Makna Tata Ibadah Minggu HKBP

Editor: Berikut ini adalah penjelasan tentang tata ibadah minggu di gereja HKBP yang ditulis oleh CPdt. Binsar PB Siregar, STh. Sebelumnya artikel “Makna Liturgi HKBP” ini dipublish di forum Eklesia Reformata di Facebook. Semoga menambah referensi tentang makna dan liturgi HKBP.

Banyak orang Kristen berkata kalau
Liturgi ibadah HKBP membosankan, tidak membuat senang, monoton,
membosankan, seperti kurang kerjaan karena berdiri terus duduk, tidak bisa tepuk tangan, pokoknya semuanya tidak mengasikkan.

Itulah tanggapan orang-orang Kristen masa kini terkhusus kaum
muda. Mereka yang berkata seperti itu oleh karena ada tawaran ibadah gereja lain (yang mengatakan sebagai gereja Kharismatik) dengan ibadah modern, yaitu: instrument (alat musik modern dan lengkap), tidak ada aturan dalam ibadah,
semuanya bisa berekspresi bagaimana saja, lagu girang-girang pada umumnya, dan lainnya. Akhirnya banyak mengatakan bahwa gereja HKBP adalah gereja kolot, usang dan tidak peka dengan kemajuan zaman, dari hal itu banyak yang meninggalkan gereja HKBP oleh karena alasan tidak bertumbuh imannya karena Liturgi HKBP tersebut. Meskipun ancaman itu begitu kuat menimpa gereja HKBP, namun HKBP sadar dan berkomitmen bahwa ibadah/
Liturgi itu milik Allah, karena itu Liturgi itu dibuat dan ditentukan bukan menurut perasaan atau kesenangan manusia, namun agar kehendak Allah nyata dalam kehidupan dan perasaan
manusia dalam keteraturan dan
kebenaran. Oleh sebab itu HKBP tidak merubah Liturginya dan tetap mempertahankannya karena Liturgi itu sudah disusun dengan baik dengan alur dan rancangan sesuai dengan kehendak Allah.

Definisi Liturgi

Kata “liturgi” berasal dari kata
berbahasa Yunani: leitourgia. Asal katanya adalah laos (rakyat/bangsa) dan ergon (pekerjaan). Jadi, liturgi adalah Pekerjaan publik atau pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat/jemaat secara bersama-sama. Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan
peribadahan di mana seluruh anggota jemaat terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa “liturgi” adalah bahagian dari “ibadah”.

Setiap ibadah harus bersifat
liturgis; artinya melibatkan setiap orang yang hadir di dalamnya. Ibadah di mana jemaat hanya menjadi penonton yang pasif bukanlah ibadah dalam arti yang
sesungguhnya. Oleh karena semua
anggota jemaat harus terlibat
berpartisipasi dalam ibadah dan
bagaimana bentuk partisipasi itu (apakah menyanyi, berdoa, memberi persembahan, dll). Dari sini muncullah apa yang disebut
dengan tata ibadah, yang mengatur
kapan giliran setiap orang berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasinya. Tata ibadah inilah yang sering kita sebut liturgi dalam arti sempit.

Ada banyak liturgi dalam gereja HKBP. Namun yang menjadi pusat pelayanan liturgi Liturgi Minggu (biasa disebut dengan “ina ni parmingguon”). Sebab dalam Liturgi Minggu inilah persekutuan anggota jemaat benar-benar nyata, karya keselamatan Allah kembali digaungkan melalui janji keselamatan, mengingat hari kemenangan Yesus Kristus melalui
kebangkitanNYa pada hari yang ketiga serta tahun liturgi nyata bagi umatNya.

Liturgi yang terlihat ada pada Agenda HKBP. Agenda berasal dari bahasa Latin, yaitu sebuah buku yang berada pada altar untuk menunjukkan bagian-bagian
yang akan dilaksanakan pada
peribadahan di gereja.

Agar kita bisa memahami dan
memaknai Liturgi HKBP tersebut,
demikianlah rincian penjelasan
susunan Liturgi HKBP dalam Agenda
Parmingguon: Liturgi Minggu (ina ni minggu), menekankan tiga hal, yaitu: Berpusat pada Pemberitaan Firman, Hubungan Injil dengan Hukum, dan Hubungan dengan Tahun Gereja. Ketiga hal ini harus terlihat dan nyata dalam liturgi setiap minggunya.

0. Lonceng : Sebagai tanda ibadah akan di mulai, maka setelah lonceng berbunyi, seluruh jemaat akan berdoa setelah itu barulah
masuk ke dalam bagian Pleludium.

1. Preludium/Lagu Pembuka : Lagu sebelum ibadah Minggu di buka.
Sebahagian gereja melakukan pleludium dengan cara hening, hanya organ yang dibunyikan atau sebahagian lagi dengan cara mengumandangkan lagu pujian dari
Paduan Suara, tetapi di gereja HKBP, hal ini dilaksanakan dengan cara bernyanyi sampai 3 ayat sambil menunggu jemaat yang masih dalam perjalanan. Sebagai
pemberi kesempatan kepada jemaat
untuk bisa mempersiapkan dirinya
sehingga jemaat dapat memusatkan perhatian dan pikirannya dalam ibadah.

Karena itulah Liturgis (paragenda) tidak langsung berdiri di Altar. Pada ayat terakhir nyanyian barulah Liturgis berdiri untuk membuka peribadahan.

2. Votum – Introitus – Doa Pembuka:

Votum (invocation) memiliki arti ‘Seruan memanggil Tuhan yang Tiga Esa’. Ketika Votum dinyatakan, maka
ibadah telah dibuka dan disyahkan,
karena Allah telah hadir ditengah-tengah jemaatNya. Sikap tubuh adalah berdiri. Sebagai tanda sukacita dan penghormatan yang besar kepada Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sikap berdiri adalah sikap Liturgis, sikap penyambutan
kepada Allah yang datang ke tengah-tengah jemaat.

3. Introitus

Berasal dari kata introit (masuk atau mulai). Bahagian ini adalah pintu gerbang menuju ke dalam ibadah, atau dapat
dikatakan sebagai wajah ibadah. Dalam introitus, tema sentral ibadah
dikumandangkan dan selalui sesuai
dengan Tahun Liturgi.

Halleluya : “Pujilah Dia”. kata ini akan didengarkan setelah introitus dibacakan. Seruan pemimpin ibadah (Liturgis/Paragenda) kepada jemaat untuk memuji Tuhan oleh karena
Dia telah hadir di tengah-tengah jemaat melalui ibadah yang sedang berlangsung. Kemudian jemaat merespon dengan menyanyikan Halleluya sebanyak 3 kali. Ada tiga hal yang ingin diutarakan melalui kata Halleluya ini: Ungkapan sukacita jemaat sebab ikut serta menjadi bahagian dalam ibadah. Ajakan kepada seluruh umat untuk
ikut serta mengagungkan Allah. Kesaksian (pewartaan iman jemaat
kepada seluruh kaum, bahwa Allah
adalah Allah yang layak dipuji dan
disembah.

4. Kolekta (Doa Pembuka)

Collecta memiliki arti berhimpun. Jadi dalam doa pembuka inilah Liturgis memimpin doa bersama jemaat untuk mendoakan keperluan jemaat sesuai dengan tema minggu dalam introitus.

Bernyanyi: Sebagai respon jemaat terhadap anugerah yang telah diterimanya. Biasanya sesuai dengan ayat yang telah dibacakan dalam introitus atau bisa juga sesuai dengan
bagian yang berikutnya.

5. Hukum Taurat – Doa Memohon
Kekuatan

Ibadah berlanjut kepada kehendak Allah dalam kehidupan manusia yaitu Hukum Tuhan. Biasanya
hukum Tuhan ini diambil dari ke-10
Hukum Taurat atau bisa juga dari ayat yang menyatakan perintah dan larangan atau dapat diambil dari konfessi HKBP.

Mohon Kekuatan: Saat ini adalah saat kerendahan dihadapan Allah, dimana Liturgis mengajak jemaat untuk bersama-sama memohon kekuatan kepada Allah, bukti bahwa manusia sangat lemah.

Bernyanyi: Sebagai respon jemaat terhadap Hukum Taurat dan kekuatan yang telah diberikan. Pada
nyanyian tersebut terkandung ungkapan sukacita, sebab Allah telah menyatakan kehendakNya kepada manusia. Namun bisa juga sesuai dengan bagian yang berikutnya.

6. Doa Pengampunan Dosa – Janji
Keselamatan – Glory Doa

Pengampunan Dosa: Pada bagian
ini jemaat tersadar akan kelemahannya sebagai manusia, dengan bercermin kepada Hukum Taurat, maka mata manusia dibukakan akan kesalahan dan
kelemahannya selaku ciptaan Allah. Sikap tubuh berdiri dan menundukkan kepala, sebagai tanda penyesalan atas
kesalahan yang dilakukan.

Janji Keselamatan: Bagian ini
mengingatkan kita kepada kasih Allah terhadap manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Kita diingatkan kembali kepada pengorbanan Yesus Kristus, Putera Allah sebagai bentuk penyataan kasihNya.

Nyanyian Kemuliaan (Glory): Yaitu nyanyian malaikat ketika pertobatan di bumi terjadi. Nyanyian ini juga dikumandangkan oleh malaikat pada peristiwa kelahiran Yesus bukti bahwa
Keselamatan manusia telah tiba.

Jadilah Demikian (Amin) : Jawaban atas kemuliaan itu.

Bernyanyi: Pemilihan lagu di sini adalah sukacita karena dosa telah
diampuni.

7. Epistel – Ucapan Berbahagia

Epistel: Memiliki arti surat kiriman dari Rasul, ini menunjukkan kitab
tentang surat-surat yaitu mulai dari Kisah Para Rasul sampai dengan Wahyu, namun pada tahun 1919 kata Epistel telah dihapuskan dan diganti dengan Nas Bacaan Minggu.

Ucapan Berbahagia: Penekanan
kepada jiwa orang yang percaya kepada Firman Tuhan (bnd. Mzm 1) dan dilanjutkan dengan “Amin”.

Bernyanyi: Jawaban jemaat
atas sukacita yang diterima melalui
Firman Tuhan. Dipilih lagu yang berisi pujian atau lagu yang bertemakan tentang isi Epistel.

8. Syahadat (Pengakuan Iman):

Pada bagian ini seluruh jemaat berdiri dengan mengucapkan kesaksian iman mereka yang sudah diterima dari Allah mulai dari awal ibadah di mulai sampai pembacaan Firman. Hal ini juga adalah proklamasi kepada dunia tentang perbuatan Allah. Setelah Pengakuan
Iman, karena ini adalah bahagian
manusia, maka lagu pujian (koor)
ditempatkan disini, bukan seperti yang terjadi selama ini, disisipkan di antara poin-poin di atas.

9. Warta Jemaat

Seluruh jemaat diajak untuk melihat
realita kehidupan melalui warta yang didengarnya. Setelah warta jemaat ini, ada beberapa gereja yang melakukan doa syafaat. Namun jikalau melihat kepada Agenda HKBP, doa syafaat ini
adalah tambahan berikutnya, karena
dirasa perlu. Ini juga adalah bahagian dari manusia, maka setelah warta jemaat ini, lagu pujian (koor) dapat dikumandangkan kembali.

Bernyanyi: Lagu yang dikumandangkan jemaat sebagai rangkuman iman dari yang sudah didengarkannya. Pada mulanya
tidak ada persembahan dilakukan disini, hanya sekali pengumpulan persembahan yaitu setelah Khotbah. Namun setelah Agenda tahun 1939, terlihatlah bahwa
setelah warta jemaat dilaksanakan
pengumpulan persembahan.

10. Khotbah: Menurut Almanak HKBP

11. Bernyanyi: Lagu disini biasanya adalah tentang isi khotbah, namun adalah baik jika lagu pada poin ini adalah lagu tetnang thema Minggu atau Tahun Liturgi, karena semua
itu dirangkum dalam tema Minggu. Dan disinilah pengumpulan persembahan. Biasanya dalam liturgi Luther, setelah pengumpulan persembahan ini akan dilanjutkan kepada Perjamuan Kudus. Namun Agenda yang kita gunakan adalah union yang berarti ”hanya ibadah minggu yang diatur”, jadi ibadah
minggu tidak dengan Perjamuan Kudus.

12. Doa Persembahan – Nyanyian Persembahan

Doa Persembahan: Mendoakan
persembahan kepada Allah.
Persembahan ditaruh di atas meja Altar, baik persembahan partangiangan (kebaktian lingkungan) dan
persembahan lainnya untuk didoakan.

Nyanyian Persembahan: Sebuah rasa
syukur jemaat kepada Tuhan atas berkat yang telah diterimanya, pada nyanyian ini juga berisikan ikrar jemaat tentang persembahan yang diberikannya, bahwa persembahan tersebut tidak akan pernah diungkit, dibicarakan atau ditarik
kembali karena apa yang telah diberikan kepada Allah, maka menjadi milik Allah.

13. Doa Seturut dengan Tahun Gerejawi: Doa di Agenda HKBP setelah Khotbah.

14. Doa Bapa Kami – Doxology

Doa Bapa Kami adalah doa yang diajarkan Yesus Kristus kepada
murid-muridNya. Seperti pada Alkitab, doa ini hanya sampai kepada bagian “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”.

Doxology: Rangkuman seluruh
pujian kepada Allah. Pengakuan jemaat bahwa Allah-lah yang memiliki seluruhnya itu terangkum dalam kalimat “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan Kuasa dan Kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”

15. Berkat dan Amin

Setelah jemaat mengumandangkan doxology, imam menyampaikan berkat. Berkat ini adalah berkat yang diterima Harun dari Allah
melalui Musa. Allah mengatakan dengan jelas bahwa nama Allah harus ditaruh di atas jemaatNya (bnd. Bil 6: 22-27).

Amin (Menyanyikan Amin, Amin, Amin) sebagai tanda sukacita atas
seluruh berkat dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Perlu untuk direnungkan! Banyak pengkhotbah mengucapkan
kembali kata syalom atau horas setelah jemaat menyanyian Amin. Sesuai dengan aturan liturgi, kata syalom atau horas telah terdapat di dalam berkat, jadi tidak perlu diulang, sebab jemaat telah meng-
amin-kan. Liturgi adalah bahagian dari ibadah, sebab seluruh hidup umat yang percaya adalah ibadah kepada Allah. Untuk itu perlu kiranya agar lebih memperhatikan
bagian-bagian dari liturgi, sehingga liturgi yang dijalankan di tengah-tengah ibadah, dapat dimengerti dengan baik.

Pemahaman yang baik tentang Liturgi adalah ini: HKBP akan menolak ajaran bahwa liturgi adalah sebatas susunan acara demi perkembangan pelayanan di tengah- tengah gereja.


Minggu Kebangkitan