<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pargodungan.org &#187; Minggu III setelah Epiphanias</title>
	<atom:link href="http://pargodungan.org/tag/minggu-iii-setelah-epiphanias/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pargodungan.org</link>
	<description>Blog informasi dan referensi pelayanan warga gereja.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 11:16:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengajarkan Firman Allah dengan Benar</title>
		<link>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sermon Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Matius]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajarkan Firman Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu III setelah Epiphanias]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Matius 17:24-27
Ada sebuah cerita tentang dua orang tuli, sebut saja namanya si Andi dan si Budi. Di suatu pagi, si Budi hendak pergi di sungai. Ia mengenakan handuk kecil di lehernya (untuk gaya pikirnya). Di perjalanan, ia bertemu dengan si Budi yang juga tuli. Meskipun tidak kenal, dengan ramah Andi menyapanya, &#8220;Wah, mau mandi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matius 17:24-27</p>
<p>Ada sebuah cerita tentang dua orang tuli, sebut saja namanya si Andi dan si Budi. Di suatu pagi, si Budi hendak pergi di sungai. Ia mengenakan handuk kecil di lehernya (untuk gaya pikirnya). Di perjalanan, ia bertemu dengan si Budi yang juga tuli. Meskipun tidak kenal, dengan ramah Andi menyapanya, &#8220;Wah, mau mandi di sungai ya lae?&#8221;. Karena Budi tuli, ia tidak mendengar sapaan itu dan malah balas menyapa, &#8220;Wah, mau ke sungai ya lae?&#8221;.<br />
Takut dikira tuli, Andi merespon, &#8220;Oh, kirain mau mandi lae&#8221;. Demikian juga dengan Budi, &#8220;Oh, kirain lae mau ke sungai&#8221;.</p>
<p>Begitulah gambaran pembicaraan orang-orang yang merasa sudah menjadi pendengar yang baik. Isi pembicaraan hanya di duga-duga, sehingga responnya juga tak terduga (alias ngawur).</p>
<p>Jangan sampai saat mendengar firman Allah terjadi hal seperti itu. Firman Allah tidak boleh diduga-duga dan meresponnya juga tidak bisa asal-asalan.</p>
<p>Firman Allah itu juga jelas dan tidak boleh dipelintir atau diplesetkan. Oleh karena itu, saat mengajarkan firman Allah misalnya kepada anak-anak, tidak boleh menyertainya dengan tamparan atau mencubit si anak. Firman Allah harus diajarkan sesuai dengan isi firman itu. Jika firman Allah mengatakan &#8220;Kasihilah Tuhan Allahmu&#8221; namun kita memukul si anak karena sedikit kesal, apa jadinya arti pengajaran itu?</p>
<p>Mengajarkan Firman Allah haruslah dengan benar dan sungguh-sungguh. Firman Allah tidak boleh diberitakan dengan cara mengabaikan sendiri pesan dari Firman tersebut. Jika kita sudah mampu demikian, maka Firman tersebut akan sejalan dengan maksud dengan tujuannya semula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/mengajarkan-firman-allah-dengan-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi pengajar Firman Allah yang baik</title>
		<link>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/</link>
		<comments>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Reinhard PP Lumbantobing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khotbah Minggu Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajarkan Firman Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Minggu III setelah Epiphanias]]></category>
		<category><![CDATA[Ulangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pargodungan.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Ulangan 6:4-9
Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulangan 6:4-9</p>
<p>Dalam komunikasi, pekerjaan mendengar merupakan pra respon terhadap pembicara. Tetapi rupanya menjadi pendengar yang baik adalah pekerjaan yang sulit. Sebabnya berasal dari diri kita sendiri dan juga dari luar kita sendiri. Dari luar misalnya suara yang kita terdengar terlalu kecil atau ada suara-suara lain yang mengganggu. Sedangkan sebab dari diri kita sendiri misalnya karena kurang konsentrasi atau karena pendengaran kita kurang baik.<br />
Setelah mendengar, kita pun diharuskan untuk berbicara kembali. Inilah respon dalam arti yang sesungguhnya. Di dalamnya kita mengungkapkan pendapat, gagasan, harapan, maksud, tujuan kita, dsb.</p>
<p>Sehubungan dengan firman Allah dalam Ulangan 6:4-9, TUHAN lah yang sedang berbicara dan Musa adalah suaranya. Sekarang, suara ini telah kita dengar dan perhatikan. Melalui Musa, Allah memerintah kita untuk mendengarkan firmanNya sekaligus juga agar dapat menyampaikan dan memberitakannya kepada orang lain atau kepada siapapun juga.</p>
<p>Namun karena pekerjaan mendengar adalah sesuatu yang sulit (seperti dikatakan tadi), maka suara dan perintah Allah itu harus lebih kita perhatikan. Kita harus mempelajarinya dengan sungguh dan memeliharanya dalam hati kita baik-baik. Mengulangi apa yang dikatakanNya dan memastikan tidak ada sedikitpun yang ketinggalan. Intinya, kita harus mempelajari firman Allah itu setiap saat dan setiap hari.</p>
<p>Inilah syarat agar kita dapat menjadi pengajar firman Allah yang baik, yakni yang telah menjadi pendengar Allah yang baik. </p>
<p>Mungkin ada yang mempersoalkan cara mengajarkan firman Allah yang paling baik. Akan tetapi itu tidak jadi masalah. Cara yang paling praktis dan paling mudah adalah mengajar melalui teladan dan kesaksian. Diri si pengajar (kita) harus menjadi contoh yang hidup atas bagaimana Allah itu telah berperan dalam kehidupan si pengajar. Firman Allah tidak begitu abstrak sehingga kita harus mengajarkannya secara teoritis. Ia berawal dari tindakan dan bukan wacana. Itulah sebabnya untuk mengajarkannya harus diawali dengan tindakan kita juga.</p>
<p>Ini berarti seorang pengajar firman Allah harus menjadikan firman itu bagian dari hidupnya. Inilah persiapan utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar, siapapun kita, entah sebagai orangtua, sebagai guru, sebagai pelayan Tuhan, dokter, pengacara, polisi, atau apapun profesinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pargodungan.org/menjadi-pengajar-firman-allah-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
