Persembahan Hidup sebagai Bentuk Ibadah yang Sejati

October 27, 2009 by: 0

Naskah Sermon Khotbah Roma 12:1-3 Minggu XXI Setelah Trinitatis, 1 November 2009

Pendahuluan

  1. Surat Roma merupakan surat yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat Kristen yang berada di Roma, yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi. Surat Roma ini terdiri tiga bagian besar, yaitu pasal 1-11 yang berisi uraian tentang pembenaran oleh iman; dan pasal 12-15 berisi nasihat-nasihat Paulus dan pasal 16 merupakan penutup surat yang berisi ucapan salam dan nyanyian pujian. Dalam bagian kedua ini Paulus ingin menerangkan tentang kehidupan Kristen yang bukan hanya soal ‘asas’ (aturan) seperti yang diterangkan di pasal 3-8, tetapi kehidupan Kristen juga harus di tempuh di tengah pergaulan masyarakat, yang harus dinyatakan dalam perkataan dan perbuatan, dalam pergaulan dengan kawan dan lawan. Oleh karena itu, orang Kristen perlu diajak dan diajar, agar mereka tidak mengendur dan agar mereka melihat jalan yang harus ditempuh dalam keadaan tertentu. Ajakan dan ajaran itulah yang dikemukakan Paulus dalam pasal 12-15 seperti ditegaskan dalam 12:1 sampai 15:13.
  2. Keterangan Nats

  3. Kata ‘karena’ dalam ayat 1 menghubungkan pasal ini dengan pasal-pasal sebelumnya. Ajakan, ajaran dan nasihat Paulus ini disampaikannya atas nama Tuhan, hal itu menyatakan pemeliharaan Tuhan atas manusia. Dia hendak mendirikan kita kembali bila kita jatuh ke dalam dosa dan hendak membimbing kita bila kita dikelilingi godaan, sehingga nasihat tersebut menjadi penghiburan bagi kita. Dengan kata lain, dengan menyelamatkan orang berdosa, Tuhan meneguhkan kembali hak-Nya atas ciptaanNya.
  4. Dalam ayat 1 dikatakan bahwa yang harus dipersembahkan oleh orang Kristen adalah tubuhnya. Tubuh dalam pasal 6:12 adalah kehadiran kita di tengah dunia ini; pikiran, perkataan dan perbuatan kita yang semuanya memang terjadi dan terungkap lewat beberapa bagian tubuh kita. Oleh karena itu, yang hendak dikatakan Paulus di sini adalah bahwa seluruh pikiran, perkataan, perbuatan dan seluruh kemampuan dan kegiatan kita, harus dipersembahkan kepada Tuhan dalam arti penyerahan total. Bukan pemberian kita yang Allah kehendaki, tetapi Dia menghendaki kita sendiri. Jadi ‘persembahan yang hidup’ adalah penyerahan diri kita menjadi milik Tuhan untuk menempuh kehidupan baru, yang menjauhi dosa dan menentang kuasa dosa itu.
    Ibadah dalam arti khusus (ibadah dalam bait Allah) tidak dapat dilepaskan dari ‘ibadah’ dalam arti umum (ketaatan dalam seluruh kehidupan). Jika dalam PL, ibadah dalam bait Allah merupakan titik pusat ibadah, maka dalam PB, ketaatan dan pengabdian merupakan ‘persembahan hidup yang kudus’ yang dipersembahakan oleh orang percaya. Itulah ibadah yang sejati. ‘Persembahan tubuh’ dan ‘ibadah’ dalam ayat 1 ini memiliki sisi positif dan negatif. Sisi negatifnya ialah orang Kristen tidak boleh lagi membiarkan pola hidup mereka ditentukan oleh dunia ini. Itulah yang dimaksudkan dalam kalimat janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini. Sedangkan dari sisi positifnya, anjuran Paulus berbunyi: berubahlah oleh pembaharuan budimu. Kalimat ini juga dapat diterjemahkan dengan: ‘biarlah rupamu diubah terus’. ‘Rupa’ dalam hal ini bukan hanya segi lahiriah manusia saja, tetapi memiliki pengertian: wujud, yang menunjukkan hakikat (bnd. Filipi 3:21). Oleh karena itu, perubahan yang diharapkan dari orang percaya bukan hanya perkara lahiriah saja, tetapi perubahan hati, yang terwujud dalam seluruh kehidupan. Perubahan itu berlangsung oleh pembaharuan budimu. ‘Budi ‘ adalah pusat kemauan kita, yang mengambil keputusan-keputusan yang menentukan tindakan kita (bnd. Amsal 4:23). Pusat itu perlu dibaharui dengan tujuan sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah. Dengan memberi diri dikuasai oleh Allah, maka kita juga telah memberi diri untuk mendengar suara Allah dalam kehidupan kita. Satu hal yang perlu dicatat dalam nats ini adalah bahwa anjuran ini diarahkan Paulus kepada setiap anggota jemaat di Roma (bnd.ayat 3). Artinya, setiap orang percaya dipanggil dan diperbolehkan untuk mempertimbangkan sendiri manakah yang menjadi kehendak Allah.
  5. Orang-orang Kristen bukanlah individu-individu yang hidup sendiri-sendiri, melainkan mereka merupakan satu tubuh (bnd.ayat 4). Maka, dalam mencari kehendak Allah pun mereka akan berkumpul dan saling meminta nasihat. Itulah juga antara lain fungsi dan makna rapat huria, rapat resort, sinode, dll. Dalam menafsirkan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, perlu diingat bahwa pada waktu itu dalam jemaat Roma memiliki kecenderungan mengutamakan kebebasan orang percaya sedemikian rupa, sehingga mereka tidak mau lagi terikat pada aturan-aturan kelakuan mereka. Oleh karena itu perlu dipentingkan bahwa melakukan kehendak Allah adalah melakukan ‘yang baik’, yaitu perbuatan yang sederhana dan sangat konkret: menolong orang yang membutuhkan, mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dll. (bnd. Ay.9; Gal 6:10 dan 1 Tes 5:15). Perkataan ‘sempurna’ menentukan arti ‘yang baik’ dan ‘yang berkenan’. Yang baik dan yang berkenan bukanlah sesuatu yang dapat kita jangkau, yang dapat kita anggap telah terlaksana (bnd.Markus 10:20). Sebaliknya, kesempurnaannya merupakan tujuan yang selalu harus kita kejar.
  6. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, maksudnya adalah mengutamakan kerendahan hati, yaitu sikap tidak memandang diri sendiri lebih tinggi dari orang lain, sehingga muncul suatu kesederhanaan, kebijaksanaan dalam arti kesopanan terhadap sesama, terutama sesama orang Kristen. Orang Kristen tidak boleh mengukur atau menilai pikiran dan dirinya sendiri agar tidak timbul rasa cemburu, minder, angkuh, dll. Sebaliknya, iman-lah yang harus menjadi tolok ukur, sehingga tiap-tiap orang akan memahami bahwa ia orang berdosa yang layak menerima hukuman Allah dan bahwa ia diselamatkan dari hukuman itu hanya oleh rahmat Allah dalam Yesus Kristus. Kesadaran itu akan menimbulkan kerendahan hati, yang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri (Fil 2:3) dan jemaat akan menjadi ‘sehati-sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan’ (Fil 2:2).
  7. Refleksi/Bahan Renungan

  8. Kesadaran bahwa kita adalah manusia berdosa dan hina yang diangkat dan dilayakkan Allah untuk berjalan sesuai dengan kehendakNya.
  9. Penyerahan total seluruh hidup kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup dan benar di hadapan Tuhan, itulah ibadah yang sejati. Hidup di dalam Tuhan adalah tanda bahwa seseorang itu bekerja dan beribadah kepada Tuhan.
  10. Pembaharuan budi menghasilkan kerendahan hati, hidup dalam takut akan Tuhan sehingga mampu mendengar suara Tuhan dan dapat membedakan manakah kehendak Allah (yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna). Oleh karena itu kita perlu menguji diri: serupakah kita dengan dunia ini? Sudahkah atau maukah kita berubah oleh pembaharuan budi kita? Ataukah ‘budi’ kita telah dikuasai si jahat?
Share this Story
Categories
Tags
Team Pargodungan.org

Team Pargodungan.org | Pargodungan (bhs Batak) berarti Kompleks Gereja. Situs yang ditenagai oleh banyak sukarelawan ini (termasuk Anda) ditujukan untuk mendukung/mendampingi pembacanya untuk bertumbuh, bersaksi dan melayani di gereja atau di dalam kehidupan sehari-hari. Situs ini ditujukan untuk menjadi “situs informasi referensi pelayanan dan kehidupan Kristen”. Kalau Anda berminat bergabung dan menyumbangkan artikel yang membangun, silahkan lewat halaman KONTAK di pojok kanan atas. :)

Add a Comment on "Persembahan Hidup sebagai Bentuk Ibadah yang Sejati"

Follow us

Christian Quotes

“True theology is an actual determination and claiming of man by the acting God.”  - Karl Barth

Humor Kristen

Dua orang pendeta mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Mereka akhirnya diminta untuk berhenti oleh seorang polisi karena telah melaju melebihi kecepatan maksimum yang sudah ditetapkan. "Apa yang Anda lakukan? Anda mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi." Salah satu Pendeta berkata, "Kami mengendarai sepeda motor ini hanya sekadar putar-putar ... lihatlah motor ini memang sangat bagus dan kencang larinya." Si Polisi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bagaimanapun juga, saya harus menilang Anda. Mengemudi seperti itu sangat membahayakan jiwa Anda. Bagaimana kalau Anda mengalami kecelakaan?" Pendeta itu berkata lagi, "Jangan khawatir, Tuhan Yesus beserta kami." Si Polisi berkata, "Wah, kalau begitu saya harus benar-benar menilang Anda. Karena tiga orang dilarang berada dalam satu motor sekaligus." | Klik LIKE jika Anda suka!