Tata Ibadah Minggu HKBP: Sejarah, Teologi dan Pemakaiannya

Keterangan: Karangan yang berusaha menjelaskan sejarah dan makna teologis tata ibadah minggu yang digunakan di seluruh gereja HKBP ini adalah karya Pdt. Dr. J. R. Hutauruk, yang rasanya sangat berguna untuk menambah pemahaman kita perihal ibadah minggu di HKBP. Karangan ini sudah diterbitkan dalam buku INTEGRITAS SEORANG HAMBA:Buku Pengucapan Syukur 65 Tahun Pdt. M. V. Simanjuntak, BA (editor: Pahala Jannes Simanjuntak, Nekson M Simanjuntak, Thomson P Sinaga dan Dr. Deonald Sinaga). Terimakasih untuk Bapak Pdt. Nekson M Simanjuntak dan Pdt. Heince Simanjuntak yang memberikan softcopy di sebuah forum untuk dapat kita pakai bersama.

Pengantar

Gereja yang hidup adalah gereja yang beribadah; ibadah kepada Tuhan Allah Tritunggal dan ibadah kepada sesama melalui tindakan-tindakan nyata. Saya rasa ungkapan singkat ini dapat diterima oleh umum, oleh mereka yang melakukan ibadah baik pada hari-hari yang ditentukan oleh Gereja sepanjang abad maupun pada hari-hari biasa melalui hidup seharian, melalui kegiatan-kegiatan pribadi maupun kelompok.

Di bawah ini akan dicoba menguraikan seperti apa tata ibadah hari Minggu yang sejak dulu hingga sekarang dilakukan di tengah-tengah jemaat HKBP. Hal-hal apa yang sejak awal sangat fundamental yang membuat tata ibadah itu dianggap injili. Pencarian akan hal-hal yang fundamental ini sangat dibutuhkan saat gereja-gereja arus utama kini sedang mencari berbagai bentuk baru sebagai upaya untuk merespons perubahan minat warga jemaat untuk mengikuti tata ibadah yang lebih santai, lebih banyak memberikan kesempatan untuk luapan emosi dan gerak tubuh yang lebih bebas serta ingin menerima secara nyata penyembuhan pribadi yang sedang dilanda rasa kekosongan, terasing dan dibebani masa lalunya yang gelap, dll. Menurut para ahli ilmu kemanusiaan, hasrat seperti itu adalah bagian dari hidup post-modern, hidup di era globalisasi, di mana manusia merasa kebebasan tanpa batas untuk mengaktualisasikan dirinya; bahwa dirinya menjadi pusat segalanya, dan karena itu dia tidak lagi membutuhkan rambu-rambu kehidupan, karena apa yang dia rasa sangat indah dan sangat enak memuaskan kehausannya, itulah yang jadi impiannya. Manusia post-modern berpusat pada seleranya, dan itulah kebebasannya. Pemahaman demikian,menurut para ahli teologi juga mempengaruhi banyak gereja-gereja elektronik yang dapat memproduksikan tata ibadah yang serba waah…, penuh dengan suara musik eletronik dan cahaya lampu yang mengangkat rasa ke dunia nikmat rohani, serta suara sang pengkhotbah yang gemuruh menggetarkan hati dan pikiran para pengunjung kebaktian demikian. Keadaan demikian tidak lepas dari perhatian kita kalau kita berupaya menggali kembali hal-hal yang fundamental buat sebuah tata ibadah yang injili itu.

1. Beberapa istilah asing dalam Tata Ibadah ( HKBP ).

1.1. Agenda: dari bahasa Latin yang artinya dalam bahasa Inggris menunjukkan sebuah daftar tentang halhal yang akan dikerjakan; kemudian kata itu digunanakan oleh gereja-gereja berbahasa Jerman “Agende” atau “Kirchenagende”,yaitu sebuah buku yang mengumpulkan tata ibadah yang dipakai oleh gereja ,a.l. kebaktian minggu biasa, kebaktian dengan perjamuan kudus, dengan babtisan, naik sidi, pemberkatan nikah, penguburan, ordinasi ( die Ordination zum Predigtamt), dll. Padanannya sebelum masa Reformasi, a.l. “Agenda missarum” ( perayaan messe ), “agenda mortuorum” ( perayaan mengenang para orang mati ), dll. Kumpulan Tata Ibadah HKBP dikenal dengan nama “Agende” ( dulu ) atau “Agenda” ( kini ) sesuai dengan pemakaian kata itu oleh gereja-gereja asal para misionaris yang bekerja di Tanah Batak ( 1861 – 1940 ). 1.2. Liturgi: dari bahasa Yunani “leiturgia” ( leos = rakyat, ergon = kerja ): kerja bakti yg dilakukan warga kota setempat; pajak yg dibayar oleh warga negara; ibadah dlm kuil; dlm PB: ibadah atau kebaktian kepada Tuhan ( Kis.13:2 ); mata acara suatu ibadah, termasuk juga kaidah, system atau aturannya.

1.3. Cultus ( bhs Latin ) sebagai padanan kata “latreia” dlm PB ( bhs.Yunani ) atau dlm bhs Jerman “Gottesdienst” ( ibadah pada Allah ); mencerminkan prinsip reformatories M.Luther yg merujuk pada ibadah seutuhnya oleh manusia terhadap Allah, termasuk tampilan luarnya, sehingga ibadah itu bukan buatan tangan manusia seolah-olah manusia dapat merebut kedudukan Allah yg bebas mendirikan ibadah ( tata ) untuk Allah sendiri.

1.4. Votum ( bhs Latin : keinginan); janji; keputusan; pengesahan; dukungan suara; penyataan Allah bhw Ia ada dan bersedia menerima orang yang ingin bertemu dengan Allah; unsur yang mengawali ibadah gereja; kebaktian dimulai oleh Allah yg berjanji, yg menyatakan diri berada.

1.5. Introitus ( bhs Latin: pengantar masuk suatu prosesi ); ayat introitus : sebuah nats Alkitab yg merujuk pd tahun gerejawi yg berlaku pd hari minggu tertentu, yg berfungsi sebagai panggilan beribadah. Dll.

2. Dasar-dasar teologis tata ibadah hari Minggu HKBP.

2.1. Latar belakang histories: uraian tentang dasar teologis tata ibadah HKBP seharusnya diawali dengan paparan dari segi historisnya, artinya memberi penjelasan kapan lahir, bagaimana lahirnya serta mengapa dilahirkan sebuah dokumen yang namanya Liturgi ( tata ibadah ) HKBP. Karena keterbatasan waktu untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber untuk itu, jalan ini tidak mungkin ditempuh secara tuntas, namun garis-garis besarnya harus dilakukan pada saat ini. Kita dapat menduga bahwa sejak awal pekabaran Injil di Tanah Batak ( 1860-an ) keinginan untuk pengadaan sebuah liturgi atau tata ibadah Minggu dan peristiwa-pristiwa gerejawi lainnya sudah menggema dan upaya untuk itu sudah dilakukan. Ini nampak dari laporan-laporan para misionaris, seperti yang nampak dari laporan kegiatan Pekabaran Injil di lembah Silindung ( Batak – Toba ) oleh ketiga misionaris setempat, yaitu I.L.Nommensen, P.H.Johannsen dan A.Mohri.[2] Mungkin mereka di tempat pelayanan masing-masing telah membuat gagasan-gagasan awal untuk menciptakan tata ibadah Minggu, ibadah baptisan, perjamuan kudus, peneguhan sidi, pernikahan, dll. Dan mungkin ini semuanya telah bermuara pada sebuah buku Agenda, dan besar kemungkinan Agenda edisi pertama ialah Agenda 1904, dilengkapi dengan pedoman pemakaiannya, yang diterbitkan pada tahun 1906 dalam bahasa Jerman dan untuk edisi Batak ( Toba ) tahun 1907. Agenda 1904 dan buku pedoman tersebut menjadi acuan bagi paparan kita dalam mencari dasar-dasar teologis dan praktis sebuah Agenda HKBP serta menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan revisi Agenda HKBP untuk masa mendatang.[3]

2.2. Tanpa mengurangi bobot paparan ini, kita memberi perhatian yang lebih banyak pada sebuah ceramah tentang ibadah HKBP, yang disampaikan oleh Misionaris F.Tiemeyer [4] pada Konferensi tahunan para misionaris Jerman ( RMG ) tahun 1936 di Padangsidempuan, 72 tahun lampau.[5]. Jadi kita tidak melakukan pemantauan pemakaian Agenda 1904 secara kronologis ( 1904 – 1936 ). Tetapi kita berasumsi bahwa Agenda 1904 masih dipakai oleh jemaat-jemaat pada tahun 1936., bahkan sampai tahun 1939, karena Agenda 1939 adalah edisi kedua dari Agenda HKBP.[6] Konferensi para misionaris RMG 1936 sedang membicarakan konsep baru dari Agenda HKBP dan mencari apa-apa saja yang harus ditambah atau dikurangi dari Agenda yang lama ( 1904 ). Tetapi F.Tiemeyer tidak bermaksud memasuki tugas revisi tersebut; bagi beliau yang lebih utama ialah untuk mengkaji kembali apa sebenarnya dasar teologis dari sebuah liturgy ( tata ibadah gereja ) yang evangelis ( istilah hyang lebih popular ialah “injili” ), atau dengan kata lain apa saja yang paling fundamental dari sebuah agenda gerejawi yang berdasarkan teologi reformatories M.Luther atau J.Calvin maupun para reformator lainnya. Dasar teologis yang sangat fundamental menurut beliau ialah bahwa karya Tuhan Allah sendiri yang selalu mendominasi sebuah tata ibadah yang otentik sebagaimana ditemukan kembali oleh para reformator M. Luther dan J. Calvin. Beliau mengedepankan pendirian beliau yang mengatakan bahwa upaya mencari makna dan hakekat sebuah “tata ibadah evangelis” ( “evangelische Gottesdienst” ) atau istilah yang lebih dikenal dengan kata “ibadah injili” ( untuk selanjutnya kita memakai istilah ini ) ialah memperlihatkan aksi jemaat yang menunjukkan kepatuhannya terhadap Allah yang hidup itu. Karena arti tata ibadah yang paling mendasar ialah perbuatan / tindakan Allah bersama jemaatNya ( umatNya ). TeguranNya dan pemberianNya, dan bukan kedatangan ( kehadiran ) kita dan itu terjadi selalu dalam sikap pertobatan dan iman. Di mana terjadi sebuah ibadah gerejawi ( “Gottesdienst” = ibadah Allah ), entah itu tarjadi dalam khotbah, sakramen atau liturgy, di sana selalu terjadi dalam nama Allah Tritunggal. Allah muncul di atas pentas. Allah bertindak, berbicara dan menghibur. Allah menghukum dan menghajar. Allah menegur dan mengampuni. Tetapi kalau kita mengatakan Allah, itu berarti bahwa kita tidak mengatakan manusia sekalipun yang nampak ialah manusia sendiri. Manusia yang nampak bekerja dalam sebuah ibadah, tetapi Allahlah yang hidup dan kudus itulah yang bertindak. F.Tiemeyer masih melanjutkan paparannya tentang hal-hal yang fundamental itu, di mana beliau mengatakan, bahwa dalam hal ini kita harus mengatakan, bahwa tidak ada perbedaan antara pendeta ( pengkhotbah = “Prediger” ) dan liturgis. Di sini pendeta dan liturgis sebagai manusia biasa tidak bakal melewati batas antara Allah dan manusia. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia dan tidak bakal membagikan kemuliaan-Nya dengan siapapun dari antara manusia, termasuk bagi manusia yang melayankan ibadah gerejawi itu ( liturgis atau pendeta ). Di sini terjadi suatu ketegangan ( teologis-liturgis ) didalam proses peribadahan injili itu ( “Spannung des evangelischen Gottesdienstes” ). Ketegangan itulah yang harus dicermati oleh setiap liturgi dan agenda gerejawi, termasuk liturgy dan agenda HKBP. Setiap upaya untuk membicarakan sebuah liturgy / agenda gerejawi, hendaknya berawal dari perhatian akan ketegangan teologis – liturgis ini, ketegangan antara Allah dan manusia, ketegangan yang harus dipelihara atau jangan terjadi pelanggaran batas antara Allah dan manusia.

2.3. Sekilas pemantauan historis berbagai tata ibadah gerejawi yang pernah dipakai oleh Gereja – gereja sepanjang abad, telah dilakukan oleh F.Tiemeyer dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa sepanjang sejarahnya gereja sepanjang abad itu selalu jatuh bangun dalam mempertahankan hal-hal yang fundamental dari sebuah tata ibadah seperti beliau kedepankan tadi, yaitu yang paling utama ialah tindakan Allah, Allah yang bertindak, Allah yang hadir dan manusia merespons kehadiran Allah yang mulia dan agung itu. Dalam lima periode, beliau melihat gereja-gereja itu jatuh bangun dalam mempergumulkan ke-injil-an dari tata ibadah kristiani itu. Beliau mengibaratkan perjalanan dari tata ibadah injili itu telah melalui lima stasi / persinggahannya secara histories: Yerusalem, Roma, Wittenberg dan Geneva, kemudian zaman pasca-reformasi, rasionalisme dan kultur protestantisme Eropa ( dunia Barat ).

Zaman Israel . Pada setasi pertama di Yerusalem nampak, bahwa ibadah pada bait suci memperlihatkan kehadiran Allah yang hidup itu. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Israel selalu nampak bahwa sebuah tempat tertentu ( sebuah kemah nomadis, tabut pada zaman perjalanan di gurun pasir atau sebuah tempat yang menetap pada zaman sebelum dan sesudah pembuangan ), fenomenanya tetap sama, yaitu “Allah hadir, mari kita sujud di hadapan-Nya!”, demikian yang terjadi pada awalnya. Ketika batas antara Allah dan manusia dilewati, maka para imam Israel atas kekuatan / kekuasaan jabatannya, mereka telah membangun ibadah untuk Allah, dan pada saat itulah menghilang kehadiran Allah. Kehadiran Allah telah menghilang, dan sebagai gantinya ialah ibadah ( “Gottesdienst” ) tanpa Allah. Kemudian utusan Allah yaitu Kristus datang memasuki sejarah bangsa Israel. Firman Allah menjadi daging. Tetapi Kristus tidak diterima, manusia ingin menguasai Allah dalam bait suci. Kristus menjatuhkan hukuman. Bait Suci di Yerusalem musnah, tinggal puing-puing. Demikian F.Tiemeyer menggambarkan perubahan makna ibadah di Yerusalem, yang tadinya berpusat pada kehadiran Allah, tetapi oleh kehadiran para imam Israel tempat Allah telah direbut oleh para imam. Imam jadi pusat ibadah.

Zaman Kekristenan. Zaman Israel digantikan oleh zaman Kekristenan. F.Tiemeyer merujuk ke nats Alkitab Mat. 7, yang untuk beliau nats ini menunjukkan karakteristik dari pemberitaan Yesus : “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” ( 7:29 ). Demikian beliau mengutipnya serta menambahkan, bahwa Yesus menerima kewibawaan / kuasa dari Allah; Yesus bukan mengandalkan wibawa / kuasa sendiri. Kini Allah kembali hadir dan bertindak dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus. Kehadiran Allah dipertegas lagi oleh nats Alkitab Luk.4: 21 :” Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya’”. Dan pada akhir hidup-Nya, demikian Tiemeyer – Yesus mendirikan Perjamuan Kudus ( “Abendmahl” ) sebagai ibadah. Rasul Paulus melanjutkan ibadah yang mengedepankan kehadiran Allah dalam ibadah Perjamuan Kudus: “ dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! ( 1 Kor. 11:24 ) Inilah menurut beliau bentuk yang sangat sederhana yang dilayankan oleh Yesus, yaitu makan ( roti ) dan minum ( anggur ); bentuk yang sangat sederhana ini dipakai oleh Yesus untuk mencerminkan kebesaran dan kehadiran Allah yang berbuat itu. Inilah suatu ketegangan yang indah, yang nampak dalam ibadah yang dipimpin oleh Yesus: ketegangan antara unsur ( roti dan anggur ) yang bersifat sementara itu dan dalam bentuknya yang sederhana itu ( kata-kata yang biasa tanpa seremoni ) dengan kemuliaan yang abadi dari Tuhan Allah yang hidup itu. Namun ketegangan ini akhirnya sirna oleh ulah manusia yang tidak sabar dan rindu akan kehadiran Tuhan Allah. Lagi-lagi terjadi penyimpangan oleh ulah dan perbuatan para pejabat gerejawi abad ke-2. Kehadiran Allah dalam ibadah telah digantikan oleh kegiatan seremonial para pejabat gerejawi itu. Kehadiran Allah dalam Perjamuan Kudus telah digantikan oleh unsur-unsur yang diilahikan [7] ( roti dan anggur ; “die vergotteten Elemente Brot und Wein”). Artinya, kini yang bertindak ialah manusia bukan lagi Allah. Imam maju ke depan dan mengorganisasi ibadah itu, menguasainya, bertindak dan memutuskan melalui seremonial yang saleh. Dalam hal ini, Tiemeyer menyimpulkan bahwa kini yang terjadi ialah: Ibadah – tanpa Allah ( “Gottesdienst – ohne Gott” ).

Zaman Romawi. Pusat ibadah Gereja Katolik Roma ialah Missa, yang pada hakekatnya adalah Perjamuan Kudus. Dalam Missa ,menurut pemahaman beliau, Allah telah dimaterialisasikan ( “Gott ist dinglich geworden” ) dalam sebuah peti sakral yang dikenal dengan nama Hostie ( tempat roti yang sudah berubah jadi tubuh Kristus ). Melalui pelayanan ritus seorang imam, maka roti dan anggur itu telah diilahikan ( “vergotten” ). Ketegangan antara Allah dan manusia telah dihancurkan. Gereja yang merayakan itu memiliki, berkuasa atas Allah dalam peti sacral hostie. Kristus telah hadir dalam peti tersebut. Gereja telah menguasai Allah. Gereja telah berkuasa atas Allah, bukan lagi sebaliknya Allah menguasai Gereja. Kejatuhan dalam dosa telah kembali terjadi di tempat kudus. Sekali lagi terjadilah : Kebaktian – tanpa Allah.

Zaman Reformasi abad ke-16. Menurut pemahaman Tiemeyer, tujuan para reformator ( M.Luther, J.Calvin, dll. ) bukanlah mereformasi kehidupan kultis gereja , sekalipun mereka menilai Messe itu sebagai suatu pengilahian ( “Abgotterei” ) dan oleh karenanya perlu ditiadakan. Bagi kedua reformator, Luther dan Calvin, adalah suatu hal yang sangat mendasar, bahwa tindakan Allah sendiri yang terjadi dalam sebuah ibadah dan hendaknya jangan ada yang merampok kemuliaan Allah dalam tempat suci. Ketegangan antara Allah dan manusia harus ditegakkan kembali: “Allah tidak bertempat tinggal di rumah bait suci buatan manusia” ( Kis.17 : 24 ), demikian beliau mengutip nas Alkitab. Dalam ibadah itu harus nyata adanya perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia, dan keduanya jangan dicampuradukkan, melainkan dalam ibadah itu harus nampak kekuatan dan anugerah Allah, bahwa Dia yang kudus itu mendekatkan diri kepada orang-orang berdosa dan Dia memang membutuhkan orang-orang berdosa dalam pelayanannya masing-masing. Dengan demikian Allah yang kembali hadir dalam ibadah sebagai Hakim dan juga sebagai Juru Selamat. Suara Allah yang mengatakan Tidak pada tindakan-tindakan penuh dosa kembali terdengar nyaring dalam ibadah, tetapi juga suaraNya yang mengatakan Ya berlaku bagi orang berdosa. Bagaimana caranya hal sedemikian rupa dapat terjadi dalam ibadah injili buat para reformator itu? Beliau mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi hanya melalui firman Allah dan bukan melalui Messe. Sekali lagi beliau mengulangi, bahwa melalui Messe, dalam roti dan anggur yang telah diilahikan itu, Gereja telah menampilkan diri sebagai pemilik, sebagai yang mempunyai. Tetapi firman Allah itu tak akan pernah dapat dimiliki atau dikuasai oleh siapapun, melainkan firman Allah itu mengajar supaya sabar dan berpengharapan. Beliau mengutip nas Alkitab Rom 8: 24 :” Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya.” ( “Wir leben im Glauben und nicht im Schauen” = Kita hidup dalam iman dan bukan dalam melihat dengan organ mata ). Menurut beliau, semua reformator sependapat akan arti dan makna sebuah ibadah yang injili / evangelis itu. Mereka beda hanya dalam menentukan bentuk luarnya. Perbedaan antara Luther, Calvin dan Zwingli hanya dalam bentuk luarnya, bukan secara kualitatif tetapi hanya secara kuantitatif. [8]

Luther berpijak pada tradisi lama yaitu liturgi Messe ketika dia memperkenalkan tata ibadahnya, yaitu Messe Jerman ( “Deutsche Messe” = Messe berbahasa Jerman bukan lagi berbahasa Latin ). Tetapi bagi Luther Messe Jerman ini tidak dianggap bersifat hukum / aturan ibadah yang harus dipatuhi atau dilaksakan. Rujukan beliau untuk itu ialah kata pengantar buku Messe Jerman itu ( hal 227 cetakan I ).

Menurut F.Tiemeyer ada perbedaan antara kosep liturgy antara M.Luther dan J. Calvin. Menurut beliau Calvin mengambil pijakannya dari tradisi alkitabiah. Dalam hal ini, beliau tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa karakteristika dari tata ibadah calivinis adalah kebeningannya ( “Nuechternheit” ). Beliau mengetahui, bahwa ketika Calvin melayani di Strassburg beliau sudah mengenal sebuah buku nyanyian yang dikenal dengan nama Nyanyian Mazmur, dan buku nyanyian ini beliu perkenalkan kepada jemaatnya di Geneva sebagai “Nyanyian rakyat” ( Volksgesang ). Buku liturgi karangan Calvin tahun 1545 memanfaatkan Nyanyian Mazmur tersebut. Penilaian akan sebuah tata ibadah yang bening atau cerah, menurut Tiemeyer lebih tepat diberikan pada Zwingli yang menyusun sebuah tata ibadah yang berpusat pada firman Allah dan bukan pada nyanyian. Tetapi perdebatan ini diakhiri beliau dengan kutiban dari nas Alkitab dari 2 Kor. 4: 7: “ Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Aspek kuantitatif dari sebuah tata ibadah adalah relative dan tidak mengurangi esensinya atau istilah yang beliau pakai “kualitasnya” sebuah tata ibadah.

Zaman pasca-reformasi. Menurut beliau terjadi juga penyimpangan dalam Gereja zaman pasca-reformasi di kalangan Gereja reformasi. Aliran Ortodoksi telah menjadikan tata ibadah itu sebagai suatu pemberitaan ajaran ( “Lehrverkuendigung” ). Firman Allah telah menjadi buku hukum / aturan ( “Gesetzbuch” ). Dan isinya telah disimpan dalam sebuah lemari buatan roh manusia. Tetapi, demikian beliau, Roh Allah tidak identik dengan roh manusia. Roh Allah berembus ke mana Dia inginkan. Roh Allah tidak mau berkompromi dengan roh manusia sekalipun ajaran yang benar itu dibutuhkan.

Aliran Ortodoksi ketika itu berseberangan dengan aliran Pietisme. Struktur pemikiran pietisme ialah “Mistik dan Injil”. Berangkat dari pemikiran inilah maka kaum Pietisme selalu menekankan kehidupan ( “Leben” ) dan tidak ajaran ( “Lehre”). Dan sikapnya terhadap Gereja resmi ( arus utama ) tidaklah besahabat, malahan anti-gereja, demikian beliau. Yang diutamakan bukan ajaran ortodoksi, tetapi kehidupan jiwa-jiwa dalam hubungan pribadi yang sangat hangat dan emosional dengan Allah, dengan kata-kata yang membelai seperti : “‘Yesus sang bayi yang cantik, buah hati yang setia.’” ( “’lieben Jesulein’, dem ‘treuen Herzlein’” ). Kembali beliau jumpai di sini suatu pencampuradukan perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia. Dosa dirasakan sangat menekan dan ini terjadi secara mistis. Dalam hal ini kebenaran hanya oleh iman sudah sangat menurun. Yang menjadi pergumulan pokok dalam kehidupan ini ialah bagiamana seseorang dapat meraih kekudusan / kesalehan. Dalam hal ini beliau mengatakan, bahwa yang terjadi di sini ialah bahwa manusialah yang mengambil prakarsa dan yang ingin memisahkan diri dari “’Dunia, Gereja dan Dosa’”, tetapi hasilnya ialah bahwa manusia tetap tinggal sebagai orang yang ditipu oleh dosa. Demikian penyimpangan yang terjadi dalam aliran atau kaum Pietisme.

Tetapi bukan hanya dalam gerakan kegerejaan, seperti dalam Pietisme itu terjadi penyimpangan; penyimpangan terjadi juga akibat aliran atau semangat Rasionalisme dan Kulturprotestantisme, sebagaimana masih menguasai pemikiran dan pola pikir manusia Barat sezaman para misionaris Jerman yang melayani di Tanah Batak. Atas kenyataan itu Tiemeyer merasa tidak perlu membahasnya secara menditel, karena masih bagian pergumulan masa kininya mereka yang mengadakan Konferensi 1936 itu. Beliau hanya ingin mengangkat yang paling pokok dari kedua aliran itu yang mempengaruhi pola pikir dan sikap menggereja atau beragama ketika itu. Misalnya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebaikan ( Tugend ), kesejahteraan ( Wohlfahrt ), solidaritas persaudaraan ( Bruederlichkeit ) dianggap sebagai ibadah – pengganti / ibadah – serap ( Ersatz-Gottesdienst ) manusia Barat saat itu, yang memang adalah anggota Gereja di Jerman saat itu. Dan sejak Schleiermacher ( seorang tokoh teolog abad ke-19 di Jerman ), demikian beliau, terjadilah pemutarbalikan: Allah yang bertindak bersama jemaat telah digeser oleh perbuatan jemaat yang sedang dipentaskan bersama Allah. Asumsi beliau yang beliau sampaikan ke tengah konferensi itu ialah: pola pikir Schleiermacher sangat menguasai diskusi tentang tata ibadah dan sedang mempengaruhi pola pikir teologis para pendeta di Jerman termasuk para misionaris Jerman di Tanah Batak, artinya juga mereka yang sedang mendiskusikan pembaharuan tata ibadah untuk Gereja Batak HKBP. Alasan beliau berbicara demikian ialah bahwa lahirnya Agenda Union yang lama ( die alte Unionsagende buat Gereja Senegeri Prusia atau lazim disebut Gereja Evangelis Union ) sangat banyak dipengaruhi oleh Teologi Schleiermacher, yang berpusat pada perasaan manusia yang sangat bergantung pada suatu kekuasaan diatasnya atau diluarnya ( “das schlechthinnige Abhaengigkeitsgefuehl” ). Dan menurut beliau, Agenda Union itulah yang dipakai saat menyusun tata ibadah Gereja Batak ( HKBP ) edisi pertama. Kapan edisi pertama dari Agenda HKBP diterbitkan, mencarinya masih tugas kita bersama.

Tiemeyer mengakhiri uraian histories itu dengan mengajukan dua hal yang perlu diperhatikan saat membicarakan revisi Agenda HKBP. Pertama bentuk apapun nanti yang dihasilkan oleh konferensi, maka yang penting ialah mempertahankan roh sejati dari tata ibadah Injili ( Evangelis ). Kedua harus jelas bahwa siapapun tidak memiliki wewenang seolah-olah dapat memiliki atau mengendalikan Allah, sebaliknya haruslah dikedepankan Allah yang bertindak dan kita manusia bukanlah orang yang benar tetapi yang dibenarkan melalui anugerahNya.

2.4. Kesimpulan: Dari uraian histories yang dilakukan oleh F.Tiemeyer sebagai salah seorang misionaris generasi akhir para misionaris Jerman ( RMG ) di Tanah Batak, dapat diambil kesimpulan tentang dasar-dasar teologis dari sebuah ibadah yang injili, dan asumsi kita bahwa dasar – dasar teologis tersebut dapat jadi acuan masa kini untuk melakukan revisi tata ibadah HKBP untuk masa kini dan ke depan.

Pertama, dalam ibadah itu haruslah nampak bahwa Allah yang hadir dan bertindak: mengundang, mengajar, menegur, menasihati, menguatkan, menerima pujian dan pengakuan dosa dan memberikan janji penghapusan dosa , memberikan berkat-Nya dan akan mendampingi anggota jemaat pada kehidupan seharian mereka hingga mereka kembali ke pangkuanNya di sorga.

Kedua, dengan demikian, setiap orang harus menjaga supaya jangan terjadi “pengilahian” ( “Vergoetterei”, atau “vergoettete Elemente”) dalam ibadah itu. Artinya Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia; ketegangan antara hakekat Allah dan hakekat manusia harus tetap dijaga dalam ibadah injili, jangan terjadi penggeseran batas antara Tuhan Allah yang Mahakuasa dan manusia ciptaan Allah itu; itulah ketegangan yang indah yang nampak dalam ibadah injili; pengilahian atau pemberhalaan dari sarana-sarana lainnya yang dipakai dalam ibadah itu ( termasuk air baptis, roti dan anggur ketika perjamuan malam / “kudus”. Allah Tritunggal tidak bakal membagikan kemuliaan-Nya, keliahian-Nya kepada manusia tanpa pandang bulu ( termasuk pada pendeta atau liturgis lainnya ). Demikian jauhnya [9] jarak antara Allah dan manusia, sehingga Allah sendiri yang sanggup untuk menjembataninya, bukan upaya manusia melalui kebaikan moral atau pun upaya lainnya. Yang harus dijauhkan ialah: “ibadah – tanpa Allah”, demikian semboyan Tiemeyer.

Ketiga, ibadah itu bukan melulu hanya suatu pemberitaan ajaran dan firman Allah itu jangan dijadikan menjadi suatu buku hokum atau aturan ( aliran Ortodoksi ); Roh Allah berembus kemana Dia inginkan, dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun dalam ibadah injili.

Keempat, ibadah injili bukan suatu ibadah mistis, yang menekankan perasaan saleh dan kudus yang ingin memisahkan diri dari dunia “fana” dan penuh “dosa” ini; bukan suatu ibadah yang terlalu berlebihan menekankan pertobatan moral – individualistis, seperti beliau temukan melalui pertanyaan-pertanyaan dalam ibadah baptisan, naik sidi dan perjamuan kudus; ibadah injili bukan sebatas mencari kekudusan pribadi dan pirbadi yang saleh ( Pietisme ), tetapi ibadah yang mengandalkan hanya anugerah Tuhan Allah.

Kelima, ibadah injili tidak dapat digantikan oleh sebuah ibadah “serap” ( “Ersatz-Gottesdienst” ) yang berpusat pada pengalaman rohani manusia ( pietisme ), atau pada nilai-nilai manusia sekuler ( rasionalisme ) seperti kebaikan, kesejahteraan dan rasa persaudaraan kemanusiaan melulu. Ibadah injili tetap mewaspadai setiap pergeseran pola pikir dan tingkah laku manusia demi menjaga keinjilan ibadah tersebut.

Keenam, dalam ibadah injili, bukan orang per orang yang hadir tetapi jemaat sebagai persekutuan orang-orang percaya atau tubuh Kristus. Mereka datang secara pribadi atau keluarga, dan begitu mereka duduk, mereka adalah persekutuan jemaat yang secara kreatif ingin menerima undangan kehadiran dan tindakan Allah; jemaat yang bernyanyi, berdoa, mengaku dosa, menerima janji penghapusan dosa, menerima anugerah melalui khitbah, baptisan, perjamuan malam ( “kudus” ) atau acara ibadah lainnya.

Ketujuh, seluruh hidup ini adalah ibadah, artinya mengasihi Allah dan sekaligus mengassihi sesama, melayani Tuhan dan melayani sesama

2.3. Dasar teologis tata ibadah Minggu HKBP menurut F.Tiemeyer.

Untuk menjadikan dasar teologis tata ibadah Minggu HKBP, F.Tiemeyer mengambil alih dasar teologis tata ibadah injili sebagaimana beliau temukan dalam sejarah tata ibadah – tata ibadah terdahulu dalam lima zaman yang beliau paparkan di atas, mulai dari zaman umat Yahudi hingga zaman pasca-Reformasi. Kesimpulan beliau ialah bahwa tata ibadah Injili selalu mengedepankan tindakan Allah bersama jemaat-Nya. Itulah yang diisyaratkan ibadah yang diawali oleh rumusan “’Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’” ( Votum ). Ibadah Injili bukan dibuka oleh sebuah nyanyian ( oleh jemaat ). Ini mau menjelaskan , bahwa manusia ( dalam hal ini liturgis ) bukan bertindak atas kekuatan atau wibawa jemaat atau pribadi sendiri tetapi atas penugasan Allah yang berindak itu. Dan makna serta arti sebuah nyanyian yang dinyanyikan bersama oleh jemaat dan pendeta ( liturgis ) hendaknya mengisyaratkan pernyataan bersama akan kehadiran Allah dan kerelaan jemaat untuk sujud dan berdoa di hadapan Allah. Suara Allah yang gemuruh hendaknya bergaung untuk menyadarkan manusia supaya rela melepaskan diri dari roh yang selalu ingin menguasai ( Allah ). Suara Allah seperti itu pernah didengar oleh Musa saat dia menggembalakan ternak mertuanya Yetro : “’Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.’” ( Kel. 3:5 ). Kutipan ini mau mengingatkan setiap orang yang mau menyusun atau membaharui tata ibadah ( HKBP ) agar selalu mewaspadai bahwa pengaruh kehadiran Allah selalu membangkitkan rasa kagum dan gentar ( “Erschrecken”, harafiah “terkejut”), penyesalan ( Reue ) dan pertobatan ( Busse ). Itulah sebabnya dalam ibadah nampak unsur pengakuan dosa dari pihak jemaat ( bersama liturgis ). Baik liturgis maupun jemaat sama-sama pihak yang berdosa di hadapan Allah. Ketergerakan hati dan pikiran mengaku dosa mendorong manusia untuk rindu menerima pengampunan dosa melalui janji anugerah melalui pembacaan firman Allah ( yang dikutib dari Alkitab ). Setiap orang akan tergerak hatinya mengatakan: “ya Tuhan Yesus, seandainya Engkau tidak ada dekatku, apalah saya ini!” Pengakuan dosa dan pengampunan dosa tersebut dilanjutkan oleh sebuah doa jemaat. Doa tersebut akan mengantar pengkhotbah yang akan memberitakan firman Tuhan, artinya pengkhotbah bertindak sebagai mulut Allah pada hal dia juga adalah orang berdosa ; dan itulah sebabnya jemaat mendoakan pengkhotbah dan jemaat itu sendiri, agar Allah sendiri yang akan membuka hati, mulut dan telinga mereka untuk memahami dan menerima firman Tuhan. Doa ini dilanjutkan dengan sebuah nyanyian khusus untuk menghantar khotbah yang akan segera disampaikan oleh pengkhotbah. Melalui khotbah Allah berbicara kepada jemaat yang datang dalam sikap penyesalan dan rasa serba kekurangan. Allah datang melalui firman yang disampaikan melalui khotbah. Allah menyampaikan pengampunan dosa terhadap jemaat yang berhimpun itu. Allah menyampaikan seluruh kekayaan anugerahnya kepada jemaat. Ini pula yang diisyaratkan salam anugerah dari pengkhotbah. Inti sari dari khotbah ialah: firman Allah selalu punya kekuatan untuk mengikat ( bindend ) dan membebaskan ( loesend ). Jemaat terikat untuk tetap setia terhadap tuntutan Allah: “engkau adalah milik-Ku!”. Allah membebaskan orang-orang yang telah menyesali dosa-dosanya: ”’pergilah dalam damai, imanmu telah menolong engkau!’”. Kemudian pengkhotbah dan jemaat mengucapkan doa ucapan terimakasih kepada Allah yang mencurahkan anugerahnya yang melimpah itu dan ini diakhiri dengan sebuah nyanyian. Memang anugerah Allah tidak akan berkesudahan. Setiap hari kasih karunianya selalu baru. Dalam situasi yang demikian, jemaat bangkit berdiri untuk mengucapkan Pengakuan Percaya ( Kredo = Aku percaya ). Artinya, melalui firman Allah yang disampaikan melalui khotbah, jemaat dipanggil kembali untuk mengucapkan pengakuan umat Allah sepanjang abad kepada Allah bersama-sama dengan seluruh umat Allah di dunia ini, baik jemaat terdahulu, maupun jemaat terkini dan jemaat yang akan datang. Bersama-sama dengan umat Allah sepanjang zaman, jemaat yang berkumpul itu patut mengucapkan kembali Pengakuan Percaya yang universal itu. Menurut Tiemeyer, di sini yang berbicara bukan perasaan ( Gefuehl ) yang sangat subjektif itu, tetapi Pengakuan sekalipun dengan kata-kata yang diulangi dan dengan pikiran yang cerah. Kemudian jemaat bernyanyi. Melalui nyanyian itu, jemaat diingatkan akan tanggungjawab jemaat terhadap kehidupan orang-orang yang berkekurangan, terhadap tanggungjawab jemaat terhadap tugas pelayanan Allah di seluruh dunia ( diakonia ). Itulah alasannya maka jemaat mengumpulkan persembahan ( “Kollekte” ) sesudah selesai khotbah. Kemudian dilanjutkan dengan doa penutup. Jemaat menyampaikan doa pujian dan terimaksih atas perbuatan Tuhan Allah di dalam dan melalui firman-Nya dan kepedulian Allah kepada Gereja-Nya dalam segala kekuatan dan kekurangannya, dan atas kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada jemaat-Nya untuk menyampaikan persembahannya ke hadapan takhta Tuhan Allah yang mulia itu; dan ini semuanya permohonan itu dirangkum dalam doa “Bapa kami”. Dan di dalam berkat Allah dan janji perlindungan-Nya bagi jemaat yang selalu menghadapi berbagai cobaan, serta diakhiri nyanyian permohonan : Sai tiop ma tanganhu ( “So nimm denn meine Haende” ), maka jemaat kembali ke dunia sehari-hari, menjalani kehidupan sehariannya, dan di sana akan mempelajari, bahwa seluruh hidup ini adalah sebuah ibadah kepada Tuhan Allah ( “Gottesdienst” ), bahwa hidup kita seutuhnya adalah sebuah pertobatan.

2.4. Rangkuman: Semua yang beliau paparkan di atas itu didorong oleh kemauan dan komitmen bukan untuk mengejar sebuah bentuk atau bahkan sebuah bentuk baru tata ibadah, tetapi lebih banyak didorong oleh minat dan kerinduan supaya tata ibadah tetap berazaskan tindakan Tuhan Allah, kehadiran Tuhan Allah ditengah-tengah jemaat yang beribadah itu. Beliau mengulangi lagi bahwa Yesus tetap berada di dalam bait suci Israel , tetapi kemudian meruntuhkannya. Martin Luther telah mengambil alih bentuk liturgi Messe yang lama ( Gereja Katolik Roma ), tetapi kemudian merombaknya untuk Gereja Reformasi. Beliau mengutib ungkapan reformatoris ini :”’Roh itulah yang menghidupi’”. Kemudian kutiban ini dilanjutkan oleh kalimat yang dialektis, bahwa kita masih hidup dalam daging dan dalam sebuah bentuk yang nyata, dan oleh karena itulah dalam bentuk yang bersifat sementara itu, kita wajib mencari sebuah bentuk ( tata ibadah ), yang dalam bentuk yang fana itu kita akan menyimpan isi yang mendekati kepenuhan yang diharapkan. Demikian F.Tiemeyer mengakhiri paparannya tahun 1936.

2.5. Kesimpulan: dari paparan di atas dapat diambil beberapa asumsi bahwa: (1) mata acara pengakuan percaya itu lebih baik ditempatkan sesudah mata acara khotbah; (2) meniadakan mata acara pembacaan dasa titah dan juga pertanyaan-pertanyaan dalam ibadah baptisan dan perjamuan kudus, supaya makna injil yang mengikat dan membebaskan itu jangan dikaburkan; karena manusia adalah manusia yang bebas dan sekaligis terikat oleh dan karena injil ( Paulus dan M.Luther ); (3) jemaat menyanyikan sebuah nyanyian permohonan ( “Sai tiop ma tanganhu” ) sesudah menerima berkat Tuhan melalui liturgis; (4) akan nampak nanti bahwa apa yang diinginkan oleh F.Tiemeyer belum menjadi keinginan umum para misionaris, karena usulannya tidak nampak dalam tata ibadah berikutnya, a.l. tata ibadah 1998, yang masih mengikuti susunan mata acara ibadah 1904.

Di bawah ini akan direkam susunan mata acara dalam tata ibadah 1904, yang masih menjadi acuan bagi ceramah F.Tiemeyer 1936 itu.

2.6. Urutan mata acara ibadah HKBP dalam Agenda Edisi 1904 dan Edisi 1998.

Uraian teologis di atas telah sekaligus memperkenalkan urutan mata acara ibadah yang diinginkan oleh F.Tiemeyer. Dan keinginan beliau tidak jauh dari susunan mata acara ibadah HKBP, yang menurut Edisi 1904 dikenal dengan nama “Agende” ( HKBP ).[10] Urutan mata acara ibadah tersebut disusun ( dalam 23 mata acara ) mencerminkan keinginan beliau:

1. Marende.

2. Pasu – pasu ( = Votum ! ).

3. Manjaha sada ayat na tongon tu ganup Minggu manang ari pesta sian bag.IIA.

4. Martangiang ( sian bag.IID ); Huria mandok: Amen!

5. Pandita mandok: Didongani Debata ma hamu!; Huria mandok: Amen! Tangihon hamu ma patik ni Debata: ( manang singungkun angka patik tu na torop I ).

6. Huria mandok di ujung : “Ale Tuhan Debata! Sai pargogoi ma hami, mangulahon na hombar tu patikmi!” Amen!

7. Marende huria: “O Jesus Panondang di portibi on” ( No.24 )[11]; manang No.21,3: “Paian Panondangmu ale Panondang i. Ambati ma na lilu di hasiangan i.”; manang ayat ni Ende na asing pinillit, jadi do.

8. Panopotion di dosa: Tatopoti ma dosanta! ( Dijaha tangiang on,manang sada na asing taringot tu panopotion, na tarsurat di bag. II B ). [12]

9. Pandita mandok: Bege hamu ma baga-baga ni Debata,taringot tu hasesaan ni dosa: “Molo tatopoti angka dosanta, haposan do Ibana jala bonar, manesa dosanta jala paiashon hita sian saluhutna hadeduhon i.” Manag hata baga-baga nasing na tarsurat di bag.II C.

10. Huria marende: “Amen, Amen, Amen na tutu do I, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana salelengna I, Lehonon ni Jesus haposanta i!” [13]

11. Pandita mandok: Tabege ma hata ni Debata turpuk ni ari Minggu on: ( jahaon sian Evangelium manang sian Epistel manang sian Padan na Robi, na so sipajojoron di na sadari I di parjamitaan ).

12. Pandita mandok : Martua do angka na tumangihon hata ni Debata, jala na umpeopsa. Amen!

13. Huria mandok : “Hatami ale Tuhanhu, arta na ummarga I etc.”

14. Pandita mandok : Tahatindanghon ma hata haporseaonta I, ( rapmandok Pandita dohot huria ): ….

15. Huria marende : “Na martungkot sere au etc.” ( No.168 )[14]; manang “Ojahan on do ingananhu” etc ( No. 155,6 ); manang “Pos ma ho rohanghu di Debata” etc ( No. 166 )[15] ; mamang :”Jahowa do haposanghi na, na mangapoi rohanghu” etc ( No. 148 )[16]; manang : “Loas hutiop Jesushi” etc ( No. 172, 4 ).[17]

16. Pandita ro tu parjamitaan, dohononna ma :”Dame ni Debata, na sumurung sian saluhut roha, I ma mangaramoti angka ate-atemuna dohot rohamuna, marhute-hite Jesus Kristus. Amen!

17. Marjamita. Dung sun marjamita, martangiang sian roha.

18. Tingting. Tiningtinghon angka sitingtinghononhon di huria.

19. Huria marende. ( Andorang marende mardalan durung-durung / persembahan ).

20. Pandita ro tu jolo ni langgatan, martangiang : Dijaha ma sada tangiang, na tongon tu minggu manang pesta ( ida di bag.II E di buku on ). Udutna luhut

21. huria mandok: “Ale Amanami na di banua ginjang ….Amen!

22. Pasu-pasu: “Dipasu-pasu jala diramoti ….” Manang : “Didongani asi ni roha ni Tuhanta Jesus Kristus ….”

23. Laho haruar: marende angka anak dohot boru sikola, sada ende na pinillit hian.

2.7. Penjelasan: Melihat susunan mata acara ibadah ( Agenda Edisi 1904 ) tersebut di atas, jika dibandingkan dengan susunan mata acara ibadah dalam Agenda edisi terkini ( misalnya Edisi 1998 ), maka beberapa diantaranya punya tempat yang tetap, tetapi ada pula yang sudah bergeser, ada penambahan, pengurangan, bahkan ada pula penghapusan. Sampai kapan tata ibadah 1904 digunakan sebagai pedoman resmi untuk memimpin ibadah minggu, belum dapat dipastikan. Mungkin tidak lama sesudah Konferensi 1936. Indikasi untuk itu dapat digunakan data-data dari sebuah buku catatan kuliah seorang siswa Sekolah Pendeta, Gomar Sihombing di Seminari Sipoholon, yang mencatat susunan tata ibadah Jumat Agung, Tahun Baru, Kenaikan, Natal dll untuk tahun 1933 dan 1934. Mata acara “Tingting” masih ditempatkan sesudah mata acara khotbah. [18]

Pertama, dalam satuan Votum: dalam Agenda 1904 ( nomor 1 – 5 ), mata acara no. 4 dan 5 sudah ditiadakan dalam Agenda 1998; mungkin sebagai gantinya dalam Agenda 1998 ialah mata acara no 3 di mana jemaat menyambut votum ( dan introitus ) dengan menyanyian Haleluya 3 kali.

Kedua, mata acara tentang pembacaan Hukum Taurat ( Dasa Titah ) berada dalam posisi yang sama dalam kedua Agenda, di mana tempatnya sesudah satuan mata acara yang termasuk bagian votum dan introitus ( Agenda 1904 dalam nomor 5-6 ) sedang dalam Agenda 1998 dalam nomor 6-7 ). Sebagai catatan tambahan: mata acara ini tidak disinggung oleh F.Tiemeyer dalam paparannya tahun 1936 itu. Mungkin perlu juga mencari alasan mengapa beliau tidak membuat refleksi teologis – praktisnya. Apakah ada keinginan untuk menghilangkannya dari mata acara ibadah? Cuma ada juga perubahan dalam mata acara ( no. 8 ) menyanyi dalam Agenda 1904, di mana beberapa nyanyian tertentu sudah dipilih untuk menyambut Hukum Taurat Tuhan, sedangkan dalam Agenda 1998 nyanyian tersebut dapat dipilih sesuai dengan fungsinya.

Ketiga, satuan mata acara berikut ialah tentang pengakuan dosa serta janji penghapusan dosa ( Agenda 1904, mata acara nomor 9-11 dan Agenda 1998,mata acara 9-11 ). Dalam kedua Agenda tersebut mata acara ini ditempatkan sesudah mendengar Hukum Taurat. Namun dalam mata acara tentang janji penghapusan dosa, Agenda 1904 telah menyusun doa tertentu :”Molo itatopoti angka dosanta …!” Doa ini dapat juga diganti oleh salah satu doa yang tersedia dalam bagian II.C. Doa tersebut sudah dihilangkan dalam Agenda 1998. Perubahan lain yang terjadi diantara kedua Agenda tersebut ialah dalam hal menyanyikan nyanyian menyambut mata acara pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa. Agenda 1904 ( mata acara nomor 11 ) mencantumkan nyanyian tertentu yaitu :”Amen, Amen, Amen, na tutu do I, Sai marhasonangan na porsea i. Sesa do dosana, salelengna I, Lehonon ni Jesus, haposanta i!” [19] Agenda 1998 tidak membatasinya, artinya bisa diambil nyanyian yang sesuai dengan mata acara tersebut.

Keempat, satuan tentang pembacaan firman Allah ( Epistel ) ditempatkan sesudah pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa dalam kedua Agenda tersebut ( Agenda 1904 dalam mata acara nomor 12-14, dan dalam Agenda 1998 dalam mata acara nomor 12-13 ). Dalam Agenda 1904, jemaat menyambut pembacaan firman dengan nyanyian yang sudah ditentukan dalam Agenda, yaitu: ”Hatami ale Tuhanku, arta na ummarga etc.” [20] Agenda 1998 tidak membatasinya.

Kelima, satuan mata acara berikut untuk kedua Agenda ialah jemaat mengucapkan Pengakuan Percaya Rasuli ( Agenda 1904,nomor 15-16 dan Agenda 1998,nomor 14 ). Tetapi Agenda 1998 telah menambahkan kalimat ajakan liturgis untuk pengucapan secara bersama melalui kalimat berikut : “…..songon na hinatindanghon ni donganta sahaporseaon di sandok portibi on. Rap ma hita mandok: .…” Agenda 1904 menyebutkan beberapa nyanyian ( 5 nynyian ) untuk menguatkan pengakuan percaya jemaat tersebut, dan Agenda 1998 tidak membatasinya.

Keenam, ada perbedaan yang signifikan dalam mata acara berikutnya. Agenda 1904 ( mata acara nomor 17-19 ) menempatkan mata acara untuk khotbah yang didahului oleh doa peneguhan akan janji Allah yang telah memberikan damai sejahteraNya dan akan memberikan-Nya lagi melalui firman Allah yang dikhotbahkan oleh pengkhotbah. Sesudah khotbah, jemaat mendengar “Tingting” ( warta jemaat: mata acara nomor 19 ); kemudian dilanjutkan dengan nyanyian menyambut khotbah dan tingting, dan pada saat bernyanyi jemaat mengumpulkan persembahan ( “durung-durung” )[21]. Dapat dicatat, bahwa persembahan dilakukan satu kali, dan dalam Agenda 1998 sebanyak dua kali.Dan akhir-akhir ini persembahan sudah dilakukan tiga kali ( tiga kantongan persembahan ). Agenda 1998 menempatkan mata acara tentang “Tingting” ( mata acara nomor 15 ) sesudah mata acara Pengkuan Iman Percaya, kemudian menyanyi sebagai penghantar khotbah ( mata acara nomor 17 ) sambil jemaat mengumpulkan persembahan ( dengan dua kantongan : mata acara nomor 16 ). Khotbah disambut oleh jemaat dengan menyanyi; dan tanpa dicantumkan dalam mata acara 18, jemaat juga mengumpulkan persembahan kedua kali ( dengan satu kantongan ).

Dengan demikian nampak adanya pergeseran tempat dari mata acara “Tingting”: Agenda 1904 menempatkannya sesudah khotbah, sedang Agenda 1998 menempatkanannya sebelum khotbah. Melalui penempatan ini, nampak bahwa Agenda 1904 lebih dekat kepada susunan mata acara ibadah dari Agenda Gereja Injili Union ( Die Evangelische Kirche Der Union di Prusia, Jerman ).[22]

Ketujuh, mata acara ibadah diakhiri dengan doa penutup dan berkat oleh Pendeta yang berkhotbah, namun caranya berbeda-beda. Dalam Agenda 1904 liturgis mengambil sebuah doa yang dapat dipilih dari bagian II E, kemudian mengundang jemaat bersama-sama mengucapkan doa “Bapa Kami..!”, kemudian ditutup dengan pengucapan Berkat ( mata acara 21-22 ), dan jemaat mendengar sebuah nyanyian dari para anak-anak sekolah Dasar ( mata acara 23 ). Dalam Agenda 1998, Pendeta / Liturgis membacakan doa persembahan ( mata acara nomor 19 a ), kemudian membacakan “Doa Bapa Kami” ( mata acara 19b ), dan bagian terakhir dari Doa tersebut dinyanyikan oleh jemaat : “Karena Engkau yang punya kerajaan …” ( mata acara nomor 20 ), dan diakhiri dengan ucapan Berkat ( mata acara nomor 21 ) serta disambut oleh jemaat dengan menyanyikan “Amin, Amin, Amin!” ( mata acara nomor 22 ). Dalam mata acara untuk hari-hari raya gerejawi tertentu ( Paskah dll ), diucapkan juga sebuah doa khusus untuk itu yang diambil dari Agenda bagian II E ), dan tempatnya sebelum pengucapan Doa Bapa Kami.

Kedelapan, dalam Agenda 1904 ada tata ibadah Minggu yang khusus untuk jemaat muda yang dipimpin oleh seorang Guru Jemaat ( Guru ).[23] Ada beberapa mata acara yang ditiadakan, yaitu mata acara tentang votum dan introitus, pengakuan dosa dan janji penghapusan dosa, serta doa yang menghantar Doa Bapa Kami, demikian juga pengucapan Berkat. Besar kemungkinan alasannya ialah bahwa mata acara tersebut hanya dapat dilayankan oleh Pendeta sebagai liturgis. Namun nampak bahwa penghapusan ini sudah mengurangi esensi teologis dari mata acara ibadah itu, dan hal ini tidak disinggung oleh F.Tiemeyer dalam paparannya di atas. Artinya yang dihilangkan itu tidak lagi dihargai sebagai bagian yang esensial dari sebuah ibadah injili. Dalam Agenda 1998, susunan tata ibadah untuk jemaat muda sudah ditiadakan. Namun dalam Agenda 1998, masih ada sisa pemahaman tentang perbedaan pelayanan ibadah oleh pendeta dan non-pendeta. Ini nampak dalam sapaan yang berbeda antara pendeta dan non-pendeta dalam pemberian berkat, antara kata “engkau” / “ho” untuk pendeta sebagai liturgis dan “kita” / “hita” untuk yang non-pendeta ( Guru atau Sintua, atau Diakones atau Bibelvrouw) . Ada baiknya pembedaan ini dipikirkan, apakah pembedaan itu bisa dibenarkan dari sudut teologi Martin Luther, yang menghilangkan pembedaan antara klerus / imam dan non-klerus. Fungsi imam dalam Perjanjian Lama sudah digenapi oleh jabatan rajani setiap orang Kristen dan khususnya oleh ketiga jabatn Yesus Kristus yang sudah bangkit itu.

2.8. Urutan mata acara menurut Justin Sihombing.

Masih ada penjelasan tentang susunan mata acara tata ibadah minggu yang harus diperhatikan, yakni dari kalangan para pendeta HKBP masa kepemimpinan para misionaris RMG dan pada awal masa kemandirian HKBP ( sejak 10-11 Juli 1940 ). Diantara mereka ialah Pdt. M. Pakpahan dan Pdt. Dr.Justin Sihombing, Ephorus Emeritus kedua dari kalangan pendeta HKBP ( 1942-1962 ). Pada kesempatan ini cukup kalau diambil pikiran dan penjelasan dari Justin Sihombing, yang dalam usia lanjut masih menuliskan sebuah buku tentang khotbah dan tata ibadah HKBP tahun 1963. [24] Beliau melihat bahwa sedikitnya ada empat hal yang mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah tata ibadah Minggu.

Pertama, tata ibadah itu harus mencerminkan makna dan arti dari persekutuan kristiani, yakni “parsaoran ni Debata dohot huria-Na dohot parsaoran ni huria dohot Debata.” [25] Artinya, persekutuan Allah dengan gereja-Nya dan persekutuan gereja dengan Allah.” Segala sesuatu yang tidak mendukung unsur hakiki, hendaknya dijauhkan, sebaliknya segala sesuatu yang mendukungnya hendaknya diupayakan. Lebih jauh lagi, beliau menekankan bahwa persektuan gereja dengan Allah, bukanlah persekutuan seseorang dengan Allah, karena itu apa yang hanya menguntungkan orang per-orang hendaknya jangan dilakukan dalam ibadah itu, tetapi segala sesuatu yang terjadi dalam ibadah, hendaknya berkaitan dengan kepentingan “hatopan” ( umum / public ). Beliau sangat mengedepankan arti dan makna sebuah “huria”, sebuah Gereja, persekutuan orang-orang percaya; Gereja yang aktif, bukan individunya orang – perorang. Ketika pemberitaan firman diberikan melalui khotbah, maka yang menjawab bukan individu, tetapi jemaat sekalipun bukan dengan suara yang kedengaran, tetapi melalui suara hati para pendengar khotbah itu. Beliau menjelaskan makna yang terdalam dari persekutuan itu dengan menerapkannya akan arti sebuah nyanyian atau paduan suara dalam ibadah. Beliau mengatakan, bahwa “rapna” i do pangkal manang ojahan ni parendeon di bagasan parpunguan Kristen, ndada holan ende ni angka koor. Ai ndada holan na marende na arga, alai na rap marende I do. .. ai ia merande pe angka koor ala na dipasahat huria I do tu nasida…. Ingkon domu do parendeonnasida tu pangkilaan ni huria na mangutus nasida taringot tu ganjang ni ende, loguna dohot hata ni ende i. Asa ndang na bebas nasida mambahen lomo-lomona. ” Misalnya, dalam sebuah doa, kata yang digunakan ialah kata “kami”, bukan “saya”

Kedua, adapun caranya Allah bersekutu dengan gereja /jemaat-Nya ialah melalui manusia yang Allah utus bagi jemaat itu. Dan cara yang dipakai oleh utusan Allah hanya satu, yakni melalui pemberitaan firman itu ( “marhite sian na mangkatahon hata I sambing. ) Masih ada pendukungnya, yakni berupa symbol untuk lebih menekankan arti dan makna firman itu sendiri. Pada saat melayankan kedua sakramen, di sana muncul juga bebagai bahasa simbolis / kiasan atau gerakan simbolis, misalnya pada saat memercikkan air baptisan dan mempersiapkan tanda-tanda nyata perjamuan kudus dalam rupa roti dan anggur, atau pada saat liturgis mengangkat kedua tangannya saat menyampaikan berkat Tuhan Allah; juga pada saat jemaat berdiri. Semuanya itu punya muatan simbolis. Beliau menekankan, bahwa muatan-muatan simbolis itu bukan untuk mensahkan apa yang dilayankan itu, hanya sebagai alat menolong penghayatan atau penerimaan sakramen itu.

Ketiga, dia yang berbicara ditengah-tengah persekutuan yang beribadah itu bertindak sebagai wakil jemaat untuk berbicara kepada Tuhan Allah melalui doa, atau sebagai wakil Allah menyapa jemaat itu melalui khotbah . Dan menurut beliau, mereka yang bertindak sebagai wakil Allah dan juga sebagai wakil jemaat, tidak perlu harus seorang pendeta atau guru , tetapi dia harus yang diangkat ( “pinabangkit” ) oleh jemaat itu; artinya, dia yang diberi oleh jemaat wewenang dan tugas untuk melakukannya. Seseorang tidak berhak mengangkat dirinya untuk berdiri di depan jemaat sebagai wakil Allah dan sekaligus sebagai wakil jemaat. Allah itu adalah Allah yang cinta keteraturan.

Keempat ( terakhir ), segala sesuatu yang terjadi dalam ibadah harus sesuai dengan kehadiran atau keberadaan ( “haadongon” ) Allah dalam persekutuan itu. Jemaat harus merasakan bahwa Allah hadir dari awal hingga akhir ibadah, bahwa jemaat itu bersekutu di hadapan Allah. Untuk itu,hedaknya diupayakan supaya ibadah itu dapat berjalan dalam suasana keteduhan, jangan ada orang yang keluar masuk tempat ibadah, atau jangan ada orang yang keluar sebelum ibadah ditutup.

Beliau dalam memberikan penjelasan dan arti dari setiap mata acara ibadah [26], beliau mengacu pada susunan mata acara ibadah dalam Agenda HKBP terakhir ( misalnya edisi 1998). Muatan teologis dari penjelasan-penjelasan yang diberikan J.Sihombing hampir sama dengan apa yang diberikan F.Tiemeyer, bedanya hanya bahwa J.Sihombing tidak meberikan pemikiran atau refleksi yang kritis terhadap beberapa mata acara ibadah itu, seperti yang dilakukan oleh F.Tiemeyer. J.Sihombing lebih focus pada upaya mengingatkan jemaat khususnya para liturgis / pengkhotbah, supaya tata ibadah itu dipakai secara sungguh-sungguh dan menjauhkan sikap membaca tanpa menghayatinya, atau sikap acak-acakan. Misalnya, ketika jemaat bernyanyi, hendaklah jemaat merasakan bahwa melalui nyanyian itu jemaat ingin berbicara dengan Allah. Mustahil jemaat berbicara dengan Allah dengan suara yang dilagukan secara tidak baik; makanya setiap anggota jemaat harus mengetahui melodi dari nyanyian dalam Buku Ende HKBP, karena itulah harta yang sangat berharga. Atau, ketika liturgis menyampaikan votum, “patut tarsunggul di bagasan rohana nang di roha ni huria i, angka na binahen ni Debata Ama na tarsurat di Padan na Robi sahat ro di nuaeng.” Artinya, mendengar nama Allah Tritunggal itu, maka liturgis dan jemaat terus merasakan dalam batin mereka alangkah besarnya dan banyaknya tindakan Allah demi keselamatan umat-Nya sepanjang zaman.

3. Beberapa masalah teologis dan praktis yang masih tersisa.

3.1. Beberapa masalah teologis dan praktis yang diliput dari paparan-paparan diatas, menjadi tugas Gereja masa kini. Di bawah ini akan disebut beberapa yang paling penting.

Pertama, adanya kecenderungan kearah pemahaman yang bersifat individualistis dan moralistis tentang “pengakuan dosa” dan tentang “Hukum Taurat” , seperti tercermin dalam doa-doa. Pertanyaan yang mungkin diajukan ialah, di mana akarnya mengapa demikian? Apakah karena pengaruh kehidupan yang “pietistic” abad-abad ke-18 dan ke-19, sekalipun F.Tiemeyer ingin menghindar dari bahaya Pietisme itu? Apakah ketegangan ( dialektis ) dari Injil dan Taurat masih tercermin dalam keseluruhan mata acara ibadah itu? Apakah tata ibadah hari Minggu (HKBP ) terlampau “cerah” ( “nuechtern” ) seperti dituduhkan pada J.Calvin – menurut pantauan Tiemeyer. Bagaimana caranya menerapkan apa yang diharapkan Tiemeyer, supaya firman Allah yang dikhotbahkan itu benar-benar “mengikat” dan sekaligus “membebaskan”? Inilah beberapa pertanyaan teologis dan praktis yang dituntut oleh refleksi akan dasar-dasar teologis dari tata ibadah edisi dulu ( 1904 ) dan kini ( 1998 ). Suatu masalah yang sulit untuk dikritik oleh F.Tiemeyer yaitu tentang ajaran-ajaran katekisasi yang berpusat pada upaya untuk merubah pikiran, karakter dan mental orang-orang Kristen ( Batak ) yang masih kuat dikuasai oleh hidup “kekafiran” yang memang mereka sudah tinggalkan secara formal melalui berbagai ibadah, baptisan kudus dan perjamuan kudus, dan melalui penggerejaan seluruh penggalan kehidupan mereka mulai lahir hingga kematian, sebagaimana tercermin dalam berbagai tata ibadah dalam Agenda 1904. Prioritas utama bagi setiap misionar ialah bagaimana supaya hidup setiap orang Kristen itu dapat digarami dan disinari oleh Injil dari dalam diri mereka masing-masing. Dengan tujuan merubah kehidupan dari dalam, dan bukan hanya dari luarnya. Dan mungkin semangat pietisme dari Eropa menjadi dambaan para misionaris, namun hanya dari segi pertobatan secara individualistik tanpa ada kepedulian pada dunia sekitar yang dilanda banyak masalah sosial dan ketidakadilan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sangat pribadi yang tercantum dalam tata ibadah baptisan, perjamuan kudus, dan juga pembacaan Hukum Taurat setiap Minggu mengisyaratkan tujuan penginjilan yang moralistik – individualistik itu. F.Tiemeyer tidak mengajukan pemikiran yang kritis tentang hal ini, tetapi sudah mengajukan dasar-dasar teologis yang bukan piestistik moralistik, tetapi mengedepankan Injil yang mengikat dan sekaligus membebaskan itu, seperti beliau canangkan dalam ceramahnya 1936 itu. Tetapi beliau secara tidak langsung sudah merindukan adanya revisi tata ibadah yang lebih mengacu pada dasar-dasar teologis dan praktis yang lebih reformatories, bukan yang tetap melekat pada semangat penginjilan yang pietistik – moralistis, yang cenderung sangat menekankan Hukum ketimbang Injil. Asumsi kita ialah bahwa situasi jemaat-jemaat HKBP 2008 sudah berbeda dengan situasi jemaat-jemaat 1936. HKBP 1936 merayakan 75 tahun HKBP, dan HKBP 2011 akan merayakan 150 tahun pengkristenan dan sekaligus merayakan hari jadi HKBP yang ke-150 tahun pada tanggal 7 Oktober 2011. Tata ibadah mendatang harus memperlihatkan semangat yang lebih mencerminkan kuasa Injil ketimbang kuasa Hukum, karena RohTuhan berembus kemana Roh itu inginkan.

Kedua, adanya kecenderungan untuk menyesuaikan cara pemakaian tata ibadah yang cenderung ingin memenuhi kebutuhan ( “selera” ) jemaat yang menginginkan sebuah ibadah yang lebih menyentuh budaya hidup yang didominasi pesta budaya / adat Batak, yang dinikmati bukan oleh pikiran tetapi oleh hati yang merasa. Diskusi kea rah ini sudah pernah disinggung oleh Rapat / Konferensi para misionaris Jerman tahun 1925 di Sipoholon.[27] Antara lain disebutkan, bahwa dalam Konferensi tersebut muncul beberapa pikiran kritis: supaya diadakan beberapa model tata ibadah ( liturgy ), menghias dinding gereja dengan beragai gambar-gambar dari cerita Alkitab, supaya memperbanyak nyanyian gereja , membuat tata ibadah di mana porsi khotbah dikurangi,dan mengedepankan aspek merayakan dalam ibadah, bentuk gedung gereja yang lebih megah, membuatkan ibadah gerejawi buat perayaan musim panen dan musim menanam. Inilah beberapa usul perbaikan tahun 1925. Dan usul perbaikan tahun 2008 ini akan memperhitungkan kritik jemaat terhadap tata ibadah hari Minggu HKBP serta upaya HKBP untuk menyambut keinginan jemaat akan sebuah tata ibadah yang lebih santai, lebih dekat pada persaan hati ketimbang pada pikiran. Berapa jauh Gereja dapat dan harus memasuki jiwa mistik dan misteri yang dijiwai oleh manusia Indonesia? Aspek mistik dan misteri ini diduga bakal semakin kuat oleh karena pengaruh ibadah / kultus Islam di Indonesia dan juga oleh pengaruh tata ibadah Kristen Kharismatik. Mungkin khotbah dan pengajaran yang disajikan itu terlampau didominasi oleh pikiran yang dingin dan kurang mempedulikan emosi ( “Gemuet” ) para pendengarnya, sebagaimana diungkapkan oleh sebagian anggota jemaat gereja-gereja arus utama tarmasuk HKBP. Demikian beberapa pemikiran yang disampaikan, yang perlu dikaji ulang pada kesempatan ini. Pikiran kritis tahun 1936 dan tahun 2008 ini dapat menjadi kekuatan bagi para pelayan HKBP dalam membentuk beberapa bentuk tata ibadah hari minggu tetapi selalu menghargai hal-hal yang fundamental bagi sebuah tata ibadah injili. Hal ini akan dilihat lebih dalam paparan berikutnya.

Ketiga, Pertanyaan yang menyoroti cara-cara pemakaian yang tidak lagi mendukung hakekat injili dari ibadah Minggu, seperti terjadi tahun 1936 itu, semakin mengemuka dan semakin nyaring pada zaman, di mana kita hidup, terutama sejak gerakan Kristen Kharismatik memasuki kehidupan beribadah anggota-anggota jemaat dari gereja-gereja arus utama di Indonesia sejak tahun 1970-an. Memudarnya keheningan yang berpusat pada kehadiran Tuhan Allah yang bertindak dan respon manusia yang berdosa sekaligus diampuni dosanya, manusia yang bebas oleh Injil dan sekaligus terikat oleh tuntutan Hukum Allah ( Taurat ). Penyebabnya, a.l. banyaknya paduan suara yang mempersembahkan lagu-lagu pujian yang tidak mendukung mata acara ibadah, warta jemaat yang terlampau bertele-tele, kesiapan para liturgis untuk membacakan sekaligus menghayati mata acara ibadah, banyaknya pengumpulan dana melalui kantong-kantong persembahan, khotbah yang kurang focus dan terlampau dogmatis, praktek lelang yang melelahkan dan menonjolkan kompetisi antara yang melakukan lelang, dll. Pertanyaan yang harus dijawab ialah, bagaimana caranya mengembalikan keheningan itu, keteraturan, kehadiran Allah yang bertindak, pelayanan Yesus Kristus yang tidak suka dilayani, gerakan Roh Kudus yang seperti angin, yang tidak bisa dikendalikan upaya manusia secara ritus atau mistis, sehingga mata acara ibadah itu mengalir seperti air yang menyejukkan pikiran dan hati para pengunjung ibadah, sehingga mereka benar-benar bertemu dengan Tuhan Allah yang mengundang mereka memasuki rumah Allah? Bagaimana membentuk sebuah tata ibadah yang mencerminkan keseimbangan antara makanan pikiran ( dogmatis / teologis ) dan makanan hati / emosi, keseimbangan antara yang cerah dan yang emosional – selebritis, keseimbangan antara yang penuh keheningan dan yang bersemangat perayaan penuh suka cita? Bentuk tata ibadah yang tetap hikmat dan mulia masih diinginkan oleh sebagian anggota jemaat gereja arus utama termasuk HKBP. Inilah seperangkat pertanyaan yang bersifat teologis dan praktis. Hadirnya kelompok-kelompok paduan suara dalam ibadah minggu hendaknya mendukung dasar-dasar teologis dari sebuah ibadah injili itu, bukan sebaliknya mengaburkannya, demikian juga mata acara lainnya, seperti isi warta jemaat.

Keempat, perlunya mencermati pertanyaan-pertanyaan kritis tahun 1936 yang dikemukakan oleh F.Tiemeyer sebagai suatu cara memperkaya diskusi tahun 2008 ini. Beliau mengangkat pertanyaan-pertanyaan kritis yang beliau ajukan pada pemahaman akan bagian-bagian liturgy lainnya, yang tak terpisahkan dari liturgy ibadah hari Minggu dan hari-hari raya kegerejaan lainnya menurut kalender gerejawi sepanjang abad itu. Beliau menyoroti keabsahan teologis dan praktis dari ibadah yang menyangkut: ibadah naik sidi, baptisan, pemberkatan nikah, perjamuan kudus, pemakaman, pengucilan, dan ordinasi pendeta.[28] Pada kesempatan ini akan diambil sorotan beliau tentang naik sidi, baptisan dan perjamuan kudus. Ketiga ibadah itu tidak lepas dari ibadah hari Minggu, karena ketiganya dilakukan pada hari Minggu atau hari-hari perayaan kalendaris gerejawi, dan urutannya sesudah mata acara khotbah dan pengumpulan persembahan. Menurut beliau, terjadi berbagai penyimpangan dalam melakukan ketiga ragam ibadah diatas. Dalam ketiganya ada isi mata acara yang telah mengaburkan hakekat injili dari sebuah tata ibadah yang injili.

A).Dalam ibadah naik sidi, menurut beliau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh calon konfirmanden itu telah memaksa mereka untuk berjanji ( “marpadan” ) mengiyakan dan melakukan apa-apa yang mustahil dilakukan tanpa salah sebagai manusia biasa, yaitu: mengakui firman Allah yang mereka pelajari sebagai jalan ke kehidupan ( pertanyaan I ), percaya kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus ( pertanyaan II ), bersedia berperilaku sesuai dengan iman ( haporseaon ) yang telah diakukan ( pertanyaan III ), bersedia menjauh dari segala macam dosa dan segala macam hal yang bertentangan dengan firman Allah, sampai akhir hayat ( pertanyaan IV ); bersedia menghadiri ibadah hari Minggu untuk mendengarkan firman Allah, dan juga bersedia setiap hari berdoa kepada `Allah ( V ); dan terakhir, bersedia mengikuti perjamuan kudus sebagai jalan untuk menguatkan iman ( VI ). Beliau mempertanyakan apakah layak Gereja itu seolah-olah punya hak dalam nama Allah untuk mendorong ( memaksa ) mereka berjanji di hadapan Allah dan jemaat, bahwa mereka tidak akan melepaskan diri dari Yesus sumber kehidupan itu ( “’Nada ra be morot au sian Jesus hangoluan’” ).[29]

Penjelasan kritis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut beliau secara teologis tidak dapat dibenarkan, sebab adalah keyakinan umum bahwa manusia itu selalu cenderung untuk melarikan diri dari hadapan Allah. Kemudian, bagi F.Tiemeyer tidaklah benar secara teologis untuk mengundang mereka yang baru naik sidi itu untuk melakukan perjamuan kudus. Karena di situ ada unsur pemaksaan. Usul beliau ialah, supaya menghilangkan ke-enam pertanyaan itu, pertanyaan sehubungan dengan pengikatan janji itu. Mata acara pengakuan iman percaya sangatlah tepat untuk dipertahankan dan dilaksanakan. Sebagai ganti dari keenam pertanyaan yang bermuatan pemaksaan kehendak terhadap calon naik sidi, ini lebih baik diganti dengan himbauan atau bimbingan berdasarkan firman Allah. Kemudian, supaya acara perjamuan kudus dipisahkan dari acara naik sidi, dan dengan demikian keinginan yang tulus dari setiap anggota jemaat untuk mengikuti atau tidak mengikuti menjadi prioritas utama. Tentang keinginan supaya usia memasuki pelajaran naik sidi itu di geser ke tingkat usia yang lebih dewasa, hal ini sebaiknya dipikirkan secara psikologis – religi, tetapi kalau jawabannya dari segi teologi ialah, bahwa Roh itu bergerak kemana Dia inginkan. Dan sebagaimana beliau asumsikan, bahwa perubahan usia memasuki naik sidi itu dikaitkan dengan tujuan “lahir kembali” ( Neugeburt ), pada hal tentang lahir kembali itu tidak pernah bergantung pada usia seseorang.

B). Tentang ibadah baptisan, beliau mengedepankan pikiran beliau, bahwa dalam baptisan itu, Allah telah melakukan sebuah awal yang baru. Allah yang bertindak, bukan manusia. Bukan dengan cara magis, tetapi melalui firman yang anugerah itu. Dalam baptisan anak-anaklah memang paling nyata bahwa Allah yang bertindak, bukan manusia bersama Allah. Beliau memberikan alasan teologisnya, bahwa jauh sebelum manusia tahu secara sadar akan yang baik dan yang jahat, jauh sebelum kita manusia dapat memutuskan sesuatu untuk kita, kepada kita sudah jatuh sebuah keputusan melalui sebuah akta yang nampak, di dalam nama Allah. Dengan alasan demikian, beliau mengatakan bahwa anak baptisan itu melalui akta baptisan telah menerima secara utuh keselamatan dari Allah.

3.2. Usul perbaikan: Berdasarkan pemikiran teologis di atas, beliau melihat ada yang harus diperbaiki dalam rumusan-rumusan kata-kata resmi ( liturgy ) dalam mata acara baptisan itu. Beliau mempertanyakan, apakah bisa dipertanggungjawabkan ( teologis ), kalau para orang tua anak baptisan mengucapkan pengakuan percaya mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka? Apakah hal ini mengisyaratkan, bahwa manusia dapat membuat keputusan sendiri atas kekuatannya sendiri. Dan mengapa Gereja menginjinkan para calon baptisan atau orang tua para calon baptisan ( anak-anak ) lebih dulu mengucapkan pengakuan percaya mereka? Apakah baptisan itu bergantung pada ( kemampuan ) iman manusia? Apakah kita tidak tahu, demikian beliau, bahwa baptisan hanya terjadi di atas dasar firman Allah, atas dasar perintah Kristus? Karena tanpa firman itu, air baptisan tetap air, dan tidak bakal ada baptisan, demikian beliau mengutipnya dari seorang teolog sezamannya. Dan terakhir, beliau memberi komentar atas kelemahan dari pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh para orangtua anak baptisan. Ketiga pertanyaan itu tidak memberi ruang untuk memikirkan hubungan antara pertobatan ( Busse ) dan baptisan, yang dikedepankan ialah hubungan antara baptisan dan pengajaran ( Schulunterricht ), antara baptisan dan perilaku yang terpuji ( guten Wandel ) [30]

C.) Sorotan berikut ialah tentang dasar teologis dan cara merayakan perjamuan kudus seperti tertuang dalam Agenda 1904.[31] F.Tiemeyer memperkenalkan posisi teologis beliau, bahwa “perjamuan kudus menggambarkan kehadiran yang hidup dari Allah yang dinyatakan dalam Kristus ( die lebendige Gegenwart des in Christus geoffenbartes Gottes ). Di sini nampaklah cinta kasihNya ( seine Liebe ). Pemberian-Nya ( Sein Geben ). Ajakan-Nya ( Sein Werben ). Simpati-Nya kepada kita ( Seine Hingabe an uns ). Singkatnya EUXARISTI.” Beliau menambahkan lagi bahwa, perjamuan kudus adalah akta yang sesungguhnya, yang mendasar dalam mendirikan jemaat-Nya.

3.3. Penjelasan kritis: Berangkat dari pemahaman di atas, beliau melihat bahwa tugas yang paling sulit untuk para misionaris RMG / HKBP ialah membaharui tata ibadah perayaan perjamuan kudus yang sejak 1860-an telah dirayakan oleh jemaat-jemaat di HKBP. Namanya saja yaitu “ulaon na badia” ( karya yang kudus ) telah menciptakan pemahaman tentang perbuatan baik dari pihak manusia. Beliau menilai bahwa di sini sudah terjadi kesalahpahaman tentang perayaan perjamuan kudus. Kelima pertanyaan yang mau dijawab oleh jemaat sangat jelas mengedepankan kemauan baik ( guten Willen ) manusia, dan baru pada tempat yang kedua muncul kasih Allah dan kepedulian Allah Bapa didalam Anaknya Yesus Kristus. Beliau menekankan, bahwa upaya-upaya pertobatan kita manusia tidak akan memampukan kita menerima sakramen itu, melainkan hanya iman: “’diberikan dan dicurahkan bagimu’”. Beliau ingin kembali pada pemahaman jemaat mula-mula, di mana nampak unsur perayaan, bukan kelayakan manusia menerima atau belum layak menerimanya. Unsur perayaan itu sedemikian berharga, yang padananya ialah perayaan hari kematian dan pemakaman orang-orang percaya. Kekayaan karya perbuatan Allah dalam perjamuan kudus ( Abendmahl = perjamuan malam ) telah tertutupi dalam “ulaon na badia” ( karya kudus manusia ). Untuk itu beliau masih mengutip pandangan seorang teolog sezamannya, bahwa perjamuan malam itu adalah jaminan realitas Gereja dalam dunia kematian kita dan kepastian harapan akan hari, di mana kerinduan jemaat pengantin laki-laki digenapi oleh jamuan malam domba.

4. Dasar-dasar teologis dan praktis ibadah menurut para pemerhati ibadah kristiani masa kini.

Di bawah ini akan diperkenalkan berbagai opsi tentang ibadah yang sejati, yang injili sebagaimana dilihat oleh para pemerhati dari bidang Teologia. Tujuannya ialah bukan untuk membuat sebuah perbandingan , tetapi untuk semakin memantapkan pemahaman teologis dan praktis sebagaimana diharapkan oleh F.Tiemeyer , yang mewakili suara para pelaku pengadaan buku Agenda HKBP. Dengan demikian kita pun tertolong untuk menggunakannya sebagai bahan acuan dan referensi untuk merevisi tata ibadah HKBP. Sepintas terkesan bagi kita, alangkah dekatnya pendekatan dan pemahaman dari para generasi misionaris Jerman tersebut dengan opsi-opsi yang disajikan oleh para pemerhati kini. Baik pikiran “lama” maupun pikiran “baru” tersebut cenderung untuk mendorong kita untuk memikirkan ulang dasar-dasar teologis dan praktis serta bentuk dari tata ibadah HKBP untuk masa depan.

4.1. Andar Ismail. Beliau membuat opsi yang sangat jelas dan sederhana, yaitu adanya tiga kaidah ibadah yang injili: (1) Kaidah keutuhan. Keutuhan semua mata acara ibadah mulai dari awal hingga yang akhir. Artinya, hakikat bagian awal ibadah adalah undangan pihak Tuhan Allah dan kedatangan pihak jemaat atau umat. Bagian awal ini dicerminkan oleh pujian, penyesalan, perendahan diri, pengakuan dosa, permohonan, dan pemberitaan anugerah. Kemudian sapaan Allah adalah bagian yang kedua, dicerminkan oleh: pembacaan Alkitab, khotbah, dan sakramen. Dan akhirnya ditampilkan bagian yang terakhir, yang dicerminkan oleh: pengakuan iman, persembahan, dan doa syafaat. Dengan menampilkan sebuah ibadah yang utuh, maka setiap anggota jemaat akan diberi kesempatan untuk menempuh perjalanan rohani / spiritual bersama dari jemaat /umat yang berkumpul itu. Asumsi kita, paparan F.Tiemeyer akan mendudukung usulan ini, yaitu menampilkan keutuhan dari semua mata acara ibadah injili itu, sekalipun urutan mata acara itu menampilkan perbedaan. Opsi Tiemeyer dan opsi Ismail sama-sama tidak menampilkan mata acara pembacaan Hukum Taurat; artinya penampilan Hukum Taurat dalam tata ibadah HKBP edisi 1998 tidak dipengaruhi oleh opsi kedua tokoh ini. Tata ibadah 1904 menempatkan mata acara pengakuan iman sebelum mata acara khotbah, sedang Tiemeyer dan Ismail menempatkannya sesudah khotbah; apa pun alasan masing-masing, kalau secara teologis – praktis alasan-alasan tersebut tidak bakal bertentangan, tergantung pada penekanan dari hakikat Hukum Taurat itu sendiri, karena Hukum Taurat merangkum Hukum Kasih, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, jadi bukan menonjolkan muatan yang berlebih-lebihan akan tuntutan kehidupan moralistis-individualistis, yang cenderung menggambarkan dunia gelap yang penuh kuasa iblis yang harus dijauhkan oleh setiap orang percaya. Dengan kalimat Tiemeyer, Gereja harus mempertahankan adanya ketenangan indah / dialektis antara keterikatan dan kebebasan yang bersumber dari firman Allah yang dibaca dan dikhotbahkan itu. (2). Kaidah timbal-balik. Artinya, ibadah yang menampilkan adanya irama gilir-ganti, timbal-balik atau sahut menyahut. Ini nampak dalam mata acara votum: Allah menyatakan kehadiran-Nya, yang segera disambut oleh jemaat / umat; pembacaan Alkitab atau khotbah yang melambangkan firman Allah, yang segera disambut jemaat / umat dengan sikap bersaat teduh. Dengan kata lain, Allah menyapa dan jemaat menjawab. Atau jemaat bicara dan Than menjawab. Ketika jemaat berdoa, nampak bahwa jemaat bicara dan Allah mendengar, sekaligus berbisik kepada jemaat dan jemaat berdiam diri mendengar bisikan Allah. Dalam kaidah timbal-balik itu jemaat menampakkan diri sebagai subjek yang aktif, bukan pasif, sebagaimana diduga oleh sebagian orang. Tata ibadah HKBP 1904 dan 1998 menampakkan kaidah timbale-balik tersebut, sekalipun sering dikaburkan oleh banyaknya paduan suara yang memuji Tuhan bersama-sama dengan jemaat. Apa fungsi sebuah nyanyian paduan suara itu, seharusnya Gereja harus memberikan penjelasan teologis – himnologis kepada setiap paduan suara itu, yang memang adalah sebuah kekayaan rohani bagi setiap jemaat yang beribadah. (3). Kaidah keseimbangan. Dalam ibadah terjadi peristiwa di mana dua pihak yang berinteraksi, keduanya dalam tataran yang sama, “tidak ada pihak yang lebih dominan dari yang lain ”, demikian Ismail. Maksudnya ialah supaya jangan kita misalnya terus menyanyi tanpa hentinya, atau supaya setiap doa jangan berkepanjangan atau supaya khotbah jangan mendominasi panjangnya kebaktian. Menjaga keseimbangan mata acara dalam sebuah ibadah haruslah dijaga, supaya tercipta apa yang didambakan oleh Rasul Paulus untuk jemaat Alkitab saat Paulus melakukan kata bimbingannya supaya ibadah itu “harus berlangsung dengan sopan dan teratur”. ( 1 Kor. 14:30 ).[32] Kaidah ketiga ini pun sangat membantu gagasan merevisi tata ibadah HKBP yang sering tidak lagi mencerminkan kaidah keseimbangan ini. Kaidah keseimbangan menjadi salah satu faktor penentu dalam membuat sebuah ibadah yang injili di tengah-tengah jemaat HKBP.

4.2. John Stott. Beliau mendahulukan pemikirannya tentang kewajiban manusia yang utama dan terutama, yaitu kewajiban kepada Tuhan dan bukan kewajiban kepada sesama. Tidak semua orang Kristen adalah penginjil, tetapi semua mereka adalah pendoa, orang yang beribadah, baik secara pribadi maupun secara publik. Dan ibadah kepada Tuhan adalah kekal dan seluruh hidup kita adalah ibadah, artinya melayani Tuhan dengan seluruh hidup kita. Dan definisi alkitabiah yang paling tepat untuk pemahaman demikian, mungkin demikian beliau berasumsi ialah dengan mengutip Maz. 105:3, bahwa beribadah adalah “’bermegah dalam namaNya yang Kudus.’” [33] Di dalam nats ini terbungkus dengan rapi nama Allah yang kudus itu, artinya berbeda dengan dan mengatasi semua nama lain di dunia dan di surga, atau di mana saja yang dapat dibayangkan manusia. Begitu kita menatap sejenak kekudusan nama-Nya yang agung, kita melihat betapa tepatnya “’memuliakan’” atau bermegah di dalamnya, tidak ada pilihan lain hanya sujud di hadapan-Nya. Sudah selayaknyalah kita manusia bergabung dengan seluruh ciptaan Allah untuk memuliakan-Nya, karena Dialah Pencipta dan Penebus kita ( Wahyu 5:9-14). Sudah selayaknyalah kita manusia dengan seluruh ciptaan-Nya “’bersujud menyembah kepada tumpuan kaki-Nya’” ( Maz.99:5).

Berangkat dari definisi alkitabiah di atas, maka ada empat ciri utama bagi sebuah ibadah yang sejati, yaitu: (1) “ibadah sejati adalah ibadah alkitabiah, artinya ibadah itu merupakan tanggapan terhadap pewahyuan alkitabiah.” [34] Itu berarti bahwa pembacaan firman Allah dan khotbah bukanlah mata acara sampingan atau barang asing, tetapi justru merupakan mata acara yang hakiki. Adalah suatu hal yang wajar, ketika nats dibacakan dan khotbah disampaikan, maka jemaat akan sibuk membuka halaman Alkitab untuk menemukan dan mengikuti nats yang sedang dikhotbahkan. Ibadah yang sejati harus memberi kesempatan bagi jemaat untuk merespons, menanggapi firman Allah yang dibaca dan dikhotbahkan itu, dan oleh karena itu maka para pengkhotbah harus mempersiapkan khotbahnya dengan sempurna.

(2) “ibadah sejati adalah ibadah jemaat kolektif.” Artinya, ibadah yang menyenangkan Tuhan dipersembahkan bersama-sama oleh jemaat / umat-Nya, yang berkumpul untuk melakukannya. Lebih jauh lagi, Stott mengusulkan supaya ibadah jemaat local itu “seharusnya mengungkapkan cirri internasional dan intercultural tubuh Kristus.” [35] Saran beliau bagi jemaat-jemaat local yang homogen seperti HKBP ialah supaya gereja-gereja yang homogen itu sadar bahwa “setiap gereja satuan homogen harus mengambil langkah aktif untuk memperluas persekutuannya, agar dapat menampakkan secara kelihatan kesatuan dan keragaman gereja.” [36] Dalam pemahaman demikianlah, maka dapat ditambahkan, bahwa sudah sewajarnya gereja-gereja anggota PGI menyambut baik upaya PGI untuk merayakan sebuah hari Minggu dengan memakai tata ibadah dari salah satu anggota gereja-gereja PGI.

(3) “ibadah sejati adalah ibadah rohani.” Ciri ketiga ini mau mengingatkan gereja supaya jangan mudah jatuh pada formalisme dan kemunafikan ibadah orang Israel . Gereja-gereja sepanjang abad sering jatuh pada formalisme dan kemunafikan itu. Ini nampak misalnya dalam ibadah yang hanyalah ritus tanpa realitas, bentuk tanpa kuasa, berjalan begitu saja, mekanis, asal jadi, kesenangan tanpa rasa takut akan Tuhan, agama tanpa Allah. [37]Kritik ini senada dengan kritik yang disampaikan oleh F.Tiemeyer 72 tahun lalu ( 1936 ) dengan ucapan yang selalu beliau ulangi : “ibadah – tanpa Allah” ( “Gottesdienst – ohne Gott “ ). Stott sangat menggarisbawahi bahasa alkitabiah “takut akan Tuhan”. [38] Kata kunci ini menyimpan makna yang terdalam akan kerinduan manusia untuk menggapai yang transenden, sebagamana dirindukan oleh Gereja maupun gerakan-gerekan baru kekristenan, seperti gerakan New Age, gerakan yang mencampurbaukan berbagai macam kepercayaan – agama dan sains, fisika dan metafisika, panteisme purba dan optimisme evolusioner, astrologi, spiritisme, reinkarnasi, ekologi dan pengbatan alternative; gerakan yang sadar akan keterbatasan materialisme, yang tak dapat memuaskan roh manusia. Menghadapi kerinduan manusia modern dan post-modern ini, Stott mengharapkan supaya Gereja dapat menawarkan ibadah rohani, yang dapat mengungkapkan unsur “misteri”, seperti “rasa tenang yang sejati”, atau dalam bahasa alkitabiah “takut akan Tuhan”. Beliau tidak dapat mengharapkan banyak dari kaum injili yang mengutamakan pengabaran Injil sebagai spesialisasi mereka. Kaum Injili, demikian beliau, “hanya punya sedikit rasa tentang kebesaran dan keagungan Allah yang Mahakuasa. … tidak bersujud di-hadapan-Nya dengan kagum dan gentar.” [39] Kritik ini menjadi tantangan bagi gereja-gereja arus utama, termasuk HKBP, supaya berhasil menampilkan sikap rohani, sikap “rasa takut keada Allah yang Mahakuasa” itu.

Masih banyak buku-buku yang dapat dipakai untuk diskusi selanjutnya tentang dasar-dasar teologis sebuah tata ibadah, tetapi kedua buku di atas pun sudah memadai untuk memberikan orientasi ke masa kini dan masa mendatang. [40]

5. Revisi: Saran dan Usul.

Pertama, tata ibadah HKBP yang dipakai sejak awal pertumbuhan dan perkembangan jemaat-jemaat yang berasal dari hasil pekabaran Injil Jerman ( RMG ) sejak 1860-an sudah menjadi bagian hidup bahkan menjadi identitas teologis dan praktis dari HKBP. Sumbangan para misionaris angkatan pertama seperti I.L.Nommensen, P.H.Johannsen dan A.Mohri nampak dari isi laporan kerja mereka ke Kantor Pusat RMG di Jerman, demikian pula pemikiran dan keputusan yang mereka ambil dalam Konferensi tahunan mereka di Tanah Batak. Tata ibadah itu sudah pernah mengalami revisi seperti diindikasikan oleh ceramah F.Tiemeyer 1936; sebuah ceramah yang didiskusikan diantara kurun waktu antara Agenda edisi 1904 dan Agenda edisi kini ( misalnya cetakan 1998 ). Sayang kita belum sempat memasuki diskusi mereka dalam Konferensi tahun 1936 itu. Besar kemungkinan tata ibadah itu pernah mengalami revisi atau perubahan yang dibutuhkan sesuai pertumbuhan dan perkembangan jemaat-jemaat pemakainya.

Dalam kedua tata ibadah itu ditemukan susunan mata acara yang berbeda, namun dalam ceramah F.Tiemeyer 1936 atau dalam buku Justin Sihombing 1963 tidak ditemukan alasan-alasan mengapa terjadi perbedaan itu. F.Tiemeyer memberikan uraian yang kritis teologis dan praktis, serta memberi beberapa usul perbaikannya. Justin Sihombing memberikan penjelasan yang mendukungnya, dan memberi berbagai saran bagiamna memakainya secara cermat penuh komitmen, supaya selalu mendukung hal-hal yang fundamental dari tata ibadah itu. Karena tuntutan perubahan yang berkelanjutan, maka sudah sewajarnya tata ibadah kini harus mengalami revisi, supaya gereja HKBP menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka, sebagaimana dijanjikan oleh HKBP sejak tahun 2002, sejak Tata Gereja 2002 disahkan oleh Sinode Godang HKBP 2002.

Kedua, hal-hal yang fundamental yang dirindukan oleh para pendahulu kita, dalam hal ini F.Tiemeyer dan J.Sihombing, serta para pemikir teologi masa kini, hendaknya menjadi acuan bagi revisi tersebut. Hal-hal yang fundamental itu, a.l. (1) otoritas Tuhan Allah yang tidak bisa dikurangi oleh otoritas siapapun ( kata kunci F.Tiemeyer: menghindarkan supaya jangan terjadi : “ibadah – tanpa Allah” ( “Gottesdienst – ohne Gott” ); ( 2 ) berpusat pada firman Allah yang dibaca, dikhotbahkan dan diterima melalui kedua sakramen; (3) berangkat dari “imamat am orang-orang percaya” – seorang liturgis ( pendeta atau partohonan lainnya ) adalah sama di hadapan Allah dan dihadapan jemaat yang berkumpul; (4) kasih dan anugerah Allah yang mengalir dari mata acara pertama hingga mata acara terakhir, karenanya seorang pun tidak dapat mengandalkan kebolehannya / perbuatannya yang baik; (5) nyanyian pujian, paduan suara, dan musik instrumen adalah sarana untuk menyampaikan isi alkitabiah, bukan isi emosional kemanusiaan atau penampilan selebriti oknum-oknum yang membawa mata acara ibadah; (6) seluruh hidup ini adalah ibadah, baik ibadah dalam gedong gereja maupun di luar gedung gereja, yaitu di rumah dan di tempat kerja sebagai ibadah moral ( kesucian hidup ) yang peduli melawan ketidakadilan sosial, kemiskinan dan kebodohan; (7) menyentuh secara utuh hidup ini, yaitu baik pikiran, hati dan perasaan, tanpa jatuh pada sikap yang merugikan akal budi manusia yang selalu mencerahkan itu, tidak jatuh pada ekstase, mistisisme atau aliran New Age; (8) ibadah yang menjaga keutuhan, keseimbangan dan komunikasi timbal-balik; (9) ibadah yang lebih mencerminkan kuasa Injil yang mengikat dan membebaskan ketimbang kuasa Hukum yang menghakimi.

Ketiga, berdasarkan hal-hal yang fundamental di atas, maka ada beberapa unsur yang perlu direvisi, a.l. daftar pertanyaan yang ditujukan kepada orang yang mau dibaptis, yang akan mengikuti janji sidi, perjamuan kudus, calon suami – isteri pada acara pemberkatan nikah, agar dengan demikian nampak kuasa Injil yang mengikat dan sekaligus membebaskan itu dan sekaligus menampakkan keceriaan, sukacita dan bukan beban yang sangat menekan bersangkutan. Hal serupa hendaknya dipikirkan dalam bidang siasat gereja.

Keempat, tentang perbedaan susunan mata acara ibadah dalam kedua Agenda HKBP ( 1904 dan 1998 ), bisa tetap dipertahankan sebagaimana susunannya dalam Agenda 1998 atau kembali pada susunan dalam Agenda 1904 , tanpa mengurangi arti dan makna hal-hal yang fundamental dalam sebuah tata ibadah injili, misalnya dalam penempatan “tingting” ( warta jemaat ) sesudah ( 1904 ) atau sebelum ( 1998 ) khotbah. J. Sihombing memberikan alasan teologis buat penempatan “tingting” sebelum khotbah. [41]

Kelima, mata acara tentang Dasatitah dapat juga dipertahankan, tanpa jatuh pada sikap yang berlebihan akan fungsi Hukum yang sering dipakai untuk memisahkan mereka yang melanggar hukum gereja dari mereka yang tidak melanggarnya atau meeka yang tidak ketahuan melanggarnya, misalnya dalam pemberlakuan hukum “siasat gereja” HKBP. Atau penekanan yang berlebihan supaya manusia itu menampilkan pola hidup yang sangat moralistik dan sekaligus a-sosial, seolah-olah manusia dianggap bukan lagi makhluk sosial. Mata acara ini juga sudah hadir dalam tata ibadah sejak abad-abad pertengahan.[42] Dan sehubungan dengan fungsi siasat gereja itu yang sangat sarat dengan muatan hukum yang berangkat dari sikap “hitam – putih”, yang dikenakan pada seseorang, maka dalam rangka revisi Agenda HKBP, sudah sewajarnya juga kehadiran siasat gereja ini dipikir ulang, apakah masih relevan secara teologis dan praksis bagi gereja yang hidup dalam era post-modern ini. Perbuatan tentang “dosa struktural” ( social ) tidak masuk dalam perhatian hukum gereja seperti tercermin dalam siasat gereja itu.

Keenam, upaya merevisi tata ibadah HKBP, rupanya sama dengan upaya mencari teologia jemaat sebagai suatu kekuatan atau kelemahan dalam dirinya sebagai bagian dari Gereja Tuhan di dunia ini. Artinya, HKBP pada usia menjelang 150 tahun ( 1861 – 2011 ) patut berupaya untuk merumuskan kembali teologia apa yang harus mendasarinya, merumuskan identitas dan jati dirinya yang terbuka untuk pembaharuan, supaya HKBP menjadi sebuah gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka sesuai dengan visi dan misinya. Salah satu hal yang perlu diingat dan tak dapat ditawar-tawar dalam merumuskan identitas HKBP menurut Ephorus Ds.Dr. T.S. Sihombing dalam Barita Jujur Taon HKBP beliau di Sinode Agung HKBP 1972 ialah pengakuan akan landasannya tentang “’hubungan dengan Allah’” ( “pardomuan dohot Debata” ).[43] Artinya, HKBP harus menanyakan dirinya tentang relasinya denganTuhan Allah, sebagaimana disaksikan oleh HKBP dalam Konfesinya, karena identitas HKBP tercermin dalam Konfesinya yang dirumuskan sendiri tahun 1950. Merevisi tata ibadah HKBP dengan demikian adalah bagian dari upaya berteologia di kalangan HKBP bersama-sama dengan gereja-gereja yang sama-sama pewaris tradisi yang ditanamkan para misionaris Jerman ( RMG ) beserta para pelayan pribumi dan para tokoh gereja 147 tahun lampau di Tanah Batak yang plural itu.

Ketujuh, kekuatan dari Kristen Kharismatik, sebagaimana disadari oleh banyak pemikir teolog, misalnya Wilfred J. Samuel [44] , sebaiknya digunakan sehingga ibadah injili itu mencerminkan keceriaan dan sukacita, namun menjauhkan dominasi pengalaman manusia itu sendiri, karena itu akan mengaburkan dasar-dasar teologis seperti dicatat di atas. Bagi ibadah “alternative”, atau “ibadah khusus” atau apa saja namanya, yang diutamakan ialah “mengenal Yesus lebih banyak”, bukan “mengalami Yesus lebih banyak.” [45]Mungkin gereja-gereja arus utama sudah dalam arah yang tepat, ketika mereka menciptakan bentuk-bentuk ibadah yang agak longgar, yang kuran terstruktur, sehingga mereka lebih mampu “unutk mengalami kehadiran dan pemeliharaan Allah.” [46] Mungkin gereja-gereja arus utama harus memberikan peluang misalnya bagi kaum muda untuk melakukan sebuah “ibadah alternativ”[47], di mana pengunjung ibadah itu dapat berbagi pengalaman iman mereka sambil melakukan gerakan-gerakan yang lebih bebas ( tepuk tangan, menyanyikan lagu-lagu pop rohani, diiringi dengan band dan kelompok singersehingga mereka tidak “lari” ke gereja lain. Dan dalam ibadah seperti itu tidak perlu menghilangkan votum dan salam, pengakuan dosa serta janji penghapusan dosa. Yang perlu dihinarkan yakni supaya pengejaran pengalaman religius itu tidak sampai menghilangkan pikiran yang kognitif dan terkendali, artinya jangan sampai pada hal-hal yang bersifat ilusi / kepalsuan.

Penutup. Kiranya paparan di atas tentang sejarah singkat tata ibadah HKBP dalam upaya mencari hal-hal yang fundamental buat sebuah tata ibadah yang injili ini dapat menumbuhkan semangat melayani bagi sahabat kita Pendeta M.V.Simanjuntak dengan pola purna-pelayanannya – pasca usia 65 tahun – di ladang Tuhan HKBP dan gereja-gereja tetangga serta masyarakat dan bangsa. Karena pelayanan itu bukan sebatas usia 65 tahun, dinas penuh waktu, tetapi melampau masa tersebut seumur hidup. Selamat memasuki masa purna pelayanan bagi Pendeta M.V.Simanjuntak beserta keluarga. “… marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah…. ( Ibr. 12:28 ) Seumur hidup!

Medan, Juni 2008

Pdt. J. R. Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP)

Kepustakaan:

Abineno, J.L.Ch., Unsur-Unsur Liturgi Yang Dipakai Oleh Gereja-Gereja Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2000.
Agende ( 1904 ), dicetak oleh Percetakan Mission ( RMG ), Siantar – Toba, 1904.
Agende Fuer Die Evangelische Kirche Der Union . I.Band Die Gemeindegottesdienste. Luther-Verlag, Witten , 1969.
Agenda Di Huria Kristen Batak Protestant, Percetakan HKBP Pematangsiantar, 1998.
Hutauruk, J.R., Menata Rumah Allah. Kumpulan Tata Gereja HKBP, Kantor Pusat HKBP, 2001.
Ismail,A., Selamat Berbakti. 33 Renungan Tentang Ibadah, BPK Gunung Mulia,2003.
Nommensen, I.L., Aus Huta Dam rim Bataklande, dalam: Berichte der RMG ( Ber.RMG ), No 7 ( Juli ) 1874, hal.193-206.
Nommensen, I.L., Berita tentang usaha Pekebaran Injil di Siloindung tahun 1866, dalam :”Ber.RMG”, No.6 ( Juni ) 1867, hal.167-182 ( terjemahan dari laporan dlm bhs Jerman, tahun 1984 ).
Samuel, W.J., Kristen Kharismatik. Refleksi atas Berbagai Kecenderungan Pasca-Kharismatik, BPK Gunung Mulia, 2006.
Schreiner, L., Nommensen in Selbstzeugnissen, Ammersberg bei Hamburg , 1996.
Sihombing, Justin, Homiletik ( Poda Parjamitaon ) dohot Deba Hatorangan Na Mardomu Tu Agenda, 2000.
Sihombing, Gomar, sebuah buku catatan mata kuliah Sekolah Pendeta di Seminari Sipoholon, t.t.
Sihombing, T.S., Barita Jujur Taon HKBP 1970-1972 ( Berita Perjalanan HKBP 1970-1972 ). Identitas Ni HKBP. Sinode Godang HKBP 29 Oktober 1972 – 4 Nopember 1972 di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar, Percetakan HKBP, 1972
Stott, J., The Living Church . Menanggapi Pesan Kitab Suci Yang Bersifat Tetap Dalam Budaya Yang Berubah, BPK Gunung Mulia, 2007.
Van Kooij, R.A. & Tsalatsa, Y.A., Bermain Dengan Api. Relasi Antara Gereja-gereja Mainstream Dan Kalangan Kharismatik Pentakosta, BPK Gunung Mulia, 2007.
Van Olst, E.H., Alkitab Dan Liturgi, BPK Gunung Mulia, 2001.
White, F.W., Pengantar Ibadah Kristen, BPK Gunung Mulia, 2002.

Endnotes:

[1] Tulisan ini adalah revisi dari makalah yang pernah didiskusikan pada seminar sehari tata ibadah HKBP oleh ketiga distrik HKBP yang berpusat di Jakarta , yaitu pada tgl 2 Juni 2008.

[2] I.L. Nommensen, Missionsarbeit in Silindung, dalam : “Berichte der RMG”, Juni 1866, hal.167-182 ; I.L. Nommensen, Aus Huta Dame im Bataklande, dalam: “Berichte der RMG”, Juli 1874, hal.193-206; dll. Lihat juga buku J.R.Hutauruk, Menata Rumah Allah. Kumpulan tata gereja HKBP, Kantor Pusat HKBP, 2001, hal.10-11, bahwa urutan mata acara ibadah Minggu : pembacaan dasa titah – pengakuan dosa – janji pengampunan dosa, sudah sejak dini dilakukan.

[3] “Agenda”, Nirongkom di Pangarongkomon Mission di Narumonda, Sianta – Toba, 1904, selanjutnya dikutib dengan singkatan: Agenda, Edisi 1904. Buku pedoman yang dimaksud ialah “Aturan ni Ruhut di angka huria na di tongatonga ni Halak Batak.”, Nirongkom di Panagarongkoman Mission di Si Antar – Toba, 1907, hal.1-35; buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai terjemahan sementara oleh para mahasiswa STT – HKBP yang mengikuti mata kuliah sejarah gereja tahun 1980-an.

[4] Sesudah pasca Perang Dunia Kedua 1940-an, beliau kembali ke Indonesia sebagai dosen di Fakultas Teologia HKBP Nommensen di Pematangsiantar ( 1953 – 1958 ). Beliau terpaksa kembali ke Jerman karena penyakit yang beliau derita.

[5] Referat gehalten auf der Konfenrenz Rh.Missionare Sumatra 1936 von Missionar F.Tiemeryer, Padangsidempuan. Thema: Die liturgische Frage im evangelischen Gottesdoenst ( Unter besondererBeruecksichtigung der Agende der Batakkirche ), dlm: Arsip VEM: F/b 2,3.

[6] Sayangnya naskah Agenda 1939 secara keseluruhan belum dapat kita temukan , hanya beberapa bagiannya.

[7] Kadang-kadang kita cenderung menerjemahkannya dengan kata “pemberhalaan”, tetapi dengan alasan tertentu bukan kata itu yang kita pilih melainkan kata “pengilahian”. Hal ini perlu dikaji elbih mendalam.

[8] Para misionaris RMG yang punya latarbelakang tardisi kegerejaan yang majemuk itu ( Lutheran, Calvinis / Reform dan Uni ( gabungan dari yang Lutheran dan Reform ) secara sadar dari awalnya selalu mengdepankan kemajemukan untuk menghindarkan sikap konfesionalistis, yang tidak mendukung upaya penyebaran Injil di Tanah Batak. Dan sikap ini pula yang nampak dalam sebuah tulisan I.L.Nommensen mungkin tahun 1876, ketika beliau memberikan sebuah ceramah dengan judul “Mari berkhotbah”. Lihat buku dari L.Schreiner ( edit. ), Nommensen in Selbstzeugnissen , Hamburg , 1996, hal.69-87; khusus tentang perbedaan-perbedaan konfesional dan tata ibadah, hal. 76-78. Untuk rujukan selanjutnya : “Khotbah ILNommensen 1878” ILNommensen mengambil sikap tengah, yang ingin mendamaikan semua unsur-unsur konfeional itu menjadi suatu harmoni ajaran yang dapat mendukung jalannya Injil di Tanah Batak, yang butuh akan suatu tata ibadah yang utuh menyatukan ( “eine einheitliche Gottesdienstordnung” ). Dan menurut beliau pola pikir ini sepadan dengan pola pikir Batak sebagaimana tercermin dalam sebuah umpama Batak :”hata mamunjung, hata lalaen, hata torop , ( lobu ) singkam ni hata.” Lihat, hal. 16.

[9] Mungkin beliau dipengaruhi oleh teologi Karl Barth; ini perlu menjadi bahan penelitian di bidang sejarah dogmatika atau Dogma. Bandingkan dengan uraian tentang “penyataan eksklusif” oleh Dieter Becker, Pedoman Dogmatika. Suatu Kompendium Singkat, BPKGunung Mulia, 2001, hal. 36-37.

[10] Agenda 1904 , I. “Porturena di porjamitaan, jumpa ari Minggu”. A. “Di angka huria naung leleng” ( hal. 3-6 ); B. “Di angka huria na imbaru, na niradotan ni angka Guru” ( hal. 7-8 ).

[11] Nomor ini adalah nomor Buku Logu ( BL ) dari Buku Ende HKBP; nomor BL sudah berubah, sehingga nomor 24 sudah menjadi nomor 143 dalam BL yang dipakai HKBP kini.

[12] Isi doa yang sudah ditiadakan dari Agenda yang kini dipakai oleh HKBP ialah :” Angkup ni i, sai dongani ma hami, ingani ma rohanami marhite-hite Tondimi, asa lam ture roha dohot parangenami tu joloan on, asa unang be hualo hami roham na denggan jala na badia i, asa sonang hami saleleng di tano on, sonang dohot sogot di lambungmi, dung ro panjoum di hami. Amen!

[13] Ada baiknya dicari apakah nyanyian ini ada tercantum dalam Buku Ende HKBP.

[14] Serupa dengan nomor BL kini.

[15] BL no. 289.

[16] BL no 173.

[17] Masih perlu dicari apakah nyanyian ini masih tercantum dalam Buku Ende HKBP kini.

[18] Buku Catatan kuliah Gomar Sihombing ( tanpa tahun ), hal. 117- 121. Judul bab mata pelajaran: “Mansam ni liturgy” dalam hal. 94-110; sayang lembaran ini hilang, sehingga yang tersisa mulai hal. 111

[19] Ada baiknya mencari lagunya dan tempatnya dalam Buku Ende HKBP.

[20] Lihat Buku Ende HKBP nomor 25 atau BL no.181. Nomor ini tidak disebut oleh Agenda 1904.

[21] Menurut Tata Ibadah 1907 disebutkan bahwa pengumpulan persembahan dapat diadakan sebelum atau sesudah khotbah. Lihat dalam “Tata Gereja 1907”, hal. 2. Naskah ini adalah naskah terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh J.R.Hutauruk dengan bantuan para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Sejarah Gereja Lokal di STT-HKBP. Aslinya ada dalam bahasa Batak ( edisi 1907 ) dan bahasa Jerman ( edisi 1906 ).

[22] Lihat “Agende Fuer Die Evangelische Kirche Der Union”, I.Band, Berlin 1969, hal.123.

[23] Agenda 1904, hal.7-8 :”Di angka huria na imbaru, na niradotan ni Guru.”

[24] J.Sihombing, Homiletik ( Poda Parjamitaon ) Dohot Deba Hatorangan Na Mardomu Tu Agenda, Penerbit HKBP, edisi 2000 ( edisi I 1963 ), hal.42-67.

[25] J.Sihombing, hal. 53; kutipan-kutipan berikutnya diambil dari hal. Ini dan dari halaman-halaman berikutnya.

[26] J.Sihombing, hal.57-65.

[27] “Protokol der Jahreskonferenz Rheinischer Missionare in den Bataklanden Sipoholon vom 9. bis 16. Juni 1925, dalam Arsip VEM F/b 1,7, hal. 3.

[28] F.Tiemeyer, hal.4-7; urutan di atas sesuai dengan urutan pemaparan beliau, jadi dimulai dengan sorotan tentang ibadah hari Minggu, lalu dilanutkan ke ibadah naik sidi dan seterusnya.

[29] Tiemeyer, hal.4 ( Fol. 4 ).

[30] Agenda 1904, hal.9.

[31] Agenda 1904, hal. 20-21 ( “Patujolo ni ulaon na badia” ); hal.22-24 ( “Marulaon na badia rap dohot patujolona” ); dan hal.25-27 ( “Parpadanan ( portollasan ) na badia” ). Beliau menyoroti bagian perjamuan kudus beserta persiapan pendahuluannya.

[32] Andar Ismail, Selamat Berbakti, BPK Gunung Mulia, 2003, hal. 32-34.

[33] John Stott, The Living Church . Menanggapi Pesan Suci yang Bersifat Tetap dalam Budaya yang Berubah, BPK Gunung Mulia, 2008, hal. 20; untuk rujukan selanjutnya dari hal.19-32.

[34] John Stott,hal. 20.

[35] Hal.25.

[36] Hal.26.

[37] Stott, hal.27.

[38] Stott, hal. 29.

[39] Stott, hal. 30.

[40] Antara lain : James F.White, Pengantar Ibadah Kristen, BPK Gunung Mulia,2002,khususnya tentang “Pelayanan Firman” ( atau ibadah ), hal.139-165; E.H. van Olst, Alkitab Dan Liturgi, BPK Gunung Mulia,2001, khususnya tentang “Pendekatan Dari Reformasi”, hal.91-95, dan tentang “Reorientasi”, hal.95-102; Rijnardus A. van Kooij & Yama’ah Tsalatsa A., Bermain Dengan Api. Relasi Antara Gereja-gereja Mainstream dan Kalangan Kharismatik dan Pentakosta, BPK Gunung Mulia, 2007; Wilfried J. Samuel, Kristen Kharismatik. Refleksi atas Berbagai Kecenderungan Pasca-Kharismatik, BPK Gunung Mulia, 2006. Selanjutnya dikutib dengan singkatan W.J.Samuel.

[41] J.Sihombing, hal.63. Mata acara tingting adalah diantara dua bagian besar tata ibadah itu, sehingga jemaat seolah-olah berhenti sejenak, dan setelah tingting baru masuk bagian kedua yang diawali dengan khotbah, di mana apa yang diberitakan oleh khotbah hendaknya jangan lagi diganggu oleh sebuah mata acara lain. Lihat, hal. yang sama.

[42] Lihat misalnya dalam buku J.L.Ch.Abineno, Unsur-unsur Liturgia Yang Dipakai Oleh Gereja-Gereja Di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 2000, hal.16-30. Menurut beliau urutan : dasafirman – pengakuan dosa – pemberitaan anugerah berasal dari Micron, di mana dasafirman itu berfungsi sebagai cermin, yang menyatakan kepada manusia “’betapa besar dan betapa sringnya kita menjadka Tuhan Allah murka oleh dosa-dosa kita.’” Urutan yang dipakai oleh Calivin: pengakuan dosa – pemberitaan anugerah – dasafirman, di mana dasafirman itu menempati tempat Gloria besar dan mempunyai fungsi sebagai puji-pujian.Lihat hal.29. Kalau Kuyper, demikian Abineno,menempatkannya sesudah khotbah dan kalau tentang fungsinya, Kuyper mengambil opsi dari Calvin. Lihat, hal.30. Abineno sendiri lebih suka mengambil opsi dari Calvin,baik susunannya maupun artinya, dan ini telah dipraktekkan oleh GPIB. Lihat, hal.31.

[43] Sihombing, T.S., Barita Jujur Taon HKBP 1970-1972: Identitas Ni HKBP. Sinode Godang HKBP 29 Oktober – 4 Nopember 1972 di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar, 1972, hal.7-8.

[44] W. J.Samuel, hal 108-138.

[45] W.J. Samuel, hal.114.

[46] W.J.Samuel, hal.113.

[47] Van Kooij cs, hal.194.


Kamis Putih