Matius 17:24-27
Ada sebuah cerita tentang dua orang tuli, sebut saja namanya si Andi dan si Budi. Di suatu pagi, si Budi hendak pergi di sungai. Ia mengenakan handuk kecil di lehernya (untuk gaya pikirnya). Di perjalanan, ia bertemu dengan si Budi yang juga tuli. Meskipun tidak kenal, dengan ramah Andi menyapanya, “Wah, mau mandi di sungai ya lae?”. Karena Budi tuli, ia tidak mendengar sapaan itu dan malah balas menyapa, “Wah, mau ke sungai ya lae?”.
Takut dikira tuli, Andi merespon, “Oh, kirain mau mandi lae”. Demikian juga dengan Budi, “Oh, kirain lae mau ke sungai”.
Begitulah gambaran pembicaraan orang-orang yang merasa sudah menjadi pendengar yang baik. Isi pembicaraan hanya di duga-duga, sehingga responnya juga tak terduga (alias ngawur).
Jangan sampai saat mendengar firman Allah terjadi hal seperti itu. Firman Allah tidak boleh diduga-duga dan meresponnya juga tidak bisa asal-asalan.
Firman Allah itu juga jelas dan tidak boleh dipelintir atau diplesetkan. Oleh karena itu, saat mengajarkan firman Allah misalnya kepada anak-anak, tidak boleh menyertainya dengan tamparan atau mencubit si anak. Firman Allah harus diajarkan sesuai dengan isi firman itu. Jika firman Allah mengatakan “Kasihilah Tuhan Allahmu” namun kita memukul si anak karena sedikit kesal, apa jadinya arti pengajaran itu?
Mengajarkan Firman Allah haruslah dengan benar dan sungguh-sungguh. Firman Allah tidak boleh diberitakan dengan cara mengabaikan sendiri pesan dari Firman tersebut. Jika kita sudah mampu demikian, maka Firman tersebut akan sejalan dengan maksud dengan tujuannya semula.


Agustus 12th, 2010 at 17:51
Hypotheken? Heel veel hypotheek informatie: verschillende hypotheekvormen, hypotheekrentes, nationale hypotheek garantie, hoe een hypotheek te vergelijken.
Agustus 14th, 2010 at 21:48
Lenen Zonder BKR Toetsing Lenen zonder BKR toetsing stijgt in populariteit op het Internet. Veel mensen met een zogeheten BKR notatie, die toch geld willen lenen zijn op zoek naar …