Sedikit Catatan tentang Pargodungan

20 April 2010634 pembaca |

Pargodungan (bahasa Batak) berasal dari kata dasar godung yang berarti “lubang”. Kata ini secara harfiah berarti “lubang” yang dapat digunakan sebagai jebakan untuk menjerat binatang-binatang liar yang ada di hutan. Dan demikian, dengan prefiks dan sufik par-an (pargodungan) artinya menjadi wilayah sekitar lubang jebakan. Namun pada perkembangan berikutnya – dan sampai sekarang – maknanya justru menjadi jauh berbeda. Kata pargodungan dewasa ini dimengerti sebagai sebuah kompleks gereja, dimana ada gedung gereja dan beberapa bangunan/rumah yang ada disekitarnya.

Pendirian Koloni Kristen Batak Mula-mula (Huta Dame)

Dalam sejarah penginjilan di tanah Batak, ditemukan bahwa pergeseran makna istilah pargodungan ini paling tidak sudah dimulai sejak masa penginjilan (Missi Zending) yang dilakukan oleh Misionaris I.L. Nommensen terhadap orang-orang Batak Toba.

Pada masa awal pelayanannya di tanah Batak, pada tahun 1864 Nommensen membangun sebuah rumah bagi dirinya sendiri yang dimaksudkan sebagai pangkalan missi (zending). Akan tetapi tepat setelah Nommensen membaptiskan orang-orang Batak yang telah bertobat pada tanggal 27 Agustus 1865, dirasa perlu untuk mendirikan sebuah perkampungan orang Kristen. Hal ini dikarenakan orang-orang yang telah bertobat ini rupanya dikucilkan dari masyarakat Batak yang waktu itu masih menyembah dewa-dewa nenek moyang mereka. Alhasil, Nommensen mengobah pangkalan missi (zending) yang telah disebutkan sebelumnya menjadi sebuah kampung kecil, sekaligus dilengkapi dengan parit-parit kecil dan tembok tanah serta gerbang pintu masuk, seperti cara yang umum ketika itu dalam mendirikan sebuah perkampungan orang Batak. Di dalam perkampungan ini ada pula sebuah gedung gereja yang sederhana, gedung sekolah dan beberapa rumah lain.

Perkampungan baru itu dinamakan dengan Huta Dame (Kampung Perdamaian) yang sekarang ini berada dalam wilayah Saitnihuta, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut anaknya (J.T. Nommensen), penamaan sebagai Huta Dame oleh Nommensen ditujukan untuk mengingat pemeliharaan dan penyertaan Allah dan sekaligus sebagai harapan bahwa Tuhan akan membawa damai sejahteraNya ke tanah Batak. Dengan berdirinya Huta Dame, secara otomatis Nommensen menjadi “kepala kampung” yang dalam adat Batak adalah raja dan bertanggungjawab atas tingkah-laku penduduk kampungnya. Pada perkembangannya, ada sekitar 33 orang yang tinggal di koloni yang baru itu. Mereka layaknya sebuah “keluarga raksasa”, karena selalu mengadakan acara makan bersama-sama. Huta Dame inilah yang kemudian hari sering disebut sebagai pargodungan, sebuah daerah percontohan untuk komunitas Kristen.

Visi Pelayanan Nommensen

Paul B. Pedersen mengatakan bahwa sebenarnya penekanan penting yang dilakukan Nommensen dalam pelayanannya di tanah Batak adalah masalah-masalah sosial. Dalam pikiran Nommensen, hal-hal yang rohaniah dan hal-hal yang sosial memiliki hubungan erat yang tidak terpisahkan satu sama lain. Menurutnya, apabila berita rohaniah telah diterima, penduduk akan menjadi lebih sadar akan kesengsaraan sosial yang di dalamnya mereka hidup. Oleh sebab itu, di Huta Dame tadi ia juga mendirikan suatu pusat pengobatan dan juga merencanakan untuk mendirikan koloni-koloni zending di daerah tersebut, yang dapat berkecimpung dalam perusahaan-perusahaan dagang secara besar-besaran, dengan harapan agar dapat memperkenalkan teknik-teknik pertanian modern di dalamnya. Selain itu ia sering membayar tebusan untuk budak-budak yang akan dibunuh, meminjamkan uang dengan bunga rendah, menyembuhkan orang sakit dan terkenal karena kesediaannya menahan penghinaan dan malah menolong mereka yang menghinanya.

Dalam sepucuk surat ke Barmen (Jerman), Nommensen berbicara tentang suatu penglihatan yang ia dapat mengenai hari-depan masyarakat Kristen yang baru ini. Di dalam visi ini pulalah sebenarnya kita melihat fungsi, tujuan, dan motivasi yang mendasar atas berdirinya sebuah pargodungan:

Dalam roh saya melihat tersebar di mana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda, yang berjalan ke gereja-gereja ini: di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat di mana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman rapih yang di dalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas dari orang-orang ini. Selanjutnya, saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru, orang-orang pribumi Sumatera, berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua.

Anda akan mengatakan bahwa saya seorang pemimpi, tetapi saya berkata: tidak! Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ii akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang saya dan mungkin membuat segala macam rencana untuk menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah laut dari pantainya, demikianlah mereka dapat mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemuliaanNya akan bersinar atas seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba.

Sedikit Catatan tentang Pargodungan  makalah  Pargodungan Matius I.L. Nommensen Agenda HKBP

Perkembangan Pargodungan

Sebenarnya konsep pembangunan pargodungan Huta Dame tadi dan zending berbasis diakonia yang dilakukan Nommensen sudah ada sejak abad ke empat. Pendeta Bonar Lumbantobing menulis bahwa pada jaman itu di dalam kompleks perumahan mereka, para Bishop Gereja Mula-mula sudah mulai mendirikan rumah-rumah sakit, rumah-rumah penampungan para pengungsi, pemeliharaan dan pembelaan bagi para janda, panti-panti asuhan, penampungan bagi mereka yang mengalami gangguan mental, penampungan bagi para peziarah dan orang-orang yang dalam perjalanan, panti jompo pemeliharaan untuk yang berpenyakit kusta. Selain itu mereka juga berusaha untuk menegakkan hak-hak pekerja, penghapusan perbudakan dan dengan sendirinya memperbaiki sistim ekonomik agar lebih memihak pada yang lemah. Pada giliran lain muncullah sekolah-sekolah melalui biara-biara, pengembangan pertanian dan penemuan-penemuan ilmiah oleh para rahib dan pengembangan ilmu hingga berdirinya Universitas.

Bonar Lumbantobing juga mengatakan bahwa:

“Kompleks gereja dibangun sedemikian rupa menjadi satu kesaksian akan suatu hidup yang komprehensip tanpa mengenal yang jasmani mau pun rohani. Sistim itulah yang disebut dengan ‘pargodungan’. Sistim pargodungan telah mencelikkan mata jemaat untuk pola hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam bidang ekonomi, kesehatan pendidikan dan persekutuan. Pada gilirannya sistim ekonomik seluruh masyarakat pun diubah. Hari pekan misalnya yang berlangsung sekali dalam 4 hari, membuat sistim ekonomi pasarnya tidak efisien. Memang ada keluhan para Missionaris bahwa dengan sistim pasar sekali empat hari akan membuat hari pasar pada saat tertentu jatuh pada hari Minggu. Namun bukan hanya alasan ini saja, tetapi untuk pengembangan ekonomi masyarakat, maka Missionaris menentukan agar hari pekan berlangsung sekali dalam satu Minggu saja.”

Demikianlah sekolah-sekolah berdiri, baik sekolah umum mau pun sekolah kejuruan untuk kaum perempuan mau pun laki-laki. Rumah sakit, penampungan yang berpenyakit kusta, orang buta, panti asuhan, pemeliharaan anak-anak yang ditinggal mati ibunya berjalan secara serentak. Selain itu penegakan hukum dijalankan sehingga berakhirlah permusuhan antar desa dan marga, berakhirlah penyiksaan karena terlilit hutang, terhapuslah perbudakan.

Dalam hidup berjemaat terdapat wujud yang luar biasa. Pada tahun 1899 berdirilah Yayasan Pekabaran Injil milik pribumi yang pertama dengan dana sendiri. Tanpa henti-hentinya mengalirlah persembahan-persambahan dari desa-desa melalui pesta-pesta Zending. Keuangan Yayasan ini pada saat tertentu malah melampaui keuangan Zending Barmen, hingga pada akhirnya Yayasan itu dilebur menjadi satu dengan Gereja HKBP. Terlihatlah di tengah-tengah kondisi ekonomik masyarakat pada saat itu, mereka mampu melalui persembahan itu untuk penginjilan.

Dalam tata gereja HKBP tahun 1881 (Huria Kristen Batak Protestan) – gereja Batak yang merupakan buah dari penginjilan RMG yang mengutus Nommensen ke tanah Batak – dan tetap bertahan sampai sekarang dalam Agenda HKBP pada mulanya masih mencantumkan hal-hal yang dapat mendukung berdirinya konsep pembangunan pargodungan. Dan seiring dengan perkembangan jaman dan didukung oleh faktor-faktor yang berakibat seperti efek domino, konsep pelayanan gereja dalam wujud pargodungan sudah hampir dilupakan. Tata gereja HKBP yang disahkan pada tahun 2002 nyaris tidak lagi mengatur perihal konsep pargodungan secara mendetail. Dan pada pengamatan empiris, kelihatan sekali bahwa gereja sekarang ini mengalami “kemiskinan akut”, sehingga ia secara terpaksa (mungkin!) lebih memilih untuk membangun gedung-gedung serba guna untuk dapat disewakan kepada penyelenggara pesta pernikahan, misalnya. Cara lain untuk itu misalnya dengan menaruh deposit ke Bank dan menggunakan bunganya untuk kepentingan gereja. Ia tidak dapat lagi mengandalkan persembahan jemaat sebagai sumber dana pelayanan sehingga harus mencari sumber-sumber lain yang dapat secara otomatis menambah kas gereja.

Penutup

Jika kita mengingat firman Yesus Kristus dalam Matius 5:13-14 perihal “garam dan terang dunia”, kita pun mengingat bahwa pargodungan memiliki fungsi yang demikian. Sebagai garam dan terang, ia adalah pelengkap kehidupan manusia. Sebagai pelengkap ia berperan untuk membantu mengatasi seluruh masalah yang dihadapi oleh manusia baik secara jasmani maupun rohani (meskipun kita tidak harus membedakannya). Pargodungan yang awalnya merupakan lubang penjerat binatang-binatang liar memang akhirnya “menjerat” orang-orang Batak untuk masuk ke dalam pelayanan Kristen. Bukan hanya sebuah lubang, malah menjadi benteng yang kokoh, dimana semua orang dapat melihat dan merasakan kekuatannya serta rela “bersintesis” ikut mengambil bagian di dalamnya. Di dalam pargodungan ini pula termaktub hampir seluruh esensi yang diharapkan dari sebuah kekristenan. Ia adalah wujud dari integrasi ketiga tugas panggilan gereja (Koinonia, Marturia, dan Diakonia), yang dicita-citakan, diharapkan, dan diusahakan oleh seluruh gereja di dunia ini. Karenanya, sebuah pertanyaan muncul dari uraian ini: Jika kita melihat kondisi gereja dewasa ini, bagaimana cara kita mengembalikan peranan gereja seperti sebagaimana mestinya? Kiranya Tuhan menyertai kita.

Referensi:
Hutauruk, J.R., Menata Rumah Allah, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan
Lumbantobing, Bonar, “Teologi Persembahan” dalam Buku Panduan Rapat Pendeta 2009, 2009, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan
Nommensen, J.T., Ompoei Toean Ephorus Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen: Parsorionna Dohot Na Niuoelana, Pearaja: Yayasan R.P.L. Tobing
Pedersen, Paul B., Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-gereja Batak di Sumatera Utara, 1975, Jakarta: Gunung Mulia
Warneck, J., Kamus Batak Toba Indonesia, (terj. P. Leo Joosten OFMCap), 2009, Medan: Bina Media Perintis

Anda suka? Yuk bagikan artikel ini ke teman-teman!

Anda membaca "Sedikit Catatan tentang Pargodungan". Jika Anda menyalinnya, harap cantumkan link url berikut:

Tags: Agenda HKBP, I.L. Nommensen, Matius, Pargodungan

Silahkan memberikan tanggapan di sini!