Renungan Yesaya 42:3 | Keadilan Allah

September 14, 2012 by: 0

Yesaya 42:3
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

Para seniman sering menampilkan profil Musa dengan wajah bersinar memegang dua buah loh batu yang terpahat dengan Dasa Titah. Gambaran tersebut tentu punya maksud agar orang-orang senantiasa mengingat Dasa Titah yang benar-benar diberikan bagi manusia. Pancaran wajah Musa yang bersinar pun bermaksud bahwa orang yang berpegang pada Titah Allah adalah orang yang kudus.

Dasa Titah yang Allah turunkan melalui Musa adalah contoh langsung atas campur tangan Allah dalam hidup manusia. Allah campur tangan dalam hidup manusia dengan cara mengatur kehidupan dan tingkah lakunya. Hukum tersebut bukan hanya mengatur hubungan Anda dengan saya, tetapi juga mengatur hubungan kita dengan Allah. Hukum itu menunjukkan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan terhadap sesama maupun terhadap Allah. Orang-orang yang tekun berpegang pada titah Allah akan memperoleh reward (hadiah), sementara orang yang melanggar akan memperoleh punishment (hukuman).

Namun hukum Allah bukan hanya berbicara tentang reward and punishment (hadiah dan hukuman). Hukum Allah juga berbicara tentang keadilan bagi umatNya. Keadilan itu yang akan memastikan bahwa hukum berjalan sesuai dengan anugerah, tujuan dan kehendak Allah. Coba Anda pertimbangkan seandainya hukum di negara ini (misalnya) hanya berbicara tentang hadiah dan hukuman tanpa melibatkan keadilan, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah ini: maling sendal jepit akan dipenjara lima tahun, dan korupsi sampai trilyunan rupiah akan dipenjara 5 hari. Dan sehubungan dengan hukum Allah tadi, jika Anda punya kesalahan sedikit saja – dan jika Allah tidak berbelaskasih – maka nyawa Anda akan langsung dicabut dan… mati. Hal itu akan sangat menyakitkan.

Nas renungan hari ini berisi nubuatan Yesaya tentang kelahiran sang Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah. Dengan kehadiranNya di dunia, maka hukum Allah akan ditegakkan bersama-sama dengan keadilanNya. Orang-orang Farisi menegakkan hukum Allah. Sayangnya mereka tidak menegakkan keadilan Allah, sehingga mereka mudah saja hanya memberikan hukuman sosial bagi para pendosa. Tetapi Yesus Kristus tidak! Ia akan memperbarui hidup para pendosa tersebut. Ia tidak mematahkan hati orang-orang yang kehilangan arah dalam kegelapan, Ia malah menjadi jalan dan terang yang baru bagi mereka. Ia tidak memadamkan semangat dan jiwa orang-orang yang telah pudar, tapi Ia justru menghembusi mereka dengan Roh yang sama sekali baru. Itulah keadilan sang Anak Allah!

Renungan hari ini sungguh meneguhkan Anda dan saya, bahwa Allah selalu menjadi Allah yang setia. Ia adalah Allah yang dapat kita harapkan mengangkat kita saat terjatuh dalam dosa. Allah adalah Allah pengampun yang tidak serta merta membalas dosa manusia sesuai kesalahannya. Ia adalah Allah yang mau menerima Anda dan saya setiap saat dan setiap waktu, kapan pun, dan itu pasti.

Share this Story
Categories
Tags
Pdt. Robert Lumbantobing

Pdt. Robert Lumbantobing tinggal dan melayani di Gereja HKBP Petojo Ressort Petojo. Beliau memiliki tiga orang anak, yang dua diantaranya juga turut aktif menjadi penulis di situs ini: Pdt. Reinhard PP Lumbantobing & drm. Rikardo Lumbantobing. Sebelum di HKBP Petojo, beliau pernah juga melayani di HKBP Rawamangun dan sejumlah gereja lainnya. Pada situs ini beliau menulis renungan harian.

Add a Comment on "Renungan Yesaya 42:3 | Keadilan Allah"

Follow us

Christian Quotes

Aim at heaven and you will get earth thrown in. Aim at earth and you get neither. – C.S. Lewis

Humor Kristen

Tiga orang pendeta duduk membahas posisi terbaik untuk berdoa. Kebetulan seorang tukang telepon sedang memperbaiki tiang telepon di dekat situ. "Berlutut itu posisi terbaik," kata yang satu "Tidak," bantah yang lain. "Saya merasakan jamahan Tuhan jika saya berdiri sambil mengangkat kedua tangan." "Kalian berdua salah," potong yang ketiga. "Posisi doa yang paling efektif itu menelungkup, wajah menyentuh lantai." Tukang telepon itu gatal mendengarnya. "Hai, Pak Pendeta!" ia menyela. "Doa terbaik yang pernah saya lakukan adalah saat bergantung terbalik di tiang telepon!" | Klik LIKE jika Anda suka!