Yohannes 17:20-23
Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam sasana itu para petinju selalu berjibaku, saling melayangkan dan menerima pukulan. Sejarah panjang kekristenan menunjukkan bahwa gereja sering jadi ajang ‘pukul-memukul’. Misalnya saja pada awal berdirinya, gereja sudah berjiibaku dengan orang kafir untuk mengokohkan pondasi iman kepercayaannya. Selain itu, sejak masa para rasul (jemaat mula-mula), orang-orang percaya sudah beradu argumen, mempertentangkan dan mempertengkarkan ajaran para rasul. Di dalam gereja, orang Kristen bukan hanya bertengkar dengan orang di luar mereka. Mereka juga bertengkar diantara sesamanya, yang sama-sama orang Kristen. Inilah yang dinamakan konflik dalam gereja.
Konflik dimulai dan disebabkan oleh karena manusia sangat lihai melihat perbedaan antara satu dengan yang lain – karena tahu tentang yang baik dan yang jahat. Pengetahuan ini kemudian diselimuti oleh pikiran dan usaha untuk mempertahankan yang benar, dan kemudian menghalalkan segala cara – entah itu harus meninggalkan esensi sejati orang Kristen yang sesungguhnya – untuk memusnahkan atau paling tidak untuk menundukkan yang salah dihadapan kebenarannya. Jika mengingat keadaan gereja yang seperti ini, kadang timbul pertanyaan, mungkinkah orang percaya dapat bersatu? Jika mungkin, bagaimana cara dan apa faedah kesatuan?
Ketika Yesus Kristus berdoa pada TUHAN BapaNya, Ia meminta satu hal dalam Yohanes 17:20-23 yakni, agar orang percaya menIjadi satu, sama seperti diriNya adalah satu dengan Bapa. Ini sudah menjawab pertanyaan apakah orang percaya dapat bersatu. Yesus menyadari benar perbedaan di dalam diri tiap orang percaya. Sayangnya Yesus tidak mentolerir dan tidak ingin membiarkan perbedaan itu dipandang berlama-lama. Ia sangat menginginkan kesatuan orang percaya.
Mengenai pertanyaan kedua, saat Yesus Kristus meminta pada Allah Bapa agar orang bersatu, itu juga berarti Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan itu menjadi pemisah antara satu dengan lainnya. Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai awal perpecahan. Itulah arti dan cara orang percaya menjadi satu, yakni saat perbedaan bukan lagi hal substansial yang harus diutamakan.
Ketiga, mengenai faedahnya dan bentuk kesatuan itu sendiri. Bentuk kesatuan orang percaya kelihatan melalui tugasnya: untuk menjadi saksi/pemberita (bnd. Matius 28:19-20). Dan inilah pula yang menjadi faedah kesatuan orang Kristen, yakni menjadi kesaksian. Kesaksian bagi dunia yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai utusan Allah, dan kesaksian bagi dunia tentang kasih Allah pada dunia. Oleh karena kesatuan orang Kristen maka tujuan untuk bersaksi kepada dunia menjadi terpenuhi.
Akhirnya, melalui firman ini, terlihat tuntutan yang harus segera kita tunaikan. Perbedaan apapun yang kita lihat dan temukan dari antara tiap orang percaya, kita harus tetap menjaga kesatuan kita dengan dirinya. Kita harus mengupayakan agar kita yang berbeda itu sama-sama menjadi saksi bagi Kristus dan Allah. Perbedaan warna kulit, suku, ras, ajaran, denominasi gereja, bukan berarti apa yang kita saksikan dan persaksikan berbeda-beda juga. Semuanya satu dan disatukan dalam menyatakan pada orang-orang disekaliling kita, bahwa Allah yang mengasihi bumi telah mengutus Kristus bagi kita. Amin.
