Mengapa RPP HKBP begitu menakutkan?

Sudah jadi rahasia umum kalau warga jemaat (HKBP) memiliki rasa takut kalau harus berurusan dengan RPP (Ruhut Parmahanion & Paminsangon, yakni rumusan-rumusan yang mengatur siasat gereja). Mungkin mereka merasa bahwa terkena RPP adalah hal yang sangat memalukan. Itu adalah aib bagi keluarga. Bahkan, pengaruhnya dirasa lebih memalukan dari penjara sel.

Sampai sekarang, pandangan negatif terhadap RPP masih sangat terasa. Hanya untuk menghindarkan anggota keluarganya terkena RPP, seorang kepala keluarga sampai mau menutup-nutupi dosa anak-anak/keluarganya. Kalau perlu ia rela mengirim mereka keluar kota bahkan sampai keluar dari gereja (pindah ke gereja lain). Tapi apabila kelihatannya ia ‘berpengaruh’ di gereja, ia akan mencoba menentang keputusan RPP tersebut mati-matian.

Kalau RPP HKBP dicermati, sebenarnya ia tidak perlu ditakuti. Hukum siasat gereja dibuat terutama untuk menjaga kekudusan umat secara utuh. Jemaat adalah kumpulan orang-orang kudus, oleh sebab itu, jika terjadi pelanggaran di dalamnya, sang pelanggar akan dipanggil keluar dari komunitas tersebut untuk mendapatkan ‘pelayanan khusus’ dari gereja setelah terjadi pertobatan.

Dalam hal ini pula perlu di ingat bahwa yang memutuskan RPP adalah jemaat (bukan hanya sekendak majelis).

Lagipula, tidak ada niat jemaat untuk mempermalukan si pelanggar. Pelanggaran bukan terhadap aturan-aturan masyarakat di mana yang dituntut hanya rasa malu! Pelanggaran terjadi pada hukum Allah. Bukan rasa malu yang dituntut di dalamnya, melainkan pertobatan karena dosanya terhadap Allah.

Orang yang memilih meninggalkan jemaat dan pindah ke gereja lain mengira bahwa ia sedang lari dari hadapan jemaat. Padahal sebenarnya, ia sedang lari dari ketentuan Allah terhadap dirinya. Gereja lain mungkin dapat menerima dirinya, akan tetapi ia tidak boleh lupa bahwa Allah yang disembah tiap gereja tetap sama. Lalu, siapakah yang dapat lari dari hadapan Allah?

Oleh sebab itu, akan lebih baik jika RPP dijalani sebagai wujud tanggungjawab dan pra pertobatan atas kesalahan yang dilakukan. Itu akan mencerminkan kedewasaan imannya kepada Allah dan kepeduliannya pada kekudusan umat.

About the author

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing Pdt. Reinhard PP Lumbantobing, S.Th adalah pendeta Gereja HKBP yang sekarang tinggal dan melayani jemaat di Pos Pelayanan Pagardin, HKBP Pamor Ganda, Bengkulu Utara. Anak dari Pdt. Robert Lumbantobing, SMTh yang sekarang melayani di HKBP Petojo Jakarta Barat. Peran utamanya di situs ini adalah sebagai editor dan penulis tetap. Tulisannya yang Anda baca kebanyakan adalah Khotbah Minggu, Renungan Harian, dan sejumlah artikel lain.

Komentar terbaik Anda:

XHTML: Anda dapat menggunakan kode-kode ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Eastertide