Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang pemuda yang menyebut orangtua adakah Debata na tarida (Allah yang kelihatan). Saya terkejut mendengarnya. Apa benar orangtua kita adalah Allah yang kelihatan?
Saya segera sadar bahwa pernyataan demikian dipicu oleh karena adanya pencampur-bauran pemahaman yang terjadi di masyarakat. Sepengetahuan saya, memang ada pemahaman yang berbunyi demikian, khususnya budaya India. Para istri orang India biasa memandang suami sebagai dewa yang kelihatan. Begitulah cara mereka menghormati suaminya. Tapi dalam kasus di atas, pernyataan orangtua adalah Allah yang kelihatan, sepertinya berasal dari budaya India ini. Bentuk sinkretisme seperti ini wajar terjadi karena adanya pertemuan budaya.
Namun, ajaran kristen tidak menyebut orangtua sebagai Allah yang kelihatan. Kalaupun kita ingin memakai istilah “Debata na tarida”, lebih tepatlah kalau ditujukan pada Yesus Kristus. Kita mendasarkan ini pada Yohanes 12:45, “dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku”, dan juga pada Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”.
Dengan menyebut Yesus Kristus sebagai Allah yang kelihatan, itu berarti kita mengaku percaya bahwa di dalam Yesus Kristus kelihatan pekerjaan Allah. Di dalam diriNya kita juga percaya akan kesediaan Allah untuk hadir di antara manusia. Dan dengan demikian juga, kita mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah “Anak Allah yang tunggal, Tuhan kita” (cf. Pengakuan Iman HKBP 1996, p. 83).





