Renungan Mazmur 145:4 | Prasasti Kemuliaan Allah

September 1, 2012 by: 0

air kehidupanAngkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. (Mazmur 145:4)

Mari coba perhatikan proyek pembangunan yang dikerjakan oleh manusia. Tidak jarang, Anda akan melihat papan proyek yang biasanya berisi biaya pengerjaan, siapa yang mengerjakan, dan lama pengerjaannya. Dan jika sudah selesai, bisa saja nantinya ada prasasti peresmian atas bangunan tersebut. Biasanya di bangunan gereja kita juga selalu terdapat prasasti peresmian yang ditandatangani oleh pimpinan gereja. Prasasti semacam itu merupakan cara untuk mengingatkan setiap generasi perihal pembangunan bangunan tersebut.

Pertanyaannya, bagaimanakah jika seandainya di setiap ciptaan Allah ada prasasti demikian? Anda dan saya pasti dapat membayangkan, bahkan di dahi setiap orang mungkin akan ada tertulis kata-kata “Dibuat oleh Allah”. Namun, untung saja di dahi Anda dan saya tidak tertulis prasasti seperti itu.

Prasasti pastinya menunjukkan bahwa sesuatu telah berhenti atau sudah selesai dikerjakan. Tidak ada yang membuat prasasti pada bangunan yang belum selesai dikerjakan. Inilah mengapa barangkali Allah tidak membuat prasasti di setiap karya ciptaanNya: karena karya dan pekerjaan Allah di dunia ini (termasuk hidup Anda dan saya) tidak pernah berhenti. Allah senantiasa bekerja tak kenal lelah untuk menopang kehidupan.

Bagaimanapun juga, meskipun di dalam setiap hasil pekerjaan Allah tidak terdapat prasasti demikian, pemazmur menyatakan dengan pasti bahwa angkatan-demi angkatan tetap akan memegahkan pekerjaan dan keperkasaanNya. Allah tidak membutuhkan prasasti untuk memuji diriNya sendiri, sebab langit, matahari, bulan, dan bintang pun sungguh memuji Allah melalui cahayanya (BE. 17:2). Dengan demikian jika segala ciptaan juga memuji kebesaran Allah, maka sebagai manusia Anda dan saya selayaknya memuji Allah lebih banyak dari segala ciptaan yang lain.

Pujian yang kita kumandangkan kiranya tidak seperti nyanyian penyanyi lip-sync di televisi, tetapi hendaklah menjadi seperti penyanyi live yang tampil langsung dari dirinya sendiri. Pujian yang kita ucapkan kiranya bukan sebagai hiasan kata-kata yang agar kelihatan lebih puitis, namun hendaklah sebagai ungkapan penuh syukur dan kerendahan hati. Pujian yang kita tunjukkan melalui kehidupan kiranya bukan sekedar agar kelihatan lebih religius atau lebih spiritual, melainkan sebagai penyembahan atas Allah yang hidup.

Pujian seperti ini hanya mungkin terjadi melalui pengenalan yang benar atas Allah. Pujian itu akan mungkin terjadi melalui hati yang tahir, yang batinnya sudah diperbaharui dengan roh yang teguh (Mzm. 51:12). Dan juga, pujian seperti itu hanya mungkin terjadi setelah mengalami dan merasakan bagaimana Allah Tuhan sudah sungguh mengasihinya (Mrk 5:19).

Terpujilah Tuhan semesta alam. Amin.

Pdt. Robert Lumbantobing

Pdt. Robert Lumbantobing tinggal dan melayani di Gereja HKBP Petojo Ressort Petojo. Beliau memiliki tiga orang anak, yang dua diantaranya juga turut aktif menjadi penulis di situs ini: Pdt. Reinhard PP Lumbantobing & drm. Rikardo Lumbantobing. Sebelum di HKBP Petojo, beliau pernah juga melayani di HKBP Rawamangun dan sejumlah gereja lainnya. Pada situs ini beliau menulis renungan harian.