<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Matius</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/tag/matius/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Situs referensi pelayanan dan kehidupan Kristen.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 15:49:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu Reminiscere: Jangan cobai Tuhan, Allah-mu &#8211; Matius 12:38-42</title>
		<link>http://pargodungan.org/jangan-cobai-tuhan-allah-mu/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/jangan-cobai-tuhan-allah-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 04:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leonardo Sinambela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[orang Farisi]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>
		<category><![CDATA[Yunus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat cerita tentang Iblis yang mencobai Tuhan Yesus tak kala Ia berada di padang gurun untuk berpuasa? Setelah Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis, Ia dibawa oleh Roh kepada gurun. Di sana Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Selama masa itu, Tuhan Yesus mengalami pencobaan oleh Iblis. Cerita tersebut dapat membantu kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat cerita tentang Iblis yang mencobai Tuhan Yesus tak kala Ia berada di padang gurun untuk berpuasa? Setelah Tuhan Yesus  dibaptis oleh Yohanes pembaptis, Ia dibawa oleh Roh kepada gurun. Di sana Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Selama masa itu, Tuhan Yesus mengalami pencobaan oleh Iblis. </p>
<p>Cerita tersebut dapat membantu kita untuk memahami nas ini. </p>
<p>Pada nas ini, Tuhan Yesus juga sedang mengalami pencobaan oleh orang-orang Farisi. Mereka meminta tanda dari Tuhan Yesus. Tanda apa? Mereka ingin tahu kuasa apa yang ada pada Tuhan Yesus, sebab mereka tahu bahwa Ia dapat melakukan berbagai mujizat, bijaksana dalam perkataan dan memiliki banyak pengikut. Intinya orang-orang Farisi sedang menyelidiki keilahian Tuhan Yesus. </p>
<p>Tetapi, Tuhan Yesus bukanlah seorang tukang sulap atau pemain sirkus. Ia tidak sedang bermain-main dengan misi yang dibawanya sehingga Ia terperangkap dalam ‘permainan’ orang-orang Farisi dengan menunjukkan apa yang Dia dapat lakukan. Tuhan Yesus tahu benar isi Kitab Perjanjian Lama. Nah, dengan bijaksana Tuhan Yesus berbicara tentang ‘Tanda Yunus’. </p>
<p>Apa yang hendak Tuhan Yesus ingin sampaikan melalui cerita Yunus? </p>
<p>Tuhan Yesus sedang memproklamasikan misi yang dia bawa. Tuhan Yesus telah mengetahui saat-saat kematian-Nya sudah dekat. Tuhan Yesus sedang membicarakan rahasia besar yang sedang dia pikul. Keselamatan untuk dunia, damai di bumi di antara orang-orang yang berkenan kepadaNya. </p>
<p>Mengapa Tuhan Yesus tidak memberi tanda, tetapi justru membicarakan rahasia terbesar itu? Bukankah itu berlebihan? Tidak. Tuhan Yesus tahu bahwa orang-orang Farisi itu tidak sedang membutuhkan tanda daripadaNya, namun hanya untuk mencobai Dia. </p>
<p>Dalam beberapa kesempatan Tuhan Yesus berada di antara orang-orang Farisi dan orang-orang Farisi telah banyak mendengar apa yang Tuhan Yesus lakukan dan ajarkan. Namun mereka tetap tidak percaya. Oleh sebab itu Tuhan Yesus berkata tentang rahasia terbesar itu. Sebab itu juga tidak akan mengubah pendirian mereka. Bahkan Tuhan Yesus memperbandingkan kebebalan orang-orang Farisi dengan pertobatan bangsa Niniwe. Pada mulanya bangsa Niniwe adalah bangsa yang tidak percaya kepada Tuhan dan melanggar segala perintah serta ketetapan Tuhan. Namun setelah berita pertobatan disampaikan oleh Nabi Yunus, mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Tidak demikian dengan orang-orang Farisi. Walaupun mereka telah mendengar berita sukacita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, mereka tetap mengeraskan hati. Oleh sebab itu Tuhan Yesus berkata bahwa bangsa Niniwe serta ratunya akan turut serta menghukum angkatan yang jahat dan tidak setia. </p>
<p>Minggu reminiscere berarti ‘Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan’. Ini adalah sebuah ungkapan permohonan. Sebuah ungkapan doa dengan kesungguhan hati untuk memohon rahmat dan kasih setia Tuhan. Doa tersebut harus selalu teriang dan menjadi perenungan sepanjang waktu. </p>
<p>Sekarang, jika doa itu menjadi bagian dari hidup kita, pantaskah kita memohon tanda dari Tuhan? Bukankah Dia telah selalu dan akan terus menerus beserta kita, memberkati dan menyelamatkan kita? Lalu tanda apa lagi yang kita butuhkan? Melalui doa yang demikian, iman kita akan semakin dewasa. </p>
<p>Pada masa kini, tanda bukanlah sesuatu yang menjadikan bahwa kita adalah sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan. Banyak orang memperalat penyembuhan-penyembuhan sebagai media untuk menekankan orang-orang pada mujizat, bahwa itu dilakukan Tuhan Yesus. Namun jika diselidiki, benarkah demikian? Bukankah kita harusnya memohon kasih karunia dan pengampunan dosa? Apa sehat jasmani dan harta melimpah telah menjamin kehidupan di masa depan (dalam arti kehidupan setelah kematian)? Namun, yang dimaksudkan bukan berati kesehatan dan kesejahteraan tidak perlu. Itu justru sangat perlu. Namun bukan yang terutama. Amin.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-palmarum-pegangan-anda-untuk-melayani-tuhan-matius-266-13/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Palmarum: Pegangan Anda untuk Melayani Tuhan &#8211; Matius 26:6-13'>Khotbah Minggu Palmarum: Pegangan Anda untuk Melayani Tuhan &#8211; Matius 26:6-13</a> <small>&#8220;Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-kantate-mengembalikan-fungsi-anda-sebagaimana-mestinya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Kantate: Mengembalikan Fungsi Anda Sebagaimana Mestinya &#8211; Matius 21:14-22'>Khotbah Minggu Kantate: Mengembalikan Fungsi Anda Sebagaimana Mestinya &#8211; Matius 21:14-22</a> <small>Pada hari minggu sore yang lalu saya bersama rombongan dari...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-perayaan-kebangkitan-tuhan-yesus-paskah-i-selamat-merayakan-yohanes-201-10/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah I): Selamat Merayakan!  &#8211; Yohanes 20:1-10'>Khotbah Minggu Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah I): Selamat Merayakan!  &#8211; Yohanes 20:1-10</a> <small>Anda tentu pernah menonton berita atau infotainment di televisi. Pernahkah...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu II Setelah Epiphanias &#8211; Orang Percaya Bersatu, Mungkinkah? Yohannes 17:20-23'>Khotbah Minggu II Setelah Epiphanias &#8211; Orang Percaya Bersatu, Mungkinkah? Yohannes 17:20-23</a> <small>Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-quasimodogeniti-yohanes-211-14/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Quasimodogeniti: Dia tetap Sama &#8211; Yohanes 21:1-14'>Khotbah Minggu Quasimodogeniti: Dia tetap Sama &#8211; Yohanes 21:1-14</a> <small>Yesus telah bangkit, namun malam itu murid-murid tidak bersama dengan...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/jangan-cobai-tuhan-allah-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Catatan tentang Pargodungan</title>
		<link>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gereja HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[I.L. Nommensen]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Pargodungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Pargodungan (bahasa Batak) berasal dari kata dasar godung yang berarti &#8220;lubang&#8221;. Kata ini secara harfiah berarti &#8220;lubang&#8221; yang dapat digunakan sebagai jebakan untuk menjerat binatang-binatang liar yang ada di hutan. Dan demikian, dengan prefiks dan sufik par-an (pargodungan) artinya menjadi wilayah sekitar lubang jebakan. Namun pada perkembangan berikutnya &#8211; dan sampai sekarang &#8211; maknanya justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pargodungan (bahasa Batak) berasal dari kata dasar <em>godung</em> yang berarti &#8220;lubang&#8221;. Kata ini secara harfiah berarti &#8220;lubang&#8221; yang dapat digunakan sebagai jebakan untuk menjerat binatang-binatang liar yang ada di hutan. Dan demikian, dengan prefiks dan sufik <em>par</em>-<em>an</em> (<em>pargodungan</em>) artinya menjadi wilayah sekitar lubang jebakan. Namun pada perkembangan berikutnya &#8211; dan sampai sekarang &#8211; maknanya justru menjadi jauh berbeda. Kata <em>pargodungan</em> dewasa ini dimengerti sebagai sebuah kompleks gereja, dimana ada gedung gereja dan beberapa bangunan/rumah yang ada disekitarnya.</p>
<h3>Pendirian Koloni Kristen Batak Mula-mula (Huta Dame)</h3>
<p>Dalam sejarah penginjilan di tanah Batak, ditemukan bahwa pergeseran makna istilah <em>pargodungan</em> ini paling tidak sudah dimulai sejak masa penginjilan (Missi Zending) yang dilakukan oleh Misionaris I.L. Nommensen terhadap orang-orang Batak Toba.</p>
<p>Pada masa awal pelayanannya di tanah Batak, pada tahun 1864 Nommensen membangun sebuah rumah bagi dirinya sendiri yang dimaksudkan sebagai pangkalan missi (zending). Akan tetapi tepat setelah Nommensen membaptiskan orang-orang Batak yang telah bertobat pada tanggal 27 Agustus 1865, dirasa perlu untuk mendirikan sebuah perkampungan orang Kristen. Hal ini dikarenakan orang-orang yang telah bertobat ini rupanya dikucilkan dari masyarakat Batak yang waktu itu masih menyembah dewa-dewa nenek moyang mereka. Alhasil, Nommensen mengobah pangkalan missi (zending) yang telah disebutkan sebelumnya menjadi sebuah kampung kecil, sekaligus dilengkapi dengan parit-parit kecil dan tembok tanah serta gerbang pintu masuk, seperti cara yang umum ketika itu dalam mendirikan sebuah perkampungan orang Batak. Di dalam perkampungan ini ada pula sebuah gedung gereja yang sederhana, gedung sekolah dan beberapa rumah lain.</p>
<p>Perkampungan baru itu dinamakan dengan Huta Dame (Kampung Perdamaian) yang sekarang ini berada dalam wilayah Saitnihuta, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut anaknya (J.T. Nommensen), penamaan sebagai Huta Dame oleh Nommensen ditujukan untuk mengingat pemeliharaan dan penyertaan Allah dan sekaligus sebagai harapan bahwa Tuhan akan membawa damai sejahteraNya ke tanah Batak. Dengan berdirinya Huta Dame, secara otomatis Nommensen menjadi &#8220;kepala kampung&#8221; yang dalam adat Batak adalah raja dan bertanggungjawab atas tingkah-laku penduduk kampungnya. Pada perkembangannya, ada sekitar 33 orang yang tinggal di koloni yang baru itu. Mereka layaknya sebuah &#8220;keluarga raksasa&#8221;, karena selalu mengadakan acara makan bersama-sama. Huta Dame inilah yang kemudian hari sering disebut sebagai <em>pargodungan</em>, sebuah daerah percontohan untuk komunitas Kristen.</p>
<h3>Visi Pelayanan Nommensen</h3>
<p>Paul B. Pedersen mengatakan bahwa sebenarnya penekanan penting yang dilakukan Nommensen dalam pelayanannya di tanah Batak adalah masalah-masalah sosial. Dalam pikiran Nommensen, hal-hal yang rohaniah dan hal-hal yang sosial memiliki hubungan erat yang tidak terpisahkan satu sama lain. Menurutnya, apabila berita rohaniah telah diterima, penduduk akan menjadi lebih sadar akan kesengsaraan sosial yang di dalamnya mereka hidup. Oleh sebab itu, di Huta Dame tadi ia juga mendirikan suatu pusat pengobatan dan juga merencanakan untuk mendirikan koloni-koloni zending di daerah tersebut, yang dapat berkecimpung dalam perusahaan-perusahaan dagang secara besar-besaran, dengan harapan agar dapat memperkenalkan teknik-teknik pertanian modern di dalamnya. Selain itu ia sering membayar tebusan untuk budak-budak yang akan dibunuh, meminjamkan uang dengan bunga rendah, menyembuhkan orang sakit dan terkenal karena kesediaannya menahan penghinaan dan malah menolong mereka yang menghinanya.</p>
<p>Dalam sepucuk surat ke Barmen (Jerman), Nommensen berbicara tentang suatu penglihatan yang ia dapat mengenai hari-depan masyarakat Kristen yang baru ini. Di dalam visi ini pulalah sebenarnya kita melihat fungsi, tujuan, dan motivasi yang mendasar atas berdirinya sebuah <em>pargodungan</em>:</p>
<blockquote><p>Dalam roh saya melihat tersebar di mana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda, yang berjalan ke gereja-gereja ini: di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat di mana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman rapih yang di dalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas dari orang-orang ini. Selanjutnya, saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru, orang-orang pribumi Sumatera, berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua.</p>
<p>Anda akan mengatakan bahwa saya seorang pemimpi, tetapi saya berkata: tidak! Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ii akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang saya dan mungkin membuat segala macam rencana untuk menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah laut dari pantainya, demikianlah mereka dapat mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemuliaanNya akan bersinar atas seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba.</p></blockquote>
<h3>Perkembangan Pargodungan</h3>
<p>Sebenarnya konsep pembangunan pargodungan Huta Dame tadi dan zending berbasis diakonia yang dilakukan Nommensen sudah ada sejak abad ke empat. Pendeta Bonar Lumbantobing menulis bahwa pada jaman itu di dalam kompleks perumahan mereka, para Bishop Gereja Mula-mula sudah mulai mendirikan rumah-rumah sakit, rumah-rumah penampungan para pengungsi, pemeliharaan dan pembelaan bagi para janda, panti-panti asuhan, penampungan bagi mereka yang mengalami gangguan mental, penampungan bagi para peziarah dan orang-orang yang dalam perjalanan, panti jompo pemeliharaan untuk yang berpenyakit kusta. Selain itu mereka juga berusaha untuk menegakkan hak-hak pekerja, penghapusan perbudakan dan dengan sendirinya memperbaiki sistim ekonomik agar lebih memihak pada yang lemah. Pada giliran lain muncullah sekolah-sekolah melalui biara-biara, pengembangan pertanian dan penemuan-penemuan ilmiah oleh para rahib dan pengembangan ilmu hingga berdirinya Universitas.</p>
<p>Bonar Lumbantobing juga mengatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kompleks gereja dibangun sedemikian rupa menjadi satu kesaksian akan suatu hidup yang komprehensip tanpa mengenal yang jasmani mau pun rohani. Sistim itulah yang disebut dengan &#8216;pargodungan&#8217;. Sistim pargodungan telah mencelikkan mata jemaat untuk pola hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam bidang ekonomi, kesehatan pendidikan dan persekutuan. Pada gilirannya sistim ekonomik seluruh masyarakat pun diubah. Hari pekan misalnya yang berlangsung sekali dalam 4 hari, membuat sistim ekonomi pasarnya tidak efisien. Memang ada keluhan para Missionaris bahwa dengan sistim pasar sekali empat hari akan membuat hari pasar pada saat tertentu jatuh pada hari Minggu. Namun bukan hanya alasan ini saja, tetapi untuk pengembangan ekonomi masyarakat, maka Missionaris menentukan agar hari pekan berlangsung sekali dalam satu Minggu saja.&#8221;</p>
<p>Demikianlah sekolah-sekolah berdiri, baik sekolah umum mau pun sekolah kejuruan untuk kaum perempuan mau pun laki-laki. Rumah sakit, penampungan yang berpenyakit kusta, orang buta, panti asuhan, pemeliharaan anak-anak yang ditinggal mati ibunya berjalan secara serentak. Selain itu penegakan hukum dijalankan sehingga berakhirlah permusuhan antar desa dan marga, berakhirlah penyiksaan karena terlilit hutang, terhapuslah perbudakan.</p>
<p>Dalam hidup berjemaat terdapat wujud yang luar biasa. Pada tahun 1899 berdirilah Yayasan Pekabaran Injil milik pribumi yang pertama dengan dana sendiri. Tanpa henti-hentinya mengalirlah persembahan-persambahan dari desa-desa melalui pesta-pesta Zending. Keuangan Yayasan ini pada saat tertentu malah melampaui keuangan Zending Barmen, hingga pada akhirnya Yayasan itu dilebur menjadi satu dengan Gereja HKBP. Terlihatlah di tengah-tengah kondisi ekonomik masyarakat pada saat itu, mereka mampu melalui persembahan itu untuk penginjilan.</p></blockquote>
<p>Dalam tata gereja HKBP tahun 1881 (Huria Kristen Batak Protestan) &#8211; gereja Batak yang merupakan buah dari penginjilan RMG yang mengutus Nommensen ke tanah Batak &#8211; dan tetap bertahan sampai sekarang dalam Agenda HKBP pada mulanya masih mencantumkan hal-hal yang dapat mendukung berdirinya konsep pembangunan <em>pargodungan</em>. Dan seiring dengan perkembangan jaman dan didukung oleh faktor-faktor yang berakibat seperti efek domino, konsep pelayanan gereja dalam wujud <em>pargodungan</em> sudah hampir dilupakan. Tata gereja HKBP yang disahkan pada tahun 2002 nyaris tidak lagi mengatur perihal konsep pargodungan secara mendetail. Dan pada pengamatan empiris, kelihatan sekali bahwa gereja sekarang ini mengalami &#8220;kemiskinan akut&#8221;, sehingga ia secara terpaksa (mungkin!) lebih memilih untuk membangun gedung-gedung serba guna untuk dapat disewakan kepada penyelenggara pesta pernikahan, misalnya. Cara lain untuk itu misalnya dengan menaruh deposit ke Bank dan menggunakan bunganya untuk kepentingan gereja. Ia tidak dapat lagi mengandalkan persembahan jemaat sebagai sumber dana pelayanan sehingga harus mencari sumber-sumber lain yang dapat secara otomatis menambah kas gereja.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika kita mengingat firman Yesus Kristus dalam Matius 5:13-14 perihal &#8220;garam dan terang dunia&#8221;, kita pun mengingat bahwa <em>pargodungan</em> memiliki fungsi yang demikian. Sebagai garam dan terang, ia adalah pelengkap kehidupan manusia. Sebagai pelengkap ia berperan untuk membantu mengatasi seluruh masalah yang dihadapi oleh manusia baik secara jasmani maupun rohani (meskipun kita tidak harus membedakannya). Pargodungan yang awalnya merupakan lubang penjerat binatang-binatang liar memang akhirnya &#8220;menjerat&#8221; orang-orang Batak untuk masuk ke dalam pelayanan Kristen. Bukan hanya sebuah lubang, malah menjadi benteng yang kokoh, dimana semua orang dapat melihat dan merasakan kekuatannya serta rela &#8220;bersintesis&#8221; ikut mengambil bagian di dalamnya. Di dalam <em>pargodungan</em> ini pula termaktub hampir seluruh esensi yang diharapkan dari sebuah kekristenan. Ia adalah wujud dari integrasi ketiga tugas panggilan gereja (Koinonia, Marturia, dan Diakonia), yang dicita-citakan, diharapkan, dan diusahakan oleh seluruh gereja di dunia ini. Karenanya, sebuah pertanyaan muncul dari uraian ini: Jika kita melihat kondisi gereja dewasa ini, bagaimana cara kita mengembalikan peranan gereja seperti sebagaimana mestinya? Kiranya Tuhan menyertai kita.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Hutauruk, J.R., <em>Menata Rumah Allah</em>, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan</p>
<p>Lumbantobing, Bonar, &#8220;Teologi Persembahan&#8221; dalam <em>Buku Panduan Rapat Pendeta 2009</em>, 2009, Pearaja: Huria Kristen Batak Protestan</p>
<p>Nommensen, J.T., <em>Ompoei Toean Ephorus Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen: Parsorionna Dohot Na Niuoelana</em>, Pearaja: Yayasan R.P.L. Tobing</p>
<p>Pedersen, Paul B., <em>Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-gereja Batak di Sumatera Utara</em>, 1975, Jakarta: Gunung Mulia</p>
<p>Warneck, J., <em>Kamus Batak Toba Indonesia</em>, (terj. P. Leo Joosten OFMCap), 2009, Medan: Bina Media Perintis</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/update-status/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Update status facebook anda via pargodungan.org'>Update status facebook anda via pargodungan.org</a> <small>Anda pengguna facebook? Sekarang anda dapat menikmati update status dengan...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/tentang-kami/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tentang Kami'>Tentang Kami</a> <small>Kenapa nama situs ini pargodungan? Apa sih pargodungan itu? Kami...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/sedikit-catatan-tentang-pargodungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Firman Allah dengan Benar</title>
		<link>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsiran Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajarkan Firman Allah]]></category>
		<category><![CDATA[setelah Epiphanias]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Matius 17:24-27 Ada sebuah cerita tentang dua orang tuli, sebut saja namanya si Andi dan si Budi. Di suatu pagi, si Budi hendak pergi di sungai. Ia mengenakan handuk kecil di lehernya (untuk gaya pikirnya). Di perjalanan, ia bertemu dengan si Budi yang juga tuli. Meskipun tidak kenal, dengan ramah Andi menyapanya, &#8220;Wah, mau mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matius 17:24-27</p>
<p>Ada sebuah cerita tentang dua orang tuli, sebut saja namanya si Andi dan si Budi. Di suatu pagi, si Budi hendak pergi di sungai. Ia mengenakan handuk kecil di lehernya (untuk gaya pikirnya). Di perjalanan, ia bertemu dengan si Budi yang juga tuli. Meskipun tidak kenal, dengan ramah Andi menyapanya, &#8220;Wah, mau mandi di sungai ya lae?&#8221;. Karena Budi tuli, ia tidak mendengar sapaan itu dan malah balas menyapa, &#8220;Wah, mau ke sungai ya lae?&#8221;.<br />
Takut dikira tuli, Andi merespon, &#8220;Oh, kirain mau mandi lae&#8221;. Demikian juga dengan Budi, &#8220;Oh, kirain lae mau ke sungai&#8221;.</p>
<p>Begitulah gambaran pembicaraan orang-orang yang merasa sudah menjadi pendengar yang baik. Isi pembicaraan hanya di duga-duga, sehingga responnya juga tak terduga (alias ngawur).</p>
<p>Jangan sampai saat mendengar firman Allah terjadi hal seperti itu. Firman Allah tidak boleh diduga-duga dan meresponnya juga tidak bisa asal-asalan.</p>
<p>Firman Allah itu juga jelas dan tidak boleh dipelintir atau diplesetkan. Oleh karena itu, saat mengajarkan firman Allah misalnya kepada anak-anak, tidak boleh menyertainya dengan tamparan atau mencubit si anak. Firman Allah harus diajarkan sesuai dengan isi firman itu. Jika firman Allah mengatakan &#8220;Kasihilah Tuhan Allahmu&#8221; namun kita memukul si anak karena sedikit kesal, apa jadinya arti pengajaran itu?</p>
<p>Mengajarkan Firman Allah haruslah dengan benar dan sungguh-sungguh. Firman Allah tidak boleh diberitakan dengan cara mengabaikan sendiri pesan dari Firman tersebut. Jika kita sudah mampu demikian, maka Firman tersebut akan sejalan dengan maksud dengan tujuannya semula.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menjadi pengajar Firman Allah yang baik'>Menjadi pengajar Firman Allah yang baik</a> <small>Ulangan 6:4-9 Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/bahan-sermon-minggu-xx-dung-trinitatis-ev-yosua-1-6-9/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berteguh di dalam Firman Allah'>Berteguh di dalam Firman Allah</a> <small>Bahan Sermon Khotbah Minggu XX Setelah Trinitatis Ev. Yosua 1:6-9...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/mazmur-6512-hari-yang-penuh-dengan-kebaikan-allah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mazmur 65:12 &#8211; Hari yang Penuh dengan Kebaikan Allah'>Mazmur 65:12 &#8211; Hari yang Penuh dengan Kebaikan Allah</a> <small>Engkau memahkotai tahun dengan kebaikanMu, jejakMu mengeluarkan lemak. Sungguh besar...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Minggu II Setelah Epiphanias &#8211; Orang Percaya Bersatu, Mungkinkah? Yohannes 17:20-23</title>
		<link>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 17:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pdt. Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kesatuan Orang Percaya]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Yohanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/</guid>
		<description><![CDATA[Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam sasana itu para petinju selalu berjibaku, saling melayangkan dan menerima pukulan. Sejarah panjang kekristenan menunjukkan bahwa gereja sering jadi ajang &#8216;pukul-memukul&#8217;. Misalnya saja pada awal berdirinya, gereja sudah berjiibaku dengan orang kafir untuk mengokohkan pondasi iman kepercayaannya. Selain itu, sejak masa para rasul (jemaat mula-mula), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika diibaratkan, Gereja dapat dikatakan sebagai sasana tinju. Di dalam sasana itu para petinju selalu berjibaku, saling melayangkan dan menerima pukulan. Sejarah panjang kekristenan menunjukkan bahwa gereja sering jadi ajang &#8216;pukul-memukul&#8217;. Misalnya saja pada awal berdirinya, gereja sudah berjiibaku dengan orang kafir untuk mengokohkan pondasi iman kepercayaannya. Selain itu, sejak masa para rasul (jemaat mula-mula), orang-orang percaya sudah beradu argumen, mempertentangkan dan  mempertengkarkan ajaran para rasul. Di dalam gereja, orang Kristen bukan hanya bertengkar dengan orang di luar mereka. Mereka juga bertengkar diantara sesamanya, yang sama-sama orang Kristen. Inilah yang dinamakan konflik dalam gereja.</p>
<p>Konflik dimulai dan disebabkan oleh karena manusia sangat lihai melihat perbedaan antara satu dengan yang lain &#8211; karena tahu tentang yang baik dan yang jahat. Pengetahuan ini kemudian diselimuti oleh pikiran dan usaha untuk mempertahankan yang benar, dan kemudian menghalalkan segala cara &#8211; entah itu harus meninggalkan esensi sejati orang Kristen yang sesungguhnya &#8211; untuk memusnahkan atau paling tidak untuk menundukkan yang salah dihadapan kebenarannya. Jika mengingat keadaan gereja yang seperti ini, kadang timbul pertanyaan, mungkinkah orang percaya dapat bersatu? Jika mungkin, bagaimana cara dan apa faedah kesatuan?</p>
<p>Ketika Yesus Kristus berdoa pada TUHAN BapaNya, Ia meminta satu hal dalam Yohanes 17:20-23 yakni, agar orang percaya menIjadi satu, sama seperti diriNya adalah satu dengan Bapa. Ini sudah menjawab pertanyaan apakah orang percaya dapat bersatu. Yesus menyadari benar perbedaan di dalam diri tiap orang percaya. Sayangnya Yesus tidak mentolerir dan tidak ingin membiarkan perbedaan itu dipandang berlama-lama. Ia sangat menginginkan kesatuan orang percaya.</p>
<p>Mengenai pertanyaan kedua, saat Yesus Kristus meminta pada Allah Bapa agar orang bersatu, itu juga berarti Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan itu menjadi pemisah antara satu dengan lainnya. Ia memohon agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai awal perpecahan. Itulah arti dan cara orang percaya menjadi satu, yakni saat perbedaan bukan lagi hal substansial yang harus diutamakan.</p>
<p>Ketiga, mengenai faedahnya dan bentuk kesatuan itu sendiri. Bentuk kesatuan orang percaya kelihatan melalui tugasnya: untuk menjadi saksi/pemberita (bnd. Matius 28:19-20). Dan inilah pula yang menjadi faedah kesatuan orang Kristen, yakni menjadi kesaksian. Kesaksian bagi dunia yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai utusan Allah, dan kesaksian bagi dunia tentang kasih Allah pada dunia. Oleh karena kesatuan orang Kristen maka tujuan untuk bersaksi kepada dunia menjadi terpenuhi.</p>
<p>Akhirnya, melalui firman ini, terlihat tuntutan yang harus segera kita tunaikan. Perbedaan apapun yang kita lihat dan temukan dari antara tiap orang percaya, kita harus tetap menjaga kesatuan kita dengan dirinya. Kita harus mengupayakan agar kita yang berbeda itu sama-sama menjadi saksi bagi Kristus dan Allah. Perbedaan warna kulit, suku, ras, ajaran, denominasi gereja, bukan berarti apa yang kita saksikan dan persaksikan berbeda-beda juga. Semuanya satu dan disatukan dalam menyatakan pada orang-orang disekaliling kita, bahwa Allah yang mengasihi bumi telah mengutus Kristus bagi kita. Amin.</p>


<p>Baca juga tulisan ini:<ol><li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-2-setelah-trinitatis-mengatur-dan-menggunakan-waktu-dalam-rasa-keadilan-imamat-251-10/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu 2 setelah Trinitatis: Mengatur dan Menggunakan Waktu dalam Rasa Keadilan &#8211; Imamat 25:1-10'>Khotbah Minggu 2 setelah Trinitatis: Mengatur dan Menggunakan Waktu dalam Rasa Keadilan &#8211; Imamat 25:1-10</a> <small>&#8220;Waktu adalah uang&#8221;, demikian kata sebuah ungkapan. Tapi, kalau waktu...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-1-setelah-trinitatis-mengasihi-dengan-sempurna-1-yohanes-416b-21/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu 1 Setelah Trinitatis: Mengasihi dengan Sempurna &#8211; 1 Yohanes 4:16b-21'>Khotbah Minggu 1 Setelah Trinitatis: Mengasihi dengan Sempurna &#8211; 1 Yohanes 4:16b-21</a> <small>Mengasihi! Perintah utama bagi manusia adalah mengasihi Allah dan mengasihi...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/khotbah-minggu-perayaan-kebangkitan-tuhan-yesus-paskah-i-selamat-merayakan-yohanes-201-10/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah I): Selamat Merayakan!  &#8211; Yohanes 20:1-10'>Khotbah Minggu Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah I): Selamat Merayakan!  &#8211; Yohanes 20:1-10</a> <small>Anda tentu pernah menonton berita atau infotainment di televisi. Pernahkah...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/dimana-kekuatan-dan-kekayaan-orang-kristen/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dimana Kekuatan dan Kekayaan Orang Kristen?'>Dimana Kekuatan dan Kekayaan Orang Kristen?</a> <small>Roma 15:1-6 Inilah kenyataan yang terjadi di dunia ini. Manusia...</small></li>
<li><a href='http://pargodungan.org/jangan-cobai-tuhan-allah-mu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Khotbah Minggu Reminiscere: Jangan cobai Tuhan, Allah-mu &#8211; Matius 12:38-42'>Khotbah Minggu Reminiscere: Jangan cobai Tuhan, Allah-mu &#8211; Matius 12:38-42</a> <small>Masih ingat cerita tentang Iblis yang mencobai Tuhan Yesus tak...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/khotbah-minggu-ii-setelah-epiphanias-orang-percaya-bersatu-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

