Sisi lain Dunia Pendidikan

Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia semakin marak berkembang. Hal ini di satu sisi sangat dibanggakan, sebab menunjukkan minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Berbagai perguruan tinggi menawarkan ragam keahlian khusus melalui fakultas dan jurusan yang ditawarkan. Setiap calon mahasiswa diyakinkan bahwa dengan mengikuti pendidikan pada universitas atau sekolah tinggi tertentu akan memiliki legalitas yang terpercaya untuk duduk dalam satu posisi di suatu lembaga nantinya. Sementara di sisi lain tercipta suatu pemahaman bahwa seseorang akan memiliki masa depan yang jelas dalam hal pekerjaan/profesi hanya dengan memasuki sebuah lembaga pendidikan yang telah disebutkan di atas. Kenyataan ini menimbulkan semacam arus yang sangat kuat dari lulusan SMU atau sederajat untuk dengan segera memasuki lembaga pendidikan universitas atau sekolah tinggi. Tentunya lembaga pendidikan milik negara menjadi prioritas utama. Hal ini menimbulkan simbiosis mutualisme di antara calon mahasiswa dengan lembaga pendidikan yang memberikan label studi persiapan atau semacam bimbingan belajar. Berbagai jenis bimbingan belajar didirikan dengan menawarkan kemampuannya dalam membimbing seseorang agar diterima pada universitas negeri. Walaupun demikian tidak sedikit yang memberikan kepercayaan kepada universitas swasta. Bahkan tercipta semacam kesan hebat jika seseorang mampu memasuki sebuah universitas swasta yang memiliki nama dari sudut biaya pendidikan dan fasilitas yang dimiliki.

Berbagai fakultas atau jurusan pendidikan memberikan ragam gelar kepada setiap lulusannya. Hal menjadikan banyaknya jenis gelar akademis dalam masyarakat. Setiap lulusan dengan gelar akademis tertentu secara otomatis mendapat legalitas untuk menduduki suatu jabatan dalam masyarakat walaupun tetap melalui proses seleksi tertentu. Katakanlah untuk menjadi seorang guru, seseorang harus terlebih dahulu mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri. Di sisi lain, tercipta kesan yang menunjukkan ‘hebat yang berlebihan’ kepada seseorang memiliki gelar akademis. Hal itu akan lebih dahsyat lagi jika gelar akademis yang dimiliki beragam atau hingga strata tertinggi (S3). Masyarakat seakan tidak mampu atau setidak-tidaknya memiliki antusias yang minim kepada seseorang dengan gelar akademis yang ‘rendah’ atau bahkan tidak memiliki gelar akademis untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Apakah hal itu berhubungan erat dengan kualitas atau hanya sebatas legalitas belaka? Pertanyaan ini tidak dengan segera kita jawab. Berbagai aspek perlu dicermati yang pada akhirnya secara tersirat akan menjawab pertanyaan tersebut.

Sebuah fenomena yang cukup mengancam dunia pendidikan akademis adalah praktik upaya melegalkan segala cara untuk dengan segera menyelesaikan program studi. Praktik yang dimaksud adalah kecurangan dalam pelaksanaan test/ujian tengah/akhir semester atau pun dalam penyelesaian tulisan ilmiah (misalnya skripsi). Apakah hal ini terbantahkan kalangan akademis? Saya tidak begitu yakin. Sebuah peristiwa yang cukup menggelikan sekaligus menyedihkan terjadi ketika sebuah test/ujian diadakan. Berbagai cara dilakukan agar dapat menyontek. Sebuah cara yang sangat sering dilakukan dan meninggalkan bukti yang jelas adalah dengan menulis berbagai prediksi jawaban di dinding ruang ujian atau pun bangku ujian. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya ruang kuliah atau pun bangku ujian itu setelah sekian lama menjadi sarana menyontek. Namun demikian tidak sedikit yang menggunakan potongan-potongan kertas yang telah ditulis dengan berbagai prediksi jawaban. Apa yang terjadi sewaktu ujian? Pengawas ujian mengawasi perserta ujian agar tidak ada seorang pun yang melakukan kecurangan. Namun hal lain juga terjadi, yakni peserta ujian mengawasi pengawas ujian agar mendapat kesempatan melihat jawaban yang telah dituliskan dalam potongan-potongan kertas, di dinding atau pun di bangku. Namun ada satu lagi fasilitas yang kini juga sering digunakan yakni telepon selular. Terhadap penyelesaian tulisan ilmiah dapat disebutkan demikian, bahwa mahasiswa memberikan tanggung jawab penyelesaian tulisan itu kepada orang lain dengan perjanjian bahwa mahasiswa yang bersangkutan memberikan imbalan atas tulisan ilmiah yang diselesaikan. Jasa penulisan tulisan ilmiah sedemikian rupa sangat sering terjadi.

Apakah hal-hal yang disebutkan di atas disadari oleh kaum akademis, dalam hal ini para pendidik (dosen)? Tentu ada yang menyadarinya. Tidak sedikit dosen yang tidak memberikan tugas khusus pengganti ujian atau pun ujian dengan mengizinkan membawa buku bacaan atau sejenisnya ketika ujian kepada mahasiswa untuk menghindari kecurangan. Namun apakah hal itu merupakan penyelesaian masalah yang tepat? Dapatkah kita berkata bahwa hal yang saya utarakan di sini bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan dan dicari solusinya? Saya berpikir bahwa perlu sebuah studi khusus mengenai aspek-aspek yang melatarbelakangi timbulnya niat di kalangan mahasiswa untuk melakukan model-model kecurangan seperti itu. Lebih dari itu, efek yang ditimbulkan dalam pembentukkan karakter manusia di masa depan.

Asumsi saya menyebutkan bahwa praktik kecurangan yang terjadi di perguruan tinggi berdampak besar bagi proses perjalanan bangsa ini di masa depan. Dapatkah kita katakan seseorang memiliki minat yang kuat kepada buku-buku bacaan ketika niat belajar minim dan hanya mengandalkan contekan pada setiap ujian? Bukankah hal itu secara tidak langsung menghasilan manusia dengan gelar akademis yang hebat namun tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Sikap yang ingin mudah/gampang dalam meraih sesuatu serta melegalkan segala cara di perguruan tinggi akan terbawa ketika memasuki sebuah wilayah baru, sebut saja perusahaan atau pemerintahan. Ada sebuah ancaman yang serius. Akan terjadi sebuah keinginan yang menggila. Keinginan yang menggila untuk meraih sesuatu secara cepat di kampus akan terbawa ketika seseorang itu telah menduduki suatu jabatan tertentu. Dalam hal kekayaan tentu saja keinginan yang seperti itu akan memberi peluang pada praktik korupsi, sebagaimana yang tengah marak di republik ini.

Perguruan tinggi sebagai puncak terakhir untuk menghasilkan manusia produktif di masa depan, dengan tidak mengesampingkan pendidikan dasar (SD, SLTP, SMU) memiliki tanggung jawab yang besar dalam hal-hal menciptakan manusia yang berintegritas. Dapat disebutkan bahwa setidak-tidaknya perguruan tinggi memiliki andil yang besar dalam usaha memajukan bangsa ini dengan menghasilkan generasi muda yang tanggung. Hal itu tentu tidak akan terwujud ketika proses belajar mengajar terjadi dalam suasana yang semerawut sebagaimana telah disebutkan di atas.

Bagaimana pendapat anda?


Paskah