Gereja Koq Ga Kelihatan?

Ada satu istilah yang menarik perhatianku ketiga mengerjakan tugas menulis buku pelajaran agama Kristen untuk SMA kelas XII tahun 2007 kemarin. Istilah itu adalah ‘Gereja yang Tidak Kelihatan’. Gereja koq ga kelihatan? Ada-ada saja!

Mengapa ada gereja yang tidak kelihatan? Apakah orang Kristen sudah mulai ‘stres’ karena berbagai ‘tekanan’ dari lingkungannya? Apa karena orang Kristen dilarang membangun gereja yang kelihatan? Ataukah itu hanya karena merasa frustrasi melihat pengisi gereja yang sudah tidak kristiani lagi? Atau jangan-jangan karena rupanya dalam gereja itu yang kelihatan cuma pendeta yang ber cas-cis-cus tanpa ada perubahan signifikan dalam diri jemaat? Atau apa karena di dalam gereja itu mereka bahkan tidak mengenal satu sama lain? Busyet, pertanyaan spekulatif ini tentu bisa muncul kalau mendengar istilah itu.

Rupanya istilah ini muncul bukan karena spekulasi di atas. Istilah ini semata ingin menunjukkan bahwa gereja itu adalah suatu realitas rohani. Sesuatu yang rohani tentu hanya dapat dikenal dan dipahami melalui kepercayaan kita (bukan lewat mata). ;)

Gereja sebagai suatu realitas rohani berkaitan erat dengan alur ide seperti ini: Gereja adalah gereja Yesus Kristus. Kristus adalah kepala jemaat dan jemaat itu adalah tubuh Kristus (Kol 1:18). Apakah yang membuat gereja kita menjadi gereja Yesus Kristus? Jawabnya: Roh Kudus! Gereja dipanggil ada oleh karena tercurahnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 2). Gereja muncul bukan karena diijinkan atau tidak diijinkan pemerintah. Gereja muncul bukan karena kemauan jemaatnya mengumpulkan duit membangun gereja. Gereja tidak muncul karena ‘semau gue atw loe-loe semua’. Hehehe

Coba perhatiin juga apa sih arti gereja itu? Kalau dari akar katanya dalam Perjanjian Baru, dipakailah kata ekklesia. Sedangkan dalam Perjanjian Lama dipakai kata kahaal (koq jadi kayaq kursus bahasa ya?!). Kedua kata itu artinya ‘mereka yang dipanggil keluar’. Gereja terdapat dimana ada yang dipanggil, dipanggil berhimpun oleh TUHAN. Sama seperti Abraham keluar dari Ur-Kasdim, dunia orang kafir (Kej 12:1), demikianlah gereja dipanggil keluar dari dunia bangsa-bangsa. Keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib (I Ptr 2:9; Kol 1:14).

Gereja adalah suatu persekutuan orang-orang yang menyadari bahwa mereka adalah ‘orang-orang asing’ di bumi ini (Ibr 11:8-16; Mzm 119:19). Tapi ingat, gereja bukan ‘paasingasinghon’ (Batak: seolah membuat dirinya berbeda). Jika ia ‘paasingasinghon’ dirinya, ia tidak akan dapat membawa garam dan terang ke dalam dunia. Ia membedakan diri hanya agar ia kelihatan ‘aneh’. Gereja yang demikian hanya akan menganggap dunia itu sebagai musuh yang harus ditumpas dan dibiarkan tersesat (bukan untuk ditolong). Gereja yang demikian adalah gereja yang egois dan telah kehilangan arah. Dan yang paling buruk, gereja yang ‘paasingasinghon’ dirinya adalah contoh sikap yang angkuh dan tinggi hati. Gereja merasa dirinya sebagai orang-orang asing punya tujuan khusus: agar kelihatan juga melalui dirinya pembangunan dan perwujudan Kerajaan Allah di dunia.

Apakah Anda melihat gereja yang demikian dengan mata? Tentu tidak! Kan harus dengan kepercayaan. :)


Holy Saturday