Home » Khotbah » Khotbah Yesaya 6:1-13 | Ini Aku, Utuslah Aku

Khotbah Yesaya 6:1-13 | Ini Aku, Utuslah Aku

Yesus Kristus telah memenuhi janjinya untuk mengutus Roh Penghibur. Kini misi besar sudah di tangan orang-orang Percaya. Murid-murid yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus membagi tugas pemberitaan kabar sukacita. Petrus memulai Pekabaran Injil tidak lama setelah peristiwa turunnya Roh Kudus. Melalui kitab Kisah Para Rasul, kita dapat mengetahui bagaimana proses awal pemberitaan kabar sukacita itu. Nah, inilah yang kembali diingatkan kepada kita melalui Yesaya 6:1-13.

“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Tuhan, Alah semesta alam berseru kepada Yesaya pada saat pengutusannya menjadi nabi di tengah-tengah bangsa Israel. Saya mengajak saudara pembaca menempatkan ayat itu kepada diri kita sendiri. Bagaimana ketika firman itu disampaikan Tuhan, Allah semesta alam kepada anda. Apa jawaban dari saudara?

Yesaya mengetahui itu adalah tugas yang berat. Tetapi ketika Serapim menyentuhkan bara ke mulut Yesaya sebagai simbol bahwa dosanya telah diampuni, dia menjawab: “Ini aku, utuslah aku!”. Sebuah jawaban yang cukup indah. Jawaban yang indah, bukan karena kata-kata yang tepat untuk pertanyaan Tuhan, Allah semesta alam, tetapi karena Nabi Yesaya memang sungguh-sungguh melakukan tugas panggilan itu.

Di dalam Yesus Kristus, dosa manusia telah diampuni melalui baptisan dan perjamuan kudus. Saya dan anda tidak layak memberitakan kabar sukacita itu. Tetapi di dalam Yesus Kristus, pengampunan dosa dan anugerah yang diberikan telah melayakkan kita untuk melakukannya.

Bangsa Israel sesungguhnya mengetahui bahwa perbuatan mereka telah menyimpang dari firman TUHAN. TUHAN, Allah semesta alam melalui Nabi Yesaya diutus untuk mengeraskan hati mereka, karena kebebalan mereka. “Sampai berapa lama, ya TUHAN?” demikian Yesaya bertanya kepada TUHAN tentang pengutusannya. Ini adalah suatu kepedihan bagi orang-orang yang tidak mengindahkan firman TUHAN. Bahwa seorang nabi diutus bukan agar bangsa itu berbalik, tetapi agar bangsa itu terhukum. Apakah TUHAN, Allah semesta alam adalah Allah yang kejam? Sesungguhnya tidak demikian. TUHAN, Allah semesta alam, tidak menginginkan kematian orang-orang jahat, tetapi agar mereka berbalik dari segala kesalahannya. Tetapi ketika TUHAN, Allah semesta alam berulangkali menyatakan kasih serta pengampunan-Nya, namun tidak diindahkan, hukuman harus segera dijatuhkan.

TUHAN, Allah semesta alam menjawab pertanyaan Yesaya. “hingga keluar Tunas Yang Kudus!” Itulah Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristus, pengampunan masih dimungkinkan terjadi. Anak Domba Allah yang kudus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi tebusan. Kini Dia telah melakukan pekerjaanNya dengan baik. Kita sudah diampuni. Saatnya kita menyatakan kasih-Nya kepada seluruh dunia.

Sungguh misi orang Kristen sebagai ekklesia (orang-orang yang dipanggil dari gelap menuju terang) adalah misi yang berat. Menjadi garam dan terang, diutus ke tengah-tengah serigala. Dalam masa pengutusan sejak hari pentakosta hingga hari ini banyak dari orang-orang yang telah diutus itu tergilas oleh situasi di mana dia diutus. Pemberitaan Firman TUHAN hanya sebagai sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Matius 6:33 telah diputarbalikkan dalam arti bukan Kerajaan Allah dan kebenarannya yang menjadi prioritas, tetapi kebutuhan dan keinginan daging. Mandat pengutusan itu menjadi: Ini Aku, Putuslah Aku”.

Apakah setiap orang Kristen harus pergi untuk mengkristenkan orang lain? Sesungguhnya tidak demikian. Misi orang Kristen yang sebenarnya bukan untuk mengkristenkan tetapi untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan berasal dari dunia ini, tetapi sesuatu yang telah dibawa oleh Yesus Kristus dan untuk itulah kita diutus. Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Ingat, semuanya didasarkan oleh Roh Kudus. Melalui Turunnya Roh Kudus sesungguhnya orang-orang percaya telah diberi kekuatan untuk melakukan serta mewujudkan Kerajaan Allah itu sendiri.

Ketika manusia tidak lagi menempatkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita sebagai tujuan utama hidupNya, seketika itu jugalah dia telah melanggar perintah pengutusan itu. Justru itulah pergumulan terbesar kita di abad ini. Manusia tidak lagi menempatkan Kebenaran, Damai Sejahtera dan Sukacita sebagai tujuan hidupnya. Manusia sudah berorientasi pada uang, kekuasaan, seks, dan lain sebagainya. Mengapa engkau mengkuatirkan apa yang akan kamu makan dan apa yang akan kamu pakai? (Matius 6:25-34) Semuanya akan ditambahkan (Matius 6:33) ketika Kerajaan Allah itu sendiri telah terwujud.

Kini, “Siapakah yang mau diutus?” Amin.

About Pdt. Leonardo Sinambela

Pdt. Leonardo Sinambela
Pendeta Leonardo R. Sinambela, saat ini sedang menyelesaikan studi Magister Pendidikan Agama Kristen di sebuah universitas kristen di Jakarta. Kategori tulisan utamanya adalah Khotbah Minggu. Anda juga akan menemukan beberapa postingannya tentang adat/budaya Batak serta sejarah gereja.

Silahkan memberikan tanggapan di sini!

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates