Lukas 15:20 – Ada Suara Lembut yang Memanggil Anda Pulang

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.
Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya,
lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Sebuah syair lagu pop Batak pernah menyebutkan bahwa anak-anak adalah harta kekayaan bagi orangtua. Orangtua akan bekerja keras untuk dapat menyekolahkan anaknya. Mereka meneteskan peluh saat terik matahari, menahan dingin saat hujan, menahan kantuk saat malam tiba. Begitulah sekeras-kerasnya usaha dan pengorbanan mereka.

Itulah sebabnya, budi dan jasa orangtua tak akan bisa kita balaskan.

Ketika masih bayi, mereka datang dan memeluk Anda saat Anda menangis.

Mereka menyuapi Anda makan dan minum saat tangan Anda belum bisa berbuat apa-apa.

Ketika Anda mulai disebut sebagai anak-anak, mereka memegang tangan Anda dan mengantar Anda ke sekolah.

Mereka ingin Anda mengenal dunia ini dari sekolah, bukan hanya dari pengenalan mereka yang mungkin sangat terbatas.

Sejak masa remaja Anda, mereka pun harus berlatih untuk menahan kesedihan melihat segala kenakalan yang Anda lakukan.

Dan ketika tiba waktunya Anda meninggalkan mereka…

Dalam doanya selalu nama Anda mereka sebut.

Dalam permenungannya, mereka menunggu kabar dari Anda.

Dalam masa tuanya yang tidak selalu nyaman, mereka selalu berharap Anda baik-baik saja.

Memang, dalam beberapa hal, kita mungkin menemukan ‘ketidaksempurnaan’ dalam diri mereka. Kadang mereka seolah tidak mengerti apa yang kita butuhkan. Kadang mungkin mereka salah paham menilai maksud dan tindakan kita. Kadang kita merasa ‘aneh’ melihat mereka bertengkar karena ulah kita. Kadang pula kita heran mendengar tuntutan mereka yang terlalu besar dari kita.

Memang, toh ternyata mereka itu juga seperti kita yang tidak sempurna. Kadang kita salah mengartikan keinginan mereka. Kadang kita salah memaknai kerja keras mereka; sehingga menganggap mereka tidak peduli pada kita. Kadang kita juga memperlakukan mereka dengan semena-mena. Dan semua itu membuat kita bersalah terhadap mereka, seperti ‘kesalahan’ mereka kepada kita.

Namun, barangkali, inilah suatu talenta yang dimiliki oleh setiap orangtua di dunia ini. Sekeras-kerasnya bentakan anaknya pada orangtuanya, mereka tetap berharap agar hati anaknya melembut. Sebesar-besarnya kesalahan kita pada orangtua, dalam sanubarinya, mereka selalu berharap kita mau memperbaiki kesalahan itu. Dan meskipun kita meninggalkan mereka sendirian saat kita marah, mereka selalu mencari kita. Mereka memanggil kita dalam kesedihan yang dipendamnya, mengatakan, “Pulanglah, anakku.”

Apakah orangtua Anda masih bersama Anda? Lihatlah gurat-gurat di dahi mereka. Lihatlah juga keriput di wajah mereka. Anda akan mengerti maksud saya.

Oleh sebab itu, sangat pantas bagi kita untuk menyempatkan diri menyatakan terimakasih kita kepada mereka. Dalam waktu yang masih tersisa, pantaslah kita membuat mereka merasakan cinta kasih kita. Jangan sampai tiba waktunya mereka menutup mata, kita tidak pernah sempat membaktikan diri pada orangtua. Tidakkah Anda mendengar sayup suara mereka mengatakan, “Pulanglah, anakku?”

***

Demikian hubungan Anda dengan orangtua, demikian pulalah hubungan kita dengan Allah Bapa kita. Tidak peduli seberapa keras penolakan kita padaNya; tidak peduli seberapa jauh Anda meninggalkan diriNya; tidak peduli ke arah mana Anda memalingkan wajah Anda dariNya, hanya satu hal yang Ia katakan, “Pulanglah anakKu.”

Manfaatkanlah waktu yang tersisa bagi Anda untuk menunjukkan kepada Allah besarnya kerinduan Anda padaNya. Manfaatkan kesempatan yang Anda miliki untuk berbakti kepada Allah melalui pertobatan hidup Anda. Ia selalu menanti Anda berbuat demikian.

Doa: Allah Bapa, aku mendengar suara panggilanMu padaku. Aku datang padaMu untuk menyatakan kasihku padaMu di waktu yang masih tersisa untukku. Ajarlah juga aku Tuhan untuk menunjukkan kasihku padaMu dengan membaktikan diri bagi orangtua yang Kau percayakan untuk memperanakkan aku. Dalam Yesus Kristus aku berdoa. Amin.

About the author

Pdt. Reinhard PP Lumbantobing Pdt. Reinhard PP Lumbantobing, S.Th adalah pendeta Gereja HKBP yang sekarang tinggal dan melayani jemaat di Pos Pelayanan Pagardin, HKBP Pamor Ganda, Bengkulu Utara. Anak dari Pdt. Robert Lumbantobing, SMTh yang sekarang melayani di HKBP Petojo Jakarta Barat. Peran utamanya di situs ini adalah sebagai editor dan penulis tetap. Tulisannya yang Anda baca kebanyakan adalah Khotbah Minggu, Renungan Harian, dan sejumlah artikel lain.

Komentar terbaik Anda:

XHTML: Anda dapat menggunakan kode-kode ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Eastertide