Gaya Hidup

Inspirasi, Gaya Hidup, Hubungan, Pekerjaan, Sikap Hidup, Prinsip Hidup, Motivasi Kristen, Parenting, Pacaran, Buku Rohani

Tahukah Anda?

Rugi kalau tidak baca! Tahukah Anda berisi fakta-fakta unik, lucu, aneh yang berkaitan dengan gereja, Alkitab dan kehidupan Kristen.

Tips & Trik

Panduan dan kiat-kita praktis untuk melakukan apa pun yang berguna untuk mendukung kehidupan Anda.

Makalah

Studi tentang gereja, pelayanan, sejarah, dsb. Bagi kamu yang ingin sedikit “mengernyitkan dahi” saat membacanya.

Resources

Kumpulan Software, Aplikasi Pelayananan Kristen, Alkitab Download, Lagu Rohani, Multimedia, Ebook, Dokumen, dan Materi pelayanan di gereja.

Khotbah Markus 12:41-44 | Apa yang akan kupersembahkan?

| 22 Maret 2011461 pembaca

Uang lagi, uang lagi, uang lagi! Demikian gerutu dan sungut-sungut yang terdengar ketika gereja kami sedang mengumpulkan persembahan yang akan dipergunakan untuk keperluan pengembangan pelayanan. Bagaimana dengan anda sendiri, gereja di mana anda menjadi anggota jemaat, atau gereja di sekitar anda? Menurut anda mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa pemahaman mengenai persembahan masih sangat terbatas. Nah, kita akan mencoba memahami persembahan ini dengan singkat, tepat dan terarah.

Mengapa kita memberi persembahan? Apakah Tuhan membutuhkannya atau Tuhan kekurangan? Tidak, tetapi karena Dialah yang memberikan hidup, nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (bnd. Kisah Para Rasul 17:25). Memberi Persembahan kepada Tuhan sama seperti membayar hutang kepada Tuhan. Orang-orang yang memberi tidak akan menjadi hebat ketika itu terlaksana, tetapi memang sudah kewajiban. Memberi persembahan juga adalah suatu perintah dari Tuhan. Melalui Keluaran 23:15 menjadi jelas bahwa seseorang janganlah menghadap kehadirat Tuhan dengan tangan kosong. Memberi persembahan juga sebagai perwujudan atau kesaksian bahwa kita telah ditebus oleh Yesus Kristus. Memberi persembahan adalah juga sebuah seruan terhadap keseimbangan hidup, saling mencukupkan, dan mengajarkan kita akan ketulusan hati untuk memberi, memperhatikan, menjaga, dan melestarikan kehidupan (bandingkan 2 Korintus 8:1-15). Persembahan adalah buah dari iman. Iman menjadikan manusia memahami bahwa tubuh, jiwa, serta segala sesuatu yang dimiliki, dirasakan, dilihat, didengar, dan lain sebagainya berasal dari Tuhan saja. Oleh sebab itu memberi persembahan adalah ekspresi atas ucapan syukur.

Cerita yang terdapat di dalam Markus 12:41-44 ini sangat menarik. Yesus sedang berada di sekitar Bait Suci. Barang kali Dia sedang duduk sambil mengajar menghadap ke ruang perbendaharaan Bait Suci. Sambil mengajar, Yesus memperhatikan orang-orang yang sedang memberi persembahan. Banyak orang-orang kaya memberi persembahan dan secara tiba-tiba ada yang menarik perhatian Yesus. Seorang janda miskin memberi persembahan sebanyak ‘dua peser’ atau satu duit. Yesus berkata kepada murid-muridNya: sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Bagaimana mungkin yang diberi janda itu lebih banyak? Sebab janda itu memberi semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya sedangkan orang-orang kaya memberi dari kelimpahannya. Apa yang hendak Yesus ingin ajarkan melalui cerita tersebut?

Yesus bukan hendak membicarakan tingkah laku janda itu; kemuliaan dari pemberian atau ketulusan janda itu. Yesus ingin mengatakan bahwa nilai seluruh uang yang ada di dalam peti persembahan tidak lebih dari dua peser atau satu duit. Mengapa Yesus berkata demikian, sementara tentu saja duit di dalam peti persembahan itu sangat banyak jumlahnya. Sebab, orang-orang yang memberi persembahan itu memberi dari kelimpahannya. Sementara janda itu memberi seluruh nafkahnya. Di negeri itu sungguh banyak orang-orang kaya, tetapi mereka tidak memperhatikan kehidupan masyarakat di sekitar mereka. Janda-janda ditelantarkan. Orang-orang kaya itu memberi dengan uang yang tidak mereka butuhkan untuk hidup. Sementara janda itu memberikan dari kemelaratannya. Kekurangan yang terjadi pada janda itu, tidak akan semakin bertambah atau berkurang jika dia memberi atau tidak dua peser atau satu duit yang ada padanya. Apakah kekayaan Bait Suci semakin bertambah dengan persembahan janda miskin itu? Tentu saja tidak.

Apakah anda bingung dengan penjelasan ini?

Saya mencoba menjelaskan dengan sederhana. Persembahan seharusnya menghidupkan, mengharmoniskan, melestarikan, keberlangsungan hidup. Sebagaimana Allah mempersembahkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus untuk kehidupan manusia, yakni penghapusan dosa. Anak Domba Allah yang tunggal telah tersalib. Demikian juga manusia haruslah memberi persembahan sebagai bagian dari hidupnya untuk menghidupkan, melestarikan, mengharmoniskan kehidupan. Bagaimana mungkin orang berkata mengasihi Tuhan dengan memberi persembahan kepada Bait Suci dengan berlimpah-limpah, sementara dia tidak memperhatikan kehidupan di sekitarnya? Melalui nas ini kita diingatkan akan dua hukum yang terutama, yakni mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia (Markus 12:31).
Janda miskin itu tidak bersungut-sungut dengan kemelaratannya untuk mempersembahkan apa yang dia miliki kepada Bait Suci. Tetapi itu adalah sebuah ultimatum kepada orang-orang di sekitarnya atas kehancuran moralitas keberagamaan. Kita memerlukan keseimbangan. Memperhatikan, membantu, memberi dari kelimpahan kita untuk kehidupan di sekitar kita, adalah sebuah persembahan yang hidup bagi kemuliaan Tuhan.

Nah, jika kita sadar bahwa persembahan yang benar adalah persembahan yang menghidupkan, memberi warna ceria bagi kehidupan, lantas mengapa kita bersungut-sungut untuk melakukannya? Yesus tidak pernah bersungut-sungut, ketika Dia harus menjadi persembahan bagi kehidupan manusia. Jika Dia yang adalah Tuhan telah berbuat demikian bagi kehidupan, mengapa kita yang adalah ciptaan tidak berbuat demikian?

Minggu Okuli yang berarti mataku tetap terarah kepada Tuhan (Mazmur 25:15a), mengajak kita agar pandangan kita terarah kepada Tuhan. Hidup dengan arti yang sepenuhnya terarah kepada Tuhan. Sikap yang demikian tentunya memiliki konsekuensi. Secara totalitas, manusia dengan kesadarannya mempersembahkan kehidupannya kepada Tuhan. Uang adalah bentuk nyata dari hasil pekerjaan. Pemikiran bentuk nyata dari intelektual, kepekaan terhadap sesama, bentuk nyata dari pemahaman akan penderitaan Tuhan Yesus. Semuanya kita persembahan sebagai persembahan yang hidup dan menghidupkan, untuk menjadikan kehidupan lebih baik. Sebagaimana Yesus telah mempersembahkan hidupNya untuk kehidupan yang lebih baik bagi kita. Amin.

Silahkan memberikan tanggapan di sini!

pargodungan.org | khotbah, renungan harian, gaya hidup kristen, spiritualitas, partitur koor, pacaran, pernikahan, karir dan pekerjaan, makalah kristen, gereja, download alkitab, software pelayanan gereja

Anda ingin membaca artikel ini? Gabung Yuk! Pastikan Anda sudah mengklik salah satu tombol di bawah!

×