Hakim-Hakim 10:10-16
Minggu Exaudi
Saat kita mengambil sebuah jeda – untuk sejenak merenungkan apa yang sedang dan telah kita alami, mungkin pernah terbersit dalam benak kita pertanyaan: “Mengapa semua hal ini mesti terjadi atas diriku?” Kita menatap semua yang telah kita lakukan selama ini, namun rupanya hanya terlihat kesia-siaan. Kita tidak memperoleh apa yang seharusnya kita peroleh. Sebagai kompensasi atas jerih payah yang telah kita lakukan, kita malah hanya menerima ketidakadilan sosial atau bahkan “kekerasan struktural”. Akibatnya, pertanyaan eksistensial yang semula kita ajukan tadi berakhir menjadi kemarahan. Marah atas perilaku orang-orang atas diri kita. Marah atas kejadian-kejadian buruk yang kita alami.
Saudara-saudara, firman Allah pada hari minggu ini ingin menyapa kita yang pernah atau mungkin masih menyimpan pertanyaan atau juga sedang merasakan kemarahan. Jika kita mengingat khotbah minggu Rogate yang lalu – yang berjudul “Percayalah, Doamu akan Dikabulkan!” – ia berusaha mengingatkan bahwa doa yang disampaikan dengan dasar kepercayaan yang teguh pasti akan dikabulkan. Sebagai kesinambungannya, pasca kenaikan Tuhan Yesus Kristus, kita diajak untuk lebih berefleksi atas perjalanan hidup yang telah kita lalu: yang mungkin masih bertanya-tanya atau bahkan “menyangkal” janji Tuhan tentang kekuatan doa, atau bagi kita yang mungkin masih belum mampu “Bersukacita dalam Kenaikan Yesus Kristus”.
Ada sesuatu yang menarik tentang pertobatan Israel dalam teks yang kita baca ini. Pemimpin (hakim) mereka, Yair baru saja meninggal dunia. Dalam situasi yang tak menentu ini – saat terjadi kekosongan kekuasaan – akhirnya Israel terjebak kembali dalam dosa lama mereka. Mereka menyembah baal dan meninggalkan Tuhan (ayat 6). Namun ternyata, mereka yang mulanya mengira akan memperoleh keamanan dan kesejahteraan melalui baal, malah menerima hukuman Allah. Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. Mereka yang mengira akan memperoleh keamanan dari orang Filistin dan bani Amon dengan menyembah sesembahan mereka akhirnya malah memperoleh penindasan dan diinjak-injak.
Hukuman Allah ini berlangsung lebih kurang 18 tahun sampai tiba saatnya Israel bertanya kepada dirinya sendiri apa sebabnya mereka mengalami penderitaan. Namun, penderitaan akhirnya membawa mereka pada pengakuan, bahwa mereka telah melakukan dosa. Mereka menyadari bahwa jalan yang selama ini mereka lalui tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan lebih baik lagi, mereka akhirnya mengakui bahwa mereka telah meninggalkan Tuhan! Mereka marah, tapi bukan kepada penindas mereka. Mereka marah kepada diri mereka sendiri. Itu sebabnya mereka berseru kepada Tuhan.
Saudara-saudara, kita mungkin sering mengira bahwa ketidak adilan yang kita dialami sepenuhnya adalah kesalahan “si yang tidak adil”. Mungkin pula sering kita menganggap bahwa kejahatan atau kekerasan yang kita terima sepenuhnya adalah akibat dosa dari si pelaku kejahatan atau kekerasan itu. Namun, sebagaimana yang telah dialami oleh bagsa Israel, firman kali ini mengingatkan kita satu segi yang mesti kita renungkan saat kita mengalami kesulitan/kesusahan/penderitaan. Di samping kita bertanya “Mengapa ini semua terjadi padaku ya Tuhan”, kita juga mesti bertanya “Apa yang hendak Allah katakan kepadaku melalui ini semua?”. Selain bertanya “Mengapa Engkau membiarkan ia berlaku jahat atas diriku?”, kita juga mesti bertanya, “Apakah yang kulakukan sehingga harus menganggung semua ini?”. Artinya, kita mesti merenungkan betul apakah memang jalan/sikap yang kita jalani/pegang benar-benar kehendak Allah bagi kita ataukah hanya sekedar ilusi. Apakah memang hanya semata-mata kesalahan/dosa orang lain yang menyebabkan penderitaan kita? Kenyataannya tidak selalu demikian. Bisa karena dosa yang tidak kita sadari.
Berita ini, mungkin bagi sebagian orang merupakan kabar buruk. Tidak menentramkan hati. Namun memang, firman Allah bukan hanya untuk membuai hati dan pikiran orang. Firman Allah tidak seperti isi kampanye politikus yang hanya enak di dengar. Ia juga berisi kata teguran bagi yang memang harus ditegur. Namun sekali lagi saudara-saudara, ini adalah satu segi dari berita Injil. Ia adalah pembebasan bagi orang-orang tertindas. Pembebasan bagi yang merasa dirinya benar dan merasa orang lain semata-mata penindas yang berdosa. Pembebasan bagi orang-orang yang melihat perlakuan orang lain namun malah tidak melihat sikap yang salah atas perlakuan itu. Firman Allah ini juga adalah pembebasan atas rasa marah akibat pengalaman pahit yang kita alami.
Mari kita perhatikan lagi teks Alkitab yang kita baca tadi. Saat orang Israel berdoa (di dalam penderitaan), ternyata benar bahwa Allah mendengar doa orang-orang berdosa sekalipun. Ia tidak berdiam diri. Namun memang, lihat sendiri saudara, Allah mengatakan “TIDAK!” “Kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi. Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak”, jawab Tuhan (ayat 13-14). Demikianlah kelihatan, alih-alih mengiyakan doa orang berdosa, Allah mengingatkan dosa mereka dan konsekuensi yang harus mereka terima. Alih-alih menghancurkan langsung orang Filistin, Allah menyuruh mereka introspeksi diri.
Saudara-saudara, pada ayat-ayat selanjutnya kita tahu sendiri, bahwa Allah tidak hanya membutuhkan doa pengakuan dosa, yang mungkin kita kumandangkan setiap minggunya di gereja. Sekalipun kita menerima “Firman Tuhan tentang pengampunan dosa”, kita juga harus membayar harga yang pantas untuk itu. Pada akhirnya kita mesti mendengar Firman Allah dan melakukan pertobatan. Penebusan dosa itu tidak murahan, ia punya harga yang bahkan mahal sekali, sehingga Yesus Kristus mati untuk membayarnya.
Sayangnya memang, dalam dunia dewasa ini manusia cenderung mulai lupa untuk introspeksi diri. Manusia lebih suka menilai orang lain daripada berkaca pada diri sendiri. Menilai kualitas khotbah daripada menerima pesan khotbah. Marah atas teguran orang daripada mengevaluasi iman dan kepercayaan diri sendiri. Jika hatinya senang, ia akan pergi ke gereja itu. Jika buruk, ia akan pergi ke gereja lain. Dengan kata lain, manusia sekarang sudah sangat egois. Memandang sesuatu dari kacamatanya sendiri dan untuk kepentingan dirinya sendiri. Parahnya, kecenderungan ini diperparah dengan amarah. Marah terhadap orang yang “tidak beres”, memuji diri yang merasa beres. Marah terhadap ketololan orang lain, tinggi hati dalam perasaan jenius. Marah terhadap Allah, merasa diri sebagai orang suci.
Namun saudara-saudara, Firman kali ini menyapa kita dengan sungguh lembut terhadap sauara-saudara yang sedang marah – entah marah kepada orang lain, kepada diri sendiri atau bahkan kepada Allah – Tuhan menunggu pertobatan. Allah menunggu perubahan hati kita masing-masing, untuk mengobati luka yang selama ini kita rasakan. Allah menunggu kita berseru kepada Allah atas ketidakadilan, atas kejahatan, atas masa lalu yang hitam, atau atas penderitaan yang kita alami. Sungguh lembut, Tuhan Allah ingin menyembuhkan kemarahan dan kekecewaan saudara. Tuhan Allah yang mengasihi bahkan orang berdosa sekalipun, menunggu kita berseru: “Dengarkanlah suaraku ya Tuhan”. Hanya itulah cara, agar ia menatap kita kembali dan membebaskan kita dari penderitaan yang telah kita alami.
Amin.





