, mereka yang mulanya mengira akan memperoleh keamanan dan kesejahteraan melalui baal, malah menerima hukuman Allah. Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. Mereka yang mengira akan memperoleh keamanan dari orang Filistin dan bani Amon dengan menyembah sesembahan mereka akhirnya malah memperoleh penindasan dan diinjak-injak.</p>
<p>Hukuman Allah ini berlangsung lebih kurang 18 tahun sampai tiba saatnya Israel bertanya kepada dirinya sendiri apa sebabnya mereka mengalami penderitaan. Namun, penderitaan akhirnya membawa mereka pada pengakuan, bahwa mereka telah melakukan dosa. Mereka menyadari bahwa jalan yang selama ini mereka lalui tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan lebih baik lagi, mereka akhirnya mengakui bahwa mereka telah meninggalkan Tuhan! Mereka marah, tapi bukan kepada penindas mereka. Mereka marah kepada diri mereka sendiri. Itu sebabnya mereka berseru kepada Tuhan.</p>
<p>Saudara-saudara, kita mungkin sering mengira bahwa ketidak adilan yang kita dialami sepenuhnya adalah kesalahan &#8220;si yang tidak adil&#8221;. Mungkin pula sering kita menganggap bahwa kejahatan atau kekerasan yang kita terima sepenuhnya adalah akibat dosa dari si pelaku kejahatan atau kekerasan itu. Namun, sebagaimana yang telah dialami oleh bagsa Israel, firman kali ini mengingatkan kita satu segi yang mesti kita renungkan saat kita mengalami kesulitan/kesusahan/penderitaan. Di samping kita bertanya &#8220;Mengapa ini semua terjadi padaku ya Tuhan&#8221;, kita juga mesti bertanya &#8220;Apa yang hendak Allah katakan kepadaku melalui ini semua?&#8221;. Selain bertanya &#8220;Mengapa Engkau membiarkan ia berlaku jahat atas diriku?&#8221;, kita juga mesti bertanya, &#8220;Apakah yang kulakukan sehingga harus menganggung semua ini?&#8221;. Artinya, kita mesti merenungkan betul apakah memang jalan/sikap yang kita jalani/pegang benar-benar kehendak Allah bagi kita ataukah hanya sekedar ilusi. Apakah memang hanya semata-mata kesalahan/dosa orang lain yang menyebabkan penderitaan kita? Kenyataannya tidak selalu demikian. Bisa karena dosa yang tidak kita sadari.</p>
<p>Berita ini, mungkin bagi sebagian orang merupakan kabar buruk. Tidak menentramkan hati. Namun memang, firman Allah bukan hanya untuk membuai hati dan pikiran orang. Firman Allah tidak seperti isi kampanye politikus yang hanya enak di dengar. Ia juga berisi kata teguran bagi yang memang harus ditegur. Namun sekali lagi saudara-saudara, ini adalah satu segi dari berita Injil. Ia adalah pembebasan bagi orang-orang tertindas. Pembebasan bagi yang merasa dirinya benar dan merasa orang lain semata-mata penindas yang berdosa. Pembebasan bagi orang-orang yang melihat perlakuan orang lain namun malah tidak melihat sikap yang salah atas perlakuan itu. Firman Allah ini juga adalah pembebasan atas rasa marah akibat pengalaman pahit yang kita alami.</p>
<p>Mari kita perhatikan lagi teks Alkitab yang kita baca tadi. Saat orang Israel berdoa (di dalam penderitaan), ternyata benar bahwa Allah mendengar doa orang-orang berdosa sekalipun. Ia tidak berdiam diri. Namun memang, lihat sendiri saudara, Allah mengatakan &#8220;TIDAK!&#8221; &#8220;Kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi. Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak&#8221;, jawab Tuhan (ayat 13-14). Demikianlah kelihatan, alih-alih mengiyakan doa orang berdosa, Allah mengingatkan dosa mereka dan konsekuensi yang harus mereka terima. Alih-alih menghancurkan langsung orang Filistin, Allah menyuruh mereka introspeksi diri.</p>
<p>Saudara-saudara, pada ayat-ayat selanjutnya kita tahu sendiri, bahwa Allah tidak hanya membutuhkan doa pengakuan dosa, yang mungkin kita kumandangkan setiap minggunya di gereja. Sekalipun kita menerima &#8220;Firman Tuhan tentang pengampunan dosa&#8221;, kita juga harus membayar harga yang pantas untuk itu. Pada akhirnya kita mesti mendengar Firman Allah dan melakukan pertobatan. Penebusan dosa itu tidak murahan, ia punya harga yang bahkan mahal sekali, sehingga Yesus Kristus mati untuk membayarnya.</p>
<p>Sayangnya memang, dalam dunia dewasa ini manusia cenderung mulai lupa untuk introspeksi diri. Manusia lebih suka menilai orang lain daripada berkaca pada diri sendiri. Menilai kualitas khotbah daripada menerima pesan khotbah. Marah atas teguran orang daripada mengevaluasi iman dan kepercayaan diri sendiri. Jika hatinya senang, ia akan pergi ke gereja itu. Jika buruk, ia akan pergi ke gereja lain. Dengan kata lain, manusia sekarang sudah sangat egois. Memandang sesuatu dari kacamatanya sendiri dan untuk kepentingan dirinya sendiri. Parahnya, kecenderungan ini diperparah dengan amarah. Marah terhadap orang yang &#8220;tidak beres&#8221;, memuji diri yang merasa beres. Marah terhadap ketololan orang lain, tinggi hati dalam perasaan jenius. Marah terhadap Allah, merasa diri sebagai orang suci.</p>
<p>Namun saudara-saudara, Firman kali ini menyapa kita dengan sungguh lembut terhadap sauara-saudara yang sedang marah &#8211; entah marah kepada orang lain, kepada diri sendiri atau bahkan kepada Allah &#8211; Tuhan menunggu pertobatan. Allah menunggu perubahan hati kita masing-masing, untuk mengobati luka yang selama ini kita rasakan. Allah menunggu kita berseru kepada Allah atas ketidakadilan, atas kejahatan, atas masa lalu yang hitam, atau atas penderitaan yang kita alami. Sungguh lembut, Tuhan Allah ingin menyembuhkan kemarahan dan kekecewaan saudara. Tuhan Allah yang mengasihi bahkan orang berdosa sekalipun, menunggu kita berseru: &#8220;Dengarkanlah suaraku ya Tuhan&#8221;. Hanya itulah cara, agar ia menatap kita kembali dan membebaskan kita dari penderitaan yang telah kita alami. </p>
<p>Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/marah-introspeksi-diri-dan-bertobatlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersukacita dalam Kenaikan Yesus Kristus</title>
		<link>http://pargodungan.org/bersukacita-dalam-kenaikan-yesus-kristus/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/bersukacita-dalam-kenaikan-yesus-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 07:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bersukacitalah Senantiasa]]></category>
		<category><![CDATA[Filipi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Orang Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan Tuhan Yesus Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[Lukas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=916</guid>
		<description><![CDATA["Khotbah untuk memperingati kenaikan Tuhan Yesus Kristus bertemakan sukacita" Bersukacita. Kalender Gereja kita pada tanggal 13 Mei ini mengajak kita untuk bersukacita di dalam peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Saya kira, bukan kali ini saja, malahan orang Kristen sering diarahkan untuk selalu bersukacita. Misalnya saja Paulus. Dalam surat-surat kirimannya, kita akan menemukan sejumlah ajakan untuk senantiasa bersukacita (mis. Filp 4:4). Tentang ini, barangkali tepat jika sebut sukacita merupakan bagian dari identitas kehidupan orang Kristen.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img alt="kenaikan-tuhan-yesus-kristus" src="http://img.123greetings.com/eventsnew/ejun_ascensionday/8905-001-11-1082.gif" width="500" height="350" /><p class="wp-caption-text">kenaikan-tuhan-yesus-kristus</p></div>
<p align="center"><strong>Lukas 24:44-53</strong></p>
<p align="center"><strong>Peringatan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus</strong></p>
<p>Bersukacita. Kalender Gereja kita pada tanggal 13 Mei ini mengajak kita untuk bersukacita di dalam peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Saya kira, bukan kali ini saja, malahan orang Kristen sering diarahkan untuk selalu bersukacita. Misalnya saja Paulus. Dalam surat-surat kirimannya, kita akan menemukan sejumlah ajakan untuk senantiasa bersukacita (mis. Filipi 4:4). Tentang ini, barangkali tepat jika sebut sukacita merupakan bagian dari identitas kehidupan orang Kristen.</p>
<p>Sayangnya, identitas itu tidak selalu sepadan dengan realitas. Ibarat KTP, meskipun ia adalah tanda identitas pengenal kita, namun ia tidak bisa menampilkan realitas diri kita yang sesungguhnya. Selain itu, KTP juga tidak bisa menginformasikan apa yang sedang kita hadapi. Demikian halnya dengan bersukacita. Meskipun itu adalah bagian dari identitas Kristen, pada kenyataannya, realitas yang sedang kita alami hanya patut kita respon dengan tangisan. Bukan dengan sukacita.</p>
<p>Kita mengatakan demikian karena beban-beban yang kita alami rupanya tidak semakin berkurang. Keadaan keuangan selalu seret, apalagi menjelang akhir bulan. Rumah tangga mungkin kurang harmonis. Kondisi negara pun tidak menjadi lebih baik. Gereja juga sering mengalami kesulitan. Gedung-gedung gereja banyak dibakar oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. Dan banyak ragam kesulitan lain juga kita alami dan saksikan.</p>
<p>Oleh sebab itu kita bertanya, untuk apakah kita sekarang bersukacita?</p>
<p>Saudara-saudara, memang kenyataan tersebut tidak dapat dipungkiri. Namun sebagai orang Kristen, kita hidup bukan untuk diri kita sendiri saja, sehingga kita selalu mengeluh atas kehidupan materi kita yang mungkin serba berkekurangan. Sebagai orang Kristen, kita juga hidup bukan untuk mengeluh atas keadaan di sekeliling kita yang mungkin tidak membantu/berguna langsung bagi kehidupan kita. Malahan, orang-orang Kristen adalah orang yang benar-benar HIDUP! Yang memandang segala sesuatunya dengan HIDUP, dengan penuh optimistik.</p>
<p>Apa yang menyebabkan orang-orang Kristen benar-benar HIDUP?</p>
<p>Orang Kristen hidup karena empat hal ini:</p>
<p>Pertama, sebelum peristiwa kenaikan Tuhan Yesus, Ia memberitakan bahwa &#8220;Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga&#8221;. Kita tidak memungkiri bahwa kita akan menderita dan mengalami kematian. Akan tetapi kita HIDUP dengan kepercayaan bahwa, kita tidak memungkiri kenyataan bahwa kita akan dibangkitkan dari kematian. Pengakuan iman yang kita kumandangkan tiap minggu menunjukkannya (kebangkitan daging dan kehidupan yang kekal)! Dengan demikian, kematian tidak ada lagi dalam &#8220;kamus&#8221; orang Kristen. Memang kematian harus dihadapi, tetapi kematian yang dihadapi dengan HIDUP! Bukan dengan tangisan dan ketakutan. Dengan kata lain, orang Kristen HIDUP karena ia memandang kematian dengan HIDUP, bukan dengan kematian itu sendiri.</p>
<p>Kedua, juga sebelum kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Lukas mencatat bahwa &#8220;dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa&#8221;. Orang-orang Kristen HIDUP karena ia percaya bahwa akan semakin banyak orang-orang yang juga akan HIDUP bersama mereka. Orang-orang itu adalah orang-orang yang mengalami pertobatan dan yang telah menerima pengampunan dosa. Orang-orang Kristen tidak merasa takut bahwa jumlahnya akan semakin sedikit di dunia ini. Meskipun tekanan demi tekanan dialami untuk mengurangi jumlah orang-orang yang HIDUP, namun itu tidak akan menghentikan usaha-usaha agar semakin banyak jumlah orang-orang yang HIDUP. Pembakaran-pembakaran gedung gereja tidak akan menghambat pemberitaan namaNya ke seluruh dunia. Dengan kata lain, orang Kristen HIDUP karena ia memandang orang-orang yang akan HIDUP melalui pemberitaannya.</p>
<p>Ketiga, orang-orang Kristen adalah orang-orang yang hidup karena &#8220;Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku&#8221; (Lukas 24:48-49). Di pengadilan, hakim tidak membutuhkan saksi yang telah mati untuk ditampilkan dalam persidangan. Orang  mati kan tidak bisa mengatakan apa-apa. Demikian juga orang Kristen. Ia HIDUP karena ia ditugaskan untuk menjadi saksi. Roh Kudus yang telah diberikan atas orang-orang Kristen dan orang-orang percaya ada untuk menuntun kita. Oleh sebab itu, hendaklah kita menjadi saksi hidup atas yang kita alami bersama Yesus Kristus. Bukan saksi mati yang hanya diam, pasif, tak bergerak, MATI.</p>
<p>Keempat, di dalam peristiwa kenaikanNya kita pun bersujud dan menyembah Tuhan. Kita melakukannya karena kita memandang keHIDUPan yang sedang, dan akan kita jalani. Kita melakukannya karena mengingat bahwa keHIDUPan bersama ALLAH mesti selalu kita raih. Kita HIDUP bukan untuk bersama dan demi harta, materi atau kekayaan. Orang-orang Kristen HIDUP demi ALLAH. Hal-hal materi hanyalah penyokong atas hidup kita. Namun ia bukanlah sumber dimana kita bisa benar-benar HIDUP. Dengan kata lain, orang Kristen benar-benar HIDUP karena ia menyembah ALLAH yang hidup.</p>
<p>Saudara-saudara, keempat hal itulah, keempat hal yang membuat kita HIDUP itulah yang menjadi alasan agar kita bersukacita. Ya, kita senantiasa bersukacita karena kita HIDUP. Oleh sebab itu, jangan ada keraguan atas kita untuk senantiasa bersukacita. Bersukacitalah senantiasa. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/bersukacita-dalam-kenaikan-yesus-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percayalah, Doamu akan Dikabulkan</title>
		<link>http://pargodungan.org/percayalah-doamu-akan-dikabulkan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/percayalah-doamu-akan-dikabulkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 16:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bilangan]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[Kaleb]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Luther]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu Rogate]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[Percaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Perjanjian]]></category>
		<category><![CDATA[Yosua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=893</guid>
		<description><![CDATA[Bilangan 14:11-20
Minggu Rogate
Alkisah, adalah seorang pangeran dari bangsa Troya yang jatuh cinta kepada Helen, istri raja Sparta yang bernama Menelaus. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Helen kelihatannya tertarik kepada Paris (sang pangeran), sehingga rela dibawa lari ke Troya. Kabar pun tersiar dan sampai ke telinga Agamemnon, raja Yunani yang notabene saudara dari Menelaus. Mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="cara berdoa kristen" src="http://www.fernerb.com/images/Graphic_PrayingTheLordsPrayerWithLuke11-2-4.jpg" width="515" height="386" />
<p align="center"><strong>Bilangan 14:11-20</strong></p>
<p align="center"><strong>Minggu Rogate</strong></p>
<p>Alkisah, adalah seorang pangeran dari bangsa Troya yang jatuh cinta kepada Helen, istri raja Sparta yang bernama Menelaus. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Helen kelihatannya tertarik kepada Paris (sang pangeran), sehingga rela dibawa lari ke Troya. Kabar pun tersiar dan sampai ke telinga Agamemnon, raja Yunani yang notabene saudara dari Menelaus. Mendengar iparnya dilarikan, sang raja sangat marah dan merasa dipermalukan. Ia pun mengutus sebuah ekspedisi yang dipimpin jenderal bernama Achiles untuk menghancurkan Troya.</p>
<p>Perang tidak dapat dielakkan lagi. Karena cinta seorang pangeran, Troya harus berperang dengan Yunani dan Sparta. Namun rupanya Troya dapat mengatasi peperangan itu melalui benteng mereka yang kokoh. Pasukan Achiles hanya dapat mengepungnya, selama 10 tahun! Merasa hampir putus asa, Yunani pun berencana melakukan serangan pamungkas. Mereka bergerak mundur, sambil meninggalkan sebuah kuda kayu raksasa di luar tembok pertahanan Troya. Akan tetapi di dalam perut kuda kayu tersebut, sejumlah pasukan Yunani sudah disiapkan untuk sebuah misi.</p>
<p>Tanpa merasa curiga, orang-orang Troya menarik kuda kayu tersebut ke dalam benteng kotanya. Mereka telah melakukan kesalahan besar di sini. Saat malam tiba, penduduk Troya pun tidur nyenyak dengan perasaan aman tenteram. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa tentara yang bersembunyi telah keluar dan membuka gerbang pertahanan Troya. Pasukan Yunani yang sebelumnya hanya berpura-pura mundur, maju kembali dan memasuki kota Troya dengan leluasa. Mereka berperang kembali, membumihanguskan ibukota Troya. Helen, istri Menelaus pun di bawa pulang.</p>
<p>Begitulah, oleh karena ulah seseorang satu bangsa bisa menanggung akibatnya. Oleh sebab buta atas cinta <u>dan</u> karena cinta yang membabi buta, ribuan nyawa penduduk Troya harus melayang.</p>
<p>Namun sebaliknya, di dalam Alkitab kita justru menemukan versi yang berbeda. Di dalam Alkitab diberitakan bahwa oleh sebab satu orang semua orang diselamatkan. Orang itu adalah Yesus Kristus. Tetapi di samping itu, kita juga menemukannya di dalam Perjanjian Lama, terutama dalam teks yang menjadi dasar perenungan ini.</p>
<p>Dikisahkan, pada suatu ketika orang-orang Israel akan mendekati tanah Perjanjian. Janji yang selama ini mereka idam-idamkan akan terealisasi. Janji yang selama ini membuat mereka mau dan rela berjalan 3 mil per jam dari Mesir ke Kanaan selama 40 tahun akan tergenapi. Namun, ketika melihat tanah itu mereka akhirnya hanya bisa mengeluh. Mereka menemukan bahwa penduduk Kanaan itu besar-besar dan tegap-tegap, dan mereka harus menaklukkannya! Kenapa Allah tidak memberikannya begitu saja kepada kami?&#8221;, mungkin begitu isi keluhan mereka.</p>
<p>Melalui kepemimpinan Musa, akhirnya di utuslah Hosea bin Nun (yang kemudian disebut Musa sebagai Yosua) dan Kaleb bin Yefune untuk mengintai tanah Kanaan. Singkat cerita, tim investigator tersebut berangkat, melakukan tugasnya dan kembali kehadapan Israel untuk memberikan laporan. Sayangnya Israel tidak mau mempercayai laporan Yosua dan Kaleb yang mengatakan sesuatu yang baik tentang Kanaan. Karena ketidakpercayaan itu, mereka hendak melempari mereka berdua dengan batu.</p>
<p>Melihat kelakuan Israel ini, Allah pun segera bertindak. Dikisahkan bahwa Allah tidak tahan lagi melihat dosa Israel yang demikian. Diberitakanlah bahwa Israel akan mengalami kehancuran. Mereka akan dimusnahkan.</p>
<p>Mendengar bahwa Allah naik pitam, Musa menjadi panik. Ia tidak ingin perjalanan ini akhirnya menjadi sia-sia. Dan dengan segala ketakutan atas kemungkinan yang diberitakan tadi, Musa pun berdoa. Yang menarik, Allah berkenan mendengarkan doa Musa. Akhirnya, oleh karena doa satu orang, sebuah bangsa menjadi terselamatkan. Mereka tidak menjadi habis lenyap.</p>
<p>Saudara-saudara, orang sering bertanya-tanya tentang apa/bagaimana sebenarnya doa yang didengarkan Allah (pertanyaan ini tentu masih lebih baik daripada mempertanyakan khasiat doa). Menjawab ini, ada yang mengatakan bahwa doa orang-orang yang teraniaya pastilah akan dikabulkan Tuhan (seperti yang diimani oleh saudara-saudara kita muslim).</p>
<p>Sebagai orang Kristen, kita tidak bertanya demikian. Bila kita bertanya seperti itu, berarti kita sedang mempertanyakan kemampuan &#8216;pendengaran&#8217; Allah. Namun kita menanyakan pertanyaan seperti yang ajukan oleh murid-murid Yesus: &#8220;ajarlah kami [bagaimana] berdoa&#8221;. Jika kita bertanya demikian, kita sedang tidak mempertanyakan Allah, namun sedang bertanya kepada diri kita sendiri tentang bagaimana cara kita selama ini berdoa.</p>
<p>Bagaimana cara berdoa?</p>
<p>Sebagaimana yang telah diceritakan, kemarahan Allah atas Israel sebenarnya adalah karena Israel tidak percaya kepadaNya. Allah marah, karena Israel mempertanyakan kemampuanNya untuk memimpin mereka menaklukkan Kanaan. Atau secara praktis, Israel telah meniadakan Tuhan. Namun berbeda dengan Israel umumnya, di dalam doanya Musa menunjukkan kepercayaannya yang begitu besar kepada Allah. Hal ini bisar kita perhatikan secara khusus mulai dari Bilangan 14:13-19. Di dalam isi doa tersebut kita justru hanya melihat keyakinan dan penghayatan Musa atas peran Allah di tengah-tengah kehidupan Israel.</p>
<p>Demikian pula seharusnya saat kita berdoa, kita pun harus memulainya dengan kepercayaan. Dimulai dengan penghayatan akan peran dan kuasa Allah atas hidup kita. Itulah sebabnya di dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan, &#8220;Bapa kami yang di surga, dikuduskan namaMu. Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga&#8221;. Melalui permulaan doa tersebut, Yesus mengajak kita untuk menghayati keberadaanNya (di surga), sifatNya (dikuduskanlah), kekuasaanNya (kerajaanMu), dan otoritasNya (kehendakMu). Jika kita tidak memulai doa dengan kepercayaan, maka semuanya menjadi sia-sia.</p>
<p>Saudara-saudara, akan tetapi, doa juga harus diakhiri dengan kepercayaan. Barangkali, jika ada orang Kristen yang mengakhiri doanya tanpa kepercayaan, maka ia menjadi orang Kristen yang tidak masuk akal. Mengapa? Sebab di akhir setiap doa yang kita panjatkan, kita selalu menyatakan &#8220;Amin&#8221;. Mengakhiri dengan kata Amin berarti kita <u>mempercayakan</u> seluruh yang kita doakan tersebut kepada Tuhan. Namun memang, Sayangnya, kata itu sudah berubah menjadi formalitas dari pada sebuah pengakuan dan keyakinan. Kata yang berarti &#8216;terjadilah&#8217; itu tidak begitu meyakinkan lagi. Muncullah kata-kata sisipan berbunyi &#8220;mudah-mudahan Tuhan mendengar&#8221;.</p>
<p>Doa yang diakhiri dengan kepercayaan, adalah doa yang diakhiri dengan: kepercayaan bahwa Allah-lah yang mempunyai otoritas atas permintaan kita. Ini menjelaskan mengapa di dalam Doa Bapa Kami terdapat kata &#8220;Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan Kuasa dan Kemuliaan sampai selama-lamanya&#8221;. Di dalam kata-kata tersebut kita mengakui bahwa pengambil keputusan dan tindakan akhir atas isi doa yang kita ucapkan hanya berasal dari Allah. Jika Allahlah yang empunya Kuasa, kita pun ikut terkena pengaruh kekuasaan tersebut dan tunduk atasnya.</p>
<p>Saudara-saudara, Martin Luther pernah mengatakan, &#8220;Berdoalah, dan biarkan Allah yang [pusing] memikirkan itu semua untukmu&#8221;. Ini dapat berarti bahwa isi doa yang kita panjatkan, sudah menjadi &#8216;milik&#8217; Allah saat kita mengajukannya. Oleh sebab itu, jangan pernah membiarkan kesusahan dan keresahan yang kita hadapi <em>yang telah kita doakan</em> membuat kita tetap terpenjara dalam situasi tersebut. Memang benar, masalah-masalah yang membuat kita resah masih belum terselesaikan. Walaupun begitu, jika kita memang sungguh mengakhiri doa dalam kepercayaan, kita mesti membiarkan diri kita untuk terbebas dari keresahan yang menghantui. Biarkan kepercayaan kita kepada Allah membebaskan kita dari kegalauan. Dan biarkan pula, Allah yang mengambil keputusan tentang bagaimana selanjutnya. Inilah makna memanjatkan doa kepada Allah di dalam kepercayaan.</p>
<p>Amin!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/percayalah-doamu-akan-dikabulkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup dalam Kepercayaan</title>
		<link>http://pargodungan.org/hidup-dalam-kepercayaan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/hidup-dalam-kepercayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 03:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Akira Toriyama]]></category>
		<category><![CDATA[Dragon Ball]]></category>
		<category><![CDATA[II Korintus]]></category>
		<category><![CDATA[Isaac Newton]]></category>
		<category><![CDATA[Kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu Kantate]]></category>
		<category><![CDATA[Niniwe]]></category>
		<category><![CDATA[Paulus]]></category>
		<category><![CDATA[Percaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sigmund Freud]]></category>
		<category><![CDATA[Son Go Ku]]></category>
		<category><![CDATA[Tarsus]]></category>
		<category><![CDATA[Yunus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin saudara pernah membaca komik yang ditulis Akira Toriyama yang berjudul Dragon Ball. Komik ini menceritakan kisah Son Go Ku, seorang bocah Saiya yang kekuatannya akan bertambah jika ia semakin sering bertarung. Semakin ia sering hampir mati, bahkan kekuatannya akan semakin berlipat ganda. Go ku tahu benar kelebihannya (baca: hakikat) ini, sehingga ia selalu bertarung dengan penuh keyakinan (baca: percaya). Saya kira, menjadi Kristen pun harus demikian. Kita harus mengetahui hakikat dan tujuan hidup kita masing-masing dan hidup di dalamnya dengan penuh kepercayaannya. Pergumulan dan tantangan yang kita hadapi, seperti kata Paulus, akan membaharui batin kita setiap hari. Kita tidak tawar hati oleh karena masalah yang di depan kita. Tetapi penuh iman dan percaya oleh karena Kristus yang tidak kelihatan itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="paulus menulis surat kiriman" src="http://www.traveljet.gr/images/StPaul.jpg" width="684" height="323" />
<p align="center"><strong>II Korintus 4:13-18</strong></p>
<p align="center"><strong>Minggu Kantate</strong></p>
<p>Tentunya saudara-saudara mengerti betul salah satu sifat manusia yang satu ini. Suka mencari alasan. <strong>Isaac Newton</strong>, fisikawan asal Inggris itu juga suka mencari alasan. Apa alasan yang menyebabkan sebuah apel jatuh dari rantingnya? Alasan yang ditemukan paling hanya sedikit. Namun, yang paling sering. Kalau sedang tidak <em>mood</em> atau tidak ingin melakukan sesuatu, manusia akan mencari alasan. Ia akan mencari seribu satu macam alasan, hanya agar maksudnya dapat berjalan mulus.</p>
<p>Untuk hal terakhir yang saya sebutkan tadi, saya kira itu merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri seperti yang digambarkan <strong>Sigmund Freud</strong>. Ini merupakan proses yang tidak disadari untuk melindungi, agar (misalnya) tidak disuruh ke suatu tempat. Ini kelihatan seperti <strong>Yunus</strong>, yang mencari alasan agar ia tidak harus pergi ke <strong>Niniwe</strong>. Ia melarikan diri ke <strong>Tarsus</strong>, tempat asal <strong>Paulus</strong>, mengingkari kenyataan bahwa orang-orang <strong>Niniwe</strong> mungkin akan bertobat jika ia pergi ke sana. Ia tidak ingin anugerah Tuhan dilimpahkan selain kepada bangsa <strong>Israel</strong>.</p>
<p>Namun, Allah mempunyai trik tersendiri untuk membentuk <strong>Yunus</strong> dalam masa &#8216;petualangannya&#8217;. Banyak kemalangan yang harus dihadapi <strong>Yunus</strong> dalam pelariannya. Dicampakkan ke tengah lautan, di telan ikan hidup-hidup dan dimuntahkan kembali. Betapa menjijikkan. Memang, ia bertobat dan akhirnya pergi memberitakan pesan Allah kepada orang <strong>Niniwe</strong>. Namun, kekecewaan datang kepadanya. Ia kecewa karena pertobatan orang-orang <strong>Niniwe</strong>. Ia mengeluh sepanjang hari. Menipu dirinya sendiri.</p>
<p>Bukankah hidup kita sering demikian? Menipu diri sendiri dan mencari alasan. Merasionalisasi segala tindakan meskipun hal itu tidak benar.</p>
<p>Gereja dan orang-orang Kristenpun kadang terjebak dalam masalah yang sama. Ia terjebak dalam pelayanan <u>dalam</u> gereja. Lupa atas orang-orang yang hadir di luar tembok gereja. Khotbah-khotbah terjebak di dalam retorika. Berkata-kata tapi tidak berbuat. Nyanyian-nyanyian rohani terjebak dalam kekosongan makna, yang penting hanya nada dan irama. Gereja yang begini lupa tujuannya. Akan selalu memberontak dan menjadi gereja yang bebal.</p>
<p><strong>Paulus</strong> adalah profil orang yang hidup dalam penuh kepercayaan. Di dalam kepercayaannya ia tidak melupakan siapa dirinya. Menerima pelayanan yang ditugaskan kepadanya dengan mantap. Tidak setengah-setengah, tidak merasa kecut, tidak tawar hati.</p>
<p><strong>Paulus</strong> juga merupakan profil orang yang tidak melupakan tujuannya. Ia tahu bahwa tujuannya bukan untuk membeku di tengah-tengah orang yang <u>sudah</u> percaya. Akan tetapi mencair, menjadi seperti air. Ia akan mengalir mencari tempat yang dapat dijangkaunya. Ia juga akan memberikan tetesannya kepada orang yang haus.</p>
<p>Memang, bukan berarti perjalannya akan mulus. Ia tetap memiliki hambatan. Orang-orang percaya masih ada yang meragukan kerasulannya. Orang-orang yang belum percaya pun sering menyiksanya. Dan benar, menjadi diri sendiri yang sebenarnya serta berjalan di dalam tujuan sebenarnya bukan berarti semua akan lancar. Akan tetapi, <strong>Paulus</strong> di dalam kepercayaannya yakin benar, bahwa segala penderitaan yang harus dihadapinya, dihadapinya bersama-sama dengan <strong>Kristus</strong>. Kesusahan, atau yang dalam istilahnya sendiri: penderitaan ringan, membuatnya menjadi semakin terlatih dan menjadi baru setiap hari.</p>
<p>Mungkin saudara pernah membaca komik yang ditulis <strong>Akira Toriyama</strong> yang berjudul <strong>Dragon Ball</strong>. Komik ini menceritakan kisah <strong>Son Go Ku</strong>, seorang bocah Saiya yang kekuatannya akan bertambah jika ia semakin sering bertarung. Semakin ia sering hampir mati, bahkan kekuatannya akan semakin berlipat ganda. Go ku tahu benar kelebihannya (baca: hakikat) ini, sehingga ia selalu bertarung dengan penuh keyakinan (baca: percaya). Saya kira, menjadi Kristen pun harus demikian. Kita harus mengetahui hakikat dan tujuan hidup kita masing-masing <u>dan</u> hidup di dalamnya dengan penuh kepercayaannya. Pergumulan dan tantangan yang kita hadapi, seperti kata <strong>Paulus</strong>, akan membaharui batin kita setiap hari. Kita tidak tawar hati oleh karena masalah yang di depan kita. Tetapi penuh iman dan percaya oleh karena <strong>Kristus</strong> yang tidak kelihatan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/hidup-dalam-kepercayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Pintas ke Surga</title>
		<link>http://pargodungan.org/jalan-pintas-ke-surga/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/jalan-pintas-ke-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 06:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[I Timoteus]]></category>
		<category><![CDATA[Markus]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu Invokavit]]></category>
		<category><![CDATA[Pertandingan Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Minggu: Invokavit
Evangelium: I Timoteus 6:11-19
Tema Khotbah: Bertekun dalam Pertandingan Iman
Saat melalui jalan yang panjang dan berliku-liku, kita sering mengharapkan semoga ada jalan pintas yang dapat dilalui. Jalan pintas akan menghindarkan diri kita dari perjalanan panjang yang melelahkan. Waktu tempuh juga akan semakin efisien dan barangkali, kita tidak akan terjebak macet.
Sayangnya hal ini tidak berlaku saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu: Invokavit</p>
<p>Evangelium: I Timoteus 6:11-19</p>
<p>Tema Khotbah: Bertekun dalam Pertandingan Iman</p>
<p>Saat melalui jalan yang panjang dan berliku-liku, kita sering mengharapkan semoga ada jalan pintas yang dapat dilalui. Jalan pintas akan menghindarkan diri kita dari perjalanan panjang yang melelahkan. Waktu tempuh juga akan semakin efisien dan barangkali, kita tidak akan terjebak macet.</p>
<p>Sayangnya hal ini tidak berlaku saat kita ingin mencapai surga. Untuk mencapai surga itu, kita harus menelusuri jalur yang telah ditentukan. Tidak ada jalan pintas yang dapat dijalani. Mengandalkan nepotisme tidak bisa(seperti yang dibayangkan oleh Yakobus dan Yohanes &#8211; Markus 10:37). Mengandalkan uang juga tidak mungkin (seperti dengan membeli Surat Penghapusan Dosa).</p>
<p>Dalam perikop ini, Paulus mengandaikan kehidupan orang Kristen itu sebagai sebuah pertandingan iman. Seperti olimpiade yang mungkin sering ia lihat di jamannya, peserta olimpiade harus berlari dengan sekuat tenaga sesuai dengan jalur yang ditentukan untuk mencapai garis <em>finish</em>.</p>
<p>Nah, kehidupan Kristen itu dibayangkan Paulus identik dengan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Itulah hal-hal yang harus dikejar oleh setiap orang Kristen. Mengapa harus repot-repot mengejarnya? Karena untuk itulah kita dipanggil (I Timoteus 6:12). Kita dipanggil untuk menyuarakan keadilan, beribadah kepada Tuhan, menjaga kesetiaan, menunjukkan kasih, mengandalkan kesabaran, dan mengutamakan kelembutan. Panggilan itu dapat diibaratkan sebagai jalan yang harus ditempuh. Tujuan akhirnya adalah &#8220;saat Tuhan Yesus Kristus menyatakan diriNya&#8221; (I Timoteus 6:14).</p>
<p>Memang seringkali lidah kita terasa kaku untuk menyuarakan keadilan. Seringkali ibadah kita hanya berupa rutinitas hidup yang tidak berarti. Seringpula kesetiaan hanya dimulut (mata tidak ikut). Seringkali kasih itu tidak dapat kita ungkapkan dengan mudah. Ketidaksabaran juga lebih sering kita alami. Kelembutan juga hanya ditampilkan saat kita punya maksud tertentu. Namun, inilah sebabnya ia disebut sebagai sesuatu yang harus dikejar terus-menerus. Jalan itu &#8211; betapapun seringnya kita harus menginjak kerikil yang membuat kaki kita kesakitan &#8211; harus kita jalani. Betapapun harus tersandung karena terperosok ke lubang, kita harus bangkit untuk tetap berusaha menelusurinya. Itulah, yang dinamakan Paulus sebagai pertandingan! Hanya orang yang bisa bertahan dalam latihan keras yang mampu bertanding. Hanya orang yang bisa bangkitlah yang bisa bertahan. Dan hanya orang yang bisa bertahanlah yang bisa memenangkan mahkota kemenangan itu. Selamat bertanding, Tuhan menyertai Anda sekalian! <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/jalan-pintas-ke-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi pengajar Firman Allah yang baik</title>
		<link>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajarkan Firman Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu III setelah Epiphanias]]></category>
		<category><![CDATA[Ulangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Ulangan 6:4-9
Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulangan 6:4-9</p>
<p>Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena kurang konsentrasi atau karena pendengaran kita kurang baik.<br />
Setelah mendengar, kita pun diharuskan untuk berbicara kembali. Inilah respon dalam arti yang sesungguhnya. Di dalamnya kita mengungkapkan pendapat, gagasan, harapan, maksud, tujuan kita, dsb.</p>
<p>Sehubungan dengan firman Allah dalam Ulangan 6:4-9, TUHAN lah yang sedang berbicara dan Musa adalah suaranya. Sekarang, suara ini telah kita dengar dan perhatikan. Melalui Musa, Allah memerintah kita untuk mendengarkan firmanNya sekaligus juga agar dapat menyampaikan dan memberitakannya kepada orang lain atau kepada siapapun juga.</p>
<p>Namun karena pekerjaan mendengar adalah sesuatu yang sulit (seperti dikatakan tadi), maka suara dan perintah Allah itu harus lebih kita perhatikan. Kita harus mempelajarinya dengan sungguh dan memeliharanya dalam hati kita baik-baik. Mengulangi apa yang dikatakanNya dan memastikan tidak ada sedikitpun yang ketinggalan. Intinya, kita harus mempelajari firman Allah itu setiap saat dan setiap hari.</p>
<p>Inilah syarat agar kita dapat menjadi pengajar firman Allah yang baik, yakni yang telah menjadi pendengar Allah yang baik. </p>
<p>Mungkin ada yang mempersoalkan cara mengajarkan firman Allah yang paling baik. Akan tetapi itu tidak jadi masalah. Cara yang paling praktis dan paling mudah adalah mengajar melalui teladan dan kesaksian. Diri si pengajar (kita) harus menjadi contoh yang hidup atas bagaimana Allah itu telah berperan dalam kehidupan si pengajar. Firman Allah tidak begitu abstrak sehingga kita harus mengajarkannya secara teoritis. Ia berawal dari tindakan dan bukan wacana. Itulah sebabnya untuk mengajarkannya harus diawali dengan tindakan kita juga.</p>
<p>Ini berarti seorang pengajar firman Allah harus menjadikan firman itu bagian dari hidupnya. Inilah persiapan utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar, siapapun kita, entah sebagai orangtua, sebagai guru, sebagai pelayan Tuhan, dokter, pengacara, polisi, atau apapun profesinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu II Setelah Epiphanias &#8211; Orang Percaya Bersatu, Mungkinkah?</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 17:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kesatuan Orang Percaya]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu II Setelah Epiphanias]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/</guid>
		<description><![CDATA[Yohannes 17:20-23
Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam sasana itu para petinju selalu berjibaku, saling melayangkan dan menerima pukulan. Sejarah panjang kekristenan menunjukkan bahwa gereja sering jadi ajang &#8216;pukul-memukul&#8217;. Misalnya saja pada awal berdirinya, gereja sudah berjiibaku dengan orang kafir untuk mengokohkan pondasi iman kepercayaannya. Selain itu, sejak masa para rasul (jemaat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yohannes 17:20-23</p>
<p>Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam sasana itu para petinju selalu berjibaku, saling melayangkan dan menerima pukulan. Sejarah panjang kekristenan menunjukkan bahwa gereja sering jadi ajang &#8216;pukul-memukul&#8217;. Misalnya saja pada awal berdirinya, gereja sudah berjiibaku dengan orang kafir untuk mengokohkan pondasi iman kepercayaannya. Selain itu, sejak masa para rasul (jemaat mula-mula), orang-orang percaya sudah beradu argumen, mempertentangkan dan  mempertengkarkan ajaran para rasul. Di dalam gereja, orang Kristen bukan hanya bertengkar dengan orang di luar mereka. Mereka juga bertengkar diantara sesamanya, yang sama-sama orang Kristen. Inilah yang dinamakan konflik dalam gereja.</p>
<p>Konflik dimulai dan disebabkan oleh karena manusia sangat lihai melihat perbedaan antara satu dengan yang lain &#8211; karena tahu tentang yang baik dan yang jahat. Pengetahuan ini kemudian diselimuti oleh pikiran dan usaha untuk mempertahankan yang benar, dan kemudian menghalalkan segala cara &#8211; entah itu harus meninggalkan esensi sejati orang Kristen yang sesungguhnya &#8211; untuk memusnahkan atau paling tidak untuk menundukkan yang salah dihadapan kebenarannya. Jika mengingat keadaan gereja yang seperti ini, kadang timbul pertanyaan, mungkinkah orang percaya dapat bersatu? Jika mungkin, bagaimana cara dan apa faedah kesatuan?</p>
<p>Ketika Yesus Kristus berdoa pada TUHAN BapaNya, Ia meminta satu hal dalam Yohanes 17:20-23 yakni, agar orang percaya menIjadi satu, sama seperti diriNya adalah satu dengan Bapa. Ini sudah menjawab pertanyaan apakah orang percaya dapat bersatu. Yesus menyadari benar perbedaan di dalam diri tiap orang percaya. Sayangnya Yesus tidak mentolerir dan tidak ingin membiarkan perbedaan itu dipandang berlama-lama. Ia sangat menginginkan kesatuan orang percaya.</p>
<p>Mengenai pertanyaan kedua, saat Yesus Kristus meminta pada Allah Bapa agar orang bersatu, itu juga berarti Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan itu menjadi pemisah antara satu dengan lainnya. Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai awal perpecahan. Itulah arti dan cara orang percaya menjadi satu, yakni saat perbedaan bukan lagi hal substansial yang harus diutamakan.</p>
<p>Ketiga, mengenai faedahnya dan bentuk kesatuan itu sendiri. Bentuk kesatuan orang percaya kelihatan melalui tugasnya: untuk menjadi saksi/pemberita (bnd. Matius 28:19-20). Dan inilah pula yang menjadi faedah kesatuan orang Kristen, yakni menjadi kesaksian. Kesaksian bagi dunia yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai utusan Allah, dan kesaksian bagi dunia tentang kasih Allah pada dunia. Oleh karena kesatuan orang Kristen maka tujuan untuk bersaksi kepada dunia menjadi terpenuhi.</p>
<p>Akhirnya, melalui firman ini, terlihat tuntutan yang harus segera kita tunaikan. Perbedaan apapun yang kita lihat dan temukan dari antara tiap orang percaya, kita harus tetap menjaga kesatuan kita dengan dirinya. Kita harus mengupayakan agar kita yang berbeda itu sama-sama menjadi saksi bagi Kristus dan Allah. Perbedaan warna kulit, suku, ras, ajaran, denominasi gereja, bukan berarti apa yang kita saksikan dan persaksikan berbeda-beda juga. Semuanya satu dan disatukan dalam menyatakan pada orang-orang disekaliling kita, bahwa Allah yang mengasihi bumi telah mengutus Kristus bagi kita. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Allah setiap Hari</title>
		<link>http://pargodungan.org/memilih-allah-setiap-hari-bahan-naskah-khotbah-minggu-xxi-setelah-trinitatis-1-november-2009-ep-yosua-24-14-24/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/memilih-allah-setiap-hari-bahan-naskah-khotbah-minggu-xxi-setelah-trinitatis-1-november-2009-ep-yosua-24-14-24/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 14:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Setelah Trinitatis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[Bahan Naskah Khotbah Minggu XXI Setelah Trinitatis (1 November 2009) Ep. Yosua 24:14-24
Pengantar

Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Misalnya saja, seorang ibu akan memilih jenis masakan apa yang akan dihidangkannya untuk sarapan anak-anak dan suaminya. Atau, bapak-bapak akan memilih untuk nonton TV dulu atau membantu istri mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Anak-anakpun demikian. Intinya, semua orang selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Bahan Naskah Khotbah Minggu XXI Setelah Trinitatis (1 November 2009) Ep. Yosua 24:14-24</h3>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<ol>
<li>Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Misalnya saja, seorang ibu akan memilih jenis masakan apa yang akan dihidangkannya untuk sarapan anak-anak dan suaminya. Atau, bapak-bapak akan memilih untuk nonton TV dulu atau membantu istri mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Anak-anakpun demikian. Intinya, semua orang selalu memilih. Akan tetapi, pilih-memilih rupanya punya 2 macam/jenis. Pertama, kita memilih karena merasa terpaksa, ragu-ragu, atau merasa takut. Sedangkan yang kedua, kita memilih dengan perasaan senang, gembira, optimis, penuh keyakinan, penuh semangat, dan penuh keberanian. Kita bisa memilih sesuatu dengan ketulusan hati, mengerahkan seluruh tenaga, daya, dan upaya, sampai ‘setengah mati’. </li>
<p><strong>Penjelasan Teks</strong></p>
<li>Kita akan kembali membahas hal itu kembali nanti. Sekarang marilah kita lihat apa yang diberitakan Alkitab pada kita hari ini. Tentang Yosua, sudah barang tentu kita semua mengetahuinya. Minggu yang lalu kita telah menyaksikan bagaimana Allah meneguhkan dan menguatkan Yosua agar dapat menunaikan tugas dan tanggungjawab yang diembankan kepadanya untuk memimpin Israel ke Tanah Perjanjian. Pada perikop tadi kita membaca salah satu bentuk kepemimpinan Yosua. Rupanya ia sedang menghadapi satu soalan. Ia merasa perlu untuk mempertimbangkan kembali perjanjian Israel dengan Allah. Yosua harus memperjelas kembali komitmen Israel tentang siapa yang seharusnya mereka sembah. Ia harus mengetahui kepada siapa Israel beribadah. Ia juga harus mengetahui kepada siapa Israel merasa takut dan gentar (Yosua 24:14).</li>
<li>Dalam prosesnya, Yosua menanyakan persoalan paling vital dari Alkitab. Engkau telah menyaksikan apa yang diperbuat TUHAN (penyataan Allah) bagimu, sejak nenek moyangmu. Siapakah yang kau tentukan jadi Allahmu? Begitulah kira-kira inti dari maksud pertanyaan Yosua. Saya belum akan menerangkan bagaimana Israel menanggapi pertanyaan itu. Mungkin akan lebih baik jika Anda mencoba membukanya kembali di rumah nanti. Sekarang, kita mencoba berandai-andai. Andaikan saja saya adalah Yosua dan saudara sekalian adalah bangsa Israel. Jawaban apakah yang akan saudara berikan? Barang tentu, kita akan dengan mudah berkata: TUHAN-lah yang kupilih jadi Allahku. Ya, namun saya akan bertanya lagi. Pertama, saat kapan saja kita memilih TUHAN sebagai Tuhan kita?</li>
<li>Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan ayat yang penting di dalam perikop tadi: Yosua 24:15a, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Eufrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Apa yang dapat kita tangkap dari ayat ini? Ada dua hal:
<ul>
<li>Kita memilih TUHAN saat kita merasakan hal itu baik.</p>
<p>Adalah hal yang biasa kalau kita memilih hal yang terbaik bagi kita. Konyol rasanya jika kita memilih hal yang paling buruk. Tetapi untuk bisa memilih yang terbaik, tentu kita sudah mempertimbangkan untung-rugi, dampak positif dan negatifnya dan sebagainya. Pendek kata, kita harus tahu betul apa yang kita pilih dan memilihnya dengan pertimbangan yang bijaksana. Dalam konteks perikop ini, tentunya kita harus mengenal Allah dengan benar agar dapat memilihNya. Israel mempunyai alasan sendiri memilih TUHAN sebagai Allahnya. Kemampuan Israel memilih TUHAN terbantu oleh penyataan diri Allah itu sendiri. Tentu untuk itu, kita harus mampu merenungkan, mengingat apa yang telah dinyatakan Allah bagi kita? Itulah yang akan jadi dasar bagi pilihan kita atasNya.</p>
</li>
<li>Kita memilih TUHAN setiap hari, dimulai dari satu hari tertentu.
<p>Kalau kita sudah mengenal apa yang dinyatakan Allah bagi kita, tentu kita akan segera memilihNya. Saat dimana kita mengakuinya sebagai TUHAN-lah untuk pertama kalinya, itu sangat menentukan. Akan tetapi yang paling penting adalah, kita mampu memilih TUHAN sebagai Allah setiap hari. Mengapa setiap hari? Banyak alasan rasional lain yang bisa jadi alasan untuk memilih Allah satu hari. Pertama, karena berkat Allah juga datang bagi kita setiap hari; Kedua, karena Allah menyatakan diriNya kepada kita setiap hari; Ketiga, karena kita berpotensi untuk lari kepada ilah lain setiap hari (buktinya dengan dosa-dosa); dan lain sebagainya. </p>
</li>
</ul>
</li>
<li>Pertanyaan itu sudah terjawab. Kita memilih Allah saat dimana kita merasakan hal itu baik, dan itu pilihan itu harus ditentukan setiap hari. Kita masuk kepada pertanyaan kedua, bagaimana sikap kita agar dapat menentukan pilihan itu? Yosua 24:5b akan membantu kita, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Kata ‘Aku’ yang diucapkan Yosua perlu mendapat penekanan khusus. Sangat jelas diantara ribuan orang Israel, Yosua hanya sendirian (bersama keluarganya). Bandingkan kata Aku (tunggal) dengan Kamu sekalian (jamak).  Untuk dapat mengungkapkan satu hal yang berbeda dari sekian banyak orang, dibutuhkan kekuatan dan keberanian. Yosua dapat mengatakan “Aku dan seisi rumahku” dengan mantap karena ia punya satu keyakinan. Ia memiliki iman kepada TUHAN. Ia tahu bahwa TUHAN adalah pilihan terbaik baginya. Itulah sebabnya ia kuat, teguh dan berani mengatakan hal itu kepada semua orang. Memilih Allah baginya bukan hal yang memalukan sehingga harus ditutupi dari antara orang banyak. Memilih TUHAN sebagai Allah adalah suatu kesukaan. Memilih Allah tidak memerlukan keragu-raguan. Tidak boleh takut-takut. Itulah contoh sikap yang perlu dicontoh saat memilih Allah. Sekali lagi: harus dengan rasa optimis, bersemangat dan penuh kepastian! Beranikah Anda? Saya akan bertanya kepada saudara sekalian, “Siapakah yang Anda pilih jadi Anda Anda?” Jawab dengan lantang dan penuh kepastian! Ada Amin?</li>
<p><strong>Pesan Khotbah/Penutup</strong></p>
<li>Saudara-saudara yang terkasih di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kita. Perikop tadi mengungkapkan satu segi penting di dalam memilih Allah. Sama seperti yang telah saya singgung tadi, kita selalu berada di antara dua pilihan. Pilihan A atau B. Akan tetapi saat memilih Allah yang kepadaNya kita harus tunduk, tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Tidak boleh merasa takut sendirian di antara banyak orang yang tidak percaya kepada Allah.</li>
<li>Tentunya agar kita tidak ragu, kita harus berupaya mengenal diriNya setiap hari. Kita harus mengetahui apa yang dinyatakanNya pada kita dalam setiap perjalanan hidup kita. Mengenali apa yang dilakukan Allah dan memahami apa yang dikehendaki Allah akan menolong kita menghilangkan keragu-raguan yang menyesatkan.</li>
<li>Pula, kita tidak boleh menganggap bahwa pilihan pada Allah hanya sekali untuk selamanya. Kita juga harus memilih setiap hari: setiap hari memilih kepada siapa kita dedikasikan hati kita; setiap hari memilih kepada siapa kita beribadah; setiap hari memilih kepada siapa kita berdoa; dan setiap hari kita memilih kepada siapa kita untuk menyanyi dan memuji namaNya. Itulah satu segi kehidupan orang Kristen. Allah menjadi pilihannya setiap hari dengan penuh kepastian. </li>
<p align="center">Amin.</p>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/memilih-allah-setiap-hari-bahan-naskah-khotbah-minggu-xxi-setelah-trinitatis-1-november-2009-ep-yosua-24-14-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
