Teologi Persembahan

Catatan: Tulisan ini adalah karangan Pdt Bonar H. Lumbantobing, salah seorang Dosen STT HKBP Pematangsiantar. Karya ini pada mulanya disampaikan pada Rapat Pendeta HKBP tanggal 3 s/d 7 Agustus 2009 di Seminarium Sipoholon, Tarutung yang lalu. Jadi paparannya tentu dimaksudkan untuk konteks pergumulan Rapat Pendeta HKBP pada waktu itu. Artikel ini kami cantumkan lagi dengan tujuan untuk menambah referensi kita sekaligus untuk memahami Teologi Persembahan. Kalau Anda juga ingin menampilkan artikel Anda di situs ini, silahkan kirim lewat form di sini!

1. Persembahan sebelum kedatangan Yesus Kristus

1.1. Persembahan: Allah Sumber Persembahan

Dalam Perjanjian Lama LAI menggunakan terutama korban persembahan, selain dari kata persembahan saja, untuk menterjemahkan beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang dapat digolongkan pada korban atau korban persembahan. Banyaknya kata untuk persembahan menunjukkan juga banyaknya jenis-jenis korban persembahan yang dikenal oleh umat Israel. Dalam perjalanan sejarah iman Israel, umat itu kemudian sampai pada tahap, di mana mereka meninjau ulang pelaksanaan korban-korban persembahan itu sesuai dengan kehendak Allah. Seluruh korban-korban yang beraneka ragam itu disatukan dengan menggunakan satu istilah saja, yaitu korbân. Istilah ini juga tidak membedakan lagi mana korban yang berdarah (zébakh) mana yang tidak berdarah (minkhâ).

Atas istilah yang satu itu, maka ditentukanlah lima jenis persembahan dari antara seluruh jenis yang sudah dikenal pada jaman sebelumnya, yaitu:

      Korban bakaran,‘olâ,
      Korban sajian, minkhâ,
      Korban keselamatan, syélém,
      Korban dosa, khattât,
      Korban kesalahan âsyâm.

Korban-korban persembahan lainnya masih tetap berlaku, namun ke lima korban inilah yang dinilai sebagai inti dari seluruh korban persembahan yang beraneka ragam tersebut. Ke lima korban ini dijelaskan secara khusus dalam Imamat 1:1-6:7 dan Imamat 6:8-7:38.

Sampai di sini, terlihat belum ada kaitan dengan apa yang gereja kita jalankan dan pahami berkaitan dengan persembahan Namun bila diperhatikan lebih dalam lagi, ke lima jenis persembahan di atas digolongkan pada tiga jenis:

Pertama: korban bakaran dan korban sajian dipersembahkan selalu bersamaan dan sifatnya dilihat sebagai pemberian atau persembahan dari pihak manusia pada Allah. Pada bagian ini tergolonglah korban-korban nazar, korban ucapan syukur dan korban buah sulung.
Kedua: korban keselamatan adalah korban di mana sebagian dari yang dikorbankan dimakan juga oleh yang mempersembahkan, sehingga korban ini lebih bersifat ‘persekutuan’. Terhadapnya tergolonglah seluruh korban-korban yang bersifat persekutuan.
Ketiga: Korban ‘penghapus dosa’ dan korban ‘penebus salah’, keduanya sifatnya adalah korban yang bersifat pendamaian.

Namun dalam perjalanan hidup Israel, pemahaman seperti ini sangat dekat dengan kesalahpahaman, seolah-olah seluruh persembahan itu terpisah-pisah dan dijalankan menurut kebutuhan seseorang saja, sehingga persembahan ditentukan oleh manusia Itulah sebabnya dalam kitab Imamat persembahan dijelaskan lagi sebagai rangkaian upacara yang saling terkait dan saling melengkapi; beberapa persembahan itu digambarkan sebagai tahap-tahap upacara yang secara berurutan dijalankan, sehingga akhirnya dia terlihat menjadi satu kesatuan Bila rangkaian pelaksanaan persembahan dalam Imamat 8 diperhatikan dalam hari tertentu, lalu Imamat 9 pada kesempatan yang berikut, selanjutnya Bilangan 28-29 sebagai rangkaian persembahan dalam waktu yang berkesinambungan (pada hari Sabbat, pada bulan baru, pada minggu ketujuh, pada bulan ketujuh dst), maka terlihatlah maksud utamanya adalah agar seluruh persembahan pada akhirnya dipusatkan dalam satu acara tunggal dengan makna tunggal yaitu pendamaian.

Bila pendamaian yang menjadi tujuan utama, maka itu datang dari pihak Allah pada manusia, seperti bagian ke tiga dalam bagan di atas. Pendamaian adalah anugerah, adalah pemberian dan datang dari atas Oleh karena itu persembahan adalah anugerah Allah, persembahan adalah pemberian Allah dan persembahan datang dari atas. Hal ini dimungkinkan, karena sudah terjadi ikatan antara Allah dengan umat Israel melalui perjanjian. Karena perjanjian inilah maka Allah selalu mengambil inisiatip untuk mengadakan pendamaian dengan umat Israel dan itu berlangsung melalui persembahan

Bila ayat-ayat yang mengatur persembahan diperhatikan, semuanya itu menunjukkan bahwa Allahlah yang berbicara (“Tuhan memanggil Musa dan berbicara kepadanya…” atau “Tuhan berfirman pada Musa… “- Im 1:1; 4:1;5:14; 6:1). Allah yang menentukan persembahan itu dengan segala persyaratan dan kemungkinan-kemungkinannya, agar semua dapat memberi persembahan tanpa kecuali: ada yang sanggup memberi korban bakaran dari lembu jantan, atau yang mampu mempersembahkan domba, atau yang mampu mempersembahkan seekor burung, semuanya itu tetap berlaku sebagai korban bakaran. Semakin jelaslah terlihat, bahwa persembahan itu adalah berasal dari Allah. Inisiatip Allah untuk persembahan adalah dalam rangka pendamaian atas dasar perjanjian antara Allah dan umat Israel.

1.2. Persembahan: Dari Allah kembali pada Allah

Dalam teknis pelaksanaan persembahan itu, terlihatlah bahwa manusialah yang aktif. Manusialah yang datang untuk mengucap syukur, untuk bernazar, untuk meneguhkan persekutuannya dengan Tuhan atau dengan sesamanya, untuk pencegahan malapetaka, mencegah hukuman akibat dosa dan kesalahan. Manusialah yang mempersiapkan segala bahan itu, dan para imamlah yang melaksanakan upacara itu untuk ‘mengadakan perdamaian’, ‘penghapusan dosa’, atau pun ‘penebusan salah’. Kalau sisi ini saja yang dilihat, maka dapatlah muncul dua pemahaman yang salah, sebagai berikut:

Pertama: Pemahaman yang salah bahwa persembahan yang bekerja sebagai ‘ex opere operato’

Israel pernah terjatuh pada pemahaman, bahwa bila seluruh syarat-syarat yang disebutkan oleh Allah diwujudkan, maka dengan sendirinya Allah akan menerima persembahan itu. Persembahan yang memenuhi syarat itu akan bekerja secara otomatis bahkan magis. Inilah yang ditolak dengan keras oleh para nabi (Amos 5; Hosea 6; Yesaya 1; Yeremia 7; dll) dan ditentang melalui doa-doa (Mazmur 40; 50; 51). Sekilas kecaman-kecaman itu seolah-olah mau menolak dan mengecilkan arti dari korban persembahan, pada hal persembahan itu sumbernya adalah Allah sendiri. Tetapi bila benar-benar dipahami secara menyeluruh, maka akan terlihatlah bahwa yang ingin ditekankan adalah perhatian pada inti persembahan itu sendiri

Dari uraian di atas sudah terlihat bahwa ’pendamaian’ dari pihak Tuhanlah syarat mutlak untuk membuat persembahan itu berhasil. Oleh karena itu sisi lain yang membuat persembahan itu ‘memenuhi syarat’ adalah bukan hanya elemen-elemen persembahan itu dan tata caranya, tetapi manusia yang mempersembahkan itu sendiri, apakah terbuka pada pengampunan dosa dan penebusan salah serta pendamaian dari Allah. Bila korban persembahannya memenuhi syarat, tetapi dia menindas orang-orang miskin, janda dan anak yatim, maka dia tidak sungguh-sungguh terbuka pada pendamaian yang akan dianugerahkan Allah padanya. Dia tidak datang untuk memohon, tetapi datang untuk memberi. Di sini Allah sendirilah yang disangkal sebagai sumber dari persembahan.

Selanjutnya, walau pun manusia aktif untuk persembahan namun pada akhirnya dia memohon melalui syarat-syarat itu, dan salah satu permohonannya adalah agar Allah berkenan menerima dia yang berdosa. Di sinilah persembahan menjadi penolakan akan penindasan. Segi ini mengembalikan Israel pada makna ibadah pada umumnya, yaitu ibadah yang diperkenalkan pada Israel atas dasar kebebasan dari perbudakannya: “Biarkanlah umatKu pergi, agar mereka beribadah kepadaKu….” (Keluaran 7:16b; 8:1; 8:20; 9:1;9:13;dst). Ibadah tidak dilaksanakan dalam penindasan melainkan dalam pembebasan dari ketidakadilan. Atas dasar inilah maka ibadah dan dalam hal ini juga korban persembahan berlangsung dalam proses menegakkan keadilan.

Allah melalui Nabi Mika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkenan pada persembahan-persembahan Israel melalui korban bakaran, ribuan domba jantan dan puluhan ribu curahan minyak, tetapi yang dituntut Tuhan adalah “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu….” (Mika 6:8). Allah tidak menerima korban persembahan yang sudah memenuhi syarat-syarat pelaksanaan itu, adalah karena konteks dijalankannya ibadah itu di mana korban bakaran dipersembahkan, yaitu keadilan, tidak diwujudkan. Demikianlah korban persembahan yang memenuhi syarat teknis hanya berkenan bagi Allah bila dia menjadi satu kesatuan dengan perjuangan untuk keadilan dan damai-sejahtera.

Kedua: Pemahaman yang salah bahwa persembahan berarti ‘do ut des’

Penyimpangan yang dapat muncul melalui penekanan akan pemenuhan syarat-syarat teknis persembahan adalah anggapan bahwa manusia sudah bersedia menjalankan semua syarat, sekarang melalui persembahan ini giliran Allahlah yang memberikan. Motif utama dari persembahan itu adalah agar Allah yang memberi (do ut des).

Memang dalam pemberitaan Nabi Maleaki terlihat secara sekilas, seolah-olah Allah menuntut agar umat memberi perpuluhan dan sebagai balasnya Allah akan memberikan berkat melimpah pada umat (Maleaki 3:6-12). Namun pada dasarnya ini bukan perpuluhan dalam rangka do ut des, sebab Allah yang menentukan dan menyuruh perpuluhan itu. Selain itu makna perikop ini harus benar-benar dihubungkan dengan masalah persembahan yang dikecam Allah dalam Maleaki 1:6 s/d 29; serta Mal. 3:1-5. Kalau hanya Maleaki 3: 6-12 tersendiri dipahami, maka akan terjatuh pada pemahaman yang salah terhadap makna perpuluhan. Bahkan lebih daripada itu, perpuluhan harus dipahami dalam hubungannya dengan kitab Bilangan dan Ulangan, barulah perpuluhan dapat dilihat sebagai persembahan yang tidak bersifat do ut des.

Serangan terhadap penyimpangan yang bersifat do ut des ini terkandung juga di dalam pemberitaan Nabi-nabi. Israel terjatuh dengan menganggap Tuhan menanti-nantikan ‘makanan’ dari persembahan umatNya, seolah-olah Allah akan memenuhi kebutuhanNya melalui kesediaan Israel memberi persembahan. Pada hal seluruh bumi dan segala isinya, bahkan seluruh kehidupan ini adalah milik dari Tuhan sendiri. Dalam pengaturan persembahan itu, di mana kelihatan manusia yang menjadi aktif, sebenarnya sudah terkandung bahwa manusia tidak pernah ‘memberi’ melalui persembahan. Upacara-upacara itu diatur sedemikian rupa melalui tahapan khusus. Misalnya: Tahapan pertama, membawa binatang yang akan dipersembahkan ke pintu Kemah Suci atau ‘ke hadapan Tuhan’; adanya penumpangan tangan di atas binatang yang akan dikorbankan; tata cara penyembelihan; pemercikan darah dan akhirnya pembakaran. Semuanya itu menunjukkan bahwa korban permintaan yang diserahkan imam adalah ‘permintaan’ kepada Allah. Para imam itu tidak mengerjakan pendamaian tetapi mengadakan upacara pendamaian, itu berarti menyampaikan permintaan akan pendamaian itu. Jadi dia tidak memberi.

Hal ini diperjelas lagi bila kita mempertimbangkan seluruh bahan-bahan persembahan itu. Bahan-bahan itu adalah dari kebutuhan pokok sehari-hari umat, bahkan yang paling berharga dari milik mereka. Semua yang ada dalam kehidupan umat adalah berasal dari Allah semata. Bila Allah mengaturnya untuk persembahan, tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tetapi atas dasar perjanjian Allah, manusia diperdamaikan dengan manusia, sehingga Allah mengatur persembahan itu. Dengan demikian Allah menolong manusia itu agar mampu untuk menyerahkan persembahan dari miliknya itu sebagai tanda pengakuan yang konkrit terhadap Allah yang telah melimpahi umatNya dengan berkat, dan mengaku bahwa Allahlah satu-satunya sumber dari berkat itu. Dengan mengaku bahwa Allah Mahamurah dengan memberi kehidupan dan berkat, maka umat pun dapat ’meminta’ sesuatu dari Allah sendiri.

Demikianlah pada akhirnya persembahan itu berasal dari Allah dan kembali pada Allah.

1.3. Penatalayanan: Sambutan Manusia terhadap Persembahan

2. Sesudah Kedatangan Yesus Kristus

2.1. Persembahan dalam Jemaat Kristen Perdana

Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menghantar jemaat Kristen pada pemahaman baru terhadap korban persembahan. Sebagaimana diterangkan di atas, seluruh korban persembahan itu memuncak pada dan menyatu di bawah pendamaian oleh Allah. Apa pun jenis-jenis persembahan lainnya terlihat hanya punya arti di dalam pendamaian dari Allah. Pendamaian sebagai puncak dari seluruh korban persembahan kemudian terpenuhi di dalam kematian Yesus di kayu salib. Dia adalah korban satu-satunya untuk pendamaian, yang berlangsung hanya satu kali untuk selama-lamanya. Imam Besar yang menjalankan korban ini adalah Yesus Kristus sendiri dan domba yang dikorbankan untuk pendamaian adalah juga Yesus Kristus sendiri (Bandingkan terutama pemberitaan dalam Ibrani 6 s/d 10).

Dengan kematian Yesus, yaitu korban satu-satunya dan sekali untuk selamanya, maka berakhirlah seluruh korban-korban persembahan dalam bentuk apa pun. Korban sajian, korban ucapan syukur, persembahan perpuluhan, korban keselamatan dan yang lain –lainnya berakhirlah sudah. Semuanya sudah terpenuhi di dalam korban Yesus Kristus untuk pendamaian antara manusia yang berdosa di sepanjang abad dengan Allah yang kekal.

Pengakuan ini kemudian dirayakan pada hari kebangkitan Yesus, di mana jemaat selalu berkumpul, yaitu pada hari Minggu. Jemaat yang berkumpul itu adalah jemaat yang percaya pada Allah sebagaimana diberitakan dalam Perjanjian Lama, bahkan memegang dan mengakui Kitab yang kemudian jemaat Kristen sebut sebagai Perjanjian Lama, dan masih tetap mengunjungi Bait Suci. Oleh karena itu, dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, kebaktian Yahudi mempengaruhi.

Sebagaimana diketahui, kebaktian-kebaktian Yahudi mempunyai corak dan bentuk tersendiri berkaitan dengan tempatnya dirayakan, yaitu: kebaktian di Bait Suci, kebaktian di Sinogoge dan kebaktian di rumah. Kebaktian yang beraneka ragam menurut tempat itu mempengarhui perkumpulan orang-orang Kristen:
• Persembahan korban di Bait Suci mempengaruhi makna yang diberikan pada acara makan Paskah yang kemudian disebut oleh orang Kristen sebagai Perjamuan Kudus. Memang makan Paskah itu adalah perayaan rumah, tetapi makna teologis yang diyakini jemaat Kristen adalah muncul dari perayaan di Bait Suci akan korban-korban persembahan.
• Kebaktian di Sinagoge mempengaruhi kebaktian Kristen berkaitan dengan doa-doa, pembacaan Kitab Suci termasuk pembacaan surat-surat dari para Rasul dan nyanyian-nyanyian Mazmur.
• Kebaktian di rumah Yahudi ada dua, yaitu Makan Paskah pada Kamis malam sebelum hari Paskah Yahudi, dan acara makan menyongsong Sabbat, yang dilaksanakan setiap hari Jumat sore. Struktur liturginya hampir sama, tetapi untuk menyongsong Sabbat berlangsung sangat singkat dan sederhana. Kebaktian Kristen sudah mengadopsi Makan Paskah dengan mengisi makna korban persembahan dari perayaan di Bait Suci. Selain itu mengadopsi makan menyongsong Sabbat dengan acara makan bersama yang disebut kemudian dengan Perjamuan Kasih (Agape).

Setelah jemaat Kristen makin terpisah dari Keyahudian, maka mereka terpisah juga dari Bait Suci. Hal ini dipengaruhi juga oleh hancurnya Bait Suci pada tahun 70. Oleh karena itu perkumpulan Kristen lebih merupakan perkumpulan rumah dengan acara seperti yang kemudian digambarkan dalam Kisah Rasul 2:41-47; 4:32-36; 20:7-11; I Korintus 11. Bila direkonstruksi, maka kebaktian Jemaat Kristen Perdana itu terdiri dari 2 bagian, yaitu:

Pertama: apa yang disebut dengan synaksis: dalam perkumpulan ini struktur liturginya belum baku, khotbah seperti yang kita kenal sekarang belum ada, tetapi unsur-unsur tertentu dari liturgi sinagoge sudah dimasukkan seperti adanya Doxologi pada akhir doa, seruan sanctus (tiga kali seruan “kudus”) dari Yesaya 6 (juga Wahyu 4:8), seruan ‘amin’ (band i Kor. 14:16; Wahyu 5:14), seruan ‘haleluya’ (Wahyu 19:1, 3, 4, 6;), jam-jam doa (band. Kis Rasul 3:1; 10:9), tiga nyanyian yang sekarang ada dalam Injil Lukas (Lukas 1:48-56, 68-79; 2:29-32), dan beberapa nyanyian yang sekarang terdapat dalam kitab Wahyu ( Wahyu 4:8,11; 5:9-13; 7:10, 12; 11:17-18; 12:10-15; 19:1-2, 5-7;). Selain itu muncul asepk baru dalam perkumpulan jemaat perdana yaitu adanya karunia-karunia khusus, yang penampakannya terlihat juga dalam kebaktian, dan kelihatannya belum diatur dengan baik (I Korintus 12 dan 14). Aspek baru yang muncul adalah nyanyian-nyian dan pujian-pujian yang tidak ditemukan dalam tradisi Yahudi, yang isinya menampakkan pengakuan iman (I Kor 12:3; 15:3-5; Ef 5:14; Fil. 2:2-11; 1 Tim. 3:16; Wahyu 4:8, 11; 5:9 dan lain-lain).

Kedua: Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih (Agape): Perjamuan Kudus ini adalah perayaan yang berasal dari Perayaan Makan Paskah dalam tradisi Yahudi, di mana Yesus merayakannya pada hari Kamis sebelum kematianNya, namun diberi isi yang baru oleh jemaat Kristen atas dasar penetapan Yesus dalam acara Makan Paskah itu. Perayaan Perjamuan Kudus menjadi perayaan di mana Yesus hadir di tengah-tengah jemaat. Pemahaman tentang Yesus adalah korban Paskah untuk pendamaian, juga dirayakan dalam perjamuan ini.
Selain itu setelah Perjamuan Kudus diadakan acara makan bersama yang oleh orang Kristen kemudian menyebutnya dengan Perjamuan Kasih (Agape). Perjamuan ini kemungkinan sejajar dengan upacara makan bersama di rumah dalam menyongsong hari Sabbat.

Kalau kita kembali ke thema ceramah ini, yaitu berkaitan dengan persembahan, maka pertanyaan yang dapat muncul adalah, di manakah letak teologi persembahan yang sudah mereka warisi dari keYahudian melalui Perjanjian Lama?

Bila diteliti dengan seksama, maka ternyata seluruh penekanan teologi persembahan berkaitan dengan ketiga hal di atas, di mana Allah adalah sumber persembahan, dan apa yang dari Allah kembali pada Allah, dan sambutan akan persembahan sebagai penatalayan dalam wujud perjuangan keadilan, maka akan terlihatlah bahwa penekanan itu berlanjut dalam jemaat Kristen perdana. Tetapi persembahan seperti yang ada dalam Perjanjian Lama sudah berhenti. Terhentinya korban persembahan bukan karena perintah Yesus, sebab Yesus tidak pernah menolak korban persembahan, tetapi motivasi dalam menjalankannya agar sesuai dengan kehendak Allah, itulah yang dinyatakan Yesus. Tugas sebagai penatalayan menjadi penekanan penting dalam ajaran Yesus termasuk tentang pemahaman ulang akan harta dan milik. Semuanya itu menghantar jemaat kembali pada makna persembahan yang asli. Namun di manakah wujud dari persembahan itu dalam perkumpulan Kristen yang tidak lagi berkaitan dengan Bait Suci?

Tugas sebagai penatalayan secara konkrit diwujudkan dalam perkumpulan untuk Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih (Agape). Bila direkonstruksi dari apa yang disampaikan Paulus dalam I Korintus 11, maka seperti diuraikan tadi terlihatlah bahwa mereka merayakan pertama sekali Perjamuan Kudus, lalu disusul dengan Perjamuan Kasih. Dalam Perjamuan Kasih tersedia makanan yang dibawa oleh mereka yang mampu. Bagi yang tidak mampu tidak akan membawa apa-apa. Ketika mereka makan bersama dalam Perjamuan Kasih, terlihatlah bahwa setiap orang akan memperoleh makanan secara sama, walau pun pada dasarnya mereka tidak sama dalam hal kemampuan. Perjamuan Kasih melenyapkan seluruh perbedaan itu. Dalam jemaat Korintus memang terjadi penyimpangan. Rupanya warga jemaat yang miskin yang tidak dapat membawa apa-apa datang agak belakangan menunggu pekerjaannya entah sebagai budak, selesai. Mereka yang lebih kaya, sudah datang terlebih dahulu dan membawa makanan. Tetapi karena mereka sudah lapar, maka mereka memutuskan agar acara diubah, yaitu mendahulukan Perjamuan Kasih, barulah Perjamuan Kudus. Ketika kalangan miskin datang, Perjamuan Kasih sudah selesai, dan setelah Perjamuan Kudus, mereka pulang dengan perut lapar. Inilah yang ditegur oleh Paulus. Perjamuan Kasih harus belakangan, agar terlihat bahwa yang mmampu dan yang tidak mampu boleh bersama-sama makan. Inilah yang terlihat dalam tugas penatalayan sebagaimana terlihat dari Perjanjian Lama sebagai dampak dari persembahan.

Dengan demikian kita dapat melihat bahwa teologi persembahan ini sekarang nyata di dalam Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Persembahan-persembahan lain tidak disebut-sebut, walau pun tidak pernah ditolak. Sebab Yesus tidak pernah menolak korban persembahan, tetapi mengembalikan pelaksanaan korban persembahan itu pada motivasi yang sebenarnya seperti dalam Perjanjian Lama.

2.2. Persembahan dalam Jemaat sekitar Perjanjian Baru.

Seperti yang disebutkan di atas, jemaat perdana memahami bahwa seluruh korban persembahan telah berakhir di dalam Yesus Kristus, sehingga persembahan apa pun yang selama ini dikenal oleh umat, telah disempurnakan di dalam korban oleh Yesus Kristus sekali untuk selamanya. Hal tersebut dirayakan dalam kebaktian-kebaktian jemaat perdana tersebut. Ketika kitab-kitab dan surat-surat yang kemudian menjadi Perjanjian Baru perlahan-lahan ditulis dan dikumpulkan serta beredar di jemaat, maka di dalamnya termaktublah keyakinan jemaat perdana tadi baik di dalam ucapan Yesus, mau pun dalam tulisan para Rasul.

Di dalam Kitab-kitab Injil, Yesus tidak pernah mengutuk korban persembahan Yahudi. Khotbah Yesus malah menunjukkan bahwa mezbah dan korban persembahan adalah bagian yang sah dari penyembahan akan Allah ( Mat. 5:23 dab; 23:18dab;). Memang Yesus mengecam sikap kaum Farisi, agar mengingat bahwa yang Allah kehendaki adalah belaskasihan, bukan koraban (Mat. 9:13; 12:7), namun ini bukan berarti penolakan terhadap persembahan. Bait Suci juga memang dinilai oleh Yesus (seperti dalam Mat. 12:6; 26:61; band dengan 27:40; Yoh. 2:19; 4:21) namun itu menunjukkan bahwa korban persembahan itu adalah bersifat sekunder dan akan lenyap juga, karena korban persembahan itu bagian dari masa yang akan segera berlalu ini. Di dalam Yesuslah terwujud kebenaran sehingga korban persembahan berakhir.

Oleh karena itu kita akan melihat, ajaran Yesus selanjutnya bukan lagi tentang persembahan dalam rangka Perjanjian Lama lagi, tetapi persembahan dalam jaman yang baru ini. Kebebasan dalam memberi persembahan menjadi ciri dari jaman baru ini, karena persembahan itu mengacu pada apa yang Yesus korbankan sebagaimana dirayakan dalam Perjamuan Kudus. Jemaat bebas untuk memberi seperti Farisi yang memberi sepersepuluh (Mat. 23:23; Luk. 18:12) atau seperti Zakeus yang memberi setengah dari apa yang dia miliki (Luk. 19:18) atau seperti janda miskin yang memberikan seluruhnya (Mark. 12:44) tergantung pada kebebasan yang diberikan oleh Yesus Kristus.

Sebagai lanjutannya, Yesus tidak lagi terlalu memusatkan ajaran langsung pada thema persembahan, tetapi berkaitan dengan penatalayanan sekaligus pandangan akan milik dan apa yang ada di dunia ini, sebagaimana kita lihat dalam perumpamaan tentang
• ’orang kaya yang bodoh’ (Lukas 12:13-21) yang menolong jemaat untuk tidak bersandar pada harta-benda, tetapi pada Allah yang adalah Pemilik dan Penguasa atas hidup dan kehidupan sementara manusia hanya peminjam saja;
• ’bendahara yang tidak jujur’ (Lukas 16:1-8) di mana murid diajak untuk memahami bahwa harta di dunia ini walau sangat penting, namun tidak akan membawa pada tujuan kehidupan jaman baru ini, yaitu ’kemah abadi’;
• ’setia dalam perkara kecil, setia dalam perkara besar’ (Lukas 16:9-15) yang menunjukkan adanya kebebasan dari Allah yang memberi sesuai kehendaknya, namun orang percaya akan menyambutnya dengan sikap yang sama, baik yang kecil mau pun yang besar;
• ’orang kaya dan Lazarus yang miskin’ (Lukas 16:19-31) yang mengingatkan para murid, bahwa pengelolaan harta sangat menentukan dan berkaitan dengan kesempatan dalam waktu sekarang ini untuk memasuki hidup kekal. Bukan kekayaan yang menjauhkan orang kaya dari pangkuan Abraham, melainkan pengelolaannya.

Walau pun secara singkat, namun sudah dapat ditunukkan bahwa pemberitaan ini mengembalikan pada inti pemberitaan Perjanjian Lama tentang penatalayanan dari umat yang memberikan korban persembahan dibawah naungan korban utama yaitu pendamaian. Saat ini di dalam Yesus Kristus, penatalayanan itu diulang kembali. Oleh karena itu prinsip-prinsip persembahan dalam jaman baru ini serta penatalayanan umat percaya seperti yang diterangkan di atas, ditunjukkan secara konkrit dalam kebaktian jemaat Kristen. Bentuknya menjadi sangat baru dan konkrit serta transformatif. Untuk itu marilah kita lihat sejenak ciri kebaktian Kristen Jemaat sekitar jaman Perjanjian Baru, sebagaimana terlihat dalam Kisah Rasul dan Surat-surat Paulus.

Dalam uraian sebelumnya sudah mulai terlihat pengaruh kebaktian synagoge terhadap kebaktian Kristen. Dalam perkembangan selanjutnya, kebaktian itu semakin mempunyai bentuk yang teratur dan berulang-ulang dirayakan dalam bentuk yang tetap. Pertama yang kita lihat adalah Synaksis yang bentuknya sebagai berikut:
• Pendahuluan melalui ucapan salam dan sambutan jemaat
• Membaca dari Kitab Suci (dalam hal ini Perjanjian Lama)
• Berdoa dengan enyanyikan Mazmur
• Membaca Surat Kiriman Rasul
• Membaca Injil
• Khotbah
• Melepas para calon baptis untuk kembali terlebih dahulu ke rumah masing-masing
• Doa-doa
• Melepas jemaat kembali ke rumah masing-masing.

Sekilas, kebaktian seperti ini tidak menunjukkan adanya aspek baru berkaitan dengan persembahan sesuai dengan ajaran Yesus seperti di atas. Namun bentuk kebaktian yang lain masih ada pada waktu itu, yaitu Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Pada Gereja Perdana terlihar bahwa aspek penatalayanan dan kerohanian persembahan itu ternyata di dalam Perjamuan Kasih (Agape), di mana semua boleh menerima makanan secara bersama, baik yang berpunya mau pun yang tidak berpunya.

Ketika jemaat semakin besar jumlahnya sehingga tidak mungkin lagi berkumpul dan duduk bersama di sekitar meja yang satu di rumah-rumah. Oleh karena itu kebaktian mengambil tempat di ruangan yang lebih besar, sehingga Perjamuan Kasih akhirnya tidak terlaksana lagi, tinggal hanya Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus pun jadinya tidak terikat lagi pada jam makan malam waktu Perjamuan Kasih, sehingga dapat dilaksanakan pada pagi atau siang hari.

Selanjutnya perayaan Perjamuan Kudus jadinya mengalami perkembangan. Didorong oleh kerokhanian persembahan dan penatalayan jemaat selalu membawa roti, anggur, minyak zaitun, buah-buahan, bunga dan lain-lain. Seperti dalam Kisah Rasul semuanya itu diletakkan ’di kaki para Rasul’, artinya kemudian adalah di altar. Setelah sebagian darinya disisihkan untuk bahan Perjamuan Kudus, maka seluruh pemberian itu diserahkan pada orang-orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Demikianlah bentuk ’persembahan’ orang Kristen dalam jaman baru, setelah seluruh korban disatukan dalam pengorbanan Kristus sekali untuk selamanya.

Rasul kemudian bertugas membagikannya, namun karena tugas sudah semakin banyak, sebagaimana diberitakan dalam Kisah Rasul 6, maka dipilihlah para diaken untuk mengerjakan tugas rasul dalam bagian penyediaan makanan bagi jemaat dan pemeliharaan orang miskin. Diakenlah yang mengelola seluruh persembahan dan persembahan harus habis saat itu dibagikan, tanpa saldo sama sekali.

Perkembangan ini pun akhirnya mempengaruhi bentuk liturgi Perjamuan Kudus. Marilah kita perhatikan kebaktian pertama tadi: setelah para calon baptis diperkenankan pulang, maka jemaat pun diberi kesempatan untuk mengantarkan persembahannya ke ’kaki Rasul’ (baca: altar). Kemudian seluruh pemberian dan persembahan itu didoakan. Inilah yang disebut dengan Offertory. Inilah doa yang tidak dikenal dalam tradisi Yahudi, tetapi muncul sesudah Kristus mengakhiri seluruh korban persembahan. Offertory menjadi penting dalam teologi persembahan dalam jaman yang baru ini. Oleh karena itu urutannya pun menjadi sebagai berikut:

Offertory : mendoakan seluruh pemberian jemaat.
• Doa :berkaitan dengan pemebrkatan roti dan anggur, dan mengucapkan terimakasih karena anugerah Tuhan itu. Itulah sebabnya Perjamuan Kudus disebut sebagai ucapan syukur atau eucharistie. Penekanan adalah pujian pada Allah atas kelepasan dari dosa.
Fraction : «memecah-mecah roti » dilaksanakan segera sesudah doa dan pemberkatan selesai. Bagian ini lebih menginat akan Tubuh Kristus yang mati untuk dosa-dosa manusia. Dipatupa jalo dung sidung tangiang dohot na mamasumasu. On ma na mangingot daging ni Kristus na dilehon tu hamatean. [terj. Batak: Diselenggarakan segera setelah doa dan berkat. Inilah yang mengingat tubuh Kristus yang diserahkan pada kematian.
Communio: roti dan anggur dibagi-bagikan ke pada jemaat sehingga mereka menjadi satu persekutuan dari roti yang sama dan cawan yang sama. Inilah akhir dari Perjamuan Kudus.

Demikianlah secara konkrit, bagaimana persembahan dijalankan dalam jemaat Kristen berkaitan dengan pengorbanan tunggal dan sekali untuk selamanya oleh Kristus. Persembahan jadinya selalu terkait dengan Perjamuan Kudus. Buah dari keterkaitan persembahan dengan Perjamuan Kudus ini adalah terkumpulnya pemberian jemaat untuk kepentingan orang-orang miskin, atau dalam pengistilahan saat ini, untuk diakonia. Sehingga Perjamuan Kudus, Persembahan dan Diakonia menjadi satu kesatuan.

2.3. Persembahan dan penatalayanan

Jemaat Kristen jaman Perjanjian Baru dan sesudahnya kemudian mempunyai corak yang baru. Sesudah jaman para Rasul seluruh jemaat akhirnya menyatu di dalam kepengurusan dari tiga serangkai yang tidak terpisahkan, yaitu episkopos, diakonos dan presbyteros. Pemberitaan Firman dan Pelayanan Sakramen yang menjadi tugas Episkopos, tidak pernah terpisah lagi dari diakonos. Dalam kebaktian-kebaktian, diakonos sebagai ‘pelayan meja’ mendampingi episkopos dalam doa, dalam mempersiapkan Perjamuan Kudus dan dalam membagi-bagikannya pada jemaat yang hadir mau pun yang tidak hadir dalam ruangan kebaktian saat itu. Diaken menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diaken. Pemberitaan Firman dan Sakramen menjadi satu kesatuan senantiasa dengan Diakonia. Dalam jaringan kerja inilah seluruh persembahan dikumpulkan dan dikelola dan yang bertanggungjawab untuk itu adalah diaken. Harta jemaat pun dengan demikian dikelola oleh para diaken. Yang dimaksud dengan harta jemaat adalah segala sesuatu yang dipersembahkan jemaat untuk diakonia. Dengan demikian ke-personalia-an gereja dipengaruhi oleh karya diakoninya.

Bahkan struktur pelayanan berdasarkan pembagian daerah pun didasarkan pada tugas diakonia jemaat. Dalam Kisah Rasul 6 diberitakan terpilihnya 7 orang Diaken. Dibalik ini memang tetap ada bilangan tujuh dengan maknanya sendiri, tetapi itu juga berkaitan dengan pembagian daerah pelayanan setiap diaken, di mana mereka membagi daerah itu ke dalam 7 bagian untuk memudahkan. Kebiasaan ini diteruskan dalam jemaat-jemaat lain yang kemudian memilih diakennya. Roma sendiri sebagai kota yang besar, juga tetap terbagi 7 sesuai dengan pembagian diakonia. Pengorganisasian jemaat juga akhirnya mengikuti struktur diakonal jemaat. Itu berarti pembagian administratip pun didasarkan pada diakonia.

Bahkan tugas pelayanan pun pada akhirnya dipengaruhi oleh diakonia itu sendiri. Seorang yang akan bertugas sebagai Bishop, harus terlebih dahulu bertugas sebagai diaken, karena sesuai dengan Kisah Rasul 6, tugas Episkopos dan Diakonos adalah satu tugas dengan dua corak. Oleh karena itulah maka tidak mungkin Bishop dilihat mampu menjalankan tugasnya bila belum menjalani tugas diaken. Bukan sebaliknya, yaitu bishop dulu baru menjadi diaken. Itulah sebabnya beberapa gereja sampai saat ini mewajibkan seluruh calon pendeta untuk bertugas dulu sebagai diaken, sebelum ditahbiskan menjadi pendeta.

Atas dasar karya diakonia inilah gereja hadir di tengah-tengah dunia menjadi alat untuk pembaharuan (trnasformasi). Semuanya itu adalah karena Kristus sebagai Imam yang mengorbankan DiriNya sekali untuk selamanya, dirayakan selalu dalam Perjamuan Kudus dan menaungi persembahan-persembahan jemaat. Setiap Perayaan itu selesai diikuti, maka jemaat selalu semakin dikuatkan oleh kesediaan Yesus terpecah bagi yang lain dan darahNya tercurah bagi yang lain. Warga jemaat jadinya memecahkan tubuhna dan menumpahkan darahnya melalui perjuangan untuk keadilan dan damai-sejahtera, sehingga terjadilah transformasi dalam masyarakat.

Oleh karena itulah maka gereja tidak pernah kekurangan, karena dari dirinya terus keluar tanpa saldo demi perjuangan keadilan dan damai-sejahtera. Tidak ada persembahan yang ditahan oleh gereja untuk kepentingannya, tetapi terus mengalir tanpa henti-hentinya, sehingga persembahan pun makin banyak mengalir. Gereja tinggal menghimbau jemaat untuk karya diakonia jemaat sehingga semuanya terlibat penuh. Gereja tidak mencari sumbangan, mencari donatur, meminta sana sini karena pertimbangan kepentingan gereja itu sendiri bagi dirinya. Bukan demikian. Gereja bahkan memperoleh kebutuhannya dari diakonia. Diakoni tidak dijalankan sesudah ’kebutuhannya terpenuhi’. Bahkan, gereja tidak mungkin membicarakan dan mendiskusikan persembahan karena sedang dalam keadaan krisis keuangan. Gereja mengalami krisis keuangan bila karya diakonia tidak berlangsung lagi.

Oleh karena itulah maka persembahan itu pada akhirnya terkait dengan struktur politik bangsa, struktur ekonomik dan budayanya, menentukan struktur gereja dan jenis jabatan yang ada padanya, sehingga semuanya membawa perubahan. Perubahan yang terjadi adalah perubahan atas dasar jaman baru yang dibawa oleh Kristus.

3. Refleksi

Wajah dunia berubah dengan munculnya kekristenan. Perubahan itu bila dibariskan satu persatu akan menunjukkan bahwa masuknya gereja ke dalam dunia adalah melalui karya diakonia. Pada awal kekristenan mulai muncul di dunia Romawi-Yunani, maka berubahlah sikap terhadap anak-anak yang sering dibuang karena tidak diinginkan (infanticide), penelantaran anak, aborsi, mengorbankan orang untuk dewa-dewa dan bunuh diri. Pada tahap selanjutnya, kehadiran Kristen merobah pandangan tentang kehidupan sexual yang menyimpang sehingga hidup perkawinan semakin dianggap mulia. Secara perlahan pengaruh kekristenan mengubah kedudukan perempuan, terutama dengan munculnya para diakones di dalam sejarah gereja sejak awal abad ke 4.

Pada abad ke 4 mulailah didirikan rumah-rumah sakit di dalam kompleks perumahan Bishop, rumah-rumah penampungan para pengungsi, Selanjutnya muncul juga pemeliharaan dan pembelaan bagi para janda, munculnya panti-panti asuhan, penampungan bagi mereka yang mengalami gangguan mental, penampungan bagi para peziarah dan orang-orang yang dalam perjalanan, panti jompo pemeliharaan untuk yang berpenyakit kusta. Selain itu usaha untuk menegakkan hak-hak pekerja, penghapusan perbudakan dan dengan sendirinya memperbaiki sistim ekonomik lebih memihak yang lemah. Pada giliran lain muncullah sekolah-sekolah melalui biara-biara, pengembangan pertanian dan penemuan-penemuan ilmiah oleh para rahib dan pengembangan ilmu hingga berdirinya Universitas.

Semuanya itu adalah atas karya diakonia dari Gereja. Setiap Gereja bergerak melalui diakonia, wajah dunia selalu berubah mendekati dunia yang lebih adil dan mendekati damai-sejahtera. Hal yang sama di dalam sejarah Gereja Batak juga. Seluruh penginjilan di Tanah Batak berwajah diakonia menuju transformasi. Sejak awal sekolah-sekolah didirikan, baik bagi murid perempuan mau pun laki-laki. Guru-guru pribumi dimandirikan pada awal Kekristenan. Kompleks gereja dibangun sedemikian rupa menjadi satu kesaksian akan suatu hidup yang komprehensip tanpa mengenal yang jasmani mau pun rohani. Sistim itulah yang disebut dengan ’pargodungan’. Sistim pargodungan telah mencelikkan mata jemaat untuk pola hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam bidang ekonomi, kesehatan pendidikan dan persekutuan. Pada gilirannya sistim ekonomik seluruh masyarakat pun diubah. Hari pekan misalnya yang berlangsung sekali dalam 4 hari, membuat sistim ekonomi pasarnya tidak efisien. Memang ada keluhan para Missionaris bahwa dengan sistim pasar sekali empat hari akan membuat hari pasar pada saat tertentu jatuh pada hari Minggu. Namun bukan hanya alasan ini saja, tetapi untuk pengembangan ekonomi masyarakat, maka Missionaris menentukan agar hari pekan berlangsung sekali dalam satu Minggu saja.

Demikianlah sekolah-sekolah berdiri, baik sekolah umum mau pun sekolah kejuruan untuk kaum perempuan mau pun laki-laki. Rumah sakit, penampungan yang berpenyakit kusta, orang buta, panti asuhan, pemeliharaan anak-anak yang ditinggal mati ibunya berjalan secara serentak. Selain itu penegakan hukum dijalankan sehingga berakhirlah permusuhan antar desa dan marga, berakhirlah penyiksaan karena terlilit hutang, terhapuslah perbudakan.

Dalam hidup berjemaat terdapat wujud yang luar biasa. Pada tahun 1899 berdirilah Yayasan Pekabaran Injil milik pribumi yang pertama dengan dana sendiri. Tanpa henti-hentinya mengalirlah persembahan-persambahan dari desa-desa melalui pesta-pesta Zending. Keuangan Yayasan ini pada saat tertentu malah melampaui keuangan Zending Barmen, hingga pada akhirnya Yayasan itu dilebur menjadi satu dengan Gereja HKBP. Terlihatlah di tengah-tengah kondisi ekonomik masyarakat pada saat itu, mereka mampu melalui persembahan itu untuk penginjilan.

Dengan wajah diakonal dari penginjilan itu tertolonglah jemaat untuk mengenal bahwa persembahannya pun diarahkan pada diakonia. Demikianlah misalnya jemaat Pearaja yang miskin itu, mampu mengumpulkan dana sebanyak DM 2.000,- sebagai sumbangan jemaat lokal untuk Sumah Sakit Pearaja. Kemungkinan jumlah itu sama dengan USD 10.000,- pada masa kini. Ucapan syukur jemaat bila diperhatikan selalu tertuju pada diakonia dan Zending. Bila kita periksa Buku Tingting hingga tahun 1950-an akan terlihat bahwa seluruh hamauliateon ditujukan pada Zending dan Diakoni, atau dengan menunjuk Elim, Hephata. Sesudah munculnya dunia kapitalisme dengan globalisasinya, bergeserlah sasaran hamauliateon pada pribadi-pribadi tertentu atau kelompok-kelompok dalam jemaat sendiri. Perhatian pada diakonia semakin memudar.

Di saat diakonia akhirnya makin terlupakan, pargodungan cenderung untuk gedung pesta karena secara dana lebih menjanjikan, karena sekolah-sekolah dianggap menjadi beban, karena hidup pertanian dan pengembangan ekonomik dilepas pada globalisasi, maka terjadilah krisis keuangan gereja di beberapa tempat. Krisis kemudian ditangani dengan memikirkan bagaimana pemasukan dapat lebih banyak lagi. Lalu mulailah melirik kiri-kanan, bagaimana gerakan-gerakan lain melimpah dalam dana melalui persembahan-persembahannya atas dasar khotbah-khotbahnya, tanpa sadar bahwa itu berkaitan dengan spirit kapitalisme dan globalisasi yang sedang berlangsung.

Daripada memperpanjang keluhan-keluhan ini, lebih baik kita kembali merenungkan agar kembali pada tiga serangkai seperti yang disebutkan di atas, yaitu kesatuan Perjamuan Kudus, Persembahan dan Diakonia. Bila salah satu diabaikan, maka akan terjadilah krisis keuangan gereja, jemaat kehilangan arah untuk menyerahkan persembahan dan warga jemaat kehilangan kesempatan untuk dibentuk menjadi penatalayan yang benar.

Agenda HKBP menjadi saksi mengapa terjadi pergeseran-pergeseran ini. Dalam Agenda versi 1929, tidak ada di sana dituliskan doa persembahan atau sejenis offertory. Kebaktian tanpa offertory menunjukkan bahwa tidak ada lagi Perjamuan Kudus sesudah kebaktian pelayanan Firman. Ini mengindikasikan bahwa liturgi kita tadinya adalah liturgi di mana kebaktian seharusnya masih disambung lagi dengan Perjamuan Kudus. Tetapi karena pada saat itu Missionaris adalah pada umumnya anggota Gereja dari daerah Prussia di Jerman, di mana Perjamuan Kudus dipisah dari Kebaktian Pelayanan Firman, maka offertory tidak dimasukkan.

Perlu penelitian, tahun berapakah doa persembahan yang kita kenal sekarang ini dikenal dan dimasukkan dalam Agenda [red.: Agenda HKBP] dan siapakah yang memasukkannya. Secara bentuk itu hendak menunjukkan bahwa sebenarnya bila offertory telah dimasukkan, maka kebaktian sudah bisa dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus. Dengan demikian akan semakin terlihatlah bahwa daya dorong untuk persembahan yang benar akan semakin kuat, dan diakonia juga akan semakin berkembang, dan jemaat akan ’surplus’ (maaf, menggunakan bahasa kapitalisme).

Akhirnya, persembahan bukan thema yang harus dikaitkan dengan masalah krisis keuangan gereja. Persembahan adalah bagian dari Perjamuan Kudus dan Diakonia. Persembahan menjadi thema untuk pembaharuan struktur gereja, pembaharuan masuknya gereja ke dalam dunia untuk transformasi, pembaharuan untuk pemahaman atas jabatan yang selama ini menjadi lepas dari diakonia, pembaharuan untuk sistim administrasi dan pengorganisasian gereja dan pembaharuan untuk Aturan dan Peraturan Gereja.

sumber: http://www.hkbp.or.id/files/1.5.Teologi%20Persembahan.doc?PHPSESSID=9d705146f26846090a0217e16f1c6262


Paskah