Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun

Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun
Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun

I. PENDAHULUAN

Pada masa ini warga Batak Tapanuli suda hampir mendiami sebahagian besar wilayah Simalungun. Proses masuknya orang Batak Tapanuli ke wilayah ini juga telah terjadi puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang lewat. Migrasi itu terjadi didorong oleh berbagai factor yang timbul dari dalam diri mereka sendiri atau juga oleh pengaruh dari fihak lain seperti fihak colonial yang memaksa ataupun memanfaatkan mereka untuk tujuan-tujuan colonial sendiri dan juga oleh fihak missionar dalam rangka penyebaran injil yang mereka lakukan.

Proses migrasi itu juga tidak terjadi secara serempak. Tetapi mereka meninggalkan kampung halamannya secara bertahap. Untuk lebih jelasnya pada tulisan ini akan di uraikan beberapa hal yang mendorong penyebaran orang Batak (Toba) Tapanuli ke daerah Simalungun yakni :

I. Usaha penginjilan yang diusahakan oleh para missionar. Para missionar yang telah terlebih dahulu bekerja di wilayah Tapanuli berusaha juga untuk menyebarkan injil ke wilayah Simalungun dengan memanfaatkan tenaga putra daerah Tapanuli disamping tenaga para missonar dari Eropa.

II. Usaha fihak kolonial (Belanda) karena kebutuhan tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan (perkebunan) yang telah mereka buka

III. Usaha orang Tapanuli sendiri untuk mencari lapangan kerja baru karena factor keterbatasan lahan produktif di wilayah Toba dan sekaligus karena kesuburan alam wilayah Simalungun terutama untuk bercocok tanam.[1]

Ketiga faktor tersebut sangat dominant dalam upaya migrasi orang Tapanuli tersebut. Factor inilah kemudian yang melahirkan budaya dinamis bagi orang Tapanuli yakni merantau (mangaranto) dengan meninggalkan tanah kelahiran untuk pergi ke daerah lain.

Pendidikan barat yang mereka terima dari para missioner telah membuka mata mereka untuk lebih mengenal dunia luar yang sekaligus juga menuntun arah untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Selanjutnya anggota masyarakat yang mendapat pendidikan formal menjadi enggan bekerja sebagai petani dan beralih melakukan pekerjaan lain. Pada awalnya mereka sangat mengidamkan jabatan gerejawi karena memiliki prestise tersendiri. Contohnya Nahum Tampubolon yang dikenal dengan gelar Raja Patik Tampubolon yang bekerja sebagai guru yang oleh RMG mengutusnya sebagai guru pertama dan penginjil di antara Batak Simalungun di daerah Haranggaol-Purbasari dan juga pembicaraan Nommensen dengan raja-raja Simalungun mengenai pendirian Pos-pos PI dan sekolah-sekolah Zending pada tahun 1903.[2] Sedangkan yang tidak berpendidikan, terutama kaum tani , sejak permulaan abad ke-XX pindah secara berkelompok ke daerah potensial yang jarang penduduknya. Mereka membuka hutan dan mengolah rawa-rawa menjadi areal pertanian dan persawahan. Bersamaan dengan itu kaum terdidik mendapat pekerjaan di instansi pemerintahan colonial, perkebunan Barat, pertambangan, rumah sakit, bank, sekolah dll di luar Tapanuli Utara yang dengan itu mereka mendapat gaji dan pangkat yang sekaligus juga meraih status yang lebih tinggi.[3]

Untuk membaca artikel lengkap Migrasi Suku Batak Toba Ke Daerah Simalungun serta Dampaknya Terhadap Penginjilan di Simalungun silahkan unduh lewat link download di bawah!