
Bilangan 14:11-20
Minggu Rogate
Alkisah, adalah seorang pangeran dari bangsa Troya yang jatuh cinta kepada Helen, istri raja Sparta yang bernama Menelaus. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Helen kelihatannya tertarik kepada Paris (sang pangeran), sehingga rela dibawa lari ke Troya. Kabar pun tersiar dan sampai ke telinga Agamemnon, raja Yunani yang notabene saudara dari Menelaus. Mendengar iparnya dilarikan, sang raja sangat marah dan merasa dipermalukan. Ia pun mengutus sebuah ekspedisi yang dipimpin jenderal bernama Achiles untuk menghancurkan Troya.
Perang tidak dapat dielakkan lagi. Karena cinta seorang pangeran, Troya harus berperang dengan Yunani dan Sparta. Namun rupanya Troya dapat mengatasi peperangan itu melalui benteng mereka yang kokoh. Pasukan Achiles hanya dapat mengepungnya, selama 10 tahun! Merasa hampir putus asa, Yunani pun berencana melakukan serangan pamungkas. Mereka bergerak mundur, sambil meninggalkan sebuah kuda kayu raksasa di luar tembok pertahanan Troya. Akan tetapi di dalam perut kuda kayu tersebut, sejumlah pasukan Yunani sudah disiapkan untuk sebuah misi.
Tanpa merasa curiga, orang-orang Troya menarik kuda kayu tersebut ke dalam benteng kotanya. Mereka telah melakukan kesalahan besar di sini. Saat malam tiba, penduduk Troya pun tidur nyenyak dengan perasaan aman tenteram. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa tentara yang bersembunyi telah keluar dan membuka gerbang pertahanan Troya. Pasukan Yunani yang sebelumnya hanya berpura-pura mundur, maju kembali dan memasuki kota Troya dengan leluasa. Mereka berperang kembali, membumihanguskan ibukota Troya. Helen, istri Menelaus pun di bawa pulang.
Begitulah, oleh karena ulah seseorang satu bangsa bisa menanggung akibatnya. Oleh sebab buta atas cinta dan karena cinta yang membabi buta, ribuan nyawa penduduk Troya harus melayang.
Namun sebaliknya, di dalam Alkitab kita justru menemukan versi yang berbeda. Di dalam Alkitab diberitakan bahwa oleh sebab satu orang semua orang diselamatkan. Orang itu adalah Yesus Kristus. Tetapi di samping itu, kita juga menemukannya di dalam Perjanjian Lama, terutama dalam teks yang menjadi dasar perenungan ini.
Dikisahkan, pada suatu ketika orang-orang Israel akan mendekati tanah Perjanjian. Janji yang selama ini mereka idam-idamkan akan terealisasi. Janji yang selama ini membuat mereka mau dan rela berjalan 3 mil per jam dari Mesir ke Kanaan selama 40 tahun akan tergenapi. Namun, ketika melihat tanah itu mereka akhirnya hanya bisa mengeluh. Mereka menemukan bahwa penduduk Kanaan itu besar-besar dan tegap-tegap, dan mereka harus menaklukkannya! Kenapa Allah tidak memberikannya begitu saja kepada kami?”, mungkin begitu isi keluhan mereka.
Melalui kepemimpinan Musa, akhirnya di utuslah Hosea bin Nun (yang kemudian disebut Musa sebagai Yosua) dan Kaleb bin Yefune untuk mengintai tanah Kanaan. Singkat cerita, tim investigator tersebut berangkat, melakukan tugasnya dan kembali kehadapan Israel untuk memberikan laporan. Sayangnya Israel tidak mau mempercayai laporan Yosua dan Kaleb yang mengatakan sesuatu yang baik tentang Kanaan. Karena ketidakpercayaan itu, mereka hendak melempari mereka berdua dengan batu.
Melihat kelakuan Israel ini, Allah pun segera bertindak. Dikisahkan bahwa Allah tidak tahan lagi melihat dosa Israel yang demikian. Diberitakanlah bahwa Israel akan mengalami kehancuran. Mereka akan dimusnahkan.
Mendengar bahwa Allah naik pitam, Musa menjadi panik. Ia tidak ingin perjalanan ini akhirnya menjadi sia-sia. Dan dengan segala ketakutan atas kemungkinan yang diberitakan tadi, Musa pun berdoa. Yang menarik, Allah berkenan mendengarkan doa Musa. Akhirnya, oleh karena doa satu orang, sebuah bangsa menjadi terselamatkan. Mereka tidak menjadi habis lenyap.
Saudara-saudara, orang sering bertanya-tanya tentang apa/bagaimana sebenarnya doa yang didengarkan Allah (pertanyaan ini tentu masih lebih baik daripada mempertanyakan khasiat doa). Menjawab ini, ada yang mengatakan bahwa doa orang-orang yang teraniaya pastilah akan dikabulkan Tuhan (seperti yang diimani oleh saudara-saudara kita muslim).
Sebagai orang Kristen, kita tidak bertanya demikian. Bila kita bertanya seperti itu, berarti kita sedang mempertanyakan kemampuan ‘pendengaran’ Allah. Namun kita menanyakan pertanyaan seperti yang ajukan oleh murid-murid Yesus: “ajarlah kami [bagaimana] berdoa”. Jika kita bertanya demikian, kita sedang tidak mempertanyakan Allah, namun sedang bertanya kepada diri kita sendiri tentang bagaimana cara kita selama ini berdoa.
Bagaimana cara berdoa?
Sebagaimana yang telah diceritakan, kemarahan Allah atas Israel sebenarnya adalah karena Israel tidak percaya kepadaNya. Allah marah, karena Israel mempertanyakan kemampuanNya untuk memimpin mereka menaklukkan Kanaan. Atau secara praktis, Israel telah meniadakan Tuhan. Namun berbeda dengan Israel umumnya, di dalam doanya Musa menunjukkan kepercayaannya yang begitu besar kepada Allah. Hal ini bisar kita perhatikan secara khusus mulai dari Bilangan 14:13-19. Di dalam isi doa tersebut kita justru hanya melihat keyakinan dan penghayatan Musa atas peran Allah di tengah-tengah kehidupan Israel.
Demikian pula seharusnya saat kita berdoa, kita pun harus memulainya dengan kepercayaan. Dimulai dengan penghayatan akan peran dan kuasa Allah atas hidup kita. Itulah sebabnya di dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan, “Bapa kami yang di surga, dikuduskan namaMu. Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Melalui permulaan doa tersebut, Yesus mengajak kita untuk menghayati keberadaanNya (di surga), sifatNya (dikuduskanlah), kekuasaanNya (kerajaanMu), dan otoritasNya (kehendakMu). Jika kita tidak memulai doa dengan kepercayaan, maka semuanya menjadi sia-sia.
Saudara-saudara, akan tetapi, doa juga harus diakhiri dengan kepercayaan. Barangkali, jika ada orang Kristen yang mengakhiri doanya tanpa kepercayaan, maka ia menjadi orang Kristen yang tidak masuk akal. Mengapa? Sebab di akhir setiap doa yang kita panjatkan, kita selalu menyatakan “Amin”. Mengakhiri dengan kata Amin berarti kita mempercayakan seluruh yang kita doakan tersebut kepada Tuhan. Namun memang, Sayangnya, kata itu sudah berubah menjadi formalitas dari pada sebuah pengakuan dan keyakinan. Kata yang berarti ‘terjadilah’ itu tidak begitu meyakinkan lagi. Muncullah kata-kata sisipan berbunyi “mudah-mudahan Tuhan mendengar”.
Doa yang diakhiri dengan kepercayaan, adalah doa yang diakhiri dengan: kepercayaan bahwa Allah-lah yang mempunyai otoritas atas permintaan kita. Ini menjelaskan mengapa di dalam Doa Bapa Kami terdapat kata “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan Kuasa dan Kemuliaan sampai selama-lamanya”. Di dalam kata-kata tersebut kita mengakui bahwa pengambil keputusan dan tindakan akhir atas isi doa yang kita ucapkan hanya berasal dari Allah. Jika Allahlah yang empunya Kuasa, kita pun ikut terkena pengaruh kekuasaan tersebut dan tunduk atasnya.
Saudara-saudara, Martin Luther pernah mengatakan, “Berdoalah, dan biarkan Allah yang [pusing] memikirkan itu semua untukmu”. Ini dapat berarti bahwa isi doa yang kita panjatkan, sudah menjadi ‘milik’ Allah saat kita mengajukannya. Oleh sebab itu, jangan pernah membiarkan kesusahan dan keresahan yang kita hadapi yang telah kita doakan membuat kita tetap terpenjara dalam situasi tersebut. Memang benar, masalah-masalah yang membuat kita resah masih belum terselesaikan. Walaupun begitu, jika kita memang sungguh mengakhiri doa dalam kepercayaan, kita mesti membiarkan diri kita untuk terbebas dari keresahan yang menghantui. Biarkan kepercayaan kita kepada Allah membebaskan kita dari kegalauan. Dan biarkan pula, Allah yang mengambil keputusan tentang bagaimana selanjutnya. Inilah makna memanjatkan doa kepada Allah di dalam kepercayaan.
Amin!





