Bahan Naskah Khotbah Minggu XXI Setelah Trinitatis (1 November 2009) Ep. Yosua 24:14-24
Pengantar
- Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Misalnya saja, seorang ibu akan memilih jenis masakan apa yang akan dihidangkannya untuk sarapan anak-anak dan suaminya. Atau, bapak-bapak akan memilih untuk nonton TV dulu atau membantu istri mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Anak-anakpun demikian. Intinya, semua orang selalu memilih. Akan tetapi, pilih-memilih rupanya punya 2 macam/jenis. Pertama, kita memilih karena merasa terpaksa, ragu-ragu, atau merasa takut. Sedangkan yang kedua, kita memilih dengan perasaan senang, gembira, optimis, penuh keyakinan, penuh semangat, dan penuh keberanian. Kita bisa memilih sesuatu dengan ketulusan hati, mengerahkan seluruh tenaga, daya, dan upaya, sampai ‘setengah mati’.
- Kita akan kembali membahas hal itu kembali nanti. Sekarang marilah kita lihat apa yang diberitakan Alkitab pada kita hari ini. Tentang Yosua, sudah barang tentu kita semua mengetahuinya. Minggu yang lalu kita telah menyaksikan bagaimana Allah meneguhkan dan menguatkan Yosua agar dapat menunaikan tugas dan tanggungjawab yang diembankan kepadanya untuk memimpin Israel ke Tanah Perjanjian. Pada perikop tadi kita membaca salah satu bentuk kepemimpinan Yosua. Rupanya ia sedang menghadapi satu soalan. Ia merasa perlu untuk mempertimbangkan kembali perjanjian Israel dengan Allah. Yosua harus memperjelas kembali komitmen Israel tentang siapa yang seharusnya mereka sembah. Ia harus mengetahui kepada siapa Israel beribadah. Ia juga harus mengetahui kepada siapa Israel merasa takut dan gentar (Yosua 24:14).
- Dalam prosesnya, Yosua menanyakan persoalan paling vital dari Alkitab. Engkau telah menyaksikan apa yang diperbuat TUHAN (penyataan Allah) bagimu, sejak nenek moyangmu. Siapakah yang kau tentukan jadi Allahmu? Begitulah kira-kira inti dari maksud pertanyaan Yosua. Saya belum akan menerangkan bagaimana Israel menanggapi pertanyaan itu. Mungkin akan lebih baik jika Anda mencoba membukanya kembali di rumah nanti. Sekarang, kita mencoba berandai-andai. Andaikan saja saya adalah Yosua dan saudara sekalian adalah bangsa Israel. Jawaban apakah yang akan saudara berikan? Barang tentu, kita akan dengan mudah berkata: TUHAN-lah yang kupilih jadi Allahku. Ya, namun saya akan bertanya lagi. Pertama, saat kapan saja kita memilih TUHAN sebagai Tuhan kita?
- Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan ayat yang penting di dalam perikop tadi: Yosua 24:15a, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Eufrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Apa yang dapat kita tangkap dari ayat ini? Ada dua hal:
- Kita memilih TUHAN saat kita merasakan hal itu baik.
Adalah hal yang biasa kalau kita memilih hal yang terbaik bagi kita. Konyol rasanya jika kita memilih hal yang paling buruk. Tetapi untuk bisa memilih yang terbaik, tentu kita sudah mempertimbangkan untung-rugi, dampak positif dan negatifnya dan sebagainya. Pendek kata, kita harus tahu betul apa yang kita pilih dan memilihnya dengan pertimbangan yang bijaksana. Dalam konteks perikop ini, tentunya kita harus mengenal Allah dengan benar agar dapat memilihNya. Israel mempunyai alasan sendiri memilih TUHAN sebagai Allahnya. Kemampuan Israel memilih TUHAN terbantu oleh penyataan diri Allah itu sendiri. Tentu untuk itu, kita harus mampu merenungkan, mengingat apa yang telah dinyatakan Allah bagi kita? Itulah yang akan jadi dasar bagi pilihan kita atasNya.
- Kita memilih TUHAN setiap hari, dimulai dari satu hari tertentu.
Kalau kita sudah mengenal apa yang dinyatakan Allah bagi kita, tentu kita akan segera memilihNya. Saat dimana kita mengakuinya sebagai TUHAN-lah untuk pertama kalinya, itu sangat menentukan. Akan tetapi yang paling penting adalah, kita mampu memilih TUHAN sebagai Allah setiap hari. Mengapa setiap hari? Banyak alasan rasional lain yang bisa jadi alasan untuk memilih Allah satu hari. Pertama, karena berkat Allah juga datang bagi kita setiap hari; Kedua, karena Allah menyatakan diriNya kepada kita setiap hari; Ketiga, karena kita berpotensi untuk lari kepada ilah lain setiap hari (buktinya dengan dosa-dosa); dan lain sebagainya.
- Kita memilih TUHAN saat kita merasakan hal itu baik.
- Pertanyaan itu sudah terjawab. Kita memilih Allah saat dimana kita merasakan hal itu baik, dan itu pilihan itu harus ditentukan setiap hari. Kita masuk kepada pertanyaan kedua, bagaimana sikap kita agar dapat menentukan pilihan itu? Yosua 24:5b akan membantu kita, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Kata ‘Aku’ yang diucapkan Yosua perlu mendapat penekanan khusus. Sangat jelas diantara ribuan orang Israel, Yosua hanya sendirian (bersama keluarganya). Bandingkan kata Aku (tunggal) dengan Kamu sekalian (jamak). Untuk dapat mengungkapkan satu hal yang berbeda dari sekian banyak orang, dibutuhkan kekuatan dan keberanian. Yosua dapat mengatakan “Aku dan seisi rumahku” dengan mantap karena ia punya satu keyakinan. Ia memiliki iman kepada TUHAN. Ia tahu bahwa TUHAN adalah pilihan terbaik baginya. Itulah sebabnya ia kuat, teguh dan berani mengatakan hal itu kepada semua orang. Memilih Allah baginya bukan hal yang memalukan sehingga harus ditutupi dari antara orang banyak. Memilih TUHAN sebagai Allah adalah suatu kesukaan. Memilih Allah tidak memerlukan keragu-raguan. Tidak boleh takut-takut. Itulah contoh sikap yang perlu dicontoh saat memilih Allah. Sekali lagi: harus dengan rasa optimis, bersemangat dan penuh kepastian! Beranikah Anda? Saya akan bertanya kepada saudara sekalian, “Siapakah yang Anda pilih jadi Anda Anda?” Jawab dengan lantang dan penuh kepastian! Ada Amin?
- Saudara-saudara yang terkasih di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kita. Perikop tadi mengungkapkan satu segi penting di dalam memilih Allah. Sama seperti yang telah saya singgung tadi, kita selalu berada di antara dua pilihan. Pilihan A atau B. Akan tetapi saat memilih Allah yang kepadaNya kita harus tunduk, tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Tidak boleh merasa takut sendirian di antara banyak orang yang tidak percaya kepada Allah.
- Tentunya agar kita tidak ragu, kita harus berupaya mengenal diriNya setiap hari. Kita harus mengetahui apa yang dinyatakanNya pada kita dalam setiap perjalanan hidup kita. Mengenali apa yang dilakukan Allah dan memahami apa yang dikehendaki Allah akan menolong kita menghilangkan keragu-raguan yang menyesatkan.
- Pula, kita tidak boleh menganggap bahwa pilihan pada Allah hanya sekali untuk selamanya. Kita juga harus memilih setiap hari: setiap hari memilih kepada siapa kita dedikasikan hati kita; setiap hari memilih kepada siapa kita beribadah; setiap hari memilih kepada siapa kita berdoa; dan setiap hari kita memilih kepada siapa kita untuk menyanyi dan memuji namaNya. Itulah satu segi kehidupan orang Kristen. Allah menjadi pilihannya setiap hari dengan penuh kepastian.
Penjelasan Teks
Pesan Khotbah/Penutup
Amin.





