Kemarin malam merupakan hari yang cukup melelahkan bagi seribuan pendeta HKBP. Malam itu, lebih kurang 1.111 pendeta HKBP melakukan pemilihan Ketua Rapat Pendeta HKBP (KRP-HKBP) yang baru. Ada beberapa nama bakal calon (balon) yang muncul, diantaranya Pdt. BM Siagian, Pdt. RJ Hutagaol, Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, Pdt. Bonar Lumbantobing, Pdt. WTP Simarmata, Pdt. Martonggo Sitinjak, Pdt. Welman Tampubolon, Pdt. Amir Zaitun, Pdt. SMP Hutasoit, Pdt. COR Silaban, Pdt. MKH Sirait, Pdt. Ladestam Sinaga, Pdt. STP Siahaan, Pdt. Sondang Hutahaean, Pdt. Binsar Nainggolan, Pdt. BDF Sidabutar, Pdt. JP Sibuea (seperti dilansir Batak Pos). Ketua KRP yang lama, Pdt. Dr. Jamilin Sirait yang memimpin rapat pemilihan tidak dicalonkan kembali karena telah menjabat sebagai salah satu kepala departemen di HKBP.
Setelah melalui proses pemilihan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mantan sekjen (Pdt. WTP Simarmata, MA) terpilih, mengalahkan pesaingnya yang lain. Hal yang patut disyukuri adalah, kelihatan bagaimana peserta rapat dapat mengikuti semua proses pemilihan yang panjang sejak pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB dengan lancar dan penuh concern.
Namun ada kejadian menarik yang terjadi pagi tadi. Sekira pukul 09.00 WIB, ketua KRP HKBP (Pdt. Dr. Jamilin Sirait) hampir terkejut melihat jumlah peserta rapat yang belum tiba semua di ruang sidang. Padahal agenda utama dalam sidang itu adalah rapat penetapan Ketua KRP HKBP yang baru terpilih. Melihat keadaan, beliau menyatakan bahwa rapat pengesahan KRP bisa batal kalau belum ada dua pertiga dari jumlah peserta rapat yang hadir.
Entah karena panik atau kuatir, sejumlah pendeta yang peduli segera menghubungi rekan-rekan pendeta lainnya yang belum hadir via SMS atau telepon. “Ro hamu bah, naeng ta mulai rapat penetapan”, seperti itulah ungkap salah seorang peserta rapat yang saya lihat. Usaha-usaha seperti ini patut diteladani, mengingat betapa pentingnya peran Ketua Rapat Pendeta di tubuh HKBP. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih setengah jam menunggu, ruang sidang sudah dipenuhi oleh peserta rapat.
Untuk itu, saya juga mengucapkan selamat atas Ketua KRP HKBP yang baru terpilih, Pdt. Willem TP Simarmata, M.A. Semoga tugas pelayanan yang baru ini dapat menjadi start awal untuk memperbaharui tugas pelayanan para pendeta di HKBP.


Agustus 7th, 2009 at 12:24
selamat buat yg terpilih kiranya HKBP bisa menjadi lebih baik lagi dan selamat berjuang yg msh blm terpilih…
kesempatan ke dua msh ada…
Agustus 7th, 2009 at 12:30
Selamat buat amang WTP Simarmata
Buat peserta rapat, di rapat berikutnya jgn telat lg,ya..
Agustus 7th, 2009 at 17:10
selamat buat amang WTP Simarmata, buat amang para peserta rapat, kenapa bisa telat? kiranya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, coba bayangkan bagaimana bila rapat itu kita ibaratkan sebagai kedatangan Tuhan Jesus, pasti amang peserta rapat ketinggalan dan ditinggalkan deh….belajaralah untuk menjadi contoh….memanage diri terlebih untuk menghargai waktu…apalagi event seperti ini…
Agustus 7th, 2009 at 18:31
Mengucapkan Selamat untuk Bapak WTP Simarmata
September 3rd, 2009 at 10:01
Ma’af, agak membingungkan mencermati situasi pemegang jabatan yang berkembang di HKBP saat ini. Bukankah sebenarnya jabatan Ketua Rapat Pendeta adalah jenjang untuk berikutnya mencalonkan diri menjadi Ketua Departemen dan atau Sekjen dan atau Ephorus? Hal ini terjadi dengan Sinode Godang yang terakhir di mana Ketua Rapat Pendeta Dr. Jamilin mencalonkan diri jadi Sekjen, lalu terpilih jadi Ketua Departemen? Jangan-jangan pejabat HKBP ini sudah mulai ketularan virus “rindu jabatan” sebagaimana yang terjadi di negara kita sehingga ada mantan menteri yang bersedia menjadi Gubernur dan Direktur BUMN? Mudah-mudahan motivasi buruknya para pejabat negara itu tidak ikut-ikutan menular kepada para pejabat HKBP yang seharusnya adalah pelayan Tuhan dan hamba Tuhan …
September 3rd, 2009 at 11:30
@ tanobato
Hmmm, pada prinsipnya KRP itu bukan jenjang Amang. KRP punya tugas diantaranya memimpin Rapat Pendeta HKBP (seperti baru-baru ini yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Jamilin Sirait), selain itu KRP juga punya tugas untuk mengurusi TLP.
Jadi KRP bukan anak tangga untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Kalaupun pada akhirnya KRP terpilih untuk menjabat ephorus, itu semata-mata sebagai bentuk pelimpahan lanjutan kepercayaan para pendeta HKBP padanya. Oleh sebab itu, dalam fungsi tertentu, KRP merupakan sebuah ujian non formal mengenai kepemimpinannya di HKBP. Salam.
September 3rd, 2009 at 13:58
Tetap kurang pas, Amang … Kita lihat Amang WTP: sebagai Sekjen, beliau adalah orang nomor dua di kepemimpinan HKBP. Tangga selanjutnya adalah menjadi orang nomor satu, yaitu Eforus. Lha, koq ini malah “memutar” (dan “turun”) menjadi KRP dulu?
Yang lebih pas adalah Amang JS. Dari jabatan KRP menjadi Kepala Departemen. Selanjutnya terbuka jalan mau menjadi Sekjen atau Eforus; atau mau memutar paralel di Kepala Departemen yang lain. Bukan malah menjadi praeses, misalnya …
Kesediaan Amang WTP mencalonkan diri dan menjadi KRP menurutku bukanlah contoh kepemimpinan yang baik di HKBP. Pasti ada agenda tersembunyi yang hanya beliau saja yang tahu (dan orang-orang lingkaran terdekatnya …). Kalau belum mampu menjadi Eforus, mendingan berkiprah di organisasi gereja di luar HKBP (PGI Pusat, WLC, misalnya), kemudian “come back” untuk mencalonkan diri jadi Eforus.
Kayaknya pemimpin gereja kita juga sudah makin terkontaminasi dengan kenikmatan godaan kepemimpinan di dunia sekular. Semoga Kepala Gereja mema’afkan dan mengampuni …
September 3rd, 2009 at 16:56
@ tanobato
Yah, mungkin dugaan Amang ada benarnya. Tapi masih terbuka kemungkinan bagi kita untuk memandangnya dari sisi positif. Kita cuma bisa berdoa agar tugas pelayanan itu dapat diemban dengan baik, sehingga seperti yang Amang maksud, Sang Raja Gereja tetap mengasihani kita. Bukan begitu Amang?
Oktober 9th, 2009 at 08:58
Selamat ya amang cuma saranku untuk sinode A/P harus dipersiapkan agendanya matang-matang, sebab ini satu momen yang amat penting untuk masa depan HKBP. Pir ma tondim, jala marsihohot. Unang manonditnondit roham, jala unang tahutan, ai Jahowa Debatam do donganmu, manang dompak dia pe ho mangalangka (Josua 2:9). Amen.
Oktober 22nd, 2009 at 01:35
ah,, jabatan aja yg diributin orang2 ini,, lihat lah amang Pdt WTP simarmata aja nyantai” aja pas kepilih jadi KRP n ga keberatan samasekali,,, yg terpenting adalah bahwa amang WTP Simarmata bs ttp aktif dalam melayani jemaat Tuhan dan Tuhan,,( iya ga amang,, stujukan),, Tuhan ga ngliat jabatan tp kerelaan hati dalam melayani,,, slamat ya amang ats terpilihnya amang sbg KRP HKBP… semoga HKBP semakin maju dan terus setia dalam meneladani hidup KRISTUS….
Januari 13th, 2010 at 23:52
ido toho doi…………dihadapan Tuhan jangan suka mengahikimi,,merusak
nama baik orang lain. ketulusan melayani itu yang diminta Tuhan. Bukan
masalah jabatan. Sperti amng WTP, tulus mlayani