Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa,
dan oleh hukum itu menjadi nyata bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Dewasa ini, manusia biasanya menghargai sesuatu berdasarkan apa yang bisa dilakukannya atau berdasarkan kegunaannya (pragmatis). Dalam hubungan antar pribadi pun hal yang sama berlaku. Seseorang biasanya dihargai berdasarkan pencapaian yang ia usahakan. Apresiasi, promosi, atau kenaikan jabatan hanya diberikan kalau seseorang mencapai hal yang luar biasa. Dengan demikian, cara manusia menghargai sesamanya mulai bergeser. Seseorang manusia dihargai bukan karena ia seorang manusia. Tapi seseorang dihargai kalau ia telah menjadi ‘seseorang’.
Itulah sebabnya tidak mustahil kalau ketidakadilan akan semakin besar. Jika penghargaan diberi pada ‘orang-orang tertentu yang layak’ bagaimana dengan nasib ‘orang-orang lain yang tidak layak’. Jika penghargaan diberikan kepada mereka yang berbahagia, bagaimana nasib ‘yang lain yang menderita’ (meniru ungkapan Paul F. Knitter)?
Perintah utama dalam Kitab Suci adalah “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” sedangkan perintah yang kedua “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39).
Berhadapan dengan Firman Allah ini, kita tentu bertanya, bagaimana cara kita agar tidak memandang muka? Bagaimana cara Anda dan saya menghormati orang lain sebagaimana mestinya dan sebagaimana adanya?
Pertama, Anda mesti mengenal cara Anda menghargai diri Anda sendiri.
Mengapa? Sebab cara Anda menghargai diri Anda menentukan cara Anda menghargai orang lain. Apakah Anda menghargai diri Anda berdasarkan jabatan atau status sosial Anda, itu yang akan menentukan cara Anda menghargai orang lain. Anda nantinya hanya akan menghargai seseorang berdasarkan jabatan atau status yang dimilikinya. Tentunya Anda tidak menginginkan hal seperti itu dalam diri Anda bukan?
Kedua, hargai diri Anda menurut cara Yesus Kristus menghargai diri Anda.
Yesus menghargai Anda dan saya lebih daripada harga yang seharusnya. Bukankah Ia rela menanggung salib di pundakNya, ditikam lambungnya, disalibkan tubuhnya untuk membayar harga itu? Itu adalah cara Ia menunjukkan penghargaanNya. Ia menunjukkanNya dalam kasihNya. Demikian juga hendaklah Anda mengasihi diri sendiri seturut harga yang Allah berikan, bukan berdasarkan jabatan atau status sosial yang Anda miliki.
Ketiga, hargailah orang lain sebagaimana Kristus menghargai mereka.
Anda mengasihi diri sendiri menurut cara Kristus mengasihi Anda. Demikian jugalah halnya pada orang lain. Kasihilah orang lain menurut cara Kristus mengasihi mereka. Sambutlah orang lain sebagaimana Kristus juga sedang menyambut menyambut mereka.
Semua ini saya sampaikan kepada Anda, karena Anda adalah pengikut Kristus. Oleh sebab itu, pandanglah diri Anda menurut pandangan Kristus dan pandanglah muka orang lain sebagaimana Kristus memandang muka mereka semua. Mari mengikut cara Kristus.
Anyway, mengapa tidak sekarang saja dimulai?
Doa: Allah Bapa yang di surga, aku sungguh berharga dihadapanMu. Biarlah aku memandang diriku seturut harga yang Kau berikan bagiku. Dan biarlah aku memandang sesamaku seturut harga yang Kau berikan pada mereka. Di dalam nama Yesus Kristus, teladanku, aku berdoa. Amin.





