Kisah Para Rasul 26:10-11 – Makna Pertobatan

Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing. (Kisah Para Rasul 26:10-11)

Cerita tentang pertobatan seringkali bukanlah sebagai suatu kisah yang indah. Orang-orang percaya yang baru bertobat seringkali harus menghadapi beban yang lebih berat daripada yang pernah dipikulnya sebelum bertobat.

Barangkali hal ini juga yang dialami oleh Youcef Nadarkhani dan istrinya. Nadarkhani adalah seorang pendeta asal Iran yang dijebloskan ke penjara sejak Oktober 2009 yang lalu. Oleh pengadilan di Iran, Nadarkhani dituntut dengan hukuman mati karena telah murtad dari kepercayaannya. Sementara itu, istri Nadarkhani juga harus dipenjara seumur hidup dengan dakwaan yang sama. Hingga saat renungan ini dituliskan, meskipun hukuman mati belum dilakukan, nasib Nadarkhani masih belum jelas.

Pertobatan Paulus juga tidak diiringi kisah-kisah indah dalam pelayanannya. Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa dengan Nadarkhani. Di dalam nas yang jadi dasar renungan hari ini, Paulus bukan sedang bermaksud memamerkan segala rupa kejahatan yang pernah dilakukannya terhadap orang-orang percaya. Sebaliknya, Paulus mengatakan hal tersebut sebagai bagian dari isi pertanggungjawabannya kepada Raja Agripa. Saat itu banyak orang yang hendak menangkap Paulus karena kepercayaan dan jalan yang ditempuhnya. Namun dengan kesetiaan penuh, Paulus memilih bertahan untuk tetap disisiNya dan berjuang mempertahankan hidupnya lewat pemerintah Romawi.

Kedua gambaran ini sedikit banyak menunjukkan pada Anda dan saya bahwa saat Allah memakai orang yang baru bertobat untuk melayaniNya, ia harus siap sedia bertahan agar tetap berada di jalan Allah yang benar. Banyak usaha-usaha yang akan dilakukan Iblis untuk menyesatkan orang-orang benar dan menjauhkanNya dari Allah. Iblis selalu merancang jalan agar orang-orang benar kembali mengkhianati Allah dengan memberikan mereka masalah dan tantangan yang besar.

Pertobatan adalah suatu permulaan, bukan suatu akhir. Setelah pertobatan, ada banyak tantangan yang menanti Anda untuk berbalik dari iman Anda. Tantangan yang datang bisa justru berasal dari orang-orang terdekat Anda. Bukankah Yesus sendiri dikhianati oleh orang-orang terdekatNya? Bukankah Yudas yang menjual Yesus demi rencana Iblis (bnd. Markus 14:10-11)? Demikian juga, godaan untuk berbalik dari Allah bisa saja berasal keluarga, saudara, teman-teman, atau orang-orang di sekeliling Anda.

Pertobatan juga adalah cara hidup, bukan suatu fase tertentu dalam kehidupan. Sebagai cara hidup, berarti orang-orang yang bertobat memiliki perilaku dan gaya hidup yang berbeda dengan orang-orang sesat. Hidup orang yang bertobat adalah hidup yang penuh perjuangan untuk melawan tingkah laku, perbuatan, kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Pertanyaannya, bagaimakah cara Anda saat ini menjalani pertobatan itu? Apakah Anda masih tetap berada di track-Nya atau malah sudah tersesat jauh?


Minggu Kebangkitan