Menjadi pengajar Firman Allah yang baik

Ulangan 6:4-9

Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena kurang konsentrasi atau karena pendengaran kita kurang baik.
Setelah mendengar, kita pun diharuskan untuk berbicara kembali. Inilah respon dalam arti yang sesungguhnya. Di dalamnya kita mengungkapkan pendapat, gagasan, harapan, maksud, tujuan kita, dsb.

Sehubungan dengan firman Allah dalam Ulangan 6:4-9, TUHAN lah yang sedang berbicara dan Musa adalah suaranya. Sekarang, suara ini telah kita dengar dan perhatikan. Melalui Musa, Allah memerintah kita untuk mendengarkan firmanNya sekaligus juga agar dapat menyampaikan dan memberitakannya kepada orang lain atau kepada siapapun juga.

Namun karena pekerjaan mendengar adalah sesuatu yang sulit (seperti dikatakan tadi), maka suara dan perintah Allah itu harus lebih kita perhatikan. Kita harus mempelajarinya dengan sungguh dan memeliharanya dalam hati kita baik-baik. Mengulangi apa yang dikatakanNya dan memastikan tidak ada sedikitpun yang ketinggalan. Intinya, kita harus mempelajari firman Allah itu setiap saat dan setiap hari.

Inilah syarat agar kita dapat menjadi pengajar firman Allah yang baik, yakni yang telah menjadi pendengar Allah yang baik.

Mungkin ada yang mempersoalkan cara mengajarkan firman Allah yang paling baik. Akan tetapi itu tidak jadi masalah. Cara yang paling praktis dan paling mudah adalah mengajar melalui teladan dan kesaksian. Diri si pengajar (kita) harus menjadi contoh yang hidup atas bagaimana Allah itu telah berperan dalam kehidupan si pengajar. Firman Allah tidak begitu abstrak sehingga kita harus mengajarkannya secara teoritis. Ia berawal dari tindakan dan bukan wacana. Itulah sebabnya untuk mengajarkannya harus diawali dengan tindakan kita juga.

Ini berarti seorang pengajar firman Allah harus menjadikan firman itu bagian dari hidupnya. Inilah persiapan utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar, siapapun kita, entah sebagai orangtua, sebagai guru, sebagai pelayan Tuhan, dokter, pengacara, polisi, atau apapun profesinya.


Holy Saturday