Gereja tanpa Palang Salib

February 15, 2010 by: 0

Minggu: Invokavit

Epistel: Yeremia 10:6-10

Tema khotbah: Bertekun dalam Pertandingan Iman

Saya teringat tatkala menghadapi ujian meja hijau. Salah seorang dosen penguji bertanya kepada saya tentang aplikasi praktis dari skripsi bertema tentang pusat kehidupan orang Kristen yang saya tulis. Beliau bertanya, “Apa pendapatmu mengenai kasus pelarangan palang salib di atas gereja?” Waktu itu dengan polos saya menjawab, “Yah, saya kira tidak apa-apa. Kalau mereka memandang salib itu sebagai simbol yang membuat mereka ‘sakit’, lebih baik diiyakan saja”. Jawaban saya itu salah menurut pendapat beliau. Akan tetapi setelah kunjungan saya ke gereja HKBP Lhokseumawe – Aceh (dimana mayoritas penduduknya adalah muslim) belum lama ini, saya mulai menyadari relevansi jawaban saya. Kenapa? Saya melihat gereja tanpa palang salib di sana.

Salib itu adalah simbol dari keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia melalui kematian Yesus Kristus. Namun simbol salib itu bukanlah keselamatan itu sendiri. Salib itu bukan Allah dan bukan pula Yesus Kristus. Orang Kristen tidak menaruh pusat kepercayaannya kepada simbol salib. Jika ia dijadikan sebagai pusat kepercayaan berarti kita telah menjadikannya sebagai sebuah berhala.

Perikop ini kurang lebih bernada sama. Jika dalam firman tersebut dikatakan “Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN!” (Yeremia 10:6), haruslah benar-benar berarti tidak ada yang serupa dengan Dia. Lukisan rupa Allah pun seharusnya tidak mirip dengan Dia. Tentunya ini berimplikasi tidak boleh ada yang lebih kita utamakan dari diriNya. Kita tidak berpusat pada sesuatu yang mirip atau mungkin mewakiliNya.

Gereja Tanpa Palang Salib

Hidup dalam kemenangan sebagai orang Kristen, membuat kita bisa menentukan siapa yang kita akui, hidupi dan taati sebagai pusat kehidupan kita. Dihubungkan dengan tema yang melandasi minggu Invokavit ini, kita diingatkan untuk terus bertahan dalam pertandingan iman. Pertanyaannya, jika gedung gereja dilarang didirikan di suatu tempat, apakah itu merupakan pertandingan iman? Apakah orang-orang Kristen sedang dicobai melalui pembakaran gereja?

Pada hakikatnya Gereja adalah communio sanctorum (persekutuan orang-orang kudus). Gereja bukanlah sebuah gedung yang menjulang tinggi ditambah sebuah palang salib. Gereja yang sebenarnya, dimana orang-orang kudus benar-benar menyembah Allah tidak dapat dibakar manusia. Tubuh orang-orang kudus, mulai dari ujung kaki atau ujung kepala, seandainyapun dibakar tidak pernah dapat membakar Gereja. Inilah yang namanya Gereja yang Tidak Kelihatan.

Jika ada larangan berdirinya sebuah gedung gereja yang kelihatan, itu bukanlah tantangan yang sebenarnya. Kita tidak harus bertanding di dalamnya. Pertandingan yang sebenarnya terletak pada hal ini: Mampukah kita bertahan sebagai seorang Kristen yang kudus dan taat kepada Allah serta tetap setia meskipun orang membakar gereja? Mampukah kita tetap bersikap lembut kepada orang-orang yang membakar gereja itu? Mampukah kita tetap menjaga keharmonisan dengan mereka yang telah memandang kita secara tidak adil?

Jika kita tidak mampu taat kepada Allah dan bersedia memaafkan dan bersikap lembut terhadap orang-orang yang menolak kehadiran gereja di tengah-tengahnya, maka janganlah kita meminta keadilan dan berkeluh kesah kepada Allah akan hal ini. Akan lebih baik jika kita meminta maaf kepada Allah, karena telah lebih memprioritaskan gereja dengan palang salib daripada Allah. Inilah yang dinamakan pertandingan iman yang sebenarnya. Selamat bertanding. :)

Share this Story

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing, S.Th adalah pendeta Gereja HKBP Cilincing Ressort Jatiwaringin. Menikah dengan Ibu Pdt. Melati Butarbutar dan telah dikaruniai dengan seorang putri. Anak dari Pdt. Robert Lumbantobing, SMTh ibu boru Munthe yang sekarang melayani di HKBP Petojo Ressort Petojo Jakarta Barat. Pendeta Reinhard adalah founder dari pargodungan.org.

Add a Comment on "Gereja tanpa Palang Salib"

Follow us

Christian Quotes

“...'joy' in Phillippians is a defiant 'Nevertheless!' that Paul sets like a full stop against the Philippians' anxiety...”  - Karl Barth

Humor Kristen

Suatu sore, seorang istri pendeta pulang ke rumah membawa sekotak kue cokelat. Itu kue kesukaan suaminya. Akan tetapi, atas anjuran dokter, suaminya diminta mengurangi makanan yang manis-manis. Akhirnya, ia mendapat akal. Ia meletakkan secarik kertas di dekat kotak kue itu. Isinya: "Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna." (1 Korintus 6:12) Kemudian, istri pendeta itu pergi sebentar ke warung dekat rumah. Ketika kembali, betapa terkejutnya ia mendapati kue cokelat itu sudah ludes tak bersisa. Dan, di sampingnya ada sebuah kertas dengan tulisan tangan suaminya. Isinya: "Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan." (Amsal 13:25) | Klik LIKE jika Anda suka!