“Puluhan calon pelayan wanita HKBP dilecehkan oleh dokter RS HKBP Balige”. Inilah judul postingan yang sebenarnya saya inginkan. Betapa tidak, saya merasa kesal mengetahui bahwa para calon pelayan wanita yang menjalani test kesehatan mendapat perlakuan tidak etis oleh oknum dokter RS HKBP Balige. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa korban dan dari sejumlah teman pria yang mengetahui kejadian ini dengan jelas. Tapi sebagai warga HKBP dan sekaligus juga sebagai calon pelayan HKBP, saya mengurungkan niat itu. Daripada hanya menyajikan sebuah berita yang hanya mendiskreditkan oknum dan pihak rumah sakit, lebih baik saya mengungkapkan solusinya juga di sini.
Menurut pengaduan mereka pada saya, dokter tersebut membuka baju dengan kasar dan meraba-meraba payudara mereka. Bahkan sang dokter (sebut saja Anton) tidak memberitahu maksud dan tujuannya melakukan hal tersebut. Akibatnya mereka merasa trauma dan malu oleh kejadian tersebut. Mereka tidak mengira ini wajar dilakukan seorang dokter. Dan mengingat gelagat dan situasinya, test tersebut sudah mengindikasikan tindakan pelecehan seksual. Dugaan ini semakin kuat mengingat pada saat itu tidak ada kehadiran orang ketiga (mis. suster). Itulah sebabnya dokter tersebut merasa bebas melakukan apapun.
Kejadian ini sungguh memalukan. Apakah sang dokter mengira dia dapat berbuat semaunya karena kami membutuhkan hasil test tersebut? Apakah ia dapat berbuat apapun karena HKBP yang merekomendasikan dirinya sebagai pelaksana test? Yang pasti dokter yang satu ini harus diajukan ke polisi.
Siapakah yang bertanggungjawab atas kejadian ini? Menurut saya ada tiga. Pertama adalah pihak HKBP itu sendiri. Secara tidak langsung HKBP bertanggungjawab atas mimpi buruk yang dialami calon pelayannya. Secara tidak langsung HKBP telah merekomendasikan agar kami ‘diobok-obok’ dokter tak bertanggungjawab. Hehehe.
Kedua, pihak RS HKBP Balige juga bertanggungjawab atas hal ini. Mereka menugaskan dokter pria untuk memeriksa payudara wanita. Padahal sudah jelas bahwa para calon pelayan tersebut tidak mempersiapkan payudaranya untuk diperiksa dokter pria. Juga mereka bertanggungjawab atas ketidak hadiran suster (pihak ketiga) untuk mengawasi pekerjaan sang dokter. Jika ada yang menyaksikan, tentu sang dokter tidak bisa macam-macam.
Yang ketiga tentu saja sang dokter itu sendiri. Ia tidak menjalankan tugasnya secara profesional. Ia juga tidak menjalankan kode etik keprofesiannya dan memanfaatkan kepercayaan pasien untuk melampiaskan syahwatnya. Dengan begitu, ia juga telah melanggar UU no. 29 tahun 2004 tentang hak pasien (konsumen) untuk mendapatkan penjelasan atas apapun yang akan dilakukan terhadapnya. Jadi dengan kata lain, ia bisa dipenjara karena hal ini.
Lalu bagaimanakah solusinya? Saya kira yang perlu dan penting adalah pemahaman yang jelas atas hak dan kewajiban pasien. Agar ini tidak terjadi pada siapapun juga, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
- Pasien berhak mendapatkan informasi tentang apapun yang akan dilakukan terhadap dirinya. Apalagi menyangkut organ intim, sang dokter harus lebih hati-hati. Akan lebih baik kalau pihak rumah sakit yang mengumumkannya.
- Seorang pasien berhak menolak tindakan apapun yang akan dilakukan dokter. Namun kalau memang wajib dilakukan, lebih baik dokter perempuan yang melakukannya. Ingat, sang pasien berhak memilih dokter yang memeriksanya.
- Harus ada pihak ketiga yang membantu dokter dan sekaligus jadi pengawas atas kinerjanya. Apalagi ini dilakukan dalam rangka testing, maka pihak yang netral dan obyektif sangat dibutuhkan.
Saya kira ketiga hal ini sudah bisa jadi acuan untuk menghindari kejadian serupa. Jangan sampai calon pendeta yang melayani jemaat HKBP adalah korban trauma yah.

April 27th, 2009 at 10:13
Aduh koq begini ya beritanya apalagi ini di Bonapasogit, kita tau tatakrama dan budaya di bona pasogit masih ketat. saya sebagai warga HKBP turut sedih. Tapi mungkin Dokternya masih muda ya , barangkali naik nafsu ya…
Horas dan salam kenal
April 27th, 2009 at 13:42
Paraaah bener !!
thank u untuk tipsnya, saya pasti ingat2, semoga kejadian yg kayak gitu gak terulang lagi…
Mei 6th, 2009 at 06:33
@ MR.Bien
Iya neh, saya juga masih sangat kesal. Sangat tidak beretika.
@ EKA
Sama-sama k EKA.
Agustus 5th, 2009 at 22:38
mungkin tu dokter lg kesal ma istri’y, jd dia cari pe;ampiasan!!!
suruh kawin ja lg tu dokter, dr pd org lain jd korban. kan kasihan…
dr pd pak polisi yg menghajar’y!!!
Oktober 12th, 2009 at 18:17
uidih…..nabohado ate, sega do bah….
tapi yg jelas cal pel- na ga ketagihan kan or ga slh ma mrka dunk..
ttp berjuang cw2 Tuhan…
Oktober 12th, 2009 at 18:21
o TUHa…apa itu????
begono kata shbt gw , tp leo sndr gmna nanggapin hal itu? pa dah cb nany kbnrnya ma yg brsgktn?
hantam napa sech klo denger yg getoan…
thank yo bro…
Januari 21st, 2010 at 13:16
Betul banget nih bang..
Parah,, begitu juga di ruang rontgen.. Ga jelas instruksi untuk yang mau dicek,,
terutama cewek,, ada yang bisa pakai kutang, ada yang harus buka semua..
Dan petugas rontgen nya cowok,, yang diperiksa cewek.. Mereka curi kesempatan
dalam kesempitan..