Yunus: Panggilan dan Pelayanannya

May 1, 2011 by: 0

Firman TUHAN datang kepada Yunus bin Amitai: “Bangunlah, Pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku” (1:2). Demikianlah pemanggilan TUHAN kepada Yunus. Namun apa yang terjadi, Yunus menolak. Yunus justru bergegas untuk pergi ke kota Tarsis, sebuah daerah di Spanyol. Lalu ia pun pergi ke Yafo (Yope: sebuah kota di Palestina), sebuah kota pelabuhan. Ia berencana pergi ke Tarsis dengan menumpang kapal.
Dalam perjalanan menuju kota Tarsis, TUHAN mendatangkan angin ribut, sehingga badai besar terjadi. Kapal yang ditumpangi Yunus hampir terpukul hancur oleh badai. Para penumpang kapal panik. Segala muatan kapal dibuang ke laut untuk meringankan beban kapal.

Pada saat itu Yunus sedang tidur. Nahkoda kapal sungguh kesal melihat Yunus. Nahkoda kapal membangunkan Yunus seraya berkata: “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, beserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindakan kita, sehingga kita tidak binasa” (1:6).

Dalam kepanikan itu, para penumpang kapal membuang undi untuk mengetahui siapakah yang telah menyebabkan malapetaka itu kepada mereka. Kebenaran akhirya terungkap. Yunuslah yang kena undi. Akhirnya Yunus memberitahu memberitahu siapa dirinya. Yunus berseru:  “Aku seorang Ibrani, aku takut akan TUHAN” (1:9). Lihat, Yunus telah berbohong kepada seluruh penumpang kapal. Yunus berkata bahwa ia adalah seorang yang takut akan TUHAN. Jika dia takut akan TUHAN, mengapa ia tidak mengindahkan perintah-Nya dan melarikan diri?

Penumpang kapal bertanya kepada Yunus apa yang harus dilakukan agar angin ribut redah. Yunus akhirnya sadar bahwa TUHAN tahu dirinya telah berusaha melarikan diri dari hadapan Allah dan tidak bersedia melaksanakan perintah-Nya. Yunus berseru: “campakkanlah aku ke dalam laut” (1:12). Dengan berat hati akhirnya penumpang kapal itu pun membuang Yunus ke laut. Seketika itu angin ribut redah. Penumpang kapal itu sungguh ketakutan, karena angin itu sungguh-sungguh redah ketika Yunus telah dibuang ke laut. Lalu mereka mengucap syukur dan mempersembahkan korban sembelihan kepada TUHAN.
Ketika Yunus dicampakkan ke laut, seekor ikan besar menelan dirinya, namun dia tidak mati. Yunus pun berdoa kepada TUHAN di dalam perut ikan. Segala pujian Yunus ucapkan di dalam perut ikan. Setelah tiga hari tiga malam, firman TUHAN datang kepada ikan itu agar memuntahkan Yunus ke darat.

Firman TUHAN untuk kedua kalinya datang kepada Yunus agar ia pergi ke kota Niniwe. Niniwe adalah sebuah kota yang besar. Dibutuhkan tiga hari perjalanan luasnya. Setelah tiba di kota Niniwe, Yunus memberitakan firman TUHAN. Yunus berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (2:4). Penghuni kota itu percaya kepada TUHAN. Lalu mereka mengumumkan puasa serta mengenakan kain kabung. Hal itu dilakukan baik anak-anak dan orang dewasa. Berita yang disampaikan oleh Yunus akhirnya sampai ke raja. Raja turun dari singgasananya dan mengenakan kain kabung serta duduk di abu. Ini adalah sebuah sikap untuk menunjukkan rasa penyesalan terhadap dosa dan kesediaan bertobat. Lalu raja mengumumkan agar seluruh rakyatnya serta ternak tidak boleh makan dan minum. Raja juga memerintahakan agar seluruh rakyatnya mengenaka kain kabung serta berseru dengan keras kepada TUHAN denga harapan TUHAN akan membatalkan penghukuman itu. Melihat kesungguhan seluruh rakyat berserta raja tersebut akhirya TUHAN tidak jadi menghukum mereka. Namun Yunus bukannya merasa senang, justru marah, sebab TUHAN tidak jadi menghukum kota itu. Lalu Yunus pergi ke sebelah timur kota itu. Yunus mendirikan sebuah pondok dan duduk di sana sambil menanti apa yang akan terjadi kepada kota itu.

TUHAN menumbuhkan sebuah pohon jarak untuk menaungi Yunus agar ia terhibur dari kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena hal itu. Keesokan harinya, atas perintah TUHAN seekor ulat datang untuk memakan daun pohon tersebut. Akhirnya pohon itu layu. Lalu atas perintah TUHAN datanglah angin timur yang panas serta panas terik. Kepala Yunus sakit karena hal itu. Lalu Yunus bersungut-sungut kepada TUHAN. Yunus berseru: “Lebih baiklah aku mati daripada hidur” (4:8). Lalu TUHAN berseru kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Yunus menjawab: “Selayaknyalah aku marah sampai mati”. Lalu TUHAN menjelaskan mengapa TUHAN tidak jadi menghukum Niniwe. TUHAN mengatakan bahwa : “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (4:11)”

Nabi Yunus mendapat perintah agar memberitakan berita penghukuman kepada Niniwe. Kejahatan kota Niniwe telah sampai kepada TUHAN. Mengapa Niniwe melakukan kejahatan? Sesugguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan firman TUHAN. Itulah yang dijelaskan TUHAN kepada Yunus pada akhir kitab Yunus. Penduduk kota Niniwe sesungguhnya orang-orang yang takut akan TUHAN. Hal itu dapat dilihat bagaimana antusias mereka ketika mengetahui bahwa mereka telah melakukan kejahatan dan akan segera mendapat hukuman. Seluruh rakyat beserta dengan rajanya bertobat dan melakukan puasa serta mengenakan pakaian kabung. Bahkan hal yang lebih mencengangkan adalah ternak juga ikut dalam tindakan pertobatan itu. Adakah peristiwa yang demikian akan terjadi lagi?

Manusia telah mendengarkan firman TUHAN, mendapat pengajaran tentang apa yang berkenan dan tidak berkenan kepada TUHAN . Namun pelanggaran demi pelanggaran selalu terjadi. Kejahatan merajalela. Akankah perkataan nabi Yunus dapat menyadarkan manusia pada masa kini, jika ia berseru bahwa 40 hari lagi kota kita akan mendapat hukuman dari TUHAN?

Panggilan untuk menyampaikan penghukuman kepada orang lain sesungguhnya sangat sulit, apalagi jika itu berkaitan dengan penghukuman dari TUHAN. Sebuah fenomena yang tidak asing lagi terlihat di zaman kita. Para pengkhotbah sudah lebih suka mengkhotbahkan hal kesuksesan dan berkat dari TUHAN tanpa mengingatkan jemaat akan penghukuman TUHAN. Semua itu dilakukan demi uang. Sebab para pengkhotbah takut, jika mengkhotbahkan tentang penghukuman karena kejahatan yang dilakukan jemaat, maka mereka tidak mendapat uang lagi. Tidak jarang pengkhotbah mendoakan seseorang agar pekerjaan seseorang selalu diberkati oleh TUHAN, sementara dia adalah seorang koruptor dan melakukan berbagai kejahatan lainnya. Sungguh ini zaman edan.

Categories
Tags
Pdt. Leonardo Sinambela

Pdt. Leonardo R. Sinambela, S.Th adalah administrator dan juga sebagai penulis tetap. Saat ini Pendeta Leo sedang melanjutkan studi Magister Pendidikan Agama Kristen. Kategori tulisan utamanya adalah Khotbah Minggu. Anda juga akan menemukan beberapa postingannya tentang adat/budaya Batak serta sejarah gereja. Slogan yang sering ia sebut adalah Memontomori (Ingatlah hari kematian-mu). Aneh ya? Agak ‘ngeri’ mendengarnya. Tapi itulah prinsip teologis yang ia hidupi untuk melayani sebagai pendeta.