Apakah jawaban atas pertanyaan ini masih kita perlukan? Saya kira tidak. Karena, jawaban teologis apapun yang muncul, akan bermuara pada ketidakseimbangan. Saya akan memberi contohnya. Salah satu jawaban yang mungkin kita berikan adalah: “Kita menderita karena dosa-dosa yang kita lakukan”. Argumennya, Allah menghukum orang berdosa dan memberkati yang setia padaNya. Tapi bagaimana kita menjelaskan faktor lain, misalnya bahwa Allah adalah sumber pemberian yang baik (bnd. Yak 1:17)? Mengapa Allah yang Mahakuasa memberikan ‘mimpi buruk’ pada orang yang dikasihiNya?
Belajar dari kisah Ayub akan menunjukkan maksud saya. Ketika Ayub bertanya mengapa ia menderita, ada dua jawaban yang diberikan: 1) karena dosa Ayub sendiri, dan 2) karena Allah tidak setia lagi. Jawaban pertama kelihatan mendukung keadilan Allah dengan menyalahkan manusianya. Sedangkan jawaban kedua malah menyalahkan Allah dan membenarkan manusianya.
Pada akhirnya, Allah pun tidak membenarkan salah satu jawaban tadi. Alih-alih memberikan jawaban, Ia hanya menunjukkan aneka ragam kekuasaanNya. Allah bahkan hanya memilih membenarkan Ayub. Kenapa? Karena Ayub tetap setia kepada Allah meskipun telah menghadapi penderitaan besar.
Oleh sebab itu, apakah arti dari semua ini? Artinya, bukan jawaban atas pertanyaan itu yang kita butuhkan, tapi sikap kita saat menghadapi penderitaanlah yang utama. Apapun yang kita terima, baik atau buruk, kesenangan atau kesusahan, bukan syarat untuk meninggalkan Allah. Golnya adalah agar kita dapat mengasihi Allah dengan bebas, terlepas dari kondisi kita.
Lalu, apakah implikat praktisnya? Tentu saja, ketika kita sedang menderita atau menemukan penderitaan dalam diri seseorang, kita cukup mengatakan “Penderitaan tidak boleh jadi alasan membuat aku/Anda meninggalkan Allah. Sebab kita tau, Allah juga ikut merasakan penderitaan kita”. Ini lebih baik daripada mengatakan “Penderitaan ini punya tujuan, ini hanyalah berupa cobaan kecil dari Allah” atau “Penderitaan ini terjadi karena dosa-dosa kita”.
Bagaimana menurut Anda? Apakah pertanyaan “mengapa aku menderita ya Tuhan masih relevan”?





