Khotbah Ulangan 6:4-9 | Menjadi pengajar Firman Allah yang baik

January 21, 2010 by: 0

alkitab

Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena kurang konsentrasi atau karena pendengaran kita kurang baik.
Setelah mendengar, kita pun diharuskan untuk berbicara kembali. Inilah respon dalam arti yang sesungguhnya. Di dalamnya kita mengungkapkan pendapat, gagasan, harapan, maksud, tujuan kita, dsb.

Sehubungan dengan firman Allah dalam Ulangan 6:4-9, TUHAN lah yang sedang berbicara dan Musa adalah suaranya. Sekarang, suara ini telah kita dengar dan perhatikan. Melalui Musa, Allah memerintah kita untuk mendengarkan firmanNya sekaligus juga agar dapat menyampaikan dan memberitakannya kepada orang lain atau kepada siapapun juga.

Namun karena pekerjaan mendengar adalah sesuatu yang sulit (seperti dikatakan tadi), maka suara dan perintah Allah itu harus lebih kita perhatikan. Kita harus mempelajarinya dengan sungguh dan memeliharanya dalam hati kita baik-baik. Mengulangi apa yang dikatakanNya dan memastikan tidak ada sedikitpun yang ketinggalan. Intinya, kita harus mempelajari firman Allah itu setiap saat dan setiap hari.

Inilah syarat agar kita dapat menjadi pengajar firman Allah yang baik, yakni yang telah menjadi pendengar Allah yang baik.

Mungkin ada yang mempersoalkan cara mengajarkan firman Allah yang paling baik. Akan tetapi itu tidak jadi masalah. Cara yang paling praktis dan paling mudah adalah mengajar melalui teladan dan kesaksian. Diri si pengajar (kita) harus menjadi contoh yang hidup atas bagaimana Allah itu telah berperan dalam kehidupan si pengajar. Firman Allah tidak begitu abstrak sehingga kita harus mengajarkannya secara teoritis. Ia berawal dari tindakan dan bukan wacana. Itulah sebabnya untuk mengajarkannya harus diawali dengan tindakan kita juga.

Ini berarti seorang pengajar firman Allah harus menjadikan firman itu bagian dari hidupnya. Inilah persiapan utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar, siapapun kita, entah sebagai orangtua, sebagai guru, sebagai pelayan Tuhan, dokter, pengacara, polisi, atau apapun profesinya. Amin.

Share this Story

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing, S.Th adalah pendeta Gereja HKBP Cilincing Ressort Jatiwaringin. Menikah dengan Ibu Pdt. Melati Butarbutar dan telah dikaruniai dengan seorang putri. Anak dari Pdt. Robert Lumbantobing, SMTh ibu boru Munthe yang sekarang melayani di HKBP Petojo Ressort Petojo Jakarta Barat. Pendeta Reinhard adalah founder dari pargodungan.org.

Add a Comment on "Khotbah Ulangan 6:4-9 | Menjadi pengajar Firman Allah yang baik"

Follow us

Christian Quotes

“I haven't even read everything I wrote.”  - Karl Barth

Humor Kristen

Ada seorang calon pendeta disuruh mendoakan temannya yang pada saat itu sedang putus cinta. Dengan semangat ia langsung mendoakannya. "Baiklah, mari kita berdoa bersama" (begitulah ajakan calon pendeta kepada semua orang yang ada di tempat itu). Ketika calon pendeta sedang berdoa, tiba-tiba saja terdengar suara orang terjatuh. Semakin semangat ia berdoa dan semakin kencang pula ia mengeluarkan kata-kata doa. "Asyik, ini adalah pengalaman pertama saya mendoakan orang dan orang itu diurapi" (pikirnya dalam hati). Lama-kelamaan suasana menjadi sunyi senyap dan terdengar sedikit suara tangisan. ia mengakhiri doanya dengan perkataan "Amin." Lalu ia membuka mata dan bertanya dengan perasaan senang, "Lho kenapa menangis, di mana yang lain?" Yang ada di tempat itu menjawab, "Pak... yang Bapak doakan tadi minum racun." | Klik LIKE jika Anda suka!