<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Teologi Kristen</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/category/teologi-kristen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Situs referensi pelayanan dan kehidupan Kristen.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 15:49:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>Allah Tritunggal</title>
		<link>http://pargodungan.org/allah-tritunggal/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/allah-tritunggal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 16:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[tritunggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1372</guid>
		<description><![CDATA[Ajaran ke-tritunggal-an Allah atau yang sering disebut dengan trinitas sering salah dipahami. Bagi sebagian orang menganggap bahwa Tuhan yang disembah oleh umat Kristen ada tiga, bahkan barangkali umat Kristen sendiri belum memahami hal ini dengan baik. Saya bukan seorang pakar dogmatika. Namun dalam kesempatan ini, saya mencoba menerangkan apa yang saya pahami dan imani terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ajaran ke-tritunggal-an Allah atau yang sering disebut dengan trinitas sering salah dipahami. Bagi sebagian orang menganggap bahwa Tuhan yang disembah oleh umat Kristen ada tiga, bahkan barangkali umat Kristen sendiri belum memahami hal ini dengan baik. Saya bukan seorang pakar dogmatika. Namun dalam kesempatan ini, saya mencoba menerangkan apa yang saya pahami dan imani terhadap ke-tritunggal-an Allah. Dalam tulisan ini saya akan mencoba memahami ajaran trinitas melalui konfessi HKBP Tahun 1996.<br />
Di dalam konfessi HKBP Tahun 1996, pasal 1 poin B tentang ke-tritunggal-an Allah disebut: “Kita mempercayai dan menyaksikan Allah itu esa dan di dalam penyataanNya yang tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, yang tidak berawal dan tidak berakhir. Dengan ajaran ini kita menolak ajaran triteisme yang mengatakan Allah orang Kristen itu ada tiga.<br />
Konfessi HKBP Tahun 1996 juga menguraikan pemahaman tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus tersebut.<br />
1.	Allah Bapa<br />
Allah Bapa atau disebut juga Allah Khalik diimani sebagai pencipta, pemelihara dan memerintah segala yang kelihatan dan tidak kelihatan. Kekuasaan-Nya mutlak dan keberadaan-Nya dari masa kekal hingga masa kekal (sebelum masa penciptaan hingga masa parousia. Allah Bapa inilah yang telah memilih Abraham (Kejadian 12:1-3) sebagai bapa leluhur bangsa Israel. Melalui Musa, Allah memperkenalkan diri-Nya (Keluaran 3:14). Dalam perjalanan sejarah, Allah berulangkali berfirman dengan pelbagai cara (Ibrani 1:1), bahkan Dia sendiri yang berinisiatif untuk memperkenalkan diri-Nya dalam rupa manusia. Firman telah menjadi daging (Yohanes 1:1). Demikianlah penulis Injil Yohanes memberi kesaksian tentang tindakan Allah. Manusia dengan seluruh keberadaannya tidak dapat mengenal Allah. Penalaran serta pengalaman tidak cukup untuk pengenalan akan pribadi Allah. Penghayatan serta pengenalan akan pribadi Allah hanya dapat diketahui sejauh penyataan Allah. Penyataan Allah hanya ditemukan melalui kesaksian orang-orang percaya di dalam Alkitab. Sifat serta kehendak TUHAN, Allah semesta alam diketahui sejauh bagaimana Dia sendiri dalam keber-ada-an-Nya memperkenalkan diri-Nya menurut kemampuan manusia.<br />
2.	Allah Anak<br />
Menurut kamu, siapakah aku ini? (Lukas 9:20). Demikianlah pertanyaan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya. Petrus dengan tegas menjawab: “Mesias dari Allah”. Menurut anda, siapa Yesus Kristus? Sejak pewartaan kerajaan Allah oleh Yesus Kristus, orang-orang di sekitar Galilea, bertanya-tanya, siapa gerangan yang bernama Yesus Kristus itu. Bahkan hingga saat ini, pertanyaan ini masih terus ditanyakan dan digumuli. Bagi sebagian orang, Yesus Kristus adalah Juru Selamat, Anak Allah Yang Tunggal, bahkan Dia adalah Allah. Bagi sebagian orang, dia adalah seorang pahlawan kecil dari sebuah desa yang mencoba mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dari penindasan bangsa Romawi. Bagi sebagian orang dia adalah seorang nabi yang diutus oleh Tuhan. Bagi sebagian orang Dia tidak ada bedanya dengan manusia-manusia lainnya yang mengajar dan mencoba mengarahkan manusia kepada kehidupan spiritual. Bagi anda sendiri, siapakah Dia?<br />
Yesus Kristus adalah firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:14). Allah dengan segala keber-ada-an-Nya yang tidak terselami dan tidak terkatakan mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7). Dalam diri Yesus Kristus Allah hadir secara lebih nyata dalam sejarah manusia. Di dalam diri Yesus Kristus, Allah turut mengambil bagian dalam penderitaan manusia. Dia menderita sengsara, mati, bangkit dan naik ke surga untuk membuktikan kesetiaan-Nya serta pengorbanan-Nya bagi penderitaan manusia. Dia adalah persembahan untuk pendamaian antara Allah Bapa dengan manusia. Yesus Kristus berseru ya Abba, ya Bapa” (Markus 14:36) yang menunjuk serta mengajarkan bagaimana kedekatan kepada Allah khalik. Di dalam doa bapa kami, serta pengajaran-Nya tentang meminta bahwa mintalah kepada Bapa di dalam namaKu (Yohanes 16:23b).<br />
3.	Allah Roh Kudus<br />
Roh Kudus adalah cara ber-Ada Allah yang terakhir. Allah Roh Kudus adalah penyataan Allah melalui Roh-Nya. Melalui Roh Kudus manusia dimampukan untuk percaya serta menyatakan kebenaran  tentang Yesus Kristus (Yohanes 15:26). Roh Kudus adalah Roh yang memampukan, memberi semangat, kekuatan, memberi pengeahuan untuk memahami kebenaran, hukum serta dosa (Yohanes 16:8-11).<br />
Rumusan kepercayaan Kristen tentang tritunggal itu di rangkum di dalam pengakuan iman apostolicum (rasuli). Dalam sejarah gereja, dogma Allah Tritunggal telah diuji keabsahannya. Melalui Konsili Athanasianum, hakekat Yesus Kristus sebagai manusia seutuhnya dan Allah seutuhnya dirumuskan. Tentunya persoalan ini tidak dapat dipecahkan oleh logika manusia. Bahkan dalam kesempatan ini, saya tidak sedang berusaha memberikan penjelasan yang rasional tentang hal ini.<br />
Memang doktrin tentang Allah Tritunggal tidak pernah secara eksplisit disebutkan dalam Alkitab. Namun bukan berarti ajaran ini tidak dapat dipertahankan. Beberapa nas dimengerti secara utuh dalam kaitannya dengan nas yang lain serta mempertimbangkan latar belakang konteks dari nas itu, menguatkan ajaran ini. Sebuah petunjuk yang saya tawarkan adalah rumusan doa berkat di dalam Bilangan 6:24-26, TUHAN disebutkan 3 kali. Ini merupakan sebuah petunjuk di mana Allah menyatakan diri melalui tiga cara ber-ada yang berbeda. Hal itu sepadan dengan 2 Korintus 13:13. Melalui Matius 28:19, yang adalah rumusan baptisan, telah terlihat bahwa sejak zaman mula-mula, orang-orang percaya telah memahami 3 cara ber-ada Allah atau 3 cara penyataan Allah.<br />
Apakah persoalan tentang Allah Tritunggal ini sudah terjawab? Tentu tidak. Namun, kiranya iman kita semakin diteguhkan melalui penjelasan singkat terhadap tiga cara Allah untuk menyatakan kasih-Nya. Hakekat Allah tetap satu adanya sebagaimana credo bangsa Israel: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4). Allah yang esa itulah yang menyatakan diri-Nya melalui tiga cara yang berbeda untuk menyakinkan manusia tentang keberadaan-Nya. Logika manusia tidak akan dapat sepenuhnya memahami hal ini. Penjelasan teologis oleh pakar teologi dogmatika sekali pun tidak akan pernah memuaskan pemikiran manusia yang tidak dinaungi Roh Kudus untuk berkata sebagaimana Rasul Tomas berkata: “Ya TUHAN-ku dan Allah-ku” (Yohanes 20:28). Amin.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Orangtua adalah Allah yang kelihatan?'>Orangtua adalah Allah yang kelihatan?</a> <small>Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/allah-tritunggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teologi Persembahan</title>
		<link>http://pargodungan.org/teologi-persembahan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/teologi-persembahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 11:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Persembahan]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi Persembahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Tulisan ini adalah karangan Pdt Bonar H. Lumbantobing, salah seorang Dosen STT HKBP Pematangsiantar. Karya ini pada mulanya disampaikan pada Rapat Pendeta HKBP tanggal 3 s/d 7 Agustus 2009 di Seminarium Sipoholon, Tarutung yang lalu. Jadi paparannya tentu dimaksudkan untuk konteks pergumulan Rapat Pendeta HKBP pada waktu itu. Artikel ini kami cantumkan lagi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://images.suite101.com/2049973_com_a_gift_tha.jpg" alt="Teologi Persembahan" align="left"  /><em>Catatan: Tulisan ini adalah karangan Pdt  Bonar H.  Lumbantobing, salah seorang Dosen STT HKBP Pematangsiantar. Karya ini pada mulanya disampaikan pada Rapat Pendeta HKBP tanggal 3 s/d 7 Agustus 2009 di Seminarium Sipoholon, Tarutung yang lalu. Jadi paparannya tentu dimaksudkan untuk konteks pergumulan Rapat Pendeta HKBP pada waktu itu. Artikel ini kami cantumkan lagi dengan tujuan untuk menambah referensi kita sekaligus untuk memahami Teologi Persembahan. Kalau Anda juga ingin menampilkan artikel Anda di situs ini, silahkan kirim lewat form <a href="http://pargodungan.org/kontak/">di sini</a>!</em></p>
<h3>1. Persembahan sebelum kedatangan Yesus Kristus</h3>
<h4>1.1. Persembahan: Allah Sumber Persembahan</h4>
<p>Dalam Perjanjian Lama LAI menggunakan terutama korban persembahan, selain dari kata persembahan saja, untuk menterjemahkan beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang dapat digolongkan pada korban atau korban persembahan. Banyaknya kata untuk persembahan menunjukkan juga banyaknya jenis-jenis korban persembahan yang dikenal oleh umat Israel.  Dalam perjalanan sejarah iman Israel, umat itu kemudian sampai pada tahap, di mana mereka meninjau ulang pelaksanaan korban-korban persembahan itu sesuai dengan kehendak Allah. Seluruh korban-korban yang beraneka ragam itu disatukan dengan menggunakan satu istilah saja, yaitu korbân. Istilah ini juga tidak membedakan lagi mana korban yang berdarah (<em>zébakh</em>) mana yang tidak berdarah (<em>minkhâ</em>).</p>
<p>Atas istilah yang satu itu, maka ditentukanlah lima jenis persembahan dari antara seluruh jenis yang sudah dikenal pada jaman sebelumnya, yaitu:</p>
<ul>
<ol>Korban bakaran,<em>‘olâ</em>,</ol>
<ol>Korban sajian, <em>minkhâ</em>,</ol>
<ol>Korban keselamatan, <em>syélém</em>,</ol>
<ol>Korban dosa, <em>khattât</em><em>,</em></ol>
<ol>Korban kesalahan <em>âsyâm</em>.</ol>
</ul>
<p>Korban-korban persembahan lainnya masih tetap berlaku, namun ke lima korban inilah yang dinilai sebagai inti dari seluruh korban persembahan yang beraneka ragam tersebut. Ke lima korban ini dijelaskan secara khusus dalam Imamat 1:1-6:7 dan Imamat 6:8-7:38.</p>
<p>Sampai di sini, terlihat belum ada kaitan dengan apa yang gereja kita jalankan dan pahami berkaitan dengan persembahan  Namun bila diperhatikan lebih dalam lagi, ke lima jenis persembahan di atas digolongkan pada tiga jenis:</p>
<p>Pertama: korban bakaran dan korban sajian dipersembahkan selalu bersamaan dan sifatnya dilihat sebagai pemberian atau persembahan dari pihak manusia pada Allah. Pada bagian ini tergolonglah korban-korban nazar, korban ucapan syukur dan korban buah sulung.<br />
Kedua: korban keselamatan adalah korban di mana sebagian dari yang dikorbankan dimakan juga oleh yang mempersembahkan, sehingga korban ini lebih bersifat ‘persekutuan’. Terhadapnya tergolonglah seluruh korban-korban yang bersifat persekutuan.<br />
Ketiga: Korban ‘penghapus dosa’ dan korban ‘penebus salah’, keduanya sifatnya adalah korban yang bersifat <em>pendamaian</em>.</p>
<p>Namun dalam perjalanan hidup Israel, pemahaman seperti ini sangat dekat dengan kesalahpahaman, seolah-olah seluruh persembahan itu terpisah-pisah dan dijalankan menurut kebutuhan seseorang saja, sehingga persembahan ditentukan oleh manusia  Itulah sebabnya dalam kitab Imamat persembahan dijelaskan lagi sebagai rangkaian upacara yang saling terkait dan saling melengkapi; beberapa persembahan itu digambarkan sebagai tahap-tahap upacara yang secara berurutan dijalankan, sehingga akhirnya dia terlihat menjadi satu kesatuan  Bila rangkaian pelaksanaan persembahan dalam Imamat 8 diperhatikan dalam hari tertentu, lalu Imamat 9 pada kesempatan yang berikut, selanjutnya Bilangan 28-29 sebagai rangkaian persembahan dalam waktu yang berkesinambungan (<em>pada hari Sabbat, pada bulan baru, pada minggu ketujuh, pada bulan ketujuh</em> dst), maka terlihatlah maksud utamanya adalah agar seluruh persembahan pada akhirnya dipusatkan dalam satu acara tunggal dengan makna tunggal yaitu <em>pendamaian</em>.</p>
<p>Bila pendamaian yang menjadi tujuan utama, maka itu datang dari pihak Allah pada manusia, seperti bagian ke tiga dalam bagan di atas. <em>Pendamaian  </em>adalah anugerah, adalah pemberian dan datang dari atas  Oleh karena itu persembahan adalah anugerah Allah, persembahan adalah pemberian Allah dan persembahan datang dari atas. Hal ini dimungkinkan, karena sudah terjadi ikatan antara Allah dengan umat Israel melalui perjanjian. Karena perjanjian inilah maka Allah selalu mengambil inisiatip untuk mengadakan pendamaian dengan umat Israel dan itu berlangsung melalui persembahan</p>
<p>Bila ayat-ayat yang mengatur persembahan diperhatikan, semuanya itu menunjukkan bahwa Allahlah yang berbicara (“Tuhan memanggil Musa dan berbicara kepadanya…”  atau “Tuhan berfirman pada Musa… “- Im  1:1; 4:1;5:14; 6:1). Allah yang menentukan persembahan itu dengan segala persyaratan dan kemungkinan-kemungkinannya, agar semua dapat memberi persembahan tanpa kecuali: ada yang sanggup memberi korban bakaran dari lembu jantan, atau yang mampu mempersembahkan domba, atau yang mampu mempersembahkan seekor burung, semuanya itu tetap berlaku sebagai korban bakaran. Semakin jelaslah terlihat, bahwa persembahan itu adalah berasal dari Allah. Inisiatip Allah untuk persembahan adalah dalam rangka pendamaian atas dasar perjanjian antara Allah dan umat Israel.</p>
<h4>1.2.  Persembahan: Dari Allah kembali pada Allah</h4>
<p>Dalam teknis pelaksanaan persembahan itu, terlihatlah bahwa manusialah yang aktif. Manusialah yang datang untuk mengucap syukur, untuk bernazar, untuk meneguhkan persekutuannya dengan Tuhan atau dengan sesamanya, untuk pencegahan malapetaka, mencegah hukuman akibat dosa dan kesalahan. Manusialah yang mempersiapkan segala bahan itu, dan para imamlah yang melaksanakan upacara itu untuk ‘mengadakan perdamaian’, ‘penghapusan dosa’, atau pun ‘penebusan salah’. Kalau sisi ini saja yang dilihat, maka dapatlah muncul dua pemahaman yang salah, sebagai berikut:</p>
<p>Pertama: Pemahaman yang salah bahwa persembahan yang bekerja sebagai ‘ex opere operato’</p>
<p>Israel pernah terjatuh pada pemahaman, bahwa bila seluruh syarat-syarat yang disebutkan oleh Allah diwujudkan, maka dengan sendirinya Allah akan menerima persembahan itu. Persembahan yang memenuhi syarat itu akan bekerja secara otomatis bahkan magis. Inilah yang ditolak dengan keras oleh para nabi (Amos 5; Hosea 6; Yesaya 1; Yeremia 7; dll) dan ditentang melalui doa-doa (Mazmur 40; 50; 51). Sekilas kecaman-kecaman itu seolah-olah mau menolak dan mengecilkan arti dari korban persembahan, pada hal persembahan itu sumbernya adalah Allah sendiri. Tetapi bila benar-benar dipahami secara menyeluruh, maka akan terlihatlah bahwa yang ingin ditekankan adalah perhatian pada inti persembahan itu sendiri</p>
<p>Dari uraian di atas sudah terlihat bahwa ’pendamaian’ dari pihak Tuhanlah syarat mutlak untuk membuat persembahan itu berhasil. Oleh karena itu sisi lain yang membuat persembahan itu ‘memenuhi syarat’ adalah bukan hanya elemen-elemen persembahan itu dan tata caranya, tetapi manusia yang mempersembahkan itu sendiri, apakah terbuka pada pengampunan dosa dan penebusan salah serta pendamaian dari Allah. Bila korban persembahannya memenuhi syarat, tetapi dia menindas orang-orang miskin, janda dan anak yatim, maka dia tidak sungguh-sungguh terbuka pada pendamaian yang akan dianugerahkan Allah padanya. Dia tidak datang untuk memohon, tetapi datang untuk memberi. Di sini Allah sendirilah yang disangkal sebagai sumber dari persembahan.</p>
<p>Selanjutnya, walau pun manusia aktif untuk persembahan namun pada akhirnya dia memohon melalui syarat-syarat itu, dan salah satu permohonannya adalah agar Allah berkenan menerima dia yang berdosa. Di sinilah persembahan menjadi penolakan akan penindasan. Segi ini mengembalikan Israel pada makna ibadah pada umumnya, yaitu ibadah yang diperkenalkan pada Israel atas dasar kebebasan dari perbudakannya: “Biarkanlah umatKu pergi, agar mereka beribadah kepadaKu&#8230;.” (Keluaran 7:16b; 8:1; 8:20; 9:1;9:13;dst). Ibadah tidak dilaksanakan dalam penindasan melainkan dalam pembebasan dari ketidakadilan. Atas dasar inilah maka ibadah dan dalam hal ini juga korban persembahan berlangsung dalam proses menegakkan keadilan.</p>
<p>Allah melalui Nabi Mika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkenan pada persembahan-persembahan Israel melalui korban bakaran, ribuan domba jantan dan puluhan ribu curahan minyak, tetapi yang dituntut Tuhan adalah “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu&#8230;.” (Mika 6:8). Allah tidak menerima korban persembahan yang sudah memenuhi syarat-syarat pelaksanaan itu, adalah karena konteks dijalankannya ibadah itu di mana korban bakaran dipersembahkan, yaitu keadilan, tidak diwujudkan. Demikianlah korban persembahan yang memenuhi syarat teknis hanya berkenan bagi Allah bila dia menjadi satu kesatuan dengan perjuangan untuk keadilan dan damai-sejahtera.<br />
<em><br />
Kedua: Pemahaman yang salah bahwa persembahan berarti ‘do ut des’</em></p>
<p>Penyimpangan yang dapat muncul melalui penekanan akan pemenuhan syarat-syarat teknis persembahan adalah anggapan bahwa manusia sudah bersedia menjalankan semua syarat, sekarang melalui persembahan ini giliran Allahlah yang memberikan. Motif utama dari persembahan itu adalah agar Allah yang memberi (<em>do ut des</em>).</p>
<p>Memang dalam pemberitaan Nabi Maleaki terlihat secara sekilas, seolah-olah Allah menuntut agar umat memberi perpuluhan dan sebagai balasnya Allah akan memberikan berkat melimpah pada umat (Maleaki 3:6-12). Namun pada dasarnya ini bukan perpuluhan dalam rangka do ut des, sebab Allah yang menentukan dan menyuruh perpuluhan itu. Selain itu makna perikop ini harus benar-benar dihubungkan dengan masalah persembahan yang dikecam Allah dalam Maleaki 1:6 s/d 29; serta Mal. 3:1-5. Kalau hanya Maleaki 3: 6-12 tersendiri dipahami, maka akan terjatuh pada pemahaman yang salah terhadap makna perpuluhan. Bahkan lebih daripada itu, perpuluhan harus dipahami dalam hubungannya dengan kitab Bilangan dan Ulangan, barulah perpuluhan dapat dilihat sebagai persembahan yang tidak bersifat do ut des.</p>
<p>Serangan terhadap penyimpangan yang bersifat do ut des ini terkandung juga di dalam pemberitaan Nabi-nabi. Israel terjatuh dengan menganggap Tuhan menanti-nantikan ‘makanan’ dari persembahan umatNya, seolah-olah Allah akan memenuhi kebutuhanNya melalui kesediaan Israel memberi persembahan. Pada hal seluruh bumi dan segala isinya, bahkan seluruh kehidupan ini adalah milik dari Tuhan sendiri. Dalam pengaturan persembahan itu, di mana kelihatan manusia yang menjadi aktif, sebenarnya sudah terkandung bahwa manusia tidak pernah ‘memberi’ melalui persembahan. Upacara-upacara itu diatur sedemikian rupa melalui tahapan khusus. Misalnya: Tahapan pertama, membawa binatang yang akan dipersembahkan ke pintu Kemah Suci atau ‘ke hadapan Tuhan’; adanya penumpangan tangan di atas binatang yang akan dikorbankan; tata cara penyembelihan; pemercikan darah dan akhirnya pembakaran. Semuanya itu menunjukkan bahwa korban permintaan yang diserahkan imam adalah ‘permintaan’ kepada Allah. Para imam itu tidak mengerjakan pendamaian tetapi mengadakan upacara pendamaian, itu berarti menyampaikan permintaan akan pendamaian itu. Jadi dia tidak memberi.</p>
<p>Hal ini diperjelas lagi bila kita mempertimbangkan seluruh bahan-bahan persembahan itu. Bahan-bahan itu adalah dari kebutuhan pokok sehari-hari umat, bahkan yang paling berharga dari milik mereka. Semua yang ada dalam kehidupan umat adalah berasal dari Allah semata. Bila Allah mengaturnya untuk persembahan, tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tetapi atas dasar perjanjian Allah, manusia diperdamaikan dengan manusia, sehingga Allah mengatur persembahan itu. Dengan demikian  Allah menolong manusia itu agar mampu untuk menyerahkan persembahan dari miliknya itu sebagai tanda pengakuan yang konkrit terhadap Allah yang telah melimpahi umatNya dengan berkat, dan mengaku bahwa Allahlah satu-satunya sumber dari berkat itu. Dengan mengaku bahwa Allah Mahamurah dengan memberi kehidupan dan berkat, maka umat pun dapat ’meminta’ sesuatu dari Allah sendiri.</p>
<p>Demikianlah pada akhirnya persembahan itu berasal dari Allah dan kembali pada Allah.</p>
<h4>1.3. Penatalayanan: Sambutan Manusia terhadap Persembahan</h4>
<h3>2. Sesudah Kedatangan Yesus Kristus</h3>
<h4>2.1. Persembahan dalam Jemaat Kristen Perdana</h4>
<p>Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menghantar jemaat Kristen pada pemahaman baru terhadap korban persembahan. Sebagaimana diterangkan di atas, seluruh korban persembahan itu memuncak pada dan menyatu di bawah pendamaian oleh Allah. Apa pun jenis-jenis persembahan lainnya terlihat hanya punya arti di dalam pendamaian dari Allah. Pendamaian sebagai puncak dari seluruh korban persembahan kemudian terpenuhi di dalam kematian Yesus di kayu salib. Dia adalah korban satu-satunya untuk pendamaian, yang berlangsung hanya satu kali untuk selama-lamanya. Imam Besar yang menjalankan korban ini adalah Yesus Kristus sendiri dan domba yang dikorbankan untuk pendamaian adalah juga Yesus Kristus sendiri (Bandingkan terutama pemberitaan dalam Ibrani 6 s/d 10).</p>
<p>Dengan kematian Yesus, yaitu korban satu-satunya dan sekali untuk selamanya, maka berakhirlah seluruh korban-korban persembahan dalam bentuk apa pun. Korban sajian, korban ucapan syukur, persembahan perpuluhan, korban keselamatan dan yang lain –lainnya berakhirlah sudah. Semuanya sudah terpenuhi di dalam korban Yesus Kristus untuk pendamaian antara manusia yang berdosa di sepanjang abad dengan Allah yang kekal.</p>
<p>Pengakuan ini kemudian dirayakan pada hari kebangkitan Yesus, di mana jemaat selalu berkumpul, yaitu pada hari Minggu. Jemaat yang berkumpul itu adalah jemaat yang percaya pada Allah sebagaimana diberitakan dalam Perjanjian Lama, bahkan memegang dan mengakui  Kitab yang kemudian jemaat Kristen sebut sebagai Perjanjian Lama, dan masih tetap mengunjungi Bait Suci. Oleh karena itu, dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, kebaktian Yahudi mempengaruhi.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, kebaktian-kebaktian Yahudi mempunyai corak dan bentuk tersendiri berkaitan dengan tempatnya dirayakan, yaitu: kebaktian di Bait Suci, kebaktian di Sinogoge dan kebaktian di rumah. Kebaktian yang beraneka ragam menurut tempat itu mempengarhui perkumpulan orang-orang Kristen:<br />
•	Persembahan korban di Bait Suci mempengaruhi makna yang diberikan pada acara makan Paskah yang kemudian disebut oleh orang Kristen sebagai Perjamuan Kudus. Memang makan Paskah itu adalah perayaan rumah, tetapi makna teologis yang diyakini jemaat Kristen adalah muncul dari perayaan di Bait Suci akan korban-korban persembahan.<br />
•	Kebaktian di Sinagoge mempengaruhi kebaktian Kristen berkaitan dengan doa-doa, pembacaan Kitab Suci termasuk pembacaan surat-surat dari para Rasul dan nyanyian-nyanyian Mazmur.<br />
•	Kebaktian di rumah Yahudi ada dua, yaitu Makan Paskah pada Kamis malam sebelum hari Paskah Yahudi, dan acara makan menyongsong Sabbat, yang dilaksanakan setiap hari Jumat sore. Struktur liturginya hampir sama, tetapi untuk menyongsong Sabbat berlangsung sangat singkat dan sederhana. Kebaktian Kristen sudah mengadopsi Makan Paskah dengan mengisi makna korban persembahan dari perayaan di Bait Suci. Selain itu mengadopsi makan menyongsong Sabbat dengan acara makan bersama yang disebut kemudian dengan Perjamuan Kasih (Agape).</p>
<p>Setelah jemaat Kristen makin terpisah dari Keyahudian, maka mereka terpisah juga dari Bait Suci. Hal ini dipengaruhi juga oleh hancurnya Bait Suci pada tahun 70. Oleh karena itu perkumpulan Kristen lebih merupakan perkumpulan rumah dengan acara seperti yang kemudian digambarkan dalam Kisah Rasul 2:41-47; 4:32-36; 20:7-11; I Korintus 11. Bila direkonstruksi, maka kebaktian Jemaat Kristen Perdana itu terdiri dari 2 bagian, yaitu:</p>
<p>Pertama: apa yang disebut dengan synaksis: dalam perkumpulan ini struktur liturginya belum baku, khotbah seperti yang kita kenal sekarang belum ada, tetapi unsur-unsur tertentu dari liturgi sinagoge sudah dimasukkan seperti adanya Doxologi pada akhir doa, seruan sanctus (tiga kali seruan “kudus”) dari Yesaya 6 (juga Wahyu 4:8), seruan ‘amin’ (band i Kor. 14:16; Wahyu 5:14), seruan ‘haleluya’ (Wahyu 19:1, 3, 4, 6;), jam-jam doa (band. Kis Rasul 3:1; 10:9), tiga nyanyian yang sekarang ada dalam Injil Lukas (Lukas 1:48-56, 68-79; 2:29-32),   dan beberapa nyanyian yang sekarang terdapat dalam kitab Wahyu ( Wahyu 4:8,11; 5:9-13; 7:10, 12; 11:17-18; 12:10-15; 19:1-2, 5-7;). Selain itu muncul asepk baru dalam perkumpulan jemaat perdana yaitu adanya karunia-karunia khusus, yang penampakannya terlihat juga dalam kebaktian, dan kelihatannya belum diatur dengan baik (I Korintus 12 dan 14). Aspek baru yang muncul adalah nyanyian-nyian dan pujian-pujian yang tidak ditemukan dalam tradisi Yahudi, yang isinya menampakkan pengakuan iman (I Kor 12:3; 15:3-5; Ef 5:14; Fil. 2:2-11; 1 Tim. 3:16; Wahyu 4:8, 11; 5:9 dan lain-lain).</p>
<p>Kedua: Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih (Agape): Perjamuan Kudus ini adalah perayaan yang berasal dari Perayaan Makan Paskah dalam tradisi Yahudi, di mana Yesus merayakannya pada hari Kamis sebelum kematianNya, namun diberi isi yang baru oleh jemaat Kristen atas dasar penetapan Yesus dalam acara Makan Paskah itu. Perayaan Perjamuan Kudus menjadi perayaan di mana Yesus hadir di tengah-tengah jemaat. Pemahaman tentang Yesus adalah korban Paskah untuk pendamaian, juga dirayakan dalam perjamuan ini.<br />
Selain itu setelah Perjamuan Kudus diadakan acara makan bersama yang oleh orang Kristen kemudian menyebutnya dengan Perjamuan Kasih (Agape). Perjamuan ini kemungkinan sejajar dengan upacara makan bersama di rumah dalam menyongsong hari Sabbat.</p>
<p>Kalau kita kembali ke thema ceramah ini, yaitu berkaitan dengan persembahan, maka pertanyaan yang dapat muncul adalah, di manakah letak teologi persembahan yang sudah mereka warisi dari keYahudian melalui Perjanjian Lama?</p>
<p>Bila diteliti dengan seksama, maka ternyata seluruh penekanan teologi persembahan berkaitan dengan ketiga hal di atas, di mana Allah adalah sumber persembahan, dan apa yang dari Allah kembali pada Allah, dan sambutan akan persembahan sebagai penatalayan dalam wujud perjuangan keadilan, maka akan terlihatlah bahwa penekanan itu berlanjut dalam jemaat Kristen perdana. Tetapi persembahan seperti yang ada dalam Perjanjian Lama sudah berhenti. Terhentinya korban persembahan bukan karena perintah Yesus, sebab Yesus tidak pernah menolak korban persembahan, tetapi motivasi dalam menjalankannya agar sesuai dengan kehendak Allah, itulah yang dinyatakan Yesus. Tugas sebagai penatalayan menjadi penekanan penting dalam ajaran Yesus termasuk tentang pemahaman ulang akan harta dan milik. Semuanya itu menghantar jemaat kembali pada makna persembahan yang asli. Namun di manakah wujud dari persembahan itu dalam perkumpulan Kristen yang tidak lagi berkaitan dengan Bait Suci?</p>
<p>Tugas sebagai penatalayan secara konkrit diwujudkan dalam perkumpulan untuk Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih (Agape). Bila direkonstruksi dari apa yang disampaikan Paulus dalam I Korintus 11, maka seperti diuraikan tadi terlihatlah bahwa mereka merayakan pertama sekali Perjamuan Kudus, lalu disusul dengan Perjamuan Kasih. Dalam Perjamuan Kasih tersedia makanan yang dibawa oleh mereka yang mampu. Bagi yang tidak mampu tidak akan membawa apa-apa. Ketika mereka makan bersama dalam Perjamuan Kasih, terlihatlah bahwa setiap orang akan memperoleh makanan secara sama, walau pun pada dasarnya mereka tidak sama dalam hal kemampuan. Perjamuan Kasih melenyapkan seluruh perbedaan itu. Dalam jemaat Korintus memang terjadi penyimpangan. Rupanya warga jemaat yang miskin yang tidak dapat membawa apa-apa datang agak belakangan menunggu pekerjaannya entah sebagai budak, selesai. Mereka yang lebih kaya, sudah datang terlebih dahulu dan membawa makanan. Tetapi karena mereka sudah lapar, maka mereka memutuskan agar acara diubah, yaitu mendahulukan Perjamuan Kasih, barulah Perjamuan Kudus. Ketika kalangan miskin datang, Perjamuan Kasih sudah selesai, dan setelah Perjamuan Kudus, mereka pulang dengan perut lapar. Inilah yang ditegur oleh Paulus. Perjamuan Kasih harus belakangan, agar terlihat bahwa yang mmampu dan yang tidak mampu boleh bersama-sama makan. Inilah yang terlihat dalam tugas penatalayan sebagaimana terlihat dari Perjanjian Lama sebagai dampak dari persembahan.</p>
<p>Dengan demikian kita dapat melihat bahwa teologi persembahan ini sekarang nyata di dalam Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Persembahan-persembahan lain tidak disebut-sebut, walau pun tidak pernah ditolak. Sebab Yesus tidak pernah menolak korban persembahan, tetapi mengembalikan pelaksanaan korban persembahan itu pada motivasi yang sebenarnya seperti dalam Perjanjian Lama.</p>
<h4>2.2. Persembahan dalam Jemaat sekitar Perjanjian Baru.</h4>
<p>Seperti yang disebutkan di atas, jemaat perdana memahami bahwa seluruh korban persembahan telah berakhir di dalam Yesus Kristus, sehingga persembahan apa pun yang selama ini dikenal oleh umat, telah disempurnakan di dalam korban oleh Yesus Kristus sekali untuk selamanya. Hal tersebut dirayakan dalam kebaktian-kebaktian jemaat perdana tersebut. Ketika kitab-kitab dan surat-surat yang kemudian menjadi Perjanjian Baru perlahan-lahan ditulis dan dikumpulkan serta beredar di jemaat, maka di dalamnya termaktublah keyakinan jemaat perdana tadi baik di dalam ucapan Yesus, mau pun dalam tulisan para Rasul.</p>
<p>Di dalam Kitab-kitab Injil, Yesus tidak pernah mengutuk korban persembahan Yahudi. Khotbah Yesus malah menunjukkan bahwa mezbah dan korban persembahan adalah bagian yang sah dari penyembahan akan Allah ( Mat. 5:23 dab; 23:18dab;). Memang Yesus mengecam sikap kaum Farisi, agar mengingat bahwa yang Allah kehendaki adalah belaskasihan, bukan koraban (Mat. 9:13; 12:7), namun ini bukan berarti penolakan terhadap persembahan. Bait Suci juga memang dinilai oleh Yesus (seperti dalam Mat. 12:6; 26:61; band dengan 27:40; Yoh. 2:19; 4:21)  namun itu menunjukkan bahwa korban persembahan itu adalah bersifat sekunder dan akan lenyap juga, karena korban persembahan itu bagian dari masa yang akan segera berlalu ini. Di dalam Yesuslah terwujud kebenaran sehingga korban persembahan berakhir.</p>
<p>Oleh karena itu kita akan melihat, ajaran Yesus selanjutnya bukan lagi tentang persembahan dalam rangka Perjanjian  Lama lagi, tetapi persembahan dalam jaman yang baru ini. Kebebasan dalam memberi persembahan menjadi ciri dari jaman baru ini, karena persembahan itu mengacu pada apa yang Yesus korbankan sebagaimana dirayakan dalam Perjamuan Kudus. Jemaat bebas untuk memberi seperti Farisi yang memberi sepersepuluh (Mat. 23:23; Luk. 18:12) atau seperti Zakeus yang memberi setengah dari apa yang dia miliki (Luk. 19:18) atau seperti janda miskin yang memberikan seluruhnya (Mark. 12:44) tergantung pada kebebasan yang diberikan oleh Yesus Kristus.</p>
<p>Sebagai lanjutannya, Yesus tidak lagi terlalu memusatkan ajaran langsung pada thema persembahan, tetapi berkaitan dengan penatalayanan sekaligus pandangan akan milik dan apa yang ada di dunia ini, sebagaimana kita lihat dalam perumpamaan tentang<br />
•	’orang kaya yang bodoh’ (Lukas 12:13-21) yang menolong jemaat untuk tidak bersandar pada harta-benda, tetapi pada Allah yang adalah Pemilik dan Penguasa atas hidup dan kehidupan sementara manusia hanya peminjam saja;<br />
•	’bendahara yang tidak jujur’ (Lukas 16:1-8) di mana murid diajak untuk memahami bahwa harta di dunia ini walau sangat penting, namun tidak akan membawa pada tujuan kehidupan jaman baru ini, yaitu ’kemah abadi’;<br />
•	’setia dalam perkara kecil, setia dalam perkara besar’ (Lukas 16:9-15) yang menunjukkan adanya kebebasan dari Allah yang memberi sesuai kehendaknya, namun orang percaya akan menyambutnya dengan sikap yang sama, baik yang kecil mau pun yang besar;<br />
•	’orang kaya dan Lazarus yang miskin’ (Lukas 16:19-31) yang mengingatkan para murid, bahwa pengelolaan harta sangat menentukan dan berkaitan dengan kesempatan dalam waktu sekarang ini untuk memasuki hidup kekal. Bukan kekayaan yang menjauhkan orang kaya dari pangkuan Abraham, melainkan pengelolaannya.</p>
<p>Walau pun secara singkat, namun sudah dapat ditunukkan bahwa pemberitaan ini mengembalikan pada inti pemberitaan Perjanjian Lama tentang penatalayanan dari umat yang memberikan korban persembahan dibawah naungan korban utama yaitu pendamaian. Saat ini di dalam Yesus Kristus, penatalayanan itu diulang kembali. Oleh karena itu prinsip-prinsip persembahan dalam jaman baru ini serta penatalayanan umat percaya seperti yang diterangkan di atas, ditunjukkan secara konkrit dalam kebaktian jemaat Kristen. Bentuknya menjadi sangat baru dan konkrit serta transformatif. Untuk itu marilah kita lihat sejenak ciri kebaktian Kristen Jemaat sekitar jaman Perjanjian Baru, sebagaimana terlihat dalam Kisah Rasul dan Surat-surat Paulus.</p>
<p>Dalam uraian sebelumnya sudah mulai terlihat pengaruh kebaktian synagoge terhadap kebaktian Kristen. Dalam perkembangan selanjutnya, kebaktian itu semakin mempunyai bentuk yang teratur dan berulang-ulang dirayakan dalam bentuk yang tetap. Pertama yang kita lihat adalah Synaksis yang bentuknya sebagai berikut:<br />
•	Pendahuluan melalui ucapan salam dan sambutan jemaat<br />
•	Membaca dari Kitab Suci (dalam hal ini Perjanjian Lama)<br />
•	Berdoa dengan enyanyikan Mazmur<br />
•	Membaca Surat Kiriman Rasul<br />
•	Membaca Injil<br />
•	Khotbah<br />
•	Melepas para calon baptis untuk kembali terlebih dahulu ke rumah masing-masing<br />
•	Doa-doa<br />
•	Melepas jemaat kembali ke rumah masing-masing.</p>
<p>Sekilas, kebaktian seperti ini tidak menunjukkan adanya aspek baru berkaitan dengan persembahan sesuai dengan ajaran Yesus seperti di atas. Namun bentuk kebaktian yang lain masih ada pada waktu itu, yaitu Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Pada Gereja Perdana terlihar bahwa aspek penatalayanan dan kerohanian persembahan itu ternyata di dalam Perjamuan Kasih (Agape), di mana semua boleh menerima makanan secara bersama, baik yang berpunya mau pun yang tidak berpunya.</p>
<p>Ketika jemaat semakin besar jumlahnya sehingga tidak mungkin lagi berkumpul dan duduk bersama di sekitar meja yang satu di rumah-rumah. Oleh karena itu kebaktian mengambil tempat di ruangan yang lebih besar, sehingga Perjamuan Kasih akhirnya tidak terlaksana lagi, tinggal hanya Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus pun jadinya tidak terikat lagi pada jam makan malam waktu Perjamuan Kasih, sehingga dapat dilaksanakan pada pagi atau siang hari.</p>
<p>Selanjutnya perayaan Perjamuan Kudus jadinya mengalami perkembangan. Didorong oleh kerokhanian persembahan dan penatalayan jemaat selalu membawa roti, anggur, minyak zaitun, buah-buahan, bunga dan lain-lain. Seperti dalam Kisah Rasul semuanya itu diletakkan ’di kaki para Rasul’, artinya kemudian adalah di altar. Setelah sebagian darinya disisihkan untuk bahan Perjamuan Kudus, maka seluruh pemberian itu diserahkan pada orang-orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Demikianlah bentuk ’persembahan’ orang Kristen dalam jaman baru, setelah seluruh korban disatukan dalam pengorbanan Kristus sekali untuk selamanya.</p>
<p>Rasul kemudian bertugas membagikannya, namun karena tugas sudah semakin banyak, sebagaimana diberitakan dalam Kisah Rasul 6, maka dipilihlah para diaken untuk mengerjakan tugas rasul dalam bagian penyediaan makanan bagi jemaat dan pemeliharaan orang miskin. Diakenlah yang mengelola seluruh persembahan dan persembahan harus habis saat itu dibagikan, tanpa saldo sama sekali.</p>
<p>Perkembangan ini pun akhirnya mempengaruhi bentuk liturgi Perjamuan Kudus. Marilah kita perhatikan kebaktian pertama tadi: setelah para calon baptis diperkenankan pulang, maka jemaat pun diberi kesempatan untuk mengantarkan persembahannya ke ’kaki Rasul’ (baca: altar). Kemudian seluruh pemberian dan persembahan itu didoakan. Inilah yang disebut dengan Offertory. Inilah doa yang tidak dikenal dalam tradisi Yahudi, tetapi muncul sesudah Kristus mengakhiri seluruh korban persembahan. Offertory menjadi penting dalam teologi persembahan dalam jaman yang baru ini. Oleh karena itu urutannya pun menjadi sebagai berikut:</p>
<p>•	<em>Offertory </em>: mendoakan seluruh pemberian jemaat.<br />
•	Doa :berkaitan dengan pemebrkatan roti dan anggur, dan mengucapkan terimakasih karena anugerah Tuhan itu. Itulah sebabnya Perjamuan Kudus disebut sebagai ucapan syukur  atau <em>eucharistie</em>. Penekanan adalah pujian pada Allah atas kelepasan dari dosa.<br />
•	<em>Fraction </em>: «memecah-mecah roti » dilaksanakan segera sesudah doa dan pemberkatan selesai. Bagian ini lebih menginat akan Tubuh Kristus yang mati untuk dosa-dosa manusia. <em>Dipatupa jalo dung sidung tangiang dohot na mamasumasu. On ma na mangingot daging ni Kristus na dilehon tu hamatean. [terj. Batak: Diselenggarakan segera setelah doa dan berkat. Inilah yang mengingat tubuh Kristus yang diserahkan pada kematian.</em><br />
•	<em>Communio</em>: roti dan anggur dibagi-bagikan ke pada jemaat sehingga mereka menjadi satu persekutuan dari roti yang sama dan cawan yang sama.  Inilah akhir dari Perjamuan Kudus.</p>
<p>Demikianlah secara konkrit, bagaimana persembahan dijalankan dalam jemaat Kristen berkaitan dengan pengorbanan tunggal dan sekali untuk selamanya oleh Kristus. Persembahan jadinya selalu terkait dengan Perjamuan Kudus. Buah dari keterkaitan persembahan dengan Perjamuan Kudus ini adalah terkumpulnya pemberian jemaat untuk kepentingan orang-orang miskin, atau dalam pengistilahan saat ini, untuk diakonia. Sehingga Perjamuan Kudus, Persembahan dan Diakonia menjadi satu kesatuan.</p>
<h4>2.3. Persembahan dan penatalayanan</h4>
<p>Jemaat Kristen jaman Perjanjian Baru dan sesudahnya kemudian mempunyai corak yang baru. Sesudah jaman para Rasul seluruh jemaat akhirnya menyatu di dalam kepengurusan dari tiga serangkai yang tidak terpisahkan, yaitu <em>episkopos</em>, <em>diakonos </em>dan <em>presbyteros</em>. Pemberitaan Firman dan Pelayanan Sakramen yang menjadi tugas <em>Episkopos</em>, tidak pernah terpisah lagi dari <em>diakonos</em>. Dalam kebaktian-kebaktian, <em>diakonos </em>sebagai ‘pelayan meja’ mendampingi episkopos dalam doa, dalam mempersiapkan Perjamuan Kudus dan dalam membagi-bagikannya pada jemaat yang hadir mau pun yang tidak hadir dalam ruangan kebaktian saat itu. <em>Diaken </em>menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari <em>diaken</em>. Pemberitaan Firman dan Sakramen menjadi satu kesatuan senantiasa dengan Diakonia. Dalam jaringan kerja inilah seluruh persembahan dikumpulkan dan dikelola dan yang bertanggungjawab untuk itu adalah diaken. Harta jemaat pun dengan demikian  dikelola oleh para diaken. Yang dimaksud dengan harta jemaat adalah segala sesuatu yang dipersembahkan jemaat untuk diakonia. Dengan demikian ke-personalia-an gereja dipengaruhi oleh karya diakoninya.</p>
<p>Bahkan struktur pelayanan berdasarkan pembagian daerah pun didasarkan pada tugas diakonia jemaat. Dalam Kisah Rasul 6 diberitakan terpilihnya 7 orang Diaken. Dibalik ini memang tetap ada bilangan tujuh dengan maknanya sendiri, tetapi itu juga berkaitan dengan pembagian daerah pelayanan setiap diaken, di mana mereka membagi daerah itu ke dalam 7 bagian untuk memudahkan. Kebiasaan ini diteruskan dalam jemaat-jemaat lain yang kemudian memilih diakennya. Roma sendiri sebagai kota yang besar, juga tetap terbagi 7 sesuai dengan pembagian diakonia. Pengorganisasian jemaat juga akhirnya mengikuti struktur diakonal jemaat. Itu berarti pembagian administratip pun didasarkan pada diakonia.</p>
<p>Bahkan tugas pelayanan pun pada akhirnya dipengaruhi oleh diakonia itu sendiri. Seorang yang akan bertugas sebagai Bishop, harus terlebih dahulu bertugas sebagai diaken, karena sesuai dengan Kisah Rasul 6, tugas Episkopos dan Diakonos adalah satu tugas dengan dua corak. Oleh karena itulah maka tidak mungkin Bishop dilihat mampu menjalankan tugasnya bila belum menjalani tugas diaken. Bukan sebaliknya, yaitu bishop dulu baru menjadi diaken. Itulah sebabnya beberapa gereja sampai saat ini mewajibkan seluruh calon pendeta untuk bertugas dulu sebagai diaken, sebelum ditahbiskan menjadi pendeta.</p>
<p>Atas dasar karya diakonia inilah gereja hadir di tengah-tengah dunia menjadi alat untuk pembaharuan (trnasformasi). Semuanya itu adalah karena Kristus sebagai Imam yang mengorbankan DiriNya sekali untuk selamanya, dirayakan selalu dalam Perjamuan Kudus dan menaungi persembahan-persembahan jemaat. Setiap Perayaan itu selesai diikuti, maka jemaat selalu semakin dikuatkan oleh kesediaan Yesus terpecah bagi yang lain dan darahNya tercurah bagi yang lain. Warga jemaat jadinya memecahkan tubuhna dan menumpahkan darahnya melalui perjuangan untuk keadilan dan damai-sejahtera, sehingga terjadilah transformasi dalam masyarakat.</p>
<p>Oleh karena itulah maka gereja tidak pernah kekurangan, karena dari dirinya terus keluar tanpa saldo demi perjuangan keadilan dan damai-sejahtera. Tidak ada persembahan yang ditahan oleh gereja untuk kepentingannya, tetapi terus mengalir tanpa henti-hentinya, sehingga persembahan pun makin banyak mengalir. Gereja tinggal menghimbau jemaat untuk karya diakonia jemaat sehingga semuanya terlibat penuh. Gereja tidak mencari sumbangan, mencari donatur, meminta sana sini karena pertimbangan kepentingan gereja itu sendiri bagi dirinya. Bukan demikian. Gereja bahkan memperoleh kebutuhannya dari diakonia. Diakoni tidak dijalankan sesudah ’kebutuhannya terpenuhi’. Bahkan, gereja tidak mungkin membicarakan dan mendiskusikan persembahan karena sedang dalam keadaan krisis keuangan. Gereja mengalami krisis keuangan bila karya diakonia tidak berlangsung lagi.</p>
<p>Oleh karena itulah maka persembahan itu pada akhirnya terkait dengan struktur politik bangsa, struktur ekonomik dan budayanya, menentukan struktur gereja dan jenis jabatan yang ada padanya, sehingga semuanya membawa perubahan. Perubahan yang terjadi adalah perubahan atas dasar jaman baru yang dibawa oleh Kristus.</p>
<h3>3. Refleksi</h3>
<p>Wajah dunia berubah dengan munculnya kekristenan. Perubahan itu bila dibariskan satu persatu akan menunjukkan bahwa masuknya gereja ke dalam dunia adalah melalui karya diakonia. Pada awal kekristenan mulai muncul di dunia Romawi-Yunani, maka berubahlah sikap terhadap anak-anak yang sering dibuang karena tidak diinginkan (infanticide), penelantaran anak, aborsi,  mengorbankan orang untuk dewa-dewa dan bunuh diri. Pada tahap selanjutnya, kehadiran Kristen merobah pandangan tentang kehidupan sexual yang menyimpang sehingga hidup perkawinan semakin dianggap mulia. Secara perlahan pengaruh kekristenan mengubah kedudukan perempuan, terutama dengan munculnya para diakones di dalam sejarah gereja sejak awal abad ke 4.</p>
<p>Pada abad ke 4 mulailah didirikan rumah-rumah sakit di dalam kompleks perumahan Bishop, rumah-rumah penampungan para pengungsi, Selanjutnya muncul juga pemeliharaan dan pembelaan bagi para janda, munculnya panti-panti asuhan, penampungan bagi mereka yang mengalami gangguan mental, penampungan bagi para peziarah dan orang-orang yang dalam perjalanan, panti jompo pemeliharaan untuk yang berpenyakit kusta. Selain itu usaha untuk menegakkan hak-hak pekerja, penghapusan perbudakan dan dengan sendirinya memperbaiki sistim ekonomik lebih memihak yang lemah. Pada giliran lain muncullah sekolah-sekolah melalui biara-biara, pengembangan pertanian dan penemuan-penemuan ilmiah oleh para rahib dan pengembangan ilmu hingga berdirinya Universitas.</p>
<p>Semuanya itu adalah atas karya diakonia dari Gereja. Setiap Gereja bergerak melalui diakonia, wajah dunia selalu berubah mendekati dunia yang lebih adil dan mendekati damai-sejahtera. Hal yang sama di dalam sejarah Gereja Batak juga. Seluruh penginjilan di Tanah Batak berwajah diakonia menuju transformasi. Sejak awal sekolah-sekolah didirikan, baik bagi murid perempuan mau pun laki-laki. Guru-guru pribumi dimandirikan pada awal Kekristenan. Kompleks gereja dibangun sedemikian rupa menjadi satu kesaksian akan suatu hidup yang komprehensip tanpa mengenal yang jasmani mau pun rohani. Sistim itulah yang disebut dengan ’<em>pargodungan</em>’. Sistim <em>pargodungan </em>telah mencelikkan mata jemaat untuk pola hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam bidang ekonomi, kesehatan pendidikan dan persekutuan. Pada gilirannya sistim ekonomik seluruh masyarakat pun diubah. Hari pekan misalnya yang berlangsung sekali dalam 4 hari, membuat sistim ekonomi pasarnya tidak efisien. Memang ada keluhan para Missionaris bahwa dengan sistim pasar sekali empat hari akan membuat hari pasar pada saat tertentu jatuh pada hari Minggu. Namun bukan hanya alasan ini saja, tetapi untuk pengembangan ekonomi masyarakat, maka Missionaris menentukan agar hari pekan berlangsung sekali dalam satu Minggu saja.</p>
<p>Demikianlah sekolah-sekolah berdiri, baik sekolah umum mau pun sekolah kejuruan untuk kaum perempuan mau pun laki-laki. Rumah sakit, penampungan yang berpenyakit kusta, orang buta, panti asuhan, pemeliharaan anak-anak yang ditinggal mati ibunya berjalan secara serentak. Selain itu penegakan hukum dijalankan sehingga berakhirlah permusuhan antar desa dan marga, berakhirlah penyiksaan karena terlilit hutang, terhapuslah perbudakan.</p>
<p>Dalam hidup berjemaat terdapat wujud yang luar biasa. Pada tahun 1899 berdirilah Yayasan Pekabaran Injil milik pribumi yang pertama dengan dana sendiri. Tanpa henti-hentinya mengalirlah persembahan-persambahan dari desa-desa melalui pesta-pesta Zending. Keuangan Yayasan ini pada saat tertentu malah melampaui keuangan Zending Barmen, hingga pada akhirnya Yayasan itu dilebur menjadi satu dengan Gereja HKBP. Terlihatlah di tengah-tengah kondisi ekonomik masyarakat pada saat itu, mereka mampu melalui persembahan itu untuk penginjilan.</p>
<p>Dengan wajah diakonal dari penginjilan itu tertolonglah jemaat untuk mengenal bahwa persembahannya pun diarahkan pada diakonia. Demikianlah misalnya jemaat Pearaja yang miskin itu, mampu mengumpulkan dana sebanyak DM 2.000,- sebagai sumbangan jemaat lokal untuk Sumah Sakit Pearaja. Kemungkinan jumlah itu sama dengan USD 10.000,- pada masa kini. Ucapan syukur jemaat bila diperhatikan selalu tertuju pada diakonia dan Zending. Bila kita periksa Buku Tingting hingga tahun 1950-an akan terlihat bahwa seluruh hamauliateon ditujukan pada Zending dan Diakoni, atau dengan menunjuk Elim, Hephata. Sesudah munculnya dunia kapitalisme dengan globalisasinya, bergeserlah sasaran hamauliateon pada pribadi-pribadi tertentu atau kelompok-kelompok dalam jemaat sendiri. Perhatian pada diakonia semakin memudar.</p>
<p>Di saat diakonia akhirnya makin terlupakan, <em>pargodungan </em>cenderung untuk gedung pesta karena secara dana lebih menjanjikan, karena sekolah-sekolah dianggap menjadi beban, karena hidup pertanian dan pengembangan ekonomik dilepas pada globalisasi, maka terjadilah krisis keuangan gereja di beberapa tempat. Krisis kemudian ditangani dengan memikirkan bagaimana pemasukan dapat lebih banyak lagi. Lalu mulailah melirik kiri-kanan, bagaimana gerakan-gerakan lain melimpah dalam dana melalui persembahan-persembahannya atas dasar khotbah-khotbahnya, tanpa sadar bahwa itu berkaitan dengan spirit kapitalisme dan globalisasi yang sedang berlangsung.</p>
<p>Daripada memperpanjang keluhan-keluhan ini, lebih baik kita kembali merenungkan agar kembali pada tiga serangkai seperti yang disebutkan di atas, yaitu kesatuan Perjamuan Kudus, Persembahan dan Diakonia. Bila salah satu diabaikan, maka akan terjadilah krisis keuangan gereja, jemaat kehilangan arah untuk menyerahkan persembahan dan warga jemaat kehilangan kesempatan untuk dibentuk menjadi penatalayan yang benar.</p>
<p>Agenda HKBP menjadi saksi mengapa terjadi pergeseran-pergeseran ini. Dalam Agenda versi 1929, tidak ada di sana dituliskan doa persembahan atau sejenis <em>offertory</em>. Kebaktian tanpa offertory  menunjukkan bahwa tidak ada lagi Perjamuan Kudus sesudah kebaktian pelayanan Firman. Ini mengindikasikan bahwa liturgi kita tadinya adalah liturgi di mana kebaktian seharusnya masih disambung lagi dengan Perjamuan Kudus. Tetapi karena pada saat itu Missionaris adalah pada umumnya anggota Gereja dari daerah Prussia di Jerman, di mana Perjamuan Kudus dipisah dari Kebaktian Pelayanan Firman, maka <em>offertory </em>tidak dimasukkan.</p>
<p>Perlu penelitian, tahun berapakah doa persembahan yang kita kenal sekarang ini dikenal dan dimasukkan dalam Agenda [red.: Agenda HKBP] dan siapakah yang memasukkannya. Secara bentuk itu hendak menunjukkan bahwa sebenarnya bila <em>offertory </em>telah dimasukkan, maka kebaktian sudah bisa dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus. Dengan demikian akan semakin terlihatlah bahwa daya dorong untuk persembahan yang benar akan semakin kuat, dan diakonia juga akan semakin berkembang, dan jemaat akan ’surplus’ (maaf, menggunakan bahasa kapitalisme).</p>
<p>Akhirnya, persembahan bukan thema yang harus dikaitkan dengan masalah krisis keuangan gereja. Persembahan adalah bagian dari Perjamuan Kudus dan Diakonia. Persembahan menjadi thema untuk pembaharuan struktur gereja, pembaharuan masuknya gereja ke dalam dunia untuk transformasi, pembaharuan untuk pemahaman atas jabatan yang selama ini menjadi lepas dari diakonia, pembaharuan untuk sistim administrasi dan pengorganisasian gereja dan pembaharuan untuk Aturan dan Peraturan Gereja.</p>
<p><em>sumber: http://www.hkbp.or.id/files/1.5.Teologi%20Persembahan.doc?PHPSESSID=9d705146f26846090a0217e16f1c6262</em></p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/persembahan-hidup-sebagai-bentuk-ibadah-yang-sejati/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Persembahan Hidup sebagai Bentuk Ibadah yang Sejati'>Persembahan Hidup sebagai Bentuk Ibadah yang Sejati</a> <small>Naskah Sermon Khotbah Roma 12:1-3 Minggu XXI Setelah Trinitatis, 1...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/teologi-persembahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa sih Janji Iman itu?</title>
		<link>http://pargodungan.org/apa-makna-janji-iman-sejarah-arti/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/apa-makna-janji-iman-sejarah-arti/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 May 2011 10:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Janji Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi Persembahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1207</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Apa sih persembahan janji iman itu?&#8221; begitu kira-kira pertanyaan seorang saudara pada saya minggu lalu. Mendengar pertanyaannya saya hanya melongo. Saya tahu apa bentuk janji iman itu dan pernah melihat langsung prakteknya. Tetapi, untuk secara serius memberikan jawaban atas pertanyaan itu saya belum bisa. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin membahas pertanyaan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://images.suite101.com/2049973_com_a_gift_tha.jpg" alt="Persembahan Janda" align="left"/>&#8220;Apa sih persembahan janji iman itu?&#8221; begitu kira-kira pertanyaan seorang saudara pada saya minggu lalu. Mendengar pertanyaannya saya hanya melongo. Saya tahu apa bentuk janji iman itu dan pernah melihat langsung prakteknya. Tetapi, untuk secara serius memberikan jawaban atas pertanyaan itu saya belum bisa. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin membahas pertanyaan itu dan berusaha menguraikan jawabannya dengan sederhana.</p>
<p>Saya pertama mendengar istilah janji iman di Pematangsiantar tahun 2007 silam. Ketika itu saya masih mahasiswa di STT HKBP dan diajak seorang teman menjadi anggota sekretaris Panitia Perayaan Jubileum 50 Tahun Christian Conference of Asia (CCA) di Pematangsiantar. Untuk menggalang dana awal kepanitiaan, panitia pun menyelenggarakan acara Malam Pengumpulan Dana di Rumah Dinas Walikota Pematangsiantar. Di situlah saya mulanya mendengar istilah Janji Iman. </p>
<p>Dari riset sederhana, saya menemukan dari berbagai forum internet bahwa masalah persembahan/pemberian janji iman ini masih didiskusikan. Ada orang yang menolak, ada juga yang menerimanya, dan ada juga yang masih ragu-ragu (masih mempertanyakannya). Bahkan di Forum Mahasiswa Peduli (FMP) STT-HKBP di facebook, kelihatan bahwa bentuk dan maksud pemberian janji iman masih dalam wacana yang belum jelas bagi mereka. Nah, agar tidak ragu-ragu mari kita lihat dari mana sebenarnya asal mula istilah ini.</p>
<p><strong>Dari mana Asal Janji Iman?</strong></p>
<p>Istilah janji iman sebenarnya berasal dari kata Inggris <em>Faith Promise Giving</em> yang dipopulerkan oleh Oswald J. Smith  (1889-1986). Ia adalah seorang pendeta beraliran fundamentalis yang sangat antusias mendukung misi penginjilan dunia. Pada awal pelayanannya, Pdt Smith terpesona oleh konsep penggalangan dana misi yang dikembangkan oleh A.B. Simpson (pendiri Kristen dan Missionary Alliance). Simpson ingin mengubah atau memajukan gereja yang pada mulanya hanya sekali-sekali mengadakan pengumpulan persembahan untuk biaya misi. Dengan menyebut idenya sebagai &#8220;Janji Iman,&#8221; maka Simpson ingin agar anggota jemaat berkomitmen memberikan persembahannya secara berkala baik mingguan maupun bulanan untuk dana penginjilan. Nah, konsep inilah yang diterapkan Oswald Smith di Peoples Church, gereja binaannya yang terletak di Kanada. </p>
<p><strong>Apa makna Pemberian Janji Iman?</strong></p>
<p>Apa sih yang dimaksudkan Smith tentang persembahan janji iman? Menurut beliau, ada perbedaan antara Faith Offering (Persembahan Iman) dengan Cash Offering (Persembahan Uang). Untuk memberikan uang sebagai persembahan, menurutnya, kita tidak membutuhkan iman sama sekali. Sebab, seandainya ia punya uang Rp. 100.000,- di sakunya, langkah-langkah yang harus dilakukannya cukup hanya mengarahkan tangannnya ke saku, mencari uang tersebut, mengambilnya lalu menaruhnya ke kantung persembahan. Lagi katanya, &#8220;I don’t have to trust Him for any definite amount. I just have to give it.” Ibaratnya, menurut Smith memberi persembahan uang (seperti yang umum kita lakukan) kejadiannya mirip seperti membayar tagihan listrik Anda ke PLN.</p>
<p>Globe International, sebuah organisasi penginjilan menyebutkan bahwa:</p>
<blockquote><p>&#8220;A Faith Promise is a promise to give based upon one&#8217;s faith in God. In making a Faith Promise, a believer looks to God &#8220;in faith&#8221; asking Him how much he should promise to give, and then committing to give as God provides. Unlike a pledge, the commitment is &#8220;vertical&#8221; instead of &#8220;horizontal&#8221;&#8211;it is a commitment to God as an act of faith rather than to a church, society or charity. </p>
<p>When making a Faith Promise, a believer looks to God for provision. This kind of expectant faith offers God an opportunity to pour financial blessings into His work through His people. In essence, the believer asks, &#8220;How much can I trust God to give through me?&#8221; <em>sumber: http://www.gme.org/giving-faithpromise.php</em></p></blockquote>
<p>Dengan kata lain, berdasarkan pengertian asalnya, Janji Iman itu adalah <em>janji untuk memberikan kepada Allah sejumlah uang yang tidak Anda punyai dan berdoa agar Allah menyediakannya bagi Anda.</em></p>
<p><strong>Bagaimana Bentuk Janji Iman?</strong></p>
<p>Pada prakteknya, ada yang menerapkan janji iman seperti ini:</p>
<blockquote><p>Ketika gereja kami akan memulai membangun tempat ibadah sendiri, maka jemaat dimotivasi dan diberi kesempatan berkorban bagi Tuhan melalui janji iman. Pada saat formulir ada di tangan saya, kemudian saya ingat bahwa saya sedang butuh uang, khususnya untuk biaya operasi pelepasan pen pada tulang lengan atas anak saya yang pernah patah.</p>
<p>Sudah satu tahun kami menunda membawanya ke dokter karena pertimbangan biaya, selain itu, saya juga baru keluar dari pekerjaan dan sedang memulai membuka usaha kecil, sedangkan anak saya akan masuk SMP dan TK yang pasti semuanya memerlukan biaya yang besar. Sayapun teringat bahwa anak kami sudah sering mengeluh sakit bila lengannya terbentur benda-benda keras, jadi kalaupun saat itu saya punya uang saya sudah membawanya ke dokter untuk operasi.</p>
<p>Ketika akan mengisi nilai nominal yang saya berikan, saya terhenti sejenak. Tetapi saya berketetapan hati bahwa saya harus mengutamakan Rumah Tuhan. Lalu saya tetapkan bahwa saya akan memberi kepada Tuhan sebesar biaya yang dibutuhkan untuk operasi anak saya.</p>
<p>Puji Tuhan, sebulan kemudian kami bisa membawa anak kami untuk dioperasi kembali dan semua biayanya tercukupi. Janji imanpun bisa kami bayar, biaya masuk sekolah kedua anak sayapun tercukupi dan selain itu usaha yang baru kami rintispun pada akhirnya mengalami kemajuan. Saya melihat Tuhan turut campur tangan dan sedang bekerja dalam terobosan berkat keuangan dalam keluarga kami. Saya belajar untuk mempraktekan itu dan sekarang saya sedang menikmati kebaikan Tuhan. [PS] <em>sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=395073762091</em>
</p></blockquote>
<p><strong>Apakah Persembahan Janji Iman itu sesuai dengan Pemahaman Alkitab dan Teologi Persembahan?</strong></p>
<p>Hmmm, berhubungan dengan pertanyaan ini, tentu kita harus banyak bergumul dengan penyataan Alkitab dan pemberitaan Gereja. Akan tetapi untuk sementara ini saya cukup menyanggah, bahwa <em>janji iman, jika harus dipahami dalam bentuk dan praktek yang disebutkan di atas, JANJI IMAN sama sekali tidak alkitabiah dan tidak sesuai dengan pemahaman teologi persembahan</em>. Mengapa? Saya akan melanjutkan uraiannya lain kali, agar tidak terlalu panjang.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ul>
<li>http://libertygospeltracts.com/biblecrs/money2/money1.htm</li>
<li>http://www.gme.org/giving-faithpromise.php</li>
<li>http://www.facebook.com/note.php?note_id=395073762091</li>
<li>http://www.facebook.com/group.php?gid=111816965805&#038;v=wall&#038;viewas=0</li>
</ul>


<p>Tidak ada tulisan sejenis!</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/apa-makna-janji-iman-sejarah-arti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips &amp; Cara Menghadapi &amp; Melewati Masa-masa Sulit</title>
		<link>http://pargodungan.org/tips-cara-menghadapi-mengatasi-melewati-masa-masa-sulit/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/tips-cara-menghadapi-mengatasi-melewati-masa-masa-sulit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 13:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Menyelesaikan Masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Mengatasi Kesulitan]]></category>
		<category><![CDATA[Menghadapi Masa Sulit]]></category>
		<category><![CDATA[Menyelesaikan Kesulitan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/tips-cara-menghadapi-melewati-masa-masa-sulit/</guid>
		<description><![CDATA[Ganjil rasanya jika ada orang yang tidak pernah menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Yah, entah siapapun itu, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin, tanpa memandang golongan, selalu pernah menghadapinya. Mungkin Anda pernah atau malah sedang mengalam masalah. Dan bisa jadi, saya pun sedang merasa mengalaminya. Sebenarnya, yang paling buruk dari masa sulit itu adalah jika kita malah tidak mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-577" title="masa-masa-sulit" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/09/masa-masa-sulit-150x109.jpg" alt="masa-masa-sulit" width="150" height="109" />Ganjil rasanya jika ada orang yang tidak pernah menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Yah, entah siapapun itu, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin, tanpa memandang golongan, selalu pernah menghadapinya. Mungkin Anda pernah atau malah sedang mengalam masalah. Dan bisa jadi, saya pun sedang merasa mengalaminya. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya, yang paling buruk dari masa sulit itu adalah jika kita malah tidak mampu melepaskan diri darinya. Itulah yang namanya celaka. Saya ingat ada seorang spiritualis bernama Wayne W. Dyer mengatakan bahwa, sebetulnya tidak ada yang namanya masalah. Masalah hanya bentukan persepsi kita yang seharusnya dapat diabaikan oleh kesadaran. Meskipun tidak sepenuhnya setuju &#8211; sebab masalah itu seharusnya ada, saya kira kita dapat mengikuti maksudnya. Tujuannya adalah agar kita dapat memandang masalah itu dengan cara baru, sehingga kita dapat melepaskan diri darinya. Tidak baik jika kita tinggal diam dan hanya &#8216;menikmati&#8217; masa-masa sulit tanpa berbuat apa-apa.</p>
<p>Menarik bahwa tips &#038; trik atau cara yang akan Anda baca ini adalah buah dari renungan atas Mazmur 42:5.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:5).&#8221;</p></blockquote>
<ol>
<li>Gunakan kesadaran Anda sebagai manusia utuh.Daripada memikirkan masalah atau pemecahannya, lebih baik kita bergerak ke jalan yang baru: jangan pikirkan masalah itu dulu. Dengan menggunakan kesadaran yang kita miliki, kita harus mengabaikan pikiran yang mengatakan bahwa situasi yang sedang kita hadapi itu sangat &#8216;complicated&#8217;. Ingat bahwa pikiran bukanlah diri kita yang sebenarnya. Anda diciptakan segambar dengan Allah (imago Dei), sehingga tidak mungkin bahwa diri Anda yang sepenuhnya terwakili dalam pikiran. Allah tidak diwakili hanya melalui pikiranNya, jadi Andapun tidak mungkin terwakili hanya melalui pikiran Anda. Dengan prinsip ini, gunakanlah kesadaran kita yang sepenuhnya sebagai ciptaan Allah yang utuh, untuk melihat masalah itu sebagai sesuatu yang dapat ditangani. Intinya, kesadaran Anda harus mampu mengatakan, &#8220;Ini dapat diatasi&#8221;.
<p>Kesadaran seperti inilah yang dialami Daud ketika ia bertanya pada dirinya sendiri: &#8220;Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?&#8221; Alih-alih menikmati perasaan gelisah saat menghadapi masalah, Daud keluar dari perasaannya sendiri. Sebagai manusia utuh dan beriman, kesadaran dirinya menyadarkan bahwa perasaannya (baca: pikirannya) tidak dapat dipertahankan. Perasaan dan pikirannya yang gelisah malah harus dipertanyakan. Maka, gunakanlah kesadaran seperti yang dicontohkan Daud ini untuk keluar dari masalah Anda.</li>
<li>Berorientasi pada apa yang Anda harapkanPengharapan seseorang kepada TUHAN berperan penting untuk melepaskan diri dari masa sulit. Kesadaran Daud memerintahkan dirinya sendiri untuk menaruh pengharapan pada TUHAN: &#8220;Berharaplah kepada Allah!&#8221;
<p>Di satu sisi, pengharapan ini akan membuat Anda tidak merasa sendirian lagi di dalam penderitaan. Merasa sendirian ketika menghadapi masalah dan kesulitan sangat umum terjadi. Dan saya rasa, inilah penyebab mengapa orang ingin bunuh diri saat menghadapi masalah!</p>
<p>Di sisi lain, pengharapan akan membuat Anda belajar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Jika Anda mampu berharap pada sesuatu, bukankah itu berarti Anda menyadari bahwa masalah tidak dapat ditangani sendirian? Masalah tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengandalkan faktor internal (misalnya pikiran dan rencana Anda). Untuk menyelesaikan masalah diperlukan faktor eksternal dan transenden. Faktor yang kedua ini hanya dapat ditemukan melalui pengharapan kepada Allah. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Berpikir positif dan sibukkan diri Anda dengan sesuatu yang positifPengharapan kepada TUHAN juga membantu kita untuk melihat ke arah yang positif. Bukankah Daud tadi mengatakan pengarapan itu membuat dia &#8220;akan bersyukur lagi kepadaNya&#8221;? Ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Sehari-harinya Daud adalah raja yang tentu harus menghadapi banyak masalah. Tapi ia yakin bahwa pengharapannya akan membuat dia dapat bersyukur lagi.
<p>Syukur adalah kata pujian yang disertai dengan perasaan sukacita. Itu adalah kata yang hanya dapat diungkapkan dengan pikiran yang positif. Aneh rasanya jika orang mengucapkan syukur dengan pikiran negatif. Oleh sebab itu, sangat baik jika kita menaruh pikiran dan perasaan positif atas masalah yang kita hadapi. Segala sesuatu akan berakhir baik seperti judul buku R.A. Kartini, &#8220;Habis gelap terbitlah terang&#8221;. Atau seperti ungkapan seorang filsuf: &#8220;phanta rei&#8221;, segala sesuatu mengalir, dan tentunya pengalaman pahit dan sulit akan berubah juga. Sekali lagi, pikiran yang positif akan membantu Anda menghadapi masalah. Dan jagalah pikiran positif itu dengan sesuatu yang positif, misalnya dengan berdoa, menyanyikan kidung pujian, mengucapkan syahadat (pengakuan iman), meditasi, atau yang lainnya.</li>
<li>Gunakan pertolongan dan solusi yang diberikan Allah bagi AndaAllah adalah penolong sebab ia berkuasa atas segala sesuatu. Ia berkuasa untuk mengatasi ketakutan, kekuatiran, sakit hati, pergumulan, penyakit, penderitaan atau apapun itu. Persoalannya kita cenderung melupakan itu sehingga tidak &#8216;memanfaatkannya&#8217; dengan baik. Ini kelihatan dari betapa seringnya orang hanya mengandalkan pikiran dan pengertiannya untuk menghadapi masalah. Penulis Amsal mengatakan kepada kita: &#8220;Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri&#8221; (Amsal 3:5). Ini adalah peringatan bagi kita untuk mengingat Allah dalam setiap keadaan.
<p>Orang Kristen harus menyadari bahwa pertolongan TUHAN selalu ada bagi mereka yang sedang menghadapi kesusahan. Daud mengungkapkan itu melalui satu pengakuan dalam ayat yang sedang kita bahas: &#8220;penolongku dan Allahku!&#8221; Ingatkah Anda nyanyian pop rohani yang mengatakan &#8220;pertolongan Tuhan ada dimana-mana&#8221;? Ya, pertolongan dan solusi yang diberikan Tuhan ada dimana-mana. Oleh karena itu kita harus peka dan siap-sedia menyambut pertolongan itu. Solusi yang mungkin terpikirkan atau muncul tiba-tiba bisa juga merupakan pertolongan Tuhan. Ingat pula, pertolongan juga datang melalui perpanjangan tangan Tuhan lainnya (prolongatus Dei). Hanya, gunakanlah pertolongan dan solusi yang diberikan Allah bagi Anda itu dengan sebaik-baiknya.</li>
</ol>
<p>Salam. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/cara-melupakan-masa-lalu-yang-pahit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cara Melupakan Masa Lalu yang Pahit'>Cara Melupakan Masa Lalu yang Pahit</a> <small>Banyak sekali tips yang diberikan di internet tentang bagaimana caranya...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/tips-menghadapi-penjual-menawar-harga/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips Menghadapi Penjual &#038; Menawar Harga'>Tips Menghadapi Penjual &#038; Menawar Harga</a> <small>Kebetulan tadi saya membaca salah satu artikel dari Kompas Mobile...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-judika-ngapain-takut-akan-allah-kejadian-221-13/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Judika: Cara Menghadapi Cobaan &#8211; Kejadian 22:1-13'>Khotbah Minggu Judika: Cara Menghadapi Cobaan &#8211; Kejadian 22:1-13</a> <small>Anda masih ingat saat Anda hendak menghadapi ujian di sekolah...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/tips-cara-menghadapi-mengatasi-melewati-masa-masa-sulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gereja Koq Ga Kelihatan?</title>
		<link>http://pargodungan.org/gereja-yang-tidak-kelihatan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/gereja-yang-tidak-kelihatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 08:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja yang Kelihatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja yang Tidak Kelihatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/gereja-koq-ga-kelihatan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu istilah yang menarik perhatianku ketiga mengerjakan tugas menulis buku pelajaran agama Kristen untuk SMA kelas XII tahun 2007 kemarin. Istilah itu adalah &#8216;Gereja yang Tidak Kelihatan&#8217;. Gereja koq ga kelihatan? Ada-ada saja! Mengapa ada gereja yang tidak kelihatan? Apakah orang Kristen sudah mulai &#8216;stres&#8217; karena berbagai &#8216;tekanan&#8217; dari lingkungannya? Apa karena orang Kristen dilarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu istilah yang menarik perhatianku ketiga mengerjakan tugas menulis buku pelajaran agama Kristen untuk SMA kelas XII tahun 2007 kemarin. Istilah itu adalah &#8216;Gereja yang Tidak Kelihatan&#8217;. Gereja koq ga kelihatan? Ada-ada saja!</p>
<p>Mengapa ada gereja yang tidak kelihatan? Apakah orang Kristen sudah mulai &#8216;stres&#8217; karena berbagai &#8216;tekanan&#8217; dari lingkungannya? Apa karena orang Kristen dilarang membangun gereja yang kelihatan? Ataukah itu hanya karena merasa frustrasi melihat pengisi gereja yang sudah tidak kristiani lagi? Atau jangan-jangan karena rupanya dalam gereja itu yang kelihatan cuma pendeta yang ber cas-cis-cus tanpa ada perubahan signifikan dalam diri jemaat? Atau apa karena di dalam gereja itu mereka bahkan tidak mengenal satu sama lain? Busyet, pertanyaan spekulatif ini tentu bisa muncul kalau mendengar istilah itu.</p>
<p>Rupanya istilah ini muncul bukan karena spekulasi di atas. Istilah ini semata ingin menunjukkan bahwa gereja itu adalah suatu realitas rohani. Sesuatu yang rohani tentu hanya dapat dikenal dan dipahami melalui kepercayaan kita (bukan lewat mata). <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Gereja sebagai suatu realitas rohani berkaitan erat dengan alur ide seperti ini: Gereja adalah gereja Yesus Kristus. Kristus adalah kepala jemaat dan jemaat itu adalah tubuh Kristus (Kol 1:18). Apakah yang membuat gereja kita menjadi gereja Yesus Kristus? Jawabnya: Roh Kudus! Gereja dipanggil ada oleh karena tercurahnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 2). Gereja muncul bukan karena diijinkan atau tidak diijinkan pemerintah. Gereja muncul bukan karena kemauan jemaatnya mengumpulkan duit membangun gereja. Gereja tidak muncul karena &#8216;semau gue atw loe-loe semua&#8217;. Hehehe</p>
<p>Coba perhatiin juga apa sih arti gereja itu? Kalau dari akar katanya dalam Perjanjian Baru, dipakailah kata ekklesia. Sedangkan dalam Perjanjian Lama dipakai kata kahaal (koq jadi kayaq kursus bahasa ya?!). Kedua kata itu artinya &#8216;mereka yang dipanggil keluar&#8217;. Gereja terdapat dimana ada yang dipanggil, dipanggil berhimpun oleh TUHAN. Sama seperti Abraham keluar dari Ur-Kasdim, dunia orang kafir (Kej 12:1), demikianlah gereja dipanggil keluar dari dunia bangsa-bangsa. Keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib (I Ptr 2:9; Kol 1:14).</p>
<p>Gereja adalah suatu persekutuan orang-orang yang menyadari bahwa mereka adalah &#8216;orang-orang asing&#8217; di bumi ini (Ibr 11:8-16; Mzm 119:19). Tapi ingat, gereja bukan &#8216;paasingasinghon&#8217; (Batak: seolah membuat dirinya berbeda). Jika ia &#8216;paasingasinghon&#8217; dirinya, ia tidak akan dapat membawa garam dan terang ke dalam dunia. Ia membedakan diri hanya agar ia kelihatan &#8216;aneh&#8217;. Gereja yang demikian hanya akan menganggap dunia itu sebagai musuh yang harus ditumpas dan dibiarkan tersesat (bukan untuk ditolong). Gereja yang demikian adalah gereja yang egois dan telah kehilangan arah. Dan yang paling buruk, gereja yang &#8216;paasingasinghon&#8217; dirinya adalah contoh sikap yang angkuh dan tinggi hati. Gereja merasa dirinya sebagai orang-orang asing punya tujuan khusus: agar kelihatan juga melalui dirinya pembangunan dan perwujudan Kerajaan Allah di dunia.</p>
<blockquote><p>Apakah Anda melihat gereja yang demikian dengan mata? Tentu tidak! Kan harus dengan kepercayaan. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Orangtua adalah Allah yang kelihatan?'>Orangtua adalah Allah yang kelihatan?</a> <small>Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/gereja-tanpa-palang-salib/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gereja tanpa Palang Salib'>Gereja tanpa Palang Salib</a> <small>Minggu: Invokavit Epistel: Yeremia 10:6-10 Tema khotbah: Bertekun dalam Pertandingan...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/gereja-yang-tidak-kelihatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketaatan &amp; Kesembuhan</title>
		<link>http://pargodungan.org/ketaatan-kesembuhan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/ketaatan-kesembuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 17:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kejadian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesembuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketaatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/ketaatan-kesembuhan-di-bulan-september/</guid>
		<description><![CDATA[Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu &#38; air minummu &#38; Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu &#8212; Alai ingkon oloanmuna do Jahowa Debatamuna i, jadi pasupasuonna ma sagusagum dohot tapianmu, jala pasalpuonku angka sahitsahit sian tongatongamuna (Keluaran 23:25) Apakah penyakit yang diderita merupakan cerminan bahwa manusia tidak taat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu &amp; air minummu &amp; Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu &#8212; Alai ingkon oloanmuna do Jahowa Debatamuna i, jadi pasupasuonna ma sagusagum dohot tapianmu, jala pasalpuonku angka sahitsahit sian tongatongamuna (Keluaran 23:25)</p></blockquote>
<p><img class="alignleft" src="http://pargodungan.org/wp-content/uploads/2009/09/god-healing-150x134.jpg" alt="" width="150" height="134" />Apakah penyakit yang diderita merupakan cerminan bahwa manusia tidak taat pada Allah? Inilah pertanyaan konyol yang saya ajukan ketika merenungkan teks ini. Konyol karena pertanyaan itu dinodai oleh keinginan untuk menghakimi. Coba bayangkan apabila pelayan gereja yang kena penyakit. Tentu saja para &#8216;hakim&#8217; akan mengatakan, &#8220;Wah, percuma saja dia pelayan Tuhan. Masa kena penyakit sih? Berarti dia bukan hamba Tuhan yang sungguh.&#8221; Pertanyaan ini juga sesat karena jawaban yang akan kita berikanpun hanya dugaan semata dan bukan berita Alkitab. Nah, karena itu adalah pertanyaan konyol dan sesat, lebih konyol dan sesat lagi kalau saya menjawabnya. Mudah-mudahan kita tidak terbiasa bertanya seperti itu. <img src='http://pargodungan.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pertanyaan begitu sebaiknya diganti saja dengan, &#8220;Apa yang diberitakan Alkitab tentang peneguhan dan penghiburan itu?&#8221; Berita Alkitab dalam Keluaran 23:25 itu adalah berita peneguhan karena kita mengingat bahwa firman itu disampaikan ketika Israel akan segera memasuki Tanah Perjanjian. Firman itu disampaikan agar Israel mengingat bahwa ada TUHAN yang selalu memelihara hidup mereka, sehingga mereka tidak usah tergantung pada dewa-dewa Kanaan.<br />
Untuk dewasa ini, firman ini merupakan penghiburan bagi orang-orang yang sedang menderita penyakit. Firman Allah dalam teks itu mengatakan bahwa ketaatan pada TUHAN akan berfaedah bagi diri kita sendiri, dan terutama bagi kesehatan kita. Tentu saja ini adalah temuan bagi pencarian kita atas kesembuhan. Kita tidak harus mencari ilah lain atau dewa-dewa lain untuk mendapatkan kesembuhan. Kita tidak perlu lagi mempercayai takhayul dan memberikan sesajen kepada arwah nenek moyang lagi. Bahkan kita tidak perlu datang kepada dukun untuk memperoleh kesembuhan. Cukup bagi kita untuk menaati TUHAN agar kita memperoleh kesembuhan.</p>
<p>Bahkan berita ini semakin terasa menghibur karena dikatakan menurut ejaan lama &#8220;Maka hendaklah kamu berbuat bakti kepada Tuhan, Allahmu, maka &#8230; segala penyakit akan kulalukan dari antara kamu.&#8221; Bayangkan bahwa ketaatan kita kepada TUHAN akan membuat penyakit &#8220;terpeleset&#8221; dari tubuh kita. Melalukan artinya lewat begitu saja tanpa mempengaruhi diri kita. Dengan kata lain, ketaatan kita kepada TUHAN membuat kita terbebas dari penyakit manapun. Sungguh suatu berita penghiburan dan jauh dari nada penghakiman bukan?</p>
<p>Oleh sebab itu jelas bagi kita sekarang apa yang harus dilakukan. Pertama, kita mesti belajar menaati TUHAN. Kedua, kita mesti belajar TUHAN. Ketiga, kita mesti belajar menaati TUHAN. Lho, koq tiga-tiganya sama? Ya, karena hanya itulah tekanan utamanya. Memang menaati TUHAN adalah tema yang terlalu luas dan kompleks. Tapi kuncinya semua (agar dapat taat) adalah &#8220;kemuridan&#8221; itu sendiri. Kita mesti menyadari bahwa di hadapan GURU AGUNG itu, kita adalah murid kecil yang tidak tahu apa-apa. Kita adalah murid yang tidak lebih besar dari SANG GURU AGUNG. Tentu tekanannya adalah kerendahan hati yang kontras dengan ketinggian hati. Orang yang rendah hati dihadapan TUHAN akan lebih mudah jatuh tersungkur di depan mezbahNYA. Sedangkan orang yang tinggi hati akan selalu merasa lebih tinggi, bahkan dari TUHAN sekalipun, sehingga akan merasa kesulitan untuk belajar taat.</p>
<p>Marilah dengan kerendahan hati, menghadapkan sukacita penuh atas berita penghiburan bagi kita untuk bulan September ini. Belajar untuk menaati TUHAN YANG MAHA MULIA, agar kehidupan kita tetap sentosa, dan agar kita bebas dari kuasa si jahat. Amin.</p>


<p>Tidak ada tulisan sejenis!</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/ketaatan-kesembuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amos: Panggilan dan Pelayanannya</title>
		<link>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 09:53:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Lama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Panggilan dan pelayanan adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Pemahaman mengenai panggilan dan pelayanan sangat luas. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Kitab Suci Perjanjian Baru banyak tokoh yang dapat dijadikan salah satu bahan refleksi untuk melihat, mengetahui dan memahami panggilan dan pelayanan itu. Dalam kesempatan ini, saya akan mengambil contoh nabi Amos untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggilan dan pelayanan adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Pemahaman mengenai panggilan dan pelayanan sangat luas. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Kitab Suci Perjanjian Baru banyak tokoh yang dapat dijadikan salah satu bahan refleksi untuk melihat, mengetahui dan memahami panggilan dan pelayanan itu. Dalam kesempatan ini, saya akan mengambil contoh nabi Amos untuk memahami panggilan dan pelayanan itu.</p>
<p>Nabi Amos berasal dari Tekoa, sebuah desa di daerah Yehuda, beberapa kilometer di sebelah selatan Yerusalem. Menurut pasal 1:1 dan 7:14, Amos bekerja sebagai gembala dan petani yang memungut buah ara. Melalui pekerjaannya sebagai petani ia datang ke Israel menjadi seorang nabi. Oleh karena ia berasal dari desa, di mana setiap orang harus bekerja keras untuk memehuni kebutuhan hidup, menjadi menjijikkan baginya untuk melihat kehidupan yang penuh dengan kekayaan serta tanpa keadilan dari penduduk kerajaan Israel Utara. Amos bukan berasal dari sebuah keluarga nabi atau imam atau dapat dikatakan bahwa kenabiannya disebabkan oleh pemanggilan Tuhan. Dengan rendah hati Amos menyatakan dirinya sebagai “seorang peternak domba dari Tekoa” (Am. 1:1), “seorang penggembala dan pengumpul buah ara” (Am. 7:14). Latar belakang pekerjaannya ini mempengaruhi ungkapan-ungkapan dalam kitabnya yang seringkali menyebutkan keakrabannya dengan padang penggembalaan dan dunia pertanian. Hanya semata-mata karena panggilan Tuhanlah, Amos meninggalkan pekerjaannya semula dan menjalankan tugas kenabiannya bagi umat Israel. Dalam konfliknya dengan imam Amazia, Amos sama sekali menolak anggapan Amazia bahwa ia adalah nabi profesional, yang bernubuat demi nafkah:</p>
<p>“<em>Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan Tuhan berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umatKu Israel</em>.&#8221; Am. 7:14-18</p>
<p>Panggilan kenabian dari Tuhan ini tak tertahankan olehnya. Amos masuk dalam situasi yang membuatnya tak kuasa menolak panggilan ini. Ia mengkiaskan hal ini dengan pengalamannya menggembala, ketika ia menghadapi singa yang tentu membuat setiap gembala diliputi ketakutan luar biasa.</p>
<p>&#8220;<em>Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat</em>?&#8221; Am. 3:8</p>
<p>Kisah Amos merupakan salah satu bentuk pengalaman pemanggilan YHWH  (7:14) dan penglihatan keputusan yang diungkapkan Yahweh untuk perubahan dengan jalan-Nya kepada Israel dari sebuah kesabaran-Nya (Am. 7:1-8:3). Pemanggilan dan pewahyuan kepada Amos dari kehidupannya sehari-hari dan menempatkan tangisan kepada sebuah negeri, dengan istilah ‘celakalah’ masyarakat, kepercayaan/agama, dan pemerintahan di dalam nama Tuhan. Ia semata-mata hanya menjadi pesuruh. Amos hadir sebagai seorang nabi yang memberitahukan kehancuran Israel Utara bersama dengan seluruh isi istana raja (Am. 7:7-9). Kehancuran itu akan menjadi akhir dari kerajaan Israel Utara (Am. 8:2 bnd. 5:2) yang akan terjadi dalam bentuk kekalahan militer yang disusul oleh pembuangan seluruh penduduk negeri (Am. 4:2-4; 6:7-8). Pokok perhatian Amos ialah ketidakadilan. Amos mengatakan, bahwa bangsa Israel telah ‘menjual orang benar karena uang’ (Am. 2:6); aratinya di Israel telah terjadi jual-beli manusia, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak, untuk menjadi budak sebagai ganti pembayaran utang. Amos secara khusus menunjuk bahwa sistem keadilan telah hancur, sehingga melalui suap, sogok dan yang semacamnya serta sikap acuh-tak-acuh maka para orang kaya dan penguasa dapat memanipulasi hukum untuk kepentingan diri mereka sendiri, termasuk menindas rakyat miskin (Am. 5:10-11, 15). Bersamaan dengan itu, Amos juga melihat bahwa ibadah-ibadah Israel yang teratur ternyata merupakan tipuan yang tidak berguna (Am. 5:4-5; 21-24). Bahkan lebih buruk lagi, lembaga peribadahan itu sama-sekali menolak kemungkinan perbaikan, dan sebaliknya malah mendukung dan membenarkan sikap aman dan puas diri yang sedang berlangsung. Karakter dari Amos ditandai dengan beberapa catatan:</p>
<ul>
<li>Dia pemberani, tetapi keberaniannya itu bukanlah sikap acuh tak acuh. Keberaniannya merupakan suatu sifat yang asli, bukan suatu antusias, tetapi lahir dari dalam pikirannya.</li>
<li>Dia akurat di dalam pengamatannya serta ilmiah di dalam pemikirannya. Ia mampu, tidak hanya untuk melihat fakta tetapi untuk menguraikannya. Itulah yang membuatnya mungkin untuk menguliskan perkataannya.</li>
<li>Dia adalah seorang pengembara, tanpa sebuah ikatan kenegaraan, ikatan keluarga.</li>
<li>Kerohaniannya keras, terkandung dalam kesetiaan kepada kebenaran, maka secara keseluruhan bertentangan kepada rutinitas taat pada aturan keagamaan yang mana, di dalam hal, mendasari pemujaan.</li>
</ul>
<p>Pokok perhatian ataupun pemberitaan Amos sangat luas. Yohanes Subagya merumuskan beberapa pokok pemberitaan kitab Amos, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Keadilan sosial: Amos memiliki kesadaran total bahwa ia semata-mata bicara atas nama Allah. Apa yang diucapkannya adalah pewartaan seorang utusan Allah. Sangat kerap dalam bukunya Amos menggarisbawahi apa yang dikatakannya dengan rumusan pengutusan ini, “Beginilah firman Tuhan”. Dalam urutan nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa yang memuncak dalam nubuat melawan Israel (Amos 1:3-2:16), nyatalah bahwa Israel dikecam dan diancam dengan hukuman karena kegagalan merekamempraktekkan keadilan bagi sesama bangsanya.</li>
<li>Allah hakim segala bangsa: Allah tidak tinggal diam ketika bangsa-bangsa itu melakukan kejahatan perang terhadap bangsa lain. Ia bertindak dengan menghukum mereka dalam bentuk api yang ke pemukiman mereka. Ukuran yang sama dipakai Allah untuk menghukum Israel, justru karena Israel mengikat perjanjian khusus dengan Allah, maka hukuman itu menjadi lebih serius. Ikatan kesetiaan kepada Yahwe ini harus diwujudkan dengan perlakuan yang benar kepada umatNya. Namun Israel justru tidak peduli akan hal ini dan malah memperlakukan saudara sebangsanya sendiri dengan buruk. Karena kejahatan moral inilah, Tuhan juga akan menghukum Israel. Konsep akan Tuhan sebagai hakim semua bangsa ini tersirat dari kesukaan Amos memanggil Tuhan sebagai “Allah semesta alam” (Am. 3:13; 4:13; 5:14.15.16.25; 6:8-14; 9:5). Ialah yang menciptakan alam semesta seisinya (Bdk. Am. 4:13) dan akan bertindak ketika ciptaanNya ini melakukan hal yang tidak berkenan kepadaNya.</li>
<li>Ibadat palsu: Sikap Amos terhadap ibadat terkesan sangat sinis dan negatif. Dalam Am. 4:4-5 nabi mengungkapkan sikapnya dengan nada sangat sarkastis: “Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat!” (Am. 4:4a.b.). Dalam nubuat-nubuat melawan bangsa-bangsa, kata “kejahatan” dipakai dalam konteks hubungan antar manusia. Kini kata “perbuatan jahat” dipakai dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan. Pada dasarnya keduanya merupakan ungkapan tidak taat manusia pada Tuhan. Setiap tindakan ibadat yang dilakukan oleh mereka yang kehidupan moralnya tidak bertanggungjawab, tidak bisa diterima. Sikap Amos sejajar dengan apa yang diwartakan Yesaya: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” (Yes. 1:11). “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan &#8230;. “ (Yes. 1:16-17). Sikap tidak suka Tuhan pada kemeriahan dan kemewahan ibadat terungkap dalam Am. 5:21-27. Sangat menarik memperhatikan bagaimana Amos menampilkan sikap tidak suka Tuhan ini dengan gambaran antropologis, sebagaimana ditampilkan dalam tabel di bawah ini.</li>
<li>Hukuman TUHAN: Kelima penglihatan yang dialami Amos pun pada dasarnya mewahyukan hukuman yang ada di ambang pintu ini. Pada penglihatan pertama (belalang) Tuhan menggagalkan rencananya untuk menghukum (Am. 7:1-3), namun tidak dikatakan bahwa Ia mengampuni. Ampun tidak diberikan, karena umat tidak bertobat. Demikian juga hal yang sama terjadi pada penglihatan kedua (api, Am. 7:4-6). Pada penglihatan selanjutnya (tali timah, bakul berisi buah-buah musim panas, Tuhan yang berdiri dekat mezbah dan mengancam dengan hukuman) hukuman ini betul-betul definitif. Kata Tuhan: “Aku tidak akan memaafkannya lagi” (Am. 7:8; 8:2). Di sini kita melihat dua ciri khas peranan kenabian, yakni perantara doa bagi kepentingan umatnya dan utusan yang menyampaikan keputusan untuk segera menghukum. Peranan ganda selalu muncul dalam karya pewartaan nabi. Penglihatan pertama hingga keempat mempunyai kata pengantara yang sama: “Inilah yang diperlihatkan Tuhan Allah kepadaku” (Am. 7:1.4.7; 8:1), sementara pada penglihatan terakhir Amos telah mempunyai cukup kepekaan, sehingga katanya: “Kulihat Tuhan &#8230;.” (Am. 9:1).</li>
</ol>
<p>Melalui panggilan dan pelayanan yang dilakukan oleh nabi Amos terlihat bahwa:</p>
<ol>
<li>Panggilan berasal dari Tuhan. Tuhan memanggil untuk menyatakan kehendak-Nya kepada manusia.</li>
<li> Panggilan disambut dengan kemauan yang sungguh-sungguh serta bersedia diutus ke mana pun.</li>
<li>Pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh melihat konteks masyarakat serta menuntut kepekaan terhadap hal yang sungguh-sungguh terjadi. Panggilan dan pelayanan sungguh-sungguh harus melihat konteks masyarakat, persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat serta upaya pemecahannya.</li>
<li>Dalam panggilan dan pelayanan harus berani menyatakan apa yang benar dan salah di hadapan Tuhan, sebab pengutusan berasal dari Tuhan.</li>
<li>Setiap manusia memiliki panggilannya sendiri. Artinya panggilan bukan hanya kepada mereka yang secara khusus menjadi pelayan di gereja secara struktural. Hal itu mengacu kepada nabi Amos yang dulunya hanyalah seorang gembala dan petani.</li>
<li>Panggilan dan pelayanan adalah mandat ilahi yang dilakukan oleh manusia demi kemuliaan nama-Nya.</li>
</ol>
<p>Demikianlah uraian singkat tentang kehidupan dan pelayanan nabi Amos. Semoga kita terinspirasi oleh pelayanannya. Amin.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/yunus-panggilan-dan-pelayanannya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Yunus: Panggilan dan Pelayanannya'>Yunus: Panggilan dan Pelayanannya</a> <small>Firman TUHAN datang kepada Yunus bin Amitai: “Bangunlah, Pergilah ke...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/efesus-41-hidup-dalam-panggilan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Efesus 4:1 &#8211; Hidup dalam Panggilan'>Efesus 4:1 &#8211; Hidup dalam Panggilan</a> <small>Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/amos-panggilan-dan-pelayanannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orangtua adalah Allah yang kelihatan?</title>
		<link>http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 03:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teologi Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Ajaran Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Allah yang Kelihatan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang pemuda yang menyebut orangtua adakah Debata na tarida (Allah yang kelihatan). Saya terkejut mendengarnya. Apa benar orangtua kita adalah Allah yang kelihatan? Saya segera sadar bahwa pernyataan demikian dipicu oleh karena adanya pencampur-bauran pemahaman yang terjadi di masyarakat. Sepengetahuan saya, memang ada pemahaman yang berbunyi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang pemuda yang menyebut orangtua adakah Debata na tarida (Allah yang kelihatan). Saya terkejut mendengarnya. Apa benar orangtua kita adalah Allah yang kelihatan?</p>
<p>Saya segera sadar bahwa pernyataan demikian dipicu oleh karena adanya pencampur-bauran pemahaman yang terjadi di masyarakat. Sepengetahuan saya, memang ada pemahaman yang berbunyi demikian, khususnya budaya India. Para istri orang India biasa memandang suami sebagai dewa yang kelihatan. Begitulah cara mereka menghormati suaminya. Tapi dalam kasus di atas, pernyataan orangtua adalah Allah yang kelihatan, sepertinya berasal dari budaya India ini. Bentuk sinkretisme seperti ini wajar terjadi karena adanya pertemuan budaya.</p>
<p><img src="http://2.bp.blogspot.com/_MUVaQIJ2hFM/S8WjkwWzqBI/AAAAAAAAALw/JAzD8V4Js40/s1600/family.jpg" alt="Orangtua sebagai Allah yang Kelihatan" />
<p>Namun, ajaran kristen tidak menyebut orangtua sebagai Allah yang kelihatan. Kalaupun kita ingin memakai istilah &#8220;Debata na tarida&#8221;, lebih tepatlah kalau ditujukan pada Yesus Kristus. Kita mendasarkan ini pada Yohanes 12:45, &#8220;dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku&#8221;, dan juga pada Yohanes 14:9, &#8220;Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa&#8221;.</p>
<p>Dengan menyebut Yesus Kristus sebagai Allah yang kelihatan, itu berarti kita mengaku percaya bahwa di dalam Yesus Kristus kelihatan pekerjaan Allah. Di dalam diriNya kita juga percaya akan kesediaan Allah untuk hadir di antara manusia. Dan dengan demikian juga, kita mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah &#8220;Anak Allah yang tunggal, Tuhan kita&#8221; (cf. Pengakuan Iman HKBP 1996, p. 83).</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/gereja-yang-tidak-kelihatan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gereja Koq Ga Kelihatan?'>Gereja Koq Ga Kelihatan?</a> <small>Ada satu istilah yang menarik perhatianku ketiga mengerjakan tugas menulis...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/yohanes-836-anda-adalah-orang-merdeka/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Yohanes 8:36 &#8211; Anda adalah Orang Merdeka'>Yohanes 8:36 &#8211; Anda adalah Orang Merdeka</a> <small>Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka....</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menjadi pengajar Firman Allah yang baik'>Menjadi pengajar Firman Allah yang baik</a> <small>Ulangan 6:4-9 Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/mazmur-6512-hari-yang-penuh-dengan-kebaikan-allah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mazmur 65:12 &#8211; Hari yang Penuh dengan Kebaikan Allah'>Mazmur 65:12 &#8211; Hari yang Penuh dengan Kebaikan Allah</a> <small>Engkau memahkotai tahun dengan kebaikanMu, jejakMu mengeluarkan lemak. Sungguh besar...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/bahan-sermon-minggu-hkbp-allah-yang-memampukan-menolong-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Allah yang Memampukan'>Allah yang Memampukan</a> <small>Sermon - Tafsiran teks untuk Minggu XIX Dung Trinitatis tanggal...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/orangtua-adalah-allah-yang-kelihatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

