Khotbah Matius 26:6-13 | Pegangan Anda untuk Melayani Tuhan

April 9, 2011 by: 0

melayani tuhan“Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik kepadaKu”, tanya Yesus pada murid-muridNya.

Apa pasalnya? Begini, waktu itu di Betania ada seorang perempuan yang mencurahkan minyak wangi yang mahal ke atas kepala Yesus. Melihat itu, para murid segera komplain: “Mendingan parfum itu dijual, dan hasilnya diberi pada orang miskin.”

Yesus pun segera menjawab keluhan mereka dan mengatakan, “Dengan mencurahkan minyak itu ke tubuhKu, ia membuat suatu persiapan untuk penguburanKu.”

[Anda mungkin merasakan suatu suasana hubungan yang amat spiritual antara Yesus dengan perempuan dalam cerita itu.]

Peristiwa pengurapan Yesus itu merupakan bagian dari tanda penderitaan yang akan segera dialamiNya. Sayangnya para murid masih belum sadar bahwa Yesus akan mati. Mereka tetap sibuk dengan diri dan pekerjaan mereka. Sibuk memikirkan pekerjaan sosial yang bisa mereka lakukan, dan akhirnya lupa untuk “menikmati saat-saat terakhir” bersama Yesus.

Berbeda dengan para murid, perempuan itu (yang dalam Yohanes 12:3 disebut Maria) sangat menghayati saat-saat terakhirnya bersama Yesus. Perempuan itu seakan tahu bahwa itulah saat terakhir baginya untuk mempersembahkan persembahan bagi Yesus.

***

Menyikapi peristiwa tersebut tentu kita jadi tersadar, bagai terbangun dari mimpi. Ternyata orang Kristen bisa terjebak dalam hal-hal baik yang mereka lakukan. Karena keasyikannya melayani sesama, mereka dapat lupa atas hal yang sebenarnya paling esensial: melayani Tuhan. Karena keasyikannya, mereka jadi menomorduakan Tuhan. Dan akhirnya, bukan Tuhan yang memperoleh kemuliaan oleh karena pekerjaan mereka, tapi diri mereka sendiri.

Tidak heran, banyak kita temukan orang Kristen yang menjadi narsistik: merasa telah melakukan banyak hal besar bagi sesama. Bisa jadi, para murid mulai mengalami narsisme: merasa dapat melakukan banyak hal baik atas prakarsa sendiri. Akibatnya, mereka melupakan prakarsa dan keinginan Yesus.

***

Apa sebenarnya keinginan Yesus bagi Anda melalui khotbah minggu ini? Sedikitnya ada 3 hal:

Pertama, dengarkanlah dahulu prakarsa dan keinginan Allah sebelum melakukan segala sesuatu. Anda tentunya mempunyai prakarsa dan keinginan sendiri dalam hidup Anda. Anda tentu punya target pencapaian dan cita-cita dalam hidup. Jangan kuatir, semuanya itu dapat Anda capai sesuai dengan kehendak Allah. Jika Anda mau, Anda tidak akan kecewa padaNya.

Kedua, untuk setiap pelayanan atau apapun yang Anda lakukan, lakukanlah yang terbaik untuk Allah dan untuk diri Anda sendiri serta sesama. Dalam hal mempersembahkan persembahan pun (misalnya), seperti perempuan itu, berikanlah yang terbaik. Persembahan hidup Anda bukan untuk kemuliaan Anda atau orang lain, tetapi untuk kemuliaan Allah semata.

Ketiga, ingatlah bahwa sebagai orang Kristen, Anda tidak hidup sendirian. Anda melakukan segala segala sesuatu bersamaNya. Anda akan memperoleh bimbingan untuk melakukan segala sesuatu. Anda akan dibimbing dan diarahkan melakukan yang baik dan benar, bukan sekedar melakukan hal biasa-biasa saja.

Ingatlah ketiganya: Anda melakukan segala sesuatu sesuai kehendak Allah, melakukannya untuk Allah, dan melakukannya bersama Allah. Dari Allah, untuk Allah, bersama Allah.

Tuhan akan menolong Anda untuk melayaniNya.

Amin.

Share this Story

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing, S.Th adalah pendeta Gereja HKBP Cilincing Ressort Jatiwaringin. Menikah dengan Ibu Pdt. Melati Butarbutar dan telah dikaruniai dengan seorang putri. Anak dari Pdt. Robert Lumbantobing, SMTh ibu boru Munthe yang sekarang melayani di HKBP Petojo Ressort Petojo Jakarta Barat. Pendeta Reinhard adalah founder dari pargodungan.org.

Add a Comment on "Khotbah Matius 26:6-13 | Pegangan Anda untuk Melayani Tuhan"

Follow us

Christian Quotes

Faith is a living and unshakable confidence. a belief in God so assured that a man would die a thousand deaths for its sake. — Martin Luther

Humor Kristen

Seorang ibu mendatangi seorang pendeta, meminta pendeta itu berbicara kepada anaknya, agar menghentikan kebiasaannya makan permen. Pendeta itu menyimak permohonan ibu tersebut, lalu meminta ibu itu datang lagi minggu depan. Ibu itu mematuhinya. Ketika ia datang lagi, pendeta itu menatap si bocah dan berkata, "Nak, berhentilah makan permen!" Terperangah oleh sederhananya penyelesaian masalah itu, si ibu bertanya, "Pak Pendeta, kenapa kami harus menunggu sampai seminggu? Bukankah Bapak bisa mengatakannya waktu kami datang menemui Bapak dulu?" "Saya meminta kalian menunggu selama seminggu karena seminggu yang lalu saya masih makan permen." | Klik LIKE jika Anda suka!