Kemarin malam, dalam suatu diskusi Penelaahan Alkitab, ada salah seorang pemuda yang menyebut orangtua adakah Debata na tarida (Allah yang kelihatan). Saya terkejut mendengarnya. Apa benar orangtua kita adalah Allah yang kelihatan?
Saya segera sadar bahwa pernyataan demikian dipicu oleh karena adanya pencampur-bauran pemahaman yang terjadi di masyarakat. Sepengetahuan saya, memang ada pemahaman yang berbunyi demikian, khususnya budaya India. Para istri orang India biasa memandang suami sebagai dewa yang kelihatan. Begitulah cara mereka menghormati suaminya. Tapi dalam kasus di atas, pernyataan orangtua adalah Allah yang kelihatan, sepertinya berasal dari budaya India ini. Bentuk sinkretisme seperti ini wajar terjadi karena adanya pertemuan budaya.
Namun, ajaran kristen tidak menyebut orangtua sebagai Allah yang kelihatan. Kalaupun kita ingin memakai istilah “Debata na tarida”, lebih tepatlah kalau ditujukan pada Yesus Kristus. Kita mendasarkan ini pada Yohanes 12:45, “dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku”, dan juga pada Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”.
Dengan menyebut Yesus Kristus sebagai Allah yang kelihatan, itu berarti kita mengaku percaya bahwa di dalam Yesus Kristus kelihatan pekerjaan Allah. Di dalam diriNya kita juga percaya akan kesediaan Allah untuk hadir di antara manusia. Dan dengan demikian juga, kita mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah “Anak Allah yang tunggal, Tuhan kita” (cf. Pengakuan Iman HKBP 1996, p. 83).

Mei 28th, 2009 at 11:17
Sy stuju.. Org tua jg manusia yg trikat dgn dosa.. Hnya Yesus yg adlh manusia sempurna d bumi dn d hadapan Allah, shingga hnya Yesus yg dpt jd dOmbA tak beRcela tuk jd koRban pngampunan ats dosa smua manusia,trmasuk org tua qta jg..
Yesus adlh Allah yg MENJADI manusia..
Salam kenal lae..
Apa Lae guru skul mgg??
Mei 29th, 2009 at 08:43
@ Hutajulu
Salam kenal juga lae, saya juga guru sekolah minggu koq.
Mei 29th, 2009 at 12:36
BIsa jadi asimilasi budaya
namun bisa juga dipandang begitu agar anak belajar tunduk dan hormat pd orang tuanya
bahkan jikalau org tua salah teteap kita selayaknya menaruh hormat
karena bukan porsi anak yg menegur namun ALLAH
salam, EKA
Mei 30th, 2009 at 01:33
@ Eka
Iya ito, itu bisa dimaklumi. Kalau konteksnya untuk sekedar menghormati tidak apa-apa. Asal hal itu dipandang sebagai doktrin gereja. Bisa berabe lo.
P.S.: BTW, terus terang saya lupa kata ‘asimilasi budaya’, jadinya saya pakai ‘pencampur-bauran pemahaman’. Gitulah kalo da mulai pikun kali ya.
Mei 30th, 2009 at 23:04
Jangan ada ilah lain di hadapan. Tak seorangpun bisa melihat Allah, sebab jika ia bisa melihatNYA, maka ia akan mati pada saat itu juga (Baca Keluaran 33)
Juni 1st, 2009 at 23:35
@ Panggabean
Terimakasih untuk tanggapan dan masukan amangtua.
Juni 1st, 2009 at 23:42
@ Panggabean
Terimakasih untuk tanggapan dan masukan amangtua.
P.S.: Balasan @ Eka salah tulis. “Asal dipandang sebagai ajaran gereja” seharusnya: “Asal tidak dipandang sebagai ajaran gereja”. Maap..
Juni 4th, 2009 at 01:04
Saya juga setuju dengan pendapat saudara. Akan tetapi, biar pandangan ini tidak menjdi kontroversi, sebaiknya saudara juga hrus membandingkannya dengan pengertian dan pemahaman akan TITAH Ke-5. Selamat melayani. GBUs
Juni 4th, 2009 at 13:14
@ Manurung
Hmm, iya juga ya bang. Kalau dihubungkan dengan titah kelima, bagaimana sikap abang? Kita diskusikan di sini yuk.